Mengasihi Sesama

Mengasihi Sesama
Ibu Theresa dari Calcuta

Minggu, 07 April 2013

Katekismus Gereja Katolik Dalam Setahun - 175

KGK ke 175

BAB DUA

SAKRAMEN-SAKRAMEN PENYEMBUHAN

1420. Oleh Sakramen-Sakramen inisiasi Kristen, manusia mendapat hidup baru dalam Kristus. Tetapi kita membawa kehidupan ini "dalam bejana tanah liat" (2 Kor 4:7). Sekarang kehidupan itu masih "tersembunyi bersama dengan Kristus di dalam Allah" (Kol 3:3). Kita masih hidup "dalam kemah kediaman kita di bumi ini" (2 Kor 5:1) dan takluk kepada sengsara, penyakit, dan kematian. Dengan demikian kehidupan yang baru ini pun dapat diperlemah dan malahan dapat hilang sama sekali oleh dosa.

1421. Yesus Kristus, dokter jiwa dan tubuh kita, yang telah mengampuni dosa orang lumpuh dan telah memberi kembali kesehatan kepadanya,1 menghendaki bahwa Gereja-Nya melanjutkan karya penyembuhan dan penyelamatan-Nya dalam kekuatan Roh Kudus. Karya ini juga dibutuhkan anggota-anggota Gereja sendiri Untuk itu ada dua Sakramen penyembuhan: Sakramen Pengakuan dan Sakramen Urapan Orang Sakit.

ARTIKEL 4 : SAKRAMEN TOBAT DAN PERDAMAIAN

1422. "Mereka yang menerima Sakramen Tobat memperoleh pengampunan dari belas kasihan Allah atas penghinaan mereka terhadap-Nya; sekaligus mereka didamaikan dengan Gereja, yang telah mereka lukai dengan berdosa, dan yang membantu pertobatan mereka dengan cinta kasih, teladan serta doa-doanya" (LG 11). {980}

I. * Bagaimana Sakramen ini dinamakan?

1423. Orang menamakannya Sakramen tobat, karena ia melaksanakan secara sakramental panggilan Yesus untuk bertobat,2 untuk bangkit dan kembali kepada Bapa,3 dari Siapa orang telah menjauhkan diri karena dosa.
Orang menamakannya Sakramen pemulihan, karena ia menyatakan langkah pribadi dan gerejani demi pertobatan, penyesalan, dan pemulihan warga Kristen yang berdosa. {1989, 1440}

1424. Orang menamakannya Sakramen Pengakuan karena penyampaian, pengakuan dosa di depan imam adalah unsur hakiki Sakramen ini. Menurut suatu pengertian yang mendalam, Sakramen itu juga adalah satu "pengakuan" - penghargaan dan pujian - akan kekudusan Allah dan kerahiman-Nya terhadap orang yang berdosa.
Orang menamakannya Sakramen pengampunan, karena oleh absolusi imam, Kristus menganugerahkan secara sakramental kepada orang yang mengakukan dosanya "pengampunan dan kedamaian" (OP, rumus absolusi).
1 Bdk. Mrk 2:1-12.
2 Bdk. Mrk 1:15.
3 Bdk. Luk 15:18.

Orang menamakannya Sakramen perdamaian, karena ia memberi kepada pendosa cinta Allah yang mendamaikan: "Berilah dirimu didamaikan dengan Allah" (2 Kor 5:20). Siapa yang hidup dari cinta Allah yang berbelaskasihan, selalu siap memenuhi amanat Tuhan: "Pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu" (Mat 5:24). {1456, 1449, 1442}

II. * Untuk apa suatu Sakramen perdamaian sesudah Pembaptisan? 

1425. "Kamu telah memberi dirimu disucikan, kamu telah dikuduskan, kamu telah dibenarkan dalam nama Tuhan Yesus Kristus dan dalam Roh Allah kita" (1 Kor 6:11). Orang harus sadar, betapa besar anugerah Allah ini, yang telah dianugerahkan kepada kita dalam Sakramen-Sakramen inisiasi Kristen, supaya mengerti, bagaimana dosa tidak pantas lagi bagi orang yang "mengenakan Kristus" (Gal 3:27). Tetapi Rasul Yohanes mengatakan: "Jika kita berkata bahwa kita tidak berdosa, maka kita menipu diri kita sendiri dan kebenaran tidak ada di dalam kita" (1 Yoh 1:8). Dan Tuhan sendiri mengajar kita berdoa: "Ampunilah kami akan dosa kami" (Luk 11:4). Sementara itu Ia menghubungkan kerelaan kita untuk saling mengampuni dengan pengampunan yang akan Allah berikan atas dosa-dosa kita. {1263, 2838}

1426. Pertobatan kepada Kristus, kelahiran kembali dalam Pembaptisan, anugerah Roh Kudus, penerimaan tubuh dan darah Kristus sebagai makanan, membuat kita "kudus dan tidak bercacat... di hadapan Allah" (Ef 1:4) sebagaimana Gereja sendiri, mempelai Kristus adalah "kudus" dan "tanpa kerut" (Ef 5:27). Namun kehidupan baru yang diterima dalam inisiasi Kristen tidak menghilangkan kerapuhan dan kelemahan kodrat manusiawi, dan juga tidak menghilangkan kecenderungan kepada dosa, yang dinamakan "concu-piscentia". Kecondongan ini tinggal dalam orang yang dibaptis, supaya dengan bantuan rahmat Kristus mereka membuktikan kekuatan mereka dalam perjuangan hidup Kristen1. Inti perjuangan ini ialah: kembali kepada kekudusan dan kehidupan abadi, ke mana Tuhan selalu memanggil kita.2 {405, 978, 1264}

III. * Pertobatan orang-orang yang telah dibaptis

1427. Yesus menyerukan supaya bertobat. Seruan ini adalah bagian hakiki dari pewartaan Kerajaan Allah: "Waktunya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil!" (Mrk 1:15). Di dalam pewartaan Gereja seruan ini ditujukan pertama-tama kepada mereka yang belum mengenal Kristus dan Injil-Nya. Tempat pertobatan yang pertama dan mendasar adalah Sakramen Pembaptisan. Oleh iman akan kabar gembira dan oleh Pembaptisan3 orang menyangkal yang jahat dan memperoleh keselamatan, yang adalah pengampunan segala dosa dan anugerah hidup baru. {541, 1226}

1428. Seruan Yesus untuk bertobat juga dilanjutkan dalam hidup orang-orang Kristen. Pertobatan kedua adalah tugas yang terus-menerus untuk seluruh Gereja; Gereja ini "merangkum pendosa-pendosa dalam pangkuannya sendiri: Oleh karena itu Gereja perlu selalu penyucian dan sekaligus harus dibersihkan, serta terus-menerus menjalankan pertobatan dan pembaharuan" (LG 8). Mengusahakan pertobatan itu bukan perbuatan
1 Bdk. DS 1515.
2 Bdk. DS 1545; LG 40.
3 Bdk. Kis 2:38.

manusia belaka. Ia adalah usaha "hati yang patah dan remuk" (Mzm 51:19), yang oleh rahmat diyakinkan dan digerakkan,1 untuk menjawab cinta Allah yang berbelaskasihan, yang lebih dahulu mencintai kita.2 {1036, 853, 1996}

1429. Hal ini dibuktikan pertobatan Petrus sesudah ia menyangkal Gurunya sebanyak tiga kali. Pandangan Yesus yang penuh belas kasihan mencucurkan air mata penyesalan3 dan sesudah kebangkitan Tuhan, Petrus menjawab ya sebanyak tiga kali atas pertanyaan Yesus, apakah ia mencintai-Nya.4 Pertobatan kedua juga memiliki satu dimensi persekutuan. Dan ini dinyatakan dalam satu seruan yang disampaikan oleh Yesus kepada satu umat secara keseluruhan: "Bertobatlah" (Why 2:5.16).
Santo Ambrosius mengatakan tentang dua macam pertobatan; di dalam Gereja ada "air dan air mata: air Pembaptisan dan air mata pertobatan" (ep. 41, 12).

IV. * Tobat batin

1430. Seperti seruan para nabi, demikian pula seruan Yesus mengarahkan kepada pertobatan dan penyesalan, bukan pertama-tama dengan karya yang kelihatan "karung dan abu", puasa dan matiraga, melainkan pertobatan hati, pertobatan batin. Tanpa itu kegiatan pertobatan akan tanpa hasil dan tidak jujur. Tetapi pertobatan batin mendesak agar menyatakan sikap ini dalam tanda-tanda yang kelihatan dalam kegiatan dan karya pertobatan.5

1431. Tobat batin adalah satu penataan baru seluruh kehidupan, satu langkah balik, pertobatan kepada Allah dengan segenap hati, pelepasan dosa, berpaling dari yang jahat, yang dihubungkan dengan keengganan terhadap perbuatan jahat yang telah kita lakukan. Sekaligus ia membawa kerinduan dan keputusan untuk mengubah kehidupan, serta harapan atas belas kasihan ilahi dan bantuan rahmat-Nya. Pertobatan jiwa ini diiringi dengan kesedihan yang menyelamatkan dan kepiluan yang menyembuhkan, yang bapa-bapa Gereja namakan "animi cruciatus" [kesedihan jiwa], "compunctio cordis" [penye-salan hati].6

1432. Hati manusia itu lamban dan keras. Allah harus memberi kepada manusia satu hati baru.7 Pertobatan itu pertama-tama adalah karya rahmat Allah, yang membalikkan hati kita kembali kepada-Nya: "Bawalah kami kembali kepada-Mu, ya Tuhan, maka kami akan kembali" (Rat 5:21). Allah memberi kita kekuatan untuk mulai baru. Kalau hati kita menemukan kebesaran dan cinta Allah, ia akan diguncangkan oleh kejijikan akan dosa dan oleh beban yang disebabkan dosa. Ia mulai merasa takut, untuk mempermalukan Allah dengan dosa dan dengan demikian dipisahkan dari-Nya. Hati manusia bertobat, apabila ia melihat kepada Dia yang ditembusi dosa-dosa kita.8
"Marilah kita memandang darah Kristus dan mengakui, betapa bernilai itu untuk Bapa-Nya; karena dicurahkan demi keselamatan kita, ia membawa rahmat pertobatan untuk seluruh dunia" (Klemens dari Roma, Kor 7, 4).
1 Bdk. Yoh 6:44; 12:32.
2 Bdk. 1 Yoh 4:10.
3 Bdk. Luk 22:61.
4 Bdk. Yoh 21:15-17. 5 Bdk. YI 2:12- 13; Yes 1:16-17; Mat 6:1-6.16-18.
6 Bdk. Konsili Trente: DS 1676-1678; 1705; Catech. R. 2, 5, 4.
7 Bdk. Yeh 36:26-27.
8 Bdk. Yoh 19:37; Za 12:10.

1433. Sejak Paska, Roh Kudus "menginsyatkan" dunia akan "dosa" (Yoh 16:8-9), artinya Ia menyingkapkan bahwa dunia tidak percaya kepada Dia, yang diutus Bapa. Roh yang sama, yang membuka kedok dosa, adalah juga Penolong1 yang memberi rahmat penyesalan dan pertobatan kepada hati manusia.2

Tidak ada komentar:

Posting Komentar