Mengasihi Sesama

Mengasihi Sesama
Ibu Theresa dari Calcuta

Sabtu, 04 September 2021

CATATAN TAMBAHAN MENGENAI GEREJA oleh DeusVult

 sumber dari ekaristi.org

Matthew 16:18

18* And I tell you, you are Peter [Kephas], * and on this rock [Kephas]* I will build my church, and the powers of death * shall not prevail against it.


Matius 16:18

18 Dan aku berkata kepada, engkaulah Petrus [Kefas], dan diatas batu karang [kefas] ini Aku akan mendirikan gerejaKu, dan gerbang maut tidak akan menguasainya



Catatan:

Pertama-tama, nama "Petrus" itu sebenarnya tidak ada. Nama yang diberikan Yesus kepada Simon anak Yohanes adalah "Kefas" bukan "Petrus." Kata "Petrus" adalah terjemahan Yunani dari kata Aramaik "Kefas." Nah, dalam bahasa Aramaik yang digunakan Yesus, baik "Petrus" maupun "batu karang" sama-sama disebut "Kefas." Jadi dalam bahasa Aramaik, Yesus sebenarnya berkata, "engkaulah Kefas dan diatas kefas ini Aku akan mendirikan gerejaKu."

Kedua, kata "gereja" di ayat tersebut DIGANTI oleh penerjemah Alkitab Indonesia menjadi "jemaat." Padahal kata asli di manuskrip Kitab Suci bahasa Yunani adalah "ekklesia." Kata "gereja" merupakan kata serapan dari kata bahasa Portugis "iggreja" dimana kata Portugis ini sendiri adalah serapan dari kata Yunani "ekklesia." Jadi seharusnya terjemahan yang benar di Mat 16:18 adalah "gerejaKu" bukannya "jemaatku." Alkitab-Alkitab berbahasa Inggris, Spanyol, Jerman, Italia, Perancis, Portugis dll juga menerjemahkan kata tersebut "gereja" bukannya "jemaat."

 

Ya lihat sejarah toh.

Misalnya, ada Bukti dari para Bapa Gereja sebelum abad ke IV yang mengimani Yesus sebagai Allah dan bukti dari sejarahwan non-Kristen sebelum abad ke IV yang menuliskan bahwa umat Kristen selalu menganggap Yesus sebagai Allah. Bukti semacam ini jelas menunjukkan kesalahan agama-agama yang mengakui Yesus sebagai nabi tapi menolak ke-ilahi-anNya, seperti agama Islam, Ahmadiyah, Saksi Yehuwa, Mormon dll.

Sementara bukti bahwa Protestant salah adalah sebagai berikut:

Semua agama di dunia saling bertentangan dalam hal-hal yang fundamental (meskipun ada kesamaannya). Sehingga tidak mungkin bahwa Allah yang satu yang tidak bisa bohong dan berkontradiksi itu mewahyukan semua agama-agama. Tidak mungkin Allah bilang "lakukan A" kepada yang satu, kemudian bilang "jangan lakukan A" kepada yang lain. Sehingga dari semua agama di dunia, haruslah ada satu yang benar. Tidak bisa semuanya.

Bagaimana tahu bahwa agama Katolik itu benar? Well let's look at the fact... historical fact, that is... mari lihat fakta historis.

Seperti yang selalu aku tegaskan jaman Perjanjian Baru itu sudah masuk jaman sejarah. Maksudnya apa? Maksudnya sudah ada tulisan-tulisan yang mencatat peristiwa yang terjadi saat itu (bandingkan dengan jaman pra-sejarah dimana yang kita dapatkan hanyalah fosil atau barang-barang antik, bukannya tulisan sansekerta atau lainnya).

Alkitab adalah salah satu catatan sejarah jaman Perjanjian Baru. Lalu adakah catatan sejarah lain diluar Alkitab? BANYAK SEKALI!! Umat Kristen jaman Perjanjian Baru sampai ratusan tahun sesudahnya bukanlah umat bodoh yang gak bisa membaca dan menulis.

Kita memiliki tulisan-tulisan dari para umat Kristen kuno. Dari tulisannya murid Rasul Yohanes (Ignatius dari Antiokia dan Polycarpus), sampai tulisannya Paus Clement (memerintah sebagai Paus di Roma saat rasul Yohanes masih hidup. Ada Bapa Gereja seperti Justin Martyr, St. Irenaeus, St. Cyprian, St. Athanasius dll.

Dan tahukah kamu isi dari tulisan-tulisan umat Kristen yang hidup saat rasul masih hidup dan beberapa puluh tahun sesudahnya? Tentu saja mereka berkesaksian akan iman Katolik BUKAN YANG PROTESTANT!

Sebagai contoh St Ignatius dari Antioka menulis mengenai:

1. Keallahan Yesus

2. Otoritas Gereja Roma

3. Sakramen Pengakuan

4. Peran penting Uskup

6. Kehadiran Kristus di Ekaristi

7. dll

Kamu bisa membaca kecocokan iman para umat Kristen awal ini dengan iman Katolik di situs seperti scripturecatholic.com, di catholic.com (klik link-link di bawah tulisan "LIBRARY" di bagian kanan atas dibawah foto Maria dan kanak-kanak Yesus)

Kamu tahu Konsili Ekumenis Nicea pertama (325AD) yang dengan Konsili ekumenis Contantinople pertama (381AD) menghasilkan syahadat "Aku Percaya" itu? Tahukah kamu bahwa yang menghadiri konsili itu adalah USKUP-USKUP KATOLIK?? Tahukah kamu bahwa catatan daftar hadir para Uskup itu masih ada sampai sekarang ini (arsipnya, bukan yang asli)?? Mana ada pendeta Protestant. Semuanya adalah Uskup dari keuskupan-keuskupan Gereja Katolik yang dulunya telah ditahbis dengan sakramen imamat sebagaimana sakramen imamat sekarang ini.

Dan Protestant..... Protestant itu baru ada pada abad ke 16!!! Padahal YESUS SENDIRI MATI PADA TAHUN 33 AD (MASEHI). Jadi Protestant baru ada 15 abad setelah Yesus mati. Jadi tidak mungkin Protestant adalah successor (penerus) dari pengikut Kristus.

Karena kamu awam mungkin kamu akan berargumen bahwa Protestant mungkin memang benar pengikut Kristus dengan berkata, "yah, mungkin pengikut Kristus dulu ada, tapi kemudian semakin korup dan umat sejati punah semua. Sehingga harus ada bibit baru yang berbuah baru. Buah segar yang tersucikan."

Let me tell you, argumen seperti itu tidak pernah diimani semua umat Kristen, termasuk Protestant (kecuali Mormon, namun toh Mormon bukan Kristen). Adalah ajaran Kristen bahwa Gereja yang didirikan Allah (Mat 16:18, kata "jemaat" berasal dari kata "ecclesia" yang seharusnya diterjemahkan "Gereja" tapi Alkitab Indonesia dipengaruhi Protestant sehingga diterjemahkan "jemaat") tidak akan pernah punah karena janji Yesus untuk selalu menyertai (Mat 28:20).

Pada akhirnya aku akan kutipkan kepada kamu akta dari Konsili Ekumenis Nicea yang kedua yang diadakan para umat Kristen pada tahun 787 AD yang jelas-jelas menolak prinsip Sola Scriptura yang diagung-agungkan Protestant itu:

THE SECOND ECUMENICAL COUNCIL OF NICAEA (787 AD)

EXTRACTS FROM THE ACTS.

SESSION I.

(Labbe and Cossart, Concilia, Tom. VII., col. 53.)

[Certain bishops who had been led astray by the Iconoclasts came, asking to be received back. The first of these was Basil of Ancyra.]

Anathema to those who spurn the teachings of the holy Fathers and the tradition of the Catholic Church, taking as a pretext and making their own the arguments of Arius, Nestorius, Eutyches, and Dioscorus, that unless we were evidently taught by the Old and New Testaments, we should not follow the teachings of the holy Fathers and of the holy Ecumenical Synods, and the tradition of the Catholic Church.

KONSILI EKUMENIS NICAEA YANG KEDUA (787 AD)

EKSTRAK DARI AKTA.

SESSI I.

(Labbe dan Cossart, Concilia, Tom. VII., col. 53.)

[Beberapa uskup yang telah disesatkan oleh para Ikonoklas datang [dan] meminta untuk diterima kembali [kedalam kesatuan Katolik]. Yang pertama dari mereka adalah Basil dari Ancyra.]

Anathema kepada mereka yang menolak dengan hina ajaran-ajaran para Bapa kudus dan tradisi Gereja Katolik, [dengan] menggunakan sebagai sebuah pretext dan mengambil bagi diri mereka sendiri argumen dari Arius, Nestorius, Eutyches, dan Dioscorus, bahwa kecuali kita secara terbukti diajarkan oleh [Kitab] Perjanjian Lama dan Baru, kita sepatutnya tidak mengikuti ajaran-ajaran para Bapa kudus dan [ajaran] Synode Ekumenis kudus [ie. Konsili-Konsili Ekumenis], dan tradisi Gereja Katolik.

Belajarlah sejarah.

Seperti kata John Henry Cardinal Newman, seorang imam Anglican yang menjadi Katolik karena risetnya terhadap sejarah Gereja, "to be deep in history, is to ceased to be a Protestant.


Dasar kami adalah sebagai berikut:

Pope Pelagius II (A.D. 578 – 590):

"Consider the fact that whoever has not been in the peace and unity of the Church cannot have the Lord. ...Although given over to flames and fires, they burn, or, thrown to wild beasts, they lay down their lives, there will not be (for them) that crown of faith but the punishment of faithlessness. ...Such a one can be slain, he cannot be crowned....[If] slain outside the Church, he cannot attain the rewards of the Church." (Denzinger 246-247)

"Mempertimbangkan fakta bahwa siapapun yang tidak berada dalam damai dan kesatuan dengan Gereja tidak bisa mendapatkan Tuhan... Meskipun dilemparkan dalam api membara yang membakar mereka, atau dilemparkan ke binatang buas, mereka menyerahkan nyawa [pada binatang buas tersebut], tidak akan ada mahkota Iman (bagi mereka ini), tapi hanya ada penghukuman atas ke-tak-ber-iman-an... Begitu pula seseorang bisa terbantai tapi dia tidak bisa mendapatkan mahkota ... [Bila] dia dibantai diluar Gereja, dia tidak dapat mendapatkan hadiah dari Gereja.


Pope Saint Gregory the Great (A.D. 590 – 604):

"Now the holy Church universal proclaims that God cannot be truly worshipped saving within herself, asserting that all they that are without her shall never be saved." (Moralia)

"Sekarang Gereja Kudus universal menyatakan bahwa Allah tidak bisa disembah dengan layak tanpa berada dalam dirinya (nya = Gereja), bahwa mereka yang berada tanpa dia (dia = Gereja) tidak akan pernah selamat

Pope Innocent III (A.D. 1198 – 1216):

"With our hearts we believe and with our lips we confess but one Church, not that of the heretics, but the Holy Roman Catholic and Apostolic Church, outside which we believe that no one is saved." (Denzinger 423)

"Dengan hati kita, kita percaya dan dengan bibir kita, kita mengaku akan satu Gereja bukan yang berasal dari penganut ajaran sesat, tapi Gereja Katolik Roma yang Kudus dan Apostolik, yang diluarnya (nya = Gereja) kita percaya bahwa tidak ada satupun yang selamat"


Pope Innocent III and Lateran Council IV (A.D. 1215):

"One indeed is the universal Church of the faithful outside which no one at all is saved..."

"Inilah satu-satunya Gereja universal dari semua umat, yang diluarnya tidak ada satupun yang selamat..."

Pope Boniface VIII in his Papal Bull Unam Sanctam (A.D. 1302):

"We declare, say, define, and pronounce that it is absolutely necessary for the salvation of every human creature to be subject to the Roman Pontiff."

"Kami mendeklarasikan, mengatakan, mendefinisikan dan mengumumkan bahwa sangatlah perlu sekali bagi keselamatan seluruh umat manusia untuk menjadi subyek dari Paus Roma."

Pope Eugene IV and the Ecumenical Council of Florence (A.D. 1438 – 1445):

"[The Holy Roman Church] firmly believes, professes, and proclaims that those not living within the Catholic Church, not only pagans, but also Jews and heretics and schismatics cannot become participants in eternal life, but will depart `into everlasting fire which was prepared for the devil and his angels' (Matt. 25:41), unless before the end of life the same have been added to the flock; and that the unity of the ecclesiastical body is so strong that only to those remaining in it are the sacraments of the Church of benefit for salvation, and do fastings, almsgiving, and other functions of piety and exercises of Christian service produce eternal reward, and that no one, whatever almsgiving he has practiced, even if he has shed blood for the name of Christ, can be saved, unless he has remained in the bosom and unity of the Catholic Church."

"Gereja Roma yang Kudus benar-benar mempercayai, meyakini dan menyatakan bahwa mereka yang tidak hidup dalam Gereja Katolik, tidak hanya pagan, tapi juga penganut Yudaisme, bidat dan skismatik tidak bisa menjadi pengikut serta dalam kehidupan kekal, tapi akan pergi 'ke dalam api yang kekal yang telah sedia untuk Iblis dan malaikat-malaikatnya' (Mat 25:41), kecuali sebelum akhir hidupnya mereka ditambahkan ke kumpulan domba; dan kesatuan dari tubuh Gereja begitu kuatnya sehingga hanya kepada mereka yang berada didalam kesatuan tersebut sakramen Gereja berdaya untuk keselamatan. Dan [hanya didalam Gerejalah] puasa, derma dan fungsi kebaikan kristen lain bisa memberikan hadiah, dan bahwa tidak seorangpun, apapun derma yang dia lakukan, bahkan bila dia telah menumpahkan darah untuk nama Kristus, bisa diselamatkan, kecuali dia berada didalam pelukan dan kesatuan dari Gereja Katolik."


Pope Leo XII (A.D. 1823 – 1829):

"We profess that there is no salvation outside the Church. ...For the Church is the pillar and ground of the truth. With reference to those words Augustine says: `If any man be outside the Church he will be excluded from the number of sons, and will not have God for Father since he has not the Church for mother.'" (Encyclical, Ubi Primum)

"Kita meyakini bahwa tidak ada keselamatan diluar Gereja. ... Karena Gereja adalah tiang penopang dan dasar kebenaran. Dengan merujuk ke kata-kata tersebut Agustinus berkata: 'Jika seorang berada diluar Gereja dia akan dikucilkan dari para putra, dan tidak akan mempunyai Allah sebagai Bapa karena dia tidak mempunyai Gereja sebagai ibu

Pope Gregory XVI (A.D. 1831 – 1846):

"It is not possible to worship God truly except in Her; all who are outside Her will not be saved." (Encyclical, Summo Jugiter)

"Tidaklah mungkin untuk menyembah Tuhan secara benar kecuali didalamnya (nya = Gereja);semua yang berada di luarnya (nya = Gereja) tidak akan selamat."

Pope Pius IX (A.D. 1846 – 1878):

"It must be held by faith that outside the Apostolic Roman Church, no one can be saved; that this is the only ark of salvation; that he who shall not have entered therein will perish in the flood." (Denzinger 1647)

"Ini haruslah diyakini sebagi Iman bahwa diluar Gereja Roma yang Apostolik, tidak ada yang bisa selamat; [Gereja] ini adalah satu-satunya bahtera keselamatan; dia yang tidak masuk didalamnya (nya = bahtera = gereja) akan musnah dalam banjir."

Pope Leo XIII (A.D. 1878 – 1903):

"This is our last lesson to you; receive it, engrave it in your minds, all of you: by God's commandment salvation is to be found nowhere but in the Church." (Encyclical, Annum Ingressi Sumus)

"Ini adalah ajaran terakhir kami bagi kamu; terimalah, torehkanlah di pikiran kamu, kamu semuanya; Berdasarkan perintah Allah, keselamatan tidak bisa ditemukan dimanapun kecuali didalam Gereja."

Pope Saint Pius X (A.D. 1903 – 1914):

"It is our duty to recall to everyone great and small, as the Holy Pontiff Gregory did in ages past,the absolute necessity which is ours, to have recourse to this Church to effect our eternal salvation." (Encyclical, Jucunda Sane)

"Adalah tugas kita untuk mengingatkan pada semua orang, besar dan kecil, seperti yang dilakukan Paus suci Gregory di jaman terdahulu, kepentingan absolut yang ada pada kita, untuk memasrahkan pada Gereja ini, keselamatan abadi kita."

Pope Benedict XV (A.D. 1914 – 1922):

"Such is the nature of the Catholic faith that it does not admit of more or less, but must be held as a whole, or as a whole rejected: This is the Catholic faith, which unless a man believe faithfully and firmly, he cannot be saved." (Encyclical, Ad Beatissimi Apostolorum)

"Begitulah sifat dari iman Katolik bahwa [iman ini] tidak hanya mengakui lebih atau kurang, tapi harus diyakini secara penuh atau secara penuh ditolak: Ini adalah iman Katolik, yang kalau seseorang tidak mempercayai dengan iman dan tegas, dia tidak bisa diselamatkan."

Pope Pius XI (A.D. 1922 – 1939):

"The Catholic Church alone is keeping the true worship. This is the font of truth, this is the house of faith, this is the temple of God; if any man enter not here, or if any man go forth from it, he is a stranger to the hope of life and salvation. ...Furthermore, in this one Church of Christ, no man can be or remain who does not accept, recognize and obey the authority and supremacy of Peter and his legitimate successors." (Encyclical, Mortalium Animos)

"Hanya Gereja Katoliklah yang mempunyai penyembahan yang sejati. Inilah wadah kebenaran, inilah rumah iman, inilah kuil Allah; Bila ada orang yang masuk tidak disini, atau bila ada orang yang keluar darinya, dia akan menjadi asing terhadap hidup dan keselamatan. ... Lebih lanjut, didalam satu-satunya Gereja Kristus ini, tidak ada orang yang bisa berada didalamnya tanpa menerima, mengakui dan mematuhi otoritas dan supremasi dari Petrus dan penerusnya yang sah."

Pope Pius XII (A.D. 1939 – 1958):

"By divine mandate the interpreter and guardian of the Scriptures, and the depository of Sacred Tradition living within her, the Church alone is the entrance to salvation: She alone, by herself, and under the protection and guidance of the Holy Spirit, is the source of truth." (Allocution to the Gregorian, October 17, 1953)

"Atas mandat Ilahi penafsir dan penjaga Kitab Suci, dan penyimpan Tradisi Suci yang hidup didalamnya (nya = Gereja), hanya Gerejalah pintu masuk keselamatan: Hanya dialah (dia = Gereja), oleh dirinya (nya = Gereja) sendiri, dan dibawah perlindungan dan tuntunan Roh Kudus, adalah sumber kebenaran."


Pope John XXIII (A.D. 1958 – 1963)

"How beautiful is the Church of Christ, the 'fold of the sheep!' Into this fold of Jesus Christ no man may enter unless he be led by the Sovereign Pontiff, and only if they be united to him can men be saved."

"Sebagaimana indahnyakah Gereja Kristus, 'sarang para domba!' Kedalam sarang dari Yesus Kristus ini tidak seorangpun bisa masuk kecuali kalau dia dipimpin oleh Paus Utama, dan hanya jika mereka disatukan dengan dia (Gereja) manusia bisa diselamatkan."

"Outside the true Catholic Faith no one can be saved, so help me God!"

"Diluar Iman Katolik yang sejati tidak ada seorangpun yang bisa selamat, tolonglah aku tuhan!"

Pope Paul VI (A.D. 1963 – 1978)

"Is the hierarchy perhaps free to teach what they find most to their liking on matters of religion, or what they expect will be most pleasing to the proponents of certain current views opposed to all doctrine? Certainly not! The prime duty of the episcopate is to transmit strictly and faithfully the original message of Christ, the sum total of the truths which He revealed and confided to the Apostles as necessary for salvation."

"Apakah Hierarki bebas mengajarkan apapun menurut kesukaan mereka mengenai agama, atau apa yang mereka harap bisa menyenangkan sekelompok golongan dari pemikiran tertentu yang bertentangan dengan doktrin? Tentu saja tidak! Tugas utama dari episkopat (ke-uskupan) adalah untuk meneruskan secara langsung dan dengan penuh iman pesan asli dari Kristus, jumlah total kebenaran yang Dia wahyukan dan serahkan pada para Rasul adalah penting bagi keselamatan."

"The means of salvation and sanctification are known by all men, and are necessary to everyone who wishes to be saved."

"Alat untuk keselamatan dan pengudusan sudah diketahui oleh manusia, dan sangat penting bagi mereka yang ingin selamat."

[N]ot without sorrow we can hear people—whom we wish to believe are well-intentioned but who are certainly misguided in their attitude—continually claiming to love Christ but without the Church, to listen to Christ but not the Church, to belong to Christ but outside the Church. The absurdity of this dichotomy is clearly evident in this phrase of the Gospel: "Anyone who rejects you rejects me" (Luk 10:16). And how can one wish to love Christ without loving the Church, if the finest witness to Christ is that of St. Paul: "Christ loved the Church and sacrificed himself for her"? (Eph 5:25) (Evangelii Nuntiandi December 8, 1975)

"Tidaklah tanpa kesedihan kita mendengarkan orang-orang—yang ingin kita percayai [bahwa mereka memang] berkehendak baik tapi benar-benar tersesat dalam perilaku mereka—terus menerus meng-klaim [bahwa mereka] mencintai Kristus tapi tanpa Gereja, [meng-klaim] mendengarkan Kristus tapi tidak [mendengarkan] Gereja. Ketidakmasukakalan dari dikotomi ini telah jelas dalam frase di Injil berikut: ‘Siapapun yang menolak engkau, menolak Aku” (Luk 10:16). Dan bagaimana seseorang ingin mencintai Kristus tanpa mencintai Gereja, bila penulis terbaik akan Kristus, yaitu St.Paulus [menuliskan]: “ Kristus mencintai Gereja dan mengorbankan dirinya kepada Gereja”? (Ef 5:25)"

Pope John Paul I (A.D. 1978)

St Paul asked: "Who are you, Lord?" —"I am that Jesus whom you are persecuting". A light, a flash, crossed his mind. I do not persecute Jesus, I don't even know him: I persecute the Christians. It is clear that Jesus and the Christians, Jesus and the Church are the same thing: indissoluble, inseparable. Read St Paul: "Corpus Christi quod est Ecclesia". Christ and the Church are only one thing. Christ is the Head, we, the Church, are his limbs. It is not possible to have faith and to say, "I believe in Jesus, I accept Jesus but I do not accept the Church." We must accept the Church, as she is. (General Audience, September 13,1978)

St. Paulus bertanya: "Siapakah engkau Tuhan?" — "Aku adalah Yesus yang kau aniaya". Sebuah kilasan, sebercik sinar, menerjang pikirannya. Aku tidak menganiaya Yesus, aku bahkan tidak kenal dia: Aku menganiaya umat Kristen. Jelaslah disini bahwa Yesus dan umat Kristen, Yesus dan Gereja adalah satu hal yang sama: tidak terberaikan, tidak terpisahkan. Baca St. Paulus: "Corpus Christi quod est Ecclesia". Kristus dan Gereja adalah satu. Kristus adalah Kepala, kita, Gereja, adalah organ-organnya. Tidaklah mungkin untuk mempunyai iman dan berkata, "Aku mempercayai Yesus, aku menerima Yesus tapi aku tidak menerima Gereja." Kita harus menerima Gereja sebagai apa adanya.

"The ship of the Church is guided by Christ and by His Vicar... It alone carries the disciples and receives Christ. Yes, it is tossed on the sea, but outside one would perish immediately. Salvation is only in the Church; outside it one perishes." (First Allocution, August 27, 1978, L'Osservatore Romano, August 28,29, 1978.)

"Perahu Gereja dituntun oleh Kristus dan wakilNya... Hanya inilah yang membawa para murid dan menerima Kristus. Betul bahwa perahu ini dilemparkan ke laut, tapi diluarnya seseorang akan lenyap dengan seketika. Keselamatan hanya ada di Gereja; diluarnya siapapun lenyap."


Pope John Paul II (A.D. 1978 – 2005)

"The mystery of salvation is revealed to us and is continued and accomplished in the Church, and from this genuine and single source, like 'humble, useful, precious and chaste' water it reaches the whole world. Dear young people and members of the Faithful, like Brother Francis we have to be conscious of and absorb this fundamental and revealed truth contained in the phrase consecrated by tradition: there is no salvation outside the Church. From Her alone there flows surely and fully the life giving force destined in Christ and in His Spirit, to renew the whole of humanity, and therefore directing every human being to become a part of the Mystical Body of Christ." (Pope John Paul II, Radio Message for Franciscan Vigil in St. Peter's and Assisi, October 3, 1981, L'Osservatore Romano, October 12, 1981.)

"Misteri keselamatan dinyatakan kepada kita dan diteruskan dan tercapai didalam Gereja, dan dari sumber yang asli dan satu-satunya ini, bagaikan air yang 'rendah hati, berguna, berharga, dan murni' misteri ini mencapai dunia. Para muda dan umat tercinta, seperti Brother Francis kita harus sadar akan dan menyerap kebenaran fundamental yang diwahyukan ini, yang terkandung didalam kata-kata yang di sucikan oleh tradisi: Tidak ada keselamatan diluar Gereja. Hanya dari dia-lah (Gereja) kuasa hidup menuju Kristus dan RohNya mengalir secara pasti dan secara penuh, untuk memperbaharui seluruh kemanusiaan, dan karenanya mengarahkan setiap manusia untuk menjadi bagian dari Tubuh Mistik Kristus."

"We are the guardians of something given, and given to the Church universal, something which is not the result of reflection, however competent, on cultural and social questions of the day, and isnot merely the best path among many, but the one and only path to salvation." (John Paul II, "I Confirm You to Truth," Address to Joint Assembly of the U. S. Archbishops and the Department Heads of the Roman Curia, March 11, 1989, The Pope Speaks, 34 (September/October, 1989), pp. 254-55.)

"Kita adalah penjaga dari sesuatu yang diserahkan, dan diserahkan ke Gereja universal; sesuatu yang bukan dihasilkan dari refleksi, bagaimanapun kompetennya, atas pertanyaan kultural dan sosial akhir-akhir ini, dan bukan hanya jalan terbaik diantara banyak jalan, tapi satu-satunya jalan keselamatan."

 

 

1 Kor 13:4 Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong.

13:5 Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain.

13:6 Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran.

13:7 Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu.

13:8 Kasih tidak berkesudahan; nubuat akan berakhir; bahasa roh akan berhenti; pengetahuan akan lenyap.

 Spirit (Heb. ruah; Gr. pneuma), properly wind or breath. In (2Th 2:8 ) it means "breath," and in (Ec 8:8 ) the vital principle in man. It also denotes the rational, immortal soul by which man is distinguished (Ac 7:59 1Co 5:5 6:20 7:34) and the soul in its separate state (Heb 12:23) and hence also an apparition (Job 4:15 Lu 24:37,39) an angel (Heb 1:14) and a demon (Lu 4:36 10:20) This word is used also metaphorically as denoting a tendency (Zec 12:10 Lu 13:11) In (Ro 1:4 1Ti 3:16 2Co 3:17 1Pe 3:18) it designates the divine nature.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar