Mengasihi Sesama

Mengasihi Sesama
Ibu Theresa dari Calcuta

Sabtu, 20 Oktober 2012

Katekismus Gereja Katolik Dalam Setahun - 010

Sampai Juga kita di hari ke 10, jangan lupa kesetiaan anda dalam membaca inin hingga tuntas adalah indulgensi alias pengampunan, tentu aja setelah anda melakukan kewajiban anda untuk menjalankan Sakramen Pengakuan dosa, selamat menyimak.

Versi Bahasa Indonesia


Allah membentuk bangsa-Nya Israel bagi diri-Nya 

62. Dalam waktu sesudah zaman para bapa, Tuhan menjadikan Israel bangsa-Nya.[2060]  Ia membebaskannya dari perhambaan di Mesir, mengadakan perjanjian dengannya di Sinai, dan memberi kepadanya hukum-Nya melalui Musa,[2574]  supaya mengakui diri-Nya sebagai satu-satunya Allah yang hidup dan benar, sebagai bapa penyelenggara dan sebagai hakim yang adil, dan untuk menantikan Juru Selamat terjanji 2.[1961]

63. Israel adalah bangsa imam-imam Allah 3,[204,  2810]  yang telah diberkati dengan "nama Allah" (Ul 28:10).[839] Itulah bangsa orang-orang, "yang menerima Sabda Allah sebelum kita" (MR, Jumat Agung, Doa umat meriah 6), bangsa "kakak-kakak" dalam iman Abraham.  

64. Dengan perantaraan para nabi,[711]  Allah membina bangsa-Nya dalam harapan akan keselamatan, dalam menantikan satu perjanjian yang baru dan kekal, yang diperuntukkan bagi semua orang 4  dan ditulis dalam hati mereka.[1965]  Para nabi mewartakan pembebasan bangsa Allah secara radikal, penyucian dari segala kejahatannya,6
 keselamatan yang mencakup semua bangsa.7. Terutama orang yang miskin dan rendah hati di hadapan
Allah menjadi pembawa harapan ini. Wanita-wanita saleh seperti Sara, Ribka, Rahel, Miriam, Debora, Hana, Yudit, dan Ester tetap menghidupkan harapan akan keselamatan Israel itu; tokoh yang termurni di antara mereka adalah Maria.9 [489]


III. Yesus Kristus – Perantara dan pemenuhan seluruh wahyu

Dalam Sabda-Nya Allah telah mengatakan segala-galanya 

65. "Setelah pada zaman dahulu Allah berulang kali dan dalam pelbagai cara berbicara kepada nenek moyang kita dengan perantaraan nabi-nabi, maka pada zaman akhir ini Ia telah berbicara kepada kita dengan perantaraan Anak-Nya" (Ibr 1:1-2).[102]  Kristus, Putera Allah yang menjadi manusia, adalah Sabda Bapa yang tunggal, yang sempurna, yang tidak ada taranya. Dalam Dia Allah mengatakan segala-galanya, dan tidak akan ada perkataan lain lagi. Hal ini ditegaskan dengan jelas oleh santo Yohanes dari Salib dalam uraiannya mengenai Ibrani 1:1-2:
                                               
1
   Bdk. Rm 11:17-18.24.
2
   Bdk. DV 3.
3
   Bdk. Kel 19:6.
4
   Bdk. Yes 2:2-4.
5
   Bdk. Yer 31:31-34; Ibr 10:16.
6
   Bdk. Yeh 36.
7
   Bdk. Yes 49:5- 6; 53:11.
8
   Bdk. Zef 2:3.

9
   Bdk. Luk 1:38.



"Sejak Ia menganugerahkan kepada kita Anak-Nya, yang adalah Sabda-Nya, Allah tidak memberikan
kepada kita sabda yang lain lagi. Ia sudah mengatakan segala sesuatu dalam Sabda yang  satu itu...
Karena yang Ia sampaikan dahulu kepada para nabi secara sepotong-sepotong, sekarang ini Ia
sampaikan dengan utuh, waktu Ia memberikan kita seluruhnya yaitu Anak-Nya.[516] Maka barang
siapa sekarang ini masih ingin menanyakan kepada-Nya atau menghendaki dari-Nya penglihatan atau
wahyu, ia tidak hanya bertindak tidak bijaksana, tetapi ia malahan mempermalukan Allah;[2717]
karena ia tidak mengarahkan matanya  hanya kepada Kristus sendiri, tetapi merindukan hal-hal lain
atau hal-hal baru" (Carm. 2, 22).

Tidak akan ada wahyu yang lain 

66. "Tata penyelamatan Kristen sebagai suatu perjanjian yang baru dan definitif, tidak pernah akan lenyap, dan tidak perlu diharapkan suatu wahyu umum baru, sebelum kedatangan yang jaya Tuhan kita Yesus Kristus" (DV 4). Walaupun wahyu itu sudah selesai, namun isinya sama sekali belum digali seluruhnya; masih merupakan tugas kepercayaan umat Kristen, supaya dalam peredaran zaman lama kelamaan dapat mengerti seluruh artinya.[94]


67. Dalam peredaran waktu terdapatlah apa yang dinamakan "wahyu pribadi", yang beberapa di antaranya
diakui oleh pimpinan Gereja. Namun wahyu pribadi itu tidak termasuk dalam perbendaharaan iman.[84]
Bukanlah tugas mereka untuk "menyempurnakan" wahyu Kristus yang definitif atau untuk "melengkapi-
nya", melainkan untuk membantu supaya orang dapat menghayatinya lebih dalam lagi dalam rentang waktu
tertentu. Di bawah bimbingan Wewenang Mengajar Gereja, maka dalam kesadaran iman, umat beriman
tahu membedakan dan melihat dalam wahyu-wahyu ini apa yang merupakan amanat otentik dari Kristus
atau para kudus kepada Gereja.[93]

Iman Kristen tidak dapat "menerima" wahyu-wahyu yang mau melebihi atau membetulkan wahyu yang
sudah dituntaskan dalam Kristus. Hal ini diklaim oleh agama-agama bukan Kristen tertentu dan sering kali
juga oleh sekte-sekte baru tertentu yang mendasarkan diri atas "wahyu-wahyu" yang demikian itu.





Versi Bahasa Inggris

Read the Catechism: Day 9

Part1:The Profession of Faith (26 - 1065)
Section1:"I Believe" — "We Believe" (26 - 184)
Chapter2:God Comes to Meet Man (50 - 141)
Article1:The Revelation of God (51 - 73)
II. THE STAGES OF REVELATION
God forms his people Israel
62     After the patriarchs, God formed Israel as his people by freeing them from slavery in Egypt. He established with them the covenant of Mount Sinai and, through Moses, gave them his law so that they would recognize him and serve him as the one living and true God, the provident Father and just judge, and so that they would look for the promised Savior.
63     Israel is the priestly people of God, "called by the name of the LORD", and "the first to hear the word of God", the people of "elder brethren" in the faith of Abraham.
64     Through the prophets, God forms his people in the hope of salvation, in the expectation of a new and everlasting Covenant intended for all, to be written on their hearts. The prophets proclaim a radical redemption of the People of God, purification from all their infidelities, a salvation which will include all the nations. Above all, the poor and humble of the Lord will bear this hope. Such holy women as Sarah, Rebecca, Rachel, Miriam, Deborah, Hannah, Judith and Esther kept alive the hope of Israel's salvation. The purest figure among them is Mary.
III. CHRIST JESUS — "MEDIATOR AND FULLNESS OF ALL REVELATION"
God has said everything in his Word
65     "In many and various ways God spoke of old to our fathers by the prophets, but in these last days he has spoken to us by a Son." Christ, the Son of God made man, is the Father's one, perfect and unsurpassable Word. In him he has said everything; there will be no other word than this one. St. John of the Cross, among others, commented strikingly on Hebrews 1:1-2:
In giving us his Son, his only Word (for he possesses no other), he spoke everything to us at once in this sole Word — and he has no more to say... because what he spoke before to the prophets in parts, he has now spoken all at once by giving us the All Who is His Son. Any person questioning God or desiring some vision or revelation would be guilty not only of foolish behavior but also of offending him, by not fixing his eyes entirely upon Christ and by living with the desire for some other novelty.
There will be no further Revelation
66     "The Christian economy, therefore, since it is the new and definitive Covenant, will never pass away; and no new public revelation is to be expected before the glorious manifestation of our Lord Jesus Christ." Yet even if Revelation is already complete, it has not been made completely explicit; it remains for Christian faith gradually to grasp its full significance over the course of the centuries.
67     Throughout the ages, there have been so-called "private" revelations, some of which have been recognized by the authority of the Church. They do not belong, however, to the deposit of faith. It is not their role to improve or complete Christ's definitive Revelation, but to help live more fully by it in a certain period of history. Guided by the Magisterium of the Church, the sensus fidelium knows how to discern and welcome in these revelations whatever constitutes an authentic call of Christ or his saints to the Church.
Christian faith cannot accept "revelations" that claim to surpass or correct the Revelation of which Christ is the fulfillment, as is the case in certain non-Christian religions and also in certain recent sects which base themselves on such "revelations"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar