Mengasihi Sesama

Mengasihi Sesama
Ibu Theresa dari Calcuta

Rabu, 14 April 2021

BEBERAPA PANDANGAN BERBEDA TENTANG DEUTEROKANONIKA ....

 

Apokripa

 

Ada perdebatan tentang kitab-kitab mana yang termasuk dalam kanon Perjanjian Lama. Ada yang berpendapat bahwa kitab-kitab Apokripa yang ditulis tahun 250 SM sampai dengan Kristus termasuk kanon Perjanjian Lama.


Katolik Roma berpendapat  bahwa kitab-kitab yang termasuk dalam kanon Aleksandria harus dimasukkan dalam kanon  Perjanjian  Lama.

Kristen Protestan berpendapat bahwa hanya kitab-kitab yang yang termasuk dalam kanon Palestina bangsa Yahudi yang diwahyukan.


Kitab-kitab yang diperdebatkan adalah:
1. Esdras (III Esdras)
2.
II Esdras (IV Esdras)
3. Tobit
4. Yudit
5. Tambahan kitab Ester (Ester 10:4 -  16:24)
6. Hikmast Salomo
7. Sirak
8. Baruk dan surat Yeremia (Baruk)
9. Doa Azaria dan Nyanyian tiga orang muda (Daniel 3:24-90)
10. Susanna (Daniel 13)
11. Bel dan Dragon (Daniel 14)
12.Doa Manase
13. I Makabe
14. II Makabe

Alasan-alasan penerimaan kitab-kitab Apokripa:
1. Perjanjian Baru mengutip langsung buku Henok (Yudas 14) dan menyinggung II Makabe (Ibrani 11:35)
2. Beberapa kitab apokripa ditemukan dalam komunitas Yahudi abad pertama di Qumran
3. Beberapa Bapa Gereja awal yaitu Origen (185-253M), Atanasius (293-273M), dan Cyril di Yerusalem (315-386M) mengutip dari beberapa kitab Apokripa.
4. Beberapa manuskrip Yunani awal seperti Kodex Vatikanus (325 M) dan Kodex Sinaitikus (350M) mengandung apokripa
5. Agustinus menerima semua kitab-kitab apokripa yang diumumkan oleh Trent (1546)
6. Beberapa Sinode awal seperti Sinode Paus Damaskus (382 M),Sinode Hippo, dan 3 sinode di Kartage (393,297,419) menerima apokripa
7. Beberapa bishop dan dewan?  di antara abad ke 9 dan 15 mencamtumkan kitab-kitab apokripa sebagai kitab yang diwahyukan.
8. Konsili Trent menyatakan kitab-kitab apokripa sebagai bagian kanon kitab suci.

Meski banyak yang mendukung kitab-kitab aprokripa, namun argument di atas ditolak dengan mempertimbangkan:
1. Tidak ada kitab-kitab apokripa yang dikutip sebagai Firman Tuhan oleh Perjanjian Baru. Perjanjian Baru juga menyinggung dan mengutip puisi dari kitab milik bangsa yang tidak percaya Allah Yahweh.
2. Komunitas Qumran bukan suara resmi bangsa Yahudi
3. Banyak Bapa Gereja awal termasuk Origen, Cyril dari Yerusalem, Atanasius. dan Bapa-Bapa gereja penting sebelum Agustinus dengan jelas menolak Apokripa. Mereka mengutip bukan sebagai kitab yang diwahyukan.
4. Penerimaan Agustinus terhadap Apokripa ditolak oleh Yerome, yang merupakan sarjana Alkitab terbesar saat itu
5. Tidak ada sinode atau kanon yang mencantumkan kitab-kitab apokripa dalam 4 abad pertama gereja.
6.  Saat reformasi (1517) beberapa sarjana Katolik Roma termasuk Kardinal Cajetan yang bertolak belakang dengan Luther tidak menerima kitab-kitab Apokripa sebagai bagian Perjanjian Lama.
7. Ketidakseragaman pemakaian kitab-kitab apokripa tahun demi tahun.
8. Trent tidak konsisten karena hanya menerima 11 dari 14 kitab apokripa. Mereka menolak Doa Manasse, 1 Esdras (3 Edras), dan 2 Esdras (4 Esdras) yang mengandung  ayat-ayat yang kuat menentang doa  untuk orang mati  dan menerima buku-buku yang mendukung doa untuk orang mati (1 Makabe 12:45(46))

Ada pertanyaan yang harus dipertimbangkan, buku-buku mana yang termasuk dalam Perjanjian Lama di mana Yesus menyatakannya sebagai Firman Allah yang berotoritas dan tidak dapat dibatalkan?
Jawabannya: tidak lebih dan tidak kurang daripada 24 (39) buku dalam Perjanjian Lama bangsa Yahudi, di mana Kristus mengakuinya.

a. Kitab suci Yahudi pada zaman Yesus
Sumber yang layak dipercaya untuk menentukan kanon Perjanjian Lama bangsa Yahudi adalah sejarahwan Yosepus.

Yosepus mencantumkan 22 buku,
"5 buku Musa,
nabi-nabi setelah Musa ... dalam 13 buku,
4 buku sisanya berisi hymn kepada Tuhan dan aturan-aturan dalam kehidupan manusia". Ruth dijadikan satu dengan Hakim-hakim, Ratapan dijadikan satu dengan Yeremia.
Kanon ini sama dengan yang dipunyai Protestan yang berjumlah 39 buku, karena dalam dalam kanon Yosepus ini:
1 Samuel dan 2 Samuel dijadikan 1 buku,
1 Raja-raja dan 2 Raja-raja dijadikan 1 buku,
1 Tawarikh dan 2 Tawarikh dijadikan 1 buku,
Ezra dan Nehemia dijadikan 1 buku,
12 nabi-nabi kecil dijadikan 1 buku,
Ruth dijadikan satu dengan Hakim-hakim,
Ratapan dijadikan satu dengan Yeremia.

Yosefus menyatakan ke 22 kitab (39 kitab PL Protestan) sebagai lengkap dan final, dapat dibaca jelas dalam pernyataannnya bahwa suksesi nabi-nabi Yahudi berakhir pada abad 4 SM. Dan juga Talmud mengajarkan, "Setelah nabi Hagai, Zakaria, dan Maleaki, Roh Kudus pergi dari Israel'.

b. Kanon Perjanjian Lama dari Yesus dan para rasul
Yesus dan para rasul menerima secara tegas kanon yang berisi 22 atau 24 atau 39 buku Perjanjian lama Protestan. Ini dibuktikan dengan tidak ada satu buku apokripa yang yang pernah dikutip sebagai 'Kitab Suci' baik oleh Yesus maupun para rasul, meskipun mereka memilikinya dan kadang menyinggungnya. Fakta bahwa Yesus dam para rasul pernah mengutip 18 kitab dari 22 (24) kitab Perjanjian Lama Yahudi menunjukkan penolakan Yesus dan para rasul terhadap kita apokripa.

Kesimpulan
Dengan penjelasan di atas maka dapat disimpulkan bahwa kitab-kitab Apokripa tidak termasuk dalam kanon, dan harus ditolak sebagai Firman Tuhan. Tetapi meskipun demikian kitab-kitab itu punya andil di mana kita bisa belajar banyak hal mengenai sejarah dan situasi masyarakat saat itu.

Sumber :
Geisler, Norman L. Christian Apologetics. Baker Book House, Grand Rapids, Michigan 49516

 

Inspirasi Dan Kanonisasi Alkitab

 

Inspirasi Alkitab
Inspirasi berarti proses dimana Allah campur-tangan terhadap para penulis Alkitab melalui pekerjaan Roh Kudus atas diri penulis, sehingga apa yang mereka tulis merupakan kata-kata asli mereka, tetapi sekaligus juga merupakan catatan yang akurat dari wahyu Allah yang tidak mengandung kesalahan. Bukan seperti seorang sekretaris yang secara mekanis didikte oleh atasannya untuk mengetik surat, tapi dengan berbagai cara yang Allah gunakan untuk memberikan Firman-Nya kepada manusia (2 Timotius 3:16; 2 Petrus 1:20-21).

Dalam 2 Timotius 3:16 tertulis: Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran.

Dalam bahasa Inggrisnya: “All Scripture is God breathed and is useful for teaching,.." 

Kata God breathed di sini berarti sebagai 'penghembusan' (peniupan nafas) Ilahi kepada seorang manusia melalui Roh Kudus, yang mengakibatkan seorang tersebut berbicara atau menulis dengan kualitas, penglihatan, ketetapan dan otoritas yang tidak mungkin ada dalam kalimat atau tulisan orang lain yang tidak digerakkan Roh Kudus. Di sini Allah menafaskan Firman-Nya. Dengan demikian, maka pengarang Alkitab itu Allah sendiri. Alkitab bukan berisi Firman Allah, melainkan Alkitab sendiri adalah Firman Allah.
Jadi meskipun Alkitab dituliskan oleh tangan-tangan manusia biasa, tetapi sumber tertinggi adalah Allah sendiri (2 Petrus 1:21). Para penulis itu digerakkan oleh inisiatif Roh Kudus, mereka tidak sanggup menolak gerakan Allah untuk berkata-kata dan menuliskan Firman-Nya (Yeremia 20:9; Amos 3:8).

Walaupun Allah mengontrol penulisnya, sehingga apa yang ditulis mereka hanyalah apa yang dikehendaki-Nya, para penulis tetap menggunakan pikiran dan kepribadian mereka sendiri selama proses penulisan tersebut. Hal ini begitu jelas terlihat dalam perbedaan gaya tulisan dan pendekatan yang digunakan masing-masing penulis tersebut.

Melalui keunikan pribadi penulis tersebut, Allah tetap dapat menyampaikan Firman-Nya. Dengan demikian wajar bila di dalam Alkitab termuat hal-hal yang cukup membuat para intelektual terpesona dan kagum, tetapi orang-orang biasa pun tetap dapat membaca dan memahaminya, dan bila dibaca dengan hati yang hormat pada Allah, mereka akan menemukan Allah sendiri di dalamnya.

Ketika kita membaca bagian-bagian Alkitab, kita tidak boleh melepaskan bagian tersebut dari konteksnya. Kita harus mencari apa yang ingin Allah ajarkan pada bagian-bagian tersebut. Alkitab bahkan tidak menutup-nutupi dosa para tokoh yang dipakai Allah, misalnya: Daud yang berzinah dengan Betsyeba dan membunuh Uria (2 Samuel 11), Yunus yang melarikan diri dari tugas yang diberikan Allah (Yunus 1:1-3). Hal-hal ini menunjukkan kejujuran Alkitab.

Inti berita yang Alkitab sampaikan adalah:

·         Manusia diciptakan segambar Allah untuk tujuan yang mulia (Kejadian 1:26-28; Yohanes 10:10; Efesus 2:10)

·         Manusia jatuh ke dalam dosa karena telah melanggar Firman Allah dan akibatnya adalah: kematian rohani, manusia terputus hubungan dari Allah, dan akhirnya manusia akan mengalami maut, kematian kekal. Namun Allah telah menjanjikan anugerah keselamatan (Kejadian 3; Roma 3:23; Roma 6:23)

·         Karena kasih-Nya, Allah telah memberikan Putra-Nya, Yesus Kristus, untuk mati menebus manusia yang mau percaya kepada-Nya, dan bangkit untuk menyediakan tempat bagi mereka (Roma 8:1)

·         Kristus akan datang lagi di akhir jaman, sebagai Hakim Agung atas dunia ini.



Kanonisasi
Istilah kanon berasal dari bahasa Yunani yang berarti 'tongkat pengukur, standar atau norma'.
Secara historis, Alkitab telah menjadi norma yang berotoritas bagi iman dan kehidupan bergereja. Proses pengkanonan ini dilakukan oleh berpuluh-puluh ahli kitab suci dan bahasa yang dengan teliti dan serius memilah-milah banyak tulisan yang dianggap suci untuk menemukan kitab-kitab yang benar-benar suci dan diwahyukan Allah untuk kemudian dijadikan satu.

Tanda-tanda kanonitas meliputi:

·         Kitab tersebut ditulis atau disahkan oleh para nabi/rasul.

·         Kitab tersebut diakui otoritasnya di kalangan gereja mula-mula.

·         Kitab tersebut mengajarkan hal yang selaras dengan kitab-kitab lainnya yang jelas termasuk dalam kanon.


Kanon Perjanjian Lama (PL)
Diawali oleh tulisan Musa, koleksi kanon PL yang mayoritas dalam bahasa Ibrani secara progresif akhirnya terbentuk sejak sekitar tahun 400 SM.

1.     Loh batu yang berisi 10 hukum ditaruh dalam Tabut Perjanjian (Keluaran 40:20). Loh batu tersebut masih dalam tabut ketika Salomo membawa tabut tersebut ke dalam Bait Allah yang baru saja didirikan (1 Raja-raja 8:9).

2.     Kitab Taurat yang ditulis oleh Musa ditaruh di samping tabut Tuhan sebagai saksi atas kesalahan Israel (Ulangan 31:24-26; Keluaran 24:7).

3.     Yosua menulis sebuah kitab yang melanjutkan kitab Taurat (Yosua 24:26).

4.     Samuel menulis sebuah kitab, lalu ditaruh di hadapan Tuhan ( 1 Samuel 10:25).

5.     Allah menggerakan orang lain untuk melanjutkan mencatat, misalnya:
Kisah Daud oleh Nathan dan Gad (1 Tawarikh 29:29)
Kisah Salomo oleh: Nathan, Ahia, Ido (2 Tawarikh 9:29)

6.     Banyak mazmur yang ditulis oleh Daud, dan kitab nabi-nabi yang memakai nama nabi-nabi tersebut.

7.     Dalam Yeremia 36:1-32 menceritakan Yeremia setelah bernubuat selama 23 tahun, baru diperintahkan Allah untuk menuliskannya. Setelah ditulis, kemudian dibacakan di hadapan raja Yoyakim. Tetapi raja membakar gulungan tulisan tersebut.
Kemudian Allah menggerakkan Yeremia untuk menulis lagi dan memberikan Yeremia banyak berita lagi. Dalam Yeremia 36:25 ditulis ada orang-orang yang memohon supaya raja jangan membakar gulungan tulisan tersebut. Ini menunjukkan bahwa mereka percaya gulungan tulisan tersebut adalah Firman Allah.

8.     Ketika Israel ditawan ke Babilonia, mereka membawa serta kitab Taurat.
Sebab Ezra menyelidiki Taurat di Babilonia dan membawa Taurat tersebut kembali ke Yerusalem (Ezra 7:6,14; Nehemia 8:1-2). Yang dimaksudkan Taurat (the Book of the Law) di sini diperkirakan adalah seluruh kitab PL yang telah ditulis saat itu.

9.     Diperkirakan Ezra yang mengumpulkan semua kitab nabi-nabi paling akhir dalam PL dan menyatukannya menjadi kanon yang paling lengkap pada tahun 400 SM.

10.  Sekitar tahun 200 SM (sekitar 280-150 SM), PL terjemahkan ke dalam bahasa Yunani yang disebut Septuaginta. Penterjemahan ini dilakukan di Mesir. Pada waktu itu banyak orang Yahudi yang tinggal di Mesir. Fakta bahwa pada waktu itu PL telah diterjemahkan, berarti bahwa kanon PL telah lengkap dan semua kitab itu diterima sebagai Alkitab.

 

Pembagian Kitab dalam PL sesuai kanon:

Taurat
Terdiri dari 5 kitab: Kejadian, Keluaran, Bilangan, Imamat, Ulangan. Disebut juga Kitab Pentateuch (artinya lima volume). Penulisnya adalah Musa. Kitab Kejadian membicarakan permulaan dari segala sesuatu. Keempat kitab yang lain membicarakan hal permulaan bangsa Israel, sebuah bangsa yang dipilih Allah untuk menyatakan karya keselamatan-Nya bagi seluruh dunia.

Sejarah

Terdiri dari 12 kitab: Yosua, Hakim-hakim, Ruth, 1 Samuel, 2 Samuel, 1 Raja-raja, 2 Raja-raja, 1 Tawarikh, 2 Tawarikh, Ezra, Nehemia, dan Ester. Membicarakan tentang jatuh bangunnya bangsa Israel selama kurun waktu sekitar 1000 tahun:

·         Israel menduduki Kanaan.

·         Kebimbangan Israel di masa hakim-hakim.

·         Kebangkitan Israel di masa Saul, Daud dan Salomo.

·         Kerajaan Israel yang terpecah setelah Salomo wafat: Kerajaan Utara, runtuh tahun 722 SM; dan Kerajaan Yehuda, runtuh sekitar seabad setelah itu. Tiga kitab terakhir (Ezra, Nehemia, dan Ester) mencatat sejarah kaum Israel yang tersisa setelah masa pembuangan di Babilonia.

Nyanyian
Terdiri dari 5 kitab: Ayub, Mazmur, Amsal, Pengkhotbah dan Kidung Agung. Mereka disebut kitab nyanyian/puisi karena bentuk tulisannya memang demikian. Ciri khusus kitab puisi Ibrani adalah 'sense rhythm' atau pengulangan gagasan.

Nubuatan
Terdiri dari:

·         5 kitab nabi besar: Yesaya, Yeremia, Ratapan, Yehezkiel dan Daniel.

·         12 kitab nabi kecil: Hosea, Yoel, Amos, Obaja, Yunus, Mikha, Nahum, Habakuk, Zefanya, Hagai, Zakaria dan Maleakhi.

Para nabi ini muncul untuk menyuarakan Firman Tuhan, khususnya di masa pemberontakan, masa kemunduran dan jatuhnya kerajaan Israel dan Yehuda. Para nabi menyatakan tentang penghakiman dan pemulihan bagi dua kerajaan tersebut (Kerajaan Utara dan Yehuda).


Setelah Kitab Maleakhi, di antara PL dan PB (Perjanjian Baru), menjelang kelahiran Kristus, ada masa dimana Allah diam (tidak ada inspirasi) selama 400 tahun.

 

Kanon Perjanjian Baru (PB)
Setelah Tuhan Yesus naik ke surga, belum sebuah kitab pun ditulis mengenai diri dan ajaran-Nya, karena belum dirasa perlu – para saksi mata utama masih hidup. Jadi Injil masih dalam bentuk verbal, lisan; dari mulut ke mulut, oleh para rasul.

Seiring dengan berjalannya waktu, jumlah para saksi mata dan para rasul berkurang, dan semakin banyak ancaman pemberitaan ajaran-ajaran sesat. Pada masa itu banyak ditemukan tulisan-tulisan yang bercorak rohani, yang sebenarnya bukan Firman Allah. Oleh karena itu gereja merasakan pentingnya ditentukan kitab-kitab mana sajakah yang dapat diakui berotoritas sebagai Firman Allah. Kemudian para rasul mulai menuliskan surat-suratnya untuk para jemaat, lalu perlahan-lahan dibuat salinan surat-surat itu untuk berbagai gereja dan salinan itu dibacakan dalam pertemuan gereja (Kolose 4:16;
1 Tesalonika 5:7, Wahyu 1:3). Tulisan-tulisan ini diinspirasikan oleh Allah (2 Petrus 1:20-21; Wahyu 22:18; Efesus 3:5).

Pada waktu yang bersamaan, ada orang-orang yang menulis kitab-kitab tentang Yesus dan surat-surat ke gereja-gereja, yang tidak termasuk kanon. Lambat- laun gereja-gereja mulai jelas mengenai kitab-kitab mana yang diinspirasikan oleh Roh Kudus.

Pada abad ke 2 kanon PB telah lengkap. Hal ini kita ketahui dari:

1.     The Old Syriac – terjemahan PB pada abad kedua dalam bahasa Syria. Semua kitab ada, kecuali: 2 Petrus, 2 Yohanes, 3 Yohanes, Yudas, dan Wahyu.

2.     Justin Martyr pada tahun 140 M. Semua kitab PB ada, kecuali: Filipi dan 1 Timotius.

3.     The Old Latin – sebuah terjemahan sebelum tahun 200 M. Terkenal sebagai Alkitab dari gereja Barat. Semua PB ada, kecuali Ibrani, Yakobus, 1 Petrus dan 2 Petrus.

4.     The Muration Canon pada tahun 170 M. Semua PB ada, kecuali: Ibrani, Yakobus, 1 Petrus dan 2 Petrus (sama dengan The Old Latin).

5.     Codex Barococcio pada tahun 206 M. Semua kitab PL dan PB ada, kecuali: Ester dan Wahyu.

6.     Polycarp pada tahun 150 M pernah mengutip: Matius, Yohanes, sepuluh surat Paulus, 1 Petrus, 1 Yohanes dan 2 Yohanes.

7.     Irenaeus (murid Polycarp) pada tahun 170 M. Semua kitab PB ada, kecuali: Filemon, Yakobus, 2 Petrus, dan 3 Yohanes.

8.     Origen pada sekitar tahun 230 M menulis daftar kitab-kitab PB, sebagai berikut: ke-4 Injil, Kisah Para Rasul, ke-13 surat-surat Paulus, 1 Petrus, 1 Yohanes dan Wahyu.

9.     Eusebius di awal abad ke 4 menyebut semua kitab PB.

10.  Pada tahun 367 M dalam Festal Letter yang ditulis oleh Athanasius, Bishop Alexandria, mencantumkan daftar 27 kitab-kitab PB.

11.  Jerome pada tahun 382 M, Ruffinua pada tahun 390 M dan Augustine pada tahun 394 M mencatat kanon PB sebanyak 27 kitab.

12.  Akhirnya pada tahun 397 M, konsili gereja di Carthago mengesahkan 27 kitab PB.

Gereja sebagai persekutuan orang-orang yang ditebus, yang beriman sungguh-sungguh di dalam Kristus bukan menentukan atau menciptakan kanon, tetapi gereja hanya mengesahkan kitab-kitab yang memiliki tanda kanonitas dan karena itu kitab-kitab tersebut memiliki otoritas dalam gereja.

 

Pembagian kitab dalam PB sesuai kanon:

Injil
Terdiri dari empat kitab: Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes. Mencatat tentang kehidupan dan pelayanan Yesus selama di dunia. Matius menekankan Yesus sebagai raja, Markus menekankan Yesus sebagai hamba, Lukas menekankan Yesus sebagai manusia, Yohanes menekankan Yesus sebagai Anak Allah. Meskipun keempat penulis mempunyai penekanan yang berbeda-beda, tetapi tulisan-tulisan mereka satu dengan yang lain tetap harmonis.

Sejarah
Terdiri dari satu kitab, yaitu Kitab Para Rasul. Mencatat perkembangan kekristenan setelah kenaikan Yesus.

Surat-surat
Terdiri dari:

·         14 surat Paulus: Roma, 1 Korintus, 2 Korintus, Galatia, Efesus, Filipi, Kolose, 1 Tesalonika, 2 Tesalonika, 1 Timotius, 2 Timotius, Titus, Filemon, dan Ibrani.

·         7 surat bukan dari Paulus : Yakobus, 1 Petrus, 2 Petrus, 1 Yohanes, 2 Yohanes, 3 Yohanes, dan Yudas.

Kitab Apokaliptik
Terdiri satu kitab, yaitu Wahyu. Kitab ini merupakan kitab terklimaks dalam Alkitab, memberi kita gambaran mengenai masa yang akan datang dan penggenapan sejarah pada saat kedatangan Kristus yang kedua kali sebagai Hakim yang Agung.

 

Alkitab (PL dan PB) sebagai Firman Allah
Alkitab adalah Firman Allah, oleh karena itu Alkitab memiliki beberapa karakteristik yang tidak dimiliki oleh kitab-kitab manapun:

Berkuasa
Alkitab berkuasa dan memiliki wibawa tertinggi bagi kehidupan manusia. Alkitab menyatakan apa yang benar dan salah secara mutlak, sehingga manusia wajib mempercayai dan mengikutinya.

Cukup
Alkitab cukup untuk menyatakan kehendak Allah kepada manusia sesuai dengan yang Allah nyatakan. Alkitab tidak perlu ditambah atau dikurangi. Tidak ada kitab lain yang memiliki nilai otoritas dan kuasa yang setara dengan Alkitab. Tidak ada ayat di dalam Alkitab yang boleh dibuang dan dinyatakan tidak berlaku sampai akhir dunia ini.

Tidak bisa khilaf (infallible)
Karena Alkitab merupakan Firman Allah yang dituliskan melalui pengilhaman Roh Kudus, maka Alkitab tidak bersalah sedikit pun (tidak mungkin menyesatkan/khilaf) dalam maksud dan ajarannya.

Tidak bisa salah (inerrancy)
Alkitab tidak bisa salah karena bukan produk manusia. Alkitab diilhamkan oleh Allah yang Maha Benar sendiri dan Roh Kudus turut berperan dalam penulisannya. Karena itu Alkitab tidak bisa salah dalam ajaran, maksud dan juga kalimat-kalimatnya (baik secara geografis, historis, maupun teologis). Pemahaman ini khususnya menunjuk pada setiap huruf pada naskah asli Alkitab, yang tidak bersalah hingga detil terkecil.

 

Sumber:

1.    Trivena Ambarsari, Bibliologi – Doktrin Alkitab,  Momentum.

2.    Miriam Santoso S. Th, Bibliologi – Pengantar Alkitab, Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang

3.    J. Wesley Brill, Dasar Yang Teguh , Kalam Hidup

Reformed Theology & The Spirit of Ministry

Nats: Yoh 16:33; 14:27; Yes 53:3-6

Pengkhotbah : Pdt. Nico Ong

Orang Kristen seharusnya sadar, dirinya dicipta segambar dan serupa Allah tapi hidup dalam ruang dan waktu terbatas. Dunia selalu berubah. Tapi di tengah banyak masalah serta peristiwa ada 2 eksistensi yang takkan berubah yaitu dosa dan penderitaan. Ketika manusia lahir, dalam dirinya sudah ada benih dosa.  

Dalam iman Kristiani sejati Tuhan menggunakan Taurat untuk membuktikan semua orang berdosa. Di Rm 7:18 Paulus berkata, “… di dalam aku sebagai manusia, tidak ada sesuatu yang baik.”

Tuhan memberi hati nurani untuk menuntut tiap pribadi ketika berbuat dosa. Manusia penuh kekurangan dan kecacatan. Tak ada yang sempurna atau lebih baik. Maka sebelum menuntut orang lain, ingat keberadaan diri sendiri. Sesungguhnya semua orang membutuhkan ketergantungan pada pertolonganNya.

Tuhan juga memperlihatkan kuasa dosa yang mengikat manusia dan sangat berbahaya. Pendosa mengira dirinya bebas menikmati hidup sesuka hati hingga sulit ditegur dan diberi nasihat. Sebenarnya ia telah menjual kebebasannya dalam belenggu dosa. Ia harus merenungkan kembali arti kebebasan dalam kebenaran Firman.

Dengan Theologi Reformed yang benar, orang Kristen seharusnya berani dan mampu mengkritik filsafat Cina lalu membawa mereka kepada Firman. Inilah tantangan bagi semua anak Tuhan.

Tuhan menunjukkan upah dosa ialah maut yang menakutkan. Inilah eksistensi dosa yang pasti tak terhindarkan. Selain itu, tak ada yang mau menderita. Tapi meskipun perkembangan teknologi dan kebudayaan makin pesat, bukan berarti penderitaan berkurang. Orang yang pernah memperkosa, mencuri, membunuh dll malah jadi lebih buas.

Jihad yang benar ialah peperangan rohani, bukan secara kedagingan. Kalau konsep positif tersebut diekstrimkan, akan jadi manusia jijik dan jahat. Maka jangan bangga melakukannya. 

