Mengasihi Sesama

Mengasihi Sesama
Ibu Theresa dari Calcuta

Kamis, 01 November 2012

Katekismus Gereja Katolik Dalam Setahun - 021

KGK hari ke 21

Versi Bahasa Indonesia


BAB TIGA JAWABAN MANUSIA KEPADA ALLAH 

142. Melalui wahyu-Nya,  "Allah yang tidak kelihatan  (lih.  Kol 1:15;  1 Tim 1:17)  dari kelimpahan cinta kasih-Nya menyapa manusia sebagai sahabat-sahabat-Nya  (lih.  Kel 33:11; Yoh 15:14-15), dan bergaul dengan mereka (lih. Kel 33:11; Yoh 15:14-15), untuk mengundang mereka ke dalam persekutuan dengan diri-Nya dan menyambut mereka di dalamnya" (DV 2). Jawaban yang pantas untuk undangan itu ialah iman. [1102]

143. Melalui iman,  manusia menaklukkan seluruh pikiran dan kehendaknya kepada  Allah. Dengan segenap pribadinya manusia menyetujui Allah yang mewahyakan Diri.1 Kitab Suci menamakan jawaban manusia atas undangan Tuhan yang mewahyukan Diri itu "ketaatan iman" 2 [2087]

ARTIKEL 4: AKU PERCAYA [1814-1816] 

I. Ketaatan iman 

144. Taat  [ob-audire] dalam iman berarti menaklukkan diri dengan sukarela kepada Sabda yang didengar, karena kebenarannya sudah dijamin oleh Allah, yang adalah kebenaran itu sendiri. Sebagai contoh ketaatan ini Kitab Suci menempatkan Abraham di depan kita. Perawan Maria melaksanakannya atas cara yang paling sempurna.  Abraham – “Bapa semua orang beriman”


145. Dalam pidato pujian mengenai iman para  leluhur, surat Ibrani menonjolkan terutama iman Abraham: "Karena iman, Abraham  taat  ketika ia dipanggil untuk berangkat ke negeri yang akan diterimanya menjadi milik pusakanya, lalu ia berangkat dengan tidak mengetahui tempat yang ia tujui" (Ibr 11:8).3 [59, 2570]  Karena beriman, maka Abraham tinggal sebagai orang asing di negeri yang dijanjikan Allah kepadanya. 4 Karena beriman, maka Sara mengandung seorang putera yang dijanjikan. Karena beriman, maka Abraham mempersembahkan puteranya yang tunggal sebagai kurban.5 [489]  

146. Dengan demikian Abraham meragakan definisi iman yang diajukan oleh surat Ibrani: [1819] "Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat" (Ibr 11:1). "Lalu percayalah Abraham kepada Tuhan, dan Tuhan memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran" (Rm 4:3). Karena ia "percaya tanpa ragu-ragu" (Rm 4:20), maka Abraham "menjadi bapa secara rohani bagi semua orang yang percaya kepada Allah" (Rm 4:11)7
 
147. Dalam Perjanjian Lama terdapat banyak kesaksian iman semacam ini. Surat Ibrani menyampaikan pidato pujian tentang iman para leluhur yang patut dicontoh, iman yang membuat mereka tetap dikenang (Ibr11:2).8  [839]  Tetapi Allah telah "menyediakan sesuatu yang lebih baik bagi kita" (Ibr 11:40): rahmat supaya beriman  kepada Putera-Nya Yesus, "yang memimpin kita dalam iman dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan" (Ibr 12:2).



Maria –"Berbahagialah dia, yang percaya" 

148. Perawan Maria menghayati ketaatan iman yang paling sempurna. [494, 2617] Oleh karena ia percaya bahwa bagi Allah "tidak ada yang mustahil" (Luk 1:37),1 maka ia menerima pemberitahuan dan janji yang disampaikan oleh malaikat dengan penuh iman dan memberikan persetujuannya: "Lihatlah, aku ini hamba Tuhan;  jadilah padaku menurut perkataanmu" (Luk 1:38).  [506] Elisabeth memberi salam kepadanya: "Berbahagialah ia yang telah percaya, sebab apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan akan terlaksana"
(Luk 1:45). Demi iman ini segala bangsa akan menyatakannya bahagia.2
 
149. Selama seluruh kehidupannya juga dalam percobaannya yang terakhir,3  ketika Yesus, Puteranya, wafat di kayu salib, imannya tidak goyah.  [969]  Maria tidak melepaskan imannya bahwa Sabda Allah "akan terpenuhi". Karena itu Gereja menghormati Maria sebagai tokoh iman yang paling murni. [507, 829]



Versi Bahasa Inggris


Read the Catechism: Day 21

Part1:The Profession of Faith (26 - 1065)
Section1:"I Believe" — "We Believe" (26 - 184)
Chapter3:Man's Response to God (142 - 184)
142     By his Revelation, "the invisible God, from the fullness of his love, addresses men as his friends, and moves among them, in order to invite and receive them into his own company." The adequate response to this invitation is faith.
143     By faith, man completely submits his intellect and his will to God. With his whole being man gives his assent to God the revealer. Sacred Scripture calls this human response to God, the author of revelation, "the obedience of faith".
Article1:I Believe (144 - 165)
I. THE OBEDIENCE OF FAITH
144     To obey (from the Latin ob-audire, to "hear or listen to") in faith is to submit freely to the word that has been heard, because its truth is guaranteed by God, who is Truth itself. Abraham is the model of such obedience offered us by Sacred Scripture. The Virgin Mary is its most perfect embodiment.
Abraham — "father of all who believe"
145     The Letter to the Hebrews, in its great eulogy of the faith of Israel's ancestors, lays special emphasis on Abraham's faith: "By faith, Abraham obeyed when he was called to go out to a place which he was to receive as an inheritance; and he went out, not knowing where he was to go." By faith, he lived as a stranger and pilgrim in the promised land. By faith, Sarah was given to conceive the son of the promise. And by faith Abraham offered his only son in sacrifice.
146     Abraham thus fulfills the definition of faith in Hebrews 11:1: "Faith is the assurance of things hoped for, the conviction of things not seen": "Abraham believed God, and it was reckoned to him as righteousness." Because he was "strong in his faith", Abraham became the "father of all who believe".
147     The Old Testament is rich in witnesses to this faith. The Letter to the Hebrews proclaims its eulogy of the exemplary faith of the ancestors who "received divine approval". Yet "God had foreseen something better for us": the grace of believing in his Son Jesus, "the pioneer and perfecter of our faith".
Mary — "Blessed is she who believed"
148     The Virgin Mary most perfectly embodies the obedience of faith. By faith Mary welcomes the tidings and promise brought by the angel Gabriel, believing that "with God nothing will be impossible" and so giving her assent: "Behold I am the handmaid of the Lord; let it be [done] to me according to your word." Elizabeth greeted her: "Blessed is she who believed that there would be a fulfillment of what was spoken to her from the Lord." It is for this faith that all generations have called Mary blessed.
149     Throughout her life and until her last ordeal when Jesus her son died on the cross, Mary's faith never wavered. She never ceased to believe in the fulfillment of God's word. And so the Church venerates in Mary the purest realization of faith.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar