Mengasihi Sesama

Mengasihi Sesama
Ibu Theresa dari Calcuta

Sabtu, 04 September 2021

KEHENDAK BEBAS dan PREDESTINASI

 

http://www.integratedcatholiclife.org/2012/01/dr-kreeft-freewill-and-predestination/



KEHENDAK BEBAS dan PREDESTINASI


oleh Dr.Peter Kreef


Jika Allah bukanlah kasih tetapi hanya pengetahuan, maka sulit atau tidak mungkin untuk melihat bagaimana kehendak bebas manusia dan predestinasi dapat benar kedua2nya. Tetapi jika Allah adalah kasih, maka pasti ada jalan.


Kebebasan dan predestinasi adalah salah satu yang paling sering ditanyakan diantara mahasiswa2 saya. Sebagian karena perhatiannya yang besar dari masyarakat modern akan kebebasan, tetapi saya juga berpikir, sebagian besar alasan yang tanpa disadari adalah bahwa secara intuisi kita tahu kedua hal ini pasti benar karena mereka adalah pemutar balik dari setiap cerita yang bagus. Jika sebuah kisah tidak memiliki alur, tidak ada takdirnya/tujuan, dan jika kejadian2nya serampangan / untung2 an dan berubah2, itu bukanlah sebuah kisah besar.



Setiap cerita yang bagus memiliki unsur takdir Ilahi, unsur pewajaran seolah-olah itu memang ditulis oleh Allah. Tapi setiap kisah juga meninggalkan kebebasan karakternya. Penulis kecil dapat mendobrak dan memaksakan karakter2nya kedalam pembentukkannya, tetapi semakin hebat seorang penulis, pembaca akan semakin jelas melihat tokoh-tokohnya adalah orang yang nyata dan bukan hanya konsep-konsep mental. Semakin karakter2 itu mendekati memiliki kehidupannya sendiri yang seakan melompat dari halaman kedalam kehidupan nyata, semakin hebatlah penulis itu. Tentu saja, Allah adalah penulis terbesar dari semua. Karena hidup manusia adalah kisahnya maka Ia harus memiliki keduanya takdir Ilahi dan kebebasan.



Pertama2, mari kita lihat disisi yang disebut takdir. Saya pikir, predestinasi adalah sebuah kata yang menyesatkan, karena itu terlalu menggantungkan cara berpikir kita yang sementara/fana. Allah bukanlah pre(sebelum) atau post (setelah) dari segala sesuatu tetapi Ia adalah kini untuk segala sesuatu. Allah tidak melihat deretan kartu domino atau bola kristal, Ia tidak harus menunggu untuk apa pun dan juga tidak bertanya-tanya apa yang akan terjadi. Tidak ada yang tidak pasti bagiNya, seperti masa depan yang tidak pasti untuk kita. Tidak ada predestinasi (ditakdirkan sebelumnya) tetapi takdir (sifat kekinian), tidak ada mentakdirkan tetapi takdir (sifat kekinian). Takdir ini diikuti kemahatahuan dan kekekalan Ilahi, tapi keinginan bebas kita diikuti kasih Ilahi. Untuk mencintai seseorang adalah untuk membuat mereka bebas, tetapi memperbudak mereka selalu adalah cinta yang tidak sempurna/cacat.


Sekarang karena cinta Ilahi adalah yang paling esensi dari Allah, sementara kemahatahuan dan kemahakuasaan hanyalah atribut2 dari esensi itu, maka bila salah satu dari kebenaran ini (takdir dan kehendak bebas) yang harus datang lebih dahulu, dalam arti yang lebih original dan tak dapat ditawar dengan yang lainnya, maka itu adalah kebebasan.


Saya tidak berpikir kedua kebenaran itu perlu dikompromikan. Saya pikir kita dapat memberikan keadilan yang semaksimalnya akan kedaulatan Allah seperti seorang Calvinis dan keadilan semaksimalnya akan kehendak bebas manusia seperti penganut aliran Baptis dan itu tidak akan mengkompromikan yang paling esensi dari Allah untuk menolak predestinasi.



Arminianisme, sudut pandang teologis yang menolak predestinasi dan menekankan peran kehendak bebas manusia dalam menerima rahmat dari Allah mungkin salah, tapi itu salah relatif secara teknis, pada tingkat teoritis. Menyangkal kehendak bebas manusia, di sisi lain, akan segera menghilangkan sesuatu yang penting untuk kehidupan Kristen yaitu tanggung jawab pribadi. Jika saya adalah robot, bahkan robot yang diprogram secara Ilahi, hidup saya tidak lagi memiliki drama pilihan yang nyata dan berubah menjadi sebuah formula, penguraian dari naskah yang telah tertulis.



Allah sangat mengasihi saya untuk mengizinkan itu. Dia akan segera berkompromi dengan kekuasaanNya daripada kebebasan saya. Sebenarnya, Allah tidak melakukan keduanya. Justru kuasaNya memberikan kepada saya kebebasan ini. Aquinas menyatukan kebebasan dengan predestinasi dengan mengatakan bahwa kasih Allah begitu berkuasa sehingga Ia tidak hanya mendapatkan apa yang diinginkanNya tetapi juga mendapatkan dengan cara yang Allah inginkan. Tidak hanya semuanya terjadi karena kehendak Allah, tetapi itu juga terjadi dengan cara yang Allah kehendaki.

Terjadi tanpa kebebasan layaknya hal2 yang bersifat alam seperti hujan yang turun dan hal2 yang terjadi secara bebas seperti pilihan2 manusia. Sebuah kekuasaan yang lebih kecil bisa mendapatkan apa yang diinginkan tetapi bukan dengan cara seperti yang diinginkannya, tetapi kemahakuasaan mendapatkan keduanya. Dan cara yang diinginkan kemahakuasaan adalah perbuatan manusia dilakukan dengan kebebasan. Dengan kata lain, kebebasan dan predestinasi adalah dua sisi dari satu koin. Penulis yang Mahakuasa memilih untuk menulis kisah tentang manusia yang bebas, tidak sekedar pohon2 atau mesin2, itu berarti kita benar-benar bebas. Kita bebas justru karena Allah itu Mahakuasa dalam segala hal.



Jika kasih dan kuasa bukanlah satu, kita akan mendapatkan kebuntuan yang klasik, konflik yang tak berujung antara keduanya tetapi setelah anda melihat pusatnya adalah cinta, maka segala sesuatunya masuk kesebuah tempat seperti jari-jari dalam roda.Kesatuan kasih dan kuasa, juga membuat kita tidak perlu takut akan kuasa Allah, karena itu adalah cintaNya yang sangat besar, oleh karenanya kita tidak dapat gunakan dengan tanpa cinta. Dan juga kita tidak perlu takut cintaNya akan pernah gagal, karena Ia Mahakuasa dan berkuasa. TanganNya yang Maha yang menabur bintang2 disekeliling galaksi seperti butiran pasir itu begitu mencintai umat manusia sehingga membiarkan umat manusia memaku tangannya disalib, semua untuk cinta. Satu2nya yang mengasihi kita bahkan sampai mati, kelemahan yang Agung adalah kekuatan yang tak terbatas.



Sebenarnya, jika kita hanya percaya dan mengingat kesatuan dari dua hal ini yaitu kasih dan kuasa Allah dan percaya bahwa kedua atribut ini yang paling tidak dapat dikurangi dari Allah, maka hasil nyata yang dapat dibayangkan dalam kehidupan kita adalah transformasi yang paling revolusioner akan sukacita dan percaya diri. 


Untuk melihat ini semua mari kita membaca ulang Roma 8: 31-39. 


"Apakah yang akan kita katakan tentang ini? "Apakah kebenaran dari konsekwensi yang tak terelakkan bahwa Allah yang Mahakuasa begitu mencintai kita sehingga tidak menyayangkan anakNya sendiri tetapi menyerahkanNya untuk kita semua? Sesederhana ini bahwa : "Apakah Ia tidak juga mengaruniakan segala sesuatu kepada kita bersama-sama dengan Dia?" Hal ini mengikuti sepanjang masa bahwa "tidak ada sesuatu makhluk lainnya yang akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah" Tidak, kasih Allah bahkan lebih pasti dari malam hari yang diikuti siang hari dimana hukum fisika dapat berubah dihadapan hukum alam Allah yang abadi.



Jika Allah itu Mahakuasa dan Mahakasih, maka "dalam segala hal Allah bekerja untuk kebaikan bagi mereka yang mencintaiNya, "bahkan dalam penganiayaan, penyiksaan dan kematian!" Karena meski "demi namaMu, kami dibunuh sepanjang hari' juga "dalam semuanya itu kita lebih dari pemenang." Mengapa? Karena penyiksaan2 ini dan segala sesuatunya, untuk melayani satu tujuan dari pikiran dan hati Allah yang kehendakNya hanya untuk kebaikan kita. 



Allah melakukan apa yang diajarkannya: kemurnian dan kesederhanaan hati, cinta 100 persen. 
Satu-satunya jalan keluar dari kasih-Nya bukanlah kesempatan atau penderitaan atau kematian tetapi adalah dosa yang mematikan. Dan bahkan dosa masa lalu dapat bekerja untuk kebaikan kita melalui pertobatan saat sekarang. 



Hanya bila kita menghendakinya, segala hal bekerja mendatangkan kebaikan bagi kita karena segala hal adalah kasih Allah. Ini begitu sederhana sehingga hanya seorang anakpun atau orang yang telah menjadi seperti anak kecil dapat memahaminya.


"Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil " (Mat 11:25).

Free Will and Predestination


by : Dr.Peter Kreef



If God is not love but only knowledge, then it is difficult or impossible to see how human free will and divine predestination can both be true. But if God is love, there is a way.
Freedom and predestination is one of the most frequently asked questions among my students—partly because of modern man's great concern for freedom, but also, I think, for the largely unconscious reason that we intuitively know both these things must be true because they are the warp and woof of every good story. If a story has no plot, no destiny – if its events are haphazard and arbitrary – it is not a great story.



Every good story has a sense of destiny, of fittingness as if it were written by God. But every story also leaves its characters free. Lesser writers may jimmy and force their characters into molds, but the greater the writer the more clearly the reader sees that his characters are real people and not just mental concepts. The more nearly the characters have a life of their own and seem to leap off the page into real life, the greater a writer we have. God, of course, is the greatest writer of all. Since human life is his story, it must have both destiny and freedom.



Let's look first at the side called destiny. Predestination is a misleading word, I think, for it concedes too much to our temporal way of thinking. God is not pre or post anything. He is present to everything. God does not look down rows of dominoes or into crystal balls. He does not have to wait for anything. Nor does he wonder what will happen. Nothing is uncertain to him, as the future is uncertain to us. There is not predestination but destination, not predestiny but destiny. This follows from divine omniscience and eternity.


But our free will follows from the divine love. To love someone is to make them free. To enslave them is always a defect of love.



Now since divine love is God's very essence, while omniscience and omnipotence are only attributes of that essence, therefore if one of these two truths had to come first – in the sense of being more primordial and non-negotiable than the other – it would have to be freedom.
I do not think either truth needs to be compromised. I think we can do as much justice to the sovereignty of God as a Calvinist and as much justice to the free will of man as a Baptist. Yet it would not compromise the very essence of God to deny predestination. 



Arminianism, the theological viewpoint that denies predestination and emphasizes the role of man's free will in receiving grace from God, may be wrong. But it is wrong at a relatively technical, theoretical level. Denying human free will, on the other hand, would cut out something immediately essential to the Christian life: personal responsibility. If I am a robot, even a divinely programmed robot, my life no longer has the drama of real choice and turns into a formula, the unrolling of a pre-written script. 



God loves me too much to allow that. He would sooner compromise his power than my freedom.
Actually, he does neither. It is precisely his power that gives me my freedom. Aquinas reconciles freedom with predestination by saying that God's love is so powerful that he not only gets what he wants but he also gets it in the way that he wants. Not only is everything done that God wills to be done, but it is also done in the way he wants it to be done. 



It happens without freedom in the case of natural things like falling rain and freely in the case of human choices. A power a little less than total may get what it wants without getting it in the way that it wants it. But omnipotence gets both. And the way omnipotence wants human acts done is freely.


In other words, freedom and predestination are two sides of one coin. The omnipotent author chose to write a story about free human beings, not just trees or machines. That means we are really free. We are free precisely because God is all-powerful.



If love and power were not one, we would have the classic standoff, an unending conflict between the two. Once you see the center, love, everything else falls into place like spokes in a wheel. The oneness of love and power is also why we need not fear God's power: it is his very love. Therefore, it cannot be used lovelessly. And it is also why we need not fear that his love will ever fail, for it is omnipotent. It is power. The very hands that tossed the galaxies around like grains of sand loved mankind so much that they let mere men nail them to the cross, all for love. The One who loved us even unto death, the supreme weakness, is infinite strength.



In fact, if we only believe and remember the unity of these two things, God's love and God's power, if we only believe in the two attributes that can least be subtracted from God, the practical result will be the most revolutionary transformation of joy and confidence imaginable in our lives. 
To see this all we need do is reread Romans 8:.31-39. "What then shall we say to this?" What is the inevitable consequence of the fact that the omnipotent God loves us so much that he "did not spare his own Son but gave him up for us all?" Simply this: "Will he not also give us all things with him?" It follows as the night the day that not "anything else in all creation, will be able to separate us from the love of God." No, it follows even more surely than the night follows the day, for the laws of physics will change before the laws of God's nature ever will.



If God is all-powerful and all-loving, then "in everything God works for good with those who love him." Even in persecution, torture, and death! For although "for thy sake we are being killed all the day long," yet "in all these things we are more than conquerors." Why? Because these tortures, like everything, serve the one single end of the single-minded and single-hearted God who wills only our good. 



He practices what he preaches: purity and simplicity of heart, 100 percent love. The only way out of his love is not chance or suffering or death, but deadly sin. And even past sins can work for our good through present repentance. 



If only we will it, everything works for our good because everything is God's love. It's so simple that only a child could understand it, or one who has become like a child. "I thank thee, Father, Lord of heaven and earth," said Jesus, "that thou hast hidden these things from the wise and understanding and revealed them to babes" (Mt 11:25).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar