Mengasihi Sesama

Mengasihi Sesama
Ibu Theresa dari Calcuta

Rabu, 24 April 2013

Katekismus Gereja Katolik Dalam Setahun - 192

KGK ke 192

ARTIKEL 2 : PANGGILAN KITA MENUJU KEBAHAGIAAN

I. * Sabda bahagia

1716. Sabda bahagia terdapat dalam inti khotbah Yesus. Mereka mengangkat kembali janji-janji yang telah diberi kepada umat terpilih sejak Abraham. Sabda bahagia menyempur-nakan janji-janji itu, karena tidak hanya diarahkan kepada pemilikan satu tanah saja, tetapi kepada Kerajaan surga
 Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan surga
 Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur.
 Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi.
 Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan.
 Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan.
 Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah.
 Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah.
 Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan surga.
 Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu diceIa dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segaIa yang jahat.
 Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di surga.
(Mat 5:3-12). 2546

1717. Sabda bahagia mencerminkan wajah Yesus Kristus dan cinta kasih-Nya. Mereka menun-jukkan panggilan umat beriman, diikutsertakan di dalam sengsara dan kebangkitan-Nya; mereka menampilkan perbuatan dan sikap yang mewarnai kehidupan Kristen; mereka merupakan janji-janji yang tidak disangka-sangka, yang meneguhkan harapan di dalam kesulitan; mereka menyatakan berkat dan ganjaran, yang murid-murid sudah miliki secara rahasia; mereka sudah dinyatakan dalam kehidupan Perawan Maria dan semua orang kudus.

II. * Kerinduan akan kebahagiaan

1718. Sabda bahagia sesuai dengan kerinduan kodrati akan kebahagiaan. Kerinduan ini berasal dari Allah. Ia telah meletakkannya di dalam hati manusia, supaya menarik mereka kepada diri-Nya, karena hanya Allah dapat memenuhinya: [27]
"Pastilah kita semua hendak hidup bahagia, dan dalam umat manusia tidak ada seorang pun yang tidak setuju dengan rumus ini, malahan sebelum ia selesai diucapkan" (Agustinus, mor. eccl. 1, 3, 4).
"Dengan cara mana aku mencari Engkau, ya Tuhan? Karena kalau aku mencari Engkau, Allahku, aku mencari kehidupan bahagia. Aku hendak mencari Engkau, supaya jiwaku hidup. Karena tubuhku hidup dalam jiwaku, dan jiwaku hidup dalam Engkau" (Agustinus, conf. 10, 29).
"Allah sendiri memuaskan" (Tomas Aqu, , symb. 1).

1719. Sabda bahagia mengungkapkan arti keberadaan manusia, tujuan akhir perbuatan manusia: kebahagiaan di dalam Allah. Allah memberi panggilan ini kepada setiap manusia secara pribadi, tetapi juga kepada seluruh Gereja, kepada umat, yakni mereka yang telah menerima janji dan hidup dari-Nya dalam iman.

Ill. * Kebahagiaan Kristen

1720. Perjanjian Baru memakai pelbagai gagasan untuk mengungkapkan kebahagiaan, ke mana Allah memanggil manusia: kedatangan Kerajaan Allah; 1 melihat Allah:
"Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah" (Mat 5:8); 2 masuk ke dalam kegembiraan Tuhan3 dan masuk ke dalam perhentian Allah.4
"Di sana kita akan berpesta dan melihat, melihat dan mengasihi, mengasihi dan memuji. Ya, pada akhirya tidak akan ada titik akhir. Karena tujuan apakah yang kita miliki, kalau bukan ini, untuk sampai kepada Kerajaan yang tidak memiliki titik akhir?" (Agustinus, civ. 22, 30).

1721. Allah memanggil kita ke dalam keberadaan, supaya kita mengenal Dia, melayani Dia, mengasihi Dia, dan dengan demikian masuk ke dalam Firdaus. Kebahagiaan membuat kita mengambil bagian "dalam kodrat ilahi" (2 Ptr 1:4) dan dalam kehidupan abadi.5 Dengannya manusia masuk ke dalam kemuliaan Kristus6 dan ke dalam kesenangan kehidupan Tritunggal.

1722. Kebahagiaan semacam itu melampaui akal budi dan daya-daya manusia. Ia dianugerah-kan oleh rahmat Allah. Karena itu, orang menamakannya adikodrati, seperti rahmat, yang mempersiapkan manusia untuk masuk ke dalam kegembiraan Allah.
"Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Dalam keagungan dan kemuliaan-Nya yang tak terkatakan, tidak ada seorang pun akan melihat Allah dan hidup karena Bapa tidak dapat dimengerti. Dalam cinta kasih-Nya, dalam keramahtamahan-Nya terhadap manusia dan kemahakuasaan-Nya, Ia berlangkah begitu jauh sehingga Ia memberi kepada mereka yang mencintai-Nya, hak istimewa untuk memandang Allah... Karena, apa yang tidak mungkin bagi manusia, mungkin bagi Allah" (Ireneus, haer. 4, 20, 5).

1723. Kebahagiaan yang dijanjikan menuntut keputusan-keputusan moral yang penting dari kita. Ia mengundang kita, membersihkan hati kita dari nafsu yang jahat dan berusaha supaya mencintai Allah di atas segala-galanya. Ia mengajarkan kepada kita: kebahagiaan
1 Bdk. Mat 4:17.
2 Bdk. 1 Yoh 3:2; 1 Kor 13:12.
3 Bdk. Mat 25:21.23.
4 Bdk. Ibr 4:7-11
5 Bdk. Yoh 17:3.
6 Bdk. Rm 8:18.
sejati tidak terletak dalam kekayaan dan kemakmuran tidak dalam ketenaran dan kekuasaan, juga tidak dalam karya manusia - bagaimanapun juga nilainya seperti ilmu pengetahuan, teknik, dan kesenian - dan juga tidak dalam salah satu makhluk, tetapi hanya di dalam Allah, sumber segaIa yang baik dan segaIa cinta kasih.
"Semua orang bertekuk lutut di depan kekayaan: manusia, kebanyakan orang, menyembahnya secara naluriah. Mereka mengukur kebahagiaan menurut kekayaan, dan menurut kekayaan mereka mengukur juga nilai seseorang.... Semuanya itu berasal dari keyakinan bahwa dengan kekayaan orang bisa beroleh segaIa sesuatu. Kekayaan adalah salah satu berhaIa dewasa ini, dan selanjutnya kesohoran... Kemasyhuran, kenyataan bahwa seorang dikenal dan disanjung dunia (satu hal yang bisa disebut "bintang pers") telah dianggap sebagai sesuatu hal yang baik dalam dirinya sendiri, suatu kebaikan tertinggi, satu obyek untuk dihormati" (J. H. Newman, mix. 5: Tentang Kekudusan).

1724. Dekalog, khotbah di bukit, dan ajaran para Rasul menunjukkan kepada kita jalan menuju Kerajaan surga. Kita berjalan dijalan ini langkah demi langkah, dalam pelaksanaan tugas kita sehari-hari, ditopang oleh rahmat Roh Kudus. Oleh karya Sabda Kristus, lama-kelamaan kita menghasilkan buah di dalam Gereja demi kemuliaan Allah.1

TEKS-TEKS SINGKAT

1725. Sabda bahagia mengambil alih dan memenuhi apa yang Allah telah janjikan sejak Abraham, dengan mengarahkan janji-janji itu kepada Kerajaan surga. Mereka sesuai dengan kerinduan akan kebahagiaan, yang telah diletakkan Allah di dalam hati manusia.

1726. Sabda bahagia menunjukkan kepada kita tujuan akhir, yang untuknya Allah telah memanggil kita: Kerajaan surga, memandang Allah, mengambil bagian dalam kodrat ilahi, kehidupan abadi, pengangkatan sebagai anak Allah, dan perhentian di dalam Allah.

1727. Kebahagiaan kehidupan abadi adalah anugerah rahmat Allah; sifatnya adikodrati seperti rahmat, yang mengantar kepadanya.

1728. Sabda bahagia menuntut dari kita keputusan-keputusan penting yang ada hubungannya dengan kekayaan duniawi. Mereka membersihkan hati kita dan mengajarkan kita mencintai Allah di atas segaIa sesuatu.

1729. Kebahagiaan surgawi menentukan ukuran-ukuran untuk penggunaan kekayaan duniawi sesuai hukum Allah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar