Mengasihi Sesama

Mengasihi Sesama
Ibu Theresa dari Calcuta

Rabu, 14 April 2021

BENARKAH YESUS TIDAK MENDIRIKAN AGAMA?

 

BENARKAH YESUS TIDAK MENDIRIKAN AGAMA?

Saya sering membaca komentar beberapa orang yang berkata “Yesus datang tidak mendirikan atau membawa agama”, “Semua agama itu sama” “Yang penting itu Yesusnya, agama apapun gak penting!”. Komentar-komentar seperti ini sering bermunculan bila seseorang membahas tentang agama.

Namun terdapat satu pertanyaan penting : Benarkah yang mereka katakan?

Sebelum menjawab pertanyaan itu , mari kita lihat dulu apa itu definisi agama, karena banyak orang sering berbicara tentang agama, tanpa mereka sendiri memahami artinya.

Apa itu definisi agama? Secara sederhana, agama (religion) berasal dari kata bahasa latin, dan berarti hubungan – hubungan dengan Allah. Agama tidak mungkin bisa dipisahkan dengan hubungan kepada Allah.

Berikut ini definisi yang lebih komprehensif diberikan Romo Charles Coppens :

Agama Kristen adalah sistem kebenaran, hukum, dan praktek untuk pemujaan Allah yang diinstitusikan oleh Tuhan kita Yesus Kristus. Agama diajarkan dalam kepenuhannya oleh Gereja Katolik sendiri, yaitu kelompok umat kristen yang sangat jelas, yang ada di semua bangsa, yang terdiri dari banyak anggota, sama seperti semua kelompok kristen lain, namun secara sempurna disatukan dalam ajaran dan penyembahan oleh ketaatan pada Supreme Pontiff Paus Roma...Istilah “Roma” merupakan akhiran dari Gereja Katolik, tidak untuk membedakannya dari Gereja katolik lain, — karena sudah jelas bahwa hanya ada satu Gereja universal – namun istilah tersebut menekankan fakta bahwa kelompok penyembah Allah yang besar ini disatukan dalam ketaatan kepada Uskup Roma.

Nah, berangkat dari definisi ini, mari kita kembali menelusuri apa saja yang dilakukan Yesus semasa hidupnya. Mari kita kembali melihat kitab suci kita, yang mengisahkah cerita tentang Yesus Kristus, agar kita bisa menemukan jawaban dari pertanyaan : Benarkah Yesus tidak mendirikan agama?

St. Lukas menceritakan bagaimana Yesus mempersiapkan diri sebelum memilih 12 rasul dengan berdoa semalaman :

“Pada waktu itu pergilah Yesus ke bukit untuk berdoa dan semalam-malaman Ia berdoa kepada Allah. Ketika hari siang, Ia memanggil murid-murid-Nya kepada-Nya, lalu memilih dari antara mereka dua belas orang, yang disebut-Nya rasul: Simon yang juga diberi-Nya nama Petrus, dan Andreas saudara Simon, Yakobus dan Yohanes, Filipus dan Bartolomeus, Matius dan Tomas, Yakobus anak Alfeus, dan Simon yang disebut orang Zelot, Yudas anak Yakobus, dan Yudas Iskariot yang kemudian menjadi pengkhianat.” (Luk 6 : 12-16).

Kedua belas rasul ini merupakan inti Gereja yang memberikan pengajaran, Gereja yang hidup sampai sekarang, yang selalu menjadi “tiang penopang dan dasar kebenaran”.

Kemudian, St. Matius menceritakan bagaimana Yesus menyebut Petrus sebagai batu karang dimana diatasnyalah Gereja didirikan. Ia juga menjadi pemimpin diantara 12 rasul. Hanya Ia  yang diberikan kunci kerajaan surga, yang berarti ia diberikan kekuasaan untuk mengatur Gereja-Nya.  Sedangkan janji untuk mengikat dan melepas diberikan juga kepada para rasul. Kepadanya lah dipercayakan kepemimpinan untuk melakukan pelayanan :

“Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Sorga. Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga.” (Mat 18 : 18)l

“Dan Akupun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya. Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Sorga. Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga.” (Mat 16 : 18-19)

Ketika Yesus berkata demikian, Ia menyatakan dengan jelas bahwa Ia mendirikan sebuah institusi yang abadi yang memperoleh kekuatan keabadiannya dari hubungannya dengan St. Petrus. Dan ketika Yesus mengucapkan “Gereja”, yang ia maksudkan adalah sebuah “perkumpulan”, “sebuah pertemuan yang terorganisir”. Kristus karenanya berjanji untuk mendirikan “perkumpulan-Nya”, kongregasi Pengikut-Nya, dalam cara dimana perkumpulan itu memperoleh kekuatan keabadiannya dari St. Petrus. Sekarang, “suatu perkumpulan orang yang percaya dalam Kristus, dibawah ketaatan penerus St. Petrus” merupakan definisi dari Gereja Katolik.

Ia menjadi gembala bagi domba Kristus, dimana Yesus menghendaki adanya satu kawanan dengan satu gembala.

Kata Yesus kepadanya untuk ketiga kalinya: “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?” Maka sedih hati Petrus karena Yesus berkata untuk ketiga kalinya: “Apakah engkau mengasihi Aku?” Dan ia berkata kepada-Nya: “Tuhan, Engkau tahu segala sesuatu, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau.” Kata Yesus kepadanya: “Gembalakanlah domba-domba-Ku.” (Yoh 21 : 17)

“…dan mereka akan menjadi satu kawanan dengan satu gembala.” (Yoh 10 : 16)

Keutamaan Petrus juga terlihat dari ayat berikut : dimana namanya disebut pada tempat pertama  (Mat 10 : 2), Ia mengundang yang lain untuk memilih pengganti Yudas (Kis 1 : 2), Ia yang pertama mengotbahkan pada orang banyak saat Pentekosta (Kis 2), Ia yang pertama kali menerima bangsa non-yahudi ke dalam Gereja, dimana ia diarahkan untuk melakukan ini oleh visi dari surga (Kis 10), pada konsili Yerusalem, Petrus berdiri diantara mereka saat terjadi pertukaran pikran, dimana setelah ia berbicara semua menjadi diam (Kis 15 : 7-12)

St. Lukas menceritakan bahwa 12 rasul yang sama, hanya mereka yang hadir ketika Yesus mendirikan Ekaristi kudus pada perjamuan terakhir, dan memerintahkan mereka ,”Lakukanlah ini dalam kenangan akan Aku”

Setelah perjamuan terakhir, St. Yohanes menceritakan bagaimana Yesus menjanjikan kepada 12 rasul, Roh Kudus,  yang akan mengajarkan mereka semua kebenaran (Yoh 16 : 13), dan tinggal dengan mereka selamanya (Yoh 16 : 16)

St. Matius di akhir injilnya menggambarkan pentingnya misi para rasul di dunia :

“Dan kesebelas murid itu berangkat ke Galilea, ke bukit yang telah ditunjukkan Yesus kepada mereka. Ketika melihat Dia mereka menyembah-Nya, tetapi beberapa orang ragu-ragu. Yesus mendekati mereka dan berkata: “Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi. Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” (Mat 28 : 16-20).

Karena para rasul tidak akan bertahan hidup sampai akhir zaman, maka janji ini tidak terbatas kepada mereka saja, melainkan juga kepada penerusnya, yang merupakan sebuah organisasi yang mengajar secara tak dapat salah, dimana mereka adalah awal organisasi itu. Bukti akan infalibilitas (ketidak dapat salahan) Gereja bisa diringkas sebagai berikut :

Allah tidak bisa menyuruh kita mendengarkan Gereja bila Gereja bisa memutuskan hal yang bertentangan dengan kebenaran; namun Ia memerintahkan kita untuk mendengarkan Gereja (Mat 18 : 17)

Ia tidak bisa menghukum manusia yang menolak untuk mempercayai doktrin yang salah; namun Ia berkata “Ia yang tidak percaya akan dihukum” (Mark 16 : 16). Karenanya ajaran yang kita percaya tidak bisa salah

Kristus berjanji untuk menyertai Gereja-Nya sampai akhir zaman; Ungkapan “menyertai” ini muncul 90 kali di Kitab Suci, dan secara saragam berarti “memberikan keberhasilan”; tapi bila tubuh pengajar ini melakukan kesalahan dalam ajarannya, maka ini bukan keberhasilan melainkan kegagalan

Roh Kebenaran akan mengajar Gereja semua kebenaran dan berdiam dengannya selamanya (Yoh 4:16;16:13)

“Alam maut tidak akan menguasai Gereja-Nya” (Mat 16:18). Bila Gereja salah, maka alam maut menguasai Gereja

St. Paulus menyebut Gereja sebagai “Gereja Allah yang hidup, tiang penopang dan dasar kebenaran” (1 Tim 3:15)

Gereja mengklaim infalibilitasnya sejak awal; karena Konsili Yerusalem mengeluarkan dekritnya sebagai sesuatu yang berasal dari Roh Kudus : ”Sebab adalah keputusan Roh Kudus dan keputusan kami, supaya kepada kamu jangan ditanggungkan lebih banyak beban dari pada yang perlu ini”

Merupakan praktek Gereja sejak awal untuk memisahkan dari persekutuannya mereka yang menolak untuk percaya pada ajaran Gereja; dan pemisahan ni selalu diangap sebagai kejahatant erbesar, sehingga Agustinus berkata :”Seorang Kristen tidak seharusnya takut selain daripada dipisahkan dari Gereja Kristus; karena bila ia dipisahkan dari Gereja Kristus, ia bukan anggota Kristus”. Semua ini dengan pasti menganggap bahwa Gereja tidak bisa mengajarkan doktrin yang salah, dan dengan ini berarti bahwa Gereja itu infallible (tidak dapat salah)

Lalu, St. Markus juga menceritakan tentang misi yang dijalankan 12 rasul, dengan menambahkan  janji akan adanya kekuatan mujizat yang menyertai misi mereka :

“Merekapun pergilah memberitakan Injil ke segala penjuru, dan Tuhan turut bekerja dan meneguhkan firman itu dengan tanda-tanda yang menyertainya”

Setelah Kenaikan Kristus, para rasul memilih pengganti Yudas Iskariot. Hal ini dilakukan sebelum turunnya Roh Kudus atas mereka, kemudian yang terpilih adalah Matias :

“Lalu mereka mengusulkan dua orang: Yusuf yang disebut Barsabas dan yang juga bernama Yustus, dan Matias. Mereka semua berdoa dan berkata: “Ya Tuhan, Engkaulah yang mengenal hati semua orang, tunjukkanlah kiranya siapa yang Engkau pilih dari kedua orang ini, untuk menerima jabatan pelayanan, yaitu kerasulan yang ditinggalkan Yudas yang telah jatuh ke tempat yang wajar baginya. Lalu mereka membuang undi bagi kedua orang itu dan yang kena undi adalah Matias dan dengan demikian ia ditambahkan kepada bilangan kesebelas rasul itu.” (Kis 1 : 23-25).

Kemudian, setelah Roh Kudus turun, 3000 orang dibaptis dan “bertekun dalam pengajaran para rasul”. Ribuan orang ini merupakan janji akan terbentuknya “perkumpulan” dengan St. Petrus sebagai kepalanya dan para rasul sebagai gereja yang memberikan pengajaran, dan umat beriman sebagai yang diajarkan. Penerus para rasul memperoleh misi mereka dari para rasul itu sendiri. Hal ini juga tetap berlaku sampai sekarang, sampai akhir zaman.

Kedua belas rasul inilah yang melanjutkan dalam memimpin Gereja, yang menyuruh umat beriman memilih 7 diakon, mereka pun berkata :

“Berhubung dengan itu kedua belas rasul itu memanggil semua murid berkumpul dan berkata: “Kami tidak merasa puas, karena kami melalaikan Firman Allah untuk melayani meja. Karena itu, saudara-saudara, pilihlah tujuh orang dari antaramu, yang terkenal baik, dan yang penuh Roh dan hikmat, supaya kami mengangkat mereka untuk tugas itu, dan supaya kami sendiri dapat memusatkan pikiran dalam doa dan pelayanan Firman.” (Kis 6 : 2-4)

Jadi pelayanan firman ataupun berkotbah merupakan pelayanan utama mereka.

Nah, dari semua fakta diatas, jelas sekali ketetapan yang dibuat Yesus demi penyebaran dan pemeliharaan agama-Nya ada dalam misi para rasul-Nya. Tapi 12 rasul itu tidak sanggup mencapainya sendirian. Mereka mengirimkan banyak orang untuk berkotbah tentang kabar baik keselamatan. Sepanjang waktu mereka mendirikan uskup-uskup di semua pusat komunitas Kristen, untuk mengarahkan mereka, agar mereka juga bisa menahbiskan penerus mereka.  Kisah para rasul 14 : 22 menginformasikan bahwa Paulus dan Barnabas menunjuk iman-imam di setiap Gereja. St. Paulus memilih dan menahbiskan Timotius sebagai asistennya, kemudian menempatkannya di Efesus, dan menginstruksikannya tentang pria seperti apa yang harus ia pilih untuk jabatan episkopal (1 Tim 3). Ia juga menulis untuk Titus :

Aku telah meninggalkan engkau di Kreta dengan maksud ini, supaya engkau mengatur apa yang masih perlu diatur dan supaya engkau menetapkan penatua-penatua di setiap kota, seperti yang telah kupesankan kepadamu (Titus 1 : 5)

Mereka yang dipilih bertugas untuk meneruskan ajaran apostolik kepada generasi masa depan. St Paulus juga menulis pada Timotius :

Apa yang telah engkau dengar dari padaku di depan banyak saksi, percayakanlah itu kepada orang-orang yang dapat dipercayai, yang juga cakap mengajar orang lain (2 Tim 2 : 2)

Hal tersebut menunjukkan adanya suksesi apostolik diantara para rasul, beberapa tulisan Bapa Gereja juga mengkonfirmasi hal ini, salah satunya adalah:

“The Apostles made these appointments, and arranged a succession, that when they had fallen asleep other tried men should carry on the ministry – Para rasul membuat penunjukkan ini, dan mengatur sebuah suksesi, agar ketika mereka mati, yang lain harus melanjutkan pelayanan” (Ep. I ad Cor., 44). – St. Clement of Rome

Kristus mempercayakan pengajaran-Nya pada pengawasan para rasul dan penerus mereka, dan berjanji akan terus bersama mereka sampai akhir zaman. Janji ini dipenuhi dengan mengirimkan mereka Roh Kudus, yang tidak hanya menguduskan mereka secara pribadi, tapi untuk mengajari mereka semua kebenaran, dan untuk berdiam dengan mereka dalam perbuatan-perbuatannya, dan karenanya juga menyertai penerusnya, selamanya (Yoh 14 : 16). Roh Kudus mencapai misinya dalam berbagai cara, secara khusus Ia telah memberikan Gereja dua harta karun, yang dari situ Gereja menarik ajaran sucinya, yaitu Kitab Kuci dan Tradisi. Silakan baca artikel ini : Sumber Iman Katolik : Kitab Suci, Tradisi, Magisterium.

Dimana kita bisa menemukan adanya suksesi apostolik? Dimana kita bisa menemukan penerus St. Petrus? Dimana kita mendengar perkataan “Lakukanlah ini untuk mengenangkan Aku” ?Dimana kita menemukan Ekaristi Kudus? Dimana kita menemukan umat beriman yang disatukan dalam ketaatan pada Uskup Roma? Dimana kita menemukan Gereja yang mengajar secara tidak dapat salah?

Nah, berdasarkan penjelasan diatas, jelas sekali semua itu hanya bisa ditemukan dalam Gereja Katolik, Gereja yang dipersiapkan dan didirikan oleh Kristus sendiri. Tidak seharusnya kita memisahkan agama dan Gereja, karena keduanya menunjuk pada hal yang sama.

Berdasarkan definisi dan penjelasan dari kitab suci, agama tidak bisa dipisahkan dari perkumpulan umat beriman yang percaya pada Kristus, dimana mereka dipimpin oleh Petrus dan penerusnya sebagai Kepala Gereja universal, bersama para uskup dan penerusnya, juga mereka disatukan oleh keseragaman dalam hal ajaran dan penyembahan kepada Allah.  Inilah definisi yang setia terhadap Kitab Suci, yang didukung oleh fakta sejarah yang tercatat dalam kitab suci.

Jadi, Yesus memang mendirikan agama, dan agama tersebut adalah Gereja Katolik.

Saya tutup tulisan ini dengan kutipan dari St. Ignatius Antiokhia :

“Dimana ada para uskup, disitu juga ada umat, sama seperti dimanapun Yesus Kristus berada, disana ada Gereja Katolik” (Letter to the Smyrneans 8:2 [A.D. 110]) 

Ref : Lux Veritatis 7

Tidak ada komentar:

Posting Komentar