Mengasihi Sesama

Mengasihi Sesama
Ibu Theresa dari Calcuta

Sabtu, 04 September 2021

APA ITU DOSA MENGHUJAT ROH KUDUS ?

 

1864 "Therefore I tell you, every sin and blasphemy will be forgiven men, but the blasphemy against the Spirit will not be forgiven." (Mt 12:31; cf. Mk 3:29; Lk 12:10.) There are no limits to the mercy of God, but anyone who deliberately refuses to accept his mercy by repenting, rejects the forgiveness of his sins and the salvation offered by the Holy Spirit. (Cf. John Paul II, DeV 46.). Such hardness of heart can lead to final impenitence and eternal loss

1874 To choose deliberately - that is, both knowing it and willing it - something gravely contrary to the divine law and to the ultimate end of man is to commit a mortal sin. This destroys in us the charity without which eternal beatitude is impossible. Unrepented, it brings eternal death.
 


1864 "Tetapi apabila seseorang menghujah Roh Kudus, ia tidak mendapat ampun selama-lamanya, tetapi bersalah karena berbuat dosa kekal" (Mrk 3:29, Bdk. Mat 12:32; Luk 12:10). Kerahiman Allah tidak mengenal batas; tetapi siapa yang dengan sengaja tidak bersedia menerima kerahiman Allah melalui penyesalan, ia menolak pengampunan dosa-dosanya dan keselamatan yang ditawarkan Roh Kudus (Ddk. Yohanes Paulus II, DeV 46). Ketegaran hati semacam itu dapat menyebabkan sikap yang tidak bersedia bertobat sampai pada saat kematian dan dapat menyebabkan kemusnahan abadi. 

1874 Siapa yang dengan sengaja, artinya dengan tahu dan mau, menjatuhkan keputusan kepada sesuatu yang bertentangan dengan hukum ilahi dan dengan tujuan akhir manusia dalam hal yang berat, ia melakukan dosa berat. Dosa itu merusakkan kebajikan ilahi didalam kita, [yaitu] kasih, dan tanpa kasih tidak ada kebahagiaan abadi. Kalau [dosa itu] tidak disesali, [dosa itu] akan mengakibatkan kematian abadi.



Ioannes Paulus PP. II 
Dominum et vivificantem 

On the Holy Spirit in the Life of the Church and the World 

1986.05.18
 


... 


6. The Sin Against the Holy Spirit 

46. Against the background of what has been said so far, certain other words of Jesus, shocking and disturbing ones, become easier to understand. We might call them the words of "unforgiveness." They are reported for us by the Synoptics in connection with a particular sin which is called "blasphemy against the Holy Spirit." This is how they are reported in their three versions: 

Matthew: "Whoever says a word against the Son of Man will be forgiven but whoever speaks against the Holy Spirit will not be forgiven, either in this age or in the age to come."180 

Mark: "All sins will be forgiven the sons of men, and whatever blasphemies they utter; but whoever blasphemes against the Holy Spirit never has forgiveness, but is guilty of an eternal sin."181 

Luke: "Every one who speaks a word against the Son of Man will be forgiven; but he who blasphemes against the Holy Spirit will not be forgiven."182 

Why is blasphemy against the Holy Spirit unforgivable? How should this blasphemy be understood ? St. Thomas Aquinas replies that it is a question of a sin that is "unforgivable by its very nature, insofar as it excludes the elements through which the forgiveness of sin takes place."183 

According to such an exegesis, "blasphemy" does not properly consist in offending against the Holy Spirit in words; it consists rather in the refusal to accept the salvation which God offers to man through the Holy Spirit, working through the power of the Cross. If man rejects the "convincing concerning sin" which comes from the Holy Spirit and which has the power to save, he also rejects the "coming" of the Counselor-that "coming" which was accomplished in the Paschal Mystery, in union with the redemptive power of Christ's Blood: the Blood which "purifies the conscience from dead works." 

We know that the result of such a purification is the forgiveness of sins. Therefore, whoever rejects the Spirit and the Blood remains in "dead works," in sin. And the blasphemy against the Holy Spirit consists precisely in the radical refusal to accept this forgiveness, of which he is the intimate giver and which presupposes the genuine conversion which he brings about in the conscience. If Jesus says that blasphemy against the Holy Spirit cannot be forgiven either in this life or in the next, it is because this "non-forgiveness" is linked, as to its cause, to "non-repentance," in other words to the radical refusal to be converted. This means the refusal to come to the sources of Redemption, which nevertheless remain "always" open in the economy of salvation in which the mission of the Holy Spirit is accomplished. The Spirit has infinite power to draw from these sources: "he will take what is mine," Jesus said. In this way he brings to completion in human souls the work of the Redemption accomplished by Christ, and distributes its fruits. Blasphemy against the Holy Spirit, then, is the sin committed by the person who claims to have a "right" to persist in evil-in any sin at all-and who thus rejects Redemption. One closes oneself up in sin, thus making impossible one's conversion, and consequently the remission of sins, which one considers not essential or not important for one's life. This is a state of spiritual ruin, because blasphemy against the Holy Spirit does not allow one to escape from one's self-imposed imprisonment and open oneself to the divine sources of the purification of consciences and of the remission of sins. 





Yohanes Paulus II 

Dominum et vivificantem 


Mengenai Roh Kudus dalam Kehidupan Gereja dan Dunia 


1986.05.18 


... 


6. Dosa terhadap Roh Kudus 


46. Dihadapan latar belakang yang telah dikatakan sepanjang ini, beberapa kata-kata Yesus, [yang] mengagetkan dan mengganggu, menjadi lebih mudah dimengerti. Kita bisa menyebut [kata-kata Yesus tersebut] sebagai kata-kata "ketidakampunan." [Kata-kata tersebut] dilaporkan kepada kita oleh [Injil-Injil] Sinoptik [ie. Matius, Markus, Lukas] dalam hubungan dengan satu dosa tertentu yang disebut "penghujatan terhadap Roh Kudus." Inilah bagaimana [kata-kata tersebut] dilaporkan dalam tiga versi yang berbeda: 


Matius: "Apabila seseorang mengucapkan sesuatu menentang Anak Manusia, ia akan diampuni, tetapi jika ia menentang Roh Kudus, ia tidak akan diampuni, di dunia ini tidak, dan di dunia yang akan datang pun tidak."180 


Markus: "Sesungguhnya semua doa dan hujat anak-anak manusia akan diampuni, ya semua hujat yang mereka ucapkan. Tetapi apabila dia menghujat Roh Kudus, ia tidak mendapat ampun selama-lamanya, melainkan bersalah karena berbuat dosa kekal."181 


Luke: "Setiap orang yang mengatakan sesuatu melawan Anak Manusia, ia akan diampuni; tetapi barangsiapa menghujat Roh Kudus, ia tidak akan diampuni."182 


Mengapa penghujatan terhadap Roh Kudus tidak terampuni? Bagaimana penghujatan ini dimengerti? St. Thomas Aquinas menjawab bahwa hal ini adalah berkenaan dengan sebuah dosa yang "sifatnya tak terampuni, karena dosa tersebut mengecualikan unsur-unsur yang membuat pengampunan dosa bisa dilakukan."183 


Menurut tafsir seperti itu, "penghujatan" tidak secara mutlak terdiri dari penghinaan terhadap Roh Kudus dengan kata-kata; namun [penghujatan] terdiri dari penolakan untuk menerima keselamatan yang ditawarkan Allah melalui manusia melalui Roh Kudus yang bekerja melalui kekuatan Salib. Bila manusia menolak "peyakinan mengenai dosa" yang datang dari Roh Kudus dan yang punya kekuatan untuk menyelamatkan, dia juga menolak "datangnya" sang Pembimbing-[dimana] "datangnya" [sang Pembimbing alias Roh Kudus] diselesaikan dengan Misteri Paskah, dalam kesatuan dengan kuasa penebusan Darah Kristus: darah yang "memurnikan hati nurani dari perbuatan-perbuatan yang mati." 


Kita tahu bahwa hasil dari pemurnian itu adalah pengampunan dosa-dosa. Karenanya, siapapun yang menolak Roh dan Darah akan tetap dalam "perbuatan-perbuatan mati," dalam dosa. Dan penghujatan terhadap Roh Kudus tepatnya terdiri atas penolakan radikal untuk menerima pengampunan ini, yang mana Dia [ie. Roh Kudus] adalah penganugrah intim dan yang mendahului pertobatan sesungguhnya yang Dia [ie. Roh Kudus] bawa didalam hati nurani. Kalau Yesus mengatakan bahwa penghujatan terhadap Roh Kudus tidak bisa diampuni di dunia ini atau di dunia yang akan datang, itu adalah karena "ketidak-ampunan" dihubungkan kepada "ketidak-bertobatan" sebagai penyebabnya, atau dengan kata lain penolakan radikal untuk dipertobatkan. Ini maksudnya penolakan untuk datang kepada sumber Penebusan, yang bagaimanapun tetap "selalu" terbuka dalam ekonomi keselamatan dimana misi Roh Kudus terselesaikan. Sang Roh mempunyai kuasa takterbatas yangbisa ditarik dari sumber-sumber ini: "Dia akan mengambil apa yang menjadi milikKu," kata Yesus. Dengan cara ini Dia [ie. Roh Kudus] membawa penyelesaian dalam jiwa-jiwa manusia karya Penebusan yang diselesaikan Kristus, dan menyebarkan buah-buah [karya Penebusan itu]. Sehingga penghujatan terhadap Roh Kudus adalah dosa yang dilakukan oleh orang yang mengklaim punya sebuah "hak" untuk tetap berada dalam kejahatan-disetiap dosa apapun juga-dan karenanya menolak Penebusan. Orang tersebut menutup dirinya dalam dosa, sehingga tidak memungkinkan bagi pertobatannya, dan konsekuensinya [juga tidak memungkinkan bagi] penghapusan dosa-dosa, yang oleh orang itu dianggap tidak esensial atau tidak penting dalam hidupnya. Ini adalah kondisi kehancuran spiritual, karena penghujatan terhadap Roh Kudus tidak membiarkan seseorang keluar dari pemenjaran yang dia lakukan sendiri dan tidak membiarkan seseorang terbuka terhadap sumber-sumber ilahi pemurnian hati nurani dan penhgapusan dosa.

 

Bunuh diri termasuk dosa besar. 

Dosa menghujat Roh Kudus adalah ketidakbertobatan sampai akhir. 

Orang yang bunuh diri bukan tidak mungkin bertobat sebelum dia mati. Bisa saja dia bertobat saat sekarat (ie. mendapat perfect contrition) atau biasa saja bunuh dirinya gagal sehingga dia hidup dan bisa bertobat. Jadi tidak bisa dikatakan bahwa bunuh diri adalah ketidakbertobatan sampai akhir. 

Kalau dia tidak sempat bertobat, tentu saja dia pasti masuk neraka. 



Tentu patut diingat bahwa sesuatu itu dosa berat tidak hanya karena materinya yang berat [grave] (bunuh diri adalah materi berat), tapi juga ada dua syarat yang harus dipenuhi, yaitu dilakukan dengan pengetahuan penuh dan kerelaan penuh (baca topik "
dosa berat dan dosa ringan"). Jadi kalau orang gila bunuh diri, maka bisa jadi dia tidak berdosa berat. 

Namun secara umum, orang yang bunuh diri pasti melakukan dosa berat dan pasti masuk neraka. 

Menjalani hidup sebagai korban selama hidupnya di dunia ini, dan jiwanya masih harus ke api abadi?


Coba balik bertanya pada diri sendiri, "apakah karena aku sudah menderita seumur hidupku maka itu memberiku hak untuk masuk surga? Apakah itu memberiku hak untuk tidak masuk neraka?" 


Topik "
menhadapi orang agnostik??" ini mungkin relevan. 






Mengenai interaksi Charity dan shmily, 


Baca 
Catholic Encyclopedia: Suicide 


Gereja mestinya, as far as I know, masih tidak memperkenankan orang yang mati karena bunuh diri untuk dimakamkan secara Katolik. Ini adalah sikap yang bijaksana mengingat kejahatan dari bunuh diri itu sendiri. 

Tentu ini tidak berarti bahwa orang seperti ini pasti masuk neraka (begitu pula orang yang mati dalam kondisi ter-anathema atau ter-ekskomunikasi, tidak selalu berarti bahwa mereka pasti masuk neraka).

agak jauh melenceng, tapi ada sedikit point yg menurut saya masih agak sedikit berhubungan dgn topik ini. 

Apakah kematian Yesus di kayu Salib, merupakan bentuk bunuh diri (bunuh diri pasif, yaitu membiarkan diri tdk melakukan usaha utk terhindar dari kematian) ? 
Bukankah menurut Catholic Encyclopedia mengatakan kalau : 
Suicide is the act of one who causes his own death, either by positively destroying his own life, as by inflicting on himself a mortal wound or injury, or by omitting to do what is necessary to escape death, as by refusing to leave a burning house. 

Perhatikan yg ditebalkan. By omitting to do what is necessary to escape death. 
Bukankah Yesus juga melakukan hal itu ? Bukankah Yesus juga membiarkan diri utk mati disalib ? 
Lantas bisakah dikatakan bahwa Yesus telah melakukan bunuh diri ?


Kalau melihat Injil maka yang dilakukan Yesus, sesuai dengan pengkategorian di 
Catholic Encyclopedia: Suicide adalah jenis "negative indirect suicide." 

Namun pemahaman negative indirect suicide ini harus benar-benar dipahami. Ini adalah sebuah pengkategorian tindakan yang berbeda dari pemahaman akan bunuh diri yang umum. 

Pemahaman umum "bunuh diri" adalah jenis "positive direct," dan Yesus tidak melakukan yang ini. 


But, to be clear Yesus tidak membunuh diriNya sendiri. Yang membunuh diriNya adalah orang lain. Dia membiarkan orang lain itu melakukan tindakan jahat tersebut (dimana para orang lain ini sebenarnya diberi rahmat yang cukup [sebagaimana semua umat manusia] untuk tidak melakukan perbuatan jahat). 


Summa Theologica: Whether Christ was slain by another or by Himself? 

Kemudian, 
jika ada kasus misalnya seorg pendaki gunung yg sedang dalam kondisi kritis, yaitu dalam satu tali bergelantungan 3 org. Kondisi ini tjd krn dlm misi penyelamatan. Namun sebelum misi ini selesai, tali itu mulai terlihat akan putus karena tidak mampu menahan bebean utk 3 org. Nah pada kasus ini, Apa yg harus dilakukan ketiga org tsb, jikalau usaha mengorbankan salah satu org guna mengurangi beban tali, tidak boleh dilakukan, krn tergolong bunuh diri ? 
Bukankah berdiam diam diri berarti bunuh diri juga?Krn membiarkan diri tdk melakukan usaha utk terhindar dari kematian. Perlu diingat tali itu pasti akan putus krn tdk bisa menahan beban 3 org. Jika berusaha memanjat, bukankah ini bunuh diri juga krn kita tau usaha tsb justru malah mempercepat kematian, krn membuat tali semakin cepat putus ? 

Terima kasih sebelumnya.


Seperti berbohong dan kontrasepsi, bunuh diri selalu merupakan dosa berat (
Summa Theologica, part II of book II, Question 64, article 5). Karena itu bunuh diri tidak pernah dibolehkan atas alasan apapun. 

Jadi kalau orang berpikir, "aku akan bunuh diriku supaya si X, Y, Z bisa selamat." maka dia berdosa karena menggunakan bunuh diri sebagai cara (means) untuk menyelamatkan seseorang. Tidak pernah boleh menggunakan cara (means) yang salah untuk tujuan akhir yang mulia (Katekismus 1753). 

Tapi kalau orang itu berpikir, "aku akan menjadikan tubuhku perisai supaya ledakan granat tidak mengenainya, meskipun aku bisa mati," lalu kemudian dia mati, maka orang ini mungkin tidak berdosa berat [dan juga mungkin berdosa berat]. 

Beda keduanya adalah, yang pertama menjadikan bunuh diri sebagai cara untuk mendapatkan tujuan akhir. Sementara yang kedua tidak. Menjadikan tubuh sebagai perisai ≠ bunuh diri (toh bisa saja dia tidak mati). 



Lalu kembali ke tiga pendaki gunung itu. 

Kalau salah satu berpikir, "aku akan bunuh diri supaya yang lain bisa selamat," maka orang ini telah berdosa besar dan pasti masuk neraka. Disini dia menggunakan cara yang dosa untuk mendapatkan hasil yang mulia. Itu salah. 

Namun kalau salah satu berpikir, "aku akan potong tali ini supaya yang lain bisa hidup" maka dia tidak berdosa. Karena cara yang dilakukan untuk mencapai tujuan mulia (keselamatan kawannya) bukanlah bunuh diri, tapi memotong talinya. Toh tindakan itu tidak selalu berakhir pada kematian. Apalagi kalau orang yang memotong tali ini sempat berdoa kepada Allah supaya menjaga jiwanya. Tidak hanya dia tidak berdosa, tapi dia telah melakukan kebajikan yang patut diberi ganjaran di surga. 


Harap kalian hati-hati dalam melihat perbedaannya.

Entah dia Islam, Katolik atau pagan, dia punya hati nurani yang seharusnya memberinya pengetahuan kebenaran kodrati dan rasa bersalah. Dalam hati nurani setiap manusia, entah apapun agamanya, Roh Kudus telah memberikan hukum-hukumNya. Tapi karena penghujatannya pada Roh Kudus, hati nuraninya tidak lagi terinspirasi oleh kehadiran Roh Kudus dan hukum-hukumNya. Akibatnya fatal, rasa penyesalannya atas perbuatan dosa hilang.


Ajaran Gereja dengan tingkat De Fide (yang berarti tidak bisa salah) mengajarkan bahwa sebatas kemampuan naturalnya saja (ie. tanpa rahmat) manusia tidak mampu tahu semua kebenaran moral yang ada dalam tatanan kodrati [ex. hukum natural yang ada dalam hati tiap manusia, Rom 2:15] (apalagi kebenaran supernatural seperti iman yang berada dalam tatanan adikodrati). Ini ada di Fundamentals of Catholic Dogma-nya Ludwig Ott. Sayangnya mata masih berat sehingga aku tidak mengecheck lagi untuk menulis dasar-dasar Kitab Suci dan Tradisinya. 

Jadi saya tetap berpendapat bahwa ini adalah contoh yang tepat bagaimana penghujatan pada Roh Kudus (entah bagaimana dia melakukannya) telah membuat manusia tidak lagi menyesali suatu perbuatan dosa. Dan dosa semacam itu tak terampuni sampai kekal.


Tidak diketahuinya apakah orang ini err in good faith atau memang obstinate in error membuat tidak bisanya disimpulkan bahwa dia menghujat Roh Kudus. Karena itu contohnya tidak tepat.

Hanya karena ajaran Islam (menurut tafsiran Imam Samudra) membenarkannya bukan berarti kejahatan yang dilakukannya bukan suatu dosa. Sama seperti ajaran Islam yang membenarkan adanya aborsi untuk kasus tertentu (seperti perkosaan) bagi janin berusia di bawah 40 hari sama sekali tidak berarti bahwa mereka yang melakukannya tidak berdosa. 


Masalahnya sebenarnya bukanlah apakah yang dia lakukan itu dosa atau tidak. Tapi apakah dosa yang dia lakukan itu adalah dosa menghujat Roh Kudus. 

Tidak semua dosa berat yang mengakibatkan hukuman neraka adalah dosa menghujat Roh Kudus. 

Selain itu tidak ada penjelasan spesifik seperti apa contoh penghujatan terhadap Roh Kudus itu. Oleh karenanya kita hanya bisa melihat dari buahnya: tidak adanya rasa penyesalah atas kejahatan yang dilakukannya (dalam kasus Imam Samudra yang begitu membenci 'orang kafir' dan 'agama kafir') adalah contoh terbaik dari akibat yang muncul atas penghujatan terhadap Roh Kudus.


Dia tidak menyesal karena dia tidak merasa itu dosa. Dia merasa bahwa dia melakukan apa yang diperintahkan Allahnya. 

Orang yang berdosa terhadap Roh Kudus tahu kalau dia berdosa, tapi tidak bertobat. 






Note: aku edit secara substansial replyku kepada nowoahmad2 di halaman 2 tentang apakah Yesus melakukan bunuh diri.

Disini saya cuma mau menegaskan bahwa dalam hati nurani setiap manusia, apapun orientasi kepercayaannya, ada hukum-hukum kodrati yang membuatnya tahu dan seharusnya merasa bersalah atas suatu kejahatan yang dilakukannya. Meski ini kadarnya tentu berbeda-beda untuk setiap orang.


Hukum kodrati itu tidak mampu membuat orang beriman, dimana iman adalah pengetahuan akan Allah yang benar plus segala yang diwahyukanNya (what the Church teaches). Rahmat mutlak perlu. 


Janganlah dalam rangka menunjukkan betapa bobroknya Islam lalu berpaling kepada ajaran semi-pelagianisme/pelagianisme. Islam sendiri sangat Pelagian. 

Dari mana anda tahu kalau di dalam lubuk hatinya yang terdalam Imam Samudra tidak tahu dirinya 'berdosa'?


Dan kamu tahu? Apakah kamu berangkat dari asumsi Pelagian diatas lalu menyimpulkan bahwa Imam samudra tahu? 

And that is why contoh Imam samudra tidak tepat. 


Menurutku sih, melihat apa yang dikatakan dan dilakukan dia, pembenaran-pembenarannya atas tindakannya, dia tidak tahu. Orang yang sangat miitan biasanya begitu terbutakan oleh kekeliruannya sehinga dia tidak tahu itu keliru. Ini adalah pendapatku yang fallible.

Tapi apa yang terjadi pada Imam Samudra sungguh berbeda, dia sungguh-sungguh dengan kesadaran penuh menutup kemungkinan untuk menyesal dan bertobat. Saya kira kesadaran yang begitu teguh dan radikal semacam ini merupakan buah dari penghujatan terhadap Roh Kudus (entah bagaimana dia melakukannya).


Tapi ada juga kemungkinan lain bahwa kejadian hukuman mati belum menimpa dirinya sehingga ia masih berani bilang begitu. 

Akan lain situasinya bila hukuman mati sudah di-exec, dan pada detik-detik terakhir hidupnya, rahmat Tuhan datang lalu membuat dia tiba-tiba berbisik, "Tuhan Yesus ampunilah aku..." lalu Dor ! Dor ! 

Kesadaran yang radikal untuk menolak segala bentuk penyesalan inilah yang saya lihat sebagai contoh dari buah yang muncul akibat penghujatan terhadap Roh Kudus.


Ya, pada saat ia masih hidup. 

Akan lain situasinya bila hidup seseorang akan berakhir dalam beberapa detik lagi.

Kalau kamu terus berada dalam ketidakbertobatan itu, maka pastilah, 100%, abosulut, tidak dapat ditawar lagi, kamu akan masuk neraka dengan segala siksanya disana untuk selama-lamanya

Itulah pilihanmu yang "
mengklaim punya sebuah 'hak' untuk tetap berada dalam kejahatan" sehingga atas pilihan itu kamu "menutup dirinya dalam dosa, sehingga tidak memungkinkan bagi pertobatannya.






Oh, dan mungkin untuk menenangkan dirimu sendiri kamu akan mencoba berkonsultasi dengan Romo modernist yang menganggap bahwa konmtrasepsi itu bukan dosa (di luar negeri banyak, di Indonesia juga pasti banyak sekali). si Romo modernist dengan mentalitas "Allah=kasih sehingga semuanya ok-ok saja pokoknya kasih" akan menenangkan kamu dan menentramkan kekhawatiranmu. 

Well, Romo seperti itu adalah seorang gembala buta yang menuntun orang yang buta. Dia dan orang yang dituntunnya akan masuk ke jurang api abadi (Mat 15:14): 

CASTI CONNUBII (On Christian Marriage) 
Pope Pius XI
 

56. ... [T]he Catholic Church ... standing erect in the midst of the moral ruin which surrounds her, in order that she may preserve the chastity of the nuptial union from being defiled by this foul stain, raises her voice ... through Our mouth proclaims anew: any use whatsoever of matrimony exercised in such a way that the act is deliberately frustrated in its natural power to generate life is an offense against the law of God and of nature, and those who indulge in such are branded with the guilt of a grave sin

57. We admonish, therefore, priests who hear confessions and others who have the care of souls, in virtue of Our supreme authority and in Our solicitude for the salvation of souls, not to allow the faithful entrusted to them to err regarding this most grave law of God; much more, that they keep themselves immune from such false opinions, in no way conniving in them. If any confessor or pastor of souls, which may God forbid, lead the faithful entrusted to him into these errors or should at least confirm them by approval or by guilty silence, let him be mindful of the fact that he must render a strict account to God, the Supreme Judge, for the betrayal of his sacred trust, and let him take to himself the words of Christ: "They are blind and leaders of the blind: and if the blind lead the blind, both fall into the pit.[46]
 



CASTI CONNUBII (Mengenai Perkawinan Kristen) 
Paus Pius XI 

56. ... Gereja Katolik ... berdiri tegak ditengah-tengah kehancuran moral yang mengelilinginya supaya dapat menjaga kemurnian dari kesatuan perkawinan yang sedang dilecehkan oleh noda jijik tersebut [ie. mentalitas kontraseptif], mengumandangkan suara ... melalui mulut kami memproklamirkan: penggunaan apapun dari perkawinan yang dilakukan sedemikian rupa sehingga tindakan perkawinan tersebut secara sengaja menghilangkan kemampuannya untuk menghasilkan kehidupan adalah pelanggaran melawan hukum Allah dan kodrat, dan mereka yang melakukan hal ini terkena dosa besar

57. Karenanya Kami mengingatkan pada imam-imam yang mendengarkan pengakuan-pengakuan dosa dan pihak-pihak yang [dipercayai] untuk menjaga jiwa-jiwa, atas otoritas tertinggi Kami dan dalam penugasan Kami bagi keselamatan jiwa-jiwa, untuk tidak membiarkan umat beriman yang dipercayakan kepada mereka untuk [jatuh] pada kesalahan mengenai hukum ilahi Allah yang berat ini [ie. larangan berkontrasepsi]; terlebih lagi, mereka [ie. para imam] harus menjaga diri supaya bebas dari pendapat-pendapat keliru dan tidak membiarkan kesalahan [dilakukan oleh para umat beriman]. Jika ada bapa pengakuan atau Pastor, semoga Alah tidak mengijinkan, yang menuntun umat yang dipercayakan kepadanya menuju ke kesalahan ini atau membenarkan kesalahan tersebut dengan menyetujuinya atau mendiamkan, biarlah si bapa pengakuan dan si pastor ingat bahwa dia bertanggungjawab kepada Allah, sang Hakim Agung, atas pengkhianatan kepercayaanNya. Dan biarlah mereka mengingat perkataan Kristus "Mereka orang buta yang menuntun orang buta. Jika orang buta menuntun orang buta pasti keduanya jatuh kedalam lubang."[46]

 

Member rudi_a, kamu berjalan di tempat. 


Postinganmu yang terakhir hanyalah me-recylce hal-hal sebelumnya. 



Aku sudah mempresentasikan secara sederhana dan gamblang apa yang menjadi akar permasalahanmu. Aku akan ulangi. 

1. Tidak mampu melakukan perintah Allah dengan alasan "susah." 
2. Merasa apa yang dosa tidak dosa.




Now, bukannya kamu menghadapinya dan mengkonfrontasi dirimu dengan masalah ini kamu malahan mengulang lagi dengan contoh-contoh yang sama ("tuing-tuing" itu hanyalah recycle dari point 2). 



Dan yang amat sangat mengganggu adalah kamu malahan terus ngobrol mengenai segala pemikiranmu yang decadence


Forum ini tidak akan menjadi tempat bagi syiar cara pikirmu itu. 


You have a problem [tho you think you don't], deal with it. 



Selanjutnya kamu dilarang melakukan syiar tersebut. Post yang seperti itu akan dihapus. 


Post-mu yang berikutnya sebaiknya berisi a real progress mengatasi masalahmu. 



PS 
Salah satu dari banyaknya individu-individu aneh yang muncul di internet adalah individu yang mendapatkan kenikmatan dari melakukan syiar pemikirannya (whether pemikiran itu adalah real, atau hasil imajinasinya). 

Moderator ekaristi.org cukup berpengalaman terhadap individu-individu aneh di internet dan akan mengambil langkah sepatutnya.

api selama dia tidak menutup sama sekali kemungkinan pertobatan maka ini belum sampai pada taraf menghujat Roh Kudus. Untuk orang tersebut Roh Kudus masih memberi kesempatan untuk mencurahkan rahmat pertobatan pada waktu yang tepat, jadi bukannya tak terampuni.


Orang-orang seperti diatas berharap Allah akan memaklumi "keterpaksaan" mereka sambil mereka terus melakukan per buatan itu. Ketika seseorang tahu perbuatannya dosa tapi tidak punya niat untuk tidak melakukannya dan memang tetap dia lakukan (bukannya punya niat tapi gagal sehingga perbuatan itu terlakukan lagi dan lagi), maka dia menghujat Roh Kudus. 

Jadi berdasarkan Catholic Encyclopedia, berarti Yesus melakukan bunuh diri dong ? (yaitu dgn cara: negative indirect suicide)


Ya. Menurut definisinya CE, bukan menurut pemahaman umum. 

Yang membunuh Yesus adalah orang lain. 

Berarti Yesus melakukan dosa (dosa berat) dong, karena telah melakukan bunuh diri ?


Tidak. Karena definisi CE atas bunuh diri lebih luas dari definisi umum bunuh diri yang sempit dimana dalam definisi itu CE sendiri mengakui bahwa itu bukan dosa. 

Jadi meskipun Yesus tidak melakukan bunuh diri secara aktif (positif direct), tapi Yesus tetap dinyatakan melakukan bunuh diri, karena tindakan Yesus yang membiarkan diri tidak melakukan usaha utk terhindar dari kematian, menurut Catholic Encyclopedia, tetap tergolong bunuh diri (yaitu:by omitting to do what is necessary to escape death (negative indirect suicide)).


Tentunya yang dilakukan Yesus sama dengan yang dilakukan para polisi, pemadam kebakaran, pekerja tambang, misionaris (or pendakwah bagi Islam) di daerah barbar, dokter di karantina orang berpenyakit menular etc etc. 

Kalau Yesus mau dimasukkan kedalam suatu definisi bunuh diri sebagaimana di CE, maka orang-orang itu juga. Apakah mereka melakukan dosa berat? No. 


Masalahnya adalah pendefinisian CE yang terlalu luas. 

Yesus memang tidak melakukan jenis "positive direct suicide'', tapi Dia (Yesus) tetap telah melakukan bunuh diri, karena melakukan negative indirect suicide (by omitting to do what is necessary to escape death), yg juga tergolong dalam definisi/kriteria Suicide (bunuh diri) menurut Catholic Encyclopedia, ya kan ? 

Bagaimana nih penjelasannya ? Masa Yesus melakukan dosa (dosa besar) yaitu melakukan bunuh diri (negative indirect suicide) sih ? 

Thx 
Salam


Katakan saja bahwa Yesus "bunuh diri" dalam arti seorang polisi, pemadam kebakaran, dokter, pendakwah etc juga bunuh diri. 


Masalahnya di definisinya. 


Jangan terlalu dipikirkan.

alu Mengapa Katolik (Paus Benediktus XVI) melarang segala bentuk Euthanasia ? 
Bukankah ada bentuk Euthanasia yg termasuk jenis negative indirect suicide ? Jikalau negative indirect suicide bukan suatu dosa, lantas kenapa semua bentuk Euthanasia, termasuk Euthanasia jenis negative indirect, dilarang ? 

Contoh Euthanasia jenis Indirect Suicide, Misalnya tidak meneruskan pengobatan (dgn berbagai alasan, spt mahalnya obat, efektifitas obat yg tidak menyembuhkan, dll), dan berdiam diri saja, hingga lama kelamaan penyakit membunuhnya.



Aku yakin sekali bahwa presepsimu tentang "segala bentuk Euthanasia" berbeda dengan presepsi Paus Benediktus XVI. 

Tentang tidak meneruskan pengobatan dengan alasan mahalnya obat atau efektifitas tindakan medis meragukan itu sudah dibahas di Katekismus Gereja Katolik 

2278 Menghentikan tindakan medis yang luarbiasa atau yang mahal dan berbahaya yang tidak setimpal dengan hasil yang diharapkan, dapat dibenarkan. Dengan itu orang tidak ingin menyebabkan kematian, tetapi hanya menerimanya karena tidak dapat menghindarinya. Keputusan harus dilakukan oleh pasien sendiri, kalau ia dapat dan mampu untuk itu, atau kalau tidak, oleh orang yang diberi kuasa secara hukum, di mana selalu dihormati keinginan wajar dan kepentingan benar dari pasien. 
2279 Meskipun nyatanya kematian sudah dekat, perawatan yang biasanya diberikan kepada orang sakit, tidak boleh dihentikan. Memakai cara untuk mengurangkan rasa sakit, untuk meringankan penderitaan orang yang sakit payah, malahan dengan bahaya memperpendek kehidupan secara moral dapat dipandang sesuai dengan martabat manusia, kalau kematian tidak dikehendaki sebagai tujuan atau sebagai sarana, tetapi hanya diterima dan ditolerir sebagai sesuatu yang tidak dapat dihindarkan.Perawatan orang yang menghadapi ajalnya adalah satu bentuk cinta kasih tanpa pamrih yang patut dicontoh. Karena alasan ini, maka perawatan itu harus digalakkan. 



Jadi posisi Katolik adalah seperti itu

Ketika seseorang tahu perbuatannya dosa tapi tidak punya niat untuk tidak melakukannya dan memang tetap dia lakukan (bukannya punya niat tapi gagal sehingga perbuatan itu terlakukan lagi dan lagi), maka dia menghujat Roh Kudus.



jadi, apakah dosa 'seseorang itu' tak akan diampuni??


Ya kalau dia terus begitu sampai mati.

Haydock penjelasannya sbb :

Ver. 2. Thy sins are forgiven thee. We do not find that the sick man asked this; but it was the much greater benefit, and which every one ought to prefer before the health of the body. Wi. — He says this, because he wished to declare the cause of the disease, and to remove it, before he removed the disease itself. He might also desire to shew the paralytic, what he ought to have prayed for in the first place. M. — The sick man begs for corporal health, but Christ first restores to him the health of his soul, for two reasons: 1st. That be might insinuate to the beholders, that the principal intent of his coming into the world was to cure the evils of the soul, and to let them know that the spiritual cure ought most to be desired and petitioned for. Corporal infirmities, as we learn in many places of the sacred text, are only the consequences of the sins of the patient. In S. John (ch. iii.), Christ bids the man whom he had healed, to sin no more, lest something worse should befall him; and S. Paul says, that many of the Corinthians were afflicted with various diseases, and with death, on account of their unworthily receiving the body of the Lord. A second reason why Christ forgave the sick man his sins, was, that he might take occasion from the murmurs of the Pharisees, to speak more plainly of his power and divinity, which he proved not only by restoring the man instantaneously to health, but by another miracle equally great and conclusive, which consisted in seeing the thoughts they had never expressed; for the evangelist observes, that they murmured in their hearts. He afterwards cures the sick man to shew, says he, that the Son of man has power to forgive sins.

Jansen. — We may here observe likewise, that when Christ afterwards gave his apostles their mission, and empowered them to preach to the whole world, he communicates this same power to them, and seems to refer to the miracles which he had wrought, to prove that he himself had the power which he gave to them. All power, says he, is given to me in heaven and on earth. As the Father sent me, so I send you. . . . Whose sins you shall forgive, they are forgiven. A. — Seeing their faith. It does not follow from hence, as Calvin would have it, that faith alone will save us. For S. Chrysos. says, "Faith indeed is a great and salutary thing, and without it there is no gaining salvation." But this will not of itself suffice without good works; for S. Paul admonishes us, who have made ourselves deserving a participation of the mysteries of Christ, thus, (Heb. c. iv.) "Let us hasten, therefore, to enter into that rest." He tells us to hasten, that is, faith alone will not suffice, but we must also strive all our life by good works to render ourselves worthy to enter the kingdom of heaven: for if those Israelites, who murmured and would not bear the calamities of the desert, were not, on that account, permitted to enter the land of promise, how can we think ourselves worthy of the kingdom of heaven, (figured by the land of promise) if we will not in this world undergo the labours of good works. S. Chrysos. — From hence S. Ambrose concludes, that our Saviour is moved to grant our petitions through the invocation of saints, as he even forgave this man his sins through the faith of those that brought him. Of how much greater efficacy then will not the prayers of the saints be?

Barardius. — Christ does not always require faith in the sick who desire to be cured, but seems to have dispensed with it on many occasions; for example, in the cases of those he cured possessed by the devil. S. Chrys. — Son, &c. O the wonderful humility of the God-man! Jesus looks with complacence on this miserable wretch, whom the Jewish priests disdain to look upon, and in the midst of all his miseries calls him his son. S. Tho. Aquin. —

They had read what Isaias had said: I am, I am he who destroyeth thy sins: ego sum, ego sum ipse, qui deleo iniquitates tuas, xliii. 25.: but they had not read, or, at least they had not understood what the same prophet says,

liii. 6. The Lord hath heaped upon him the iniquity of us all: posuit Dominus in eo iniquitatem omnium nostrum. Nor had they remembered the testimony of the Baptist: behold the Lamb of God, behold him who taketh away the sins of the world. John i. 29. Mald.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar