Mengasihi Sesama

Mengasihi Sesama
Ibu Theresa dari Calcuta

Minggu, 14 Oktober 2012

Katekismus Gereja Katolik Dalam Setahun - Hari 004

Versi Bahasa Indonesia


PROLOG


“Bapa ... Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus.” (Yoh 17:3). Allah, Juru Selamat kita “Juruselamat kita, menghendaki supaya semua orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran” (1Tim 2:3-4). Sebab, “di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan.” (Kis 4:12), selain nama YESUS.

BAGIAN SATU

PENGAKUAN IMAN




Fragmen sebuah fresko dari Katakomba Santa Priscilla di Roma. Awal abad ketiga.

Gambar ini, yang termasuk lukisan tertua Maria dalam kesenian Kristen, menampilkan jantung hati iman Kristen: rahasia penjelmaan Putera Allah menjadi manusia dari Perawan Maria.

Di sebelah kiri ditampilkan satu sosok pria yang menunjuk kepada sebuah bintang di atas perawan bersama anaknya: seorang nabi, kemungkinan Bileam, yang menubuatkan: "Sebuah bintang terbit dari Yakub, sebuah tongkat kerajaan timbul dari Israel" (Bil 24:17).

Seluruh penantian Perjanjian Lama dan seruan umat manusia yang telah jatuh, memohon seorang penyelamat dan penebus, diungkapkan di dalamnya (bdk. 27, 528). Nubuat ini terpenuhi dalam kelahiran Yesus, Putera Allah yang menjelma menjadi manusia, dikandung dari Roh Kudus, dilahirkan oleh Perawan Maria (bdk. 27, 53, 422, 488). Maria melahirkan Dia, ia menyerahkan Dia kepada manusia; olehnya ia menjadi citra Gereja yang termurni.

SEKSI SATU

"AKU PERCAYA" - "KAMI PERCAYA"


26.      Apabila kita mengakui iman kita, kita mulai dengan kata-kata: "Aku percaya" atau "kami percaya". Sebelum kita menguraikan kepercayaan Gereja seperti yang diakui dalam syahadat, dirayakan dalam liturgi, dihayati dalam pelaksanaan perintah-perintah dan dalam doa, kita menanyakan kepada diri sendiri, apa artinya "percaya". Kepercayaan adalah jawaban manusia kepada Allah yang mewahyukan dan memberikan Diri kepada manusia dan dengan demikian memberikan kepenuhan sinar kepada dia yang sedang mencari arti terakhir kehidupannya. Secara berturut-turut kita merenungkan pertama sekali mengenai manusia yang sedang mencari (Bab I), lalu mengenai wahyu ilahi, yang dengannya Allah menyongsong manusia (Bab II), dan akhirnya mengenai jawaban kepercayaan (Bab III).



I. Kerinduan akan Allah
"Makna paling luhur martabat manusia terletak pada panggilannya untuk memasuki persekutuan dengan Allah. Sudah sejak asal mulanya manusia diundang untuk berwawancara dengan Allah. Sebab manusia hanyalah hidup, karena ia diciptakan oleh Allah dalam cinta kasih-Nya, dan lestari hidup berkat cinta kasih-Nya. Dan manusia tidak sepenuhnya hidup menurut kebenaran, bila ia tidak dengan sukarela mengakui cinta kasih itu, serta menyerahkan diri kepada Penciptanya" (GS 19, 1).       
"Dari satu orang saja [Allah] telah menjadikan semua bangsa dan umat manusia untuk mendiami seluruh muka bumi dan Ia telah menentukan musim-musim bagi mereka dan batas-batas kediaman mereka, supaya mereka mencari Dia dan mudah-mudahan menjamah dan menemukan Dia, walaupun Ia tidak jauh dari kita masing-masing. Sebab di dalam Dia kita hidup, kita bergerak, kita ada" (Kis. 17:26-28).          
29.      Namun "hubungan kehidupan yang mesra dengan Allah ini" (GS 19, 1) dapat dilupakan oleh manusia, disalah-artikan, malahan ditolak dengan tegas. [2123-2128]. Sikap yang demikian itu dapat mempunyai sebab yang berbeda-beda[1]: protes terhadap kejahatan di dunia, ketidakpahaman religius atau sikap tidak peduli, kesusahan duniawi dan kekayaan[2], contoh hidup yang buruk dari para beriman, aliran berpikir yang bermusuhan dengan agama, dan akhirnya kesombongan manusia berdosa untuk menyembunyikan diri karena takut akan Tuhan[3] dan melarikan diri dari Tuhan yang memanggil[4]. [398]
30.      "Semua yang mencari Tuhan, hendaklah bergembira" (Mzm 105:3). Biarpun manusia melupakan atau menolak Tuhan, namun Tuhan tidak berhenti memanggil kembali setiap manusia, supaya ia mencari-Nya serta hidup dan menemukan kebahagiaannya. [2567, 845]. Tetapi pencarian itu menuntut dari manusia seluruh usaha berpikir dan penyesuaian kehendak yang tepat, "hati yang tulus", dan juga kesaksian orang lain yang mengajar kepadanya untuk mencari Tuhan. [368]
"Ya Allah, agunglah Engkau dan patut dipuji: kekuatan-Mu besar dan kebijaksanaan-Mu tanpa batas. Manusia yang sendiri satu bagian dari ciptaan-Mu, ingin meluhurkan Dikau. Betapapun ia berdosa dan dapat mati, namun ia ingin memuji Dikau karena ia adalah satu bagian dari ciptaan-Mu. Untuk itu, Engkau menanamkan hasrat di dalam kami karena Engkau telah menciptakan kami menurut citra-Mu sendiri. Hati kami tetap tidak tenang sampai ia menemukan ketenteraman di dalam Engkau" (Agustinus, conf. 1, 1, 1).

II. Jalan-jalan untuk Mengenal Allah
31.      Karena manusia diciptakan menurut citra Allah dan dipanggil untuk mengenal dan mencintai Allah, ia menemukan "jalan-jalan" tertentu dalam pencarian Allah agar mencapai pengenalan akan Allah. Orang menamakan jalan-jalan ini juga "pembuktian Allah", bukan dalam arti ilmu pengetahuan alam, melainkan dalam arti argumen-argumen yang cocok dan meyakin­kan, yang dapat menghantar kepada kepastian yang sungguh.
"Jalan-jalan" menuju Allah ini mempergunakan ciptaan - dunia material dan pribadi manusia - sebagai titik tolak.
Santo Paulus menegaskan mengenai orang kafir: "Karena apa yang dapat mereka ketahui tentang Allah nyata bagi mereka, sebab Allah telah menyatakannya kepada mereka. Sebab apa yang tidak tampak daripada-Nya, yaitu kekuatan-Nya yang kekal dan keilahian-Nya, dapat tampak kepada pikiran dari karya-Nya sejak dunia diciptakan, sehingga mereka tidak dapat berdalih" (Rm 1:19-20)[5].
Dan santo Agustinus berkata: "Tanyakanlah keindahan bumi, tanyakanlah keindahan samudera, tanyakanlah keindahan udara yang menyebarluas, tanyakanlah keindahan langit.... tanyakanlah semua benda. Semuanya akan menjawab kepadamu: Lihatlah, betapa indahnya kami. Keindahan mereka adalah satu pengakuan [confessio]. Siapakah yang menciptakan benda-benda yang berubah, kalau bukan Yang Indah [Pulcher], yang tidak dapat berubah" (Serm. 241, 2).
33.      Manusia. Dengan keterbukaannya kepada kebenaran dan keindahan, dengan pengertian­nya akan kebaikan moral, dengan kebebasannya dan dengan suara hati nuraninya, dengan kerinduannya akan ketidak-terbatasan dan akan kebahagiaan, manusia bertanya-tanya tentang adanya Allah.[2500, 1730, 1776] Dalam semuanya itu ia menemukan tanda-tanda adanya jiwa rohani padanya. "Karena benih keabadian yang ia bawa dalam dirinya tidak dapat dijelaskan hanya dengan asal dalam materi saja" (GS 18, 1),[6] maka jiwanya hanya dapat mempunyai Tuhan sebagai sumber. [1703, 366]
35.  Kemampuan manusia menyanggupkannya untuk mengenal adanya Allah yang berkepriba­dian. [50]  Tetapi supaya manusia dapat masuk ke dalam hubungan yang akrab dengan Allah, maka Allah hendak menyatakan diri kepada manusia dan hendak memberikan rahmat kepadanya supaya dengan kepercayaan dapat menerima wahyu ini. Namun bukti-bukti mengenai adanya Allah dapat menghantar menuju kepercayaan dan dapat membantu supaya mendapat pengertian bahwa kepercayaan tidak bertentangan dengan akal budi manusia. [159]



[1]     Bdk. GS 19-21.
[2]     Bdk. Mat 13:22.
[3]     Bdk. Kej 3:8-10.
[4]     Bdk. Yun 1:3.
[6]     Bdk. GS 14, 2.
[7]     Bdk. DS 3026; DV 6.




Versi Bahasai Inggris



Read the Catechism: Day 4

Part1:The Profession of Faith (26 - 1065)
Section1:"I Believe" — "We Believe" (26 - 184)
26     We begin our profession of faith by saying: "I believe" or "We believe". Before expounding the Church's faith, as confessed in the Creed, celebrated in the liturgy and lived in observance of God's commandments and in prayer, we must first ask what "to believe" means. Faith is man's response to God, who reveals himself and gives himself to man, at the same time bringing man a superabundant light as he searches for the ultimate meaning of his life. Thus we shall consider first that search (Chapter One), then the divine Revelation by which God comes to meet man (Chapter Two), and finally the response of faith (Chapter Three).
Chapter1:Man's Capacity for God (27 - 49)
I. THE DESIRE FOR GOD
27     The desire for God is written in the human heart, because man is created by God and for God; and God never ceases to draw man to himself. Only in God will he find the truth and happiness he never stops searching for:
The dignity of man rests above all on the fact that he is called to communion with God. This invitation to converse with God is addressed to man as soon as he comes into being. For if man exists it is because God has created him through love, and through love continues to hold him in existence. He cannot live fully according to truth unless he freely acknowledges that love and entrusts himself to his creator.
28     In many ways, throughout history down to the present day, men have given expression to their quest for God in their religious beliefs and behavior: in their prayers, sacrifices, rituals, meditations, and so forth. These forms of religious expression, despite the ambiguities they often bring with them, are so universal that one may well call man a religious being:
From one ancestor [God] made all nations to inhabit the whole earth, and he allotted the times of their existence and the boundaries of the places where they would live, so that they would search for God and perhaps grope for him and find him — though indeed he is not far from each one of us. For "in him we live and move and have our being."
29     But this "intimate and vital bond of man to God" (GS 19 § 1) can be forgotten, overlooked, or even explicitly rejected by man. Such attitudes can have different causes: revolt against evil in the world; religious ignorance or indifference; the cares and riches of this world; the scandal of bad example on the part of believers; currents of thought hostile to religion; finally, that attitude of sinful man which makes him hide from God out of fear and flee his call.
30     "Let the hearts of those who seek the LORD rejoice." Although man can forget God or reject him, He never ceases to call every man to seek him, so as to find life and happiness. But this search for God demands of man every effort of intellect, a sound will, "an upright heart", as well as the witness of others who teach him to seek God.
You are great, O Lord, and greatly to be praised: great is your power and your wisdom is without measure. And man, so small a part of your creation, wants to praise you: this man, though clothed with mortality and bearing the evidence of sin and the proof that you withstand the proud. Despite everything, man, though but a small a part of your creation, wants to praise you. You yourself encourage him to delight in your praise, for you have made us for yourself, and our heart is restless until it rests in you.
II. WAYS OF COMING TO KNOW GOD
31     Created in God's image and called to know and love him, the person who seeks God discovers certain ways of coming to know him. These are also called proofs for the existence of God, not in the sense of proofs in the natural sciences, but rather in the sense of "converging and convincing arguments", which allow us to attain certainty about the truth. These "ways" of approaching God from creation have a twofold point of departure: the physical world, and the human person.
32     The world: starting from movement, becoming, contingency, and the world's order and beauty, one can come to a knowledge of God as the origin and the end of the universe.
As St. Paul says of the Gentiles: For what can be known about God is plain to them, because God has shown it to them. Ever since the creation of the world his invisible nature, namely, his eternal power and deity, has been clearly perceived in the things that have been made.
And St. Augustine issues this challenge: Question the beauty of the earth, question the beauty of the sea, question the beauty of the air distending and diffusing itself, question the beauty of the sky... question all these realities. All respond: "See, we are beautiful." Their beauty is a profession [confessio]. These beauties are subject to change. Who made them if not the Beautiful One [Pulcher] who is not subject to change?
33     The human person: with his openness to truth and beauty, his sense of moral goodness, his freedom and the voice of his conscience, with his longings for the infinite and for happiness, man questions himself about God's existence. In all this he discerns signs of his spiritual soul. The soul, the "seed of eternity we bear in ourselves, irreducible to the merely material", can have its origin only in God.
34     The world, and man, attest that they contain within themselves neither their first principle nor their final end, but rather that they participate in Being itself, which alone is without origin or end. Thus, in different ways, man can come to know that there exists a reality which is the first cause and final end of all things, a reality "that everyone calls God".
35     Man's faculties make him capable of coming to a knowledge of the existence of a personal God. But for man to be able to enter into real intimacy with him, God willed both to reveal himself to man and to give him the grace of being able to welcome this revelation in faith. The proofs of God's existence, however, can predispose one to faith and help one to see that faith is not opposed to reason.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar