Mengasihi Sesama

Mengasihi Sesama
Ibu Theresa dari Calcuta

Sabtu, 04 September 2021

TULISAN DeusVult TENTANG IMAN KATOLIK

 

Tulisan DeusVult dari www.ekaristi.org

Seminggu mengerjakan.

Quote:
Dear Doddy,

Wow, sepertinya si admin sangat excited sekali dengan tulisan saya. Tapi bahan yang diberi terlalu banyak dan saya tidak sempat membacanya satu per satu. Apalagi beberapa pertanyaan yang muncul sama. Ini saya sempatkan membalas salah satu tanggapan dari penjawab, dan mungkin ini tanggapan terakhir dari saya, karena beberapa hal: 1) Saya merasa penjawab menjawab dengan emosi dan sedikit ad hominem, jadi sebenarnya saya tidak terlalu tertarik untuk melanjutkan berdiskusi.


Aneh sekali. Dimanakah ad hominemnya? Bukannya justru aku melangkah lebih jauh dengan secara lebih charitable menafsirkan secara positif perkataannya yang mudah diartikan secara negatif (ie. "
ketidakbergunaan iman yang dibicarakan Yakobus di pasal 2 harus dipahami dalam konteks penghakiman terakhir."

Dugaanku adalah si B. Stefanus K. ingin melepas diri dari kewajiban diskusi dengan cara menuduh aku ber-ad hominem (dimana hal ini tidak pernah terjadi). Alasan sebenarnya bukan itu. Kita coba lihat saja nanti dimana terjadinya ad hominem tersebut.

Quote:Apalagi dia banyak salah memahami konsep dan teks Alkitab. Jawabannya cenderung dogmatis dan anakronistik. Dia banyak merujuk situs Katolik, bila demikian lebih baik kamu juga cari sumber-sumber Kristen lain yang sudah menjawab pertanyaan dia. Semua keberatan yang diajukan sudah dijawab koq. So, daripada saya buang waktu mending kamu cari sendiri saja forum apologetis Kristen.

1. Akan ditanggapi dibawah tulisan-tulisanku yang katanya salah paham, coba kita lihat siapa yang salah paham. Kita juga akan lihat kebenaran tuduhan anachronistic (menempatkan sesuatu [ie. orang, benda, peristiwa] pada urutan khronologi yang salah).

2. Mengenai dogmatis, well tentu saja kita harus dogmatis. Tidak hanya aku, tapi juga B. Stefanus K.. Karena toh yang kita diskusikan adalah kebenaran dogma. Kalau memang B. Stefanus K. tidak ingin dogmatis, apakah dia mau tidak mengakui kebenaran iman reformed-nya dan memeluk iman Katolik? Tidak, kan.

3. Situs Katolik yang dirujuk HANYA UNTUK MENUNJUKKAN KUTIPAN BAPA GEREJA. Tulisan Bapa Gereja itu pun bisa diambil dari situs Protestant kalau mau. Coba CCEL.org dimana ada bukunya Philip Schaff, seorang Protestant, yang ada online karena copyright-nya sudah habis.

4.a. Kita dari ekaristi.org sudah menunjukkan bahwa kita mampu menyanggah argumen yang diajukan dari situs Protestant berbahasa Inggris. Bahkan kita sudah menunjukkan bantahan kita terhadap penggunaan secara ekstensif, tapi keliru, kutipan-kutipan Bapa Gereja oleh Protestant non-Indonesia berkali-kali (Contohnya: di topik "Bapa Gereja mengajarkan Sola Fide?" dimana diajukan tulisan Steve Rudd dari bible.ca, dan secara pribadi aku menanggapi penggunaan kutipan dari William Webster oleh member Pondok Renungan Carmen). Jadi sebaiknya si B. Stefanus K. tidak menganggap bahwa kita akan mati kutu hanya karena dirujukkan ke situs Protestant luar negeri termasuk artikelnya James White dan kroni-kroni-nya. Aku pribadi bisa menanggapinya dengan tuntas tanpa merujukkan artikelnya James White ke artikelnya apologist Katolik lain.

4.b. Sebaliknya, kita belum melihat kapabilitas B. Stefanus K. dalam menghadapi rujukan ke situs-situs luar negeri. Padahal, kalau kita ingat kembali, dialah yang sebelumnya MEMINTA (bahkan mungkin MENUNTUT) rujukan ke situs-situs luar negeri: "Awal mula saya kira artikel ini cukup berbobot, namun ternyata isinya tidak akademis. Saya harap artikel lain yang kamu berikan lebih berbobot daripada dua artikel sebelumnya ya. Mungkin kamu lebih baik memberikan artikel dari situs resmi apologet Katolik, semisal Patrick Madrid, Robert Sungenis atau Scott Hann gitu, daripada artikel kalangan awam yang sama sekali tidak memahami inti persoalan."

4.c. Ketika diberi rujukan ke situs luar negeri Katolik yang sekedar mengkompilasi kutipan Bapa Gereja (tulisan Bapa Gerejanya secara komplit sendiri ada banyak di situs-situs Protestant, misalnya ccel.org) dan rujukan ke situs dari apologist Katolik Robert Sungenis.... si B. Stefanus K. malahan menganjurkan untuk mencari sendiri situs-situs Protestant yang menjawab situs-situs Katolik tersebut karena dia tidak ingin buang waktu, bukannya menerima tantangan yang dia ajukan sendiri.

5. Silahkan si B. Stefanus K. menunjukkan situs Protestant yang katanya "Semua keberatan yang diajukan sudah dijawab koq." Hal seperti ini tidak pernah terjadi.

Quote:2) Waktu saya makin terbatas, apalagi saya harus mempersiapkan lamaran saya bulan april dan pernikahan bulan oktober, jadi saya harus memprioritaskan hal-hal ini dulu. 3) Perdebatan dua kubu ini memang mungkin tidak akan berakhir, jadi kalau kamu berusaha mencari "yang menang" mungkin tidak akan ketemu karena tiap kubu kekeuh dengan konsepnya masing-masing. Di luar sana masing-masing pihak juga terus berdebat tanpa habis, dan masing-masing merasa diri benar. Saya rasa semua berpulang pada presuposisi yang terbentuk dan anugerah Tuhan. So, Lebih baik banyaklah berdoa ya ...

Maaf tidak bisa berdiskusi dengan kamu lebih lama, tapi saya harap kami bisa memahami. Thanks. GBU


1. Yang "menang," dalam arti yang "benar" tentu SANGAT BISA DITENTUKAN. Justru kalau tidak bisa ditentukan, maka Roh Kudus telah gagal untuk menuntun Gereja yang didirikan Yesus ke kebenaran, sebagaimana di sabdakan Yesus sendiri (Yoh 16:13). Dan yang benar, tentu saja PASTI Gereja yang didirikan Kristus pada 33 masehi! Karena itulah yang disabdakan Kitab Suci ("
... the church of the living God, the pillar and ground of the truth" - 1Tim 3:15). Yang benar TIDAK MUNGKIN insitusi BUATAN MANUSIA yang BARU ADA 1,500 tahun setelah Yesus hidup, mati dan bangkit!

2. Saling merasa benar tidak membuat kebenaran menjadi dua atau tiga atau empat. Kebenaran cuma satu. Kalaupun ada banyak pihak yang saling merasa benar, pasti hanya satu yang benar-benar benar.

Quote:
Tanggapan:
Saya rasa penjawab tidak memahami proses komunikasi. Dalam ilmu komunikasi ada yang namanya encoding, transmisi dan decoding. Decoding adalah usaha memahami apa yang sudah diencode, dalam hal ini teks Kitab Suci. Bagaimanapun, Decoding merupakan usaha interpretasi. Termasuk, penerjemahan teks (yang merupakan usaha decoding) merupakan interpretasi Anda terhadap sebuah encoding. Dalam hal ini Luther menerjemahkan sesuai dengan pemahaman yang ia pahami dari konteks keseluruhan surat Roma (mungkin lebih baik penjawab membaca dulu bagaimana retorika Paulus dalam surat Roma). Lalu, saya rasa bila Anda mengingkari bahwa terjemahan merupakan sebuah penafsiran, lebih baik Anda jangan membaca Alkitab terjemahan apapun, termasuk Indonesia, sebab ada banyak unsur interpretasi terjemahan di dalamnya.

Paulus tidak menulis dalam kode-kode, jadi apa yang mau di-decode? Surat Roma bukanlah pesan rahasia militer yang harus di-encode supaya tidak bisa dibaca para musuh dan kemudian di-decode oleh sekutu yang tahu kode-kodenya.

Si B. Stefanus K. tampaknya berusaha dengan susah payah mencari pembenaran atas tindakan Luther sampai-sampai menggunakan argumen yang sama sekali absurd.

Point-nya cukup simple, tugas penerjemah adalah menerjemahkan secara setia naskah yang ada dihadapannya. Dia tidak diperbolehkan memberi tafsiran atau pemahamannya dalam terjemahannya (paling tidak, kalau dia mau melakukannya dia harus menaruhnya dalam catatan kaki).

Aku pribadi sudah sejak lama tidak mengandalkan Alkitab Indonesia karena terjemahannya parah (bukannya karena ada interpretasinya). Tapi kalau memang ada buku terjemahan yang di-imbuh-i oleh interpretasi-interpretasi penerjemah maka sebaiknya buku itu dibuang karena menyesatkan. Si penerjemah telah memasukkan kata-katanya kedalam mulut penulis asli buku tersebut. Itu adalah suatu hal yang tabu bagi seorang penerjemah.

Sebagai seseorang yang tulisannya banyak di copy/paste orang, aku selalu meminta pihak yang meng-copy/paste tulisanku untuk tidak menambahi apa yang ada dengan segala tafsiran, komentar dan lain-lain dalam tubuh tulisan tersebut. Paling tidak kalau mau ditambahkan harus ditunjukkan kalau itu penambahan yang bukan dari penulis, yaitu dengan menaruh tambahan ke dalam kolon, "[tambahan]," inilah tekhnik standard menulis yang tidak dipahami B. Stefanus K..

Luther sama sekali tidak memberi kolon pada kata "hanya."

Dan patut diingat bahwa tidak ada terjemahan lain yang punya kata "hanya" selain terjemahan Luther. Bahkan John Wyclif sendiri tidak memberi kata "hanya" di Roma 3:28:

Roma 3:28 ([Wycliffe Bible)
28 For we demen a man to be iustified bi the feith, with outen werkis of the lawe.

 

Quote:Tanggapan:
sekali lagi, bila Anda memahami retorika yang diajukan Paulus maka penambahan kata “hanya” bukan merupakan masalah, sebab ia mengatakan bahwa bila memang perbuatan baik memiliki peran, pertanyaannya sederhana, siapa yang bisa melakukannya? Paulus jelas mengatakan bahwa tidak ada seorang pun yang bisa sebab “semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah” (Rm. 3:23), dan tidak ada seorang pun yang berbuat baik (3:12). Itulah sebabnya, karena tidak ada yang bisa, maka manusia murni membutuhkan anugerah Allah, sebab tidak satupun usaha manusia yang bisa membawanya kepada keselamatan. Apakah ada usaha manusia? Sekali lagi Efesus 2:8-9 memberi jawaban kepada kita.


Bila memang tidak ada seorang pun yang mampu melakukan perbuatan baik, apakah ini memberi hak bagi Luther untuk menambahkan kata "hanya?" TENTU SAJA TIDAK. Kenapa? Karena masalah justifikasi tidak sekedar terdiri dari dua aspek yang mutually exclusive, yaitu "iman" dan "perbuatan."

KALAUPUN masalah justifikasi terdiri dari "iman" dan "perbuatan" dimana keduanya adalah mutually exclusive, maka akan sah-sah saja seseorang mengatakan bahwa kalau yang satu tidak ada, maka hanya yang lainnya-lah yang boleh ada. Tapi, sekali lagi, masalah justifikasi tidak terdiri dari dua aspek (ie. "iman" dan "perbuatan") yang mutually exclusive.

Sebagaimana telah aku tuliskan, masih ada harapan (yang menyelamatkan, Rom 8:24) dan kasih (yang berada diatas "iman" dan "harapan," 1Kor 13:13).

Quote:
Tanggapan:
Saya rasa Anda harus belajar memahami konteks bahasa Yunaninya. Ayat ke 10 merupakan kesimpulan dari pembahasan ayat 1-9. Karena semua orang seharusnya binasa (ay. 1-3), tetapi oleh kasih karunia Allah diselamatkan (ay. 4-8), maka jangan ada yang membanggakan diri (ay. 9), sebab baik keselamatan maupun iman itu merupakan kasih karunia Allah (ay. 8). Bahkan kita yang sudah diselamatkan itu, ternyata diciptakan Allah untuk melakukan pekerjaan baik yang dipersiapkan Allah sebelumnya (ay. 10). Ide ini diulang kembali dalam pasal 4-5, karena kita sudah menjadi manusia baru (dalam artian telah diselamatkan), maka hiduplah anak-anak terang, bukan hiduplah sebagai anak-anak terang supaya menjadi manusia baru. Memang ini tidak bermakna otormatis seperti yang Anda sangka (sekali lagi Anda tidak memahami dengan baik konsep Alkitab yang saya kemukakan), ini lebih bermakna logis. Keselamatan seharusnya membuat seseorang berbuat baik, bukan otomatis berbuat baik. Tidak bisa dipungkiri bahwa manusia masih memiliki kelemahan, sehingga berbuat baik tetap merupakan pergumulan sepanjang hidup. Penyodoroan terjemahan yang Anda lakukan sebenarnya tidak memiliki signifikansi apa-apa.

1. Dikatakan bahwa aku harus memahami konteks bahasa Yunani, tapi B. Stefanus K. tidak memberi argumen bahasa Yunani. So, what in the world is he talking about?

2. Nah, dalam jawaban diatas kita melihat bagaimana B. Stefanus K. TELAH MELAKUKAN KESALAHAN YANG AMAT SANGAT FATAL... SEKALI.

2.a. Kesalahan tersebut terdapat dalam tulisannya yang berikut: "Memang ini tidak bermakna otormatis seperti yang Anda sangka (sekali lagi Anda tidak memahami dengan baik konsep Alkitab yang saya kemukakan), ini lebih bermakana logis. Keselamatan seharusnya membuat seseorang berbuat baik, bukan otomatis berbuat baik."

2.b. Diatas B. Stefanus K. mengatakan bahwa orang yang selamat tidak otomatis berbuat baik. Jadi ada orang selamat yang berbuat baik, ada orang selamat yang TIDAK berbuat baik (karena perbuatan baik tidak otomatis. Pemahaman seperti itu adalah pemahan yang tidak sesuai dengan doktrin Protestantisme, termasuk reformed, tentang Sola Fide dan peran perbuatan

2.c. Lalu bagaimana pemahaman Protestant, termasuk reformed, yang benar? Well, bagi Protestant pembenaran terjadi satu kali saat seseorang mempunyai iman yang menyelamatkan. Iman jenis yang menyelamatkan ini adalah iman yang sudah pasti membuahkan perbuatan baik. Orang yang beriman jenis ini (jenis iman yang menyelamatkan) dia pasti dimampukan berbuat baik. Perbuatan baik adalah BUAH dari iman yang menyelamatkan tersebut. Nah, karena baik buruknya pohon diketahui dari buahnya, maka begitu pula dengan iman. Seseorang dikatakan memiliki iman yang menyelamatkan kalau dia melakukan perbuatan baik. Jadi ketika ada orang yang mengklaim punya iman yang menyelamatkan tapi tidak berbuat baik, maka itu tandanya dia tidak selamat (ie. imannya bukan jenis iman yang menyelamatkan). Sebaliknya kalau ada orang beriman yang berbuat baik, maka dia bisa memastikan diri bahwa dia memiliki iman yang menyelamatkan (dimana ini berarti dia sudah pasti selamat).

The Westminster Confession of Faith (1646AD) 

II. These good works, done in obedience to God's commandments, are the fruits and evidences of a true and lively faith: and by them believers manifest their thankfulness, strengthen their assurance, edify their brethren, adorn the profession of the gospel, stop the mouths of the adversaries, and glorify God, whose workmanship they are, created in Christ Jesus thereunto, that, having their fruit unto holiness, they may have the end, eternal life.


2.d. Berikut tulisan John Calvin (yang dipuja reformed):

John Calvin - The Institute of Christian Religion (book 3, Ch 16)

1. OUR last sentence may refute the impudent calumny of certain ungodly men, who charge us, first, with destroying good works and leading men away from the study of them, when we say, that men are not justified, and do not merit salvation by works; and, secondly, with making the means of justification too easy, when we say that it consists in the free remission of sins, and thus alluring men to sin to which they are already too much inclined. These calumnies, I say, are sufficiently refuted by that one sentence; however, I will briefly reply to both. The allegation is that justification by faith destroys good works. I will not describe what kind of zealots for good works the persons are who thus charge us. We leave them as much liberty to bring the charge, as they take license to taint the whole world with the pollution of their lives.43[8] They pretend to lament43[9] that when faith is so highly extolled, works are deprived of their proper place. But what if they are rather ennobled and established? We dream not of a faith which is devoid of good works, nor of a justification which can exist without them: the only difference is, that while we acknowledge that faith and works are necessarily connected, we, however, place justification in faith, not in works. How this is done is easily explained, if we turn to Christ only, to whom our faith is directed and from whom it derives all its power. Why, then, are we justified by faith? Because by faith we apprehend the righteousness of Christ, which alone reconciles us to God. This faith, however, you cannot apprehend without at the same time apprehending sanctification; for Christ "is made unto us wisdom, and righteousness, and sanctification, and redemption," (1 Cor. 1:30). Christ, therefore, justifies no man without also sanctifying him. These blessings are conjoined by a perpetual and inseparable tie. Those whom he enlightens by his wisdom he redeems; whom he redeems he justifies; whom he justifies he sanctifies. But as the question relates only to justification and sanctification, to them let us confine ourselves. Though we distinguish between them, they are both inseparably comprehended in Christ. Would ye then obtain justification in Christ? You must previously possess Christ. But you cannot possess him without being made a partaker of his sanctification: for Christ cannot be divided. Since the Lord, therefore, does not grant us the enjoyment of these blessings without bestowing himself, he bestows both at once but never the one without the other. Thus it appears how true it is that we are justified not without, and yet not by works, since in the participation of Christ, by which we are justified, is contained not less sanctification than justification.


Menurut Calvin justifikasi SELALU DIIKUTI oleh pengudusan (sanctification). Nah, dalam pengudusan inilah muncul perbuatan-perbuatan baik. Jadi menurut Calvin orang yang dijustifikasi, pasti akan berbuat baik.

2.e. Singkatnya, menurut Protestant, orang yang sudah pasti selamat pasti otomatis berbuat baik (karena orang yang sudah pasti selamat pasti telah memiliki jenis iman yang menyelamatkan yang otomatis memampukan seseorang untuk berbuat baik). Nah, inilah yang berkebalikan dari apa yang dikatakan B. Stefanus K..

2.f. Kalau B. Stefanus K. tidak percaya silahkan tanya Stephen Tong atau James White dan kroninya "apakah benar keselamatan [ie. orang yang selamat] tidak otomatis berbuat baik?"

3.a. Selain melakukan kekeliruan pemahaman terhadap ajaran Protestant sendiri (termasuk Protestant reformed), B. Stefanus K. juga tampaknya keliru memahami sanggahanku atas penggunaan Ef 2:8-9. Dari tulisannya diatas, tampaknya si B. Stefanus K. mengira bahwa aku menyanggah penggunaannya Ef 2:8-9 dengan menekankan Ef 2:10 (dimana ada kata "pekerjaan baik" alias "good works"). Meski ini sering ditekankan oleh apologist Katolik terhadap apologist Protestant namun, sebagaimana bisa dilihat, aku sama sekali tidak menyinggung Ef 2:10

3.b. Sanggahanku atas penggunaan Ef 2:8-9 hanyalah sekedar mengingatkan dirinya bahwa di ayat tersebut tidak dikatakan bahwa perbuatan baik adalah "bukti" keselamatan. Dan atas sanggahan ini B. Stefanus K. tidak menjawab. Dan tidak akan pernah bisa karena toh di ayat tersebut memang sama sekali tidak di-indikasi-kan bahwa perbuatan baik adalah "bukti" keselamatan.

Quote:Soal Matius 7, Anda bingung dengan konsep otomatis dan resiprok yang Anda ciptakan sendiri. Orang yang berbuat baik seharusnya melakukan perbuatan baik, namun tidak semua orang yang melakukan perbuatan baik adalah orang yang selamat. Justru saya yang harusnya bertanya mengapa dengan berbuat baik mereka tidak selamat? Kami memahami, dalam kedaulatan-Nya, Allah bisa memakai siapa saja, termasuk orang yang tidak diselamatkan. Lagipula, secara hakiki, mereka bukan pembuat kebaikan sejati, sebab Tuhan menilai mereka sebagai pembuat kejahatan. Konteksnya jelas bahwa perbuatan baik mereka hanya merupakan bentuk kemunafikan, bukan berdasarkan relasi dengan Allah.1.a. Awalnya B. Stefanus K. mengatakan, "Perbuatan baik merupakan bukti bukan syarat keselamatan." Ini tentunya sesuai dengan teologi Protestantnya bahwa perbuatan baik itu menunjukkan bahwa iman yang dimilki seseorang adalah iman yang menyelamatkan.

1.b. Oleh karena itulah aku merujuk kepada Matius 7:24 dimana ditunjukkan bahwa orang yang memanggil Yesus "Tuhan" (berarti mereka ini mempunyai iman) dan berbuat baik, ternyata tidak masuk surga. Padahal semestinya menurut teologi Protestant orang yang beriman dan kemudian berbuat baik adalah orang yang punya iman yang menyelamatkan. Dan oleh karena itu mestinya, menurut teologi Protestant, orang ini selamat. Tapi toh di ayat Matius tersebut mereka tidak selamat.

1.c. Itulah argumenku atas Mat 7:24. Aku tidak berargumen bahwa, "orang yang berbuat baik seharusnya melakukan perbuatan baik, namun tidak semua orang yang melakukan perbuatan baik adalah orang yang selamat."

2. Bila seorang Katolik ditanya, "mengapa dengan berbuat baik mereka tidak selamat" maka jawabannya adalah karena Katolik tidak meganut Sola-Sola-an. Maksudnya, kita tidak menganut Sola Fide (Hanya Iman) ataupun Sola Perbuatan Baik. Bahkan doktrin bahwa manusia bisa selamat karena Sola Perbuatan Baik sudah di-anathema Konsili Trent:

THE ECUMENICAL COUNCIL OF TRENT 

Session Sixth – On Justification 

Canons of Justification 

CANON I.- If any one saith, that man may be justified before God by his own works, whether done through the teaching of human nature, or that of the law, without the grace of God through Jesus Christ; let him be anathema.

 

Quote:Tanggapan: 
Kisah ini harus dilihat dalam konteks yang benar. Legitimasi Kornelius menjadi pengikut Kristus memang terjadi saat Petrus datang kepadanya, tetapi dalam bagian awal nas ini dikatakan bahwa ia “takut akan Allah …. Dan senantiasa berdoa kepada Allah,” jadi sebelumnya ia telah beriman lebih dulu kepada Allah yang benar, dan di situ poinnya. Lagipula, turunnya Roh Kudus dalam pasal 10 harus dilihat dalam konteks perwujudan Kis. 1:8, soal menjadi saksi “sampai ke ujung bumi” dan dimulainya suatu “umat Perjanjian Baru.”

1.a. Lagi-lagi B. Stefanus K. merujuk kepada "konteks." Seakan-akan semua argumen bisa diselesaikan dengan melihat konteks. Seakan-akan hanya argumen dia-lah yang sesuai konteks. Sedangkan argumen orang lain adalah argumen yang tidak sesuai dengan konteks.

1.b. Argumen "konteks" dia sebenarnya hanyalah penafsiran Protestantnya atas ayat-ayat itu. Jadi sebenarnya yang ingin dia katakan adalah, "kamu keliru, ayat itu harus dilihjat dari konteksnya, yaitu konteks yang sesuai dengan Protestant.

1.c. Faktanya, konteks sejati ayat tersebut sebenarnya bertentangan dengan pemahamannya.

2.a. Disini kembali lagi kita lihat B. Stefanus K. melakukan kesalahan fundamental. Apakah itu? Dia menganggap bahwa pada saat manusia dibenarkan/dijustifikasikan Roh Kudus TIDAK LANGSUNG tinggal dalam diri manusia tersebut. Padahal, dalam tata keselamatan Perjanjian Baru yang diakui SEMUA UMAT KRISTEN TERMASUK REFORMED (bila B. Stefanus K. tidak percaya silahkan tanya Stephen Tong atau James White dan kroninya), pada saat manusia dibenarkan/dijustifikasikan Roh Kudus akan tinggal dalam dirinya.

Eph 1:13-14 (Revised Standard Version) 
13 In him you also, who have heard the word of truth, the gospel of your salvation, andhave believed in him, were sealed with the promised Holy Spirit, 14* which is the guarantee of our inheritance until we acquire possession of it, to the praise of his glory.

2.b. John Calvin pun, yang dipuja reformed, mengajarkan bahwa pada saat seseorang dibenarkan/dijustifikasikan Roh Kudus tinggal dalam diri orang tersebut. Pembahasan Calvin bisa dibaca di buku 3, bab 1, Institute of Christian Religion. Silahkan dibaca semuanya karena di-keseluruhannya tiulah Calvin dengan sejelas-jelasnya menunjukkan bagaimana pada orang yang dibenarkan Roh Kudus dengan segera tinggal didalamnya.

2.c. Nah, bagi Protestant pembenaran atau justifikasi terjadi pada saat seseorang mendapatkan iman yang menyelamatkan. Berarti kalau Kornelius sudah mempunyai iman karena dia takut akan Allah (sebagaimana dikatakan B. Stefanus K.), maka seharusnya pada saat itu pula Roh Kudus tinggal dalam diri Kornelius. Tapi menurut Kitab Suci, Roh Kudus baru tinggal dalam diri Kornelius setelah Petrus datang dan memberitakan injil kepadanya.

2.d. Ini berarti pada saat Kornelius dikatakan "takut akan Allah" (Kis 10:2) dia BELUM dibenarkan. Dia baru dibenarkan ketika Roh Kudus turun kepadanya (Kis 10:44-48). Nah, karena Kornelius baru dibenarkan saat itu, maka segala doa dan perbuatan baiknya (Kis 10:2) dilakukan SEBELUM dia dibenarkan. Namun toh doa dan perbuatan baik tersebut berkenan di hadapan Allah [Kis 10:4, 31]!

2.e. Oleh karena itu perkataan B. Stefanus K. sebelumnya bahwa "
perbuatan baik ini terjadi setelah mereka dipilih menjadi umat Allah" adalah keliru. (Patut dicatat bahwa ini memang teologi Protestant. Yaitu bahwa perbuatan baik baru bernilai setelah orang dibenarkan. Gereja Katolik sendiri mengajarkan bahwa perbuatan baik tetap bernilai entah sebelum atau sesudah orang dibenarkan [bedanya, kalau seseorang yang sudah dibenarkan melakukan perbuatan baik, maka dia akan mendapatkan hadiah surgawi. Sementara kalau perbuatan baik dilakukan sebelum pembenaran, maka perbuatan baik itu berfungsi menambah rahmat supaya orang tersebut sesegera mungkin masuk ke proses pembenaran awal, yaitu pembaptisan]).

Quote:Tanggapan:
Sebenarnya saya juga bisa balik menuduh, karena Kaum Katolik sudah diindoktrinasi gereja bahwa perbuatan baik itu perlu maka ketika menemukan ayat yang jelas menyatakan bahwa perbuatan baik tidak menyelamatkan maka ayat itu diabaikan atau dibuang begitu saja. Mungkin penjawab perlu membuktikan dimana bagian kami tidak konsisten, sebab justru saya telah menunjukkan inkonsistensi konsepsi Anda.
Kembali kita lihat ketidak-paham-an B. Stefanus K. terhadap ajaran Katolik.

1. Gereja Katolik mengajarkan bahwa keselamatan hanya bisa didapat melalui rahmat Allah. Tidak satu pun yang dilakukan manusia, baik beriman maupun berbuat baik yang bisa mendatangkan baginya rahmat pembenaran/justifikasi.

THE ECUMENICAL COUNCIL OF TRENT

Session Sixth - On Justification 

CHAPTER VIII 

... [W]e are therefore said to be justified freely, because that none of those things which precede justification-whether faith or works-merit the grace itself of justification. For, if it be a grace, it is not now by works, otherwise, as the same Apostle says, grace is no more grace.


2.a. Lalu dimana peran "iman" dan "perbuatan" yang dalam teologi Katolik, dan Kitab Suci, dipandang perlu? Ini dengan lengkap dijawab di Sessi ke-enam Konsili Trent mengenai justifikasi. Tapi untuk singkatnya:

2.b. Iman dipandang perlu karena tanpa iman tidaklah mungkin kita menyenangkan Allah (Ibr 11:6). Agar kita bisa dibenarkan, maka pada awalnya harus ada iman. Sekalipun begitu, perlu diingat bahwa iman yang harus ada tersebut tidak menyebabkan justifikasi. Penyebab justifikasi adalah rahmat Allah. Jadi, khronologinya adalah: Allah, atas kehendak baikNya, berniat untuk menjustifikasikan seseorang. Niat Allah ini tidak didasari oleh apapun [termasuk apapun yang dilakukan manusia] kecuali kehendak baikNya tersebut. Karena niat tersebut maka Allah memberi iman kepada orang tersebut, karena untuk proses justifikasi awalnya harus ada iman (Ibr 11:6). Setelah iman ada maka orang itu bisa dibenarkan dan pembenaran pertama kali ini terjadi saat pembaptisan. (patut dicatat bahwa ini adalah proses yang terjadi pada orang dewasa. Pada bayi prosesnya lain. Bayi, yang tidak bisa punya iman, langsung dibaptis sehingga bayi tersebut terbenarkan/terjustifikasi. Pada saat pembenaran tersebut "kebiasaan iman" ["the habit of faith"] di-infusi-kan kepada si bayi.)


2.c. Sementara itu perbuatan baik dipandang perlu karena Tuhan memerintahkannya (Mat 28:20; Yoh 14:15). Perbuatan baik ini, yang hanya bisa dilakukan dengan rahmat Allah [yaitu perbuatan baik adikodrati, bukannya perbuatan baik kodrati], akan semakin membenarkan kita (Yak 2:21) dan membantu kita mencapai keselamatan sebagaimana dikatakan St. Petrus:

2Pet 1:5-11 (Revised Standard Version) 
5 For this very reason make every effort to supplement your faith with virtue, and virtue with knowledge, 6 and knowledge with self-control, and self-control with steadfastness, and steadfastness with godliness, 7 and godliness with brotherly affection, and brotherly affection with love. 8 For if these things are yours and abound, they keep you from being ineffective or unfruitful in the knowledge of our Lord Jesus Christ. 9 For whoever lacks these things is blind and shortsighted and has forgotten that he was cleansed from his old sins. 10 Therefore, brethren, be the more zealous to confirm your call and election, for if you do this you will never fall; 11 so there will be richly provided for you an entrance into the eternal kingdom of our Lord and Savior Jesus Christ.

3. Semua skema ini konsisten dengan semua ayat dan tidak ada yang ditolak dan dikontradiksi. Tidak seperti Protestantisme.

4. Si B. Stefanus K. mengatakan bahwa aku "perlu membuktikan dimana bagian kami tidak konsisten." Tulisan pajang lebar ini menunjukkan ketidakkonsistenan-ketidakkonsistenan doktrin Protestant dengan Kitab Suci. Tidak hanya itu, aku juga menunjukkan ketidakkonsistenan B. Stefanus K. dengan iman Protestant Reformed sendiri.

Quote:

DeusVult: 
2. Penulis kemudian berusaha merekonsiliasikan Yak 2:24 dengan Rom 4:1-3. Dikatakannya, "Paulus menyatakan secara eksplisit bahwa Abraham dibenarkan melalui iman saja (tanpa perbuatan)" ini keliru karena kata "iman saja" tidak ada di Rom 4:1-3.

Tanggapan: 
Mungkin penjawab perlu memperbaiki penalaran berbahasanya. Konsep ini muncul jelas dari pernyataan Paulus, ia mengontraskan iman dan perbuatan dalam konteks keselamatan, jelas menunjukkan bahwa perbuatan yang menyelamatkan bagi Paulus bukanlah jawaban, ia menunjukkan bahwa imanlah yang menyelamtkan. Saya rasa lebih baik penjawab memahami lebih dulu makna dan retorika teks ini.

Iman memang menyelamatkan. Tapi Paulus tidak mengatakan bahwa "iman saja" menyelamatkan.

Sampai B. Stefanus K. menemukan frase "iman saja" yang katanya "eksplisit" di pernyataan Paulus di Rom 4:1-3, maka sebaiknya dia tidak menyuruhku "memperbaiki penalaran berbahasanya" dan "memahami lebih dulu makna dan retorika teks ini."

Quote:Tanggapan: 
Sekali lagi, bagi saya, penjawab tidak memahami konsep yang saya ajukan dan memutarbalik maksud saya (3a). Iman dalam konteks Paulus berbicara soal legal, dalam artian status dibenarkan di hadapan Allah. Sementara iman yang dikemukakan Yakobus merupakan iman yang justru akan dibuktikan dalam konteks penghakiman akhir (bukan seperti yang Anda pahami dalam 3b). Yakobus menyatakan bahwa pada penghakiman akhir, bila orang mengaku diri beriman namun tidak ada buah dari iman itu, maka pada dasarnya iman itu merupakan iman yang mati. Ini berarti, meminjam bahasa Paulus, pada dasarnya, ia merupakan orang yang tidak memiliki iman dalam arti legal.

1. Menurut B. Stefanus K., aku "tidak memahami konsep yang saya ajukan dan memutarbalik maksud saya." Padahal aku sudah menunjukkan kepadanya bahwa Paulus tidak sekedar berbicara soal legal sebagaimana dia argumenkan tapi juga berbicara mengenai penghakiman akhir, yang menurutnya merupakan konteks dari Yakobus (lihat 3.c. dimana bagian ini dibahas). Dari sisi Yakobus aku juga menunjukkan bagaimana argumennya bahwa Yakobus menggunakan konteks penghakiman akhir tidak bisa diterima (lihat 3.d. dimana bagian ini dibahas). Jadi aku memahami argumennya dan telah menyanggahnya ke akar-akarnya.

2. Dan karena di bagian ini si B. Stefanus K. hanya mengulang kembali argumennya yang lama (bukannya meng-address jawabanku atas arguemen tersebut) karena dia merasa aku tidak memahami argumennya maka tidak ada yang lain yang bisa aku tambahkan (kecuali sekedar memperjelas dan menunjukkan bahwa aku memahami argumennya dan telah menyanggahnya di post sebelumnya). 

Quote:Tanggapan:
Saya rasa saya sudah membahas hal ini, namun sepertinya tidak disimak. Konteks ini harus dipahami dalam retorika Paulus. Ingat bahwa akhirnya Paulus mengungkapan bahwa bila perbuatan menjadi tolok ukur maka tidak ada seorang pun yang bisa diselamatkan (3:23). Karena itu, di tengah ketidakmampuan manusia untuk selamat, Allah datang dan menyelamatkan manusia melalui iman (3:21-27). Coba pahami berdasarkan konteks pembicaraan Paulus dan retorikanya.


1. Lagi-lagi disini si B. Stefanus K. menyebut "konteks" ini dan "konteks" itu. Dia seharusnya menyadari bahwa konteks sejati Kitab Suci tidak berpihak padanya.

2. Patut dicatat bahwa di jawaban diatas si B. Stefanus K. sekali lagi mengulang argumen di tulisannya yang pertama kali. Dia sama sekali tidak meng-address argumen-ku atas tulisannya bagaimana Paulus juga berbicara mengenai pembenaran dalam konteks penghakiman akhir (Rom 2:5-12). Dimana sebelumnya B. Stefabnus K. menyatakan bahwa Paulus tidak berbicara mengenai pemebnaran dalam konteks penghakiman akhir.

Quote:Tanggapan: 
Anda memahami Kitab Yakobus dalam konteks yang salah, itu merupakan pemerkosaan terhadap makna teks Yakobus. Konteks Yakobus jelas menunjukkan penghakiman ilahi, bila bukan, memangnya pengadilan mana yang bisa menghukum masalah iman atau memandang muka?

1. Pengadilan yang juga bisa menghakimi masalah iman adalah pengadilan Gereja (Mat 18:15-19, kata "jemaat" di ayat tersebut berasal dari kata "ekklesia" yang merupakan akar dari kata Portugis "iggreja" yang kemudian menjadi kata bahasa Indonesia "gereja").

2. Masalah "memandang muka" tidak berhubungan dengan suatu penghakiman yang tidak memandang muka (toh pengadilan sekular sekalipun juga berprinsip tidak memandang muka, sebagaimana disimbolkan sang Nona Keadilan yang matanya ditutup). Perkataan "memandang muka" dituliskan Yakobus agar saudara-saudaranya tidak memandang muka (Yak 2:1, 9). 

Quote:
Tanggapan: 
Justru Anda yang tidak melihat makna teks dengan baik. Penjawab hanya berasumsi bukan berargumen. Dikotomi ini memang konklusi dari teks (dan saya sudah menunjukkannya), konteks pembicaraan iman mereka mengenai iman memang berbeda, maka cobalah untuk melihat teks dengan jujur bukan dengan kacamata doktrin gereja.

Dikotomi itu cuma ada karena doktrin Protestant bahwa pembenaran itu HANYA satu kali dan HANYA oleh iman.
Dikotomi itu tidak akan ada kalau B. Stefanus K. mengimani bahwa pembenaran bisa terjadi LEBIH DARI SATU KALI dan bahwa PERBUATAN JUGA MEMBENARKAN. Dalam kerangka pikir ini tidak perlu ada dikotomi. Dan kerangka pikir inilah yang lebih setia terhadap Kitab Suci karena tidak perlu menciptakan dikotomi-dikotomi. 

Quote:
Tanggapan: 
Saya rasa jelas jawabannya, bagi kami ia pasti ke sorga. Roma 9 mengatakan bahwa mereka (dalam arti umat pilihan Allah) disebut umat pilihan bahkan ketika mereka belum tahu berbuat baik dan jahat (ay. 11). Di sini Paulus ingin menunjukkan bahwa ketika mereka belum bisa berbuat apa-apa ternyata mereka sudah dipilih, ini berarti tanpa perbuatan pun ternyata mereka sudah diselamatkan sebab mereka sudah lebih dulu dipilih (dalam arti diselamatkan). Cobalah pahami teologi Paulus dengan utuh, bukan asal comot.


Pertanyaan lanjutannya adalah: bila memang Abraham bisa masuk surga kalau dia mati sebelum dia mengorbankan Ishak maka bukankah ini berarti bahwa perbuatan Abraham (yang menggenapkan pembenarannya) menjadi tidak perlu dilakukan? Berarti iman baraham TIDAK SEMPURNA karena tidak disempurnakan oleh perbuatan (Yak 2:22)? Bukannya kalau begitu orang yang sudah benar tidak perlu berbuat baik dan tidak perlu takut pembenarannya tidak tergenapkan oleh perbuatan karena toh kalau mereka mati tanpa menggenapkan iman mereka dalam perbuatan, mereka tetap ke surga? 

Quote:
Tanggapan: 
Saya rasa Anda harus memberikan bukti bahwa pembenaran terjadi lebih dari sekali. Juga jelaskan apa makna perkataan Yesus: “sudah selesai!”Anda tidak membantah argumen saya, hanya mengasumsikan salah, namun tidak menunjukkan letak kesalahannya. Cobalah berdiskusi dengan ilmiah bukan dengan pola pikir dogmatis. Bila Anda yakin teks Kitab Suci mendukung konsepsi Anda, buktikanlah!

1.a. Bukti pertama yang paling nyata akan bahwa justifikasi/pembenaran terjadi lebih sekali terlihat dari kisah Abraham yang dijadikan contoh oleh Paulus dan Yakobus. Paulus jelas-jelas menyatakan bahwa Abraham dibenarkan saat Kej 15 (Rom 4:1-5) sementara Yakobus mengatakan bahwa Abaraham dibenarkan juga pada Kej 22 (Yak 2:21-24). Dari sini saja telah terlihat terjadi dua kali justifikasi/pembenaran. Hanya Protestant-lah yang ngotot menafikan ayat Kitab Suci tersebut karena lebih setia terhadap tradisi manusia.

1.b. Yang menarik Kitab Suci juga mencatat peristiwa lain dimana Abraham juga dibenarkan. Yaitu di Surat Ibrani bab 11 dimana dijelaskan tentang apa itu iman (Ibr 11:1-3) dan kemudian diberikan contoh aplikasi iman oleh tokoh-tokoh iman (Ibr 11:4-40). Salah satu tokoh iman yang dijadikan contoh adalah Abraham. 
1.c. Di Ibrani bab 11 dikatakan bahwa Abraham melakukan tindakan iman pada ayat 11:8 (saat dia dipanggil Allah untuk meninggalkan tanah kelahirannya, tanah Ur, yang makmur [lihat Kejadian bab 12]), lalu pada 11:9 (saat Abraham menjelajah menuju ke tanah perjanjian bersama ank-anaknya [lihat dari Kejadian bab 12 sampai Abraham mati di Kejadian 24]), lalu pada 11:17 (saat Abraham mengorbakan Ishak [lihat Kejadian bab 22]).

1.d. Nah, Yakobus mengatakan bahwa Abraham dijustifikasi/dibenarkan saat mengorbankan Ishak. Sementara itu di Surat Ibrani tindakan-tindakan iman Abraham pada 11:8-9 diparalelkan dengan di 11:17 dimana Abraham mengorbankan Ishak. Ini berarti ketiga-tiganya adalah sama-sama merupakan proses justifikasi/pembenaran! Belum lagi mengingat pembenaran Abraham sebagaimana ditulis Paulus [Rom 4:1-4], sehinga berdasarkan Kitab Suci Abraham dibenarkan sebanyak 4 kali!

1.e. Yang penting untuk dicatat pula adalah pararelitas tindakan iman dan pengorbanan Ishak sekaligus menunjukkan bahwa seseorang bisa dibenarkan atas dasar iman DAN atas dasar perbuatan. Ini sudah sangat sesuai dengan ajaran Gereja Katolik.

2.a. Nah, dari pararelitas tiga kisah Abraham di Ibrani 11 kita mengetahui bahwa setiap kali dikatakan "by faith" ("karena iman") di bab tersebut, maka konteksnya adalah pembenaran (lihat argumen 1.d. diatas). 
2.b. Kesimpulan ini dikuatkan oleh kisah Nuh di Ibr 11:7 dimana "karena iman," Nuh yang membangun bahtera disebutkan menjadi "an heir of the righteousness which comes by faith" (dari Revised Standard Version, sementara versi Indonesia, "menerima kebenaran sesuai imannya"). Padahal kata yang digunakan untuk "righteousness" dan "kebenaran" adalah kata Yunani "dikaiosune" yang akar katanya adalah "dikaio." Berarti jelas bahwa iman Nuh di Ibr 11:7 adalah iman yang membenarkan.

2.c. Dan sekali lagi kesimpulan ini dikuatkan mengingat di Ibr 11:31 dikisahkan tentang iman Rahab si Pelacur. Padahal di Yakobus 2:25 tindakan Rahab ini disebut sebagai tindakan yang membenarkannya. 

2.d. Jadi setiap tindakan iman yang disebut di Ibrani bab 11 adalah tindakan iman yang menimbulkan pembenaran! Dari sini muncul banyak konsekuensi yang menunjukkan bahwa pembenaran terjadi lebih dari satu kali.

3. Berdasarkan kesimpulan 2.a. sampai 2.d. diatas maka terlihat bahwa Musa juga dibenarkan sebanyak tiga kali pada tiga kesempatan yang berbeda (Ibr 11:24, 27, 28).

4. Kitab Suci sendiri menunjukkan bahwa justifikasi/pembenaran adalah suatu proses yang terjadi terus menerus, bukannya hanya terjadi satu kali dan selesai (menurut Protestantisme justifikasi terjadi satu kali saja, setelah itu yang terjadi adalah pengudusan [sanctification] dan pengudusan ini tidak berhubungan dengan keselamatan sebagaimana justifikasi, tapi cuma menambah hadiah bagi mereka yang sudah selamat) :

Revelation 22:11 - Revised Standard Version 
Let the evildoer still do evil, and the filthy still be filthy, and the righteous still do right, and the holy still be holy.' 

Apocalypse [Revelation] 22:11 - Douay-Rheims 
He that hurteth, let him hurt still: and he that is filthy, let him be filthy still: and he that is just, let him be justified still: and he that is holy, let him be sanctified still. 

Apocalypse [Revelation] 22:11 - King James Bible 
He that is unjust, let him be unjust still: and he which is filthy, let him be filthy still: and he that is righteous, let him be righteous still: and he that is holy, let him be holy still. 

Revelation 22:11 - New International Version 
Let him who does wrong continue to do wrong; let him who is vile continue to be vile; let him who does right continue to do right; and let him who is holy continue to be holy."

Kata "righteous/justified/right" adalah terjemahan dari kata Yunani "dikaio," yaitu justifikasi alias pembenaran. Dan dari sini kita lihat bahwa orang yang dibenarkan/dijustifikasikan terus menerus membenarkan dirinya bukannya berhenti sekali dan selesai. 

Tanggapan:
Lho, Anda mengikuti konsep pembenaran yang dikemukakan orang Yahudi atau yang dikemukakan Paulus? Gimana toh? Lagipula, bila memang konsep penghapusan dosa ala Yahudi sudah cukup, untuk apa Yesus datang untuk mati bagi kita? Buang-buang tenaga saja.

1. Si B. Stefanus K. rupanya lupa argumennya sendiri. Masalahnya bukanlah apakah kematian Yesus merupakan sesuatu yang "buang-buang tenaga saja" atau apakah "konsep penghapusan dosa ala Yahudi sudah cukup." Masalahnya adalah, dasar argumennya yang keliru tehadap Rom 2:6-11.

2. Bisa kita lihat kembali bahwa ketika Rom 2:6-11 diajukan oleh pihak Katolik untuk membuktikan bahwa perbuatan itu perlu, B Stefanus K. menjawab bahwa "perbuatan (dalam hal ini ketaatan terhadap Taurat) berperan dalam keselamatan." Namun sayangnya "semua manusia tidak bisa memenuhi standar kebaikan yang dituntut Allah ini."

3. Nah, atas pernyataan tersebut maka aku menunjukkan bahwa Taurat tidak mengajarkan bahwa hanya yang bisa melakukan semua hukum tanpa dosalah yang selamat. Karena toh di Taurat sendiri ada berbagai petunjuk bagaimana seseorang bisa menghapuskan dosanya sehingga dia kemudian bisa terus taat kepada Taurat sampai mati. Jadi untuk mematuhi Taurat tidak perlu orang harus sempurna tanpa dosa. 
4. Fakta diatas menggugurkan keberatan B. Stefanus K. bahwa Taurat tidak bisa dilakukan dan oleh karena itu Taurat tidak bisa membenarkan. Faktanya, Taurat bisa dilakukan (karena toh dosa tidak membatalkan ketaatan pada Taurat) dan Taurat pun bisa membenarkan (Rom 2:13).

5.a. Disini kita bisa melihat suatu kesalahpahaman klise atas perbedaan antara Hukum Taurat Perjanjian Lama dan Hukum Perjanjian Baru. Di Kitab Suci sering dijelaskan ketidaksempurnaan Taurat dan kesempurnaan Hukum Baru. Namun sedikit sekali umat Kristen (baik Katolik maupun Protestant) yang memahami dimana bedanya, apa salah Hukum Taurat, apa kehebatan Hukum Perjanjian Baru dan hal lain-lain yang berkaitan. B. Stefanus K. menunjukkan pemahaman yang keliru atas hubungan/interaksi/perbedaan kedua hukum tersebut. Kekeliruan yang juga diyakini banyak umat Katolik dan umat Protestant lain.

5.b. Lalu apakah hubungan/interaksi/perbedaan dari kedua hukum tersebut? Hal ini tidak akan dibahas karena terlalu panjang. Tapi sebagai bacaan lebih lanjut, silahkan baca bagian pertama dari buku kedua Summa Theologica, pertanyaan 98 sampai 108.

Tanggapan: 
Saya rasa coba pahami dulu keseluruhan nas Gal. 5:1-14, beserta latar belakangnya. Konteksnya jelas, salah satunya, soal perpecahan dalam jemaat (6:1-10). Dalam pasal 4:21-31, Paulus menunjukkan bahwa mereka adalah anak-anak Perjanjian yang tidak lagi hidup di bawah kuk perhambaan (5:1-14). Dan karena itu seharusnya mereka hidup menurut roh, bukan menurut daging (5:16-26). Tetapi nyatanya mereka masih hidup dalam perpecahan, iri hati, kedengkian, dsb, padahal orang yang melakukan hal-hal ini tidak akan mendapat bagian dalam kerajaan Allah (5:21). Sehingga di sini, Paulus sedang mengajak mereka merefleksi diri mereka, terutama mengenai status keselamatan mereka. Jelas ayat ini tidak menunjukkan signifikansi perbuatan baik dalam hal keselamatan melainkan perbuatan baik sebagai sesuatu yang seharusnya inheren dalam keselamatan. Bila penjawab merasa ini dogmatis coba paparkan konsep Anda 

1. Kembali lagi kita diajak untuk "melihat konteks."

2. B. Stefanus K. kemudian berkesimpulan, "ayat ini tidak menunjukkan signifikansi perbuatan baik dalam hal keselamatan melainkan perbuatan baik sebagai sesuatu yang seharusnya inheren dalam keselamatan." Kesimpulan ini aneh bin ajaib. Kalau memang perbuatan baik adalah sesuatu yang inherent dalam keselamatan (entah dari buku orang reformed siapa dia mengambil gagasan ini) lalu mengapa sesuatu yang inherent tersebut menjadi tidak signifikan? Dari seluruh nasehat Paulus agar seseorang berbuat baik di Galatia bab 5, menurut B. Stefanus K. perbuatan itu tidak signifikan? Lalu mengapa Paulus bersusah payah menasehatkan umat untuk berbuat baik?

Quote:Soal 1 Kor. 13:13 yang Anda kutip, keutamaan kasih di sini bukan dalam arti kedudukan dalam keselamatan, tapi dalam arti keabadiaan. Iman dan pengharapan memang akan berakhir ketika kita di sorga, sebab apa gunanya iman dan pengharapan ketika kita sudah bertemu dengan Tuhan. jadi, Anda salah comot ayat.

1. Tidak disebutkan bahwa keutamaan "kasih" di 1Kor 13:13 adalah karena "kasih"-lah yang masih akan ada di surga.

2. Sebaliknya di 1Kor 13:2 jelas-jelas ditunjukkan, DALAM KONTEKS DUNIA, bahwa kalau seseorang mempunyai iman yang bisa memindahkan gunung, tapi tidak mempunyai "kasih" maka dia adalah "nothing" alias "bukan apa-apa."

3. Benar-benar gegabah si B. Stefanus K. untuk TIDAK menempatkan "kasih" diatas segala-galanya termasuk dalam keselamatan.

Tanggapan:
Ayat ini harus dilihat dalam terang yang benar. Ayat ini berbicara mengenai kasih persaudaraan, sebuah tema yang ada dalam sepanjang Alkitab. Mengapa harus ada kasih itu? Yohanes memberikan jawaban terbaik, “Sebab Allah adalah kasih” (1Yoh. 4:8). Dan dalam bagian sebelumnya ia berujar, “barang siapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah.” Mengenal di sini jelas bukan dalam artian “tahu” tapi jelas terkait “relasi.” Ingat bahwa kata “tahu” (Yun. Ginosko) juga berarti relasi intim. Sehingga kesimpulannya, mengapa seorang yang tidak mengasihi dihukum oleh Allah? Sebab pada dasarnya ia tidak mengenal Allah. saya rasa jawabannya jelas, dan sekali lagi, tidak ada unsur perbuatan di sini.

1. Cara argumen si B. Stefanus K. benar-benar membuat frustrasi. Bagaimana mungkin dari suatu penafsiran yang tidak ada kaitannya dengan permasalahan yang aku ajukan [ie. bahwa menurut Mat 25 31-46 perbuatan menjadi penentu keselamatan] kemudian muncul kesimpulan gampangan yang menyanggah perlunya perbuatan di Mat 25:31-46 sebagaimana aku ajukan? Benar-benar aneh bin ajaib. 

2. Sepertinya modus operandi B. Stephen K. adalah sebagai berikut: Ketika diberi ayat yang menunjukkan kekeliruan Protestantisme dia kemudian mencoba mengaburkan isu dengan merujuk ke konteks-konteks. Lalu dia kemudian membuat suatu penafsiran irelevant dan tiba-tiba muncul kesimpulan yang menunjukakn bahwa penafsirannya sesuai konteks dan membuktikan bahwa Protestant tidak keliru.


3. Dan sekali lagi, B. Stefanus K. masih gagal menjawab mengapa di Mat 25:31-46 perbuatan menjadi penentu keselamatan seseorang!

Untuk fokusnya, mungkin lebih baik kita berfokus pada satu persoalan lebih dulu. Saya rasa konsep sola fide bukan konsep utama yang dipertentangkan, jadi mungkin untuk sementara kita berdiskusi lebih dulu soal sola scriptura, baru setelah itu soal topik lain. Karena pembahasan topik lain akan berdasar pada sejauh apa otoritas Kitab Suci diterima.

1. Aku sendiri tidak masalah apakah mau Sola Scriptura dulu atau Sola Fide dulu atau bersamaan. 

2. Dan dalam diskusi dengan Protestant aku hanya menggunakan Kitab Suci tanpa merujuk kepada otoritas Gereja Katolik. Sementara rujukan kepada Bapa Gereja hanya untuk menunjukkan bahwa iman umat Kristen awal adalah sama dengan iman Gereja Katolik.

3. Justru B.Stefanus K. lah yang tidak mendasarkan pada otoritas Kitab Suci karena dia secara terus menerus mengkotak-kotakkan Kitab Suci sesuai doktrin Protestantnya. Kitab Suci dibuat supaya cocok dengan doktrin Protestant.

Tanggapan: 
Tentu tidak, sebab yang mereka suruh taati ialah pengajaran yang berasal dari mereka bukan penafsiran atas ajaran mereka dari bapa gereja. Lalu, darimanakah sumber utama pengajaran mereka, jelas sumber tertulis yang mereka tuliskan sendiri, yakni Alkitab. Kami menerima tradisi selama tradisi itu tidak betentangan dengan tradisi tangan pertama, yakni Alkitab.

1. Disini kita lihat kekurangpahaman B. Stefanus K. terhadap iman Katolik ataupun bahkan iman para Bapa Gereja Awal.

2.a. Yang dimaksud "Tradisi lisan" (atau seringkali disebut "Tradisi" saja) adalah apa saja yang diajarkan oleh para rasul BUKAN PARA BAPA GEREJA. Sebagaimana ditulis di 2Tes 2:15, para rasul mengajar secara tertulis dan lisan. Dan keduanya masih ditransmisikan sampai sekarang. Untuk pengajaran tertulis bentuknya adalah Kitab Suci. Sementara untuk ajaran lisan (alias "Tradisi") yang sifatnya "lisan" harus dilihat dari tulisan para Bapa Gereja, keputusan-keputusan Gereja, serta tindakan-tindakan Gereja.

2.b. Tulisan Bapa Gereja Awal BUKAN Tradisi lisan. Tapi dari tulisan tersebut kita bisa meng-extract Tradisi Lisan. Oleh karena itu perlu peran Gereja yang tidak bisa salah ("... the church of the living God, the pillar and bulwark of the truth" - 1 Tim 3:15) untuk memilah-milah mana yang merupakan Tradisi lisan dari tulisan para Bapa Gereja Awal.

3. Sekali lagi, para rasul mengajar secara Lisan dan Tertulis. Kedua bentuk pengajaran tersebut masih ada dan diteruskan sampai sekarang. Nah, sementara Protestant cuma memilih yang satu, Gereja Katolik memeluk kedua-duanya karena keduanya sama-sama pewartaan Sabda Allah dari para rasul. Satu saja tidak menghasilkan Sabda Allah yang utuh.

Quote:
Tanggapan: 
Saya ras bila penjawab membaca dengan baik, dia akan mengerti bahwa maksud distorsi di sini dalam artian salah tafsir. Dalam hal ajaran tentu tidak mungkin, sebab penulis menerima langsung dari Tuhan. Lebih lagi, mereka diilhami Tuhan ketika mereka menulis. Lalu apakah teks Alkitab kita bisa dipercaya? Saya rasa Anda perlu mempelajari studi Kritik Tekstual dan historika tektual untuk mengetahui kredibilitas teks Akitab yang luar biasa.


1. Jadi distorsi yang dimaksudkan B. Stefanus K. adalah "
salah tafsir"

2. Namun toh problema-nya tetap sama. Kalau memang "untuk sesuatu yang berbentuk tulisan saja bisa terjadi distorsi [alias 'salah tafsir']" lalu bagaimana kita yakin terhadap kredibilitas tolak ukur yang bisa "salah tafsir" ini? 

Quote:
Tanggapan: 
Tentu saya mengimani pemeliharaan berita tersebut bila penulisnya tetap hidup sampai saat ini, sebab ia bisa menjadi penguji benar tidaknya suatu ajaran. Kisah para patriakh memang diteruskan melalui tradisi lisan, tetapi ingat siapa penulisnya? Musa. Seorang yang menerima wahyu langsung dari Allah.

1. Kalau penulis suatu ajaran harus hidup untuk mengkonfirmasi kebenaran ajarannya maka bukannya kredibilitas Kitab Suci, tidak hanya kredibilitas Tradisi Lisan, patut dipertanyakan? Sehingga untuk mengkonfirmasi apakah manuskrip kitab Kejadian ini yang benar atau yang itu yang benar (atau bahkan apakah Kitab Kejadian itu sendiri adalah kitab yang benar) si penulis harus hidup untuk ditanyai.

2. Si B. Stefanus K. sendiri pasti memiliki kitab Kejadian di Alkitabnya. Lalu darimana dia bisa mengkonfirmasi bahwa kitab itu layak masuk ke Kitab Suci sementara penulisnya tidak ada untuk ditanyai? 

Quote:Bila demikian mengapa Anda tidak menuduh Musa seorang yang lemah iman? Mengapa ia menuliskan wahyu yang ia terima? Tidak percayakah ia akan penjagaan Allah terhadap kebenaran-Nya? Sedangkan bagaimana tradisi lisan sekarang? Memang siapa bapa gereja yang berani mengklaim tulisannya diilhamkan Allah? Justru bila iman Anda besar mengapa perlu Alkitab atau tradisi tertulis dari bapa-bapa gereja? Justru karena tidak memadainya tradisi lisan lah maka penulis Alkitab menuliskan firman yang mereka terima. Saya rasa ini jelas sekali.

1.a. Si B. Stefanus K. tampaknya mengira bahwa Musa adalah seorang Protestant Sola Scripturist yang hanya mewariskan Tradisi tertulis, padahal Musa juga mewariskan Tradisi Lisan. Jadi Musa punya iman bahwa Allah akan memelihara Tradisi tertulis darinya DAN memeilihara Tradisi lisan darinya. 
1.b. Salah satu Tradisi lisan dari Musa terlihat di 2Tim 3:8: 

2Tim 3:8 - Revised Standard Version 
As Jannes and Jambres opposed Moses, so these men also oppose the truth, men of corrupt mind and counterfeit faith;

Siapakah si Jannes dan Jambres yang menentang Musa? Silahkan cari di seluruh Perjanjian Lama maka nama tersebut tidak akan pernah disebut. Namun kita tahu bahwa Jannes dan Jambres adalah dua penyihir Firaun yang bertanding "sihir" dengan Musa dan Harun (Keluaran 7:8-13).

1.c. Darimana Paulus tahu nama kedua orang itu padahal nama tersebut tidak disebutkan di Perjanjian Lama mana pun? Tentunya dari Tradisi lisan.

1.d. Masih banyak contoh Tradisi lisan dari jaman musa lainnya yang tampil di Perjanjian Baru. Namun untuk sementara, satu itu saja dahulu.

2. Klaim seseorang bahwa tulisannya di-ilhami Allah tidak membuktikan apa-apa. Karena toh Mohammad, Joseph Smith, dan lain-lain juga mengklaim bahwa tulisan mereka di-ilhamkan Allah.

3. Yang di-klaim para Bapa Gereja Awal adalah agar ajaran para Bapa Gereja harus digunakan sebagai rule of faith [regula fidei]. Ada banyak pernyataan seperti in tapi aku akan kutipkan dua saja. Dari St. Athanasius (296-373AD) dan dari Konsili Ekumenis Chalcedon (451AD)

"We are PROVING that THIS view has been TRANSMITTED from FATHER to FATHER, but ye, O modern Jews and disciples of Caiaphas, how many FATHERS CAN YE ASSIGN to your phrases? Not one of the understandings and wise; for all abhor you, but the devil alone; none but he is your father in this apostasy, who both in the beginning sowed you with the seed of this IRRELIGION, and now persuades you to slander the ECUMENICAL Council, for committing to writing, not YOUR doctrines, but that which from the BEGINNING those who were eyewitnesses and ministers of the Word have handed down to us. For the faith which the COUNCIL has confessed in writing, that is the faith of the Catholic Church; to assert this, the BLESSED FATHERS so expressed themselves while condemning the Arian heresy..." - De Decretis 27

"After the reading of the foregoing epistle [i.e. the Tome of Pope Leo], the most reverend bishops cried out: This is the faith of the fathers, this is the faith of the Apostles. So we all believe, thus the orthodox believe. Anathema to him who does not thus believe. Peter has spoken thus through Leo [regn. A.D. 440-461]. So taught the Apostles. Piously and truly did Leo teach, so taught Cyril. Everlasting be the memory of Cyril. Leo and Cyril taught the same thing, anathema to him who does not so believe. This is the true faith. Those of us who are orthodox thus believe. This is the faith of the fathers. Why were not these things read at Ephesus [i.e. at the heretical synod held there] ? These are the things Dioscorus hid away." - Council of Chalcedon, Session II (A.D. 451), in NPNF2, XIV:259

4. Tradisi lisan SAJA jelas tidak memadai. Harus ada Tradisi Tertulis. Karena memang di 2Tes 2:15 diajarakan untuk mematuhi yang lisan dan yang tertulis. Gereja Katolik tidak Sola Tradisi, juga tidak Sola Scriptura. Baik Sola Tradisi maupun Sola Scriptura (sebagaimana di-iman-i Protestant) adalah ajaran yang bertentangan dengan Kitab Suci sendiri.

Tanggapan:
Sepertinya Anda tidak memahami dunia Perjanjian Baru dan latar belakangnya dengan baik. Cobalah belajar dulu. Surat 2 Tesalonika muncul karena jemaat salah memahami pesan yang disampaikan dalam 1 Tesalonika. Lagipula, sebagaimana kelemahan jemaat Tesalonika sebagai manusia yang tidak diilhamkan, maka kami juga tidak mempercayai tradisi bapa gereja selama mereka belum diuji dengan tardisi yang diilhamkan, yakni Alkitab, sebab bapa gereja juga tidak diilhamkan.

1.    Kalau masalah di-ilhamkan, toh Mohammad juga meng-klaim tulisannya di-ilhamkan.

2.    Dan Tradisi tidak berasal dari para Bapa Gereja, tapi berasal dari para rasul yang diilhami. B. Stefanus K. sebaiknya segera memahami point penting ini.

Tanggapan:
Saya tidak menulis kata “saja,” tetapi cukup. Anda terlalu melebih-lebihkan. Paulus tidak menyebut adanya tradisi lisan di sana, padahal dalam banyak bagian ia juga menyebut tradisi lisan. Bila demikian, jelas bahwa untuk pembentukan kehidupan, keselamatan, doktrin dan moral, Alkitab lah yang berperan, bukan tradisi lisan. Tradisi lisan tidak disebut sebagai diilhamkan maka keyakinan kami pasti bisa salah. Tetapi ketika tradisi lisan itu dituliskan oleh para rasul dan menjadi Kitab Suci, maka tradisi itu tidak bisa salah, sebab yang diilhamkan Allah ialah tulisannya (2Tim. 3:16).

1. B. Stefanus K. berkata, "Paulus tidak menyebut adanya tradisi lisan di sana." Well, so what kalau Paulus tidak menyebut tradisi lisan di ayat tersebut? Toh masih ada ayat-ayat lain misalnya:

2Thess 2:15 - Revised Standard Version
15* So then, brethren, stand firm and hold to the traditions which you were taught by us, either by word of mouth or by letter.

2Thes 3:6 - Revised Standard Version
6* Now we command you, brethren, in the name of our Lord Jesus Christ, that you keep away from any brother who is living in idleness and not in accord with the tradition that you received from us

1Cor 11:2 - Revised Standard Version
2: I commend you because you remember me in everything and maintain the traditions even as I have delivered them to you.


Nah, apakah si B. Stefanus K. akan teriak "konteks-konteks" lagi? Coba kita lihat nanti.

Tanggapan:
Pertama, harus dilihat bahwa konteksnya ialah tradisi lisan dari para rasul. Berarti tradisi lisan yang diterima harus dari para rasul langsung bukan dari bapa gereja, sebab mereka bukan saksi mata langsung kehidupan Yesus. Coba tunjukkan tradisi lisan dari para rasul yang masih ada, selain dalam Alkitab. Bukan yang dari bapa gereja. Kedua, yang tidak bisa salah, sebab diilhamkan ialah tulisannya. Apakah ajaran para rasul bisa salah? Ada kemungkinan bisa. Lihat bagaimana Paulus menegur Petrus atas sikapnya yang munafik. Mungkin Anda beragumen itu merupakan sikap moral Petrus? Namun penting diingat bahwa sikap moral seorang pemimpin juga merupakan ajarannya terhadap pengikutnya.


1. Sekali lagi aku tegaskan dan jelaskan bahwa Tradisi lisan yang dimaksud Gereja Katolik adalah Tradisi Lisan yang berasal dari para rasul. Bukan dari Bapa Gereja.

2. Tradisi lisan yang masih ada selain di Alkitab adalah kanon Kitab Suci.

3. Ajaran rasul mana yang bisa salah? Sebaiknya B. Stefanus K. bertanya kepada Stephen Tong atau James White dan kroninya apakah ajaran rasul bisa salah. Tampaknya dia sendiri juga tidak pasti karena dia menulis "ada kemungkinan bisa."

4. Teguran Paulus terhadap Petrus toh bukan karena ajaran Petrus yang salah, tapi karena tindakan Petrus yang tidak sesuai dengan ajarannya sendiri (karena justru Petrus-lah yang menerima wahyu dan mengajarkan bahwa apa yang haram sudah tidak haram lagi [Kis 10:9-16]).

Quote:
Tanggapan:
Tidak, juga umat Kristen awal membaca Kitab Suci PL bukan? Lagipula, seperti sudah saya jelaskan, apa gunanya Alkitab bila para nabi dan rasul masih hidup? Saya pun mengamini bahwa mungkin Alkitab tidak dibutuhkan bila Musa sampai Yohanes masih sehat saat ini. Justru karena para rasul sudah tidak lagi ada, maka kita membutuhkan ajaran yang murni dari mereka dalam bentuk tulisan. Juga, tradisi lisan tidak memungkinkan menjadi penyampai kebenaran sebab manusia memiliki kecenderungan mengubah, menambah atau mengurangi isi berita. Sebuah pertanyaan sederhana, bila memang para rasul merasa tradisi lisan sudah cukup, mengapa mereka menuliskan Alkitab? Jawabnya sederhana, karena Allah sendiri mengehndaki adanya tradisi tertulis (Kell. 24:4; Ul. 28:69; Ul. 31:26; Yos. 24:25-26, cf. 1:7; 1Sam. 10:25; Yes. 8:1; 30:8; Dan. 9:2; Yoh. 16:13, cf. 17:17, dst). Jelas bahwa Allah ingin supaya wahyu-Nya ditulis dalam Kitab Suci, bukan tradisi ekstra-biblikal. Mengklaim bahwa semua wahyu Allah tidak ditulis berarti sama sama saja menganggap para nabi dan rasul tidak taat terhadap Allah dengan mengurangi wahyu-Nya. dan saya rasa ini konsep yang keterlaluan.

1. Bisa ditanyakan ke B. Stefanus K. apakah Sola Scriptura bisa dipraktekkan HANYA dengan Perjanjian Lama? Kalau bisa, mengapa dia tidak buang Perjanjian Baru dari Alkitabnya?

2. Kita tidak membicarakan jaman ketika para rasul masih hidup. Tapi jaman setelah rasul terakhir mati (ie. Yohanes), yaitu jaman setelah 100AD. Dan faktanya, sebagaimana telah aku tulis, di jaman ketika mayoritas umat Kristen tidak bisa membaca dan tidak punya Alkitab dengan lengkap, iman mereka justru lebih kuat daripada kita-kita sekarang yang memble-memble.

3. Tulisan B. Stefanus K. bahwa "tradisi lisan tidak memungkinkan menjadi penyampai kebenaran sebab manusia memiliki kecenderungan mengubah, menambah atau mengurangi isi berita" telah melalaikan fakta bahwa kisah tentang Adam, Nuh, Abraham, Ishak, Yakub diteruskan secara lisan dari orang ke orang sampai akhirnya pesan lisan itu sampai kepada Musa untuk kemudian dituliskan. Jadi kalau Tradisi lisan memang tidak memungkinkan untuk menjadi penyampai kebenaran, maka sebaiknya kisah tentang Adam, Nuh, Abraham, Ishak, Yakub dll dibuang dari Kitab Suci. Bagaimana?

4. Dan atas pertanyaan B. Stefanus K., "bila memang para rasul merasa tradisi lisan sudah cukup, mengapa mereka menuliskan Alkitab," aku sekali lagi akan menegaskan bahwa GEREJA KATOLIK TIDAK MENGANUT SOLA TRADISI. GEREJA KATOLIK TIDAK PERNAH MENGAJARKAN BAHWA TRADISI SAJA CUKUP. BAIK KITAB SUCI DAN TRADISI HARUS ADA. GEREJA KATOLIK TIDAK MENGAJARKAN SOLA TRADISI ATAUPUN SOLA SCRIPTURA!

Quote:
Tanggapan:
Konsep ekspilisit mengenai pengilhaman Alkitab memang muncul jelas di sini, tetapi dalam bagian lain jelas melimpah ruah. Misalnya, formula pengutipan rasul Matius terhadap PL (dengan demikian genaplah nas yang berkata, dsb). Ini menunjukkan bahwa penulis Alkitab menganggap Kitab Suci sebagai otoritas mereka. Bahkan Yesus ketika dicobai tidak mengutip dari tradisi lisan tetapi dari Kitab Suci. Sedangkan konsep yang diduga “mengesahkan” Petrus hanya muncul sekali. Bahkan menariknya, ayat ini tidak muncul bahkan dalam Injil Markus, Injil yang merupakan catatan kotbah Petrus.

Simple saja, B. Stefanus K. menerima otoritas ayat Mat 16:18 yang diilhami Allah atau tidak? Kalau memang ayat itu dipertanyakan, silahkan si B. Stefanus K. membuangnya.

Quote:
Tanggapan:
Ayat yang diajukan hanya menunjukkan bahwa Yesus lah yang menjadi penguasa gereja selama-lamanya, bukan Petrus. Jadi bukan soal suksesi tapi soal kekekalan pemerintahan Allah. Coba cari ayat yang lebih tepat, penjawab salah ayat.


Argumennya adalah sebagai berikut: karena Gereja Yesus akan ada selama-lamanya, maka tentunya orang-orang yang dipercayai Yesus untuk menggembalakan domba-dombaNya di Bumi harus ada terus sampai selamanya. Masalahnya usia manusia tidak selama-lamanya. Oleh karena itu perlu ada pengganti yang punya otoritas sebagaimana orang yang dipercayai Yesus tersebut.

Quote:
Tanggapan:
Memang Petrus menjadi primus inter pares, tetapi tetap tidak ada indikasi bahwa ia menjadi “tuhan” kecil. Kunci di sini bukan dalam arti kekuasaan misterius dari Allah melainkan dalam konteks keselamatan oleh karena pemberitaan Injil. Ingat juga bahwa setelah Yesus memujinya, dalam perikop selanjutnya, ia dihujat oleh Yesus sebagai “iblis” (ay. 23). Dalam Kisah Rasul, dia diutus oleh para rasul (Kis. 8; mengapa “tuhan” bisa diutus rasul lain?). Dia juga masih harus mempertanggungjawabkan tindakannya (Kis. 11), bila ia adalah pengganti Tuhan, mengapa tindakannya tidak di take it for granted? Dalam kasus Kis. 15, yang memiliki peran besar bukanlah dia, melainkan Yakobus. Bahkan dalam Galatia, diceritakan bahwa “tuhan” ini ditegur oleh Paulus. Mengapa demikian?

1. Siapa juga yang bilang bahwa Petrus menjadi "tuhan kecil?" Bukannya yang menjadi "tuhan kecil" adalah para Protestant yang bisa menafsirkan Kitab Suci sekehendak hatinya dan mencari jemaat.

2. Sekalipun Petrus dihujat, tapi toh dia tetap dipercaya untuk menggembalakan domba-dombaNya. Jadi tampaknya Yesus, sang Allah, lebih yakin terhadap Petrus daripada si B. Stefanus K. Mungkin B. Stefanus K. merasa dia lebih paham Petrus daripada Yesus. Nah, sekarang siapa yang menjadi "tuhan kecil?"


3.a. Mengenai Kis 15. Dalam konsili tersebut kita lihat bahwa pada awalnya banyak terjadi perdebatan antara para rasul dan tetua (Kis 15:6-7). Namun setelah Petrus BERDIRI dan mengemukakan pendapatnya SEMUANYA DIAM (Kis 15:12). Ini menunjukkan otoritasnya untuk menghentikan perdebatan antara sesama rasul dan juga antar tetua. Hal ini juga terjadi di saat pemilihan Yudas. Pada peristiwa itu Petrus BERDIRI dan memimpin jalannya pemilihan pengganti Yudas.


3.b. Kalau dikatakan Yakobus mengambil peran besar, lalu kenapa bukan dia yang menghentikan perbedatan? Lagipula, keputusan Yakobus adalah keputusan yang segaris dengan Petrus. Yakobus tidak menambahkan hal yang berbeda dari Petrus.


4.a Petrus bukan "tuhan" karena itu tidak masalah baginya untuk ditegur. Petrus ditegur Paulus karena dia tidak melakukan apa yang dia sendiri ajarkan.


4.b. Paus juga bukan "tuhan" yang tidak boleh ditegur (tapi jangan sembarang negur).

Quote:Ya, para rasul mengganti kedudukan Yudas dengan “seorang yang datang berkumpul dengan para murid selama Tuhan Yesus bersama-sama dengan mereka.” Nah, siapakah di antara bapa gereja yang memenuhi kriteria ini? salah satu syarat kerasulan ialah seorang saksi abad pertama tentang kebangkitan Kristus (bnd. Kis. 1:22; 1Kor. 9:1; 15:5-8). Karena itu, tentu tidak akan ada suksesi apostolik pada siapaun termasuk pada paus, sebab mereka bukan saksi mata kebangkitan Kristus.


1. Kata yang digunakan digunakan di Kis 1:20 adalah "episkope" alias "bishoprick" alias "uskup:"

Acts 1:20

20 For it is written in the book of Psalms, Let his habitation be desolate, and let no man dwell therein: and his bishoprick let another take.

Dan kita lihat bahwa Uskup-uskup memang bisa dipilih sebagaimana tertulis di 1Tim 3:1-7 dan Ti 1:7-8. Kriteria-kriteria Uskup juga sudah disebut disitu. Oleh karena itu ayat-ayat ini menunjukkan adanya suatu kepenerusan yang apostolik. Kepenerusan yang berawal dari para rasul ke para suksesor mereka. 

2. Paulus dan Barnabas disebut rasul (Kis 14:13). Padahal mereka tidak pernah bersama dengan para rasul sejak pembaptisan Yesus sampai kebangkitanNya.


3. Tulisan dari J. N. D. Kelly yang Protestant: 

"[W]here in practice was [the] apostolic testimony or tradition to be found? . . . The most obvious answer was that the apostles had committed it orally to the Church, where it had been handed down from generation to generation. . . . Unlike the alleged secret tradition of the Gnostics, it was entirely public and open, having been entrusted by the apostles to their successors, and by these in turn to those who followed them, and was visible in the Church for all who cared to look for it" (Early Christian Doctrines, 37).

 

Quote:Lagipula, coba pikirkan setelah Petrus mati (sekitar tahun 60’an), apakah penggantinya lebih “berkuasa” daripada Rasul Yohanes yang masih hidup sampai tahun 90’an? Padahal Yohanes merupakan seorang rasul dan salah satu sokoguru jemaat. Sekali lagi, tidak ada bukti bahwa otoritas Petrus ditransmisikan pada penerusnya. Yang diterukan ialah berita kebenarannya bukan kedudukannya.

Tepat sekali! PENGGANTI PETRUS LEBIH BERKUASA ATAS GEREJA DARIPADA YOHANES KETIKA YOHANES SENDIRI MASIH HIDUP!


Berikut 
apa yang aku tulis dahulu

DeusVult 


Berikut adalah kutipan dari ketetapan-ketetapan kuno yang ditulis dalam The Source of Catholic Dogma - Henry (Heinrich) Denzinger. Buku versi bahasa Inggris ini adalah versi abbridge dari buku resmi Enchiridion Symbolarum, Definitionum et Declarationum de Rebus Fidei et Morum - Denzinger & Schonmetzer. Buku ini menjadi patokan dalam membaca dokumen-dokumen Gereja, misalnya Katekismus, encyclic dan-lain-lain (ketika Katekismus menulis "D567," maka yang dimaksud adalah "lihat Denzinger index 567"). 
Buku ini ada secara online

Perhatikan tanggal pemerintahan Paus supaya tahu ke-kuno-an dari ketetapan-ketetapan berikut:

ST. CLEMENT I 90(?)- 99(?)

The Primacy of the Roman Pontiff *

[From the letter "(Greek text deleted)" to the Corinthians]

41 (1) BECAUSE of the sudden calamities that have followed one another in turn and because of the adverse circumstances which have befallen us, we think, brethren, that we have returned too late to those matters which are being inquired into among you, beloved, and to the impious and detestable sedition . . . which a few rash and presumptuous men have aroused to such a degree of insolence that your honorable and illustrious name . . . is very much reviled. . . . In order to remind you of your duty, we write. . . . (57) You, therefore, who have laid the foundations of this insurrection, be subject in obedience to the priests and receive correction unto repentance. . . . (59)But if some will not submit to them, let them learn what He [Christ] has spoken through us, that they will involve themselves in great sin and danger; we, however, shall be innocent of this transgression. . . . (63) Indeed you will give joy and gladness to us, if having become obedient to what we have written through the Holy Spirit, you will cut out the unlawful application of your zeal according to the exhortation which we have made in this epistle concerning peace and union. 

41 (1) KARENA bencana tiba-tiba yang muncul satu demi satu bergiliran dan karena keadaan yang berbalik yang menimpa kami, kami berpikir, saudara-saudara, bahwa kami telah kembali terlalu lambat kepada masalah-masalah yang menjadi pertanyaan diantara kamu, yang terkasih, [dan diantara] para orang yang tidak saleh dan pembangkangan-pembangkangan yang menjijikkan. . . dimana beberapa orang yang gegabah dan sok telah membangkitkan [ke-gegabahan dan ke-sok-an mereka] sampai pada tingkatan yang lancang sehingga namamu yang terhormat dan dikenal . . . menjadi sangat terhina. . . . untuk mengingatkan engkau kepada tugasmu, kami menulis. . . . (57) Kau, karenanya, yang meletakkan pondasi atas pemberontakan ini, jadilah subyek dalam ketaatan kepada imam-imam dan menerima koreksi kearah pertobatan. . . . (59) Tapi bila beberapa tidak patuh kepada mereka, biarlah mereka belajar apa yang Dia [Kristus] telah katakan melalui kami, bahwa mereka akan melibatkan diri mereka sendiri dalam dosa dan bahaya yang besar; Kami, bagaimanapun, akan menjadi tidak bersalah atas pelanggaran ini. . . . (63) Memang engkau akan memberi kebahagiaan dan kegembiraan kepada kami, kalau setelah menjadi patuh terhadap apa yang kami tulis melalui Roh Kudus, kamu akan memotong diri dari aplikasi yang tidak legal atas keinginan besarmu sesuai dengan anjuran yang telah kami buat dalam surat ini mengenai kedamaian dan kesatuan.


... 

Surat pertama dari Paus Clement I cukup istimewa. Keistimewaan surat ini terletak pada kenyataan bahwa surat ini dibuat MASIH DALAM JAMAN RASULI. Ketika itu, Rasul Yohanes Penginjil, rasul yang paling akhir meninggal, masih hidup di Efesus. Sekarang coba buka peta dunia Perjanjian Baru di bagian belakang Alkitab. Coba check tiga tempat: Korintus, Efesus dan Roma. Akan terlihat bahwa jarak dari Korintus ke Efesus jauh lebih dekat dari jarak Korintus ke Roma. Nah, mengapa umat Korintus meminta keputusan atas permasalahan mereka kepada Paus St. Clement I yang tempatnya jauh dan bukannya kepada seorang Rasul Yohanes yang masih hidup di tempat yang jauh lebih dekat? Apalagi mengingat jaman dahulu transportasi sulit dan umat Kristen dianiaya oleh orang Romawi dan Yahudi (Yahudi yang masih melakukan Hukum Taurat)? Ini tidak lain dan tidak bukan adalah karena pemimpin dari Gereja sejak dahulu sampai sekarang adalah Penerus Petrus, yaitu Paus Roma.

Tanggapan:
Anda salah memahami lagi. Saya tidak mengatakan harus ada paralelnya, tetapi apakah ide itu dimunculkan hanya sekali atau tidak? Bila dimunculkan hanya sekali harus ditaati, mengapa Anda tidak mencuci kaki seperti yang Yesus lakukan? Mengapa Anda tidak melakukan cium kudus seperti yang diajarkan Paulus? Kita harus berhati-hati terhadap ide yang dimunculkan hanya sekali, bahkan tidak mendapat perhatian dari yang bersangkutan sendiri.


1. Bisa ditanyakan kepada B. Sefanus K.: Dimana diajarkan bahwa ide yang dimunculkan sekali tidak harus ditaati?

2. Cuci kaki dilakukan umat Katolik pada hari Kamis Putih.

3. Tentang cium kudus. Cium kudus tidak hanya terdapat di satu ayat saja tapi lebih dari satu ayat (Rom 16:15; 1Kor 16:20; 2Kor 13:12; 1Tess 2:56; 1Pet 5:14). Praktek memang dilakukan Gereja Katolik. Bahkan tercatat kisah dimana St. Hugh dari Lincoln bersikeras memegang dan menggoncangkan mantel Raja Richard I dari Inggris sampai sang raja kemudian tersenyum dan memberi ciuman bagi sang santo sebagaimana seharusnya seorang saudara Kristen. Dalam masa sekarang ciuman hanya diberikan pada upacara khusus seperti penahbisan dan dilakukan antar imam/diakon.

Quote:
Tanggapan: 
Argumen ini tidak jelas maksudnya. Petrus memang menjadi seorang yang berperan dalam pendirian gereja, tetapi bukan menjadi “tuhan” gereja. Gereja tidak pernah dikaitkan dengan Petrus, gereja tidak disebut jemaat Petrus tetapi jemaat Allah. Asumsi penjawab tidak membutikan apa-apa. Lagipula gereja yang dimaksud Yesus ialah gereja secara umum (orang-orang yang beriman kepada-Nya), bukan gereja di Roma.

1. Siapa juga yang bilang bahwa Petrus dijadikan "'tuhan' gereja?"

2. Argumen tersebut kurang jelas karena seharusnya B. Stefanus K. menyertakannya dengan bagian bawahnya. Tapi dia membahasnya terpisah. Lengkapnya adalah seperti ini: 

DeusVult: 
Rujukan terhadap kekuasaan Gereja terletak pada fakta bahwa yang dijadikan dasar adalah Petrus. Juga pada fakta bahwa nama "Petrus" adalah nama pemberian Yesus KARENA dia dijadikan dasar dari Gereja yang didirikanNya.

Kedua hal tersebut dikaitkan dengan fakta bahwa Petrus diberi amanat untuk menggembalakan domba Yesus dan fakta bahwa harus ada kepenerusan dalam Gereja Kristus sampai akhir jaman, menunjukkan adanya suatu institusi yang otoritatif (dan tak-bisa-salah mengingat 1Tim 3:15) bagi umat Kristen.

Jadi, sebagaimana aku juga tulis, paragraph diatas dikaitkan dengan fakta di paragraph dibawahnya. 

Quote:
Tanggapan: 
Lompatan logika penjawab terlalu absurd. Dalam jemaat mula-mula tidak ada model institusi terpusat seperti yang Anda bayangkan. Ingat bahwa sistem kepemimpinan terpusat baru ada pada masa Konstantin. Sebelum Konstantin dan Agustinus gereja masih bersifat lokal. Kesatuan gereja sebelum masa ini (termasuk pada zaman bapa-bapa gereja seperti Ireneus, Cyprian, dan Tertulian) hanya dalam bentuk kesatuan pengakuan iman. Konsili ekumenikal pertama, yakni Nicea, baru terlaksana pada tahun 325 M dan pada saat itu pun tidak ada kesatuan organisasi gereja. Lebih lanjut, kesatuan gereja yang diklaim berada di bawah kepausan pada dasarnya terbentuk pada masa Paus Leo 1 (461 M). Semua rasul ada dalam kedudukan yang setara. Tiap gereja lokal memiliki otoritas sendiri-sendiri.

1.a. Diatas sudah disajikan tindakan Paus Clement yang menunjukkan sistem hierarkhi yang berpusat di Roma.

2. Berikut adalah berbagai kutipan dari Bapa Gereja Awal sebelum 325Ad yang menunjukkan Roma sebagai pusat Gereja Kristus, perhatikan tanggal-tanggalnya:

Dionysius of Corinth

"Today we have observed the Lord’s holy day, in which we have read your letter [Pope Soter]. Whenever we do read it [in church], we shall be able to profit thereby, as also we do when we read the earlier letter written to us by Clement" (Letter to Pope Soter in Eusebius, Church History 4:23:11 [A.D. 170]).

Dionysius dari Korintus adalah seorang Uskup Korintus. Korintus sendiri, pada jaman tersebut, termasuk Gereja Timur. Namun toh terlihat dari tulisan sang Uskup Korintus bahwa surat-surat para Uskup Roma (ie. Paus Soter dan Paus Clement sebelumnya) dibacakan dalam perayaan Liturgi Ilahi [Misa-nya Gereja Timur] di hari Minggu. Ini menunjukkan penghormatan mereka terhadap kepala Gereja.

Irenaeus
"2. Since, however, it would be very tedious, in such a volume as this, to reckon up the successions of all the Churches, we do put to confusion all those who, in whatever manner, whether by an evil self-pleasing, by vainglory, or by blindness and perverse opinion, assemble in unauthorized meetings; [we do this, I say,] by indicating that tradition derived from the apostles, of the very great, the very ancient, and universally known Church founded and organized at Rome by the two most glorious apostles, Peter and Paul; as also [by pointing out] the faith preached to men, which comes down to our time by means of the successions of the bishops. For it is a matter of necessity that every Church should agree with this Church, on account of its pre- eminent authority, that is, the faithful everywhere, inasmuch as the apostolical tradition has been preserved continuously by those [faithful men] who exist everywhere.

3. The blessed apostles, then, having founded and built up the Church, committed into the hands of Linus the office of the episcopate. Of this Linus, Paul makes mention in the Epistles to Timothy. To him succeeded Anacletus; and after him, in the third place from the apostles, Clement was allotted the bishopric. This man, as he had seen the blessed apostles, and had been conversant with them, might be said to have the preaching of the apostles still echoing [in his ears], and their traditions before his eyes. Nor was he alone [in this], for there were many still remaining who had received instructions from the apostles. In the time of this Clement, no small dissension having occurred among the brethren at Corinth, the Church in Rome despatched a most powerful letter to the Corinthians, exhorting them to peace, renewing their faith, and declaring the tradition which it had lately received from the apostles, proclaiming the one God, omnipotent, the Maker of heaven and earth, the Creator of man, who brought on the deluge, and called Abraham, who led the people from the land of Egypt, spoke with Moses, set forth the law, sent the prophets, and who has prepared fire for the devil and his angels. From this document, whosoever chooses to do so, may learn that He, the Father of our Lord Jesus Christ, was preached by the Churches, and may also understand the apostolical tradition of the Church, since this Epistle is of older date than these men who are now propagating falsehood, and who conjure into existence another god beyond the Creator and the Maker of all existing things. To this Clement there succeeded EvaristusAlexander followed Evaristus; then, sixth from the apostles, Sixtuswas appointed; after him, Telephorus, who was gloriously martyred; then Hyginus; after him,Pius; then after him, AnicetusSorer having succeeded Anicetus, Eleutherius does now, in the twelfth place from the apostles, hold the inheritance of the episcopate. In this order, and by this succession, the ecclesiastical tradition from the apostles, and the preaching of the truth, have come down to us. And this is most abundant proof that there is one and the same vivifying faith, which has been preserved in the Church from the apostles until now, and handed down in truth. - (Against Heresies 3:3:2-3 [A.D. 189]).

Santo Irenaeus adalah Uskup Lyon. Dia juga adalah murid dari St. Polycarp yang mati dibakar, dimana St. Polycarp sendiri adalah murid dari Rasul Yohanes. Kutipan diatas berasal dari suratnya melawan kaum Gnostik. St. Irenaeus berargumen bahwa doktrin kaum Gnostik tidak didasari oleh tradisi apostolik yang dijaga dengan setia oleh Gereja yang bisa melacak suksesi Uskup-Uskup mereka kepada ke-12 rasul yang adalah Uskup-Uskup pertama Gereja Kristus. Menurut Irenaeus, seluruh Gereja harus setuju dengan Gereja Roma karena otoritas-nya yang utama. Dari situ dia kemudian menunjukkan suksesi Uskup Roma dari Petrus (ie. "the blessed apostle") sampai ke Eleutherius. 

Cyprian of Carthage

"The Lord says to Peter: ‘I say to you,’ he says, ‘that you are Peter, and upon this rock I will build my Church, and the gates of hell will not overcome it. And to you I will give the keys of the kingdom of heaven; and whatever things you bind on earth shall be bound also in heaven, and whatever you loose on earth, they shall be loosed also in heaven’ [Matt. 16:18–19]). ... On him [Peter] he builds the Church, and to him he gives the command to feed the sheep [John 21:17], and although he assigns a like power to all the apostles, yet he founded a single chair [cathedra], and he established by his own authority a source and an intrinsic reason for that unity. Indeed, the others were also what Peter was [i.e., apostles], but a primacy is given to Peter, whereby it is made clear that there is but one Church and one chair. So too, all [the apostles] are shepherds, and the flock is shown to be one, fed by all the apostles in single-minded accord. If someone does not hold fast to this unity of Peter, can he imagine that he still holds the faith? If he [should] desert the chair of Peter upon whom the Church was built, can he still be confident that he is in the Church?" (The Unity of the Catholic Church 4; 1st edition [A.D. 251]).

"Cyprian to [Pope] Cornelius, his brother. Greeting. . . . We decided to send and are sending a letter to you from all throughout the province [where I am] so that all our colleagues might give their decided approval and support to you and to your communion, that is, to both the unity and the charity of the Catholic Church" (Letters 48:1, 3 [A.D. 253]).

"Cyprian to Antonian, his brother. Greeting ... You wrote ... that I should forward a copy of the same letter to our colleague [Pope] Cornelius, so that, laying aside all anxiety, he might at once know that you held communion with him, that is, with the Catholic Church" (ibid., 55[52]:1).

"Cornelius was made bishop by the decision of God and of his Christ, by the testimony of almost all the clergy, by the applause of the people then present, by the college of venerable priests and good men ... when the place of Fabian, which is the place of Peter, the dignity of the sacerdotal chair, was vacant. Since it has been occupied both at the will of God and with the ratified consent of all of us, whoever now wishes to become bishop must do so outside [the Church]. For he cannot have ecclesiastical rank who does not hold to the unity of the Church" (ibid., 55[52]:8).

Dari tulisan-tulisan St. Cyprian Uskup Carthage, Afrika, kita tahu betapa pentingnya uskup-uskup lain untuk menunjukkan kesatuan mereka dengan Paus. Kalau orang ingin menjadi Uskup tanpa persekutuan dengan sang Uskup Roma, maka dia hanya akan menjadi seorang "Uskup" yang berada di luar Gereja dan tanpa jabatan kegerejaan. 

Tertullian 
43 "I also hear that an edict is published and is indeed final. Evidently the Supreme Pontiff, because he is the bishop of bishops, declares: I forgive the sins of adultery and fornication to those who have performed the penance." * - Fragment from Tertullian's "De pudicitia" c. 1 [220AD]

Pada jaman Tertullian muncul pandangan yang keras bahwa umat yang melakukan perzinahan dan percabulan tidak akan mendapatkan Sakramen Tobat. Tertullian termasuk orang yang menganut pandangan ini. Atas pandangan yang bidat dan sesat ini kemudian Paus Calistus memberi ketetapan resmi bagi seluruh Gereja Kristus bahwa orang yang melakukan perzinahan dan percabulan boleh diampuni dosanya. Dalam fragment dari Tertullian diatas kita lihat bagaimana Tertullian mengatakan bahwa edict sang Paus adalah final dan bahwa sang Pasu adalah Uskup dari para Uskup. 

Firmilian 
"[Pope] Stephen ... boasts of the place of his episcopate, and contends that he holds the succession from Peter, on whom the foundations of the Church were laid [Matt. 16:18]. ... Stephen ... announces that he holds by succession the throne of Peter" (collected in Cyprian’s Letters 74[75]:17 [A.D. 253]).

Firmilian adalah seorang Romo dan merupakan murid dari Origen. Latar belakang surat tersebut adalah pertikaian antara Paus Stephen dengan St. Cyprian dari Carthage yang disebut diatas. Romo Firmilian membela pendapat keliru dari St. Cyprian bahwa para bidat harus dibaptis ulang kalau mereka bertobat, sementara Paus Stephen melarang pembaptisan ulang. Bisa dilihat dari tulisan Firmilian bahwa Paus Stephen menyombongkan posisinya dalam jajaran uskup-uskup karena dia memegang suksesi dari Petrus. Terlepas dari nada menyindir Firmilian, kita ketahui dari surat tersebut bahwa Paus Stephen sendiri menyadari keutamaannya dari semua Uskup karena dia mendapatkan suksesi dari Petrus. Firmilian sendiri bisa saja dengan mudah meruntuhkan klaim "arogant" Paus Stephen dengan mengatakan bahwa semua Uskup punya wibawa yang sama atau bahwa otoritas Petrus tidak diteruskan. Tapi Firmilian tidak melakukan itu karena di jaman tersebut sudah diketahui dengan baik kekuasaan utama Uskup Roma atas seluruh Gereja Kristus.


3. Kisah tentang Paus Viktor (memerintah 189-199AD) yang aku terjemahkan dari 
tulisan Patrick Madrid di majalah Envoy (yang merupakan bagian dari bukunya Pope Fiction). 

DeusVult: 
Paus Viktor I (berkuasa tahun 189-199) berusaha untuk menyelesaikan perselisihan antara Uskup Timur dan Barat mengenai kapan Paskah diadakan – Dikenal sebagai Kontroversi Quartodeciman. Uskup-uskup yang lain mengakui otoritas unik sang Paus ketika mereka mengikuti perintahnya untuk mengadakan sinode lokal dan regional untuk menyelesaikan masalah. Mereka yang tidak patuh diancam oleh Paus dengan Ekskomunikasi. Fakta bahwa tidak ada satu uskup pun di dunia – tidak satupun – yang mengganggu gugat otoritas Paus Viktor I untuk melakukan ekskomunikasi bila perlu, membuktikan bahwa gereja awal mengakui otoritas unik dari Uskup Roma. 

Beberapa saat sebelum kematiannya di tahun 200 masehi, St Iranaeus dari Lyons menulis kepada Paus Viktor I dan meminta sang Paus untuk bermurah hati dan membiarkan Uskup-Uskup Timur untuk tetap merayakan Paskah menurut kalender bulan Ibrani, merupakan bukti bahwa St Iranaeus mengakui otoritas dan kuasa Paus untuk melakukan ekskomunikasi. Paus Viktor I tetap bersikokoh, tapi penting untuk dicatat bahwa St Iranaeus, seperti uskup-uskup lain, taat kepada keputusan Paus. Meskipun begitu, St Iranaeus menulis kepada Gereja di Roma; “Dengan Gereja ini, karena asal muasalnya yang superior, semua gereja harus setuju; yaitu, semua umat di seluruh dunia, karena dalamnya [gereja] tradisi apostolik selalu dijaga bagi kepentingan umat dimanapun” (Melawan Kesesatan 3:3)

4. Berikut adalah kisah tentang Paus Calistus (memerintah 217-222AD) juga aku terjemahkan dari tulisan Patrick Madrid di majalah Envoy

DeusVult: 
Sekitar tahun 220, Paus Callistus menulis, "Calistus, Uskup Agung dari Gereja Katolik di kota Roma, kepada Benediktus, saudara Uskup kita, salam dalam Tuhan. Dengan cinta persaudaraan yang mengikat kita, dan dengan aturan apostolik yang membatasi kita, untuk memberi jawaban kepada pertanyaan dari para saudara, menurut apa yang telah diberikan oleh Tuhan, dan untuk memberi mereka dengan otoritas dengan materai para rasul" (Surat Pertama I). Jelas sekali kalau Paus sadar akan peran dan otoritas spesial yang dimilikinya dalam memutuskan perselisihan di Gereja, bahkan di keuskupan lain. 

Dilain kesempatan, Paus yang sama menulis surat kepada semua Uskup Galia dan berkata, “Callistus kepada saudara kita yang paling tercinta, semua uskup yang berada di Galia... kami memohon pada kalian supaya tidak mengijinkan apapun dilakukan di bagian tersebut yang bertentangan dengan aturan apostolik; tapi, didukung oleh otoritas kamu, kalian harus menghentikan apa yang menyebabkan luka dan apa yang melanggar aturan... Patuhilah hukum ini, yang telah diturunkan dari Rasul dan Bapa, dan pendahulu kami, dan telah diratifikasi oleh kami.... Kami telah menjawab pertanyaan kalian dengan pendek, karena surat kalian memberi beban lebih kepada kami, dan disibukkan oleh keputusan lain” (Surat kedua, kepada semua Uskup di Galia 2, 6)


5. Berikut Kisah dari seorang Kaisar Pagan/Kafir Roma bernama Aurelian yang membuktikan bahwa seorang pagan/kafir pun mengetahui bahwa puncak kekuasaan Gereja Kristen terletak pada Uskup Roma: 

DeusVult: 

Kaisar Aurelian 

Juga patut dicatat adalah tindakan dari kaisar Aurelian pada 270. Sebuah sinode Uskup-Uskup telah mengutuk Paul dari Samosata, Patriarkh Aleksandria, atas tuduhan bidaah, dan telah memilih Domnus [sebagai] uskup menggantikannya. Paul menolak untuk mundur, dan [mengajukan] banding kepada kekuasaan sipil. Sang kaisar mendekritkan bahwa dia yang diakui oleh uskup-uskup Itali dan Uskup Roma, harus diakui sebagai pemilik sah dari tahta [kepatriarkhan Aleksandria]. Insiden ini membuktikan bahwa para pagan sendiri tahu benar bahwa persekutuan dengan Tahta Roma adalah tanda esensial dari semua Gereja-Gereja Kristen. Bahwa Pemerintah kekaisaran sadar benar akan posisi paus diantara umat Kristen mendapatkan konfirmasi tambahan dari perkataan St. Cyprian bahwa Decius [Kaisar Roma] akan mendengar pengumuman [pengangkatan] kaisar tandingan lebih dahulu daripada pelantikan seorang paus baru untuk mengisi tempat [Paus] Fabian [yang menjadi] martir (Ep. 55:9).

6. Pelajaran sejarah diatas sudah cukup untuk menunjukkan bagaimana SEBELUM 325AD umat Kristen awal DAN pihak non-Kristen jaman itu memaklumi kepemimpinan Uskup Roma terhadap seluruh umat Kristen. Ini sudah sesuai dengan Mat 16:18-19 dan Yoh 21:15-17.

Quote:Paulus tidak mempertanggungjawabkan perjalanannya pada gereja di Yerusalem tetapi Antiokhia di Siria. Timotius sebagai gembala gereja Efesus tidak mendapat wejangan dari Petrus tetapi dari Paulus. Kepenerusan di sini terkait konteks pemberitaan Injil bukan otoritas rasuli. Jadi, argumen yang diajukan tidak berdasar

1. Aku tidak tahu dasar yang digunakan B. Stefaus K. untuk mengatakan bahwa "
Paulus tidak mempertanggungjawabkan perjalanannya pada gereja di Yerusalem tetapi Antiokhia di Siria," jadi tidak ada yang bisa aku tanggapi.

2. Wejangan bisa diberikan siapa saja dalam rantai kepemimpinan. Tidak ada larangan sesama uskup saling memberi wejangan. Bahkan tidak ada larangan umat memberi wejangan terhadap Uskup. 

3. Kepenerusan yang dimaksud jelas-jelas kepenerusan rasuli karena kata yang digunakan adalah "episkope" yang juga digunakan untuk penerus Yudas sebagai rasul di Kis 1:20.

Quote:
Tanggapan:
Tidak ada argumen, hanya asumsi. Tidak perlu saya tanggapi, lagipula sudah saya jelaskan gereja dalam pengertian apa.

1. Asumsi? Itu adalah tulisan yang di-ilham-kan Allah.

2. Definisi B.Stefanus K. akan "Gereja" adalah sebuah definisi yang sebegitu umumnya sehingga tidak sesuai dengan makna khusus dan ilahi Gereja sebagaimana dipahami Kitab Suci (e.g. Ef 5:23-27, 29, 32). Singkatnya "Gereja" yang dipahami Kitab Suci bukanlah kumpulan sembarang orang sebagaimana coba di argumen-kan B. Stefanus K.. Sebaiknya B. Stefanus K. menambah pengetahuan ekklesiologi-nya.

Quote:
Tanggapan:
Ya, tetapi gereja dalam artian umum bukan gereja lokal tertentu apalagi gereja Katolik Roma. Lagipula supremasi di sini juga terkait dengan tugas gereja sebagai pemberita Injil Kerajaan Allah bukan menjadi “tuhan.”


1. Mengenai "
tetapi gereja dalam artian umum bukan gereja lokal tertentu apalagi gereja Katolik Roma," akan ditanggapi dibawah.

2. Gereja adalah tubuhnya Tuhan Allah (Ef 5:23, 30; Kol 1:18, 24). Tuhan Allah itu begitu mencintai Gereja sampai mati baginya (Ef 5:25). Gereja dan Kristus, sebagai kepala dan tubuh, adalah tak terpisahkan (Ef 1:22-23; Ef 5:29). Sebegitu tak terpisahkannya Yesus dan Gereja sampai-sampai Saulus yang tidak pernah menganiaya Yesus atau bahkan bertemu Yesus dikatakan telah menganiaya diriNya (Kis 9:4-5). Yang dilakukan Saulus adalah menganiaya Gereja, namun karena Gereja adalah tubuh Kristus, maka Yesus juga teraniaya. Inilah kesatuan Gereja dan Kristus. Inilah ekklesiologi Kristen. Sekali lagi, sebaiknya B. Stefanus K. menambah pengetahuan ekklesiologinya.

Quote:
Tanggapan:
Argumen ini menggelikan dan tidak akademis. Katolik yang dimaksud di sini ialah dalam artian umum dan terbuka, bukan Katolik Roma. Bila demikian, maka kami pun tetap katolik sebab kami tidak membatasi berita keselamatan pada etnis atau golongan tertentu. Anda perlu belajar memahami sejarah lebih baik. 

B. Stefanus K. mengatakan bahwa dia Katolik? Bukankah dia Protestant Reformed yang baru muncul 1500 tahun di Eropa setelah Yesus wafat di Israel? Jadi Reformed-nya si B. Stefanus K. tidak mungkin Gereja yang sudah ada sejak Yesus mendirikannya diatas Kephas pada tahun 33AD, tidak mungkin Gereja Katolik yang disebut St. Ignatius dari Antiokia [murid Yohanes Penginjil], tidak mungkin Gereja Katolik yang dituliskan para Bapa Gereja Awal.

Sebaiknya B. Stefanus K.-lah yang membaca sejarah secara lebih baik. dia sama sekali tidak paham kehidupan Gereja purba, tidak tahu Bapa Gereja Awal dan lain-lain.

Quote:
Tanggapan:
Pertama, kami tidak terlalu memfavoritkan karya bapa gereja, sebab pemahaman iman mereka bisa salah. Kedua, gereja yang dimaksud di sana bukan dalam artian gereja terpusat tetapi gereja lokal secara universal sebagai penerus Injil Kristus. Coba pahami teks dengan baik. Sistem kepausan baru muncul pada abad kelima, sehingga tentu tidak mungkin bapa-bapa gereja awal mengakui sistem kepemimpinan terpusat. Klemens menyebut suksesi namun bukan dalam pengertian rasul, melainkan penilik (episcopate). Pahami bahwa pada masa gereja awal, penilik dan penatua merupakan jabatan yang sama (lihat 1Tim. 3:1-7; cf. Tit. 1:5), baru kemudian pada adab kedua ada sistem yang lebih kompleks. Lebih lagi, lihat bahwa dia menyebut orang-orang (jamak) bukan tunggal. Ini jelas merujuk pada konteks regenerasi kepemimpinan di gereja lokal, bukan sistem kepausan apalagi rasuli. Ignatius dan Ireneus memang menekankan otoritas gereja, namun bukan pada institusinya tetapi pada pesan Injil yang dibawa. Ingat bahwa tulisan mereka merupakan respon terhadap ajaran sesat yang meneruskan ajaran di luar kebenaran Kristus.

 

1.a. Mantan romo Martin Luther, John Calvin, James White dan kroninya, Stephen Tong juga bisa salah dalam hal iman. Lalu kalau mengapa kita harus percaya terhadap mereka daripada Bapa Gereja Awal yang hidup di jaman yang lebih dekat dengan para rasul dan bahkan mendengar sendiri pengajaran dari para rasul (seperti Ignatius dari Antiokia, Polycarp dll)? Mengapa kita harus lebih percaya mereka daripada para Bapa Gereja Awal yang dianiaya tapi tetap beriman dan memperkokoh pondasi-pondasi iman Kristen? Apakah mereka (Luther, Calvin etc) lebih pandai dan lebih kudus dari para Bapa Gereja Awal?

1.b. Terlebih masalah "iman" hanyalah salah satu hal yang bisa kita dapat dari memahami tulisan para Bapa Gereja Awal. Hal lain yang tidak kalah pentingnya adalah kita memahami bagaimana kehidupan Gereja di jaman yang dekat dengan para rasul. Kita memahami SEJARAH GEREJA. Dari situ kita bisa melihat apakah "gereja" kita sekarang ini sesuai dengan Gereja purba yang jelas-jelas didirikan Yesus Kristus.

2. Kepemimpinan terpusat Gereja alias kepausan sudah ditunjukkan melalui bukti-bukti tulisan para Bapa Gereja dan bukti-bukti sejarah diatas.

3. Para rasul adalah cikal bakal alias proto-Uskup Gereja. Ini karena jabatan seorang rasul juga disebut jabatan Uskup (Kis 1:20).

4. Memang benar bahwa pada awal-awal Gereja jabatan Uskup (episkope) dan Romo (presbyteros) saling overlap. Namun point ini irrelevan karena yang mau di-argumen-kan adalah bahwa Uskup adalah penerus rasul (kalau mau diargumen-kan bisa dibuat topik tersendiri, dan bisa ditunjukkan bagaimana perkembangan ajaran [doctrinal development] mengenai perbedaan peran Uskup dan Romo adalah perkembangan ajaran yang sah sebagaimana perkembangan ajaran mengenai Trinitas dalam iman kristen). Dan argumen ini terbukti dari fakta bahwa posisi Yudas adalah posisi "episkope" (Kis 1:20). 

5. B. Stefanus K. mengatakan, "
Ignatius dan Ireneus memang menekankan otoritas gereja, namun bukan pada institusinya tetapi pada pesan Injil yang dibawa" tanpa menunjukkan bukti. Sementara aku sendiri sudah menunjukkan bukti diatas bagaimana Ignatius, Irenaeus dan Bapa Gereja Awal lainnya sebelum 325 AD mengimani suatu Gereja yang institusional dibawah kepemimpinan satu gembala universal yaitu Uskup Roma sebagai penerus Petrus (sesuai dengan Yoh 21:15-17) 

Quote:Tanggapan: 
Ini pertanyaan konyol. Tidak, sebab mereka tidak memenuhi kriteria kanonisasi. Mereka tidak diterima secara luas oleh jemaat mula-mula, penulisnya tidak memiliki kaitan apostolik, juga tidak ada ortodoksinya, dalam artian bertentangan dengan kitab-kitab lain. Sekarang saya tanya balik, bila kelak gereja menganggap Quran sebagai kitab suci apa Anda akan menerima?

1. Menurut B. Stefanus K. Quran, Kitab Mormon dll "tidak memenuhi kriteria kanonisasi." Lalu apakah kriteria kanonisasi itu? Apakah disebutkan di Kitab Suci apa saja yang menjadi kriteria kanonisasi? Tidak. Lalu darimana B. Stefanus K. tahu bahwa Quran Kitab Mormon, Didache, Shepard of Hermas, Injil Thomas, Proto-evangelium Yakobus dll tidak termasuk kanon? Siapakah Protestant yang men-sortir buku-buku tersebut dan kriteria apa yang diapakainya? Dan kapankah itu dilakukan?

2.a. B. Stefanus K. merujuk kepada kriteria kanonisasi seperti, "tidak diterima secara luas oleh jemaat mula-mula, penulisnya tidak memiliki kaitan apostolik, juga tidak ada ortodoksinya, dalam artian bertentangan dengan kitab-kitab lain." Pertanyaannya: kriteria-kriteria ini ditemukan dimana di Kitab Suci? Apakah cuma ini? Kalau kriteria-kriteria ini tidak ada di Kitab Suci apakah kriteria-kriteria ini didapat dari Tradisi?

2.b. Tidak hanya itu, sebagai seorang Sola Scripturist B. Stefanus K. harus menunjukkan dari Kitab Suci kenapa Kitab Wahyu, misalnya, memenuhi kriteria tersebut.

3. Atas pertanyaan B. Stefanus K. "bila kelak gereja menganggap Quran sebagai kitab suci apa Anda akan menerima" maka jawabannya adalah "Gereja tidak mungkin menerima Kitab baru lagi karena Gereja Katolik secara tak-bisa-salah telah menyatakan bahwa Kanon telah ditutup." Jadi tidak hanya Quran, tapi juga surat ke-tiga Paulus kepada jemaat Korintus, Shepard of Hermas, Didache, proto-evangelium Yakobus dll yang dulu dibaca jemaat awal di Gereja-Gereja tidak akan dapat masuk ke dalam kanon.

Quote:
Tanggapan:
Tetapi sejarah menunjukkan bahwa sejak abad pertama kitab-kitab kanonik telah diterima oleh gereja. Wibawa ini muncul bukan karena mereka diterima gereja, tetapi karena tulisan-tulisan ini memiliki wibawa maka diterima oleh gereja abad pertama. Menemukan di sini dalam arti menemukan kembali apa yang dipercaya gereja mula-mula. Pada gereja mula-mula, jemaat tidak akan bingung tentang mana tulisan yang dianggap berotoritas, tetapi, seperti sudah saya jelaskan, ketika muncul banyak bidat yang mendasarkan diri pada kitab suci, di sana mulai banyak spekulasi mengenai mana kitab yang berotoritas. Gereja bukan menentukan tetapi menemukan kanon yang sebenarnya sudah ada sejak abad pertama. Saya rasa untuk jelasnya coba baca tulisan F.F. Bruce, Dokumen-Dokumen Perjanjian Baru.

1. Cukup aneh bahwa B. Stefanus K. mengacu pada suatu "sejarah" yang "menunjukkan bahwa sejak abad pertama kitab-kitab kanonik telah diterima oleh gereja." Bukannya dia adalah Protestant Sola Scriptura? Bagaimana mungkin dia merujuk masalah imani [ie. kanon] tidak kepada Kitab Suci tapi kepada "sejarah?"

2.a. Gereja awal tidak hanya menerima wibawa kitab yang kanon, tapi juga wibawa dari kitab yang tidak kanon (seperti Shepard of Hermas, Didache, Protoevangelium Yakobus, Akta Paulus, Wahyu Petrus dan lain-lain). Silahkan lihat disini.

2.b. Tidak hanya itu banyak Gereja awal yang menolak kitab yang kanon (seperti Wahyu Yohanes, Surat Yudas, Surat Ibrani, Surat-surat Yohanes dll). Silahkan lihat disini

3. Sekali lagi patut dicatat bahwa di argumen kali ini si B. Stefanus K. tidak menunjukkan satu ayat pun dari Kitab Suci yang bisa digunakan untuk menentukan kanon. Yang dia lakukan adalah merujuk kepada sejarah... kepada... TRADISI. Karena tanpa Tradisi lisan kita tidak tahu mana yang kanon mana yang bukan (sebab Kitab Suci tidak memberi informasi tentang kanon).

Quote:
Tanggapan:
Bukan, tetapi otoritas kitab itu sendiri. Ingat bahwa banyak bapa gereja bertentangan mengenai penerimaan beberapa kitab. Tetapi tolok ukurnya jelas bukan tulisan mereka tetapi penerimaan pada gereja mula-mula dan otoritas rasuli tulisan tersebut. Gereja abad pertama tidak pernah bingung tentang tulisan mana yang dianggap berotoritas, kebingungan baru terjadi pada abad selanjutnya, ketika muncul bidat dan segala macamnya yang mengklaim mendasarkan kosepnya pada kitab suci.

1. B. Stefanus K. tetap ngotot bahwa standard yang digunakan bukan Tradisi lisan tapi "otoritas kitab itu sendiri." Tapi bukannya sejak awal dia tidak dapat menghasilkan satu ayat pun dari Kitab Suci yang bisa menunjukkan apa saja kitab yang kanon? Bahkan bukannya dia sendiri juga menggunakan kriteria "sejarah" dan kriteria lain yang sama sekali tidak ada dasar ayat Kitab Sucinya?

2. Kembali lagi kita lihat bagaimana B. Stefanus K. mengajukan suatu kriteria kanon yang tidak ada di Kitab Suci, yaitu, "tolok ukurnya jelas bukan tulisan mereka tetapi penerimaan pada gereja mula-mula dan otoritas rasuli tulisan tersebut." Mengapa kok tolak ukurnya tidak ayat-ayat Kitab Suci sendiri? Bukannya B. Stefanus K. adalah Sola Scripturist?

3. B. Stefanus K. mengatakan bahwa "Gereja abad pertama tidak pernah bingung tentang tulisan mana yang dianggap berotoritas." Tapi ini irrelevant. Masalahnya bukan bingung atau tidak bingung. Tapi bagaimanakah caranya seorang Sola Scripturist mengetahui kitab mana yang kanon HANYA BERDASRKAN Kitab Suci dan tidak berdasarkan Tradisi lisan Gereja atau bahkan sejarah, yang menurut B. Stefanus K. tidak di-ilham-kan Allah.

Quote:
Tanggapan:
Maaf, saya tidak menerima katekisasi ini, ini merupakan argumen dogmatis.


Paragraph dari Katekismus Gereja Katolik dikutipkan karena sebelumnya B. Stefanus K. mengatakan , "
gereja berhak menentukan pedoman sendiri (di atas Alkitab)." Atas pemahaman yang salah akan iman Katolik inilah aku mengutipkan Katekismus untuk menunjukkan pemahaman iman Katolik yang benar.

Quote:
Tanggapan:
Ini cuma asumsi, bukan argumen. Lagipula sudah saya tunjukkan bahwa pandangan Agustinus tidak mewakili pandangan gereja awal. Konsep ekklesiologi gereja mula-mula jelas berbeda dengan Agustinus yang hidup pada masa gereja telah memiliki struktur terpusat. Konsep ekklesiologi awal tidak terpusat seperti yang ada pada masa Agustinus.


1. B. Stefanus K. seharusnya menjelaskan mana yang asumsi. Adalah fakta bahwa ke-kristenan Barat dipengaruhi secara signifikan oleh dua orang. Yang pertama adalah St. Agustinus yang kedua adalah St. Thomas Aquinas. Calvin, Luther dan para proto-Protestant lainnya mengutip St. Agustinus dalam tulisan-tulsian mereka (aku kurang tahu apakah mereka mengutip St. Thomas, Luther tampaknya kurang tahu tentang tulisan St. Thomas).

2. Diatas juga sudah dibuktikan bagaimana sebelum masa St. Agustinus pun Gereja sudah memiliki struktur yang terpusat pada Uskup Roma sebagai penerus Petrus. 

Quote:
Tanggapan:
Sama saja, argumen dan situs yang diajukan ialah situs Katolik, tentu argumennya juga akan bias bukan? Lalu, saya tidak menerima semua tradisi bapa gereja. Maka lebih baik berdiskusilah dengan landasan Kitab Suci lebih dulu, bukan dengan tradisi bapa gereja karena saya meyakini tidak semua ajaran bapa gereja benar. Bila demikian cobalah juga melihat situs 
http://beggarsallreformation.blogspot.c ..n-church-fathers, dimana di sana ditunjukkan kontras antara gereja Katolik dan ajaran bapa gereja.


1. Situs Katolik yang aku tunjukkan ke B. Stefanus K. hanya memuat kutipan Bapa Gereja Awal tanpa mengambil kesimpulan. Karena memang sejak awal kita mempersilahkan Protestant melihat sendiri apa yang dikatakan Bapa Gereja Awal. Jadi bagaimana bisa dikatakan, "
tentu argumennya juga akan bias bukan?"

2. Kalau Bapa Gereja tidak semuanya benar sementara Mantan Romo Luther, Calvin, Stephen Tong, James White dan kroninya juga tidak semuanya benar, lalu kenapa lebih percaya terhadap kelompok yang kedua? Padahal kelompok yang pertama hidup di jaman yang dekat dengan jaman rasul, lebih kudus (karena banyak penganiaayaan dan hidup d jaman yang lebih murni) dan lebih pintar dari kelompok yang kedua? Bahkan ada Bapa Gereja yang merupakan murid dari murid-murid Yesus dan ada juga generasi keduanya (murid dari muirdnya murid Yesus).


3. Aku bisa tanggapi artikel dari Bugay atau kroninya James White yang lain yang ada disitu (ie. blog Beggars All) kalau B. Stefanus K., atau siapapun kroninya James White, bersedia meladeni. Silahkan. Aku menunggu. Kita (umat Katolik) cukup familier dengan blog Beggars All. Begitu familiernya sampai-sampai seorang Katolik membuat blog parodi Beggars All yang dinamakan
Beggars All: Deformation and Apologetics (kata "reformation" diganti "deformation" karena memang reformasi [alias protestantisme] sama sekali bukan reformasi tapi merupakan deformasi). Isinya cukup lucu (if you are a Catholic  , dan kalau kalian familer dengan James white dan kroninya).

Quote:
Tanggapan:
Doddy, saya tidak ada waktu untuk membaca tulisan ini, bila mungkin tolong disarikan argumennya.


Sederhananya, Protestant menyajikan kutipan-kutipan dari para Bapa Gereja yang mereka klaim mengajarkan Sola Scriptura. Moderator shmily dan aku kemudian menunjukkan konteks dari kutipan yang diajukan Protestant dan menunjukkan konteks lebih luas dari buku atau bab yang ditulis si Bapa Gereja. Dan dari situ terlihat bahwa Protestant telah menyimpulkan secara keliru apa yang dituliskan para Bapa Gereja Awal. Mereka sama sekali tidak mengimani Sola Scriptura dan mengimani pentingnya Tradisi lisan yang terlihat dari ajaran para Bapa-Bapa sebelum mereka dan ajaran Gereja sendiri.

Quote:
Tanggapan:
Argumen ini anakronistik. Istilah Katolik di sini bukan dalam artian Katolik Roma tetapi gereja yang terbuka tehadap siapapun. Dengan demikian, dalam pengertian tersebut, kami pun tetap katolik. Mat. 16:18 juga tidak berarti gereja secara institusi, tetapi gereja dalam artian jemaat Allah. Kalau Anda belajar bahasa Yunani (seperti sudah saya jelaskan), kata “ekklesia” memiliki konsep bukan pada institusinya melainkan pada komunitasnya.


1 Yang dimaksud Gereja Katolik tentunya adalah Gereja Katolik Roma yang sudah ada sejak Yesus mendirikannya pada 33AD, bukan pengertian "katolik" alias "universal" dari Gereja. Jadi, bagaimana mungkin "gereja"-nya si B. Stefanus K. adalah Gereja Katolik kalau "gereja" tersebut baru didirikan para Protestant 1500 tahun setelah Yesus hidup, mati dan bangkit? Coba B. Stefanus K. melacak sejarah "gereja"-nya. Coba B. Stefanus K. merenungkan ini, "kapankah Protstantisme muncul? Dan kapankah Yesus mendirikan GerejaNya?"

2. Bahkan SEMUA para Protestant-protestant pertama (mantan Romo Luther, Calvin dll) pada masa kecilnya dibaptis, di-krisma dan mengikuti Misa di Gereja Katolik. Mereka adalah umat Gereja Katolik yang membelot mengikuti sang Bapa Kebohongan (Yoh 8:44). Kalau mereka tidak membelot maka selamanya mereka akan tetap berada di Gereja Katolik. Dan "gereja"-nya si B. Stefanus K. tidak akan ada.

3. Jadi yang anachronistik itu adalah si B. Stefanus K. karena dia begitu ignorance-nya terhadap fakta sejarah yang sudah sangat jelas ini.

Quote:Tanggapan: 
Pertama, Newman adalah seorang Katolik, tentu pernyataannya juga bias. Kedua, seperti yang saya katakan berulang kali, makna Katolik yang dimasukkan anakronistik. Jadi pahamilah sejarah dengan baik. Ketiga, konsili Nicea kedua merupakan konsili yang telah terdistorsi dengan politisasi gereja, jadi kami tidak menerima pengakuan konsili ini.

1. Newman lahir sebagai Protestant Anglican. Karena research-nya terhadap sejarah Gereja maka kemudian dia menjadi Katolik. Karena tidak ada kesimpulan lain yang bisa disimpulkan dari mempelajari sejarah Gereja kecuali bahwa Gereja yang ada dalam sejarah awal adalah Gereja Katolik dan sama sekali bukan Protestant yang baru ada 1500 tahun setelah Yesus lahir, bangkit dan mati.

2. Mengenai tuduhan "anachronistik" sudah dijawab diatas serta ditunjukkan bahwa B. Stefanus K. lah yang anachronistik. Dia tidak menyadari bahwa "gereja"-nya dan iman-nya baru ada 1500 tahun setelah Yesus lahir, wafat dan bangkit. Sebaiknya B. stefanus K. belajar sejarah Gereja, jangan melulu Alkitab atau bahkan tulisan-tulisan White dan kroninya.

3. Silahkan B. Stefanus K. membuktikan tuduhan, "konsili Nicea kedua merupakan konsili yang telah terdistorsi dengan politisasi gereja, jadi kami tidak menerima pengakuan konsili ini." Kalau tuduhan itu cuma sebatas itu maka aku hanya bisa menjawab dengan mengatakan "kamu keliru B. Stefanus K." 

Tanggapan:
Lihat kriteria pengganti Yudas yang sudah saya jelaskan. Suksesi dalam artian regenerasi memang kami terima tetapi jelas mereka tidak memliki otoritas kerasulan yang sama dengan para rasul. Sebab setelah para rasul meninggal, murid-murid mereka tidak pernah disebut sebagai “rasul.” Terlebih lagi tidak ada lagi rasul paska kematian Yohanes, coba baca artikel di situs 
http://sovereigntruth.com/index.php?opt ..ies&Itemid=54 

1. . Stefanus K. mengkritik bahwa aku menampilkan situs-situs Katolik. Tapi bisa dilihat bahwa rujukan ke soverigntruth.com ini adalah rujukan ke sekian kali B. Stefanus K. ke situs-situs Protestant. Tampaknya B. Stefanus K. tidak kenal apa yang namanya "konsistensi."


2. Gereja Katolik pun mengakui bahwa tidak semua wibawa yang dimiliki para rasul diteruskan kepada para Uskup pengganti mereka. Namun paling tidak wibawa kepemimpinan masing-masing Uskup dan wibawa kepemimpinan khusus Petrus terhadap seluruh Gereja tetap ada. Sejarah membuktikan bagaimana para Uskup dan para Paus (sebagai Uskup Roma) menjalankan wibawa tersebut.


3. Dan harus ditekankan bahwa sekalipun Gereja Katolik mengakui bahwa ada wibawa para rasul (selain Petrus) yang tidak terturunkan kepada para Uskup (yang bukan Uskup Roma), namun masih ada perbedaan dengan Protestant mengenai wibawa apa saja yang diturunkan dan yang tidak diturunkan. 

Quote:
Tanggapan: 
Sudah saya jelaskan di atas, memang dalam arti kepemimpinan gereja lokal iya, tetapi bukan dalam arti otoritas kerasulan.


Setuju. Tapi dengan tambahan sebagaimana no.2 dan no.3 diatasnya. 

Tanggapan:
Sekali lagi, gereja Katolik di sini bukan dalam artian Katolik Roma tetapi katolik secara umum. Lagipula Ignatius melihat keunikan gereja dalam artian sebagai pembawa berita Injil bukan karena menjadi “tuhan” kecil.


1. Argumen "
gereja Katolik di sini bukan dalam artian Katolik Roma tetapi katolik secara umum" sudah di-address diatas.

2. Sementara aku menunjukkan link dimana terdapat kutipan St. Ignatius dari Antiokia yang membuktikan argumenku bagaimana suksesi apostolik terjaga di Gereja Katolik, si B. Stefanus K. mengatakan "Lagipula Ignatius melihat keunikan gereja dalam artian sebagai pembawa berita Injil bukan karena menjadi 'tuhan' kecil" tanpa bukti apapun. Jadi sebenarnya apa dasar dari argumen si B. Stefanus K. tersebut? Apakah dia pernah membaca ketujuh surat St. Ignatius dari Antiokia ?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar