Mengasihi Sesama

Mengasihi Sesama
Ibu Theresa dari Calcuta

Sabtu, 04 September 2021

Bagaimana Gereja Katolik memandang Kitab Suci

 

Bagaimana  Gereja Katolik  memandang Kitab Suci

Latar Belakang

Kitab Suci yang sekarang kita gunakan, dari mulanya adalah hasil dari Gereja. Saya ulangi. Kitab Suci atau Alkitab atau Holy Bible adalah hasil dari Gereja. Bukan sebaliknya. Bukan gereja produk dari kitab suci.

Yang terjadi saat ini, banyak yang menganut pola demikian. ‘Gereja’ berada atau ada didasarkan pada Kitab Suci. Banyak yang menamakan dirinya ‘gereja’ di dasarkan dari ‘anggapan mereka ada berdasarkan Alkitab’. Mereka selalu menekankan Alkitab, menurut Alkitab ayat ini, pasal ini, ...  orang kristen harus melakukan ini ... melakukan itu .... dan tak dapat disangkal ... banyak hasilnya menurut penafsiran pribadi. Maka jumlah denominasi mereka saat ini telah melampaui  38.000 denominasi. Mengapa begitu banyak ? Karena penafsiran pribadi !

Ada perbedaan tafsir kitab suci yang begitu banyak diantara mereka, dan terkadang sangat parah, sehingga ada Mormon, Saksi Yehovah dll, yang bagi merekapun dianggap sesat, kecuali oleh kelompok penganutnya. Akibat apa? Akibat melanggar nasihat St. Petrus dalam 2 Pet 1:20 :

20 Yang terutama harus kamu ketahui, ialah bahwa nubuat-nubuat dalam Kitab Suci tidak boleh ditafsirkan menurut kehendak sendiri, 21 sebab tidak pernah nubuat dihasilkan oleh kehendak manusia, tetapi oleh dorongan Roh Kudus orang-orang berbicara atas nama Allah.

 

Otoritas dalam menafsirkan alkitab, kitab suci atau firman Tuhan berada pada Gereja. Tetapi Hati-hati Gereja yang mana yang memiliki otoritas itu. Ada banyak ‘gereja’ yang mengaku memilikinya.

Umat katolik menerima Sabda Tuhan melalui Gereja, oleh karena itu umat katolik tidak dapat memisahkan Sabda Tuhan dari Gereja. Sebab dari Gerejalah, kita menerima Injil, dan dengan demikian, Gerejalah yang berhak mengartikan pesan Injil dengan benar. Kuasa mengajar yang tidak mungkin salah, tidak diberikan Kristus kepada kita masing-masing secara pribadi, tetapi diberikan kepada kepada Rasul Petrus dan para penerusnya, sesuai dengan janji Kristus bahwa Ia akan menyertai Gereja-Nya sampai akhir zaman (lih. Mat 16:18-19; 28:19-20). Dengan demikian, ajaran Gereja itu tidak mungkin bertentangan dengan Sabda Tuhan, dan pandangan yang mengatakan sebaliknya, justru tidak mempunyai dasar yang kuat.

Darimana kita tahu bahwa Kitab Suci adalah hasil dari Gereja? Dari sejarah dan dari kitab suci sendiri ! Gereja telah ada sebelum ada kitab suci yang kita gunakan sekarang. Selama permulaan abad pertama St. Paulus lah yang merintis penulisan surat-surat kepada jemaat-jemaat, diikuti dengan penulisan Injil Markus, Matius dan Lukas, surat-surat rasul yang lain, kemudian diakhiri oleh Injil Yohanes yang diperkirakan selesai ditulis sekitar tahun 100. Dan menggabungkan dengan kitab PL ... dikanonnisakan sekitar tahun 382 (abad ke 4). Perhatikan !!! Penulisan Injil dilakukan sejak sekitar tahun 60-an yang dirintis St. Paulus. Berarti saat itu gereja sudah lahir dan berjalan kurang lebih enampuluhan tahun, baru penulisan Injil seperti yang kita kenal saat ini baru di mulai, dan bentuk keseluruhannya mencakup PL dan PB baru diresmikan pada abad ke 4, sekitar tahun 400 Masehi.

Kata2 pertama yang ditulis ialah oleh Santo Matius, dan ia menulis demi kemudahan beberapa pribadi. Ia menulis Injil itu sekitar tujuh tahun setelah Kristus meninggalkan dunia ini, sehingga Gereja Allah, yang dibangun oleh Kristus, sudah ada dan eksis tujuh tahun sebelum tertulisnya satu baris kalimat pun dari Perjanjian Baru.

Santo Markus menulis sekitar sepuluh tahun setelah Kristus meninggalkan dunia ini; Santo Lukas sekitar duapuluhlima tahun, dan Santo Yohanes kirakira enampuluhtiga tahun kemudian sesudah Kristus mendirikan Gereja Allah. Santo Yohanes menulis bagian terakhir Alkitab - Kitab Wahyu - sekitar enampuluhlima tahun setelah Kristus meninggalkan dunia ini dan semenjak dibangunnya Gereja Allah. Jadi agama Katolik sudah ada dan hadir enampuluhlima tahun sebelum Alkitab terselesaikan, rampung, sebelum itu tertulis.

Sekarang, ada pertanyaan, apakah orang2 itu, yang hidup dizaman antara pembentukan Gereja Yesus dan perampungan penulisan Alkitab, apakah benar2 orang2 Kristen ? betul2 orang2 Kristen yang diterangi secara Kristen? Apakah mereka kenal agamaNya Yesus? Apa ada orang yang berani berkata, bahwa mereka yang hidup antara saat Yesus naik ke Sorga sampai saat Alkitab rampung ditulis, bukan orang2 Kristen? Oleh semua pihak, oleh semua denominasi, mereka diakui sebagai orang2 Kristen terbaik, buah pertama Darah Yesus Kristus.

Tapi bagaimanakah mereka tahu apa yang harus dilakukan untuk menyelamatkan jiwa mereka? Belajar dari Alkitab? Tidak, sebab Alkitab kan belum tertulis. Dan apakah Penyelamat kita akan meninggalkan Gereja-Nya selama enampuluhlima tahun tanpa guru, seandainya Alkitab itu memang benar adalah guru pengajar manusia ? Hampir pasti tentulah tidak.

Pertanyaan bagi yang menganggap otoritas tertinggi adalah alkitab, apakah para Rasul itu orang Kristen? Jawabnya tentu saja, "Oh ya, ya pasti; kan mereka justru malah pendiri Kristenitas." Baiklah, tapi jangan lupa tidak seorangpun dari para Rasul itu yang sempat pernah membaca Alkitab seperti yang kita kenal sekarang ; tidak seorangpun kecuali, mungkin, Santo Yohanes. Karena mereka semua telah mati terbunuh sebagai martir demi Iman-Nya kepada Yesus Kristus dan mereka tidak pernah sekalipun melihat sampul Alkitab. Masing2 rasul itu mati sebagai martir dan sebagai pahlawan Gereja Yesus, jauh sebelum rampungnya Alkitab.

Jadi, bagaimana caranya orang-2 Kristen yang hidup dikurun waktu 65 tahun pertama setelah Yesus naik ke Sorga - bagaimana mereka tahu apa yang harus mereka kerjakan untuk menyelamatkan jiwa mereka? Mereka tahu dengan tepat dan pasti dengan cara dan jalan yang sama seperti yang kalian ketahui, yakni lewat pengajaran dari Gereja Allah, sama caranya seperti dulu para umat Kristen purba mengenalnya.

Sesungguhnya tidak hanya 65 tahun Kristus meninggalkan Gereja yang telah Dia dirikan tanpa sebuah Alkitab, melainkan lebih dari 300 tahun. Gereja Allah sudah dibangun dan menyebar sendiri keseluruh dunia, tanpa adanya Alkitab, melebihi 300 tahun. Selama masa itu, orang-orang Kristen awal tidak tahu isi maupun komponen apa yang membentuk Alkitab.

Juga, dizamannya para Rasul ada banyak injil palsu. Ada yang disebut Injil Simon, Injil Nikodemus, Injil Maria, dan juga Injil Kanak2 Yesus. Semua injil ini tersebar diantara masyarakat, dan mereka tidak tahu mana yang diinspirasikan, mana yang palsu dan tidak otentik, tak asli. Bahkan yang terpelajar diantara mereka sendiri berdebat mana yang diutamakan, Injil Simon ataukah Injil Matius - kepada Injil Nikodemus atau Injil Markus, Injil Maria atau yang punya Lukas, Injil Kanak2 Yesus ataukah Injil Santo Yohanes Penginjil.

Juga begitulah keadaan sehubungan dengan surat surat itu: Banyak surat2 tidak asli yang ditulis, dan orang2 selama lebih dari 300 tahun bingung, tidak mampu mengetahui mana yang palsu dan tidak sejati, atau mana yang diwahyukan. Dan, karena itu, mereka tidak mengetahui apa saja yang menjadi komponen kitab2 dalam Alkitab.

Barulah dalam Abad Empat, Paus dari Roma, pemimpin Gereja, penerus pengganti Santo Petrus, mengumpulkan para Uskup dunia dalam sebuah konsili. Dan disanalah, dalam konsili itu ditetapkan bahwa Alkitab, seperti apa yang umat Katolik miliki kini, adalah Sabda Allah, dan bahwa Injil-injil Simon, Nikodemus, Maria, masa Kanak2 Yesus, dan lain2 surat atau tulisan2 adalah tidak sejati, minimal, tidak otentik; dan, paling tidak, bahwa tiada bukti2 pendukung inspirasinya, dan bahwa Injil Santo Lukas, Matius, Markus dan Yohanes, dan Kitab Wahyu, adalah pewahyuan oleh Roh Kudus.

Sampai waktu itu, seluruh dunia selama 300 tahun tidak mengenal apa itu Alkitab; jadi, mereka tidak bisa mengambil Alkitab sebagai pedoman penuntun, sebab mereka tidak tahu apa yang menyusun isi Alkitab. Apakah Penyelamat kita, kalau Ia memang berniat agar manusia belajar soal agamanya dari sebuah buku, akan meninggalkan umat Kristen selama 300 tahun tanpa kitab itu? Kemungkinan besar pastilah tidak.

Tidak hanya selama 300 tahun dunia itu tanpa Alkitab, tapi selama 1400 tahun lamanya dunia Kristen ditinggal tanpa Kitab Suci itu.

Sebelum seni cetak ditemukan, Alkitab merupakan barang langka; Alkitab mahal sekali. Hendaknya diperhatikan, seandainya anda pernah membaca sejarah, bahwa ilmu atau seni cetak baru ditemukan sekitar pertengahan Abad 15 - dan sekitar 100 tahun sebelum adanya satu orang Protestan didunia.

Seperti dikatakan tadi, sebelum ditemukannya ilmu seni cetak, buku-2 sangat langka selain merupakan barang mahal. Ahli sejarah menyatakan bahwa dalam Abad Sebelas - sekitar 900 tahun yang lalu - Alkitab amat langka sekali dan mahal, luar biasa mahal untuk membelinya! Sebelum adanya percetakan, segala sesuatu harus dikerjakan dengan pena diatas perkamen, kertas kulit, atau kulit domba. Karena itu, pekerjaan itu bukan main mahalnya - sebab lambat [harus teliti] dan membosankan.

Sekarang, mari kita berandai memperkirakan biaya sebuah Alkitab pada zaman itu, dengan perumpamaan seseorang harus bekerja sepuluh tahun lamanya untuk menyalin sebuah Alkitab dan dibayar sepuluh ribu rupiah per harinya. Untuk ini saja maka biaya ongkos sebuah Alkitab sudah Rp 36.500.000,--! Nah, seandainya ia membutuhkan 20 tahun untuk menyalin sebuah Alkitab, para sejarahwan bilang zaman itu kira2 bisa membutuh-kan waktu sekian lamanya, sebab tidak ada segala kemudahan dan kemajuan2 sarana yang menunjangnya seperti masa kini. Lalu, dengan Rp 10.000,- per hari saja, untuk masa 20 tahun, biaya sebuah Alkitab hampir Rp 80.000.000,-

Seandainya anda didatangi  seseorang yang berkata, "Saudara2ku, selamatkanlah jiwamu, sebab kalau jiwamu sampai hilang maka segalanya ikut hilang." Kalian akan balik bertanya, "Apa yang harus kami lakukan untuk menyelamatkan jiwa2 kami?" Pengkhotbah Protestan akan bilang begini padamu, "Kalian harus pergi cari Alkitab, bisa dibeli ditoko ini atau itu." Kau bakal tanya berapa harganya, dan akan dijawab sekitar Rp 80.000.000,-. Kau bakal teriak kaget: " Tuhan selamatkanlah kami! Dan apakah kami tidak bisa masuk Sorga tanpa buku itu?" Jawabnya bakal begini: "Tidak; kalian harus punya Alkitab dan baca." Kalian mengomel soal harganya, tapi ditanya balik, "apakah jiwamu tak bernilai Rp 80.000.000,-?" Oh ya, tentu saja, tapi kalian bilang tidak punya uangnya, dan kalau kau tidak bisa mendapatkan sebuah Alkitab, padahal keselamatanmu bergantung padanya, jelaslah kau harus tinggal diluar Kerajaan Sorga. Situasi begini kan betul2 parah, membuat kondisi benar2 putus asa. Selama 14 abad, seribu empat ratus tahun, dunia ini tanpa Alkitab - sebelum penemuan seni pencetakan, tidak ada seorangpun dalam 10.000, bahkan tidak juga seorangpun dalam 20.000, yang memiliki Alkitab. Dan pertanyaannya apakah Tuhan kita bakal meninggalkan dunia ini tanpa kitab itu, kalau sekiranya itu perlu untuk keselamatan manusia? Pastilah tidak.

Tapi mari kita sekarang berandai sebentar, bahwa semua orang punya Alkitab, bahwa Alkitab sudah ada dulu sejak awal mulanya, dan setiap pria, wanita, dan setiap anakpun masing2 punya. Apa sih faedah dan manfaat baiknya bagi orang2 yang tidak tahu cara membacanya? Itu cuma menjadi barang buta, barang mati untuk orang yang memilikinya.

Sekarang ini saja masih cukup banyak dari penduduk dunia buta huruf. Selain itu, karena Alkitab tertulis dalam bahasa Yunani dan Ibrani, mutlaklah harus belajar bahasa2 itu dulu agar supaya bisa membacanya.

Tapi ada dikatakan bahwa sekarang kita sudah punya terjemahan dalam bahasa Perancis, Inggris, atau bahasa2 populer lainnya. Ya benar, tapi apakah kau pasti dan yakin terjemahannya murni dan benar? Kalau tidak, kau tidak memiliki Firman Allah. Kalau terjemahannya salah, maka itu menjadi karya manusia. Bagaimana caramu untuk memastikannya? Bagaimana caramu menguji apakah anda memiliki terjemahan-benar dari bahasa Yunani dan Ibrani?

"Wah, aku tidak mengerti bahasa Yunani maupun Ibrani," kata kebanyakan orang; "untuk terjemahannya ya saya harus bergantung pada pandangan dan pendapat orang yang terpelajar dan ahli."

Nah, bagaimana sekarang, jika seandainya para ahli yang terpelajar ternyata saling berbeda pendapat, ada yang berkata ini baik, dan ada yang teriak itu salah? Apakah imanmu hilang; karena kau mulai meragukan, maju mundur, sebab tidak yakin terjemahannya benar.

Sehubungan dengan para penerjemah-Alkitab Protestan, cukup banyak ahli mereka yang mengatakan bahwa terjemahan - edisi versi King James - adalah sebuah terjemahan penuh dengan cacat kesalahan2. Dan para rohaniwan-ahli protestan, pengkhotbah maupun para uskupmu telah menulis ber-jilid2 untuk menunjuk pada semua kesalahan2 yang ada didalam terjemahan King James awal, dan para ahli Protestan dari berbagai denominasipun setuju.

Beberapa tahun yang lalu, di St. Louis abad 19, dikota itu diadakan sebuah konvensi untuk para hamba Tuhan. Segala denominasi diundang, objeknya ialah mengatur penterjemahan-baru Alkitab, dan memberikannya pada dunia. Acara dan pelaksanaan konvensi itu dilaporkan tiap hari dikoran Missouri Republican. Seorang ahli dari gereja Presbyterian, berdiri, dan, sambil mendesak perlunya suatu terjemahan-baru Alkitab, mengatakan bahwa didalam terjemahan-Protestan saat itu ada tidak kurang dari tigapuluh ribu kesalahan.

Dan rekan-rekan  Protestan yang baik, jika Alkitab adalah penuntun dan pengajarmu. Pengajar luar biasa, dengan 30.000 kesalahan! Semoga Tuhan selamatkan kita dari pengajar demikian! Satu kesalahan saja sudah cukup jelek, tapi tigapuluh ribu kesalahan2 kiranya sedikit terlalu banyak.....

Seorang tokoh lain berdiri dikonvensi itu - saya pikir ia seorang Baptis - dan, sambil menekankan perlunya pelaksanaan sebuah terjemahan-baru Alkitab, berujar bahwa selama tigapuluh tahun yang lewat ini dunia tanpa Sabda Allah, sebab katanya, Alkitab yang kita miliki sama sekali bukanlah Firman Allah.

Disinilah para tokoh Protestan sendiri, berbicara untuk kalian. Anda semua membaca surat kabar, dan teman2, tentunya pasti tahu apa yang terjadi di Inggris beberapa tahun yang silam. Sebuah petisi telah dikirimkan ke Parlemen untuk menyetujui permohonan dana subsidi sebanyak beberapa ribu poundsterling untuk pembiayaan sebuah terjemahan-baru Alkitab. Dan gerakan itu dipimpin dan dilaksanakan oleh uskup2 Protestan maupun para rohaniwan.

Tapi, coba pikirkan dengan baik, bagaimana anda bisa meyakini imanmu? Kalian bilang Alkitab ialah penuntunmu, namun kalian tidak tahu dan memilikinya atau tidak. Marilah untuk sejenak kita mengandaikan bahwa semuanya punya Alkitab. Biarpun seandainya semua membacanya dan memiliki terjemahan yang benar murni, itupun tetap tak bisa menuntun manusia, sebab interpretasi-pribadi Alkitab tidak mungkin bisa tanpa-salah, tapi, malah sebaliknya, kemungkinan besar bisa salah. Itu menjadi sumber dan berawalnya mata air segala macam kesalahan2 dan bidat2, dan juga segala macam doktrin2 hujatan.

Anda kaget, tenang-tenang saja dan mari kita lihat sebab-sebabnya.

Sekarang ini saja sudah ada sekitar banyak sekali  denominasi atau gereja2, dan semuanya berkata Alkitab adalah penuntun dan pengajarnya. Dan saya percaya mereka semuanya tulus. Apakah mereka semuanya gereja yang sejati? Ini kan mustahil. Kebenaran adalah tunggal, sama halnya seperti Allah yang Esa, dan tidak boleh ada pertentangan. Pada dasarnya setiap orang pada hakikinya melihat tidak setiap sesamanya bisa benar, sebab mereka saling berbeda dan saling kontradiksi, karena itu maka tidak semuanya bisa benar. Kaum Protestan berkata bahwa pendoa yang membaca Alkitab dengan benar memiliki kebenaran, dan semuanya bilang mereka sudah benar bacanya.

Coba kita andaikan disini ada seorang pendeta Episkopal. Dia amat tulus, seorang yang jujur, penuh maksud-baik dan pendoa setia. Ia membaca Alkitabnya secara sangat rohani, dan dari kata2 Alkitab, ia bilang sangatlah jelas sekali bahwa harus ada para uskup. Sebab tanpa uskup mana bisa ada imam, dan tanpa imam berarti tidak ada Sakramen, dan kalau tidak ada Sakramen ya tidak ada Gereja. Ada juga seorang Presbyterian yang juga tulus dan berniat baik. Iapun juga membaca Alkitab, dan berkesimpulan bahwa tidak harus ada uskup, perlunya cuma penatua penatua saja.

"Lho, ini ada di Alkitab," berujar pendeta Episcopal itu; dan, "ya ini ada juga di Alkitab untuk menunjukkan omong kosongmu itu," kata orang Presbyterian itu.

Dan, keduanya sama2 pendoa soleh dan berkehendak baik.....

Lalu masuklah seorang umat Baptis. Diapun juga bertujuan baik, orang jujur selain juga pendoa yang tekun. "Nah," katanya, "kalian apa sudah dibaptis?" "Saya sudah," kata orang Episkopal, "waktu saya masih bayi." "Iya, saya juga sama," kata yang Presbyterian, "waktu bayi." "Tapi," sambung orang Baptis itu, "kalian pasti masuk Neraka sepasti kamu hidup ini."

Selanjutnya masuklah seorang Unitarian, sama juga jujurnya, tulus dan berkehendak baik. "Begini loh...," ujarnya, "izinkan saya berkata, kalian semua ini sekelompok penyembah berhala. Kalian menyembah seorang manusia yang dianggap Allah, padahal bukan Allah sama sekali." Dan mulailah ia memberikan beberapa teks dari Alkitab untuk memberi  bukti, sedang sementara itu yang lain2nya menyumbat kupingnya agar tidak harus mendengar hujatan orang Unitarian ini. Dan, semuanya berpegang dan ngotot mereka memiliki pengertian-Alkitab yang benar.

Setelah itu, masuklah seorang Metodis, dan ia berujar, "Sahabatku, apakah kalian betul2 sudah punya agama?" "Ya jelas kami punya," kata mereka balik. "Apakah kalian pernah merasakan agama," sambungnya, "Roh Allah yang bergerak gerak dalam dirimu?" ”Ah, omong kosong," sanggah orang Presbyterian, "kami dituntun oleh pertimbangan akal sehat dan penilaian." "Well," orang Metodis itu meneruskan, "kalau kalian belum pernah merasakan agama, kalian belum pernah menerimanya, dan akan masuk Neraka selamanya.

Kemudian masuklah seorang Universalis, ia mendengar mereka yang saling mengancam saling bakal dimasukkan keapi neraka. Katanya penuh keheranan, "Waduhh, kalian ini benar2 semua orang aneh. Masak tidak mengerti Sabda Allah? Tidak ada sama sekali Neraka itu. Pikiran itu kan cukup untuk menakuti para ibu-ibu tua dan anak2," dan ia lalu membuktikan dengan ayat-ayat dari Alkitab.

Sekarang masuklah seorang Quaker. Ia melerai dan memohon agar mereka tidak bertengkar, dan menyarankan agar mereka sama sekali jangan membaptis. Ia benar2 seorang yang sangat polos dan tulus, dan mengimani benar2 Alkitab.

Ada lagi orang lain yang masuk dan berseru: "Baptislah yang pria saja dan biarkan saja semua wanita. Sebab Alkitab berkata, kecuali bila seorang [man=manusia) laki-laki dilahirkan kembali oleh air dan Roh Kudus, dia tidak akan bisa masuk ke Kerajaan Sorga. Jadi," ujarnya, "para wanita sudah baik, tapi baptislah para pria."

Setelah itu masuklah "Shaker", dan ia berkata, "Kalian semuanya kok lancang dan begitu congkak. Tidakkah kalian tahu bahwa Alkitab bilang kalian harus bekerja keras untuk memperoleh keselamatanmu dan harus dengan penuh ketakutan serta bergemetaran, dan kalian ini kok sama sekali tidak gemetar. Saudara2ku, kalau kalian ingin masuk Sorga, ayo, gemetarlah, shake, shake, saudara2ku, shake!"

Nah bagaimana ? Tadi ini telah ada sekitar tujuh atau delapan denominasi sebagai contoh, satu sama lain saling berbeda, atau pengertiannya mengenai Alkitab berlainan caranya, semua itu ilustrasi buah2 yang dihasilkan karena interpretasi pribadi. Bagaimanakah ribut ramainya, kalau seluruh denominasi yang saling berbeda, semuanya memegang Alkitab sebagai pedoman pengajarannya, dan semuanya berbeda satu sama lainnya? Apakah mereka semuanya benar? Yang satu bilang ada Neraka, dan lainnya lagi ngotot teriak tidak ada Neraka. Apakah keduanya benar? Yang satu berkata Kristus itu Allah, yang satunya lagi bilang Dia bukan! Seseorang lalu berkata mereka itu tidak penting. Seorang lagi bilang baptisan itu merupakan persyaratan, dibantah langsung oleh lainnya yang bilang itu tidak benar. Apakah keduanya benar?

Ini hal yang mustahil, "semuanya" tidak mungkin bisa benar.

Siapa, jadinya, yang benar? Dia yang memiliki pengertian yang benar dari Alkitab, begitu katamu. Tetapi Alkitab ternyata tidaklah memberitakan siapa itu - Alkitab tidak pernah menyelesaikan pertikaian itu. Alkitab bukanlah guru pengajar.

Alkitab itu, adalah sebuah kitab yang baik. Umat Katolik menghargai itu sebagai Sabda Allah, bahasa inspirasi, dan setiap umat Katolik dihimbau untuk membaca Alkitab. Akan tetapi, se-baik2nya Alkitab itu, teman2ku, Alkitab tidak dapat menerangkan dirinya sendiri. Itu sebuah buku yang baik, kitab Sabda Allah, bahasa penuh ilham dan pewahyuan, namun pengertian penafsiranmu mengenai Alkitab bukanlah bahasa wahyu. Pengertianmu mengenai Alkitab tidaklah diilhami, bukan wahyu – karena pastilah anda tidak menganggap diri anda telah diilhami dengan wahyu!

Baiklah, jadi apa dan bagaimana ajaran Gereja mengenai subjek ini? Gereja Katolik berkata bahwa Alkitab adalah Sabda Allah, dan bahwa Allah telah menunjuk satu otoritas untuk memberi arti benar.

Hal ihwal Alkitab bisa disamakan sama seperti Konstitusi Amerika Serikat. Waktu Washington dan kelompoknya menetapkan Konstitusi dan sistim Tata Hukum Amerika Serikat, mereka tidak berkata kepada rakyat Amerika Serikat: "Biarlah setiap orang membaca Konstitusi kemudian pergi bentuklah sebuah pemerintah bagi dirinya sendiri; biarlah setiap orang masing-masing membuat penafsirannya sendiri2 mengenai Konstitusi ." Seandainya Washington melakukan itu, maka hampir dipastikan tidak pernah akan ada pembentukan Amerika Serikat. Orang2 semuanya akan ter-bagi2 antara mereka sendiri, dan negara ini akan terpecah belah menjadi seribu divisi, seribu bagian-bagian atau pemerintahan-pemerintahan.

Apa yang telah Washington kerjakan? Ia memberikan Konstitusi dan Tata Hukum, dan menunjuk Mahkamah Agung dan Hakim Agung bagi Konstitusi. Dan mereka ini yang harus memberikan penerangan yang benar mengenai Konstitusi kepada setiap warga negara Amerika - semua, tanpa pengecualian, dari Presiden sampai pengemis. Semuanya terikat untuk mematuhi keputusan Mahkamah Agung, dan inilah sebabnya, hanya sebab satu2nya ini, maka seluruh rakyat bisa disatukan bersama dan juga bisa mempertahankan Kebersatuan Amerika Serikat. Pada saat rakyat boleh membuat penafsiran-sendiri mengenai Konstitusi, saat itu pula Kebersatuan berakhir.

Jadi begitulah halnya dalam setiap pemerintahan - begitulah disini, di Amerika Serikat, dan di-mana2. Ada Konstitusi, ada Mahkamah Agung atau hukumnya, ada Hakim Agung dari Konstitusi, dan Mahkamah Agung itu tugasnya memberi kita pengertian2 Konstitusi dan Tata Hukum.

Dalam setiap negara yang terperintah-baik seharusnya ada sebuah susunan seperti ini - Undang2 Dasar, Mahkamah Agung, Hakim Agung, yang dipatuhi oleh semua orang. Disetiap negara ada susunan itu; dan semuanya terikat dan tunduk pada keputusan, dan tanpa itu tak ada kondisi, suasana ataupun urusan2 pemerintahan yang eksis. Bagaimana mereka bisa terus dipersatukan? Oleh pemimpinnya, yaitu diktator mereka.

Begitulah, Penyelamat kita juga telah membentuk Mahkamah Agung-Nya - Hakim Agung-Nya - untuk memberi kita arti yang benar dan tepat dari Tulisan2 Suci, dan memberikan kita pewahyuan yang benar dan doktrin-doktrin Sabda Yesus. Putra Allah-yang-Hidup berjanji bahwa Mahkamah Agung ini tidak mungkin salah, dan, karena itu, para Katolik sejati tidak akan pernah ragu2.

"Aku percaya," kata yang Katolik, "sebab Gereja mengajariku begitu. Aku percaya pada Gereja sebab Allah memberi perintah padaku untuk percaya pada Gereja.. Dia berkata: 'Sampaikanlah pada gereja. Dan kalau dia tidak mau mendengarkan gereja, pandanglah dia sebagai seorang yang tidak mengenal Allah atau seorang pemungut cukai."  (Mat 18:17)

Bagaimana dengan kita yang merupakan anggota Gereja Katolik?

Kita memandang Alkitab adalah produk dari Gereja yang di ilhami oleh Roh Kudus. Kita memandang kitab Suci, sebagai tuntunan juga, yang berasal dari Tuhan. Perbedaannya, kita dalam ajaran resmi tidak boleh menafsirkannya menurut selera atau pendapat pribadi kita sendiri, walaupun, mungkin anda seorang genius, ahli bahasa kitab suci atau memiliki seabreg gelar yang membuktikan anda hebat !  Untuk ajaran resmi, kita, umat katolik, mengimani penafsiran yang diajarkan gereja !!!

Pertanyaannya. Apakah kita tidak boleh menafsirkan sendiri kitab suci yang kita baca tiap hari? Boleh dong, selama hal itu menyangkut kesaksian dan pengalaman iman pribadi, dan bukan ‘ajaran resmi’ dengan mengatas namakan  gereja katolik. Misalnya :” Menurut ajaran gereja katolik , ayat ini maknanya adalah ...”  , pernyataan itu bisa benar kalau mengutip sumber resmi dari gereja yang tentu saja ada rujukannya.

Matius 28 : 19-20 dikenal sebagai Perintah Agung. Disini, Yesus memberitahu para rasul untuk membaptis dan mengajar apa yang Ia ajarkan pada mereka. Yesus TIDAK menginstruksikan Gereja untuk pergi dan menulis kitab. Yesus sendiri TIDAK PERNAH menulis kitab. Yesus adalah yang paling logis melakukannya JIKA inilah yang Ia maksudkan; untuk membangun gereja yang didasarkan pada kitab. Gereja dibangun melalui pengajaran kepada orang lain melaui khotbah ajaran-ajaran Yesus. Iman datang dari apa yang dikhotbahkan (Roma 10:17). Gereja ada SEBELUM kitab suci. Gereja memiliki otoritas (Lukas 10 :16 dan 3Yoh 1:9). Bagi Gereja, Kitab Suci dan Tradisi bersifat otoritatif (2 Tes 2:15 dan 1 Kor 11:2). Tidak ada tertulis dalam Kitab Suci bahwa Kitab Suci harus menjadi SATU-SATUNYA OTORITAS! Faktanya, Kitab Suci mengajarkan kita bahwa Gereja adalah pilar dan dasar kebenaran (1 Tim 3:15).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar