Mengasihi Sesama

Mengasihi Sesama
Ibu Theresa dari Calcuta

Sabtu, 04 September 2021

TOLOK UKUR AGAMA YANG BENAR

 SUMBER ekaristi.org

johanesjoy wrote:

 

Wah DV, aku udah ngerti sekarang, Thx a Lot ya

 

Aku ada pertanyaan lagi nih, ini dari pengalaman aku sendiri, begini ceritanya : 
Aku sering menceritakan mengenai keselamatan yang ditulis dalam Injil kepada saudara-saudara di keluargaku yang belum Katolik(mereka Muslim), lalu aku sering ditanya seperti ini "Atas dasar apa kamu bisa menyatakan kalau Iman kamu lebih benar/ lebih menyelamatkan dari iman aku yang sekarang ini?"

 

Dari pertanyaan ini aku merasa kalu aku harus menjawab mereka dengan memberikan perbandingan tentang janji keselamatan yang diberikan Yesus dengan keselamatan yang diberikan oleh Nabi yang dia percaya saat ini. Berhubung aku tidak begitu mengerti mengenai bagaimana keselamatan yang diajarkan dalam agamanya, aku jadi tidak bisa menjawab. 
Om DV bisa tolong bantu aku gak?


Jadi mungkin kalo dipermudah pertanyaan aku jadi seperti ini :

 

"Adakah tolak ukur atau alasan Universal untuk dapat menjelaskan tidak adanya keselamatan di luar Gereja kepada mereka yang non Katolik?"

 

Om Dv tolong jawab ya, aku bener-bener butuh jawabannya. Makasih, Tuhan memberkati.

Jawaban DV

 

Pertama-tama, pertanyan kamu yang pertama tidak bisa dipermudah dengan menyatakan, "Adakah tolak ukur atau alasan Universal untuk dapat menjelaskan tidak adanya keselamatan di luar Gereja kepada mereka yang non Katolik?" Bahkan pertanyaan ini cukup berbeda dari persoalan yang pertama. Pertanyaan ini juga lebih mudah dijawab dari yang pertama, terutama bagi orang Islam.

 

Pada dasarnya Islam sendiri juga menganut doktrin yang sama. Diluar Islam tidak ada keselamatan. Jadi mengapa mereka harus kebakaran jenggot karena agama lain mempunyai doktrin yang sama? Bagi orang Islam, karena kita menolak Mohammad terang-terangan dan "mengangkat" Yesus menjadi Allah, kita ini sudah patut dihukum Api Neraka jahanam. Kalau saudara kamu berkata bahwa Islam tidak mengajarkan itu aku bisa tunjukkan ayat-ayat Quran yang mengatakan apa yang aku katakan.

 

Kedua, pertanyaan pertama kamu adalah pertanyaan yang lebih mendasar, dalam dan butuh jawaban panjang lebar. "Atas dasar apa kamu bisa menyatakan kalau Iman kamu lebih benar/ lebih menyelamatkan dari iman aku yang sekarang ini?"

 

Pertanyaan ini lebih mudah dijawab dari sisi praktis. Seperti kita ketahui banyak agama di dunia dengan doktrin-nya (doktrin = ajaran) masing-masing. Meskipun agama-agama tersebut kadang-kadang mengajarkan doktrin yang sama (seperti sama-sama menganggap bahwa membunuh itu jahat, mencuri itu jahat, Allah itu baik dan pengasih etc) tapi terdapat perbedaan yang tidak bisa direkonsiliasikan antar agama-agama yang ada (Islam menganggap Mohammad nabi, Gereja akan memandang Mohammad sebagai penyebar ajaran sesat). Dan perbedaan-perbedaan tersebut tidak jarang berkaitan dengan doktrin sentral yang diklaim berasal langsung dari Allah.

 

Nah, karena Allah tidak bisa mengkontradiksi diriNya sendiri dalam mewahyukan ajaranNya kepada umatNya, maka ada tiga solusi atas kenyataan bahwa doktrin sentral agama-agama saling berkontradiksi:

  1. Tuhan tidak ada
  2. Tidak satupun agama yang ada di dunia ini berasal dari Allah
  3. Hanya ada SATU agama yang benar

 

Solusi yang pertama adalah Atheism. dan kita tidak akan tarik panjang ini karena kita berbicara dengan pihak yang bukan Atheist


Solusi yang kedua berarti bahwa Allah tidak peduli pada ciptaannya setelah Dia menciptakan dunia. Aku lupa nama dari pemikiran yang satu ini (bukan Agnosticism). Ada memang beberapa agama yang menganut sistim yang mirip ini. Tapi agama seperti itu tidak akan terlalu sukses karena kalau Allah tidak perduli, maka tidak ada gunanya beragama sekalipun. Lebih baik menikmati surga dunia.

Solusi yang ketiga merupakan pilihan bagi banyak agama (Catholic, Islam, Judaism etc).


Sekarang kita fokuskan diri ke Solusi 3, "hanya ada SATU agama yang benar"


Kalau memang hanya ada satu agama yang benar, lalu yang mana? Ada beberapa cara untuk menetukan mana yang benar dari A, B, C, D. Tapi ada satu cara yang paling mudah.


Ingatkah kamu perkataan, "mencari-cari kesalahan orang itu mudah" Perkataan ini ada benarnya. Untuk menentukan apakah suatu agama (atau ideologi atau teori atau thesis etc) itu benar maka kita cari kesalahan dari agama-agama tersebut. Bila ada SATU SAJA kesalahan, maka berarti bahwa agama itu tidak mempunyai kebenaran penuh.


"Kesalahan" dalam hal ini adalah kesalahan atau kontradiksi dalam ajaran agama-agama tersebut, bukan tingkah laku umatnya. Tidak bisa kita langsung menilai bahwa Katolik itu agama yang salah karena ada Paus yang membunuh, punya affair, berbuat cabul etc. Ini karena Paus tersebut melakukan perbuatan yang sama sekali tidak diajarkan agama, jadi yang salah adalah pribadi dari Paus tersebut tapi bukan ajaran agamanya.


Sekarang kita fokus ke Islam, agama saudara kamu. Dimanakah kesalahan dari Islam?


Salah satu kesalahan fatal dari Islam adalah fakta bahwa tidak ada umat Kristen awal (baik yang orthodox maupun yang heterodox) yang mengimani apa yang diimani Islam. Islam mengklaim bahwa merekalah penerus ajaran sejati Isa al Masih (ie: Yesus Kristus) setelah umat Kristen mengkorupsi ajaran tersebut. Pada tahun 612 masehi Mohammad diberi wahyu untuk meluruskan apa yang telah dikorupsi umat Kristen. Umat Islam menelan bulat-bulat ajaran ini dan tidak pernah berpikir terlalu jauh ke tahun-tahun sebelum 612 masehi.


Padahal sebelum tahun 612 Masehi Gereja sudah berdiri dan ada dimana-mana. Gereja sudah melakukan lima Konsili Ekumenis. Sudah ada 67 Paus yang diangkat (termasuk Petrus).


Dan, yang menjadi bukti kuat bahwa Gereja adalah penerus sejati dari ajaran Kristus adalah tulisan-tulisan dari Bapa Gereja Awal yang diantaranya adalah murid dari para rasul Kristus sendiri (Ignatius dari Antioka, Polycarpus) atau murid dari murid para rasul (Ambrosius etc). Mereka menulis akan ajaran-ajaran dan kepercayaan yang selalu diimani Gereja tapi dinyatakan sebagai bidaah oleh Islam. sebagai contoh St Ignatius dari Antioka menulis mengenai:

  1. Keallahan Yesus
  2. Otoritas Gereja Roma
  3. Sakramen Pengakuan
  4. Peran penting Uskup
  5. Tidak perlunya sunat
  6. Kehadiran Kristus di Ekaristi
  7. dll



Semua bisa di check di tulisan sang Santo sendiri di Newadvent.org atau di Catholic.com untuk kutipan-kutipan tulisan sang Santo mengenai point-point diatas. (mengenai no:4 kutipannya ada di salah satu topik di forum ini, aku lupa yang mana).

 

Kalau kita ingin tahu ajaran Yesus yang sebenarnya itu bagaimana maka siapa yang akan lebih kita percaya? Seorang Arab yang hidup 4 abad setelah Kristus mati (ie:Mohammad) atau murid dari rasul yang menyertai Yesus sendiri (Ignatius adalah murid rasul Yohanes)?

 

Ataukah kita bisa berpikir bahwa setelah Yesus mati kemudian semua pengikutnya menjadi sesat selama 4 abad dan baru dicerahkan oleh Mohammad? Sangat tidak sesuai dengan janji setia Allah yang akan selalu menaungi umatNya. Dalam Perjanjian Lama pun meskipun sering mayoritas orang Israel jatuh dalam kesesatan, selalu ada sebagaian kecil yang setia dan berperan untuk menyadarkan yang tersesat.

 

Mungkin timbul pertanyaan dari pihak moslem, "apakah memang tidak ada kelompok kecil pengikut Isa al Masih yang mempunyai iman sejati (iman yang Islami)?" Jawabannya, tidak ada sama sekali. Bahkan para penganut ajaran sesat yang mungkin mirip dengan Islam (seperti Arianisme yang menyatakan bahwa Yesus hanya manusia) tidak mempunyai iman yang Islami (para Arian masih mengakui kebenaran Injil dan sakramen-sakramen. Arius, sang pelopor Arianism sendiri, adalah seorang Romo).

 

Keterputusan kontinuitas iman dari Isa al Masih ke Mohammad merupakan lobang besar dari eksistensi Islam.

 

Mungkin masih ada pertanyaan dari moslem yang masih tidak puas, "bukankah Kristen sendiri telah keluar dari Perjanjian Lama dan tidak mengikuti kebanyakan praktek Perjanjian Lama?" Kita bisa menjawab bahwa hal itu tidak benar. Perjanjian Lama sendiri menubuatkan adanya suatu Perjanjian Baru (Yer 31:31; Yes 43:19 Cf. Wah 21:5). Bangsa Yahudi sendiri menanti-nanti Messiah yang akan memberi kebebasan bagi mereka meskipun mereka cenderung mengartikan bahwa kebebasan itu merupakan kebebasan politik. Ratusan nubuat di Perjanjian Lama akan Messiah telah terpenuhi dalam diri Yesus.

 

Dan masih ada dua bukti yang cukup dramatis yang jarang diketahui umat Kristen sekalipun. Pada hari Yom Kippur biasanya Iman Agung pergi ke tempat Maha Kudus atau Tabernakel di Kuil yang dibangun Solomo di Yerusalem. Ditempat yang HANYA boleh dimasuki Imam Agung tersebut, dia menaruh satu kain berwarna ungu, simbol dosa-dosa umat Israel. sang Iman Agung kemudian akan berdoa dan kain itu akan secara ajaib berubah menjadi putih. Setelah Yesus meninggal dan kain pembatas tempat Maha Kudus robek (Mat 27:51), kain ungu tersebut TIDAK PERNAH LAGI berubah menjadi putih! Karena korban dosa sejati telah dikorbankan bagi dosa-dosa dunia.

 

Peristiwa dramatis kedua adalah ketika Raja Julian the Apostate memerintahkan untuk membangun kembali Kuil bait suci. Julian melakukan ini karena dia benci terhadap Gereja (yang saat itu cukup berpengaruh) dan berharap dengan didirikannya kembali bait suci yang runtuh pada 70 masehi, maka legitimasi Gereja sebagai kepenuhan Hukum Taurat akan lenyap. Namun apa yang terjadi? Timbul gempa dan muncul api dari dalam tanah yang menghancurkan bangunan yang belum jadi dan membunuh pekerjanya. Suatu tanda bahwa Allah tidak ingin korban bakaran binatang yang hanya bayangan dari yang sempurna. Allah hanya berkenan pada persembahan yang tahur dan sempurna yang dirayakan Gereja pada... Misa Kudus.

 

Disamping bukti-bukti diatas atas kepenerusan Gereja dari agama Yahudi (yang sudah dihentikan karena yang sempurna sudah datang, ie: Gereja), Umat Kristen juga masih menempatkan Kitab Perjanjian Lama sebagai salah satu sumber wahyu ilahi Allah yang diinspirasi langsung oleh Allah. Bedakan dengan Islam yang tanpa bukti mengatakan bahwa PL dan PB telah terkorupsi supaya mereka bisa menjustifikasikan Quran mereka.

 

Sekian, sudah nulis terlalu panjang dan lama.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar