Mengasihi Sesama

Mengasihi Sesama
Ibu Theresa dari Calcuta

Minggu, 05 September 2021

SEKILAS INFO TENTANG BAHASA ARAMAIC SEKITAR MASA YESUS


 

PENGARUH BAHASA ARAM

Akhir-akhir ini banyak yang menanyakan apakah sebenarnya bahasa yang digunakan dalam masa Perjanjian Baru? Soalnya ada kalangan yang akhir-akhir ini menekankan slogan ‘kembali ke akar yudaik’ yang menyimpulkan bahwa bahasa Ibrani selalu dipakai oleh bangsa Ibrani termasuk pada masa Perjanjian Baru dan Perjanjian Baru ditulis dalam bahasa Ibrani. Benarkah kesimpulan demikian?

Bahasa Aram sejak abad IX sM., baik sebagai bahasa tulisan maupun percakapan, sudah meluas di sekitar Palestina sehingga dapat dimak­lumi kalau bahasa Ibrani yang berasal dan tidak jauh berbeda dengan Aram terdesak sehingga terpengaruh bahasa yang lebih seder­hana itu dan digunakan dalam percakapan sehari-hari.

”Pada abad IX sM. dan seterusnya, bahasa Aram dan tulisannya (diambil dari abjad Ibrani/Punisia) secara pesat menjadi media internasional dalam bidang hukum dan politik …. Bahasa Aram menjadi bahasa komunikasi yang resmi di seluruh Kerajaan Persia. Ezra adalah contoh klasiknya. Kenyataan ini secara jelas dapat dilihat pada papirus yang ditemukan di Mesir (V sM.) …. Baik Daniel, Ester dan lainnya, dengan mudah menempatkan bahasa Aram sebagai bahasa percakapan pada abad VI/V-sM. di Babel”. (Kata ”Aram, Arameans” dalam The New Bible Dictionary, hlm. 58-59)
 

Aram Bahasa Sehari-hari

Perlu diketahui bahwa sekalipun ada dua bahasa berpengaruh di Pales­tina pada abad-abad sesudahnya, yaitu Yunani dan Aram, ke­nyataannya dari kedua bahasa itu, berangsur-angsur bahasa Yunani menjadi lebih dominan daripada Aram sebagai bahasa umum dan perdagangan, sehingga pada masa Yesus hidup bahasa Yunani lebih berfungsi sebagai bahasa komunikasi umum lisan dan tulisan di sekitar Laut Tengah, dan bahasa Aram sebagai dialek lokal di kalangan rakyat Palestina.

”Bahasa Yunani secara berangsur-angsur menggeser bahasa Aram pada kurun waktu itu, tetapi untuk mengimbangi kekalahan di kawasan yang lebih mengalami pengaruh Yunani, bahasa Aram memperoleh kemenang­an mempengaruhi dua kawasan yaitu di Arab di mana orang Nabatea dan Palmira menggunakan bahasa Aram sampai masa Kristen, dan di Pales­tina, di mana adanya penolakan kelompok atas pengaruh kebudayaan Yunani mendorong penduduk setempat untuk menggunakan bahasa Aram”. ( Kata ”Aramaic” dalam Interpreter’s, vol. 1, hlm. 187.)

Jadi, kala Yesus hidup, ada dua bahasa berlaku umum di Palestina yaitu bahasa Yunani dan Aram. Bahasa Yunani ibarat bahasa komunikasi umum lisan dan tulisan sebagai bahasa regional yang digunakan di sekitar Laut Tengah, sedangkan bahasa Aram lebih merupakan bahasa lokal yang biasa digunakan di lingkungan kerabat dekat dan percakapan rakyat umum sehari-hari. Bahasa Ibrani hanya digunakan kalangan terbatas, terutama kalangan imam agama Yahudi yang digunakan dalam salin-menyalin Kitab Suci. Sama dengan Mulder, Tenney juga mengemukakan bahwa:

”Meskipun tidak banyak yang diketahui mengenai sejarah Yahudi sejak zaman Nehemia hingga abad II sM., ada tercatat beberapa kejadian pen­ting. Bangsa Yahudi dan Samaria berkembang menjadi dua suku bangsa yang terpisah; bahasa Aram menggantikan bahasa Ibrani sebagai bahasa pergaulan di Palestina, dan Helenisme mendesak Yudaisme”. ( Tenney, hlm. 29.)

”Bahasa Ibrani kuno, yang sangat erat kaitannya dengan bahasa Aram, sudah tidak digunakan lagi sejak zaman Nabi Ezra, kecuali di antara para rabi yang mempelajari dan menggunakannya sebagai media pemikiran teologis. Bahasa ini tidak dikenal oleh orang kebanyakan .... Bahasa Aram dan Yunani lebih banyak berperanan di dalam sejarah gereja pada abad yang pertama daripada bahasa Latin atau Ibrani”. (Ibid., hlm. 67-68.)

Dapat dimaklumi kalau Yesus berbicara dua bahasa, Ia mengucapkan ”Eli/Eloi Lama Sabakhtani” bahasa Aram waktu di salib. Alkitab Perjanjian Baru ditulis dalam bahasa Yunani, menunjukkan bahwa Yesus dan para murid yang menulis Injil juga menguasai bahasa Yunani di samping Aram, bahasa ibu mereka.

”Agaknya Yesus berbicara juga bahasa Yunani ... tetapi bahasa ibu mereka saat itu ialah bahasa Aram”. ( M.E. Duyverman, Pembimbing ke dalam Perjanjian Baru, hlm. 16.)

Ada yang berpendapat bahwa ucapan Yesus di kayu salib adalah bahasa Ibrani karena Yesus mengucapkan ”Eli” atau ”Eloi” yang adalah ” bahasa Ibrani, lagi pula Yesus mengucapkan kutipan ucapan pemazmur dengan mirip, padahal pemazmur berbicara dalam bahasa Ibrani. Marilah kita bandingkan kemiripan itu.

”Eli Eli lamah ’azavtani” (Mzm. 22:2).

Ini diucapkan oleh Yesus sebagai:

”Eli Eli lama sabakhtani” (Mat. 27:46).

”Eloi Eloi lama sabakhtani” (Mrk. 15:34).

Kelihatannya ketiga kalimat itu mirip, tetapi berbeda. Kita mengetahui bahwa menurut penelitian, bahasa yang digunakan semasa Yesus hidup adalah bahasa Yunani sebagai bahasa komunikasi umum regional dan bahasa Aram sebagai dialek lokal, dan penelitian sejarah menyebutkan bahwa Yesus berkata dalam dialek lokal Aram yang mirip dengan bahasa Ibrani. Menurut definisi Strong Concordance, kata ”Eli/Eloi” dan ”sabackhtani” berasal bahasa Aram, dan ”lama” adalah kata Aram sekalipun berasal bahasa Ibrani ”lamah”. Jadi di sini kita melihat sebenarnya Yesus di banyak bagian Alkitab menerjemahkan ”Elohim” sebagai ”Theos” dan di atas kayu salib menyebut dengan dialek lokal Aram kala itu dengan sebutan El Aram (kependekan Elah). Mazmur 22:2 bahasa Ibrani, yang diucapkan Yesus di atas kayu salib dalam dialek Aram, kata yang dipakai bukan Elohim tetapi El Aram.

Adanya kata-kata ”Aram” yang tidak diterjemahkan menunjukkan bahwa memang kata-kata dan nama ”Yunani” Alkitab Perjanjian Baru itulah yang diucapkan Yesus jadi tidak diterjemahkan dari bahasa Aram, kecuali kalau memang di­ucapkan dalam bahasa Aram seperti yang diucapkan di atas kayu salib di mana Yesus mengucapkan kata-kata dalam bahasa ibu-Nya, suatu ucapan dalam bahasa yang lebih bersifat kekeluargaan yang intim.

Ter­nyata pada saat Yesus hidup ada dua bahasa yang secara independen dipakai Yesus, tetapi yang jelas bukan bahasa Ibrani melainkan bahasa Yunani dan Aram. Bila kitab Perjanjian Baru merupakan terjemahan bahasa Aram, tentu kata-kata ”Aram” tidak pernah ada dalam PB, sebab adalah sesuatu yang tidak biasa kalau ada bagian yang diterjemahkan dan yang lain tidak. (Naskah-naskah PB bahasa Yunani ada ribuan yang ditemukan, tetapi tidak dalam bahasa Ibrani dan Aram, menunjukkan bukti bahwa bahasa Yunanilah yang digunakan dalam penulisan naskah asli PB. Memang kemudian ada terjemahan ke dalam bahasa Ibrani dan Aram beberapa abad kemudian. Di Khirbet Mird, ditemukan fragmen Markus, Yohanes dan Kisah dalam bahasa Yunani, dan fragmen Matius Lukas, Kisah, dan Kolose, dalam bahasa Palestina-Siria (Aram). Namun fragmen-fragmen ini setelah diselidiki ternyata berasal dari waktu diantara abad V s/d VIII. (lihat La Sor, hlm. 45).)

Demikian juga istilah ‘Alfa dan Omega’ dalam kitab Wahyu menunjukkan istilah awal dan akhir abjad Yunani. ( Abjad Ibrani diawali huruf Alef dan diakhiri huruf Taw). Yang menarik lagi untuk diamati adalah bahwa baik dari sumber para ahli Kristen maupun Islam sendiri diakui bahwa bangsa dan bahasa Arab mempunyai kaitan erat dengan bangsa dan bahasa Aram:

”sifat khusus dari bahasa Ibrani, bahasa itu selalu diancam oleh pangaruh bahasa Aram. Kita sudah melihat bahwa dari permulaannya dalam bahasa Ibrani terdapat unsur-unsur Aram Arab. Terutama di Israel Utara ... pengaruh itu juga merembet ke selatan, ke tanah Yehuda”. ( D.C. Mulder, Pembimbing ke dalam Perjanjian Lama, hlm. 18.)

Bahasa Aram dan Arab

Dalam Ensiklopedia Islam disebutkan bahwa bangsa Aram merupakan salah satu nenek-moyang bangsa Arab.

”Bangsa Arab Utara dipandang sebagai Arab al-Musta’ribah (Arab yang di-Arab-kan), sementara bangsa Arab keturunan Quathan yang tinggal di wilayah selatan menamakan dirinya sebagai Arab Muta’arribah, atau suku-suku hasil percampuran dengan Arab al-’Aribah (Arab Asli) .... Kelompok Arab yang asli ini, yakni keturunan Aram putra Shem putra Nabi Nuh”. ( ”Bangsa Arab” dalam Cyril Glasse, Ensiklopedia Islam, hlm. 49-50.)

Jadi, di atas kayu salib bukan saja Yesus berbahasa Aram dan bukan Ibrani, tetapi ia berbicara dalam bahasa Aram yaitu bahasa dari bangsa yang menjadi salah satu nenek-moyang (bahkan yang dianggap asli) dari bangsa dan bahasa Arab. Pengaruh bahasa Aram disekitar Palestina, terutama ditempat aslinya di Siria, mendorong diterjemahkannya Kitab Suci PL+PB ke bahasa Aram. Ini dikenal sebagai Peshita yang ditulis sekitar abad II s/d III M.

Aram, Bahasa Asli PB ?

Ada pendapat dikemukakan bahwa bahasa asli Alkitab Perjanjian Baru adalah bahasa Ibrani atau Aram. Salah satu argumentasi yang dikemukakan didasarkan peristiwa dimana menurut EusebiusPapias menyebut:

“Matius mengumpulkan ucapan-ucapan Yesus (ta logia) dan menuliskannya dalam logat lokal, dan setiap orang menerjemahkannya sebisanya.” ( Eusebius, Sejarah Gereja, 111, xxxix, 16)

Gema ucapan Eusebius tentang Papias ini kemudian diteruskan oleh a.l. Irenius, Origenes, dan Jerome. Ucapan Papias ini menimbulkan spekulasi atas beberapa hal, (1) apakah Matius menulis Injilnya dalam logat lokal?; (2) dan Apakah logat lokal itu bahasa Ibrani atau Aram?

Mengenai apakah Matius menulis Injil dalam bahasa Ibrani masih dipersoalkan, soalnya ucapan Papias itu tidak secara eksplisit menyebutnya sebagai Injil, mungkin hanya ucapan-ucapan (‘ta logia.’ Band. logion Injil Thomas) Yesus yang dikumpulkannya dan ketika menulis Injil dalam bahasa Yunani ia menjadikan ucapan-ucapan itu sebagai masukan. Anggapan seakan-akan yang ditulis itu adalah Injil yang lalu diterjemahkan ke bahasa Yunani lemah, soalnya dari penelitian kandungan Injil Matius yang salinannya dalam bahasa Yunani banyak ditemukan dibandingkan kandungan Injil-Injil yang lain, tidak ada indikasi bahwa Injil itu diterjemahkan dari bahasa lain, Injil Matius ditulis aslinya dalam bahasa Yunani.

Mengenai logat lokal itu apakah bahasa Ibrani atau Aram, kita sudah melihat dari sejarah yang dibahas di atas bahwa bahasa Ibrani sebagai logat percakapan lokal sudah lama mati sejak sebelum Ezra sehingga kotbah Ezra diterjemahkan ke dalam bahasa Aram pada abad V sM, dan Tanakh diterjemahkan pada abad III sM ke dalam bahasa Yunani (Septuaginta). Jadi dialek lokal itu jelas Aram dan bukan Ibrani.

Mungkin saja Matius menulis ta-logia atau Injil dalam bahasa Aram, namun naskah salinan Injil Matius bahasa Aram tidak pernah ditemukan, sedangkan naskah salinan kitab Injil Matius dalam bahasa Yunani banyak ditemukan. Anggapan bahwa bahasa Aram adalah bahasa asli PB karena Injil Matius ditulis dalam bahasa Aram terlalu dipaksakan, apalagi kalau disebutkan bahwa bahasa asli Alkitab PB adalah bahasa Ibrani.

Untuk membuktikan bahwa bahasa asli PB adalah bahasa Ibrani dikemukakan juga argumentasi ditemukannya Injil Matius dalam bahasa Ibrani yang dikenal sebagai Shem-Tov dan Du Tillet. Kedua Injil Ibrani itu sebenarnya ditemukan pada abad-abad pertengahan, yaitu Shem-Tov (abad XIV) yang ditulis oleh Shem Tov ben Shaprut dalam karya Eben Bohen, sedangkan Du Tillet (abad XVI) ditemukan seorang uskup Perancis bernama Jean Du Tillet ketika ia berkunjung ke Roma.

Yang dipersoalkan adalah bahwa kedua Injil Matius Ibrani itu karena berbeda beberapa bagian isinya dengan Injil Yunaninya, dianggap berasal dari naskah yang cukup kuno dan diusahakan setua abad pertama bahkan sebelum Injil Matius dalam bahasa Yunani ditulis. Namun kebanyakan para ahli menyebutnya sebagai karya hasil abad pertengahan yang diterjemahkan dari naskah Yunani. Dalam kedua versi Injil Matius Ibrani tidak memuat tetragrammaton.

Kita harus menyadari dengan benar bahwa karena kedua versi Injil Matius Ibrani di atas adalah terjemahan dari naskah Matius dalam bahasa Yunani, maka jelas tidak bisa dijadikan dasar untuk membuktikan bahwa Perjanjian Baru itu ditulis dalam bahasa Ibrani. Demikian juga menggunakan kitab-kitab suci kalangan gerakan nama suci untuk membuktikan bahwa bahasa asli Perjanjian Baru adalah bahasa Ibrani juga menunjukkan lingkaran tanpa ujung, soalnya baik Shem Tov, Du Tillet, The Scripture dan lainnya itu sendiri perlu diuji keabsahan terjemahannya. Ini sama halnya dengan membuktikan bahwa dalam Perjanjian Baru ada banyak nama Yahwe hanya dengan menunjukkan bukti adanya nama itu dalam Kitab Suci Torat dan Injil, padahal KS-TDI sendiri kehadirannya dan proses penerjemahannya dipertanyakan.

Demikian juga, bila dikemukakan adanya argumentasi bahwa Alkitab Perjanjian Baru aslinya ditulis dalam bahasa Ibrani dengan nama Brit Hakadasha, itu adalah terjemahan bahasa Ibrani yang belum lama dikerjakan yang diterjemahkan dari naskah PB Yunani Koine.

Dari pembahasan mengenai bahasa Ibrani di atas, kita melihat bahasa Ibrani itu muda dan berasal dari pencampuran bahasa Aram, Kanaan & Amorit, bahasa itu juga labil yaitu mudah terpengaruh bahasa asing Aram, Yunani, dan Arab, bahkan bahasa itu sukar dan kurang populer sehingga untuk waktu yang lama tidak digunakan sebagai bahasa percakapan, sekalipun tetap bertahan sebagai bahasa di kalangan terbatas terutama surat-menyurat, dan agama untuk saling-menyalin Alkitab.

Membatasai karya Yahweh pencipta langit dan bumi yang maha-agung dan universal itu dengan salah satu bahasa yang terbatas dan labil, justru membatasi keagungan Yahweh sendiri. Bahasa-bahasa diciptakan dan adalah milik Yahweh, karena itu Ia tentu berotoritas menggunakan bahasa-bahasa itu untuk penyebaran firman-Nya sesuai kehendak-Nya.

A m i n !

Tidak ada komentar:

Posting Komentar