Di jaman modern maupun postmodern, penderitaan tak lebih ringan. Semua orang tak pernah puas akan kebutuhan jasmani dan rohani. Mereka terus mendambakan konsep kebenaran tapi tak mampu menemukannya. Ada 4 tipe orang: (1)Orang yang penuh hikmat bijaksana berjalan melebihi waktu. Ia selalu siap dan waspada bukan karena kemampuannya melainkan kekuatan Firman. Maka ia berani mempertanggungjawabkan di hadapan Tuhan dan sesama. (2)Orang yang biasa saja. Ia hidup dengan waktu dan berjalan sesuai perubahan jaman. (3)Orang bodoh berjalan di belakang waktu. (4)Orang yang paling bodoh tak tahu waktu.

Anak kecil berpikir, waktu sangat panjang. Tapi orang tua sadar, waktunya sudah di ambang pintu kematian. Sesungguhnya realita hidup manusia sangat pendek dan sia-sia kecuali punya pengetahuan pengenalan akan Allah yang telah memberi tujuan sejati. Meskipun hidup terlalu singkat, Tuhan takkan menghapus penderitaan (Yoh 16:33).

Ketika memanggil 12 rasulNya, Tuhan tak menjanjikan kemakmuran, kesuksesan dan kebahagiaan. Di Mat 16:24 Ia berkata, “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku.” Di Mat 10:16 Ia juga berkata, “…, Aku mengutus kamu seperti domba ke tengah-tengah serigala, …”

Pengakuan iman Westminster bagian 1 dimulai dengan tujuan penciptaan manusia yaitu untuk memuliakan Tuhan. Tapi orang Cina di Taiwan berkonsep, yang penting adalah tidur sepuasnya seperti bayi, perut dikenyangkan dengan makanan enak dan tiap hari tak dikacaukan oleh masalah. Konsep semacam itu salah. Ironisnya, banyak orang Kristen mengambil filsafat lain lalu dimasukkan ke dalam Gereja.    

Manusia pasti punya cita-cita. Bahkan ketika sedang makan, ia terus memikirkannya. Tapi ia harus selalu waspada dengan mulutnya karena tanpa pengertian, akan menyedihkan hati Tuhan yang suci dan kudus. Bukan mendatangkan berkat melainkan murkaNya. Maka ketika berdoa atau bernyanyi, hendaknya ia mengkoreksi motivasi diri.

Ada penderitaan bernilai dan tidak. Ada pula penderitaan sebagai akibat dosa atau perang. Dalam sejarah Cina, untuk mempertahankan komunisme mengakibatkan 50 juta orang mati dibantai. Tapi meskipun komunisme telah beredar, moral dan etika orang Cina masih harus diperbaiki. Ini membuktikan paham tersebut gagal mendidik. Ada juga perang karena mempertahankan kedudukan atau gila hormat. Selain itu, ada penderitaan karena kematian, bencana alam atau dikucilkan dari keluarga dan masyarakat. Orang yang tak mencapai keinginannya juga mengalami penderitaan.

Theologi Reformed mengajarkan orang Kristen tak jadi pengecut yang melarikan diri. Theologi tersebut justru mempersiapkan serta memberi iman yang besar dan agung pada semua orang percaya.

Dalam penderitaan, orang Kristen juga jangan terjebak dengan konsep postmodernism yang mengatakan, “Buatlah penderitaan tertidur.” Kalau demikian, ia mungkin akan merasa tak perlu lagi peka terhadap penderitaan orang lain. Penderitaan yang Tuhan ijinkan terjadi punya makna antara lain:

Pertama, agar misi kehidupan berGereja tetap makin berkembang sebagai tanda deeper faith and holiness. Orang Islam pernah memperlakukan secara tak adil, merusak dan membakar Gereja serta menganiaya hingga membunuh jemaat Tuhan. Tapi tak berarti mereka menang.

Bertobat yaitu meninggalkan dosa. Beriman ialah berpalingnya seseorang kepada Kristus lalu hidup dalam Dia dan Tuhan hidup dalam dirinya. Maka ia takkan mempermainkan keberadaanNya.

Kedua, menambah pengalaman. Maka pikiran orang Kristen jadi tak sempit. Dietrich Bonhoeffer dalam perjuangannya, pada bulan April 1945 dihukum mati di kamp konsentrasi. Di penjara ia menulis surat, “Penderitaan adalah lencana kemuridan yang sejati. Mengikut Kristus berarti harus menderita.”

Banyak Gereja mengadakan misi penginjilan tapi tak merasa terjebak dalam metode untuk menambah kuantitas tanpa meningkatkan qualitative difference. Maka kehidupan rohani mereka tak bertumbuh dengan baik.

Ketika bicara mengenai persekutuan Gerejawi, Martin Luther berkata, “… yang disiksa dan mati martir oleh Injil.” Ia juga berkata, “Pemuridan berarti kesetiaan kepada Kristus yang menderita.” Selain itu, katanya, “Penderitaan adalah sukacita dan pertanda suatu anugerah di dalam kehidupan.”

Ketiga, Tuhan memakai penderitaan para hambaNya atau mereka yang beriman kepada­Nya untuk membangunkan orang di sekitarnya yang sudah tertidur dari keacuhan mereka. Sehingga mereka kembali bersemangat melayani secara bertanggung jawab di hadapanNya dan menjunjung tinggi kebenaran Firman.

Keempat, orang Kristen harus sabar menanggung penderitaan, bukan bersungut-sungut melainkan dengan sukacita. Ada pahlawan di Kenya Selatan bernama Joseph. Ketika berjalan di daerah kotor dan panas, ia berjumpa misionaris yang mengabarkan Injil. Saat itu juga Tuhan mengetuk hatinya. Terjadilah konversi dalam panggilan. Artinya, pertobatan dan regenerasi/kelahiran baru. Lalu ia kembali ke desanya untuk memberitakan Injil. Banyak orang jengkel hingga berencana menangkapnya dengan cara menarik rambutnya. Di tengah kerumunan massa, seorang perempuan maju di depannya dan bertanya. Ketika ia berespon, perempuan tersebut langsung memukulnya. Tindakan ini termasuk penjarahan dan pengeroyokan. Mereka bersifat pengecut. Mereka menghajarnya hingga memar, sakit dan terluka. Kepalanya berlumuran darah. Lalu ia diseret keluar dan dilempar ke semak belukar di padang pasir. Setelah agak sembuh, ia tak takut atau jera. Ia kembali ke dusun tersebut. Peristiwa yang serupa terulang lagi. Ia berpendapat, “Kalau engkau dapat hidup sampai detik hari ini, itu adalah mujizat.” Kali ini ia diseret dari luar ke dalam lalu dipukuli hingga matanya bengkak. Sejenak ia menoleh ke kanan dan melihat seorang perempuan jatuh tersungkur, berlutut sambil menangis. Ia ingat perempuan itulah yang pertama kali memukulinya. Tapi ia tetap tersenyum. Setelah itu ia tak sadar selama beberapa hari. Ketika bangun, ia kaget karena berada di rumahnya. Ternyata perempuan itulah yang mengangkat, membasuh dan mengobati lukanya. Perempuan tersebut mengakui dosanya. Sejak itu ia memenangkan jiwa perempuan itu yang sama berharga di hadapanNya.          

Dalam Theology of Suffering musuh utama sesungguhnya bukan orang lain melainkan diri sendiri. Menurut Martin H., seharusnya manusia mampu mengontrol pribadinya. Bukan sebaliknya. Contoh, hati nurani berkata, “Tak ada gunanya mengampuni. Engkau sudah disakiti, dipermalukan dan dikhianati. Balas saja kejahatan dengan kejahatan. Tak usah kasih-mengasihi. Hancurkan dia.” Sifat pribadi yang di dalam berusaha mengontrol diri. Menurut Plato, orang pintar ialah yang rasionya mengontrol perasaan lalu perasaan mengontrol kemauan dan kebebasannya. Tapi Theologi Reformed mengajarkan dengan kebenaran Firman mengontrol rasio lalu rasio mengontrol perasaan dan perasaan mengontrol kemauan. Itulah yang berkenan kepada­Nya. 

Kelima, penderitaan menjalankan perintah penginjilan dengan mendisiplinkan diri. Rela menderita akan menimbulkan sukacita. Allah pasti mencukupi kebutuhan tiap anakNya. Sedangkan orang Kristen harus selalu mencukupkan diri. Dan panggilan hamba Tuhan bukan karena gaji atau fasilitas.  

Keenam, supremasi Kristus harus terlihat dalam penderitaan. Kalau orang Kristen menderita karena ambisi pribadi atau kemauan sendiri, ia tak layak. Penderitaan sebenarnya mendidik agar ia belajar bersandar kepadaNya dengan iman yang benar. Tapi iman tanpa perbuatan tak ada artinya. Maka diharapkan selain sebagai pendengar, ia juga melaksanakan perintah dan amanat agungNya yaitu terus mengabarkan Injil.

Di Yes 53:7 tercatat, “… seperti anak domba yang dibawa ke pembantaian; seperti induk domba yang kelu di depan orang-orang yang menggunting bulunya, ia tidak membuka mulutnya.” Ia hanya dapat memberi tanpa membantah. Ia juga taat sampai mati. Amin.?

danmrii.jpgBlog Entry

Reformed Evangelical Theology ; An Introduction by Ev. Daniel Santoso

 

 

Di dalam perjalanan sejarah, manusia terus mencari dan mencari jawaban dari sebuah pertanyaan “ teologis “. What is Theology ? Theology – theos ( God ) dan logos  ( Truth ). Allah adalah Sang Pencipta dan Ia menciptakan manusia menurut gambar dan rupa Allah dan Ia memberikan sense of divinity ; kesadaran mencari Allah dan Kebenaran serta mengerti what is good and evil. ( Pengkhotbah 3:15 ). Manusia memiliki sifat “ religiousity ” maka manusia dikatakan sebagai manusia yang “ berteologis “. Problem terjadi yaitu manusia jatuh ke dalam dosa ( Kejadian 3 ) akhirnya theology yang ada pada manusia akhirnya rusak seperti puzzle sehingga mereka harus menyusunnya kembali untuk dapat mengenal Allah secara utuh. Bagaimana caranya manusia berteologi dalam diri mereka sendiri after they fallen into sin ? Orang Barat berusaha mencari jawaban logikal “ DOES GOD EXIST ? “ sedangkan orang Timur berusaha mencari jawaban “ WHICH GOD ? “. Setelah manusia jatuh ke dalam dosa, manusia tergoncang dalam menetap fondasi tuk membuktikan Allah sehingga extremist lahir baik yang memutlakkan rasio maupun memutlakan emosional.

 

Pada abad ke 3, Theology didefinisikan sebagai “ Talking about God “. Oleh karena itu orang kristen percaya bahwa theology adalah process of reflection on Bible. Hasil dari proses reflection tersebut disebut sebagai “ Doctrina – Teaching “ yang bersifat organic. Beberapa theolog-theolog penting yang telah berusaha memberikan sistematisasi theology :

a.      Thomas Aquinas ( 1225-1274 ) melalui bukunya “ Summa Theologiae “.

b.      John Calvin ( 1509-1564 ) melalui bukunya “ Institues of Christian Religion “.

c.      Karl Barth ( 1886 – 1968 ) melalui bukunya “ Church Dogmatic “.

d.      Karl Rahner ( 1904-1984 ) melalui bukunya “ Theological Investigations “.

Dari keseluruhannya, kita dapat melihat bahwa systematic theology merupakan kristalisasi iman di dalam Tuhan. Maka pertanyaannya adalah what is faith ?

a.      The existence of God beyond reason but not contrary to reason.

b.      The idea of trusting in God ( Kejadian 15:1-6 )

c.      Trust. They believed that he had some special status, authority, would be able to heal them from illness ( Lukas 5:20, 17, 19 ). Trust in God, rather than just agreeing that God is exists ( Mind and Heart ). Disini Western Philosophy tidak setuju karena bagi mereka ; Believing could be proved whether by logical reasoning or scientific experimentation. Is that true ? Bagi Romans Catholic, Faith and Reason are like two wings on human contemplation of Truth. Problem teologisnya adalah Romans Catholic tidak percaya “ reason “ tercemari oleh dosa. Alasan mereka adalah coba lihat banyak orang gak percaya Tuhan tetapi pintar, justru orang beragama malah bodoh. Secara logika, orang beragama maka pintar tetapi kenyataannya bahwa orang beragama maupun tidak beragama dapat memiliki “ Reason “ yang berkuasa. Padahal Reformed Theology mengajak setiap kita untuk mengenali secara clear manusia bahwa seluruhnya total tercemar oleh dosa termasuk “ Reason “. Reformed Theology justru menekankan kepada Faith and God’s Promises ( dari konsep Martin Luther bahwa Iman yang fundamental adalah iman yang “ Fiducia “ memimpin setiap pikiran dan hati manusia. Why ? Bagi Luther, Fiducia itu suci dan hanya Allah saja yang memberikan “ fiducia “ tersebut, sedangkan reason manusia udah tercemar oleh dosa dan menurut istilah Luther, reason seperti pelacur maka ia harus dibawa kepada satu kesetiaan sejati hanya melalui fiducia / iman. Kedua, Luther menekankah iman yang focus terhadap the promises of God. Ketiga, Iman membawa setiap believers bersatu di dalam Kristus, satu-satunya sumber kekuatan iman keselamatan. Jadi Reformed Faith berakar pada The Promises of God.

 

Reformed Faith kembali kepada 3 prinsip iman sola dari Martin Luther yaitu :

1.      Sola Scriptura ; Hanya Alkitab satu-satunya kacamata tanpa dosa yang akurat. ( Yohanes 1:1 )

2.      Sola Gratia ; Anugerah Allah 100 % diberikan kepada manusia baik kristen ( gospel plus culture ) maupun non kristen ( culture ).

3.      Sola Fide ; Saat kita menerima Firman itu adalah anugerah Allah yang ditanamkan oleh Tuhan melalui iman maka setiap kita mengimani Firman hanyalah dari Allah.

4.      Solus Christus ; Allah yang mana ? Hanya melalui Yesus Kristus. Satu-satunya Allah yang menyatakan Firman, Anugerah, Iman dan Keselamatan.

5.      Solideo Gloria ; Memuliakan Tuhan dan menikmati Dia. Pekerjaan Tuhan dapat dikerjakan dengan baik dengan takut akan Tuhan.

 

How to understand Theology ?

John Calvin menekankan bahwa “ No knowledge of man without know about God and No knowledge about God without know about man “. Kedua pengenalan tersebut haruslah berjalan secara seiring karena keduanya tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lain karena keduanya fundamental. Tanpa pengenalan Allah dan pengenalan diri yang berjalan seiring tersebut maka mustahil dapat mengenal doktrin Kristiani yang percaya :

a.      Allah as Creator and we are created by imago Dei ( God’s image )

b.      But man was fallen into sin ( sehingga theology-nya terpecah-pecah dan rusak ).

c.      But every peoples have their eternity to searching for Meaning ( GOD ).

d.      Searching for Meaning – General Revelation ( melalui dunia ciptaan dan segala isinya nampak kedaulatan Allah atas alam semesta sebagai Creator adalah clear ) and Special Revelation ( Bagaimana manusia dapat memperoleh interpretasi paling akurat ? Hanya melalui Bible – Firman Tuhan. Manusia bukan hanya hidup dari “ Big Mac “ saja tapi Firman Tuhan. Biarlah pengertian ini seharusnya mempengaruhi kekuatan worldview kita semuanya.

 

Worldview yang memiliki cara pandang yang seimbang di dalam :

1.      Belief – Apostolic Faith – Gereja sebagai tempat manusia berespon kepada Tuhan.

2.      Academic – Pelayan Iman. Jika Belief dan academic sudah salah maka semuanya juga akan salah

3.      Spiritual – Spirituality yang benar akan membawa intellectual untuk jujur / benar / penuh cinta kasih dan suci.

4.      Ministry – Kuasa seorang pelayan – rela terjun untuk memberi buah kepada orang lain ( gospel mandate ) – Faith seeking understanding – not evidence, blessing, miracles. Pelayan yang dikuasai Roh Kudus membawanya mencintai ; Firman / Kesucian / Cinta Kasih / God Himself. Inilah Reformed Evangelical ; menghasilkan buah roh untuk bawa jiwa-jiwa kembali kepada Allah. Kedua, Semangat Fighting Spirit. Meski minority tetapi tetap kembali kepada janji Allah maka janganlah kita kuatir. Seorang theolog – Martyn Llyod Jones mengatakan bahwa bedanya orang kristen dengan non kristen yaitu orang kristen tidak takut, tidak kuatir, tidak depresi karena Tuhan beserta mereka sedangkan orang non kristen apa-apa kuatir, depresi, takut karena mereka tidak memiliki pegangan yang satu-satunya. Dalam Alkitab, Nabi Elia harus berhadapan dengan 350 nabi Baal. Daud harus melawan Goliath, Orang Filistin. Mereka tidak takut karena mereka tahu bahwa Tuhan beserta mereka. Masihkah orang kristen kuatir ?

 

img_9271.jpgPelajaran dari hidup Yakub

Ev. Jeffrey Lim

 

“Sesudah itu keluarlah adiknya; tangannya memegang tumit Esau, sebab itu ia dinamai Yakub” ( Kej 25:26 )

 

            Cerita Alkitab itu memberikan kekayaan di dalam kita melihat hidup manusia. Yakub adalah seorang tokoh dalam Alkitab yang unik. Semenjak lahir dia sudah tidak mau kalah oleh kakaknya. Dan dia memegang tumit Esau sehingga dinamai Yakub. Yakub dikatakan di dalam kitab Ibrani sebagai orang beriman. Tetapi bila kita melihat hidup Yakub mungkin kita heran. Mengapa Yakub disebut orang beriman ? Di dalam renungan singkat ini marilah kita merenungkan hidup Yakub baik secara positif maupun negatif.

            Yakub mempunyai karakter yang kurang baik. Dibandingkan dengan Esau, Yakub lebih licin dan lebih bersifat penipu. Esau lebih polos dan baik-baik. Yakub lebih banyak akal. Dan Yakub juga seorang yang bisa mengambil kesempatan dan memikirkan untung rugi. Ketika Esau sedang di dalam keadaan lelah dan lapar, Yakub dengan licin menawarkan untuk menukarkan semangkuk kacang merah dengan hak kesulungan. Kelihatannya Yakub seorang yang cerdik dan bisa mengambil kesempatan serta melihat nilai yang tinggi di dalam hak kesulungan bahkan dengan tega ingin merebut dari kakaknya. Yakub seorang yang suka menghalalkan segala cara.

            Ketika Ishak sudah tua, Yakub yang didorong oleh Ribka menipu ayahnya sendiri sehingga dia menjadi diberkati. Yakub ingin dapat berkat tetapi menggunakan cara penipuan. Dia menyamar sebagai Esau dan memberikan makanan kepada Ishak yang sudah rabun yang ingin memberikan berkatnya kepada Esau. Tetapi Yakub dengan licin menipu ayahnya sendiri. Dia sudah melanggar hukum Musa di dalam 10 perintah Allah untuk menghormati ayahnya. Akibat dari kelicikannya maka Yakub menjadi diberkati oleh Ishak dan Esau menjadi marah dan hendak membunuhnya. Maka Yakub lari. Perbuatan dosa Yakub ada ganjarannya sehingga dia terpaksa melarikan diri dan mengembara.

            Di padang gurun ketika Yakub sedang tidur, dia bermimpi dan bertemu dengan Tuhan. Di dalam responnya kepada Tuhan, kita dapat menilai kerohaniannya. Berbeda dengan Nuh, Abraham dimana Tuhan mengadakan perjanjian dengan mereka, Yakub mengadakan perjanjian dengan Allah tetapi Yakub mengajukan syarat yaitu jika Allah menyertai dan melindunginya serta memberikan kecukupan hidup dan membawanya pulang ke rumah maka Tuhan menjadi Allahnya Yakub. Di dalam mengadakan perjanjian dengan Allah, Yakub dengan cerdik dan licin mengajukan syaratnya. Memang Yakub ini seorang yang memikirkan untung rugi.

            Di dalam hidupnya, Yakub juga terjerat di dalam penipuan oleh Laban. Yakub terpaksa bekerja 7 tahun untuk mendapatkan Rahel tetapi ternyata ditipu oleh Laban yang memberikan Lea kepadanya. Akibatnya Yakub tetap mendapatkan Rahel di dalam seminggu berikutnya tetapi harus bekerja 7 tahun lagi. Laban terus ingin memeras Yakub tetapi Tuham memberkati Yakub dan Yakub dengan cerdik dapat mendapatkan ternak yang banyak dari Laban. Akhirnya Yakub melarikan diri dari Laban.

            Ketika berhasil lolos dari Laban, Yakub akan bertemu dengan Esau kakaknya. Yakub bermain strategi lagi dengan menaruh anak dan istrinya di depan dan memberikan ternak-ternaknya untuk menarik belas kasihan Esau dan juga supaya dia bisa lari kalau ada bahaya di depan. Dalam hal ini Yakub kembali mengorbankan keluarga dan anak istrinya. Karakter Yakub sungguh tidak gentleman sebagai seorang kepala keluarga. Dia hanya memikirkan keselamatan dirinya. Dan Alkitab mencatat akhirnya Esau dan Yakub berbaikan.

            Kemudian bila kita menyelidiki kehidupan keluarga Yakub. Keluarga Yakub sendiri kurang begitu harmonis. Yakub berpoligami dan mempunyai 2 istri yaitu Rahel dan Lea dan 2 gundik yang pembantu Rahel dan Lea. Poligami sendiri bukanlah apa yang Tuhan tetapkan di dalam penciptaan. Di dalam poligami ini Yakub pilih kasih kepada Rahel dan akhirnya mengakibatkan pergumulan keluarga di dalam rumah tangga mereka. Adanya persaingan antara Rahel dan Lea untuk mendapatkan cinta Yakub. Jadi kehidupan suami istri ini ada cinta segitiga yang rumit.

            Yakub juga gagal menjadi seorang kepada keluarga yang baik bagi anak-anaknya. Anak-anak Yakub mempunyai kelemahan dan dosa. Ruben tidur dengan ibu tirinya. Yakub tidak mendidik anak-anaknya di dalam moral yang tinggi. Simeon dan Lewi juga membunuh orang Sikhem. Membunuh melanggar hukum yang Allah tetapkan di dalam perjanjian dengan Nuh. Kemudian Yehuda juga mencari pelacur dan meniduri menantunya sendiri, Tamar. Dosa ini membuktikan Yakub tidak mengajari anak-anaknya standard kesucian hidup. Ada lagi Yakub pilih kasih kepada Yusuf sehingga menimbulkan iri terhadap saudara-saudara mereka. Yusuf juga sejak kecilnya agak sedikit sombong dan tidak menghormati kakak-kakaknya dan ia lebih dimanja oleh Yakub. Dan lebih dari itu saudara-saudara Yusuf berniat membunuhnya. Dari semua ini kita dapat mengambil kesimpulan bahwa keluarga Yakub sendiri bukan keluarga yang ideal dan harmonis. Tetapi lebih merupakan keluarga yang banyak masalah.

            Di dalam semua yang sudah kita analisa. Kita dapat mengambil kesimpulan bahwa Yakub tidak berkarakter baik seperti tokoh-tokoh iman yang lain. Adakah nilai positif dalam diri Yakub ?

Masih ada nilai positif dari Yakub. Yakub adalah seorang yang memandang tinggi berkat Allah. Sejak kecil dia melihat nilai di dalam hak kesulungan. Mungkin Yakub mendengar hal ini dari berkat Tuhan kepada Abraham melalui keturunannya. Abraham diberkati Tuhan dan dari keturunannya semua bangsa akan mendapatkan berkat. Berkat Allah adalah hal yang sangat bernilai sehingga Yakub mengindahkan berkat Allah. Tetapi sebaliknya Esau meremehkannya. Esau mengganggap semangkuk kacang merah lebih berharga. Esau lebih memilih kedagingan, Yakub memperhatikan perkara rohani.

            Yakub juga sampai rela menipu Ishak demi berkat. Cara ini jelas salah. Cara ini berdosa. Tetapi hati Yakub ada kepada berkat Allah. Dia memandang hal-hal rohani dengan tinggi. Tetapi sayang caranya salah. Yakub sangat merindukan berkat Allah.

            Alkitab mencatat ketika Yakub bertemu dengan Allah yang menampakkan diri. Yakub terus bergulat dengan Allah. Yakub tidak mau melepaskan Allah sampai Dia memberkatinya. Akhirnya Alkitab mencatat bahwa Yakub bergumul dengan Allah dan manusia dan dia menang. Akhirnya namanya diubah menjadi Israel.

            Yakub atau Israel sebenarnya manusia yang sangat penuh dengan kelemahan dan kekurangan. Hidupnya ada banyak kelemahan dan dosa. Karakternya tidak baik. Kehidupan suami istri tidak baik. Kehidupan rumah tangga dan anak-anak juga tidak baik. Masih ada sedikit nilai positif yaitu Yakub meninggikan berkat Allah. Tetapi siapakah yang menjadikan Yakub pahlawan iman sebenarnya ? Siapa yang menjadikan Yakub boleh menjadi berkat bahkan menjadi Israel ?

            Alkitab mengatakan inti siapa yang menjadikan Yakub menjadi berkat adalah Allah sendiri. Yakub mengalami kasih karunia Allah. Allah di dalam kedaulatanNya yang mutlak mengatakan “Aku mengasihi Yakub tetapi membenci Esau”. Ini adalah ketetapan Allah yang berdasarkan kasih karuniaNya. Jadi kesimpulannya adalah bahwa mengapa Yakub bisa menjadi tokoh iman adalah karena kasih karunia Allah semata-mata. Yakub yang tidak baik ini dikasihi Allah. Allah betul-betul mengasihi Yakub dan walaupun dia ada kelemahan tetapi Allah bersedia memakainya dan menjadikan keluarganya sebagai bangsa Israel. Yakub yang penuh dengan kelemahan ini boleh menjadi saluran berkat bagi keselamatan bangsa-bangsa sebab keselamatan ada melalui bangsa Israel dan kemudian ke bangsa Kafir. Yakub yang tidak layak tetapi dilayakkan Allah menjadi saluran berkat. Kehidupan keluarganya yang banyak masalah tetapi mereka dipakai menjadi 12 suku Israel.

            Yakub boleh menjadi berkat karena kasih karunia Tuhan semata-mata. Dia boleh meneruskan berkat dari Abraham karena kedaulatan dan kehendak Tuhan. Di masa tuanya Yakub memberkati anak Yusuf yaitu Manasye dan Efraim. Dia meletakkan tangan kanannya kepada yang bungsu yaitu Efraim dan tangan kirinya ke kepala Manasye. Ini sepertinya tidak tepat karena yang sulung seharusnya menerima berkat yang utama. Ada yang menafsirkan bahwa Yakub bertobat dan mengingat kesalahannya dulu menipu Esau dan Ishak ayahnya. Yakub menyadari bahwa kalau dia tidak menipu Ishak, berkat itu masih mungkin didapatkannya seperti dia memberkati Efraim dan Manasye dengan terbalik. Sebab semua hidup ini ada di dalam kedaulatan dan kasih karunia Allah.

Sebelum menutup renungan ini, marilah kita merenungkan bahwa seperti Yakub boleh menjadi berkat bagi banyak orang karena kasih karunia semata-mata maka kita juga kalau boleh menjadi berkat bagi orang lain adalah karena kasih karunia Allah semata-mata. Seperti Yakub yang dipilih oleh Allah dan dikasihiNya maka kita sebagai orang percaya dipilih dan dikasihiNya. Allah demikian mengasihi umat pilihanNya seperti Dia mengasihi Yakub. Allah mengasihi kita umatNya. Maukah kita bersyukur kepadaNya untuk anugerahNya ? Maukah kita hidup untuk memuliakan namaNya ?

 

Amin !

 

Taipei , 5 Juli 2006

Darimana Asalnya Alkitab?


KATA PENGANTAR

Beberapa waktu yang lalu, penulis pernah terlibat dalam suatu perdebatan dengan seorang Protestan seputar justifikasi Reformasi Protestan. Dia mengatakan bahwa sebelum meletusnya Reformasi Protestan, Gereja Katolik melarang umat Katolik membaca Alkitab. Menurutnya, atas jasa-jasa Martin Luther-lah maka sekarang umat Katolik bisa membaca Alkitab.

Terus terang pada waktu itu penulis tidak punya pengetahuan akan latar belakang sejarah Alkitab, dan penulis memegang prinsip keadilan meskipun sedang membela posisi Gereja Katolik. Karena rasa penasaran maka penulis menggali informasi untuk mengetahui perihal yang sebenarnya. Apa yang ditemukan ingin penulis rangkum disini demi menjernihkan pemalsuan sejarah yang beredar di kalangan jemaat gereja Protestan yang terutama dikarenakan mereka sendiri tidak lebih tahu daripada anda akan sejarah gereja yang sesungguhnya.

Apakah anda Katolik atau Protestan, mungkin anda juga pernah bertanya-tanya, mengapa Alkitab yang dipakai oleh umat Katolik berbeda dengan Alkitab umat Protestan. Alkitab umat Katolik terdiri dari 73 buku yang termasuk kitab-kitab Deuterokanonika, sedangkan Alkitab umat Protestan terdiri dari 66 buku, yaitu tanpa kitab-kitab Deuterokanonika.

Penulis merangkum dari beberapa narasumber, yang daftarnya dapat anda temukan di akhir tulisan ini. Akhirnya penulis berharap semoga tulisan ini dapat membuat anda lebih terpesona lagi oleh kekayaan dan kebesaran Gereja Katolik. Dan semoga anda pada gilirannya, menjadi konduit bagi penyebarluasan kisah sejarah yang sebenarnya akan asal usul Alkitab.

SEJARAH TERBENTUKNYA KITAB-KITAB PERJANJIAN LAMA

Alkitab Gereja Katolik terdiri dari 73 kitab, yaitu Perjanjian Lama terdiri dari 46 kitab sedangkan Perjanjian Baru terdiri dari 27 kitab. Bagaimanakah sejarahnya sehingga Alkitab terdiri dari 73 kitab, tidak lebih dan tidak kurang? Pertama, kita akan mengupas kitab-kitab Perjanjian Lama yang dibagi dalam tiga bagian utama: Hukum-hukum Taurat, Kitab nabi-nabi dan Naskah-naskah. kitab-kitab Perjanjian Lama yang dibagi dalam tiga bagian utama: Hukum-hukum Taurat, Kitab nabi-nabi dan Naskah-naskah. Pada suatu ketika dalam sejarah, ini adalah Kitab Suci yang dikenal oleh orang-orang Yahudi dan disebut Kitab Taurat atau Pentateuch.

Selama lebih dari 2000 tahun, nabi Musa dianggap sebagai penulis dari Kitab Taurat, oleh karena itu kitab ini sering disebut Kitab Nabi Musa dan sepanjang Alkitab ada referensi kepada "Hukum Nabi Musa". Tidak ada seorangpun yang dapat memastikan siapa yang menulis Kitab Taurat, tetapi tidak disangkal bahwa nabi Musa memegang peran yang unik dan penting dalam berbagai peristiwa-peristiwa yang terekam dalam kitab-kitab ini. Sebagai orang Katolik, kita percaya bahwa Alkitab adalah hasil inspirasi Ilahi dan karenanya identitas para manusia pengarangnya tidaklah penting.

Nabi Musa menaruh satu set kitab di dalam Tabut Perjanjian (The Ark of The Covenant) kira-kira 3300 tahun yang lalu. Lama kemudian Kitab Para Nabi dan Naskah-naskah ditambahkan kepada Kitab Taurat dan membentuk Kitab-kitab Perjanjian Lama. Kapan tepatnya isi dari Kitab-kitab Perjanjian Lama ditentukan dan dianggap sudah lengkap, tidaklah diketahui secara pasti. Yang jelas, setidaknya sejak lebih dari 100 tahun sebelum kelahiran Kristus, Kitab-kitab Perjanjian Lama sudah ada seperti umat Katolik mengenalnya sekarang.

Kitab-kitab Perjanjian Lama pada awalnya ditulis dalam bahasa Ibrani (Hebrew) bagi Israel, umat pilihan Allah. Tetapi setelah orang-orang Yahudi terusir dari tanah Palestina dan akhirnya menetap di berbagai tempat, mereka kehilangan bahasa aslinya dan mulai berbicara dalam bahasa Yunani (Greek) yang pada waktu itu merupakan bahasa internasional. Oleh karena itu menjadi penting kiranya untuk menyediakan bagi mereka, terjemahan seluruh Kitab Perjanjian Lama dalam bahasa Yunani. Pada waktu itu di Alexandria berdiam sejumlah besar orang Yahudi yang berbahasa Yunani. Selama pemerintahan Ptolemius II Philadelphus (285 - 246 SM) proyek penterjemahan dari seluruh Kitab Suci orang Yahudi ke dalam bahasa Yunani dimulai oleh 70 atau 72 ahli-kitab Yahudi - menurut tradisi - 6 orang dipilih mewakili setiap dari 12 suku bangsa Israel. Terjemahan ini diselesaikan sekitar tahun 250 - 125 SM dan disebut Septuagint, yaitu dari kata Latin yang berarti 70 (LXX), sesuai dengan jumlah penterjemah. Kitab ini sangat populer dan diakui sebagai Kitab Suci resmi (kanon Alexandria) kaum Yahudi yang terusir, yang tinggal di Asia Kecil dan Mesir. Pada waktu itu Ibrani adalah bahasa yang nyaris mati dan orang-orang Yahudi di Palestina umumnya berbicara dalam bahasa Aram. Jadi tidak mengherankan kalau Septuagint adalah terjemahan yang digunakan oleh Yesus, para Rasul dan para penulis kitab-kitab Perjanjian Baru. Bahkan, 300 kutipan dari Kitab Perjanjian Lama yang ditemukan dalam Kitab Perjanjian Baru adalah berasal dari Septuagint. Harap diingat juga bahwa seluruh Kitab Perjanjian Baru ditulis dalam bahasa Yunani.

Setelah Yesus disalibkan dan wafat, para pengikut-Nya tidak menjadi punah tetapi malahan menjadi semakin kuat. Pada sekitar tahun 100 Masehi, para rabbi (imam Yahudi) berkumpul di Jamnia, Palestina, mungkin sebagai reaksi terhadap Gereja Katolik. Dalam konsili Jamnia ini mereka menetapkan empat kriteria untuk menentukan kanon Kitab Suci mereka: [1] Ditulis dalam bahasa Ibrani; [2] Sesuai dengan Kitab Taurat; [3] lebih tua dari jaman Ezra (sekitar 400 SM); [4] dan ditulis di Palestina. Atas kriteria-kriteria diatas mereka mengeluarkan kanon baru untuk menolak tujuh buku dari kanon Alexandria, yaitu seperti yang tercantum dalam Septuagint, yaitu: Tobit, Yudit, Kebijaksanaan Salomo, Sirakh, Barukh, 1 Makabe, 2 Makabe, berikut tambahan-tambahan dari kitab Ester dan Daniel. (Catatan: Surat Nabi Yeremia dianggap sebagai pasal 6 dari kitab Barukh). Hal ini dilakukan semata-mata atas alasan bahwa mereka tidak dapat menemukan versi Ibrani dari kitab-kitab yang ditolak diatas.

Gereja Katolik tidak mengakui konsili rabbi-rabbi Yahudi ini dan tetap terus menggunakan Septuagint. Pada konsili di Hippo tahun 393 Masehi dan konsili Kartago tahun 397 Masehi, Gereja Katolik secara resmi menetapkan 46 kitab hasil dari kanon Alexandria sebagai kanon bagi Kitab-kitab Perjanjian Lama. Selama enam belas abad, kanon Alexandria diterima secara bulat oleh Gereja. Masing-masing dari tujuh kitab yang ditolak oleh konsili Jamnia, dikutip oleh para Patriarch Gereja (Church Fathers) sebagai kitab-kitab yang setara dengan kitab-kitab lainnya dalam Perjanjian Lama. Church Fathers, beberapa diantaranya disebutkan disini: St. Polycarpus, St. Irenaeus, Paus St. Clement, dan St. Cyprianus adalah para Patriarch Gereja yang hidup pada abad-abad pertama dan tulisan-tulisan mereka - meskipun tidak dimasukkan dalam Perjanjian Baru - menjadi bagian dari Deposit Iman. Tujuh kitab berikut dua tambahan kitab yang ditolak tersebut dikenal oleh Gereja Katolik sebagai Deuterokanonika (= second-listed) yang artinya kira-kira: "disertakan setelah banyak diperdebatkan".

GEREJA KATOLIK MENDAHULUI KITAB PERJANJIAN BARU

Seperti Kitab-kitab Perjanjian Lama, Kitab-kitab Perjanjian Baru juga tidak ditulis oleh satu orang, tetapi adalah hasil karya setidaknya delapan orang. Kitab Perjanjian Baru terdiri dari 4 kitab Injil, 14 surat Rasul Paulus, 2 surat Rasul Petrus, 1 surat Rasul Yakobus, 1 surat Rasul Yudas, 3 surat Rasul Yohanes dan Wahyu Rasul Yohanes dan Kisah Para Rasul yang ditulis oleh Santo Lukas, yang juga menulis Kitab Injil yang ketiga. Sejak kitab Injil yang pertama yang ditulis oleh Santo Matius sampai kitab Wahyu Yohanes, ada kira-kira memakan waktu 50 tahun. Tuhan Yesus sendiri, sejauh yang kita ketahui, tidak pernah menuliskan satu barispun dari kitab Perjanjian Baru. Dia tidak pernah memerintahkan para Rasul untuk menuliskan apapun yang diajarkan oleh-Nya. Dia berkata: "Maka pergilah dan ajarlah segala bangsa" (Matius 28:19-20), "Barangsiapa mendengarkan kamu, ia mendengarkan Aku" (Lukas 10:16).

Apa yang Yesus perintahkan kepada mereka persis sama seperti apa yang Yesus sendiri lakukan: menyampaikan Firman Allah kepada orang-orang melalui kata-kata, meyakinkan, mengajar, dan mentobatkan mereka dengan bertemu muka. Jadi bukan melalui sebuah buku yang mungkin bisa rusak dan hilang, dan disalah tafsirkan dan diubah-ubah isinya, melainkan melalui cara yang lebih aman dan alami dalam menyampaikan firman yaitu dari mulut ke mulut. Demikianlah para Rasul mengajar generasi seterusnya untuk melakukan hal yang serupa setelah mereka meninggal. Oleh karena itu melalui Tradisi seperti inilah Firman Allah disampaikan kepada semua generasi umat Kristen sebagaimana pertama kali diterima oleh para Rasul.

Tidak satu barispun dari kitab-kitab Perjanjian Baru dituliskan sampai setidaknya 10 tahun setelah wafatnya Kristus. Yesus disalibkan pada tahun 33 dan kitab Perjanjian Baru yang pertama ditulis yaitu surat 1 Tesalonika baru ditulis sekitar tahun 50 Masehi. Sedangkan kitab terakhir yang ditulis yaitu kitab Wahyu Yohanes pada sekitar 90-100 Masehi. Jadi anda bisa melihat kesimpulan penting disini: Gereja Katolik dan iman Katolik sudah ada sebelum Alkitab dijadikan. Beribu-ribu orang bertobat menjadi Kristen melalui khotbah para Rasul dan missionaris di berbagai wilayah, dan mereka percaya kepada kebenaran Ilahi seperti kita percaya sekarang, dan bahkan menjadi orang-orang kudus tanpa pernah melihat ataupun membaca satu kalimatpun dari kitab Perjanjian Baru. Ini karena alasan yang sederhana yaitu bahwa pada waktu itu Alkitab seperti yang kita kenal, belum ada. Jadi, bagaimanakah mereka menjadi Kristen tanpa pernah melihat Alkitab? Yaitu dengan cara yang sama orang non-Kristen menjadi Kristen pada masa kini, yaitu dengan mendengar Firman Allah dari mulut para misionaris.

GEREJA KATOLIK MENETAPKAN KITAB PERJANJIAN BARU

Ke-dua puluh tujuh kitab diterima sebagai Kitab Suci Perjanjian Baru baik oleh umat Katolik maupun Protestan. Pertanyaannya adalah: Siapa yang memutuskan kanonisasi Perjanjian Baru sebagai kitab-kitab yang berasal dari inspirasi Ilahi? Kita tahu bahwa Alkitab tidak jatuh dari langit, jadi darimana kita tahu bahwa kita bisa percaya kepada setiap kita-kitab tersebut?

Berbagai uskup membuat daftar kitab-kitab yang diakui sebagai inspirasi Ilahi, diantaranya: [1] Mileto, uskup Sardis pada tahun 175 Masehi; [2] Santo Irenaeus, uskup Lyons - Perancis pada tahun 185 Masehi; [3] Eusebius, uskup Caesarea pada tahun 325 Masehi.

Pada tahun 382 Masehi, didahului oleh Konsili Roma, Paus Damasus menulis dekrit yang menulis daftar kitab-kitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru yang terdiri dari 73 kitab.

Konsili Hippo di Afrika Utara pada tahun 393 menetapkan ke 73 kitab-kitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru.

Konsili Kartago di Afrika Utara pada tahun 397 menetapkan kanon yang sama untuk Alkitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Catatan: Ini adalah konsili yang dianggap oleh banyak kaum Protestan dan Evangelis Protestan sebagai otoritatif bagi kanonisasi kitab-kitab dalam Perjanjian Baru.

Paus Santo Innocentius I (401-417) pada tahun 405 Masehi menyetujui kanonisasi ke 73 kitab-kitab dalam Alkitab dan menutup kanonisasi Alkitab.

Jadi kanonisasi Alkitab secara resmi diputuskan di abad ke empat oleh konsili-konsili Gereja Katolik dan para Paus. Sebelum kanon Alkitab ditetapkan, ada banyak perdebatan. Ada yang beranggapan bahwa beberapa kitab Perjanjian Baru seperti surat Ibrani, surat Yudas, kitab Wahyu, dan surat 2 Petrus, adalah bukan hasil inspirasi Ilahi. Sementara pihak lain berpendapat bahwa beberapa kitab yang tidak dikanonisasi seperti: Gembala Hermas, Injil Petrus dan Thomas, surat-surat Barnabas dan Clement adalah hasil inspirasi Ilahi. Keputusan resmi Gereja Katolik menyelesaikan hal diatas sampai 1100 tahun kemudian. Hingga jaman Reformasi Protestan, tidak ada lagi perdebatan akan kitab-kitab dalam Alkitab.

Melihat sejarah, Gereja Katolik menggunakan otoritasnya untuk menentukan kitab-kitab yang mana yang termasuk dalam Alkitab dan memastikan bahwa segala yang tertulis dalam Alkitab adalah hasil inspirasi Ilahi.
Jika bukan karena Gereja Katolik, maka umat Kristen tidak akan dapat mengetahui yang mana yang benar.

KITAB VULGATE - KARYA SANTO JEROME

Ketika Kabar Gembira telah tersebar luas dan banyak orang menjadi Kristen, merekapun dibekali dengan terjemahan Kitab Perjanjian Lama dalam bahasa asli mereka yaitu Armenia, Siria, Koptik, Arab dan Ethiopia bagi umat Kristen purba di wilayah-wilayah ini. Bagi umat Kristen di Afrika dimana bahasa Latin paling luas digunakan, ada terjemahan kedalam bahasa Latin yang dibuat sekitar tahun 150 Masehi dan juga terjemahan berikutnya bagi umat di Italia. Akan tetapi semua ini akhirnya digantikan oleh mahakarya yang dibuat oleh Santo Jerome dalam bahasa Latin yang disebut "Vulgate" pada abad ke-empat. Pada masa itu ada kebutuhan besar akan Kitab Suci dan ada bahaya karena banyaknya variasi terjemahan yang ada. Oleh karena itu sang biarawan, yang mungkin pada waktu itu adalah orang yang paling terpelajar, atas perintah Paus Santo Damascus pada tahun 382, membuat terjemahan Kitab Perjanjian Baru dalam bahasa Latin dan mengkoreksi versi-versi yang ada dalam bahasa Yunani. Lantas di Bethlehem antara tahun 392-404, dia juga menterjemahkan Kitab-kitab Perjanjian Lama langsung dari bahasa Ibrani (jadi bukan dari Septuagint) kedalam bahasa Latin, kecuali kitab Mazmur yang direvisi dari versi Latin yang sudah ada. Ini adalah Alkitab lengkap yang diakui resmi oleh Gereja Katolik, yang nilainya tak terukur menurut para ahli alkitab masa kini, dan terus mempengaruhi versi-versi lainnya sampai pada jaman Reformasi Protestan.

HILANGNYA KITAB-KITAB ASLI

Hingga ditemukannya mesin cetak pada tahun 1450, semua Alkitab adalah hasil salinan tangan yang kita sebut manuskrip. Alkitab lengkap tertua yang masih ada hingga sekarang berasal dari abad ke-empat, dan isinya sama dengan Alkitab yang dipegang oleh umat Katolik yaitu terdiri dari 73 kitab. Apa yang terjadi dengan manuskrip-manuskrip asli yang ditulis oleh para penulis kitab Injil? Ada beberapa alasan akan hilangnya kitab-kitab asli tersebut:

Beberapa ratus tahun pertama adalah masa-masa penganiayaan terhadap umat Kristen. Para penguasa yang menindas Gereja Katolik menghancurkan segala hal yang menyangkut Kristenitas yang bisa mereka temukan. Selanjutnya, kaum pagan (non-Kristen) juga secara berulang-ulang menyerang kota-kota dan perkampungan Kristen dan membakar dan menghancurkan gereja dan segala benda-benda religius yang dapat mereka temukan disana. Lebih jauh lagi, mereka bahkan memaksa umat Kristen untuk menyerahkan kitab-kitab suci dibawah ancaman nyawa, lantas membakar kitab-kitab tersebut.

Alasan lainnya: media yang dipakai untuk menuliskan ayat-ayat Alkitab, disebut papirus - sangat mudah hancur dan tidak tahan lama, sedangkan perkamen, yang terbuat dari kulit binatang dan lebih tahan lama, sulit didapat. Kedua materi inilah yang dimaksud dalam 2 Yohanes 1:12 dan 2 Timotius 4:13. Umat Kristen purba, setelah membuat salinan Alkitab, juga tidak terlalu peduli untuk menjaga kitab aslinya. Mereka tidak beranggapan penting untuk memelihara tulisan-tulisan asli oleh Santo Paulus atau Santo Matius oleh karena mereka percaya penuh kepada Gereja Katolik yang mengajarkan lewat Tradisi melalui mulut para Paus dan para uskup-uskupnya. Umat Katolik tidak melandaskan ajaran-ajarannya pada Alkitab semata-mata, tetapi juga kepada Tradisi yang hidup, dari Gereja Katolik yang infallible. ubi Ecclesia, ibi Christus.

ALKITAB PADA ABAD PERTENGAHAN

Segenap umat Kristen berhutang budi kepada para kaum religius, imam, biarawan dan biarawati yang menyalin, memperbanyak, memelihara dan menyebar-luaskan Alkitab selama berabad-abad. Para biarawan adalah kaum yang paling terpelajar pada jamannya dan salah satu kegiatan utama mereka adalah menyalin isi Alkitab sedangkan biara-biara menjadi pusat penyimpanan naskah-naskah Alkitab ini. Umumnya masing-masing biara-biara di abad pertengahan memiliki perpustakaan tersendiri. Tidak kurang dari para raja dan kaum bangsawan dan orang-orang terkenal meminjam dari biara-biara ini. Para raja dan kaum bangsawan itu sendiri, bersama para Paus, uskup dan kepala-kepala biara, sering menghadiahkan Kitab Suci yang diberi hiasan yang indah kepada biara-biara dan gereja-gereja di seluruh Eropa.

Untuk menyalin satu Alkitab lengkap, diperlukan sekurangnya 10 bulan tenaga kerja dan sejumlah besar perkamen yang mahal harganya untuk memuat lebih dari 35000 ayat-ayat dalam Alkitab. Hal ini menjelaskan mengapa banyak orang biasa tidak mampu memiliki setidaknya satu set Alkitab lengkap di rumah-rumah mereka. Mereka biasanya memiliki salinan dari sejumlah pasal dalam Alkitab yang populer. Jadi kebiasaan memiliki bagian-bagian dari Alkitab yang terpisah adalah kebiasaan yang sepenuhnya Katolik dan yang hingga kini masih dilakukan.

Alkitab pada abad pertengahan umumnya ditulis dalam bahasa Latin. Hal ini dilakukan sama sekali bukan dimaksudkan untuk menyulitkan umat yang ingin membacanya. Kebanyakan orang pada masa itu tidak mampu membaca, sedangkan mereka yang mampu membaca, juga dapat mengerti bahasa Latin. Latin adalah bahasa universal pada waktu itu. Mereka yang mampu membaca lebih menyukai membaca Vulgate, versi Latin dari Alkitab. Oleh karena kenyataan tersebut, tidak ada alasan kuat untuk menterjemahkan Alkitab ke dalam bahasa-bahasa setempat secara besar-besaran. Namun meski demikian harap diingat bahwa sepanjang sejarah Gereja Katolik tetap menyediakan terjemahan Alkitab dalam bahasa-bahasa setempat.

MARTIN LUTHER DAN ALKITAB PROTESTAN

Pada tahun 1529, Martin Luther mengajukan kanon Palestina yang menetapkan 39 kitab dalam bahasa Ibrani sebagai kanon Perjanjian Lama. Luther mencari pembenaran dari keputusan konsili Jamnia (yang adalah konsili imam Yahudi, jadi bukan sebuah konsili Gereja Kristen!) bahwa tujuh kitab yang dikeluarkan dari Perjanjian Lama tidak memiliki kitab-kitab aslinya dalam bahasa Ibrani. Luther melakukan hal tersebut sebenarnya karena sejumlah ayat-ayat yang terdapat pada kitab-kitab tersebut justru mengokohkan doktrin-doktrin Gereja Katolik dan bertentangan dengan doktrin-doktrin baru yang dikembangkan oleh Martin Luther sendiri.

Oleh karena alasan yang serupa, Martin Luther juga nyaris membuang beberapa kitab-kitab lainnya: surat Yakobus, surat Ibrani, kitab Ester dan kitab Wahyu. Hanya karena bujukan kuat oleh para pendukung kaum reformasi Protestan yang lebih konservatif maka kitab-kitab diatas tetap dipertahankan dalam Alkitab kaum Protestan. Namun demikian, tidak kurang Martin Luther menghujat bahwa surat Yakobus tidak pantas dimasukkan dalam Alkitab.

Untuk mendukung salah satu doktrinnya yang terkenal yaitu Sola Fide (bahwa kita dibenarkan hanya oleh iman saja), dalam Alkitab terjemahan bahasa Jerman, Martin Luther menambahkan kata 'saja' pada surat Roma 3:28. Sehingga ayat tersebut berbunyi: "Karena kami yakin, bahwa manusia dibenarkan karena iman saja, dan bukan karena ia melakukan hukum Taurat". Tidak heran kalau Martin Luther menghujat surat Rasul Yakobus dan berusaha untuk membuangnya dari Perjanjian Baru, karena justru dalam surat Yakobus ada banyak ayat yang menjatuhkan doktrin Sola Fide yang diciptakan oleh Martin Luther tersebut. Antara lain, dalam Yakobus 2:14-15 tertulis: "Apakah gunanya, saudara-saudaraku, jika seorang mengatakan, bahwa ia mempunyai iman, padahal ia tidak mempunyai perbuatan? Dapatkah iman itu menyelamatkan dia?" dan Yakobus 2:17 "Demikian juga halnya dengan iman: Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati" dan Yakobus 2:24 "Jadi kamu lihat, bahwa manusia dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya dan bukan hanya karena iman.".

Pertanyaannya sekarang adalah: Kitab Perjanjian Lama manakah yang lebih baik anda baca? Kitab Perjanjian Lama yang digunakan oleh Yesus, para penulis kitab-kitab Perjanjian Baru dan Gereja purba? Atau Kitab Perjanjian Lama yang ditetapkan oleh imam-imam Yahudi yang menolak Yesus Kristus dan menindas umat Kristen purba?

ALKITAB GEREJA KATOLIK

Bahkan sebelum pecahnya Reformasi Protestan, ada banyak versi-versi Alkitab yang beredar pada masa itu. Banyak diantaranya mengandung kesalahan-kesalahan yang disengaja - seperti dalam kasus-kasus kaum heretic, pembangkang gereja yang berusaha mendukung doktrin-doktrin yang mereka ciptakan sendiri, dengan menuliskan Alkitab yang sudah diganti-ganti isinya. Ada juga kesalahan-kesalahan yang tidak disengaja oleh karena faktor human error, mengingat pekerjaan menyalin Alkitab dilakukan dengan tulisan tangan, ayat demi ayat, yang sangat memakan waktu dan tenaga.

Oleh karena itu pada Konsili di Florence pada abad ke lima belas, Gereja Katolik menguatkan keputusan yang dibuat pada konsili-konsili sebelumnya mengenai kitab-kitab yang ada dalam Alkitab.

Setelah meletusnya Reformasi Protestan, pada Konsili Trente oleh Gereja Katolik pada tahun 1546 dikeluarkanlah dekrit yang mensahkan Vulgate, versi Latin dari Alkitab sebagai satu-satunya versi yang diakui dan sah yang diperbolehkan kepada umat Katolik.
Alkitab ini direvisi oleh Paus Sixtus V pada tahun 1590 dan juga oleh Paus Clement VIII pada tahun 1593. Dari Vulgate inilah dihasilkan terjemahan dalam bahasa Inggris yang terkenal yaitu Douai-Rheims Bible.

Selanjutnya pada konsili Vatikan I, kembali Gereja Katolik menegaskan keputusan konsili-konsili sebelumnya tentang Alkitab.

Oleh karena itu di akhir tulisan ini, kita dapat membuat kesimpulan-kesimpulan penting:

Berdasarkan sejarah, Alkitab adalah sebuah kitab Katolik. Perjanjian Baru ditulis, disalin dan dikoleksi oleh umat Kristen Katolik. Kanon resmi dari kitab-kitab yang membentuk Alkitab - Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru - ditentukan secara penuh kuasa oleh Gereja Katolik pada abad ke empat. Oleh karena itu, dari Gereja Katolik-lah kaum Protestan bisa memiliki Alkitab.

Menuruti akal sehat dan logika, Gereja Katolik yang memiliki kekuasaan untuk menentukan Firman Allah yang infallible - bebas dari kesalahan -, pasti juga memiliki otoritas yang infallible - bebas dari kesalahan - dan juga bimbingan dari Roh Kudus. Seperti telah anda lihat, terlepas dari deklarasi oleh Gereja Katolik, kita sama sekali tidak memiliki jaminan bahwa apa yang tertulis dalam Alkitab adalah Firman Allah yang asli. Jika anda percaya kepada isi Alkitab maka anda juga harus percaya kepada otoritas Gereja Katolik yang menjamin keaslian Alkitab. Sangat kontradiktif bagi kaum Protestan untuk menerima Alkitab tetapi menolak otoritas Gereja Katolik. Logikanya, kaum Protestan mestinya tidak mengutip isi Alkitab sama sekali, karena mereka tidak memiliki pegangan untuk menentukan kitab-kitab mana saja yang asli, kecuali tentunya kalau mereka menerima kuasa pengajaran dari Gereja Katolik.

TANYA - JAWAB

Pertanyaan: Mengapa Alkitab umat Katolik terdiri dari 73 kitab sedangkan Alkitab umat Protestan terdiri dari 66 kitab?
Jawaban: Gereja Katolik melandaskan Perjanjian Lama pada Kanon Alexandria - lebih dari satu abad sebelum kelahiran Yesus Kristus - yang menetapkan 43 kitab yang disebut Septuagint sebagai kitab-kitab Perjanjian Lama. Kaum Protestan melandaskan Perjanjian Lama pada Kanon Palestina yang diadakan oleh imam-imam Yahudi untuk memerangi umat Kristen, sekitar tahun 100 Masehi. Perlu ditegaskan disini bahwa baik Yesus maupun para murid-muridNya menggunakan Septuagint yaitu berdasarkan Kanon Alexandria. Pertanyaannya sekarang adalah: Tidakkah anda sebagai umat Kristen, mestinya memakai Kitab Perjanjian Lama yang dipergunakan oleh Yesus dan para murid-muridNya, dan bukan malahan menggunakan versi Perjanjian Lama yang ditetapkan oleh para imam Yahudi yang justru menindas umat Kristen?

Pertanyaan: Benarkah bahwa Gereja Katolik pernah melarang umat Kristen untuk membaca Alkitab dan apakah benar bahwa atas berkat jasa Martin Luther maka umat Katolik sekarang boleh membaca Alkitab?
Jawaban: Satu-satunya kejadian yang menyangkut larangan kaum awam membaca/memiliki Alkitab dikeluarkan hanya oleh beberapa uskup di Perancis pada abad ke 13 untuk memerangi kaum pembangkang Albigensian di Perancis. Larangan itu dihapuskan 40 tahun kemudian setelah pembangkangan selesai. Jadi Gereja Katolik tidak pernah mengeluarkan larangan umatnya membaca Alkitab sepanjang sejarah. Apalagi anggapan bahwa Martin Luther memiliki jasa apapun atas Gereja Katolik.
Ada dongeng yang beredar dikalangan umat Protestan yang mengisahkan bahwa Martin Luther-lah yang "menemukan" Alkitab. Tapi kalau anda membaca buku-buku sejarah gereja yang berbobot, maka anda akan menemukan bahwa justru Martin Luther-lah yang bertanggung jawab menghapuskan kitab-kitab Deuterokanonika dari Perjanjian Lama, dan bahkan nyaris menghapuskan lebih banyak lagi kitab-kitab dari dalam Alkitab. Dia melakukan semua itu demi untuk mendukung doktrin-doktrin yang diciptakannya sendiri yang hingga kini masih menjadi doktrin-doktrin Protestan.

Pertanyaan: Benarkah bahwa Gereja Katolik mempersulit umat Kristen untuk membaca Alkitab dengan hanya menyediakan terjemahan dalam bahasa Latin?
Jawaban: Pada waktu itu, orang yang mampu membaca, juga mampu membaca Latin. Karena Latin adalah bahasa internasional pada jaman itu. Lebih jauh lagi, Vulgate, versi Latin dari Alkitab hasil karya Santo Jerome amat digemari oleh umat Kristen. Jadi tidak ada kebutuhan yang mendesak untuk menyediakan Alkitab dalam berbagai bahasa. Namun demikian ada juga versi-versi terjemahan dalam bahasa-bahasa setempat.

Pertanyaan: Benarkah bahwa Gereja Katolik pernah membakar Alkitab?
Jawaban: Selama berabad-abad Gereja dilanda oleh berbagai pembangkangan (heresy). Para pembangkang ini menggunakan Alkitab yang sudah diselewengkan isinya untuk mendukung doktrin-doktrin mereka sendiri. Gereja Katolik sebagai penjaga keaslian Alkitab juga memiliki hak dan kuasa untuk memastikan bahwa umat Kristen memiliki Alkitab yang isinya tidak dikorupsi demi kepentingan sekelompok orang. Oleh arena itu otoritas Gereja Katolik memusnahkan Alkitab-alkitab yang isinya penuh kesalahan ini dan menggantinya dengan Alkitab yang murni isinya.
Martin Luther bukan satu-satunya orang yang pernah mengkorupsi isi Alkitab.

Pertanyaan: Jika penggunaan Alkitab meluas pada abad-abad pertengahan, mengapa hanya sedikit kitab-kitab kuno ini yang tertinggal?
Jawaban: Ada beberapa alasan. Pertama, ada banyak terjadi peperangan sehingga banyak manuskrip-manuskrip kuno ini ikut musnah. Kedua, media yang dipergunakan mudah rusak dan tidak tahan lama. Ketiga, pengrusakan besar-besaran yang dilakukan dengan sengaja seperti pada masa reformasi Protestan.
Kaum pendukung reformasi Protestan menghancurkan segala hal yang berbau Katolik. Gereja-gereja, biara-biara, tempat-tempat ziarah beserta penghuni dan semua isinya yang bernilai tinggi menjadi korban pergolakan yang dicetuskan oleh kaum pendukung reformasi.

Pertanyaan: Mengapa kitab-kitab yang ditolak dari Perjanjian Lama oleh imam-imam Yahudi itu disebut sebagai Deuterokanonika?
Jawaban: Deuterokanonika artinya kira-kira: "disertakan setelah diperdebatkan". Santo Jerome sendiri pernah mengutarakan kekhawatirannya akan keaslian kitab-kitab tersebut.
Akan tetapi keputusan konsili-konsili Gereja Katolik menghentikan perdebatan dan menghapus kekhawatiran para ahli alkitab pada masa itu. Tidak kurang dari Santo Agustinus sendiri - salah satu doktor Gereja - yang mengatakan begini: "Aku tidak akan meletakkan imanku pada kitab Injil, jika bukan karena otoritas Gereja Katolik yang mengarahkan aku untuk berbuat demikian." Bahwa keputusan Gereja Katolik untuk tetap mempertahankan kitab-kitab Deuterokanonika dan mengabaikan Kanon Palestina, menunjukkan bimbingan Roh Kudus yang membawa kepada segala kebenaran (Yohanes 16:13). Ketika Gulungan-gulungan Laut Mati (Dead Sea Scrolls) ditemukan di Qumran, tepi barat sungai Yordan pada abad ke-20 ini, diantaranya terdapat salinan-salinan asli dalam bahasa Ibrani atas kitab-kitab Deuterokanonika yang diperdebatkan tersebut.

Pertanyaan: Mengapa disebutkan bahwa Deuterokanonika terdiri dari tujuh kitab sedangkan dalam Alkitab bahasa Indonesia yang saya miliki ada sepuluh bagian dalam Deuterokanonika?
Jawaban: Tujuh kitab-kitab tersebut adalah Tobit, Yudit, Kebijaksanaan Salomo, Yesus bin Sirakh, Barukh, 1 Makabe dan 2 Makabe. Tambahan-tambahan pada kitab Ester dan Daniel tentunya dimasukkan kedalam kitab-kitab yang bersangkutan sedangkan Surat Nabi Yeremia dimasukkan sebagai pasal 6 dari kitab Barukh. Dalam Alkitab bahasa Indonesia terbitan Lembaga Alkitab Indonesia, kitab-kitab Deuterokanonika diletakkan pada posisi yang aneh dan tidak sesuai urutan, ini untuk memudahkan penerbit yang sama menerbitkan Alkitab versi Protestan, yaitu tanpa Deuterokanonika. Jika anda membeli Alkitab dalam bahasa Inggris seperti di Amerika contohnya, kitab-kitab Deuterokanonika dimasukkan dalam urutannya yang alami. Perlu juga disebutkan disini bahwa versi-versi Alkitab kaum Protestan pada awalnya - seperti versi asli King James Bible - masih memiliki Deuterokanonika di dalamnya.

Pertanyaan: Ada berapakah versi Alkitab dalam bahasa Inggris?
Jawaban: Dalam bahasa Inggris, ada beberapa versi Alkitab baik bagi umat Katolik maupun Protestan.
Bagi umat Katolik ada versi RSVCE (Revised Standard Version Catholic Edition) yang direkomendasikan oleh Vatikan. Ada NAB (New American Bible) yaitu yang merupakan Alkitab resmi bagi umat Katolik di Amerika Serikat. Ada juga NJB (New Jerusalem Bible) yaitu Alkitab yang diterjemahkan dari bahasa Ibrani dan dipakai oleh sebagian kalangan Gereja Katolik dari ritus-ritus Timur. RSVCE adalah versi yang paling serupa dengan bahasa asli kitab suci karena merupakan terjemahan kata demi kata. Sedangkan NAB dan NJB serta beberapa versi lainnya merupakan terjemahan yang sudah disesuaikan dengan pemakaian bahasa Inggris pada masa kini, jadi penekanan pada segi arti dari kata-kata/kalimat yang dipakai pada bahasa asli kitab suci. Umat Katolik sebaiknya menghindari berbagai versi Alkitab Protestan, diantaranya: RSV (Revised Standard Version), KJV (King James Version), NIV (New International Version), Tyndale Bible dan Zonderfan Bible. Untuk mengenalinya mudah saja, tidak satupun diantaranya mempunyai kitab-kitab Deuterokanonika. Sebetulnya ada juga diantaranya yang menyertakan kitab-kitab Deuterokanonika, yaitu yang diterbitkan oleh penerbit-penerbit sekuler seperti Oxford dan lain-lain. Namun mereka menyebut Deuterokanonika dengan sebutan Apocripha. Jadi anda tahu membedakan yang mana Alkitab Katolik dan yang mana Alkitab Protestan. Alkitab-alkitab Katolik juga memiliki Imprimatur dan Nihil-Obstat yang dapat anda temukan pada bagian muka dari Alkitab tersebut. Ini praktisnya adalah tanda bahwa buku yang bersangkutan telah diperiksa oleh pejabat Gereja Katolik, apakah itu imam ataupun uskup. Penulis merekomendasikan anda untuk mendapatkan Alkitab NAB terbitan Oxford yang merupakan study-bible, lengkap dengan penjelasan-penjelasan akan sejarah PL dan PB, berikut penjelasan akan perumpamaan-perumpamaan yang ada dalam kitab Injil. Penulis juga merekomendasikan Alkitab RSVCE yang dikenal dengan sebutan Ignatius Bible sebagai back-up. Harga Alkitab NAB terbitan Oxford US$24 untuk soft-cover sedangkan RSVCE Ignatius Bible harganya US$20 untuk soft-cover.

Pertanyaan: Ada sementara kalangan Islam yang percaya bahwa di dalam Alkitab umat Kristiani telah terjadi salah terjemahan yang sangat fatal: yaitu kata "Lord" dalam bahasa Inggris diterjemahkan sebagai "Tuhan" dalam bahasa Indonesia, padahal kamus Inggris-Indonesia menyebutkan bahwa kata "lord" mestinya diterjemahkan sebagai "tuan", bukan "Tuhan". Dengan demikian hal ini mendukung teori agama mereka yang mengatakan bahwa Yesus jelas bukan Tuhan dan sekedar manusia biasa.
Jawaban: Tuduhan ini bukan baru muncul belakangan ini. Pada tahun 1980-an, Remi Silado, seorang umat Islam dan artis terkenal pada masa itu pernah melontarkan tuduhan yang sama di dalam suatu majalah bulanan. Pertama-tama perlu ditegaskan disini, bahwa Alkitab bahasa Indonesia tidaklah diterjemahkan dari Alkitab bahasa Inggris. Lihatlah pada bagian awal Alkitab dimana tertulis bahwa "Teks Perjanjian Lama diterjemahkan dari Bahasa Ibrani. Teks Perjanjian Baru diterjemahkan dari Bahasa Yunani. Teks Deuterokanonika diterjemahkan dari Bahasa Yunani". Kedua, perlu diketahui bagi orang Indonesia yang jelas bukan native English speaker - bahwa kata "Lord" dalam Alkitab berarti "God" atau "Tuhan". Kata "Lord" bukan hanya digunakan pada Yesus, tetapi juga pada Allah Bapa dalam ayat-ayat Perjanjian Lama.

Pertanyaan: Majalah DR pada edisi awal tahun 1999 pernah memuat surat dari seorang kiai dalam kolom Surat Pembaca dimana beliau mengatakan bahwa kedatangan nabi Muhammad telah tertulis dalam kitab Injil. Benarkah demikian? Jawaban: Penulis berpendapat, mungkin pak kiai mengutip dari Yohanes 14:16-17, 25-26, 16:7-8,13-14 dan mengira bahwa "Penolong" atau "Penghibur" atau "Roh Kebenaran" yang dimaksud adalah nabi Muhammad.
Tapi kita umat Kristen tahu bahwa yang dimaksud adalah Roh Kudus. Akan tetapi penulis merencanakan untuk berkonsultasi dengan kalangan evangelis Katolik untuk meminta pendapat mereka mengenai hal ini.


Penulis : Jeffry Komala

Nara sumber: Where We Got The Bible: Our Debt to the Catholic Church, 22nd edition, by The Right Rev. Henry G. Graham, published by Tan Books & Publishers, Inc.; Beginning Apologetics 1: How to Explain and Defend The Catholic Faith, by Father Frank Chacon and Jim Burnham, published by San Juan Catholic Seminars; The Catholic Bible (NAB): Personal Study Edition, published by Oxford University Press.

Rekomendasi bacaan: The History of Christendom, by William H. Carrol.

Sumber inspirasi: The Catholic Answer lay apostolate. Website: http://www.catholic.com

 

Sekilas perjalanan Kitab Suci,
dari Torah Moshe sampai Douay Rheims

+/- 1200 SM
Torah Moshe (Taurat Musa) 5 Kitab Hingga saat ini tidak ada bukti otentik bahwa penulis Torah adalah benar-benar Moshe

s/d +/- 400 BC
Perjanjian Lama, Dead Sea Scroll Nebiim, Pesahim, Tehillim ditulis dalam gulungan perkamen kulit hewan, disimpan dalam guci, dan disembunyikan dalam gua untuk menghindari perusakan oleh pasukan Romawi.

+/-280 BC
Proyek penyalinan PL dari bahasa Aramaic ke bahasa Yunani oleh 72 atau 70 orang ahli kitab atas perintah Ptolemaios II Philadelphos

[286-246SM], diselesaikan +/- 225 SM - 125 SM.
Salinan ini disebut Septuagint (Septuaginta) = 70 (LXX) yang juga disebut Canon Alexandria.

+/- 4 SM s/d 30 AD
Kehidupan Yesus Kristus dan 12 murid Yesus mendirikan gerejaNYA [+/- 28 - 29 AD]

50 AD s/d 100 AD
Perjanjian Baru [ 4 Injil dan Surat-surat para rasul ] ditulis dalam bahasa Yunani-Koine, bahasa yang umum dipakai orang Yahudi selain bahasa Aram.

+/- 100 AD
Para Rabbi Yahudi membuat konsili Yahudi di Yamnia dan menyusun Canon Kitab suci Yahudi, yang mengurangi isinya menjadi 39 kitab (menolak 7 kitab, yang kini dikenal sebagai Deuterokanonika).

Karena para imam Yahudi mencetuskan syarat sendiri :

  1. Harus ditulis dalam bahasa Ibrani
  2. Harus ditulis di Palestina
  3. Sesuai dengan Taurat
  4. Lebih tua dari jaman Ezra

Susunan ini juga dikenal sebagai Canon Palestina

100 AD s/d 300 AD
Era Para Bapa Gereja, Gereja Katolik tetap menggunakan Canon Alexandria dan tidak mengakui hasil para imam Yahudi.

325 AD
Konsili Nicaea : Symbolum Apostolorum Nicaene = Credo Nicea

+/- 380 AD
Penerjemahan Alkitab ke bahasa Latin (Vulgata) yang dilakukan oleh St. Jerome [Hieronimus]

381 AD
Konsili Calcedon Gereja Coptic [Mesir] memisahkan diri menjadi Gereja Orthodox Coptic

382 AD
Paus Damasus menetapkan Dekrit Pengakuan 46 PL dan 27 PB

392 - 404 AD  
Penerjemahan PL dari bahasa Ibrani di Bethlehem

393 AD
Konsili Hippo : Menetapkan pemakaian Canon Alexandria 46 kitab

397 AD
Konsili Carthago : Mengukuhkan pemakaian Canon Alexandria

405 AD
Paus St.
Innocentius I [401-417 AD]  menutup Canonisasi Alkitab

1054 AD
Gereja Byzantine memisahkan diri, dicetuskan oleh Michael Cerularius menjadi Gereja Orthodox Yunani

1517 AD
Martin Luther mencetuskan Protestantisme, keluar dari gereja Katolik dan menggunakan Canon Palestina Untuk menguatkan motto Sola Fide (Iman Saja), Luther bahkan berani  "menambahkan" kata 'saja' dalam Roma 3:28. sehingga bunyinya menjadi : "Karena kami yakin, bahwa manusia dibenarkan karena iman saja, dan bukan karena ia melakukan hukum Taurat"

1534 AD
Henry VIII menyatakan diri sebagai pimpinan gereja, dan tidak mengakui kepemimpinan paus di Roma Berdirinya Gereja Anglican

1537 s/d 1539 AD
Gereja Anglican mencetak Common Prayer dan Alkitab Protestan

1546 AD
Konsili Trente : Mengeluarkan dekrit pengesahan Vulgata sebagai satu-satunya versi Alkitab yang diakui sah dalam Gereja Katolik.

1611 AD
Alkitab Protestan King James Version untuk pertamakali dicetak

1842 AD
Dibuat terjemahan dalam bahasa Inggris yang resmi dan sah, yang dikenal sebagai versi Douay-Rheims.

1899 AD
Alkitab Katolik versi Douay-Rheims dicetak ulang


Sumber :
1. http://katolik.online.tripod.com [Katolik]
2. http://www.zeitun-eg.org [Coptic]
3. http://patriarchate.org [Orthodox]
4. http://www.religions.com [Agama2]
5. http://www.copticchurch.net [Coptic]

Diambil dari mailing list apikatolik@yahoogroups.com
terima kasih untuk Bpk. Alex Johanes

Sekilas : Kitab Suci, Tradisi Suci,
Hirarki, Dogma,
Ritual Ibadah dan Hukum Gerejawi

dari mailing list Api Katolik posting tanggal 10 Januari 2003

  1. Kitab Suci
    Meskipun Gereja Yang Satu telah terpecah sejak 381 AD dan kini terdapat puluhan ribu denominasi Gereja, baik yang berafiliasi/korelasi maupun mandiri; tetapi Kitab Suci gereja2 dapat dikategorikan sebagai berikut:
    1. Kitab Suci Canon Alexandria : 46 PL + 27 PB
      1. Gereja Katolik    : terbagi dalam 4 Ritus dan puluhan Sub-Ritus
      2. Gereja Orthodox : terbagi dalam puluhan "Gereja Bangsa"
      3. Gereja Coptic     : terbagi dalam 3 Sub-Ritus
      4. Sede Vacantist   : Pecahan dari Gereja Katolik = True Catholic Church
      5. Levebvrist           : Pecahan dari Gereja Katolik = Gereja Perancis
        >>> KS yang digunakan berdasarkan pada Septuagint [Yunani]/Vulgata [Latin]
        Penafsiran KS dibawah bimbingan Magisterium Fidei [guru iman] yaitu Hirarki Gereja; bukan penafsiran parsial ataupun interpretasi pribadi.
    2. Kitab Suci Canon Palestina : 39 PL ['mencabut' 7 kitab] + 27 PB
      1. Gereja Protestan : terbagi menjadi +/- 24.000 denominasi
      2. Gereja Anglican   : disebut juga Gereja Inggris
        >> KS yang digunakan umumnya adalah King James Version. Tujuh kitab yang dicabut [tidak diakui] dikenal sebagai Deuterokanonika [istilah Katolik] atau Apokrif [istilah Protestan]. Sedangkan kitab2 yang tidak termasuk KS disebut Apokrif [Katolik] atau Pseudepigraf [Protestan].
  2. Tradisi Suci
    Tradisi Suci [tradisi rasuli] dipegang sebagai pedoman disamping Kitab Suci, karena secara historis 4 abad pertama Gereja Perdana belum ada Kitab Suci yang lengkap. Pada masa para rasul bahkan hanya ada Perjanjian Lama saja; boleh dikatakan bahwa usia Gereja lebih tua 400 tahun dibanding Kitab Suci [yang baru disahkan pertamakali pada 405 AD oleh Paus Innocentius I]. Baik Gereja Katolik, Gereja Orthodox maupun Gereja Coptic berpedoman pada Tradisi Suci yang sama sejak para rasul dan Bapa2 Gereja. Hanya Protestan dan Anglican yang menolak Tradisi karena konsep Sola Scriptura [Hanya Alkitab], sehingga menolak apa-apa yang tidak "alkitabiah"; meskipun ada yang 'alkitabiah tapi ditolak' i.e. Yak 2:14-26, karena "memilih" Sola Fide [Hanya Iman] berdasar interpretasi Rom 3:21-31 dan Rom 4:13-16.
    >> Karena menolak Tradisi maka dalam Protestan tidak dikenal istilah Sakramen, Santo-santa [Hagios-Hagia], selibat klerus, dsb. [penjelasan mengenai Tradisi, Alkitab dan Magisterium klik link ini]
  3. Hirarki
    Meskipun telah terjadi pemisahan, tetapi hal itu tidak menghapuskan Hirarki Gerejawi pada Gereja Orthodox dan Gereja Coptic; hanya saja mereka tidak mengakui Uskup Roma [Paus Katolik] sebagai pimpinan tertinggi Gereja [Primat]. Salah satu "pemicu" pemisahan adalah perbedaan pengertian "keutamaan Uskup Roma" yang diakui sejak Gereja Perdana yang masih "Pentarchi" [5 Patriarchat Utama: Roma, Constantinopel, Antiochia, Alexandria dan Yerusalem]. Bagi Gereja Latin [Roma] makna keutamaan itu adalah "Primat Apostolik" [pimpinan faktual] sedangkan bagi Orthodox dan Coptic adalah "Primus inter pares" [Yang utama dari yang setara - pimpinan simbolis].
    1. Hirarki Katolik :
      Pusat di Vatican - Pontifex Romanus [Paus] Johanes Paulus II
      Paus - Patriarkh/Kardinal - Uskup Agung/Metropolitan - Uskup - Pastor - Diakon
    2. Hirarki Orthodox :
      Pusat di Constantinopel - Oikumenikon Patriarkh Bartholomew I
      Patriarkh/Katholikos/Ermiadzin - Metropolitan - Episkopos - Hegomen - Diakonos
    3. Hirarki Coptic :
      Pusat di Alexandria - Paus Shenouda III
      Paus - Arkhepiskopos - Episkopos - Abouna [Archpriest] - Hegumen - Diakonos
    4. Hirarki Anglican :
      Pusat di Canterburry - Pimpinan Gereja = Raja/Ratu Inggris
      Raja/Ratu - Archbishop of Canterburry - Bishop - Priest - Deacon
    5. Denominasi gereja2 Protestan pada umumnya tidak mengenal Hirarki, kecuali denominasi2 Lutheran, Episcopal dan Presbyterian.
  4. Dogma
    Dogma [doktrin iman] bisa disebut sebagai penjabaran teologis atas ayat2 KS, dalam hal dogma terdapat beberapa perbedaan antara Gereja Orthodox dan Gereja Coptic dengan Gereja Katolik a.l :
    1. Tidak mengakui doktrin Api Penyucian [Purgatorium]. [Ortodoks tidak mengakui Api Penyucian tetapi mereka mempercayai ada tempat penyucian bagi orang yang sudah meninggal]
    2. tidak mengakui Maria Sejak Dikandung Tak Bernoda [Maria tidak berdosa hanya sejak mengandung Yesus]
      Namun kira-kira 85% dogma ketiga cabang Gereja ini sama.

Dalam denominasi2 Protestan, lebih ditekankan kepada 3 Sola [Sola Scriptura, Sola Fide dan Sola Gratia], sedangkan "doktrin" lainnya bersifat spesifik [i.e. Baptist menekankan pembaptisan, Advent menekankan penantian kedatangan Kristus, dsb].

  1. Ritual Ibadah
    Ritual ibadah yang digunakan pada gereja2 Katolik, Orthodox dan Coptic berdasarkan kepada Tradisi Rasuli; meskipun dalam perkembangan selanjutnya dilakukan perubahan2 [penambahan atau pengurangan], tetapi intinya tetap sama yaitu Liturgi Missa yang terdiri dari Liturgi Sabda dan Liturgi Ekaristi.
    1. Gereja Coptic memakai Liturgi Santo Markus
    2. Gereja Orthodox memakai Liturgi Santo Yohanes [Krisostomos]
    3. Gereja Katolik memakai varian dari Liturgi St. Yohanes [Krisostomos], menjadi Liturgi Latin [kecuali Gereja Katolik Byzantine memakai liturgi Orthodox dengan penyesuaian]
      Liturgi Missa dalam gereja2 di atas bersifat Universal.
      Disamping Liturgi Missa, ada Adorasi dan Devosi [kepada orang suci], dsb.
    4. Gereja2 Protestan tidak mempunyai 'keseragaman' dalam Liturgi, i.e Anglikan dan Lutheran masih 'ada mirip' Katolik; Calvinis/Reformed mengutamakan kotbah [sermon].
      Perbedaan utama Perjamuan Kudus Protestan dari Liturgi Missa:
      1. Tidak ada "Tubuh Mistik Kristus" dan tidak ada Trans-substansi setelah Konsekrasi : roti tetap roti, anggur tetap anggur
      2. Perjamuan Kudus pada banyak denominasi tidak dilakukan setiap  Minggu; tetapi setiap Minggu ada Kebaktian [Worship].
      3. Tidak ada ibadah lain [adorasi, devosi, dsb]
      4. Perjamuan Kudus hanya mengenang Perjamuan Terakhir
  2. Hukum Gerejawi
    Hukum Gerejawi atau Hukum Kanonik diawali sejak Gereja Perdana, kemudian ada penambahan2 atas prakarsa para Bapa Gereja dan hasil pada setiap Konsili; sehingga akhirnya dikompilasi menjadi Kitab Hukum Kanonik. Setelah terjadi Schisma [pemisahan Gereja], maka Hukum Kanonik berlaku khusus untuk suatu cabang Gereja [Katolik, Orthodox, Coptic] namun bersifat Universal. Gereja2 Protestan tidak mempunyai Hukum Gerejawi, karena setiap denominasi bersifat mandiri dan mempunyai aturan masing-masing.

Resume :
Dengan melihat keenam aspek di atas, dan mungkin ada aspek2 lain, maka dapat kita pahami mengapa Gereja2 Universal yang 'ortodox' dan hirarkis [Katolik, Ortodox, Coptic] lebih bisa mempertahankan 'kesamaan visi' [dogma/doktrin iman] dan kesatuan gereja; sementara gereja Anglican lebih bersifat spesifik khas Gereja Inggris dan mengapa denominasi2 baru dalam Protestan atau Pentekostal lebih mudah dilahirkan.

Bagi anggota ApiK yang mengetahui secara lebih mendetil, mohon kesediaannya untuk menambahkan dan mengkoreksi; agar para anggota dapat lebih mengenal dan memahami tentang Gereja Kristus dan isinya.

[artikel ini ditulis oleh Alm. Alex Johanes]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar