Mengasihi Sesama

Mengasihi Sesama
Ibu Theresa dari Calcuta

Minggu, 23 Desember 2012

Katekismus Gereja Katolik Dalam Setahun - 073

KGK hari ke 73

Versi Bahasa Indonesia


Dikandung tanpa noda dosa

490. Karena Maria dipilih menjadi bunda Penebus, "maka ia dianugerahi karunia-karunia yang layak untuk tugas yang sekian luhur" (LG 56). Waktu pewartaan, malaikat menyalaminya sebagai "penuh rahmat" (Luk 1:28). Supaya dapat memberikan persetujuan imannya kepada pernyataan panggilannya, ia harus dipenuhi seluruhnya oleh rahmat Allah.

491. Dalam perkembangan sejarah, Gereja menjadi sadar bahwa Maria, "dipenuhi dengan rahmat" oleh Allah (Luk 1:28), sudah ditebus sejak ia dikandung. Dan itu diakui oleh dogma "Maria Dikandung tanpa Noda Dosa", yang diumumkan pada tahun 1854 oleh Paus Pius IX:
"... bahwa perawan tersuci Maria sejak saat pertama perkandungannya oleh rahmat yang luar biasa dan oleh pilihan Allah yang mahakuasa karena pahala Yesus Kristus, Penebus umat manusia, telah dibebaskan dari segala noda dosa asal" (DS 2803).

492. Bahwa Maria "sejak saat pertama ia dikandung, dikaruniai cahaya kekudusan yang istimewa" (LG 56), hanya terjadi berkat jasa Kristus: "Karena pahala Puteranya, ia ditebus secara lebih unggul" (LG 53). Lebih dari pribadi tercipta yang mana pun Bapa "memberkati dia dengan segala berkat Roh-Nya oleh persekutuan dengan Kristus di dalam surga" (Ef 1:3). Allah telah memilih dia sebelum dunia dijadikan, supaya ia kudus dan tidak bercacat di hadapan-Nya.3

493. Bapa-bapa Gereja Timur menamakan Bunda Allah "Yang suci sempurna" [panhagia]: mereka memuji dia sebagai yang "bersih dari segala noda dosa, seolah-olah dibentuk oleh Roh Kudus dan dijadikan makhluk baru" (LG 56). Karena rahmat Allah, Maria bebas dari setiap dosa pribadi selama hidupnya.
"Jadilah padaku menurut perkataanmu ..."

494. Atas pengumuman bahwa ia, oleh kuasa Roh Kudus akan melahirkan "Putera yang maha tinggi" tanpa mempunyai suami,4 Maria menjawab dalam "ketaatan iman" (Rm 1:5), dalam kepastian bahwa "untuk Allah tidak ada sesuatu pun yang mustahil": "Aku ini hamba Tuhan, jadilah padaku menurut perkataanmu" (Luk 1:37-38). Dengan memberi-kan persetujuannya kepada Sabda Allah, Maria menjadi bunda Yesus. Dengan segenap hati, ia menerima kehendak Allah yang menyelamatkan, tanpa dihalangi satu dosa pun, dan menyerahkan diri seluruhnya sebagai abdi Tuhan kepada pribadi dan karya Putera-nya. Di bawah Dia dan bersama Dia, dengan rahmat Allah yang mahakuasa, ia melayani misteri penebusan.1
"Sebab, seperti dikatakan oleh santo Ireneus, 'dengan taat Maria menyebabkan keselamatan bagi dirinya maupun bagi segenap umat manusia'. Maka tidak sedikitlah para Bapa zaman kuno, yang dalam pewartaan mereka dengan rela hati menyatakan bersama Ireneus: 'Ikatan yang disebabkan oleh ketidak-taatan Hawa telah diuraikan karena ketaatan Maria; apa yang diikat oleh perawan Hawa karena ia tidak percaya, telah dilepaskan oleh Perawan Maria karena imannya'. Sambil membanding-kannya dengan Hawa, mereka menyebut Maria 'bunda mereka yang hidup'. Sering pula mereka nyatakan: 'maut melalui Hawa, hidup melalui Maria"' (LG 56).

Maria Bunda Allah

495. Dalam Injil-injil Maria dinamakan "Bunda Yesus" (Yoh 2:1; 19:25).2 Oleh dorongan Roh Kudus, maka sebelum kelahiran Puteranya ia sudah dihormati sebagai "Bunda Tuhan-Ku" (Luk 1:43). Ia, yang dikandungnya melalui Roh Kudus sebagai manusia dan yang dengan sesungguhnya telah menjadi Puteranya menurut daging, sungguh benar Putera Bapa yang abadi, Pribadi kedua Tritunggal Maha kudus. Gereja mengakui bahwa Maria dengan sesungguhnya Bunda Allah [Theotokos, Yang melahirkan Allah].3
Perawan Maria

496. Sudah dalam rumusan-rumusan iman yang pertama,4 Gereja mengakui bahwa Yesus hanya oleh kuasa Roh Kudus dikandung dalam rahim Perawan Maria. Juga segi jasmani dari kejadian ini turut dinyatakan. Ia mengandung Yesus "tanpa benih, dari Roh Kudus" (Sin. Lateran 649: DS 503). Para bapa Gereja melihat dalam perkandungan oleh perawan ini, suatu tanda bahwa sungguh Putera Allah datang ke dalam kodrat manusiawi yang sama dengan kita.
Demikianlah santo Ignasius dari Antiokia [awal abad ke-2] berkata: "Kamu yakin dengan sepenuhnya tentang Tuhan kita, yang dengan sesungguhnya berasal dari keturunan Daud menurut daging,5 Putera Allah menurut kehendak dan kekuasaan Allah,6 sesungguhnya dilahirkan dari seorang perawan..., sesungguhnya menderita dalam pemerintahan Pontius Pilatus... dipaku untuk kita dalam daging... dan ia menderita sesungguhnya, sebagaimana ia juga sungguh membangkitkan Diri" (Smyrn. 1-2).

497. Berita-berita dalam Injil7 menanggapi perkandungan yang perawan itu sebagai karya Allah, yang melampaui segala pengertian dan kemampuan manusiawi.8 Malaikat berkata kepada Yosef tentang Maria isterinya: "Anak yang di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus" (Mat 1:20). Gereja melihat di dalamnya pemenuhan janji, yang Allah berikan melalui nabi Yesaya: "Lihatlah, seorang perawan akan mengandung seorang anak, dan akan melahirkan seorang putera" (Yes 7:14)9

498. Kadang-kadang orang merasa bingung, karena Injil Markus dan surat-surat Perjanjian Baru tidak mengata-kan sesuatu pun mengenai perkandungan Maria yang tetap perawan. Orang pun bertanya-tanya, apakah di sini kita tidak berhadapan dengan legenda atau gagasan teologis, yang tidak ada maksud historis. Untuk itu perlu dijawab: Pada awal sejarah Kristen iman akan perkandungan yang perawan menimbulkan perten-tangan, ejekan, dan kurangnya pengertian pada orang yang bukan kristen, baik Yahudi mau pun kafir;1 jadi ia tidak dimotivasi oleh mitologi kafir atau oleh satu penyesuaian kepada ide zaman itu. Arti dari kejadian ini hanya dapat ditangkap oleh iman, yang melihatnya "atas dasar hubungan rahasia-rahasia itu sendiri antara satu sama lain" (DS 3016) dalam seluruh misteri Kristus, mulai dari penjelmaan-Nya menjadi manusia sampai dengan Paska. Sudah oleh santo Ignasius dari Antiokia diberikan kesaksian mengenai hubungan ini: "Bagi sang penguasa dunia ini keperawanan Maria dan persalinannya disembunyikan, demikian pula kematian Tuhan - tiga misteri yang berteriak dengan nyaring, yang terjadi dalam kesunyian Allah" (Eph 19, 1).2


Versi Bahasa Inggris

Read the Catechism: Day 73

Part1:The Profession of Faith (26 - 1065)
Section2:The Profession of the Christian Faith (185 - 1065)
Chapter2:I Believe in Jesus Christ, the Only Son of God (422 - 682)
Article3:"He was conceived by the power of the Holy Spirit, and was born of the Virgin Mary" (456 - 570)
Paragraph2:"Conceived by the power of the Holy Spirit and born of the Virgin Mary" (484 - 511)
II. ... BORN OF THE VIRGIN MARY
The Immaculate Conception
490     To become the mother of the Savior, Mary "was enriched by God with gifts appropriate to such a role." The angel Gabriel at the moment of the annunciation salutes her as "full of grace". In fact, in order for Mary to be able to give the free assent of her faith to the announcement of her vocation, it was necessary that she be wholly borne by God's grace.
491     Through the centuries the Church has become ever more aware that Mary, "full of grace" through God, was redeemed from the moment of her conception. That is what the dogma of the Immaculate Conception confesses, as Pope Pius IX proclaimed in 1854:
The most Blessed Virgin Mary was, from the first moment of her conception, by a singular grace and privilege of almighty God and by virtue of the merits of Jesus Christ, Savior of the human race, preserved immune from all stain of original sin.
492     The "splendor of an entirely unique holiness" by which Mary is "enriched from the first instant of her conception" comes wholly from Christ: she is "redeemed, in a more exalted fashion, by reason of the merits of her Son". The Father blessed Mary more than any other created person "in Christ with every spiritual blessing in the heavenly places" and chose her "in Christ before the foundation of the world, to be holy and blameless before him in love".
493     The Fathers of the Eastern tradition call the Mother of God "the All-Holy" (Panagia), and celebrate her as "free from any stain of sin, as though fashioned by the Holy Spirit and formed as a new creature". By the grace of God Mary remained free of every personal sin her whole life long.
"Let it be done to me according to your word..."
494     At the announcement that she would give birth to "the Son of the Most High" without knowing man, by the power of the Holy Spirit, Mary responded with the obedience of faith, certain that "with God nothing will be impossible": "Behold, I am the handmaid of the Lord; let it be [done] to me according to your word." Thus, giving her consent to God's word, Mary becomes the mother of Jesus. Espousing the divine will for salvation wholeheartedly, without a single sin to restrain her, she gave herself entirely to the person and to the work of her Son; she did so in order to serve the mystery of redemption with him and dependent on him, by God's grace:
As St. Irenaeus says, "Being obedient she became the cause of salvation for herself and for the whole human race." Hence not a few of the early Fathers gladly assert...: "The knot of Eve's disobedience was untied by Mary's obedience: what the virgin Eve bound through her disbelief, Mary loosened by her faith." Comparing her with Eve, they call Mary "the Mother of the living" and frequently claim: "Death through Eve, life through Mary."
Mary's divine motherhood
495     Called in the Gospels "the mother of Jesus", Mary is acclaimed by Elizabeth, at the prompting of the Spirit and even before the birth of her son, as "the mother of my Lord". In fact, the One whom she conceived as man by the Holy Spirit, who truly became her Son according to the flesh, was none other than the Father's eternal Son, the second person of the Holy Trinity. Hence the Church confesses that Mary is truly "Mother of God" (Theotokos).
Mary's virginity
496     From the first formulations of her faith, the Church has confessed that Jesus was conceived solely by the power of the Holy Spirit in the womb of the Virgin Mary, affirming also the corporeal aspect of this event: Jesus was conceived "by the Holy Spirit without human seed". The Fathers see in the virginal conception the sign that it truly was the Son of God who came in a humanity like our own. Thus St. Ignatius of Antioch at the beginning of the second century says:
You are firmly convinced about our Lord, who is truly of the race of David according to the flesh, Son of God according to the will and power of God, truly born of a virgin,... he was truly nailed to a tree for us in his flesh under Pontius Pilate... he truly suffered, as he is also truly risen.
497     The Gospel accounts understand the virginal conception of Jesus as a divine work that surpasses all human understanding and possibility: "That which is conceived in her is of the Holy Spirit", said the angel to Joseph about Mary his fiancee. The Church sees here the fulfillment of the divine promise given through the prophet Isaiah: "Behold, a virgin shall conceive and bear a son."
498     People are sometimes troubled by the silence of St. Mark's Gospel and the New Testament Epistles about Jesus' virginal conception. Some might wonder if we were merely dealing with legends or theological constructs not claiming to be history. To this we must respond: Faith in the virginal conception of Jesus met with the lively opposition, mockery or incomprehension of non-believers, Jews and pagans alike; so it could hardly have been motivated by pagan mythology or by some adaptation to the ideas of the age. The meaning of this event is accessible only to faith, which understands in it the "connection of these mysteries with one another" in the totality of Christ's mysteries, from his Incarnation to his Passover. St. Ignatius of Antioch already bears witness to this connection: "Mary's virginity and giving birth, and even the Lord's death escaped the notice of the prince of this world: these three mysteries worthy of proclamation were accomplished in God's silence."

Tidak ada komentar:

Posting Komentar