Mengasihi Sesama

Mengasihi Sesama
Ibu Theresa dari Calcuta

Sabtu, 04 September 2021

DISKUSI MENARIK ANTARA KATOLIK DAN ORTODOX

 Mengenai "Filioque" 


1. Di 
topik lama ini bisa dilihat tulisan dari para Bapa Gereja yang mendukung bahwa Roh Kudus berasal dari Bapa dan Putra


2. Paus Leo III memang menganjurkan agar filioque tidak ditambahkan pada tablet itu. Tapi alasannya jelas-jelas bukan karena penambahan filioque adalah suatu tindakan bidah. Toh di jaman modern sampai sekarang para Paus Gereja Katolik tidak memaksakan [bahkan mungkin tidak menganjurkan] penambahan fillioque pada kredo Yunani yang dibacakan oleh ritus Timur yang memakai kredo tersebut (ini karena perbedaan ekspresi kata Yunani dalam kredo yang tidak memunginakn penambahan filioque dalam bahasa itu). Faktanya di 
suratnya kepada semua Gereja Timur Paus Leo III mengungkapkan imannya akan kebenaran filioque (lihat Obj. 3): 

 

[T]he Holy Spirit, proceeding equally from the Father and from the Son, consubstantial, coeternal with the Father and the Son. The Father, complete God in Himself, the Son, complete God begotten of the Father, the Holy Spirit, complete God proceeding from the Father and the Son...


3. Sudah jelas dari diatas bahwa alasan Paus Leo III menganjurkan untuk menghilangkan klausa filioque BUKANLAH karena penambahan klausa itu merupakan bidah. Lalu apakah alasan sesungguhnya? Banyak spekulasi. Di 
link ini terdapat kompilasi berbagai pendapat para sejarahwan atas alasan sang Paus sebagaimana dikutip dari Dictionnaire de théologie catholique, ed. A. Vacant, et al. (Paris 1913) 5.2:2329-2931. Terjemahan Inggris di link tersebut dibuat oleh William R. Huysman pemilik blog bananarepublican

4. Mengenai dokumen Ravena. Disamping fakta bahwa dokumen itu sendiri menuliskan bahwa yang tertulis di dokumen tersebut "
should not be understood as an official declaration of the Church’s teaching" (lihat kotak yang ada tulisan kecilnya di bagian paling atas), si Orthodox ini tampaknya tidak membaca dengan jelas apa yang dikutipnya sendiri. Di dokumen Ravena dikatakan bahwa "Gereja lokal tidak dapat memodifikasi Syahadat [yang] di formulasikan suatu konsili ekumenis." Nah, tentu saja Gereja Katolik setuju dengan ini. Filioque TIDAK dimodifikasi oleh Gereja lokal tapi oleh GEREJA YANG UNIVERSAL [ie. KATOLIK] dalam kesatuan dengan sang gembala utama Paus Roma. Jadi penambahan filioque oleh Gereja Katolik tidak melanggar kalimat dari dokumen Ravena tersebut

5. Kalau mau landasan Konsili ekumenis atas filioque kenapa tidak pakai Konsili Lyon II dan Florence? Di kedua konsili ekumenis tesebut pihak Orthodox menyetujui untuk bersatu penuh dengan Roma dan mengakui semua yang diimani Roma. Tapi kemudian menjilat ludah mereka sendiri. Ini membuktikan bahwa Gereja Orthodox sama sekali bukan Gereja Kristus karena mereka telah menyetujui lalu kemudian melanggar ketetapan mereka sendiri di DUA konsili ekumenis.

Plus, tanya si Orthodox kapan kitab suci mereka di-kanon-kan. 


Catatan: Orthodox tidak mempunyai kanon Kitab Suci.

Mengenai "Filioque" 


1. Di 
topik lama ini bisa dilihat tulisan dari para Bapa Gereja yang mendukung bahwa Roh Kudus berasal dari Bapa dan Putra. 

2. Paus Leo III memang menganjurkan agar filioque tidak ditambahkan pada tablet itu. Tapi alasannya jelas-jelas bukan karena penambahan filioque adalah suatu tindakan bidah. Toh di jaman modern sampai sekarang para Paus Gereja Katolik tidak memaksakan [bahkan mungkin tidak menganjurkan] penambahan fillioque pada kredo Yunani yang dibacakan oleh ritus Timur yang memakai kredo tersebut (ini karena perbedaan ekspresi kata Yunani dalam kredo yang tidak memunginakn penambahan filioque dalam bahasa itu). Faktanya di 
suratnya kepada semua Gereja Timur Paus Leo III mengungkapkan imannya akan kebenaran filioque (lihat Obj. 3)

[T]he Holy Spirit, proceeding equally from the Father and from the Son, consubstantial, coeternal with the Father and the Son. The Father, complete God in Himself, the Son, complete God begotten of the Father, the Holy Spirit, complete God proceeding from the Father and the Son...


3. Sudah jelas dari diatas bahwa alasan Paus Leo III menganjurkan untuk menghilangkan klausa filioque BUKANLAH karena penambahan klausa itu merupakan bidah. Lalu apakah alasan sesungguhnya? Banyak spekulasi. Di 
link ini terdapat kompilasi berbagai pendapat para sejarahwan atas alasan sang Paus sebagaimana dikutip dari Dictionnaire de théologie catholique, ed. A. Vacant, et al. (Paris 1913) 5.2:2329-2931. Terjemahan Inggris di link tersebut dibuat oleh William R. Huysman pemilik blog bananarepublican. 

4. Mengenai dokumen Ravena. Disamping fakta bahwa dokumen itu sendiri menuliskan bahwa yang tertulis di dokumen tersebut "
should not be understood as an official declaration of the Church’s teaching" (lihat kotak yang ada tulisan kecilnya di bagian paling atas), si Orthodox ini tampaknya tidak membaca dengan jelas apa yang dikutipnya sendiri. Di dokumen Ravena dikatakan bahwa "Gereja lokal tidak dapat memodifikasi Syahadat [yang] di formulasikan suatu konsili ekumenis." Nah, tentu saja Gereja Katolik setuju dengan ini. Filioque TIDAK dimodifikasi oleh Gereja lokal tapi oleh GEREJA YANG UNIVERSAL [ie. KATOLIK] dalam kesatuan dengan sang gembala utama Paus Roma. Jadi penambahan filioque oleh Gereja Katolik tidak melanggar kalimat dari dokumen Ravena tersebut. 

5. Kalau mau landasan Konsili ekumenis atas filioque kenapa tidak pakai Konsili Lyon II dan Florence? Di kedua konsili ekumenis tesebut pihak Orthodox menyetujui untuk bersatu penuh dengan Roma dan mengakui semua yang diimani Roma. Tapi kemudian menjilat ludah mereka sendiri. Ini membuktikan bahwa Gereja Orthodox sama sekali bukan Gereja Kristus karena mereka telah menyetujui lalu kemudian melanggar ketetapn mereka sendiri di DUA konsili ekumenis.



DV, demikian jawaban dari PGOI 

1-2) Mengapa hal itu bukan bidat dalam Katolik Roma? Jika klausa ditambahkan misalnya "Bapa keluar dari Putera", apakah juga bukan bidat? Tahu dari mana penetapan bidat/tidak bidat? ^_^ 

Dalam suatu Konsili Ekumenis sudah disepakati oleh Gereja Semesta, termasuk didalamnya tanda tangan dari Gereja Katolik Roma yang bunyinya, 

"Sesudah hal ini dibacakan, Konsili / Musyawarah kudus memutuskan bahwa haram bagi setiap manusia untuk mengumumkan, atau untuk menulis, atau menulis yang berbeda (
τραν) dari syahadat Iman, sebagai Syahadat saingan yang didirikan oleh para Bapa suci Gereja dengan penyertaan Roh Kudus di Nicea. Jika Para Uskup yang mengubah atau membuat syahadat yang berbeda maka akan dinyatakan Asing, jika para umat yang melakukannya maka akan dinyatakan terbuang." 
[Tulisan Oleh: Yohanes Damaskinos Arya

Jadi memang kesepakatan awal dilarang untuk diubah. Karena Kredo Nikea adalah gabungan 2 hasil Konsili Ekumenis maka Gereja Katolik Roma juga melanggar ketetapan Konsili Ekumensi 2x juga. ^_^ 

3) Konsili Ekumenis sebelum Skisma mana yang menetapkan "Et Filioque" dalm Kredo sehingga hal itu dikatakan dimodifikasi oleh Gereja Semesta (seluruh Yuridiksi tentunya, bukan hanya lokal Roma atau wilayah tertentu saja, melainkan Gereja diseluruh wilayah termasuk 4 Pentarkhi lainnya)? 

4) Konsili Lyon 2 adalah Proses Reunifikasi namun belum mencapai keputusan bulat melainkan sebagai langkah awal adalah klausa "et Filioque" dibacakan 3x pada pembukaan Konsili, namun belum mencapai keputusan akhir untuk reunifikasi, demikian juga Konsili Florence (Ferrara), saya pernah baca sendiri bahwa disana dilakukan pembelaan atas iman Orthodox dan penolakan kasus et Filioque, Supremasi Paus dan Purgatorium oleh St.Markus Efesus. Bahkan sampai tgl. 8 Oktober 1438 AD, Gereja Orthodox tidak pernah menyetujui klausa "et Filioque". Dan Reunifikasi Gereja Orthodox hanya dapat dilakukan oleh kesepakatan seluruh Yuridiksi Gereja (Gereja Semesta) dimana semua yuridiksi harus sama-sama tanda tangan sepakat, waktu itu tanda tangan hanya diberikan oleh Patriakh Konstantinopel namun ditolak oleh seluruh yuridiksi lainnya sehingga dapat dikatakan belum (bukan tidak) terjadi kesepakatan dalam Konsili tersebut.

DV, demikian jawaban dari PGOI 

1-2) Mengapa hal itu bukan bidat dalam Katolik Roma? Jika klausa ditambahkan misalnya "Bapa keluar dari Putera", apakah juga bukan bidat? Tahu dari mana penetapan bidat/tidak bidat? ^_^

Dalam suatu Konsili Ekumenis sudah disepakati oleh Gereja Semesta, termasuk didalamnya tanda tangan dari Gereja Katolik Roma yang bunyinya, 

"Sesudah hal ini dibacakan, Konsili / Musyawarah kudus memutuskan bahwa haram bagi setiap manusia untuk mengumumkan, atau untuk menulis, atau menulis yang berbeda (
τραν) dari syahadat Iman, sebagai Syahadat saingan yang didirikan oleh para Bapa suci Gereja dengan penyertaan Roh Kudus di Nicea. Jika Para Uskup yang mengubah atau membuat syahadat yang berbeda maka akan dinyatakan Asing, jika para umat yang melakukannya maka akan dinyatakan terbuang." 
[Tulisan Oleh: Yohanes Damaskinos Arya] 

Jadi memang kesepakatan awal dilarang untuk diubah. Karena Kredo Nikea adalah gabungan 2 hasil Konsili Ekumenis maka Gereja Katolik Roma juga melanggar ketetapan Konsili Ekumensi 2x juga. ^_^ 

3) Konsili Ekumenis sebelum Skisma mana yang menetapkan "Et Filioque" dalm Kredo sehingga hal itu dikatakan dimodifikasi oleh Gereja Semesta (seluruh Yuridiksi tentunya, bukan hanya lokal Roma atau wilayah tertentu saja, melainkan Gereja diseluruh wilayah termasuk 4 Pentarkhi lainnya)? 

4) Konsili Lyon 2 adalah Proses Reunifikasi namun belum mencapai keputusan bulat melainkan sebagai langkah awal adalah klausa "et Filioque" dibacakan 3x pada pembukaan Konsili, namun belum mencapai keputusan akhir untuk reunifikasi, demikian juga Konsili Florence (Ferrara), saya pernah baca sendiri bahwa disana dilakukan pembelaan atas iman Orthodox dan penolakan kasus et Filioque, Supremasi Paus dan Purgatorium oleh St.Markus Efesus. Bahkan sampai tgl. 8 Oktober 1438 AD, Gereja Orthodox tidak pernah menyetujui klausa "et Filioque". Dan Reunifikasi Gereja Orthodox hanya dapat dilakukan oleh kesepakatan seluruh Yuridiksi Gereja (Gereja Semesta) dimana semua yuridiksi harus sama-sama tanda tangan sepakat, waktu itu tanda tangan hanya diberikan oleh Patriakh Konstantinopel namun ditolak oleh seluruh yuridiksi lainnya sehingga dapat dikatakan belum (bukan tidak) terjadi kesepakatan dalam Konsili tersebut.


1. Mengenai bidat tidak bidat, itu bisa dibuat debat lain lagi (dan si Orthodox pasti kalah dengan mengenaskan sebagaimana para Patriarkh dan Uskup mereka didebat sampai kalah oleh para skolastik Latin di Konsili Ekumenis Florence). Tapi paling tidak si PGOI harus mengakui kekeliruannya bahwa klaim kalau Paus Leo III tidak mengijinkan penambahan fiklioque adalah karena penambahan itu menyebabkan bidat

2. Mengenai tulisannya si Yohanes Damaskinos Arya yang merupakan lagu lama yang itu-itu saja

Catholic Encyclopedia: Filioque 

Had not Rome overstepped her rights by disobeying the injunction of the Third Council, of Ephesus (431), and of the Fourth, of Chalcedon (451)? 

It is true that these councils had forbidden to introduce another faith or another Creed, and had imposed the penalty of deposition on bishops and clerics, and of excommunication on monks and laymen for transgressing this law; but the councils had not forbidden to explain the same faith or to propose the same Creed in a clearer way. Besides, the conciliar decrees affected individual transgressors, as is plain from the sanction added; they did not bind the Church as a body.
 

Apakah Roma tidak melangkahi hak-haknya dengan tidak mematuhi instruksi Konsili ketiga, Efesus (431), dan yang keempat, Chalcedon (451)? 

Memang benar bahwa konsili-konsili ini melarang untuk memperkenalkan iman yang lain atau syahadat yang lain, dan telah mengenakan hukuman pemecatan jabatan terhadap uskup-uskup dan klerus-klerus, dan [hukuman] ekskomunikasi kepada biarawan-biarawan dan awam-awam yang melanggar hukum ini; namun konsili-konsili [tersebut] tidak melarang untuk menjabarkan iman yang sama atau mengajukan syahadat yang sama dengan cara yang lebih jelas. Lagipula, dekrit-dekrit konsili berlaku bagi pelanggar-pelanggar individu, sebagaimana hal tersebut jelas terlihat pada sanksi-sanksi yang ditambahkan [di dekrit-dekrit tersebut; dekrit tersebut tidak mengikat Gereja sebagai satu tubuh.
 [catatan DeusVult: inilah yang aku maksudkan bahwa Gereja lokal [seperti Keuskupan Surabaya, Keuskupan Orange County, Keuskupan Milan dll] memang tidak berkuasa mengubah Kredo, tapi Gereja secara keseluruhan, dengan kesatuan dengan Uskup Roma, boleh memperjelas Syahadat asalkan imannya tidak berubah]


3. Sejak kapan konsili ekumenis dibatasi sampai sebelum skisma saja? Itu toh jalan pemikirannya Orthodox yang tidak pernah lagi berkonsili ekumenis karena mereka tidak punya pemimpin [ie. Paus Roma]. 

Plus, sebuah konsili ekumenis tidak perlu menghadirkan seluruh Patriakrh untuk sah. Konsili Constantinople tidak dihadiri seluruh patriakrh, tapi sah sebagai konsili ekumenis. Belum lagi pada Konsili Chalcedon Patriakh Alexandria, Dioscoros, meskipun hadir, tapi tidak diperkenankan bicara dan memberi suara. Dia hadir untuk diadili. dan kemudian Konsili Chalsedon memecat Patriakrh ini. Apakah ini kemudian berarti bahwa Konsili Chalcedon tidak ekumenis karena kekurangan seorang Patriarkh? Lagipula, konsili Lyon II dan Konsili Florence adalah konsili ekumenis menurut pemahaman Orthodox sekalipun karena wakil-wakil mereka, termasuk semua patriakrh, hadir. Dan telah dicapai kesepakatan bahwa filioque bukanlah bidat. Mengapa si Orthodox tidak menerima Lyon II dan Florence? 

Terakhir, kalaupun si Orthodox tidak mengakui ke-ekumenis-an Lyon II dan Florence, yang menambah filioque adalah Gereja Roma, kepala semua Gereja yang berada diatas konsili ekumenis sekalipun. Jadi tindakan Gereja roma yang seperti ini bukanlah tindakan lokal, tapi universal. Tindakan sang gembala utama. 

4. Di konsili Lyon II 500 Uskup plus 50 Uskup Agung Orthodox mengakui iman Gereja Katolik Roma. Memang sebagian besar dari mereka adalah dari hierakhi Constantinople. Mereka mengikrarkan filioque, keutamaan Paus Roma, ajaran Api Penyucian dan lain-lain. 

Kalaupun di-klaim bahwa Lyons II adalah tidak sah karena sebagian besar dari Constantinople maka seharusnya klaim ini tidak berlaku di Florence dimana seluruh Patriakrh hadir. (lagipula ketidakhadrian Patriakrh atau uskup-uskup lain bukanlah jaminan ke-ekumenis-an suatu konsili mengingat Constantinople I dan Chalcedon dimana tidak semua patriarkh hadir dan sebagian besar Uskup justru tidak hadir [di Constantinople I]). 

Di konsili Florence argumen para Orthodox habis. Mereka tidak bisa lagi berargumen ketika pihak Latin menghadirkan codex-codex tulisan para Bapa Gereja Awal yang menunjukkan bahwa Roh Kudus berasal dari Bapa DAN PUTRA. Dari semua wakil Orthodox, dari seluruh Patriakrh sampai para Uskupnya SEMUANYA SETUJU TERHADAP IMAN GEREJA ROMA, kecuali si Mark Eugenikos (Mark Ephesus). 

Dan Mark Ephesus pun sebenarnya telah kalah berkali-kali dalam berdebat. Namun pada perdebatan di Florence terlihat bagaimana dia kalah kelas dari para skolastik Latin. Tidak hanya dalam filosofi tapi juga dari codex-codex tulisan para Bapa Gereja Awal. Tidak hanya pihak Latin yang dibuat frustrasi secara intelektual oleh kekeras-kepalaan Mark Eugenikos, tapi teman-teman Orthodox Yunaninya juga marah-marah terhadap dia bahkan sampai hampir memukul dia karena kekeras-kepalannya yang tidak berdasar

Namun faktanya, Orthodox telah menjilat ludah mereka dalam sebuah konsili ekumenis yang dihadiri seluruh patriakrh (Florence). Oleh karena itu Orthodox sudah pasti bukan Gereja Kristus sejati.

DeusVult wrote:



1. Mengenai bidat tidak bidat, itu bisa dibuat debat lain lagi (dan si Orthodox pasti kalah dengan mengenaskan sebagaimana para Patriarkh dan Uskup mereka didebat sampai kalah oleh para skolastik Latin di Konsili Ekumenis Florence). Tapi paling tidak si PGOI harus mengakui kekeliruannya bahwa klaim kalau Paus Leo III tidak mengijinkan penambahan fiklioque adalah karena penambahan itu menyebabkan bidat. 


2. Mengenai tulisannya si Yohanes Damaskinos Arya yang merupakan lagu lama yang itu-itu saja: 

Catholic Encyclopedia: Filioque 

Had not Rome overstepped her rights by disobeying the injunction of the Third Council, of Ephesus (431), and of the Fourth, of Chalcedon (451)? 

It is true that these councils had forbidden to introduce another faith or another Creed, and had imposed the penalty of deposition on bishops and clerics, and of excommunication on monks and laymen for transgressing this law; but the councils had not forbidden to explain the same faith or to propose the same Creed in a clearer way. Besides, the conciliar decrees affected individual transgressors, as is plain from the sanction added; they did not bind the Church as a body.
 

Apakah Roma tidak melangkahi hak-haknya dengan tidak mematuhi instruksi Konsili ketiga, Efesus (431), dan yang keempat, Chalcedon (451)? 

Memang benar bahwa konsili-konsili ini melarang untuk memperkenalkan iman yang lain atau syahadat yang lain, dan telah mengenakan hukuman pemecatan jabatan terhadap uskup-uskup dan klerus-klerus, dan [hukuman] ekskomunikasi kepada biarawan-biarawan dan awam-awam yang melanggar hukum ini; namun konsili-konsili [tersebut] tidak melarang untuk menjabarkan iman yang sama atau mengajukan syahadat yang sama dengan cara yang lebih jelas. Lagipula, dekrit-dekrit konsili berlaku bagi pelanggar-pelanggar individu, sebagaimana hal tersebut jelas terlihat pada sanksi-sanksi yang ditambahkan [di dekrit-dekrit tersebut; dekrit tersebut tidak mengikat Gereja sebagai satu tubuh.
 [catatan DeusVult: inilah yang aku maksudkan bahwa Gereja lokal [seperti Keuskupan Surabaya, Keuskupan Orange County, Keuskupan Milan dll] memang tidak berkuasa mengubah Kredo, tapi Gereja secara keseluruhan, dengan kesatuan dengan Uskup Roma, boleh memperjelas Syahadat asalkan imannya tidak berubah]


3. Sejak kapan konsili ekumenis dibatasi sampai sebelum skisma saja? Itu toh jalan pemikirannya Orthodox yang tidak pernah lagi berkonsili ekumenis karena mereka tidak punya pemimpin [ie. Paus Roma]. 

Plus, sebuah konsili ekumenis tidak perlu menghadirkan seluruh Patriakrh untuk sah. Konsili Constantinople tidak dihadiri seluruh patriakrh, tapi sah sebagai konsili ekumenis. Belum lagi pada Konsili Chalcedon Patriakh Alexandria, Dioscoros, meskipun hadir, tapi tidak diperkenankan bicara dan memberi suara. Dia hadir untuk diadili. dan kemudian Konsili Chalsedon memecat Patriakrh ini. Apakah ini kemudian berarti bahwa Konsili Chalcedon tidak ekumenis karena kekurangan seorang Patriarkh? Lagipula, konsili Lyon II dan Konsili Florence adalah konsili ekumenis menurut pemahaman Orthodox sekalipun karena wakil-wakil mereka, termasuk semua patriakrh, hadir. Dan telah dicapai kesepakatan bahwa filioque bukanlah bidat. Mengapa si Orthodox tidak menerima Lyon II dan Florence? 

Terakhir, kalaupun si Orthodox tidak mengakui ke-ekumenis-an Lyon II dan Florence, yang menambah filioque adalah Gereja Roma, kepala semua Gereja yang berada diatas konsili ekumenis sekalipun. Jadi tindakan Gereja roma yang seperti ini bukanlah tindakan lokal, tapi universal. Tindakan sang gembala utama. 

4. Di konsili Lyon II 500 Uskup plus 50 Uskup Agung Orthodox mengakui iman Gereja Katolik Roma. Memang sebagian besar dari mereka dalah dari hierakhi Constantinople. Mereka mengikrarkan filioque, keutamaan Paus Roma, ajaran Api Penyucian dan lain-lain. 

Kalaupun di-klaim bahwa Lyons II adalah tidak sah karena sebagian besar dari Constantinople maka seharusnya klaim ini tidak berlaku di Florence dimana seluruh Patriakrh hadir. (lagipula ketidakhadrian Patriakrh atau uskup-uskup lain bukanlah jaminan ke-ekumenis-an suatu konsili mengingat Constantinople I dan Chalcedon dimana tidak semua patriarkh hadir dan sebagian besar Uskup justru tidak hadir [di Constantinople I]). 

Di konsili Florence argumen para Orthodox habis. Mereka tidak bisa lagi berargumen ketika pihak Latin menghadirkan codex-codex tulisan para Bapa Gereja Awal yang menunjukkan bahwa Roh Kudus berasal dari Bapa DAN PUTRA. Dari semua wakil Orthodox, dari seluruh Patriakrh sampai para Uskupnya SEMUANYA SETUJU TERHADAP IMAN GEREJA ROMA, kecuali si Mark Eugenikos (Mark Ephesus). 

Dan Mark Ephesus pun sebenarnya telah kalah berkali-kali dalam berdebat. Namun pada perdebatan di Florence terlihat bagaimana dia kalah kelas dari para skolastik Latin. Tidak hanya dalam filosofi tapi juga dari codex-codex tulisan para Bapa Gereja Awal. Tidak hanya pihak Latin yang dibuat frustrasi secara intelektual oleh kekeras-kepalaan Mark Eugenikos, tapi teman-teman Orthodox Yunaninya juga marah-marah terhadap dia bahkan sampai hampir memukul dia karena kekeras-kepalannya yang tidak berdasar. 

Namun faktanya, Orthodox telah menjilat ludah mereka dalam sebuah konsili ekumenis yang dihadiri seluruh patriakrh (Florence). Oleh karena itu Orthodox sudah pasti bukan Gereja Kristus sejati.



Persatuan Gereja Orthodox Indonesia 

Perlu diketahui bahwa, prinsip kesepakatan konsili dalam Gereja Orthodox memang agak berbeda dengan Gereja Katolik Roma yang memiliki sistem Kurialisme (pimpinan tunggal), dalam Gereja Orthodox tidak ada Kuria (pimpinan tunggal) karena sistemnya Episkopalisme (otoritas hukum tiap yuridiksi sama dan otonom) sehingga yang dimaksud kesepakatan dengan Gereja Orthodox adalah persetujuan Gereja Semesta seluruh yuridiksi bukan dari sebagian yuridiksi saja. Jadi jika hanya 1-2 (atau juga beberapa) yuridiksi saja yang menyetujui hal itu artinya masih proses dan belum mencapai kesepakatan final dengan Gereja Orthodox, karena tiap yuridiksi dalam Gereja Orthodox sifatnya otonom (tidak harus setuju dengan yuridiksi tertentu sebagaimana dalam Katolik Roma). 

1) Jika demikian Paus Leo III sudah menetapkan tanpa "et Filioque" mengapa perlu ditambahkan kembali? Bukankah memang benar aslinya tanpa "et Filioque" bahkan sampai 1054 AD tidak ada Konsili Ekumenis yang menetapkan boleh dipakai tambahan "et Filioque". Harusnya Gereja Roma cukup menghapus "et Filioque" saja waktu itu, mengapa harus berkeras memakai yang sebelumnya tak ada dan tak disepakati bersama dan malahan mengharuskan yuridiksi lain untuk memakainya tanpa proses Konsiliar? 

2) Gereja Semesta/Universal itu bukan hanya 1 yuridiksi Roma saja melainkan seluruh yuridiksi yang ada. 

3) Dalam hal ini mengapa kita batasi sebelum Skisma karena permasalahan "et Filioque" adalah sebelum Skisma, kalau setelah Skisma ya tidak valid jika digunakan untuk merujuk permasalah yang lebih lama, karena permasalahan "et Filioque" terjadi tahun 1054 AD maka sumber-sumber yang menyatakan bahwa penambahan "et Filioque" secara logika harus sebelum tahun 1054 AD dan berupa Konsili Ekumenis (dengan demikian otoritasnya memenuhi Gereja Semesta). 

Saya tidak menyatakan bahwa semua Patriakh harus hadir agar suatu Konsili dinyatakan Ekumenis karena hal itu bisa diwakilkan seperti yang sering yuridiksi Roma lakukan dengan mengutus Kardinalnya, melainkan suatu Konsili Ekumenis dinyatakan sah jika DISEPAKATI oleh sebagian besar (mayoritas) yuridiksi, kalau hanya minoritas yang sepakat dan tanda tangan hal itu tidak bisa disebut sebagai Ekumenis karena tak mewakili pendapat Gerja Semesta

Mengenai pernyataan ini: "kalaupun si Orthodox tidak mengakui ke-ekumenis-an Lyon II dan Florence, yang menambah filioque adalah Gereja Roma, kepala semua Gereja yang berada diatas konsili ekumenis sekalipun. Jadi tindakan Gereja roma yang seperti ini bukanlah tindakan lokal, tapi universal. Tindakan sang gembala utama." inilah yang disebut dengan Kurialisme, dan pandangan Orthodox tidak pernah demikian, Gereja Roma hanya dipandang sebagai 1 yuridiksi saja (bukan Gereja Semesta), sehingga bagi kami tidak lebih tinggi dari Konsili Ekumenis. Ini merupakan perbedaan pandangan Theologis antar Gereja yang memang berbeda dan tak dapat dipaksakan sama. Karena itu dari awal saya katakan bahwa permasalahan Skisma Besar itu tak sesederhana karena menyangkut sistem Gerejawi yang berbeda dan pandangan Theologis yang berbeda. 

4) Konsili Lyons II
Memang Kredo Nikea dengan tambahan "et Filioque" dinyanyikan 3x pada pembukaan (tanda bahwa itu bukan kesepakatan akhir) melainkan tanda bahwa salah satu agenda penting Konsili ini adalah pembahasan "et Filioque". 

Nah, seperti dikatakan teman Anda, bahwa yang hadir hanya minoritas Orthodox yaitu pihak Konstantinopel sehingga hal ini tidak dikatakan sebagai suatu keputusan seluruh Gereja Semesta. 

Konsili Florence, 
Saya pribadi tak melihat sebagai menang/kalah dalam diskusi Konsili Florence karena kedua belah pihak memakai sudut Theologi yang berbeda, Orthodox dengan Theologi Neptik dan Katolik Roma dengan Theologi Skolastika, jelas hal itu tidak bersambut karena banyak perbedaan mendasar Theologi. 

Pihak Hierarki Orthodox yang hadir dalam Konsili Florence adalah Patriakh Konstantinopel dan 23 Uskup Metropolitan saja (3 orang diantaranya menolak hasil Konsili, antara lain Metropolitan St.Markus Efesus, Bessarion Nikea, dan Gennadius II yang kemudian di masa datang menjadi Patriakh Konstantinopel), kalaupun semuanya setuju maka sedikit perwakilan tersebut tidak mengambarkan persetujuan Gereja Orthodox secara semesta. 

Berkas hasil Konsili Florence ini selanjutnya dibawa ke Sinode Kudus di Timur untuk diratifikasi oleh Gereja Orthodox secara semesta, namun ternyata dalam Sinode Kudus mayoritas Hierarki menolak karena kurang sesuai dengan Tradisi Rasuli yang dipegang oleh Orthodox. Karena inilah dianggap seakan-akan menjilat ludah sendiri padahal memang sistem konstitusinya berbeda dengan Katolik Roma yang hanya memiliki 1 Kuria. 

Fransiskus Wijayanto 

Sinode Ortodox di daerah Timur ? Sinode apa tahun berapa dan dimana ? oleh Gereja mana saja ? 

Persatuan Gereja Orthodox Indonesia 

Ya, Gereja Orthodox memiliki yang disebut Sinode Kudus (bukan Konsili Ekumenis), ini merupakan rapat Hierarki untuk membahas issue dalam Gereja Orthodox. 

Holy Synod in this usage is distinct from an Ecumenical Council, which may also informally be called a holy synod and consists of bishops from throughout the Orthodox Church, acting together to deal with Church-wide issues. 
Source
http://orthodoxwiki.org/Holy_Synod 

Keputusan suatu Konsili yang tidak dapat dihadiri oleh mayoritas yuridiksi dapat diratifikasi disini, dan hasilnya baru disebut sebagai hasil keputusan Gereja Orthodox Semesta

Sebenarnya Patriakh Konstantinopel pun sudah membicarakan hal ini pada Konsili Florence bahwa keputusan akhir hanya dapat tercapai setelah ratifikasi dalam Sinode Kudus Orthodox tercapai secara bulat. 

Regard, 

Daniel I FS

DV …..

1. Karena perlu, sebagaimana Nicea I menambah syahadatnya dengan klausa Roh Kudus di Constantinople I sehingga muncul Syahadat Nicea-Constantinople. Apakah si Orthodox sadar bahwa penambahan itu tidak melanggar Ephesus dan Chalcedon dan bahwa Leo III tidak melakukanya dengan alasan penambahan itu bidah? Minta dia mengakui ini. 

2. Gereja semesta hanyalah Gereja yang bersatu dengan gembala utamanya. Gereja yang tidak mematuhi sang kepala adalah Gereja Skismatik. 

3. Mengapa harus membatasi pada tahun 1054 kalau pada abad ke-13 ada konsili ekumenis yang dikuti seluruh Patriakrh? Itu adalah konsili ekumenis yang sah sesuai definisi Orthodox. Dan disitu dibahas secara detail tentang filioque. Dan kesimpulannya, Orthodox mengakui bahwa tindakan Roma tidak melanggar Ephesus dan Chalcedon dan filioque bukan merupakan bidah. Kesimpulan itu diakui oleh semua Orthodox kecuali, termasuk patriakrh, si Mark Euginikos. Dan keputusan ini diratifikasi oleh Paus Roma. Jadi ini adalah konsili ekumenis yang sah menurut definisi Orthodox. 
Dan tidak ada yang namanya syarat harus disepakati mayoritas Yurisdiksi. Toh di Nicea I atau Constantinple I hanya sedikit yurisdiksi yang hadir. Kalau si Orthodox memakai standardnya itu maka sebaiknya dia menolak Nicea I dan Constantinople I. 

4. Kalau dia mau menolak Lyons II denga alasan yang hadir hanya Constantinople lalu mengapa dia menerima Konsili Constantinople I padahal hanya dihadiri Patriarkh Antioch dan Constantinople

Yang hadir di Florence antra lain

Catholic Encyclopedia: The Council of Florence 

... [T]here were present, on the part of the Greeks, Joasaph, the Patriarch of Constantinople; Antonius, the Metropolitan of Heraclea; Gregory Hamma, the Protosyncellus of Constantinople (the last two representing the Patriarch of Alexandria); Marcus Eugenicus of Ephesus; Isidore of Kiev (representing the Patriarch of Antioch); Dionysius, Bishop of Sardes (representing the Patriarch of Jerusalem); Bessarion, Archbishop of Nicaea; Balsamon, the chief chartophylax; Syropulos, the chief ecclesiarch, and the Bishops of Monembasia, Lacedaemon, and Anchielo.


Jadi itu adalah konsili ekumenis yang sah. 

Sejak jaman ketujuh konsili ekumenis pertama, tidak pernah hasil konsili itu sah karena harus diratifikasi klerus-klerus rendah. Bila standard yang diapakai adalah ini maka tentunya Nicea I bisa dianggap bukan konsili ekumenis karena keputusan konsili tersebut ditolak dimana-mana (bahkan Arianisme semakin berkembang setelah Konsili Nicea I).

Tambahan: 

Aku lupa ini, but, larangan di Konsili Ephesus berkenaan dengan larangan untuk menambah pernyataan iman Konsili Nicea. Nah, kalau larangan ini ditafsirkan berarti "
semua penambahan dilarang" [posisi Orthodox] dan bukannya "penambahan yang sesuai boleh, tapi yang tidak sesuai tidak boleh" [posisi Katolik], maka penggunaan tambahan dari Constantinople I oleh Orthodox dan konsili sesudah Ephesus adalah tindakan yang bertentangan dengan kanon Ephesus

Berikut adalah kanon Ephesus

CANON VII 

WHEN these things had been read, the holy Synod decreed that it is unlawful for any man to bring forward, or to write, or to compose a different (eteran) Faith as a rival to that established by the holy Fathers assembled with the Holy Ghost in Nicaea

But those who shall dare to compose a different faith, or to introduce or offer it to persons desiring to turn to the acknowledgment of the truth, whether from Heathenism or from Judaism, or from any heresy whatsoever, shall be deposed, if they be bishops or clergymen; bishops from the episcopate and clergymen from the clergy; and if they be laymen, they shall be anathematized. 

And in like manner, if any, whether bishops, clergymen, or laymen, should be discovered to hold or teach the doctrines contained in the Exposition introduced by the Presbyter Charisius concerning the Incarnation of the Only-Begotten Son of God, or the abominable and profane doctrines of Nestorius, which are subjoined, they shall be subjected to the sentence of this holy and ecumenical Synod. So that, if it be a bishop, he shall be removed from his bishopric and degraded; if it be a clergyman, he shall likewise be stricken from the clergy; and if it be a layman, he shall be anathematized, as has been afore said.


Ini 
diambil dari websitenya Orthodox.

1. Karena perlu, sebagaimana Nicea I menambah syahadatnya dengan klausa Roh Kudus di Constantinople I sehingga muncul Syahadat Nicea-Constantinople. Apakah si Orthodox sadar bahwa penambahan itu tidak melanggar Ephesus dan Chalcedon dan bahwa Leo III tidak melakukanya dengan alasan penambahan itu bidah? Minta dia mengakui ini. 

2. Gereja semesta hanyalah Gereja yang bersatu dengan gembala utamanya. Gereja yang tidak mematuhi sang kepala adalah Gereja Skismatik. 

3. Mengapa harus membatasi pada tahun 1054 kalau pada abad ke-13 ada konsili ekumenis yang dikuti seluruh Patriakrh? Itu adalah konsili ekumenis yang sah sesuai definisi Orthodox. Dan disitu dibahas secara detail tentang filioque. Dan kesimpulannya, Orthodox mengakui bahwa tindakan Roma tidak melanggar Ephesus dan Chalcedon dan filioque bukan merupakan bidah. Kesimpulan itu diakui oleh semua Orthodox kecuali, termasuk patriakrh, si Mark Euginikos. Dan keputusan ini diratifikasi oleh Paus Roma. Jadi ini adalah konsili ekumenis yang sah menurut definisi Orthodox. 

Dan tidak ada yang namanya syarat harus disepakati mayoritas Yurisdiksi. Toh di Nicea I atau Constantinple I hanya sedikit yurisdiksi yang hadir. Kalau si Orthodox memakai standardnya itu maka sebaiknya dia menolak Nicea I dan Constantinople I. 

4. Kalau dia mau menolak Lyons II denga alasan yang hadir hanya Constantinople lalu mengapa dia menerima Konsili Constantinople I padahal hanya dihadiri Patriarkh Antioch dan Constantinople. 

Yang hadir di Florence antra lain: 

Catholic Encyclopedia: The Council of Florence 

... [T]here were present, on the part of the Greeks, Joasaph, the Patriarch of Constantinople; Antonius, the Metropolitan of Heraclea; Gregory Hamma, the Protosyncellus of Constantinople (the last two representing the Patriarch of Alexandria); Marcus Eugenicus of Ephesus; Isidore of Kiev (representing the Patriarch of Antioch); Dionysius, Bishop of Sardes (representing the Patriarch of Jerusalem); Bessarion, Archbishop of Nicaea; Balsamon, the chief chartophylax; Syropulos, the chief ecclesiarch, and the Bishops of Monembasia, Lacedaemon, and Anchielo.


Jadi itu adalah konsili ekumenis yang sah. 

Sejak jaman ketujuh konsili ekumenis pertama, tidak pernah hasil konsili itu sah karena harus diratifikasi klerus-klerus rendah. Bila standard yang diapakai adalah ini maka tentunya Nicea I bisa dianggap bukan konsili ekumenis karena keputusan konsili tersebut ditolak dimana-mana (bahkan Arianisme semakin berkembang setelah Konsili Nicea I).



Persatuan Gereja Ortodox Indonesia 

Beberapa sumber biografi Paus Leo III ditulis agak berbeda, demikian: 

Leo forbade the addition of filioque to the Nicene Creed which was added by Franks in Aachen in 809. He also ordered that the Nicene creed be eng...raved on silver tablets so that his conclusion might not be overturned in the future. He wrote «HAEC LEO POSUI AMORE ET CAUTELA ORTHODOXAE FIDEI» (I, Leo, put here for love and protection of orthodox faith). 

Source: 
http://en.wikipedia.org/wiki/Pope_Leo_III 

Jadi, Kredo Nikea tanpa tambahan "et Filioque" dimaksudkan oleh Paus Leo III untuk menjaga iman yang Orthodox (lurus/benar), demikianlah yang tercatat dalam Tablet Perak tersebut. 

Bagi Gereja Semesta Orthodox, kalaupun Paus Leo III mengakui bahwa "et Filioque" adalah bukan bidat maka tetap tak dapat mewakili ajaran Orthodox yang sepenuhnya, ajaran Orthodox yang sepenuhnya hanya dapat ditentukan melalui Konsili Ekumenis, sedangkan persetujuan Paus Leo III hanya dianggap sebagai pendapat pribadi saja sebagaimana halnya persetujuan Patriakh Konstantinopel pada Konsili Lyons II dan Konsili Florence hanya dianggap sebagai pendapat pribadi dan bukan ajaran Gereja Semesta Orthodox. 

Regard, 
Daniel I F
Persatuan Gereja Ortodox Indonesia 

1) Ya itulah satu-satunya cara untuk menambahkan isi Kredo, dengan cara Konsili Ekumenis, dalam pandangan kami Paus manapun tidak berhak untuk mengubah langsung isi Kredo tanpa adanya Konsili Ekumenis, karena didalam Konsili Ekumenis terdapat pagar-pagar ajaran yang lurus. 

2) Nah itulah sistem Kurialisme yang juga menyebabkan terjadinya Skisma Besar. 

3) Sudah diterangkan sebelumnya bahwa Konsili Lyons II dan Konsili Florence ditolak oleh Sinode Suci Orthodox. 

Dalam Konsili Nikea I dan Konstantinopel I telah diratifikasi oleh semua Gereja Semesta jadi dapat dikategorikan sebagai Konsili Ekumenis. 

Seandainya di Sinode Suci hasil Konsili Lyons II dan Konsili Florence mendapat ratifikasi maka tentu dikatakan sebagai Konsili Ekumenis bagi kami, namun nyatanya adalah ditolak. 

4) Konsili Lyons II dan Konsili Florence bukan ditolak karena YANG HADIR hanya Konstantinopel namun TIDAK DISETUJUI oleh Sinode Suci sebagaimana dikatakan Patriakh Konstantinopel waktu itu bahwa: "Keputusan persetujuan hanya bisa diperoleh melalui Sinode Suci di Timur" namun setelah melalui proses Sinode Suci ternyata hal itu ditolak. 

Hadirnya Representatif belum menunjukkan kesepakatan seluruh yuridiksi. Misalnya jika Kardinal Roma sebagai representatif Paus menyepakati sesuatu dalam Konsili maka belum tentu Paus meratifikasinya, bisa saja ketika disampaikan ke Paus hal itu ditolak, demikianlah gambaran sederhananya. 

Ratifikasi Sinode Suci itu secara umum, bukan hanya klerus rendah melainkan kesepakatan bersama dari klerus biasa sampai para Patriakh. 

Bagi Katolik Roma, Konsili Lyons II dan Florence memang Ekumenis karena sistemnya Kurialisme, sedangkan bagi Orthodox yang Episkopalisme belum dikategorikan sebagai Konsili Ekumenis. 

Regard, 
Daniel I FS 



DeusVult wrote:

Tambahan: 

Aku lupa ini, but, larangan di Konsili Ephesus berkenaan dengan larangan untuk menambah pernyataan iman Konsili Nicea. Nah, kalau larangan ini ditafsirkan berarti "
semua penambahan dilarang" [posisi Orthodox] dan bukannya "penambahan yang sesuai boleh, tapi yang tidak sesuai tidak boleh" [posisi Katolik], maka penggunaan tambahan dari Constantinople I oleh Orthodox dan konsili sesudah Ephesus adalah tindakan yang bertentangan dengan kanon Ephesus

Berikut adalah kanon Ephesus: 

CANON VII 

WHEN these things had been read, the holy Synod decreed that it is unlawful for any man to bring forward, or to write, or to compose a different (eteran) Faith as a rival to that established by the holy Fathers assembled with the Holy Ghost in Nicaea

But those who shall dare to compose a different faith, or to introduce or offer it to persons desiring to turn to the acknowledgment of the truth, whether from Heathenism or from Judaism, or from any heresy whatsoever, shall be deposed, if they be bishops or clergymen; bishops from the episcopate and clergymen from the clergy; and if they be laymen, they shall be anathematized. 

And in like manner, if any, whether bishops, clergymen, or laymen, should be discovered to hold or teach the doctrines contained in the Exposition introduced by the Presbyter Charisius concerning the Incarnation of the Only-Begotten Son of God, or the abominable and profane doctrines of Nestorius, which are subjoined, they shall be subjected to the sentence of this holy and ecumenical Synod. So that, if it be a bishop, he shall be removed from his bishopric and degraded; if it be a clergyman, he shall likewise be stricken from the clergy; and if it be a layman, he shall be anathematized, as has been afore said.


Ini 
diambil dari websitenya Orthodox.



Persatuan Gereja Orthodox Indonesia 

Larangan penambahan pada Kanon 7 adalah yang bersifat pribadi ataupun Konsili Lokal, namun tidak berlaku untuk Konsili Ekumenis, karena otoritas Konsili Ekumenis adalah Extra Ordinary Magisterium yaitu otoritas lua...r biasa tertinggi dalam Gereja Semesta yang merupakan cerminan hati nurani Gereja Semesta (umat dan rohaniwan) sesuai dengan kebenaran Tradisi Rasuli. 

Jadi Hasil Konsili Ekumenis hanya bisa dilengkapi melalui Konsili Ekumenis yang lain. 

Karena itu ketika Paus Roma pada tahun 1054 AD memaksakan "et Filioque" tanpa Konsili Ekumenis maka jelas semua Gereja Semesta menolaknya sehingga terjadilah Skisma Besar, baru setelah itu Paus Roma menggelar Konsili sendiri yang mereka sebut Ekumenis (bagi kami adalah lokal Konsili Roma) bagi penetapan "et Filioque". 

Regard, 
Daniel I FS

DV ………..

1. Tidak masalah apakah Orthodox menganggap filioque bidat atau tidak. Yang penting argumen mereka bahwa Leo III melarang filioque karena itu bidat sudah dibuktikan salah, dan sebaiknya tidak diajukan lagi sebagai dasar sikap anti-filioque oleh Orthodox. Dan di link yang sudah aku kasih sebelumnya dijelaskan secara lebih lengkap dari sumber-sumber yang lebih lengkap tentang alasan Leo II melarang penambahan klausa filioque. 

2. Hanya Gereja Orthodox yang merasa bahwa cuma konsili ekumenis yang mampu merubah syahadat. Terserah. Itu bukan keyakinan Gereja Katolik. Itu adalah doktrin conciliarisme Gereja Orthodox (ie. konsili ekumenis adalah kuasa tertinggi Gereja). Gereja Katolik berkeyakinan bahwa kekuasaan tertinggi Gereja ada pada sang gembala utama yaitu uskup Roma. Suatu konsili menjadi ekumenis karena Paus Roma meratifikasi sebagai konsili ekumenis 

3. Kalau Florence yang ditandatangani oleh para pemimpin Gereja Orthodox yang membawa mandat dari kolega mereka dianggap "pendapat pribadi" maka bisa disimpulkan bahwa tanda tangan para bapa Konsili Nicea I hanyalah pendapat pribadi. Oleh karena itu Nicea I bukanlah konsili ekumenis karena faktanya hasil konsili ini kemudian ditolak oleh berbagai sinode yang diadakan sesudah Nicea I. Tapi toh Orthodox mengakui Nicea I. Jadi sebenarnya mereka menggunakan double standard (alias munafik). Di satu sisi mereka menolak Florence atas alasan bahwa keputusan Florence hanya ditandatangani oleh para wakil Orthodox dan belum disahkan oleh sinode Orthoodx. Tapi disisi lain mereka menerima Nicea I padahal setelah penandatanganan para peserta konsili banyak pihak yang menolak konsili ini dalam sinode-sinode lokal. 

4. Sistem konsiliarisme jelas sama sekali tidak berjalan karena mereka tidak pernah berkonsili ekumenis sejak konsili ekumenis yang ketujuh. Mereka tidak dapat sepakat satu sama lain. Mirip Protestant. Tidak seperti kondisi mereka dahulu (sebelum mereka menjadi Orthodox). 

5. Alasan, "Keputusan persetujuan hanya bisa diperoleh melalui Sinode Suci di Timur" adalah alasan yang dibuat-buat. Lihat point 3. 

6. Doktrin konsiliarisme tidak ada di Kitab Suci dan tidak ada di dekrit konsili ekumenis. Lagipula doktrin konsiliarisme bahwa harus ada persetujuan universal sampai klerus terendah adalah sesuatu yang secara praktis tidak mungkin. Karena sejak Konsili Nicea I selalu ada, tidak hanya klerus-klerus rendah tapi juga uskup-uskup, yang menolak keputusan konsili. Jadi kalau Orthodox mau memakai standard bahwa suatu keputusan konsili ekumenis baru "ekumenis" dan "mengikat" kalau diterima oleh para Patriakrh, Uskup sampai klerus bawah MAKA TIDAK PERNAH TERJADI SATU KONSILI EKUMENIS PUN!!

Asisi

Persatuan Gereja Orthodox Indonesia 

Mengenai Paus Leo III. 
"HAEC LEO POSUI amore ET CAUTELA ORTHODOXAE Fidei" 

"Saya, Leo, menempatkan di sini Prasasti dari Tablet Perak bertuliskan Syahadat Nicea tanpa Filioque, untuk kasih dan perlindungan iman Gereja yang Ortodoks." - Paus L...eo III - 

Paus Leo III dengan jelas sudah memisahkan Syahadat mana yang Orthodox (Benar) dan syahadat mana yang tidak Orthodox (Tidak benar) 
Karena dengan jelas Paus Leo III melarang penambahan filioque kepada Kredo Nicea yang dimulai oleh Frank di Aachen pada tahun 809 

http://en.wikipedia.org/wiki/Pope_Leo_III 

Gereja Orthodox atau Perdana meyakini bahwa bahwa dalam hal-hal Iman keputusan akhir bukan tergantung pada Paus sendiri, tetapi pada Konsili Agung Eukumenis yang diwakili oleh seluruh Episkop Gereja dan kemudian diterima oleh “Hati Nurani” segenap Gereja, termasuk Paus juga, sehingga satu tak ada yang lebih atas dari yang lain. Maka segenap Gereja (Rohaniwan, dan bersama –sama kaum awam) yang harus memberikan keputusan semacam itu. Roh Kudus menuntun dan membimbing segenap Gereja untuk sampai kepada segenap kebenaran , jadi bukan hanya Paus saja yang dibimbing. Dan segenap Gereja itu diwakili oleh segenap Episkopos dan kemudian diterima oleh segenap warga Gereja. 

Karena Kristus adalah satu-satunya kepala Gereja, dan Gereja keseluruhan adalah tubuhNya, maka dalam perkara-perkara keputusan yang menyangkut Iman, segenap Gereja secara serentaklah yang dengan pimpinan Roh Kudus melalui suara bersama dalam Konsili Agung yang dapat menyuarakan kehendak Roh Kudus mengenai kebenaran (Kis 15:28). Sehingga keputusan konsili Eukumenis itu adalah suara segenap Gereja dan apa yang telah diputuskan itu tidaklah dapat diganggu gugat, baik ditambah maupun dikurangi oleh siapapun. Penambahan yang dilakukan oleh Gereja Roma dengan “Filioque” itu, dimata Gereja Timur adalah merupakan pengkhianatan secara langsung terhadap keesaan Gereja dan arti tubuh Kristus, serta pelanggaran terhadap prinsip yang olehnya Muktamar/Konsili Agung Eukumenis itu diadakan. Jadi penambahan Filioque yang dilakukan oleh Gereja Barat tanpa persetujuan bersama itu, telah melanggar akan dogma ekklesiologi. 

Kami balik pernyataan anda, pernyataan anda mengatakan bahwa pada Gereja Perdana Paus Roma-lah pemegang keputusan Konsili, namun dalam kenyataannya ada beberapa kanon dalam Konsili Perdana seperti pada Konsili Konstantinopel yang tidak disetujui oleh Paus Roma menyangkut Konstantinopel diurutan ke dua setelah Uskup Roma, namun karena Keputusan kanon ini diterima oleh seluruh Yuridiksi Kekatolikkan saat itu, maka kesepakatan bersama bahwa Kanon ini dimasukkan ke dalam Hukum Kanon Konsili Konstantinopel. Terlihat di sana bahwa suara Paus Roma sama sekali tidak mempengaruhi keputusan Konsili


Persatuan Gereja Orthodox Indonesia 

1) Ya silahkan saja dianggap begitu, itu hak Katolik Roma, kami memandang dalam sudut yang berbeda. 

2) Sepengetahuan saya di Gereja Katolik Roma, Paus setinggi-tingginya hanya dapat mengeluarkan Ensiklik, yang otori...tasnya satu tingkat dibawah hasil Konsili Ekumenis, yang dianggap Extra Ordinary Magisterium. Apakah ada butir ketetapan yang mengatakan bahwa Ensiklik dapat membatalkan hasil Konsili Ekumenis? 

3) 7 Konsili Ekumenis sudah diratifikasi oleh Gereja Semesta (oleh mayoritas Klerus dari berbagai yuridiksi), yang kemudian disebut sebagai Hati Nurani Gereja. Konsili Florence belum diratifikasi oleh Gereja Semesta. Itulah aturannya, percuma bilang: "Aturan Anda tak sah!" sedangkan Anda tak paham dan tak berada dalam aturan Gereja kami. Suatu negara tak berhak menyatakan aturan negara lain tak sah hanya dengan memandang aturannya sendiri

4) Belum perlu diadakan Konsili Ekumenis kembali karena belum ada permasalahan yang sampai membahayakan Gereja Semesta. Permasalahan Gereja lokal cukup diselesaikan dengan Konsili Lokal, atau jika sifatnya luas (namun tidak sedunia) dan hanya menyangkut isu moral maka cukup dengan Sinode Pan-Orthodox. 

5) Ya itulah kita berbeda dalam aturan sehingga tak bisa aturan Katolik Roma dipaksakan dalam aturan Orthodox. ^_^ 

6) Keputusan konsili memang tidak harus bulat 100% diterima semua individu melainkan mayoritas suara Gereja. Konsep Konsili sudah ada dalam Kis 15 bahwa Roh Kudus secara mutlak berbicara melalui Konsili. 

Selanjutnya untuk Reunifikasi antara Katolik Roma dan Orthodox biarlah kita serahkan saja pada Hierarki yang lebih atas, cukuplah kita mengetahui dimana pandangan yang berbedanya... 

Salam damai Kristus bagi Anda, sahabat Anda, dan seluruh rekan pembaca... 

Regard, 
Daniel Fs

Assisi wrote:


Persatuan Gereja Orthodox Indonesia 

Mengenai Paus Leo III. 
"HAEC LEO POSUI amore ET CAUTELA ORTHODOXAE Fidei" 

"Saya, Leo, menempatkan di sini Prasasti dari Tablet Perak bertuliskan Syahadat Nicea tanpa Filioque, untuk kasih dan perlindungan iman Gereja yang Ortodoks." - Paus L...eo III - 

Paus Leo III dengan jelas sudah memisahkan Syahadat mana yang Orthodox (Benar) dan syahadat mana yang tidak Orthodox (Tidak benar) 
Karena dengan jelas Paus Leo III melarang penambahan filioque kepada Kredo Nicea yang dimulai oleh Frank di Aachen pada tahun 809 

http://en.wikipedia.org/wiki/Pope_Leo_III



Ini sudah ditanggapi. Dan sudah dihadirkan bukti bahwa: 

1. Paus Leo III sendiri tidak menganggap filioque adalah bidah 
2. Penambahan kredo jelas tidak melarang kanon Konsili Ephesus karena kanon Ephesus melarang penambahan kanon Nicea I sementara yang dipakai Gereja kemudian (baik Katolik maupun Orthodox) adalah kredu Nicea I yang DITAMBAH kredo Constantinople I



Quote:

Gereja Orthodox atau Perdana meyakini bahwa bahwa dalam hal-hal Iman keputusan akhir bukan tergantung pada Paus sendiri, tetapi pada Konsili Agung Eukumenis yang diwakili oleh seluruh Episkop Gereja dan kemudian diterima oleh “Hati Nurani” segenap Gereja, termasuk Paus juga, sehingga satu tak ada yang lebih atas dari yang lain. Maka segenap Gereja (Rohaniwan, dan bersama –sama kaum awam) yang harus memberikan keputusan semacam itu. Roh Kudus menuntun dan membimbing segenap Gereja untuk sampai kepada segenap kebenaran , jadi bukan hanya Paus saja yang dibimbing. Dan segenap Gereja itu diwakili oleh segenap Episkopos dan kemudian diterima oleh segenap warga Gereja. 

Karena Kristus adalah satu-satunya kepala Gereja, dan Gereja keseluruhan adalah tubuhNya, maka dalam perkara-perkara keputusan yang menyangkut Iman, segenap Gereja secara serentaklah yang dengan pimpinan Roh Kudus melalui suara bersama dalam Konsili Agung yang dapat menyuarakan kehendak Roh Kudus mengenai kebenaran (Kis 15:28). Sehingga keputusan konsili Eukumenis itu adalah suara segenap Gereja dan apa yang telah diputuskan itu tidaklah dapat diganggu gugat, baik ditambah maupun dikurangi oleh siapapun.



Fakta sejarah menunjukkan bahwa ajaran kalau suara segenap Gereja dalam konsili ekumenis adalah satu-satunya kuasa tertinggi di Gereja adalah adalah ajaran yang salah karena: 

1. Pada faktanya sejak dari awal tidak pernah ada konsili ekumenis dimana seluruh uskup Gereja mencapai kata sepakat. Sebagai fakta, sesudah konsili Nicea I, berbagai synode uskup lokal menghasilkan keputusan yang bertentangan dengan Nicea I dan bahkan meng-anathema anggota Gereja yang mengimani iman Nicea I. Pada konsili Chalcedon Patriarkh Alexandria dicabut suaranya dan hampir seluruh anggota keuskupannya menolak hasil Chalcedon. 

2. Sejak berpisah dengan Gereja Katolik, Orthodox tidak pernah menghasilkan satu konsili ekumenis pun. Kalau dikatakan bahwa tidak ada masalah yang penting, maka itu adalah alasan yang dibuat-buat. Toh karena tidak mampu mengadakan konsili ekumenis Orthodox sampai saat ini tidak memiliki daftar kanon Kitab Suci yang tetap. Disamping itu, meskipun para Orthodox sepakat bahwa Gereja Katolik telah melakukan bidah dengan menambah filioque, tapi faktanya mereka tidak pernah berkonsili ekumenis untuk secara resmi dan khidmat meng-anathema Gereja Katolik yang sesat sebagaimana pada jaman dahulu konsili ekumenis meng-anathema Uskup atau ke-patriarkhan yang sesat. Jadi bukannya Gereja Orthodox tidak memerlukan konsili ekumenis, tapi mereka TIDAK MAMPU berkonsili ekumenis


Quote:

Penambahan yang dilakukan oleh Gereja Roma dengan “Filioque” itu, dimata Gereja Timur adalah merupakan pengkhianatan secara langsung terhadap keesaan Gereja dan arti tubuh Kristus, serta pelanggaran terhadap prinsip yang olehnya Muktamar/Konsili Agung Eukumenis itu diadakan. Jadi penambahan Filioque yang dilakukan oleh Gereja Barat tanpa persetujuan bersama itu, telah melanggar akan dogma ekklesiologi.



Konsili Ephesus melarang penambahan Kredo Nicea I tapi Gereja Orthodox menggunakan Kredo Nicea I yang ditambah dengan Kredo Constantinople I. Jadi Gereja Orthodox juga melanggar larangan Ephesus karena menambah kredo Nicea I. Oleh karena itu kanon Ephesus yang melarang penambahan kredo tidak bisa diartikan sebagai penambahan "kata" tapi pelarangan terhadap penambahan "iman yang tidak sesuai" dengan kredo Nicea I


Quote:

Kami balik pernyataan anda, pernyataan anda mengatakan bahwa pada Gereja Perdana Paus Roma-lah pemegang keputusan Konsili, namun dalam kenyataannya ada beberapa kanon dalam Konsili Perdana seperti pada Konsili Konstantinopel yang tidak disetujui oleh Paus Roma menyangkut Konstantinopel diurutan ke dua setelah Uskup Roma, namun karena Keputusan kanon ini diterima oleh seluruh Yuridiksi Kekatolikkan saat itu, maka kesepakatan bersama bahwa Kanon ini dimasukkan ke dalam Hukum Kanon Konsili Konstantinopel. Terlihat di sana bahwa suara Paus Roma sama sekali tidak mempengaruhi keputusan Konsili.



Ini keliru. 

Konsili Constantinople (381AD) adalah konsili lokal yang bahkan tidak diikuti oleh seluruh Gereja Timur (sementara pihak Gereja Barat bahkan sama sekali tidak ada). Menurut Orthodox sendiri, konsili Constantinople I baru menjadi Konsili ekumenis setelah diangkat statusnya pada Konsili Chalcedon (451AD). Itupun yang diakui ke-ekumenisannya cuma kredo yang dihasilkan Constantinople I. 

Nah, pada konsili Chalcedon ada pihak-pihak yang ingin mengangkat status Keuskupan Constantinople menjadi yang kedua setelah Roma. Maka setelah konsili selesai [ie.para utusan Roma pulang], mereka ini mengeluarkan kanon 28 yang mengatakan bahwa Keuskupan Constantinople adalah yang kedua setelah Roma dengan merujuk kepada kanon konsili Constantinople I. Mereka ingin agar kanon ini mendapat pengesahan dari konsili ekumenis. 

Karena wakil Roma sudah pulang, mereka kemudian mengirimkan keputusan ini kepada Paus Leo I untuk mendapat pengesahan. Tapi kemudian oleh Paus Leo kanon 28 tersebut ditolak mentah-mentah. Patut dicatat bahwa Paus Leo I adalah seorang Paus yang dipuja oleh Gereja Orthodox. Dia dianggap sebagai Bapa Gereja, seorang Santo dan merupakan sedikit orang yang mendapat gelar Agung menurut Orthodox sekalipun. Tidak hanya itu, hari pesta Paus Leo I juga dirayakan di kalender liturgis Gereja-Gereja Orthodox. 

Alasan Paus Leo I menolak kanon 28 yang mengangkat posisi keuskupan Constantinople adalah bahwa kanon semacam itu akan melanggar ketetapan kanon Nicea I (ie. kanon 6) dimana dikatakan bahwa para Patriakrh Roma, Alexandria dan Antiokia memiliki yurisdiksi terhadap keuskupan dibawahnya. Sementara Keuskupan Constantinople sendiri berada dibawah yurisdiksi Kepatriarkhan Alexandria!! 

Jadi pengangkatan Keuskupan Constantinople menjadi yang kedua setelah Roma akan melangkahi Kepatriarkhan Alexandria. Fakta sejarah pun membuktikan bahwa sejak Kaisar Constantine memindahkan ibukota kekaisaran dari Roma ke Constantinople, Keuskupan Constantinople selalu berusaha menaikkan derajatnya sementara baik Ke-patriakrhan Alexandria maupun Roma sama-sama melawan kesombongan Keuskupan Constantinople. Bahkan pada Konsili Ephesus (431AD) ke-patriarkh-an Alexandria memperoleh justifikasi terhadap kesombongan Keuskupan Konstantinople yang dibawahinya karena pada konsili itu Uskup Constantinople dan bawahannya dikutuk oleh Patriakrh Alexandria Santo Cyril dari Alexandria dengan dukungan dari Roma. 

Namun setelah Konsili Chalcedon, lambat laun Keuskupan Constantinople diangkat menjadi yang kedua setelah Roma. Tapi harus diingat bahwa pengangkatan ini baru terjadi jauh setelah Konsili Constantinople I maupun konsili Chalcedon (tepatnya pada Konsili Constantinople IV pada 869AD) 


Jadi singkatnya, keputusan Paus Roma untuk tidak mengakui kanon Konsili Constantinople I diakui oleh semua pihak, paling tidak sampai beberapa waktu setelah Konsili Chaldeon pada 451AD. 


Quote:

Persatuan Gereja Orthodox Indonesia 

1) Ya silahkan saja dianggap begitu, itu hak Katolik Roma, kami memandang dalam sudut yang berbeda.



Dan fakta sejarah, baik dari Bapa Gereja Barat maupun Timur, menunjukkan bahwa pandangan Gereja Roma-lah yang benar


Quote:

2) Sepengetahuan saya di Gereja Katolik Roma, Paus setinggi-tingginya hanya dapat mengeluarkan Ensiklik, yang otori...tasnya satu tingkat dibawah hasil Konsili Ekumenis, yang dianggap Extra Ordinary Magisterium. Apakah ada butir ketetapan yang mengatakan bahwa Ensiklik dapat membatalkan hasil Konsili Ekumenis?



Hasil konsili ekuemenis bisa berupa dogma dan bisa berupa tindakan disipliner. Dogma jelas tidak bisa dirubah karena dogma adalah kebenaran yang kekal. Sehingga Paus tidak bisa mengubah dogma hasil konsili ekuemnis BUKAN KARENA DOGMA ITU DIHASILKAN KONSILI EKUMENIS tapi karena dogma itu adalah pernyataan kebenaran yang tidak bisa dirubah. 

Namun untuk masalah disipiner, Paus mempunyai kuasa untuk merubah dekrit konsili ekumenis

COUNCIL OF FLORENCE 

Laetentur Coeli (decree of unions with the Greeks) 

We also define that the holy apostolic see and the Roman pontiff holds the primacy over the whole world and the Roman pontiff is the successor of blessed Peter prince of the apostles, and that he is the true vicar of Christ, the head of the whole church and the father and teacher of all Christians, and to him was committed in blessed Peter the full power of tending, ruling and governing the whole church, as is contained also in the acts of ecumenical councils and in the sacred canons. 


FIRST COUNCIL OF VATICAN 

Pastor Aeternus 

8. Since the Roman Pontiff, by the divine right of the apostolic primacy, governs the whole Church, we likewise teach and declare that he is the supreme judge of the faithful [52], and that in all cases which fall under ecclesiastical jurisdiction recourse may be had to his judgment [53]. The sentence of the Apostolic See (than which there is no higher authority) is not subject to revision by anyone, nor may anyone lawfully pass judgment thereupon [54]. And so they stray from the genuine path of truth who maintain that it is lawful to appeal from the judgments of the Roman pontiffs to an ecumenical council as if this were an authority superior to the Roman Pontiff.
 



KONSILI FLORENCE 

Laetentur Coeli (dekrit persekutuan dengan pihak Yunani) 

Kami juga mendefinisikan bahwa tahta apostolik kudus dan Paus Roma memegang keutamaan atas seluruh dunia dan [bahwa] Paus Roma adalah penerus dari Petrus terberkati sang pangeran rasul, dan bahwa dia adalah wakil Kristus sejati, kepala dari seluruh Gereja dan bapa dan guru dari semua umat Kristen, dan dalam Petrus yang terberkati kepadanya [ie. Paus Roma] diberikan kuasa penuh untuk menggembalakan, memerintah dan mengatur seluruh Gereja, sebaimana terkandung dalam akta-akta konsili-konsili ekumenis dan kanon-kanon keramat. 


KONSILI VATIKAN YANG PERTAMA 

Pastor Aeternus 

8. Karena Paus Roma, berkat hak ilahi atas keutamaan apostolik, memerintah seluruh Gereja, kami olehnya mengajarkan dan mendeklarasikan bahwa dia adalah hakim utama para umat beriman [52], dan bahwa dalam semua kasus yang berada dalam yurisdiksi gerejawi [umat beirman boleh meminta] keputusannya [53]. Keputusan dari Tahta Apostolik (yang darinya tidak ada otoritas yang lebih tinggi) tidak dapat direvisi oleh siapapun ataupun bisa dihakimi secara sah oleh siapapun [54]. Oleh karena itu mereka telah tersesat dari jalan kebenaran bila mereka meyakini bahwa adalah sah untuk banding dari keputusan-keputusan Paus Roma kepada suatu konsili ekumenis seakan-akan konsili ekumenis ini adalah suatu otoritas yang superior dari Paus Roma.


Lalu juga ada keputusan kuno berikut (lihat tanggalnya): 

ST BONIFACE I 418-422 

The Primacy and Infallibility of the Roman Pontiff 

[From the epistle (13) "Retro maioribus tuis" to Rufus, Bishop of Thessaly, March 11, 422] 

(2) . . . To the Synod [of Corinth]. . . . . we have directed such writings that all the brethren may know. . . . . that there must be no withdrawal from our judgment. For it has never been allowed that that be discussed again which has once been decided by the Apostolic See. 


(2) . . . Kepada Sinode [di Korintus]. . . . . kami telah mengarahkan suatu tulisan-tulisan sehingga semua saudara menjadi tahu. . . . . bahwa haruslah tidak ada penarikan dari keputusan kami. Karena tidaklah pernah diijinkan untuk mendiskusikan kembali apa yang sudah diputuskan oleh Tahta Apostolik.


Surat yang bernada sangat otoritatif ini ditujukan kepada Uskup-uskup di daerah yang bukan ke-Patriarkh-an Roma [ie. Korintus]. Ini menunjukkan bahwa Paus jaman dahulu sadar akan kuasanya atas seluruh Gereja Katolik. Surat Paus St. Boniface I lebih keras karena dia secara eksplisit mengatakan bahwa apa yang diputuskan oleh Tahta Apostolik (ie. Roma) adalah final dan tidak diijinkan untuk didiskusikan kembali


Quote:

3) 7 Konsili Ekumenis sudah diratifikasi oleh Gereja Semesta (oleh mayoritas Klerus dari berbagai yuridiksi), yang kemudian disebut sebagai Hati Nurani Gereja. Konsili Florence belum diratifikasi oleh Gereja Semesta. Itulah aturannya, percuma bilang: "Aturan Anda tak sah!" sedangkan Anda tak paham dan tak berada dalam aturan Gereja kami. Suatu negara tak berhak menyatakan aturan negara lain tak sah hanya dengan memandang aturannya sendiri.



Aturan Gereja Orthodox adalah aturan yang mendua. 

Disatu sisi mereka menerima keputusan ketujuh konsili ekumenis yang BERDASARKAN FAKTA SEJARAH tidak disepakati oleh SELURUH Gereja dan ditolak oleh berbagai Gereja, tapi mereka menolak keputusan Konsili Florence dengan alasan yang sama. 


Jadi ini bukan masalah "aturanku dan aturanmu." Tapi masalah ke-mendua-an. Masalah hypocrisy


Quote:

4) Belum perlu diadakan Konsili Ekumenis kembali karena belum ada permasalahan yang sampai membahayakan Gereja Semesta. Permasalahan Gereja lokal cukup diselesaikan dengan Konsili Lokal, atau jika sifatnya luas (namun tidak sedunia) dan hanya menyangkut isu moral maka cukup dengan Sinode Pan-Orthodox.



Alasan "belum perlu konsili ekumenis karena belum ada permasalahan yang membahayakan Gereja semesta" adalah alasan yang dibuat-buat. 

Sudah dijelaskan diatas bagaimana sampai sekarang Orthodox tidak mempunyai kanon Kitab Suci yang baku karena mereka tidak mampu berkonsili ekumenis. Bahkan mereka juga tidak pernah secara baku meng-anathema "kesesatan" Gereja Roma dalam suatu konsili ekumenis meskipun mereka semua sepakat bahwa Roma telah jatuh ke dalam bidah. 

Sudah berlangsung 1,200 tahun lebih sejak Orthodox tidak melakukan konsili ekumenis. Padahal pada 800 tahun pertama sudah ada tujuh kali konsili ekumenis. 

Kesimpulannya, Orthodox memang tidak bisa berkonsili ekumenis

Quote:

5) Ya itulah kita berbeda dalam aturan sehingga tak bisa aturan Katolik Roma dipaksakan dalam aturan Orthodox. ^_^



Masalahnya sebenarnya bukan beda aturan. Karena kalaupun memakai aturannya Orthodox sendiri, mereka terbukti telah bertindak melanggarnya dan tidak konsisten


Quote:

6) Keputusan konsili memang tidak harus bulat 100% diterima semua individu melainkan mayoritas suara Gereja. Konsep Konsili sudah ada dalam Kis 15 bahwa Roh Kudus secara mutlak berbicara melalui Konsili.

Mayoritas itu yang bagaimana? Beberapa waktu setelah konsili Nicea I selesai mayoritas Uskup malahan menolak iman Nicea I dan memeluk Arianisme. 

Sementara pada Konsili Florence SELURUH Patriakrh termasuk SULURUH Uskup yang hadir di konsili tersebut menyetujui hasil konsili, KECUALI SATU. Bandingkan dengan Nicea I yang disetujui seluruh Uskup yang hadir, KECUALI DUA. 

Konsep supremasi Paus juga ada di Kitab Suci (Mat 16:18-19, Yohanes 21:15-17, Luk 22:32) termasuk di Kis 15 dimana terlihat peran kepemimpinan Petrus di konsili Jerusalem tersebut.

Asisi …..

Persatuan Gereja Orthodox Indonesia 

1-2) Ya itu sudut pandang bagi Katolik Roma, semua data yang ditampilkan adalah Konsili Roma setelah Skisma Besar. Kami memiliki interpretasi yang berbeda pada tulisan Bapa Gereja. 

3) Konsili Ekumenis terbukti dirat...ifikasi oleh Gereja Semesta. Saya tidak pernah bilang bahwa Konsili harus 100% diterima seluruh Individu, namun cukup diterima/diratifikasi oleh mayoritas Gereja Semesta. 

4) Silahkan saja berpendapat demikian, hal itu tidak mengubah alasan kami. 

5-6) Berapa peserta Gereja Timur pada Konsili Nikea I? dan berapa peserta Gereja Timur pada Konsili Florence? 

Konsili Ekumenis Nikea I, 
The participating bishops were given free travel to and from their episcopal sees to the council, as well as lodging. These bishops did not travel alone; each one had permission to bring with him two priests and three deacons; so the total number of attendees could have been above 1800. 

Source: 
http://en.wikipedia.org/wiki/First_Council_of_Nicea 

Sekitar 1800 undangan, 1000 kepada Gereja Timur dan 800 kepada Gereja Barat telah disebarkan, lebih dari 1800 perwakilan Hierarki melakukan Konsili. 

Konsili Florence, 

Dihadiri oleh 23 Uskup Gereja Timur... 

Jelas jumlah yang sedikit belum mewakili Gereja Semesta. Lagipula delegasi Gereja Timur sudah menyatakan bahwa: hasil Konsili ini akan diratifikasi kembali dalam Sinode Kudus Gereja Timur baru keputusan dari Gereja Orthodox dapat disebut hati nurani Gereja. Anda berkata dengan jelas "setelah Konsili selesai" mereka menolak berarti memang hasil Konsili sudah diratifikasi Gereja Semesta dan kemudian baru penyesatan berkembang. 

Regard, 
Daniel Fs

Assisi wrote:


Persatuan Gereja Orthodox Indonesia 

1-2) Ya itu sudut pandang bagi Katolik Roma, semua data yang ditampilkan adalah Konsili Roma setelah Skisma Besar. Kami memiliki interpretasi yang berbeda pada tulisan Bapa Gereja.



Data yang mana


Quote:

3) Konsili Ekumenis terbukti dirat...ifikasi oleh Gereja Semesta. Saya tidak pernah bilang bahwa Konsili harus 100% diterima seluruh Individu, namun cukup diterima/diratifikasi oleh mayoritas Gereja Semesta.



Mayoritas? 

Mengapa setelah Konsili NIcea I selesai mayoritas Uskup menolaknya? Tidak hanya itu, para Uskup Arian mengutuk dan mengasingkan Uskup non-Arian termasuk St. Athanasius


Quote:

4) Silahkan saja berpendapat demikian, hal itu tidak mengubah alasan kami.



Alasan-alasannya tidak sesuai dengan sejarah dan iman para Bapa Gereja


Quote:

5-6) Berapa peserta Gereja Timur pada Konsili Nikea I? dan berapa peserta Gereja Timur pada Konsili Florence? 

Konsili Ekumenis Nikea I, 
The participating bishops were given free travel to and from their episcopal sees to the council, as well as lodging. These bishops did not travel alone; each one had permission to bring with him two priests and three deacons; so the total number of attendees could have been above 1800. 

Source: 
http://en.wikipedia.org/wiki/First_Council_of_Nicea 

Sekitar 1800 undangan, 1000 kepada Gereja Timur dan 800 kepada Gereja Barat telah disebarkan, lebih dari 1800 perwakilan Hierarki melakukan Konsili. 

Konsili Florence, 

Dihadiri oleh 23 Uskup Gereja Timur... 

Jelas jumlah yang sedikit belum mewakili Gereja Semesta. Lagipula delegasi Gereja Timur sudah menyatakan bahwa: hasil Konsili ini akan diratifikasi kembali dalam Sinode Kudus Gereja Timur baru keputusan dari Gereja Orthodox dapat disebut hati nurani Gereja. Anda berkata dengan jelas "setelah Konsili selesai" mereka menolak berarti memang hasil Konsili sudah diratifikasi Gereja Semesta dan kemudian baru penyesatan berkembang. 

Regard, 
Daniel Fs



Memangnya Gereja Semesta itu hanya "Gereja Timur?" Kesombongan dari mana ini? 

Pada Nicea I hanya ada DUA (mungkin tiga) pihak Barat. Pada Constantinople I SAMA SEKALI TIDAK ADA pihak Barat. Berarti apakah sah-sah saja bagi Gereja barat untuk menolak Konsili NIcea I dan Constantinople I (not to mention kelima konsili ekumeni lainnya dimana pihak Barat amat sangat sedikit, bahkan kurang dari lima). 

Apakah Orthodox mau bersatu dengan Gereja Barat yang menolak Nicea I dan Constantinople I dengan alsan bahwa Uskup Barat hanya sedikit yang hadir? 

Belajaralah sejarah. Lihat tulisan Bapa Gereja. Dari situ terpukti without a doubt bahwa Gereja Orthodox telah tersesat.

DV, tanggapanmu diatas yang poin 5-6 belum dijawab, dan poin 1-2 aku minta PGOI menuliskan data pandangan Bapa2 Gereja sebelum Skisma yang menurut mereka tidak sesuai dengan pandangan fillioque. 

But btw, ini ada pandangan Ortodox mengenai Supremasi Paus, dan aku membutuhkan pandanganmu : 

Persatuan Gereja Orthodox Indonesia 

Pada umumnya untuk mendukung akidah Supremasi Mutlak tersebut Gereja Roma mendasarkan pada ayat Mat 16:18 yang digunakan untuk membuktikan bahwa Rasul Petrus adalah batu karang Gereja, benarkah demikian? Mari kita tinjau menurut pandangan Gereja Orthodox, 

Mat 16:18 

18. καγ
δέ σοι λέγω τι σ ε Πέτρος κα π ταύτ τ πέτρ οκοδομήσω μου τν κκλησίαν κα πύλαι δου ο κατισχύσουσιν ατς. 

18. Kago de soi lego [Aku berkata kepadamu] oti su ei [bahwa engkau adalah] Petros [Petrus] kai epi taute te petra [dan atas batu karang ini] oikodomeso [Aku akan membangun] mou ten ekklesian [GerejaKu] kai pulai [dan gerbang] adou [Hades] ou katischusousin autes [tidak akan menguasainya]. 

18. Dan Akupun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya. 

Sekarang marilah kita tinjau kata “πέτρ
” (petra, batu karang) yang digunakan dalam Mat 16:18, kata yang digunakan dalam Mat 16:18 ternyata memiliki sifat Noun-Dative Singular Feminine, seharusnya jika Yesus Kristus memang bermaksud untuk mengacu pada pribadi Rasul Petrus seorang maka kata yang digunakan haruslah bersifat Masculine (bagi laki-laki), karena jenis kata yang digunakan Feminine (bagi perempuan) maka hal ini bukanlah merujuk kepada Petrus secara pribadi yang adalah laki-laki. 

Yesus Kristus tidak pernah menilai Rasul Petrus secara pribadinya, namun berdasarkan apa yang dikatakannya, mari kita tinjau masih dalam ayat perikop yang sama berikut ini: 

Mat 16:23 

23. Maka Yesus berpaling dan berkata kepada Petrus: "Enyahlah Iblis. Engkau suatu batu sandungan bagi-Ku, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia." 

Bagaimana mungkin pada ayat sebelumnya Petrus dikatakan sebagai “batu karang Gereja” dan sekarang dikatakan sebagai “batu sandungan”? dengan demikian Pengakuan Iman Rasul Petruslah yang menjadi batu karang Gereja dan perkataan sembrono Rasul Petruslah yang menjadi batu sandungan. 

Jadi Pengakuan Iman apakah yang menjadi “batu karang Gereja” itu? Tentu kita harus melihat pada pernyataan Rasul Petrus sebelumnya, yaitu: 

Mat 16:16 

16. Maka jawab Simon Petrus: "Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!" 

Pernyataan Rasul Petrus pada Mat 16:16 ternyata sesuai dengan kaidah Kitab Suci yang menyatakan bahwa batu karang itu adalah Kristus [sesuai dengan Pernyataan Iman Rasul Petrus pada Mat 16:16] 

1Kor 10:4 

4. dan mereka semua minum minuman rohani yang sama, sebab mereka minum dari batu karang rohani yang mengikuti mereka, dan batu karang itu ialah Kristus. 

Dengan demikian, maka ayat-ayat dalam Kitab Suci dapat berjalan secara harmonis. 

II. Kesaksian Tradisi Rasuli: Bapa Gereja 

Setelah kita mengetahui dalam kajian diatas bahwa gramatika Kitab Suci tidak memungkinkan untuk menggunakan kata “petra” (feminine) pada Petrus (masculine) maka pernyataan Bapa Gereja yang seakan-akan mengacu pada Rasul Petrus sebagai batu karang harus dipahami sebagai suatu jargon yang mewakili Pengakuan Iman Rasul Petrus. Kesaksian dari beberapa Bapa Gereja [seluruhnya diajarkan oleh 44 Bapa Gereja telah menyatakan hal yang sama] tentang hal itu adalah sebagai berikut: 

“Batu karang adalah kesatuan iman, bukan pribadi Petrus”. 

[St.Cyprian dari Karthage tahun 258 AD dalam De Catholicae Ecclesiae Unitate,Cap. 4-5] 

“Diatas batu karang ini Aku akan membangun. Ini adalah diatas Pengakuan Iman.” 

[St.Khrysostomos. Hom.54,Patrologia Grecae.58:518.Col.534] 

“Kristus, sebagaimana engkau ketahui, membangun GerejaNya bukan pada seorang manusia namun pada pengakuan Petrus. Apakah yang diakui oleh Petrus? Engkaulah Kristus, Putera dari Allah yang hidup.” 

[St.Augustine Works. New Rochelle: New City Press, 1993,P.327] 

“Kemudian, Iman adalah dasar Gereja, sebab hal itu tidak dikatakan pada daging Petrus, namun pada imannya, bahwa gerbang-gerbang Hades tidak akan menguasainya. Namun Pengakuan Imannya telah mengalahkan Hades.” 

[Ambrose. The Sacrament Of The Incarnation Of Our Lord. 4.32-5.35] 

“Kemudian Tuhan berkata kepadanya: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya. Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Sorga. Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga. Jadi Petrus adalah yang pertama menerima kuasa untuk mengikat dan melepaskan, dan ia yang pertama memimpin orang-orang kepada iman oleh kuasa khotbahnya. Namun juga, para rasul yang lain telah dibuat setara/sederajat (equal) dengan Petrus dalam suatu hubungan yang dihormati dan berkuasa.” 

[Isidore Of Seville, The Church, 2,5] 

“Engkau adalah Petrus, dan atas batu karang ini yang mana engkau telah menerima namamu, itulah, atas DiriKu Sendiri, Aku akan mendirikan GerejaKu. Diatas iman yang sempurna ini, yang mana engkau telah akui, Aku akan mendirikan GerejaKu.” 

[St.Bede.Homily I.165.Homilies On The Gospels.163] 

Demikianlah Gereja Orthodox selanjutnya memahami jargon-jargon tulisan Bapa Gereja yang menghubungkan antara Petrus dan batu karang secara langsung [hanya ditemui 17 kali dalam kutipan Bapa Gereja saja dan sebagian sudah dijelaskan pada tulisan beliau yang lain bahwa yang dimaksud adalah Pengakuan Iman Petrus]. Gereja Orthodox tidak pernah mengingkari Primasi Gereja Roma sebagai kakak tertua yang patut dihormati (Primus Interpares), namun menolak Supremasi Mutlak yang diterapkan oleh Gereja Roma kepada Gereja-Gereja Yuridiksi lain. Demikianlah, semoga kita dapat saling mengerti dan memahami sehingga Persatuan Gereja dapat segera terwujud

Persatuan Gereja Orthodox Indonesia 

Kanon ke 6 Konsili Nicea 
Biarkan kebiasaan kuno di Mesir, Libya dan Pentapolis berlaku, bahwa Uskup Aleksandria memiliki Kuasa atas semua wilayah yurisdiksinya , karena seperti itu juga tradisi untuk Uskup Roma atas semua wilayahnya. Demikia...n juga di Antiokhia dan provinsi lain, membiarkan Gereja-gereja mempertahankan hak-hak mereka. Dan secara universal dipahami, bahwa jika ada orang yang akan menjadi uskup tanpa persetujuan Metropolitan, Sinode besar telah menyatakan bahwa manusia seperti ini seharusnya tidak menjadi uskup. Namun, jika dua atau tiga orang uskup dalam kasih mengalami perbedaan pendapat, menuntut hak pemilihan umum, itu menjadi wajar dan sesuai dengan hukum gerejawi, kemudian membiarkan pilihan mayoritas berlaku. 

http://www.ccel.org/ccel/schaff/npnf214.vii.vi.viii.html 

Jadi pernyataan Katolik Roma bahwa Paus Roma berkuasa atas semua Gereja di dunia ini adalah tidak benar dan menghianati Kanon Konsili yang ditetapkan oleh Bapa Gereja mula-mula di Nicea, artinya melanggar Kanon Suci dan Tradisi Suci. 

"Barang siapa yang ingin dalam keselamatan harus tunduk pada kekuasaan Paus Roma." - Unam Sanctam, Pernyataan Katolik Roma mengenai kekuasaan mutlak Paus Roma

Ini tulisan Ortodox mengenai pandangan Tertulianus dan Origenes


1. Tertulianus 
"I believe that the Spirit proceeds not otherwise than from the Father through the Son" (Against Praxeas 4:1 [ca. A.D. 220]) 
"Roh Kudus tidak keluar selain dari Bapa, melalui Anak." 

Tertulianus tidak berpendapat Roh Kudus Keluar dari Bapa dan Anak, melainkan Tertulianus masih berpegangan kepada Injil Yohanes bahwa Roh Kudus keluar hanya dari Bapa dan diutus oleh anak (melalui anak) 

2. Origen 
“We believe, however, that there are three persons: the Father and the Son and the Holy Spirit; and ...we believe none to be unbegotten except the Father. We admit, as more pious and true, that all things were produced through the Word, and that the Holy Spirit is the most excellent and the first in order of all that was produced by the Father through Christ" (Commentaries on John 2:6 [ca. A.D. 277])" 

"Kami percaya, bagaimanapun, bahwa ada tiga hakekat: Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan kami percaya tidak akan ada yang dikeluarkan kecuali dari Bapa. Kami mengakui, dengan kesalehan dan kebenaran, bahwa segala sesuatu telah dihasilkan melalui Firman, dan bahwa Roh Kudus adalah yang paling baik dan yang pertama dalam urutan semua yang dikeluarkan oleh Bapa melalui Kristus." 

Sekali lagi disebutkan bahwa Roh Kudus hanya dikeluarkan oleh Bapa melalui Perutusan Kristus. 

(but btw keduanya bukan Santo, mohon tanggapanmu bro DV)

sedikit pemikiran dariku, 

Orthodox sudah membuat semacam tuduhan bahwa Roma merekayasa pandangan2 St Agustinus. 

Aku memahami bahwa dalam hal dogma, EDO harus keras, dan memang bukan karena benci, justru karena Kasih, karena umat Katolik yang kurang mau belajar akan sangat mudah terjerumus, mulai dari pemahaman Atheis, Islam, Protestan, dan tingkatan tertinggi adalah Skisma Orthodox. 

dan orang sulit menerima kekerasan dan kekakuan dalam menyampaikan dogma sebagai wujud Kasih. tapi jujur aku sendiri belum mampu menyampaikan dengan gaya EDO.

Asisi wrote:


1. Tertulianus 
"I believe that the Spirit proceeds not otherwise than from the Father through the Son" (Against Praxeas 4:1 [ca. A.D. 220]) 
"Roh Kudus tidak keluar selain dari Bapa, melalui Anak." 

Tertulianus tidak berpendapat Roh Kudus Keluar dari Bapa dan Anak, melainkan Tertulianus masih berpegangan kepada Injil Yohanes bahwa Roh Kudus keluar hanya dari Bapa dan diutus oleh anak (melalui anak) 

2. Origen 
“We believe, however, that there are three persons: the Father and the Son and the Holy Spirit; and ...we believe none to be unbegotten except the Father. We admit, as more pious and true, that all things were produced through the Word, and that the Holy Spirit is the most excellent and the first in order of all that was produced by the Father through Christ" (Commentaries on John 2:6 [ca. A.D. 277])" 

"Kami percaya, bagaimanapun, bahwa ada tiga hakekat: Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan kami percaya tidak akan ada yang dikeluarkan kecuali dari Bapa. Kami mengakui, dengan kesalehan dan kebenaran, bahwa segala sesuatu telah dihasilkan melalui Firman, dan bahwa Roh Kudus adalah yang paling baik dan yang pertama dalam urutan semua yang dikeluarkan oleh Bapa melalui Kristus." 

Sekali lagi disebutkan bahwa Roh Kudus hanya dikeluarkan oleh Bapa melalui Perutusan Kristus.



Kayanya orang Orthodox cuman mengada2 cari alasan deh. Dari sejak dulu bahkan Bapa2 Gereja Timur juga menegaskan Roh Kudus berasal dari Bapa dan Putra. 

The Athanasian Creed 
"[W]e venerate one God in the Trinity, and the Trinity in oneness. . . . The Father was not made nor created nor begotten by anyone. The Son is from the Father alone, not made nor created, but begotten. The Holy Spirit is from the Father and the Son, not made nor created nor begotten, but proceeding" (Athanasian Creed [A.D. 400]). 

Epiphanius of Salamis 
"The Father always existed and the Son always existed, and the Spirit breathes from the Father and the Son" 

http://www.catholic.com/library/Filioque.asp

JAWAB DV …………….

Setelah lama absen yang ingin aku lakukan dahulu adalah meneruskan yang ini


Assisi wrote:

DV, tanggapanmu diatas yang poin 5-6 belum dijawab, dan poin 1-2 aku minta PGOI menuliskan data pandangan Bapa2 Gereja sebelum Skisma yang menurut mereka tidak sesuai dengan pandangan fillioque. 

But btw, ini ada pandangan Ortodox mengenai Supremasi Paus, dan aku membutuhkan pandanganmu : 

Persatuan Gereja Orthodox Indonesia 

Pada umumnya untuk mendukung akidah Supremasi Mutlak tersebut Gereja Roma mendasarkan pada ayat Mat 16:18 yang digunakan untuk membuktikan bahwa Rasul Petrus adalah batu karang Gereja, benarkah demikian? Mari kita tinjau menurut pandangan Gereja Orthodox, 

Mat 16:18 

18. καγ
δέ σοι λέγω τι σ ε Πέτρος κα π ταύτ τ πέτρ οκοδομήσω μου τν κκλησίαν κα πύλαι δου ο κατισχύσουσιν ατς

18. Kago de soi lego [Aku berkata kepadamu] oti su ei [bahwa engkau adalah] Petros [Petrus] kai epi taute te petra [dan atas batu karang ini] oikodomeso [Aku akan membangun] mou ten ekklesian [GerejaKu] kai pulai [dan gerbang] adou [Hades] ou katischusousin autes [tidak akan menguasainya]. 

18. Dan Akupun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya. 

Sekarang marilah kita tinjau kata “πέτρ
(petra, batu karang) yang digunakan dalam Mat 16:18, kata yang digunakan dalam Mat 16:18 ternyata memiliki sifat Noun-Dative Singular Feminine, seharusnya jika Yesus Kristus memang bermaksud untuk mengacu pada pribadi Rasul Petrus seorang maka kata yang digunakan haruslah bersifat Masculine (bagi laki-laki), karena jenis kata yang digunakan Feminine (bagi perempuan) maka hal ini bukanlah merujuk kepada Petrus secara pribadi yang adalah laki-laki.


Ini adalah argumen kuno Protestant. Dan sungguh memprihatinkan bagaimana argumen Protestant ini digunakan oleh seorang Orthodox, pewaris budaya Yunani. Orang dengan pengetahuan budaya Yunani seharusnya tahu bahwa argumen ini sangat menggelikan. 

Kata "petra" digunakan karena untuk kata benda alam (ie. batu) aturan tata bahasa Yunani mengatakan bahwa jenis kelamin dari kata benda alam itu adalah wanita/feminine. Maka untuk "batu" dipakailah kata "petra" yang merupakan kata Yunani untuk batu yang gendernya wanita/feminine. 

Sementara itu Simon Bin Jonah adalah seorang laki-laki. Maka tentunya kata "batu" yang digunakan harus berjenis kelamin laki-laki, yaitu "Petros." 

Jadi perbedaan "petra" dan "petros" di Mat 16:18 adalah murni masalah aturan tata bahasa Yunani (yang seharusnya diketahui oleh Orthodox, paling tidak Orthodox Yunani). 

Namun, yang lebih penting adalah fakta bahwa nama "Petros" (Yunani) "Petrus" (Indonesia) atau "Peter" (Inggris) atau "Pierre" (Perancis) atau "Pedro" (Spanyol) atau "Pietro" (Italia) dst sebenarnya tidak pernah ada. Simon Bin Jonah tidak diberi nama Petros, Petrus, Peter, Pierre dst. Nama yang diberikan Yesus kepada Simon Bin Jonah adalah "Kefas." Sebuah kata bahasa Aramaik yang berarti "batu." Petros, Petrus, Peter, Pierre dst adalah TERJEMAHAN dari "Kefas." 

Teman-teman dekat dan teman Yahudi Simon Bin Jonah sendiri memanggil dia dengan sebutan "Kefas" (Yoh 1:42, 1 Kor 15:5, Gal 1:18 dll). 

Bahasa ibu (lingua franca) dari Yesus dan para muridNya adalah Aramaik (di film Passion of The Christ, para karakter Yahudi menggunakan bahasa Aramaik kecuali pada saat berbicara dengan orang Romawi [dalam beberapa adegan, serdadu Romawi juga berbicara dengan orang Yahudi dalam bahasa Aramaik]). Dalam kesehariannya bahasa yang digunakan Yesus dan murid-muridNya adalah Aramaik. 

Oleh karena itu segala argumen bahasa Yunani adalah argumen yang konyol karena Yesus tidak menggunakan bahasa Yunani di Mat 16:18. Yang digunakan Yesus adalah bahasa Aramaik. Ini ditambah lagi dengan fakta bahwa menurut St. Papias, Uskup Hieropolis, yang sempat hidup di jama para rasul dan mendengarkan St. Yohanes Rasul mengajar, Injil Matius aslinya ditulis dalam lidah Ibrani bukan bahasa Yunani. 

Jadi tidak ada perbedaan "petra/petros" karena kata yang digunakan adalah "kefas" dan kata ini tidak ada jenis kelaminnya. Sehingga Mat 16:18 bunyinya adalah seperti ini: 

Mat 16:18 
Dan Akupun berkata kepadamu: engkau adalah Kefas dan diatas kefas ini aku akan membangun GerejaKu dan alam maut tidak akan menguasainya.

 

Quote:

Yesus Kristus tidak pernah menilai Rasul Petrus secara pribadinya, namun berdasarkan apa yang dikatakannya, mari kita tinjau masih dalam ayat perikop yang sama berikut ini: 

Mat 16:23 

23. Maka Yesus berpaling dan berkata kepada Petrus: "Enyahlah Iblis. Engkau suatu batu sandungan bagi-Ku, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia." 

Bagaimana mungkin pada ayat sebelumnya Petrus dikatakan sebagai “batu karang Gereja” dan sekarang dikatakan sebagai “batu sandungan”? dengan demikian Pengakuan Iman Rasul Petruslah yang menjadi batu karang Gereja dan perkataan sembrono Rasul Petruslah yang menjadi batu sandungan. 

Jadi Pengakuan Iman apakah yang menjadi “batu karang Gereja” itu? Tentu kita harus melihat pada pernyataan Rasul Petrus sebelumnya, yaitu: 

Mat 16:16 

16. Maka jawab Simon Petrus: "Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!" 


Sebelum membahas Mat 16:23 harus dijelaskan bahwa Gereja Katolik meyakini bahwa baik diri Petrus sendiri maupun pengakuan Petrus adalah batu karang Gereja

552 Simon Peter holds the first place in the college of the Twelve;[Cf Mk 3:16; Mk 9:2 ; Lk 24:34 ; 1 Cor 15:5 .] Jesus entrusted a unique mission to him. Through a revelation from the Father, Peter had confessed: 'You are the Christ, the Son of the living God.' Our Lord then declared to him: 'You are Peter, and on this rock I will build my Church, and the gates of Hades will not prevail against it.'[Mt 16:18 .] Christ, the 'living Stone',[1 Pet 2:4.] thus assures his Church, built on Peter, of victory over the powers of death. Because of the faith he confessed Peter will remain the unshakeable rock of the Church. His mission will be to keep this faith from every lapse and to strengthen his brothers in it.[Cf. Lk 22:32.] 


552 Dalam kolegium kedua belas orang itu Simon Petrus menduduki tempat yang pertama [Bdk. Mrk 3:16; Mrk 9:2; Luk 24:34; 1 Kor 15:5.]. Yesus mempercayakan kepadanya satu perutusan yang khusus. Berkat wahyu yang Petrus terima dari Bapa, ia mengakui: "Engkaulah Mesias, Putera Allah yang hidup". Dan Tuhan kita berkata kepadanya: "Engkaulah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya" (Mat 16:16-18). Kristus "batu yang hidup" (1 Ptr 2:4) menjanjikan kepada Gereja-Nya yang didirikan atas Petrus itu, kemenangan atas kekuasaan maut. Atas dasar iman yang ia akui, Petrus tetap tinggal wadas Gereja yang tidak tergoyangkan. Ia menerima perutusan supaya menjaga iman itu jangan sampai gugur, dan supaya menguatkan saudara-saudaranya di dalam iman itu [Bdk. Luk 22:32.].


Lalu bagaimana dengan ayat Mat 16:23 dimana Petrus dipanggil Setan dan menjadi batu sandungan buat Yesus? 

Well, pertama-tama kata "setan" sebenarnya adalah kata Ibrani yang berarti [ie. terjemahan Indonesianya] "si penuduh" atau "si pelawan." Jadi bukannya Yesus berkata bahwa Petrus dirasuki Setan sang mantan malaikat atau bahwa Petrus adalah si Setan sang mantan malaikat. Tapi bahwa Petrus bertingkah seperti seorang pelawan. Melawan apa? Melawan kehendak Allah yang ingin agar Yesus menderita dan mati. Petrus hanya memikirkan kehendak manusia-nya. 


Kedua, ayat Mat 16:23 tidak bertentangan dengan ajaran bahwa Petrus dijadikan batu karang Gereja karena ajaran tersebut SAMA SEKALI TIDAK MENGATAKAN BAHWA PETRUS TIDAK PERNAH BISA KELIRU (Petrus hanya tidak bisa keliru dalam saat tertentu) ATAU TIDAK BOLEH DITEGUR. 

Gereja Katolik pun setia terhadap Kitab Suci dan tidak pernah mengajarkan bahwa Paus tidak pernah bisa keliru (kecuali pada saat tertentu) atau tidak boleh ditegur. Santo Bernard, Santo Thomas dari Canterbury, Santa Catherine dari Sienna dan lain-lain pernah menegur Paus. 

Bila pimpinan salah, kenapa tidak boleh ditegur? Tidak pernah Mat 16:18 diimani bahwa Paus adalah seorang superman yang super sempurna. 

Quote:

Pernyataan Rasul Petrus pada Mat 16:16 ternyata sesuai dengan kaidah Kitab Suci yang menyatakan bahwa batu karang itu adalah Kristus [sesuai dengan Pernyataan Iman Rasul Petrus pada Mat 16:16] 

1Kor 10:4 

4. dan mereka semua minum minuman rohani yang sama, sebab mereka minum dari batu karang rohani yang mengikuti mereka, dan batu karang itu ialah Kristus. 

Dengan demikian, maka ayat-ayat dalam Kitab Suci dapat berjalan secara harmonis.


Si Orthodox berargumen bahwa karena di 1Kor 10:4 diri/pribadi Yesus adalah "petra," maka tidak boleh ada diri/pribadi lain yang adalah "petra." Oleh karena itu kata "petra" di Mat 16:18 hanya bisa berarti "pengakuan" Petrus, bukan "diri/pribadi" petrus. 

Namun argumen ini malahan akan memukul balik. Di Kitab Suci Allah disebut sebagai Sang Gembala (Kej 49:24; Mzm 23:1; Yoh 10:11-16; Ibr 13:20; 1Pet 2:25 dll) dan Sang Raja (Mzm 47:7; 84:3; 95:3; Mat 2:2; Mrk 15:2; Yoh 18:36-37), namun toh pribadi-pribadi manusia juga disebut sebagai gembala dan raja, bahkan di Alkitab Daud disebut sebagai raja dan sekaligus gembala (2Sam 5:1-2). Sehingga kalau prinsipnya si Orthodox dipakai, maka tidak seharusnya ada pribadi manusia yang disebut gembala atau raja karena Allah sudah disebut sebagai raja. Tapi toh tidak demikian, sebagaimana sudah terbuktikan. 

Allah adalah sang batu utama, sang gembala utama dan sang raja dari segala raja. Sementara pribadi-pribadi yang lain adalah batu, gembala dan raja yang sifatnya sekunder dari Allah. 

Terlebih kalau cuma "pengakuan" saja yang dimaksud Yesus sebagai dasar Gereja (bukan Kephas/Petrus-nya) lalu mengapa kejadian dimana Yohanes Pembaptis, Nathanael, Martha dan si Centurion (Kepala Pasukan) yang mengatakan bahwa Yesus adalah Putra Allah tidak disebut Yesus sebagai "batu?" 

John 1:34 King James Version) 
[John the Baptist said:] And I saw, and bare record that this is the Son of God

John 1:49 (King James Version) 
Nathanael answered him and said: Rabbi: Thou art the Son of God. Thou art the King of Israel. 

John 11:27 (King James Version) 
[Martha] said to him, "Yes, Lord; I believe that you are the Christ, the Son of God, he who is coming into the world." 

Matthew 27:54 (King James Version) 
When the centurion and those who were with him, keeping watch over Jesus, saw the earthquake and what took place, they were filled with awe, and said, "Truly this was the Son of God!"

Patut dicatat bahwa pernyataan Yohanes Pembaptis dan Nathanael terjadi SEBELUM pernyataan Petrus sementara pernyataan Martha dan Centurion terjadi SESUDAH pernyataan Petrus. Entah itu sebelum atau sesudah, tidak satupun dari pernyataan orang-orang tersebut disebut sebagai batu. Jadi tidak bisa dikatakan bahwa di Mat 16:18 yang disebut batu adalah pernyataan Petrus saja (karena kalau demikian maka pertanyaan orang-orang tersebut juga harus disebut sebagai batu). 

Quote:

II. Kesaksian Tradisi Rasuli: Bapa Gereja 

Setelah kita mengetahui dalam kajian diatas bahwa gramatika Kitab Suci tidak memungkinkan untuk menggunakan kata “petra” (feminine) pada Petrus (masculine) maka pernyataan Bapa Gereja yang seakan-akan mengacu pada Rasul Petrus sebagai batu karang harus dipahami sebagai suatu jargon yang mewakili Pengakuan Iman Rasul Petrus. Kesaksian dari beberapa Bapa Gereja [seluruhnya diajarkan oleh 44 Bapa Gereja telah menyatakan hal yang sama] tentang hal itu adalah sebagai berikut:


Mari kita lihat satu-satu. 

Quote:

“Batu karang adalah kesatuan iman, bukan pribadi Petrus”. 

[St.Cyprian dari Karthage tahun 258 AD dalam De Catholicae Ecclesiae Unitate, Cap. 4-5]


Kutipan ini tidak ada di De Catholicae Ecclesiae Unitate
Silahkan cari sendiri kalau tidak percaya

Yang ada malahan: 

4. If any one consider and examine these things, there is no need for lengthened discussion and arguments. There is easy proof for faith in a short summary of the truth. The Lord speaks to Peter, saying, "I say unto you, that you are Peter; and upon this rock I will build my Church, and the gates of hell shall not prevail against it. And I will give unto you the keys of the kingdom of heaven; and whatsoever you shall bind on earth shall be bound also in heaven, and whatsoever you shall loose on earth shall be loosed in heaven." And again to the same He says, after His resurrection, "Feed my sheep." And although to all the apostles, after His resurrection, He gives an equal power, and says, "As the Father has sent me, even so send I you: Receive the Holy Ghost: Whose soever sins you remit, they shall be remitted unto him; and whose soever sins you retain, they shall be retained; " [John 20:21] yet, that He might set forth unity, He arranged by His authority the origin of that unity, as beginning from one. Assuredly the rest of the apostles were also the same as was Peter, endowed with a like partnership both of honour and power; but the beginning proceeds from unity. Which one Church, also, the Holy Spirit in the Song of Songs designated in the person of our Lord, and says, "My dove, my spotless one, is but one. She is the only one of her mother, elect of her that bare her." [Song of Songs 6:9] Does he who does not hold this unity of the Church think that he holds the faith? Does he who strives against and resists the Church trust that he is in the Church, when moreover the blessed Apostle Paul teaches the same thing, and sets forth the sacrament of unity, saying, "There is one body and one spirit, one hope of your calling, one Lord, one faith, one baptism, one God?" [Ephesians 4:4] 

5. And this unity we ought firmly to hold and assert, especially those of us that are bishops who preside in the Church, that we may also prove the episcopate itself to be one and undivided. Let no one deceive the brotherhood by a falsehood: let no one corrupt the truth of the faith by perfidious prevarication. The episcopate is one, each part of which is held by each one for the whole. The Church also is one, which is spread abroad far and wide into a multitude by an increase of fruitfulness. As there are many rays of the sun, but one light; and many branches of a tree, but one strength based in its tenacious root; and since from one spring flow many streams, although the multiplicity seems diffused in the liberality of an overflowing abundance, yet the unity is still preserved in the source. Separate a ray of the sun from its body of light, its unity does not allow a division of light; break a branch from a tree—when broken, it will not be able to bud; cut off the stream from its fountain, and that which is cut off dries up. Thus also the Church, shone over with the light of the Lord, sheds forth her rays over the whole world, yet it is one light which is everywhere diffused, nor is the unity of the body separated. Her fruitful abundance spreads her branches over the whole world. She broadly expands her rivers, liberally flowing, yet her head is one, her source one; and she is one mother, plentiful in the results of fruitfulness: from her womb we are born, by her milk we are nourished, by her spirit we are animated.
 


4. Jika seseorang mempertimbangkan dan memeriksa hal-hal ini, [maka] tidaklah perlu diskusi panjang maupun argumen panjang. Ada bukti mudah mengenai iman dalam sebuah ringkasan singkat kebenaran. Tuhan berbicara kepada Petrus, berkata, "Aku berkata kepadamu, engkaulah Petrus; dan diatas batu ini aku akan membangun Gereja-ku, dan gerbang neraka tidak akan berjaya atasnya. Dan aku akan memberimu kunci kerajaan surga; dan apapun yang kau ikat di dunia juga akan terikat di surga, dan apapaun yang kau lepaskan di dunia juga akan dilepaskan di surga." Dan sekali lagi kepada [orang] yang sama Dia berkata, setelah kebangkitanNya, "Berilah makan [gembalakanlah] domba-domba-ku." Dan meskipun kepada seluruh rasul dia memberikan kuasa yang sama, dan berkata, "Sebagaimana Bapa telah mengirimku, maka aku mengirimu; Teirmalah Roh Kudus: Apapaun dosa-dosa yang kau hapus, dosa-dosa tersebut akan dihapus dari [si pendosa]; dan apapaun dosa-dosa yang kau tahan, dosa-dosa tersebut akan tertahan;" [Yohanes 20:21] namun, agar Dia membuat suatu kesatuan, atas kuasanya Dia mengatur asal-muasal dari kesatuan tersebut sebagai suatu hal yang bersal dari satu. Tentu saja rasul-rasul yang lain sama dengan Petrus, [dalam arti bahwa] mereka dianugerahi kerjasama [antar dua hal, yaitu] kehormatan dan kekuasaan; namun yang awal berasal dari kesatuan. Gereja yang satu yang disebutkan oleh Roh Kudus di Kidung Agung dalam pribadi Tuhan kita, dan [tertulis], "Merpatiku, yang tak ternoda, hanyalah satu. Dia adalah satu-satunya dari ibunya, yang terpilih dari dia yang mengandungnya" [Kidung Agung 6:9]Apakah dia yang tidak memegang kesatuan Gereja ini berpikiran bahwa dia memegang iman? Apakah dia yang berjuang melawan dan menolak Gereja percaya bahwa dia sendiri berada dalam Gereja, sementara Paulus sang rasul terberkati mengajarkan hal yang sama, dan menetapkan sakramen kesatuan, dengan berkata, "Ada satu tubuh, satu roh, satu harapan dari panggilanmu, satu Tuhan, satu iman, satu baptisan, satu Allah?" [Efesus 4:4] 

5. Dan kesatuan ini harus kita pegang dan yakini dengan teguh, terutama bagi kami yang adalah uskup-uskup yang mengepalai Gereja, sehingga kami bisa membuktjikan sekalian bahwa keuskupan itu satu dan tak terbagi. Biarlah supaya tidak ada seorang pun yang menipu persaudaraan dengan sebuah kebohongan: biarlah supaya tidak seorang pun meng-korupsi iman yang sejati dengan muslihat kebohongan. Keuskupan adalah satu, tiap-tiap bagian dipegang teguh oleh tiap-tiap bagian lainnya bagi keseluruhan [keuskupan tersebut]. Gereja juga adalah satu, yang tersebar jauh dan luas kepada banyak orang dengan buah-buah yang semakin bertambah. Sebagaimana banyak sinar matahari tapi hanya satu terang: dan banyak cabang pohon, tapi [hanya] satu kekuatan yang didasarkan pada akarnya yang ulet; dan karena dari satu mata air mengalir banyak aliran, meskipun banyaknya jenis tampaknya tersebar dalam banyak kelimpahan, namun kesatuan masih dijaga di sumbernya. Pisahkan sebuah cahaya matahari dari terang yang merupakan tubuhnya, [maka] kesatuan [dari terang dan cahaya] tidak membiarkan pembagian antar terang; patahkanlah sebuah cabang pohon--setelah patah, [maka] cabang itu tidak akan bisa berbunga; sumbatlah aliran [air] dari pancurannya, maka yang tersumbat itu akan kering. Begitu pula Gereja, berkilau dengan terang sang Tuhan, memancarkan cahayanya ke seluruh dunia, namun adalah satu terang yang disebarkan ke berbagai tempat, tidak pula kesatuan tubuhnya terpisah. Kelimpahan buahnya [ie. Gereja] menyebar kepada cabang-cabangnya [ie. Gereja] di seluruh dunia. Dia [ie. Gereja] dengan luas memperlebar sungai-sungainya [ie. Gereja], mengalir dengan berlebih, namun kepalanya [ie. Gereja] adalah satu, sumbernya [ie. Gereja] adalah satu; dia adalah seorang ibu, berkelimpahan akan buah-buah; dari rahimnya kita dilahirkan, oleh susunya kita dipelihara, oleh rohnya kita digerakkan.


Patut dicatat bahwa menurut para sejarahwan Cyprian memang me-revisi tulisan De Catholicae Ecclesiae Unitate (buah dari pertikaiannya dengan sang Paus, Stephen mengenai masalah keabsahan baptisan yang dilakukan bidat [dimana terbukti secara universal bahwa yang benar adalah Paus Stephen]). Namun di tulisan yang di-revisi itupun tidak ada kutipan seperti itu (silahkan baca Catholic Encyclopedia: St. Cyprian of Chartage, baca bagian Church Unity)


Quote:

“Diatas batu karang ini Aku akan membangun. Ini adalah diatas Pengakuan Iman.” 

[St.Khrysostomos. Hom.54,Patrologia Grecae.58:518.Col.534]


Kutipan ini berasal dari Homily St. John Chrysostom atas Injil Matius, homili yang ke-54

Karena kutipan ini hanya sekedar mengatakan bahwa batu karang itu adalah pengakuan iman Petrus (yang juga diakui oleh Gereja Katolik) dan tidak mengecualikan interpretasi bahwa Petrus sendiri-lah si batu karang, maka kutipan ini tidak bisa digunakan untuk menyanggah iman Katolik. 

Di tempat lain, yaitu di 
homili atas Injil Yohanes no.88, St. John Chrysostom mengatakan

"He says unto him, Feed My sheep." 

And why, having passed by the others, does He speak with Peter on these matters? He was the chosen one of the Apostles, the mouth of the disciples, the leader of the band; on this account also Paul went up upon a time to enquire of him rather than the others. And at the same time to show him that he must now be of good cheer, since the denial was done away, Jesus puts into his hands the chief authority among the brethren; and He brings not forward the denial, nor reproaches him with what had taken place, but says, "If you love Me, preside over your brethren, and the warm love which you ever manifested, and in which you rejoiced, show thou now; and the life which you said you would lay down for Me, now give for My sheep." 
... 

"And when He had spoken this, He says, Follow Me." 

Here again He alludes to his tender carefulness, and to his being very closely attached to Himself. And if any should say, "How then did James receive the chair at Jerusalem?" I would make this reply, that He appointed Peter teacher, not of the chair, but of the world.
 

"Dia berkata kepadanya, Berilah makan Domba-DombaKu." 

Dan kenapa, setelah melewatkan [murid-murid] yang lain, Dia berbicara kepada Petrus mengenai masalah ini? Dia adalah yang terpilih diantara para Rasul, juru bicara para murid, pimpinan kelompok; karena inilah Paulus pada suatu ketika pergi untuk bertanya kepadanya dan bukannya kepada yang lain. Dan pada saat yang sama [perkataan Yesus tersebut] juga [berfungsi] untuk menunjukkan kepadanya bahwa dia sejkarang harus ceria karena penyangkalannya telah dihapuskan, Yesus meletakkan kedalam tangannya otoritas pimpinan bagi saudara-saudaranya; dan Dia tidak mengungkit-ungkit penyangkalan [Petrus], atau mengecamnya karena apa yang telah terjadi, tapi berkata, "Jika engkau mencintaiKu, pimpinlah saudara-saudaramu, dan kehangatan kasih yang telah kau perlihatkan, tunjukkanlah sekarang; dan kehidupan yang katamu akan engkau serahkan bagiKu, berikanlah [itu] kepada domba-dombaKu." 
... 

"Dan setelah Dia mengatakan hal ini, Dia berkata, Ikutilah Aku." 

Sekali lagi disini Dia mengacu kepada kehati-hatiannya [ie. Petrus] yang lembut, dan kepada dirinya [ie. Petrus] yang begitu terikat kepada diriNya sendiri. Dan bila ada yang berkata, "Lalu bagaimana Yakobus mendapatkan Tahta di Yerusalem?" Aku akan menanggapi, bahwa Dia menunjuk Petrus sebagai guru, bukan atas tahta, tapi atas dunia.


Chrysostom jelas-jelas mengakui bahwa Petrus punya otoritas atas yang lainnya (bukan sekedar keutamaan/primacy). 

Quote:

“Kristus, sebagaimana engkau ketahui, membangun GerejaNya bukan pada seorang manusia namun pada pengakuan Petrus. Apakah yang diakui oleh Petrus? Engkaulah Kristus, Putera dari Allah yang hidup.” 

[St.Augustine Works. New Rochelle: New City Press, 1993,P.327]


Kita bisa menemukan dua pandangan St. Agustinus mengenai diatas siapakah Gereja dibangun. Kutipan diatas adalah salah satu dari pandangan St. Agustinus yang mengatakan bahwa Gereja dibangun diatas pengakuan Petrus, bukan orangnya. Namun di tempat lain kita juga melihat bahwa St. Agustinus jelas-jelas mengajarkan bahwa "batu karang" di Mat 16:18 adalah seorang Petrus

Tractates on the Gospel of John, Tractate 11 (John 2:2-3:5) 
When, therefore, He had said to His disciples, Will ye also go away? Peter, that Rock, answered with the voice of all, Lord, to whom shall we go? You have the words of eternal life. 

Expositions on the Psalms, Psalm 104 

16. Watering the mountains from the higher places Psalm 103:13. Now if a Gentile uncircumcised man comes to us, about to believe in Christ, we give him baptism, and do not call him back to those works of the Law. And if a Jew asks us why we do that, we sound from the rock, we say, This Peter did, this Paul did: from the midst of the rocks we give our voice. But that rock, Peter himself, that great mountain, when he prayed and saw that vision, was watered from above....


Jadi disini tampaknya St. Agustinus mempunyai dua pandangan yang kontradiktif. Di satu sisi dia menyatakan bahwa "batu karang" itu adalah pengakuan Petrus dan bukan orangnya, tapi di sisi lain dia menyatakan bahwa "batu karang" itu adalah Petrus

Nah, di penghujung akhir hidupnya St. Agustinus menulis buku yang berjudul "Retractationes" (catatan: artinya TIDAK SAMA dengan kata "retraction" dalam bahasa Inggris). Di buku ini dia me-review kembali dan mempertimbangkan kembali semua yang telah digagasnya dan telah ditulisnya. Dari buku "Retractationnes" kita menemukan (kutipan aku ambil dari sanggahan Steve Ray terhadap William Webster di 
file pdf ini): 

"In a passage in this book, I said about the Apostle Peter: 'On him as on a rock the Church was built.' Tis idea is also expressed in song by the voice of many in the verses of the most blessed Ambrose where he says about the crowing of the cock: 'At its crowing he, this rock of the Church, washed away his guilt.' But I know that very frequently at a later time, I so explained what the Lord said: 'Thou art Peter, and upon this rock I will build my Church,' that it be understood as built upon Him whom Peter confessed saying: 'Thou art the Christ, the Son of the living God,' and so Peter, called after this rock, represented the person of the Church which is built upon this rock, and has received 'the keys of the kingdom of heaven. For, 'Thou art Peter' and not 'Thou art the rock' was said to him. But 'the rock was Christ,' in confessing whom, as also the whole Church confesses, Simon was called Peter. But let the reader decide which of these two opinions is the more probable."


Disini St. Agustinus sadar bahwa dia sendiri menulis dua pandangan yang berbeda tentang apakah yang dimaksud dengan "batu karang" di Mat 16:18. St. Agustinus kemudian menyarankan pembaca tulisannya untuk memilih sendiri mana diantara kedua pandangannya tersebut yang lebih benar. Jadi tampaknya di penghujung hidupnya St. Agustinus merasa kedua pendapat tersebut sah-sah untuk diyakini. 

Dengan ini terbukti bahwa upaya si Orthodox untuk berargumen bahwa St. Agustinus HANYA mengajarkan bahwa yang dimaksud "batu karang" adalah pengakuan Petrus (dan TIDAK mengajarkan bahwa yang dimaksud "batu karang" juga adalah pribadi Petrus) terbukti salah oleh perkataan St. Agustinus di buku “Retractationes." 


Quote:

“Kemudian, Iman adalah dasar Gereja, sebab hal itu tidak dikatakan pada daging Petrus, namun pada imannya, bahwa gerbang-gerbang Hades tidak akan menguasainya. Namun Pengakuan Imannya telah mengalahkan Hades.” 

[Ambrose. The Sacrament Of The Incarnation Of Our Lord. 4.32-5.35]


Yang dimaksud "daging" disini adalah daging seperti seperti yang tertulis di Matius 16:17 yang tidak terlihat di terjemahan bahasa Indonesia yang kurang tepat. 

Mat 16:17 – Revised Standard Version 
17* And Jesus answered him, "Blessed are you, Simon Bar-Jona! For flesh and blood has not revealed this to you, but my Father who is in heaven. 

Mat 16:17 – Lembaga Biblika Indonesia 
17 Kata Yesus kepadanya: "Berbahagialah engkau Simon bin Yunus sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di sorga.


Terjemahan "daging" dan "darah" yang bahasa Inggris diatas lebih tepat karena bahasa Yunani aslinya memang menggunakan kata "sarx" dan "haima" bukan "manusia" sebagaimana diterjemahkan Alkitab Indonesia 

St. Ambrose sekedar mengulangi perkataan Yesus yang ditulis di Kitab Suci. Yaitu bahwa yang membuat Petrus memberi pengakuan bahwa Yesus adalah Putra Allah bukan daging [ie. sarx] tapi BapaNya di surga. 

Kesimpulan tersebut juga dikuatkan oleh kutipan paragraph sebelumnya di buku yang sama

The Sacrament Of The Incarnation Of Our Lord – St. Ambrose 

(33) This, then, is Peter, who has replied for the rest of the apostles; rather, before the rest of men. And so he is called the foundation, because he knows how to preserve not only hyis own but the common foundation. Christ agreed with him; the father revealed it to him. For he who speaks of the true generation of the Father, received it from the Father, did not receive it from the Flesh.


Jadi yang dimaksud "daging" oleh St. Ambrose bukanlah pribadi Petrus. St.Ambrose tidak berkata bahwa Petrus bukanlah batu karang pondasi Gereja. Bahkan sebaliknya St. Ambrose mengatakan bahwa "he [Peter] is called the foundation" sebagaimana tertulis diatas. 

Berikut adalah tulisan dari St. Ambrose yang menunjukkan imannya bahwa Petrus adalah "batu karang" dan pondasi Gereja di Mat 16:18. 

Exposition of the Christian Faith, Book IV – Amrbose 

57. Moreover, that you may know that it is after His Manhood that He entreats, and in virtue of His Godhead that He commands, it is written for you in the Gospel that He said to Peter: I have prayed for you, that your faith fail not. Luke 22:32 To the same Apostle, again, when on a former occasion he said, You are the Christ, the Son of the living God, He made answer: You are Peter, and upon this Rock will I build My Church, and I will give you the keys of the kingdom of heaven. Matthew 16:18 Could He not, then, strengthen the faith of the man to whom, acting on His own authority, He gave the kingdom, whom He called the Rock, thereby declaring him to be the foundation of the Church? Consider, then, the manner of His entreaty, the occasions of His commanding. He entreats, when He is shown to us as on the eve of suffering: He commands, when He is believed to be the Son of God.

 

Quote:

“Kemudian Tuhan berkata kepadanya: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya. Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Sorga. Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga. Jadi Petrus adalah yang pertama menerima kuasa untuk mengikat dan melepaskan, dan ia yang pertama memimpin orang-orang kepada iman oleh kuasa khotbahnya. Namun juga, para rasul yang lain telah dibuat setara/sederajat (equal) dengan Petrus dalam suatu hubungan yang dihormati dan berkuasa.” 

[Isidore Of Seville, The Church, 2,5]


Kutipan diatas tidak mengandung pengingkaran bahwa Petrus adalah "batu karang" di Mat 16:18. Kutipan ini sekedar mengandung pengingkaran terhadap iman Katolik bahwa Petrus tidak setara/sederajat (equal) dari para rasul (Orthodox mengimani bahwa Petrus setara/sederajat [equal] dengan rasul-rasul lainnya). Jadi kutipan ini tidak bisa digunakan untuk argumen si Orthodox bahwa "batu karang" yang ada di Mat 16:18 bukanlah pribadi Petrus. 

Namun kutipan tersebut bermasalah. 

Kutipan tersebut tidak ada di buku-buku terjemahan Inggris tulisan St. Isidor dari Sevilla. Di 
"Isidore of Seville's Etymologies: Complete English Translation” karangan Priscilla Throop maupun di "The etymologies of Isidore of Seville By Saint Isidore (of Seville)", Stephen A. Barney tidak terlihat kutipan tersebut ("The Church" merupakan bab ke-8 dari buku Etymologiae tulisan St. Isidor dari Sevilla). 

Pencarian di dalam dua buku tersebut dengan menggunakan kata kunci "peter rock" juga tidak menghasilkan halaman yang memuat kutipan sebagaimana dikutip si Orthodox

Y
ang terdapat di bab-8 The Church, 2,5 di bukunya Throop maupun Barney adalah: 

5. Hope is named spes because it is the foot, pes, of one progressing, as if est pes, "there is a foot". Its opposite, desperatio, is desperation. The foot is lacking, with no ability to go forward; as long as anyone loves sin, he does not expect, sperat, the glory to come.


Jadi si Orthodox sebaiknya me-recheck sumbernya. 

Sementara itu apakah St. Isidor dari Sevilla menganggap Petrus setara/sederajat (equal) dengan para rasul lainnya? Jawabannya adalah "TIDAK!" Di Etymologiae St. Isidore of Seville menuliskan

Etymologiae, Book VII: De deo, angelis et sanctis, ix.3 – St Isidore of Seville 

He was called Cephas because he was established was the head (caput) of the apostles, for
khfas [ie. cephas] in Greek means 'head,' and Cephas is the Syrian name for Peter.


Jadi St Isidor dari Sevilla malahan menyatakan ahwa Petrus adalah kepala dari para rasul, dalam kata lain, dia tidak "setara/sederajat (equal)" sebagaimana di-klaim si Orthodox


Quote:

“Engkau adalah Petrus, dan atas batu karang ini yang mana engkau telah menerima namamu, itulah, atas DiriKu Sendiri, Aku akan mendirikan GerejaKu. Diatas iman yang sempurna ini, yang mana engkau telah akui, Aku akan mendirikan GerejaKu.” 

[St.Bede.Homily I.165.Homilies On The Gospels.163]


Aku tidak berhasil mendapatkan konteks dari kutipan ini sehingga kurang bisa menanggapinya. Siapa tahu ini kutipan keliru seperti kasusnya kutipan si Orthodox dari St. Cyprian atau dari St. Isidor dari Sevilla. 

Namun apakah pendapat St. Bede terhadap kepausan? Berikut adalah tulisan St. Bede yang dibuat ketika Paus St. Gregorius Agung meninggal 

Ecclesiastical History of England, book 2, ch. 1 – St. Bede 

AT this time, that is, in the year of our Lord 605, the blessed Pope Gregory, after having most gloriously governed the Roman Apostolic see thirteen years, six months, and ten days, died, and was translated to an eternal abode in the kingdom of Heaven. Of whom, seeing that by his zeal he converted our nation, the English, from the power of Satan to the faith of Christ, it behoves us to discourse more at large in our Ecclesiastical History, for we may rightly, nay, we must, call him our apostle; because, as soon as he began to wield the pontifical power over all the world, and was placed over the Churches long before converted to the true faith, he made our nation, till then enslaved to idols, the Church of Christ, so that concerning him we may use those words of the Apostle; "if he be not an apostle to others, yet doubtless he is to us; for the seal of his apostleship are we in the Lord."


Disni kita lihat bahwa menurut St. Bede, Paus Gregorius Agung melaksanakan kekuasaan kepausannya atas seluruh dunia dan dia ditempatkan diatas Gereja-Gereja yang kala itu telah dipertobatkan kepada iman sejati. Ini sesuai dengan iman Gereja Katolik bahwa kekuasaan Paus Roma menyebar sampai seluruh Gereja-Gereja di dunia (sementara menurut Orthodox kekuasan Paus Roma hanya di keuskupannya, ie. Roma). 

Quote:

Demikianlah Gereja Orthodox selanjutnya memahami jargon-jargon tulisan Bapa Gereja yang menghubungkan antara Petrus dan batu karang secara langsung [hanya ditemui 17 kali dalam kutipan Bapa Gereja saja dan sebagian sudah dijelaskan pada tulisan beliau yang lain bahwa yang dimaksud adalah Pengakuan Iman Petrus]. Gereja Orthodox tidak pernah mengingkari Primasi Gereja Roma sebagai kakak tertua yang patut dihormati (Primus Interpares), namun menolak Supremasi Mutlak yang diterapkan oleh Gereja Roma kepada Gereja-Gereja Yuridiksi lain. Demikianlah, semoga kita dapat saling mengerti dan memahami sehingga Persatuan Gereja dapat segera terwujud.


Pertama-tama, Orthodox tidak bisa sekedar menunjukkan kutipan dari Bapa Gereja Awal yang mengatakan bahwa "batu karang" di Mat 16:18 adalah iman pengakuan Petrus, karena hal inipun juga diakui Gereja Katolik. Yang harus dilakukan Orthodox untuk menyanggah klaim Gereja Katolik adalah menunjukkan tulisan Bapa Gereja Awal yang mengatakan bahwa "batu karang" di Mat 16:18 HANYA BOLEH BERARTI iman pengakuan Petrus (tidak boleh punya arti lain) dan/atau bahwa penafsiran "batu karang" di Mat 16:18 MENGECUALIKAN pribadi Petrus (di kutipan dari St. Agustinus yang diberikan Orthodox kelihatannya sang Uskup Hippo menafsirkan seperti ini, tapi kemudian dia sudah meng-klarifikasi di bukunya "Retractationes" sebagaimana sudah aku jelaskan). 

Kedua, berikut adalah kumpulan tulisan-ku terdahulu yang menunjukkan bahwa sejak jaman Bapa Gereja Awal supremasi kepausan Roma diakui oleh segenap umat Kristen

DeusVult 

Berikut adalah kutipan dari ketetapan-ketetapan kuno yang ditulis dalam The Source of Catholic Dogma - Henry (Heinrich) Denzinger. Buku versi bahasa Inggris ini adalah versi abbridge dari buku resmi Enchiridion Symbolarum, Definitionum et Declarationum de Rebus Fidei et Morum - Denzinger & Schonmetzer. Buku ini menjadi patokan dalam membaca dokumen-dokumen Gereja, misalnya Katekismus, encyclic dan-lain-lain (ketika Katekismus menulis "D567," maka yang dimaksud adalah "lihat Denzinger index 567"). 
Buku ini ada secara online 

Perhatikan tanggal pemerintahan Paus supaya tahu ke-kuno-an dari ketetapan-ketetapan berikut: 

ST. CLEMENT I 90(?)- 99(?) 

The Primacy of the Roman Pontiff * 

[From the letter "(Greek text deleted)" to the Corinthians] 

41 (1) BECAUSE of the sudden calamities that have followed one another in turn and because of the adverse circumstances which have befallen us, we think, brethren, that we have returned too late to those matters which are being inquired into among you, beloved, and to the impious and detestable sedition . . . which a few rash and presumptuous men have aroused to such a degree of insolence that your honorable and illustrious name . . . is very much reviled. . . . In order to remind you of your duty, we write. . . . (57) You, therefore, who have laid the foundations of this insurrection, be subject in obedience to the priestsand receive correction unto repentance. . . . (59) But if some will not submit to them, let them learn what He [Christ] has spoken through us, that they will involve themselves in great sin and danger; we, however, shall be innocent of this transgression. . . . (63) Indeed you will give joy and gladness to us, if having become obedient to what we have written through the Holy Spirit, you will cut out the unlawful application of your zeal according to the exhortation which we have made in this epistle concerning peace and union. 


41 (1) KARENA bencana tiba-tiba yang muncul satu demi satu bergiliran dan karena keadaan yang berbalik yang menimpa kami, kami berpikir, saudara-saudara, bahwa kami telah kembali terlalu lambat kepada masalah-masalah yang menjadi pertanyaan diantara kamu, yang terkasih, [dan diantara] para orang yang tidak saleh dan pembangkangan-pembangkangan yang menjijikkan. . . dimana beberapa orang yang gegabah dan sok telah membangkitkan [ke-gegabahan dan ke-sok-an mereka] sampai pada tingkatan yang lancang sehingga namamu yang terhormat dan dikenal . . . menjadi sangat terhina. . . . untuk mengingatkan engkau kepada tugasmu, kami menulis. . . . (57) Kau, karenanya, yang meletakkan pondasi atas pemberontakan ini, jadilah subyek dalam ketaatan kepada imam-imam dan menerima koreksi kearah pertobatan. . . . (59) Tapi bila beberapa tidak patuh kepada mereka, biarlah mereka belajar apa yang Dia [Kristus] telah katakan melalui kami, bahwa mereka akan melibatkan diri mereka sendiri dalam dosa dan bahaya yang besar; Kami, bagaimanapun, akan menjadi tidak bersalah atas pelanggaran ini. . . . (63) Memang engkau akan memberi kebahagiaan dan kegembiraan kepada kami, kalau setelah menjadi patuh terhadap apa yang kami tulis melalui Roh Kudus, kamu akan memotong diri dari aplikasi yang tidak legal atas keinginan besarmu sesuai dengan anjuran yang telah kami buat dalam surat ini mengenai kedamaian dan kesatuan.


Surat pertama dari Paus Clement I cukup istimewa. Keistimewaan surat ini terletak pada kenyataan bahwa surat ini dibuat MASIH DALAM JAMAN RASULI. Ketika itu, Rasul Yohanes Penginjil, rasul yang paling akhir meninggal, masih hidup di Efesus. Sekarang coba buka peta dunia Perjanjian Baru di bagian belakang Alkitab. Coba check tiga tempat: Korintus, Efesus dan Roma. Akan terlihat bahwa jarak dari Korintus ke Efesus jauh lebih dekat dari jarak Korintus ke Roma. Nah, mengapa umat Korintus meminta keputusan atas permasalahan mereka kepada Paus St. Clement I yang tempatnya jauh dan bukannya kepada seorang Rasul Yohanes yang masih hidup di tempat yang jauh lebih dekat? Apalagi mengingat jaman dahulu transportasi sulit dan umat Kristen dianiaya oleh orang Romawi dan Yahudi (Yahudi yang masih melakukan Hukum Taurat)? Ini tidak lain dan tidak bukan adalah karena pemimpin dari Gereja sejak dahulu sampai sekarang adalah Penerus Petrus, yaitu Paus Roma.


Berikutnya adalah bukti akan kekuasaan Uskup Roma sebelum 325 AD yang aku buat untuk si B. Stephanus K. yang seorang Protestant

1.a. Diatas sudah disajikan tindakan Paus Clement yang menunjukkan sistem hierarkhi yang berpusat di Roma. 

2. Berikut adalah berbagai kutipan dari Bapa Gereja Awal sebelum 325Ad yang menunjukkan Roma sebagai pusat Gereja Kristus, perhatikan tanggal-tanggalnya: 

Dionysius of Corinth 
"Today we have observed the Lord’s holy day, in which we have read your letter [Pope Soter]. Whenever we do read it [in church], we shall be able to profit thereby, as also we do when we read the earlier letter written to us by Clement" (Letter to Pope Soter in Eusebius, Church History 4:23:11 [A.D. 170]).


Dionysius dari Korintus adalah seorang Uskup Korintus. Korintus sendiri, pada jaman tersebut, termasuk Gereja Timur. Namun toh terlihat dari tulisan sang Uskup Korintus bahwa surat-surat para Uskup Roma (ie. Paus Soter dan Paus Clement sebelumnya) dibacakan dalam perayaan Liturgi Ilahi [Misa-nya Gereja Timur] di hari Minggu. Ini menunjukkan penghormatan mereka terhadap kepala Gereja. 

Irenaeus 
"2. Since, however, it would be very tedious, in such a volume as this, to reckon up the successions of all the Churches, we do put to confusion all those who, in whatever manner, whether by an evil self-pleasing, by vainglory, or by blindness and perverse opinion, assemble in unauthorized meetings; [we do this, I say,] by indicating that tradition derived from the apostles, of the very great, the very ancient, and universally known Church founded and organized at Rome by the two most glorious apostles, Peter and Paul; as also [by pointing out] the faith preached to men, which comes down to our time by means of the successions of the bishops. For it is a matter of necessity that every Church should agree with this Church, on account of its pre- eminent authority, that is, the faithful everywhere, inasmuch as the apostolical tradition has been preserved continuously by those [faithful men] who exist everywhere. 

3. The blessed apostles, then, having founded and built up the Church, committed into the hands of Linus the office of the episcopate. Of this Linus, Paul makes mention in the Epistles to Timothy. To him succeeded Anacletus; and after him, in the third place from the apostles, Clement was allotted the bishopric. This man, as he had seen the blessed apostles, and had been conversant with them, might be said to have the preaching of the apostles still echoing [in his ears], and their traditions before his eyes. Nor was he alone [in this], for there were many still remaining who had received instructions from the apostles. In the time of this Clement, no small dissension having occurred among the brethren at Corinth, the Church in Rome despatched a most powerful letter to the Corinthians, exhorting them to peace, renewing their faith, and declaring the tradition which it had lately received from the apostles, proclaiming the one God, omnipotent, the Maker of heaven and earth, the Creator of man, who brought on the deluge, and called Abraham, who led the people from the land of Egypt, spoke with Moses, set forth the law, sent the prophets, and who has prepared fire for the devil and his angels. From this document, whosoever chooses to do so, may learn that He, the Father of our Lord Jesus Christ, was preached by the Churches, and may also understand the apostolical tradition of the Church, since this Epistle is of older date than these men who are now propagating falsehood, and who conjure into existence another god beyond the Creator and the Maker of all existing things. To this Clement there succeeded EvaristusAlexander followed Evaristus; then, sixth from the apostles, Sixtus was appointed; after him, Telephorus, who was gloriously martyred; then Hyginus; after him, Pius; then after him, AnicetusSorer having succeeded Anicetus, Eleutherius does now, in the twelfth place from the apostles, hold the inheritance of the episcopate. In this order, and by this succession, the ecclesiastical tradition from the apostles, and the preaching of the truth, have come down to us. And this is most abundant proof that there is one and the same vivifying faith, which has been preserved in the Church from the apostles until now, and handed down in truth. - (Against Heresies 3:3:2-3 [A.D. 189]).


Santo Irenaeus adalah Uskup Lyon. Dia juga adalah murid dari St. Polycarp yang mati dibakar, dimana St. Polycarp sendiri adalah murid dari Rasul Yohanes. Kutipan diatas berasal dari suratnya melawan kaum Gnostik. St. Irenaeus berargumen bahwa doktrin kaum Gnostik tidak didasari oleh tradisi apostolik yang dijaga dengan setia oleh Gereja yang bisa melacak suksesi Uskup-Uskup mereka kepada ke-12 rasul yang adalah Uskup-Uskup pertama Gereja Kristus. Menurut Irenaeus, seluruh Gereja harus setuju dengan Gereja Roma karena otoritas-nya yang utama. Dari situ dia kemudian menunjukkan suksesi Uskup Roma dari Petrus (ie. "the blessed apostle") sampai ke Eleutherius. 

Cyprian of Carthage 
"The Lord says to Peter: ‘I say to you,’ he says, ‘that you are Peter, and upon this rock I will build my Church, and the gates of hell will not overcome it. And to you I will give the keys of the kingdom of heaven; and whatever things you bind on earth shall be bound also in heaven, and whatever you loose on earth, they shall be loosed also in heaven’ [Matt. 16:18–19]). ... On him [Peter] he builds the Church, and to him he gives the command to feed the sheep [John 21:17], and although he assigns a like power to all the apostles, yet he founded a single chair [cathedra], and he established by his own authority a source and an intrinsic reason for that unity. Indeed, the others were also what Peter was [i.e., apostles], but a primacy is given to Peter, whereby it is made clear that there is but one Church and one chair. So too, all [the apostles] are shepherds, and the flock is shown to be one, fed by all the apostles in single-minded accord. If someone does not hold fast to this unity of Peter, can he imagine that he still holds the faith? If he [should] desert the chair of Peter upon whom the Church was built, can he still be confident that he is in the Church?" (The Unity of the Catholic Church 4; 1st edition [A.D. 251]). 

"Cyprian to [Pope] Cornelius, his brother. Greeting. . . . We decided to send and are sending a letter to you from all throughout the province [where I am] so that all our colleagues might give their decided approval and support to you and to your communion, that is, to both the unity and the charity of the Catholic Church" (Letters 48:1, 3 [A.D. 253]). 

"Cyprian to Antonian, his brother. Greeting ... You wrote ... that I should forward a copy of the same letter to our colleague [Pope] Cornelius, so that, laying aside all anxiety, he might at once know that you held communion with him, that is, with the Catholic Church" (ibid., 55[52]:1). 

"Cornelius was made bishop by the decision of God and of his Christ, by the testimony of almost all the clergy, by the applause of the people then present, by the college of venerable priests and good men ... when the place of Fabian, which is the place of Peter, the dignity of the sacerdotal chair, was vacant. Since it has been occupied both at the will of God and with the ratified consent of all of us, whoever now wishes to become bishop must do so outside [the Church]. For he cannot have ecclesiastical rank who does not hold to the unity of the Church" (ibid., 55[52]:8).


Dari tulisan-tulisan St. Cyprian Uskup Carthage, Afrika, kita tahu betapa pentingnya uskup-uskup lain untuk menunjukkan kesatuan mereka dengan Paus. Kalau orang ingin menjadi Uskup tanpa persekutuan dengan sang Uskup Roma, maka dia hanya akan menjadi seorang "Uskup" yang berada di luar Gereja dan tanpa jabatan kegerejaan. 

Tertullian 
43 "I also hear that an edict is published and is indeed final. Evidently the Supreme Pontiff, because he is the bishop of bishops, declares: I forgive the sins of adultery and fornication to those who have performed the penance." * - Fragment from Tertullian's "De pudicitia" c. 1 [220AD]


Pada jaman Tertullian muncul pandangan yang keras bahwa umat yang melakukan perzinahan dan percabulan tidak akan mendapatkan Sakramen Tobat. Tertullian termasuk orang yang menganut pandangan ini. Atas pandangan yang bidat dan sesat ini kemudian Paus Calistus memberi ketetapan resmi bagi seluruh Gereja Kristus bahwa orang yang melakukan perzinahan dan percabulan boleh diampuni dosanya. Dalam fragment dari Tertullian diatas kita lihat bagaimana Tertullian mengatakan bahwa edict sang Paus adalah final dan bahwa sang Pasu adalah Uskup dari para Uskup. 

Firmilian 
"[Pope] Stephen ... boasts of the place of his episcopate, and contends that he holds the succession from Peter, on whom the foundations of the Church were laid [Matt. 16:18]. ... Stephen ... announces that he holds by succession the throne of Peter" (collected in Cyprian’s Letters 74[75]:17 [A.D. 253]).


Firmilian adalah seorang Romo dan merupakan murid dari Origen. Latar belakang surat tersebut adalah pertikaian antara Paus Stephen dengan St. Cyprian dari Carthage yang disebut diatas. Romo Firmilian membela pendapat keliru dari St. Cyprian bahwa para bidat harus dibaptis ulang kalau mereka bertobat, sementara Paus Stephen melarang pembaptisan ulang. Bisa dilihat dari tulisan Firmilian bahwa Paus Stephen menyombongkan posisinya dalam jajaran uskup-uskup karena dia memegang suksesi dari Petrus. Terlepas dari nada menyindir Firmilian, kita ketahui dari surat tersebut bahwa Paus Stephen sendiri menyadari keutamaannya dari semua Uskup karena dia mendapatkan suksesi dari Petrus. Firmilian sendiri bisa saja dengan mudah meruntuhkan klaim "arogant" Paus Stephen dengan mengatakan bahwa semua Uskup punya wibawa yang sama atau bahwa otoritas Petrus tidak diteruskan. Tapi Firmilian tidak melakukan itu karena di jaman tersebut sudah diketahui dengan baik kekuasaan utama Uskup Roma atas seluruh Gereja Kristus. 

3. Kisah tentang Paus Viktor (memerintah 189-199AD) yang aku terjemahkan dari 
tulisan Patrick Madrid di majalah Envoy (yang merupakan bagian dari bukunya Pope Fiction). 

DeusVult: 
Paus Viktor I (berkuasa tahun 189-199) berusaha untuk menyelesaikan perselisihan antara Uskup Timur dan Barat mengenai kapan Paskah diadakan – Dikenal sebagai Kontroversi Quartodeciman. Uskup-uskup yang lain mengakui otoritas unik sang Paus ketika mereka mengikuti perintahnya untuk mengadakan sinode lokal dan regional untuk menyelesaikan masalah. Mereka yang tidak patuh diancam oleh Paus dengan Ekskomunikasi. Fakta bahwa tidak ada satu uskup pun di dunia – tidak satupun – yang mengganggu gugat otoritas Paus Viktor I untuk melakukan ekskomunikasi bila perlu, membuktikan bahwa gereja awal mengakui otoritas unik dari Uskup Roma. 

Beberapa saat sebelum kematiannya di tahun 200 masehi, St Iranaeus dari Lyons menulis kepada Paus Viktor I dan meminta sang Paus untuk bermurah hati dan membiarkan Uskup-Uskup Timur untuk tetap merayakan Paskah menurut kalender bulan Ibrani, merupakan bukti bahwa St Iranaeus mengakui otoritas dan kuasa Paus untuk melakukan ekskomunikasi. Paus Viktor I tetap bersikokoh, tapi penting untuk dicatat bahwa St Iranaeus, seperti uskup-uskup lain, taat kepada keputusan Paus. Meskipun begitu, St Iranaeus menulis kepada Gereja di Roma; “Dengan Gereja ini, karena asal muasalnya yang superior, semua gereja harus setuju; yaitu, semua umat di seluruh dunia, karena dalamnya [gereja] tradisi apostolik selalu dijaga bagi kepentingan umat dimanapun” (Melawan Kesesatan 3:3)


4. Berikut adalah kisah tentang Paus Calistus (memerintah 217-222AD) juga aku terjemahkan dari 
tulisan Patrick Madrid di majalah Envoy

DeusVult: 
Sekitar tahun 220, Paus Callistus menulis, "Calistus, Uskup Agung dari Gereja Katolik di kota Roma, kepada Benediktus, saudara Uskup kita, salam dalam Tuhan. Dengan cinta persaudaraan yang mengikat kita, dan dengan aturan apostolik yang membatasi kita, untuk memberi jawaban kepada pertanyaan dari para saudara, menurut apa yang telah diberikan oleh Tuhan, dan untuk memberi mereka dengan otoritas dengan materai para rasul" (Surat Pertama I). Jelas sekali kalau Paus sadar akan peran dan otoritas spesial yang dimilikinya dalam memutuskan perselisihan di Gereja, bahkan di keuskupan lain. 

Dilain kesempatan, Paus yang sama menulis surat kepada semua Uskup Galia dan berkata, “Callistus kepada saudara kita yang paling tercinta, semua uskup yang berada di Galia... kami memohon pada kalian supaya tidak mengijinkan apapun dilakukan di bagian tersebut yang bertentangan dengan aturan apostolik; tapi, didukung oleh otoritas kamu, kalian harus menghentikan apa yang menyebabkan luka dan apa yang melanggar aturan... Patuhilah hukum ini, yang telah diturunkan dari Rasul dan Bapa, dan pendahulu kami, dan telah diratifikasi oleh kami.... Kami telah menjawab pertanyaan kalian dengan pendek, karena surat kalian memberi beban lebih kepada kami, dan disibukkan oleh keputusan lain” (Surat kedua, kepada semua Uskup di Galia 2, 6)


5. Berikut Kisah dari seorang Kaisar Pagan/Kafir Roma bernama Aurelian yang membuktikan bahwa seorang pagan/kafir pun mengetahui bahwa puncak kekuasaan Gereja Kristen terletak pada Uskup Roma: 

DeusVult: 

Kaisar Aurelian 

Juga patut dicatat adalah tindakan dari kaisar Aurelian pada 270. Sebuah sinode Uskup-Uskup telah mengutuk Paul dari Samosata, Patriarkh Aleksandria, atas tuduhan bidaah, dan telah memilih Domnus [sebagai] uskup menggantikannya. Paul menolak untuk mundur, dan [mengajukan] banding kepada kekuasaan sipil. Sang kaisar mendekritkan bahwa dia yang diakui oleh uskup-uskup Itali dan Uskup Roma, harus diakui sebagai pemilik sah dari tahta [kepatriarkhan Aleksandria]. Insiden ini membuktikan bahwa para pagan sendiri tahu benar bahwa persekutuan dengan Tahta Roma adalah tanda esensial dari semua Gereja-Gereja Kristen. Bahwa Pemerintah kekaisaran sadar benar akan posisi paus diantara umat Kristen mendapatkan konfirmasi tambahan dari perkataan St. Cyprian bahwa Decius [Kaisar Roma] akan mendengar pengumuman [pengangkatan] kaisar tandingan lebih dahulu daripada pelantikan seorang paus baru untuk mengisi tempat [Paus] Fabian [yang menjadi] martir (Ep. 55:9).



6. Pelajaran sejarah diatas sudah cukup untuk menunjukkan bagaimana SEBELUM 325AD umat Kristen awal DAN pihak non-Kristen jaman itu memaklumi kepemimpinan Uskup Roma terhadap seluruh umat Kristen. Ini sudah sesuai dengan Mat 16:18-19 dan Yoh 21:15-17.


Ini hanya dari jaman para rasul sampai tahun 325AD. Sesudah itu tentu saja masih banyak, bahkan terlalu banyak. Aku akan beri dua saja dari 
tulisanku terdahulu

ST. JULIUS I 337-352 

The Primacy of the Roman Pontiff * 

[From the epistle (Greek text deleted) to the Antiochenes, in the year 341] 

57a For if, indeed as you assert, some sin has risen among them, a judicial investigation ought to have been made according to the ecclesiastical canon, and not in this manner. Everyone should have written to us, in order that thus what was might be decided by all; for the bishops were the ones who suffered, and it was not the ordinary churches that were harassed, but which the apostles themselves governed in person. Yet why has nothing been written to us, especially regarding the Alexandrian church? Or do you not know that it is the custom to write to us first, and that here what is just is decided? Certainly if any suspicion of this nature did fall upon the bishop of that city, the fact should have been written to this church.
 

57a Karena bila, memang seperti yang engkau nilai, beberapa dosa telah timbul dari antara mereka, sebuah penyelidikan yudikatif harus dilaksanakan sesuai kanon gerejawi, dan tidak dengan cara seperti ini. Setiap orang seharusnya menulis kepada kami, agar apa yang benar bisa diputuskan untuk semua; karena semua uskup adalah pihak-pihak yang menderita, dan bukannya Gereja-Gereja biasa yang dilecehkan, tapi yang diperintah rasul-rasul sendiri secara pribadi. Namun kenapa tidak ada apapun yang dituliskan kepada kami, terutama mengenai Gereja Aleksandria? Atau apakah engkau tidak tahu bahwa merupakan kebiasaan untuk menulis kepada kami terlebih dahulu, dan bahwa disini apa yang adil ditentukan? Tentunya bila ada kecurigaan yang sifatnya seperti ini yang menimpa uskup dari kota tersebut, fakta itu haruslah ditulis kepada Gereja ini. 


ST. BONIFACE I 418-422 

The Primacy and Infallibility of the Roman Pontiff 

[From the epistle (13) "Retro maioribus tuis" to Rufus, Bishop of Thessaly, March 11, 422] 

(2) . . . To the Synod [of Corinth]. . . . . we have directed such writings that all the brethren may know. . . . . that there must be no withdrawal from our judgment. For it has never been allowed that that be discussed again which has once been decided by the Apostolic See.
 

(2) . . . Kepada Sinode [di Korintus]. . . . . kami telah mengarahkan suatu tulisan-tulisan sehingga semua saudara menjadi tahu. . . . . bahwa haruslah tidak ada penarikan dari keputusan kami. Karena tidaklah pernah diijinkan untuk mendiskusikan kembali apa yang sudah diputuskan oleh Tahta Apostolik.


Sekali lagi, masih ada lagi banyak kutipan dari para Bapa Gereja Awal yang mengkonfirmasi iman Gereja Katolik bahwa Paus mempunyai supremasi yurisdiksi atas SELURUH Gereja Kristus. Tapi yang diatas (termasuk dari St. Bede) sudah lebih dari cukup. 

Quote:

[b]Persatuan Gereja Orthodox Indonesia 

Kanon ke 6 Konsili Nicea 
Biarkan kebiasaan kuno di Mesir, Libya dan Pentapolis berlaku, bahwa Uskup Aleksandria memiliki Kuasa atas semua wilayah yurisdiksinya , karena seperti itu juga tradisi untuk Uskup Roma atas semua wilayahnya. Demikia...n juga di Antiokhia dan provinsi lain, membiarkan Gereja-gereja mempertahankan hak-hak mereka. Dan secara universal dipahami, bahwa jika ada orang yang akan menjadi uskup tanpa persetujuan Metropolitan, Sinode besar telah menyatakan bahwa manusia seperti ini seharusnya tidak menjadi uskup. Namun, jika dua atau tiga orang uskup dalam kasih mengalami perbedaan pendapat, menuntut hak pemilihan umum, itu menjadi wajar dan sesuai dengan hukum gerejawi, kemudian membiarkan pilihan mayoritas berlaku. 

http://www.ccel.org/ccel/schaff/npnf214.vii.vi.viii.html 

Jadi pernyataan Katolik Roma bahwa Paus Roma berkuasa atas semua Gereja di dunia ini adalah tidak benar dan menghianati Kanon Konsili yang ditetapkan oleh Bapa Gereja mula-mula di Nicea, artinya melanggar Kanon Suci dan Tradisi Suci. 

"Barang siapa yang ingin dalam keselamatan harus tunduk pada kekuasaan Paus Roma." - Unam Sanctam, Pernyataan Katolik Roma mengenai kekuasaan mutlak Paus Roma -


Kanon 6 dari Konsili Nicea I

Canon 6
The ancient customs of Egypt, Libya and Pentapolis shall be maintained, according to which the bishop of Alexandria has authority over all these places since a similar custom exists with reference to the bishop of Rome. Similarly in Antioch and the other provinces the prerogatives of the churches are to be preserved. In general the following principle is evident: if anyone is made bishop without the consent of the metropolitan, this great synod determines that such a one shall not be a bishop. If however two or three by reason of personal rivalry dissent from the common vote of all, provided it is reasonable and in accordance with the church's canon, the vote of the majority shall prevail.


Kanon ini sekedar menyatakan bahwa ke-patriarkh-an punya otoritas atas Gereja-Gereja di wilayah yurisdiksi ke-partiarkh-an tersebut TANPA mengacu kepada hubungan antar ke-patriarkh-an (dimana Roma adalah yang paling tinggi diantara ke-patriarkh-an yang ada). 

Kita juga harus ingat bagaimana di jaman dahulu komunikasi dan transportasi amat sulit. Oleh karena itulah urusan-urusan lokal diserahkan kepada yurisdiksi-yurisdiksi lokal. Masalah kegerejaan di Mesir, Libya etc diserahkan kepada Alexandria, sementara Syria, Lebanon, Chalcedon etc diserahkan kepada Antiokia. Begitu pula Roma pun lebih disibukkan dengan urusan lokalnya meskipun Roma punya kuasa atas seluruh Gereja di dunia. 

Jadi kanon 6 itu sekedar pengaturan pen-delegasi-an otoritas lokal. Otoritas lokal (Alexandria dan Antiokia) diberi kuasa lokal untuk mengatur Gereja dibawah mereka sebagaimana kebiasaan Roma sendiri yang lebih banyak mengatur Gereja lokal dibawahnya daripada mencampuri operasional Gereja Alexandria, Libya, Pentapolis, Antiokia, Syria dll. 

Patut dicatat bahwa yang dijadikan model pen-delegasi-an disini adalah KEBIASAAN (custom) dari Uskup Roma. Ini mengindikasikan bahwa Roma-lah yang menjadi patokan dalam pengaturan hubungan kegerejaan. 

Terakhir, kanon ini sebenarnya juga telah dilanggar Orthodox karena mereka menganggap bahwa semua Uskup (termasuk para Patriarkh yang juga merupakan Uskup) adalah sejajar. Padahal kanon ini jelas-jelas menunjukkan bahwa seorang Patriarkh berada diatas Uskup lainnya.

Assisi wrote:

Ini tulisan Ortodox mengenai pandangan Tertulianus dan Origenes : 


1. Tertulianus 
"I believe that the Spirit proceeds not otherwise than from the Father through the Son" (Against Praxeas 4:1 [ca. A.D. 220]) 
"Roh Kudus tidak keluar selain dari Bapa, melalui Anak." 

Tertulianus tidak berpendapat Roh Kudus Keluar dari Bapa dan Anak, melainkan Tertulianus masih berpegangan kepada Injil Yohanes bahwa Roh Kudus keluar hanya dari Bapa dan diutus oleh anak (melalui anak)


Si Orhtodox ini (termasuk juga kebanyakan umat Katolik sendiri) tidak memahami posisi Katolik mengenai bagaimana Roh Kudus procedit dari Bapa dan Putra. 

Ketika Gereja Katolik mengatakan bahwa Roh Kudus berasal [procedit] dari Bapa dan Putra yang dimaksud adalah seperti ini: 

Code:

Bapa ----> Putra ----> Roh Kudus


Dan bukannya: 

Code:


    Bapa 
      \ 
        \ 
         \ 
         Roh Kudus 
         / 
        / 
       / 
    Putra 

Jadi tulisan Tertullianus tidak bertentangan dengan apa yang diyakini Gereja Katolik (cuma bertentangan dengan pemahaman si Orthodox yang tidak mengerti teologi Trinitas Katolik)

Quote:

2. Origen 
“We believe, however, that there are three persons: the Father and the Son and the Holy Spirit; and ...we believe none to be unbegotten except the Father. We admit, as more pious and true, that all things were produced through the Word, and that the Holy Spirit is the most excellent and the first in order of all that was produced by the Father through Christ" (Commentaries on John 2:6 [ca. A.D. 277])" 

"Kami percaya, bagaimanapun, bahwa ada tiga hakekat: Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan kami percaya tidak akan ada yang dikeluarkan kecuali dari Bapa. Kami mengakui, dengan kesalehan dan kebenaran, bahwa segala sesuatu telah dihasilkan melalui Firman, dan bahwa Roh Kudus adalah yang paling baik dan yang pertama dalam urutan semua yang dikeluarkan oleh Bapa melalui Kristus." 

Sekali lagi disebutkan bahwa Roh Kudus hanya dikeluarkan oleh Bapa melalui Perutusan Kristus.

(but btw keduanya bukan Santo, mohon tanggapanmu bro DV)


Yang ini tetap tidak menunjukkan bahwa Roh Kudus berasal dari Bapa SAJA dan sekaligus tetap tidak bertentangan dengan teologi Trinitas Katolik. 

PS 
Baik Tertullian maupun Origen bukan Santo. Mereka berdua memang Bapa Gereja, tapi bukan Santo. 

Origen sendiri sempat mengimani bidah tapi kemudian setelah mati bertobat, sementara Tertullian tetap menjadi seorang bidat sampai mati (sepanjang yang kita ketahui dari data sejarah).

DV JAWAB YOPI

1. Orthodox Antiokia sendiri tidak meng-klaim sebagai primus inter pares (pehaman Orthodox atas keutamaan Petrus yang sangat minimal). Sejak dulu yang disebut primus inter pares (menurut pemahaman Orthodox yang minimal) adalah Paus Roma. 

2. Orthodox tidak bisa mengabaikan bukti dari Tradisi (sebagaimana teradapat di link yang aku berikan) karena mereka bukan Sola Scripturist 

3. Bukti supremasi Petrus ada di Kitab Suci dan bisa dilihat di mana-mana, 
misalnya di scripturecatholic.com. 

4. Pada Konsili Yerusalem (Kis 15) pada saat konsili berlangsung semuanya (termasuk para rasul tentunya) berdiskusi dan berdebat. Namun semuanya berhenti dan diam ketika Petrus berdiri dan berbicara. Setelah itu para pembicara (Paulus, Barnabas, Yakobus) sekedar menjelaskan dan mengkonfirmasi keputusan Petrus dan tidak ada perdebatan sebagaimana terjadi sebelum Petrus berdiri.

TAMB DV KE YOPI

1. Kalau dia cuma mau bukti bahwa Orthodox Antiokia tunduk kepada Roma SAJA (bukannya Orthodox Rusia tunduk pada Roma, bukannya Orthodox Ethiopia tunduk pada Roma, bukannya Orthodox Assyria tunduk pada Roma) maka sudah ada surat dari Paus Julius I kepada Gereja Antiokia yang menunjukkan supremasinya di link yang aku berikan
2. Sikapnya yang hanya ingin membuktikan bahwa Orthodox Antiokia tidak tunduk kepada Roma namun tidak peduli dengan hubungan Roma dengan Orthodox lainnya atau hubungan Orthodox Antiokia sendiri dengan Orthodok lainnya menunjukkan sikap yang kekanak-kanakan. Seorang Orthodox sejati tidak berargumen melawan supremasi Paus Roma seperti itu. Sebab Orthodox sejati mengimani: 1) SEMUA Uskup adalah setara termasuk Patriarkh Antiokia, 2) yang primus inter pares adalah Roma (jadi paling tidak dalam hal kehormatan semata, Uskup Roma lebih tinggi sedikit dari Antiokia), 3) tidak ada satu Orthodox pun yang merasa bahwa Patriakrh Antiokia lebih istimewa dari tahta kuno lainnya (ie. Roma dan Alexandria). 

3. Orang yang tidak berkehendak baik dalam diskusi, sebaiknya diabaikan saja. Buang-buang waktu dan tenaga.

 

Mat 16:18

Dan Aku pun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya

Mat 16:18

And I say also unto thee, That thou art Peter, and upon this rock I will build my church; and the gates of hell shall not prevail against it

Tidak ada komentar:

Posting Komentar