Mengasihi Sesama

Mengasihi Sesama
Ibu Theresa dari Calcuta

Kamis, 24 September 2020

Bab IV. Kebutuhan Akan Suksesi Apostolik

 IN TEOLOGI FUNDAMENTALTRADISI

1

Pengantar.

Tanpa Suksesi Apostolik yang senantiasa hidup, yaitu tanpa Magisterium yang hidup untuk memimpin Gereja, Iman tidak bisa bersifat universal atau satu.

Dalam agama Kristen, terdapat dua unsur yang tidak dapat ada tanpa membentuk sebuah otoritas yang hidup. Mereka adalah Universalitas dan Kesatuan Iman.

Universalitas Iman adalah penyajian Wahyu yang sama kepada semua manusia di segala zaman dan tempat seturut kecerdasan mereka. Hanya dalam cara inilah mereka semua dapat percaya tanpa keliru tentang apa yang sudah diwahyukan Allah.

Kesatuan Iman adalah keseragaman keyakinan dan pengakuan yang identik dalam setiap anggota Gereja, di Negro Afrika yang tergelap, dan juga di Pusat Kekristenan. Kecerdasan dari kebenaran Kristiani bisa saja tidak ada dalam kedalaman atau derajat yang sama dalam setiap individu, tapi ia haruslah secara implisit sama dalam semua umat beriman. Sang Rasul bersikeras tentang hal ini dalam Suratnya kepada jemaat di Efesus: “Satu Tuhan, satu Iman, satu Baptisan.”[1]

Sebagaimana hanya ada “Satu Tuhan dan Bapa bagi semua orang”, demikian pula hanya ada satu Iman, bukan iman-iman; satu tanpa perubahan, satu dalam keseluruhannya, satu di masa kini hingga akhir zaman.

Universalitas dan Kesatuan Iman begitu diperlukan di dalam Gereja Yesus Kristus sehingga tanpanya tidak akan ada satu Gereja, tapi Gereja-Gereja, sebagaimana yang dibuktikan dari sejarah Protestanisme dan perubahan kodrat manusia.

2

Sabda terakhir Gereja tentang kesatuan religius.

Ketika Kristus ingin menetapkan sesuatu yang besar dan hakiki dalam Gereja-Nya, pertama Ia menjanjikannya, lalu Ia memberikannya. Demikianlah penetapan Primat Petrus dan Gereja-Nya. Tapi Ia tidak hanya mendirikan Gereja. Itu bukan tugas yang terlampau sulit. Manusia juga telah mendirikan gereja-gereja. Jumlahnya sudah ratusan. Banyak yang tidak bertahan; banyak yang bertahan, dan yang lain akan mengikuti. Mereka semua didirikan di atas pasir kerapuhan manusia: karenanya mereka tidak bertahan lama. Allah hanya bisa membuat Gereja-Nya kekal, sebab Ia bersamanya “sampai kepada akhir zaman” dan karena Ia mendirikannya di atas batu karang. Batu karang itu adalah Petrus. “Engkau adalah Petrus (batu karang) dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan Gereja-Ku, dan alam maut tidak akan menguasainya.”[2] Menurut perkataan ini, Kristus tidak hanya mendirikan Gereja, tapi mendirikannya di atas batu karang. Batu karang itu begitu kuat, begitu besar, begitu tahan lama sehingga ia tidak bisa dihancurkan. “Alam maut tidak akan menguasainya.”

Dan apa yang Ia janjikan sebelum kematian-Nya, Ia berikan sesudah Kebangkitan-Nya. Ia memberitahu Petrus dan hanya kepada Petrus: “Gembalakanlah domba-dombaku”[3] – yaitu umat beriman – “gembalakanlah domba-dombaku”[4] – yaitu “ibu dari para domba” – maksudnya para imam dan uskup Gereja. Hanya kepada Petrus, Kristus juga berkata: “Kuatkanlah saudara-saudaramu.”[5]

Perkataan Tuhan kita Yesus Kristus di atas – walaupun singkat – mengandung seluruh sejarah Agama – masa lalu, masa kini, dan masa depan. Itu adalah sejarah penetapan institusi terbesar di bumi: Gereja Katolik – karya Allah, bukan karya manusia. Itu adalah sejarah perubahan yang tak terhitung jumlahnya dan sejarah ketidakbersyukuran manusia kepada Sang Pencipta. Tapi ia juga sejarah kemenangan-kemenangan di sepanjang zaman terhadap alam maut dan kesesatan. Batu karang yang di atasnya Kristus mendirikan Gereja-Nya akan dihantam di sepanjang masa oleh gelombang kekeliruan dan kebejatan manusia, tapi ia akan berdiri dengan mulia selamanya “sampai kepada akhir zaman.”

Setiap zaman menghasilkan kekeliruan khusus yang berlawanan dengan Gereja. Jadi, hari ini, di balik jubah kesatuan religius, kesesatan menuntut sebuah pintu masuk dari belakang ke dalam Gereja Katolik.

Paus Pius XI, yang memimpin dengan bahagia di Takhta Petrus, mengeluarkan Surat Ensiklik kepada semua Uskup di dunia, memperingatkan mereka tentang bahaya yang mendekat. Ia menulis: “Dalam kesadaran Jabatan Apostolik Kami untuk tidak membiarkan kawanan domba Tuhan disesatkan oleh kekeliruan, kami memanggil semangat Anda untuk mengusir kejahatan ini. Tidak ada yang lebih kudus bagi Bunda Gereja selain pemanggilan dan kepulangan anak-anaknya yang mengembara ke pangkuannya. Namun di balik kata-kata bujuk rayu (seruan non- Katolik untuk persatuan kembali dengan Gereja Katolik), tersembunyilah kekeliruan yang begitu besar sehingga akibatnya ialah penghancuran total fondasi Iman Katolik.”[6]

Ensiklik adalah dokumen gerejawi pertama yang penting bagi seluruh Kekristenan. Ia merupakan salah satu pertanda di jalan panjang kembalinya para bidat kepada Bunda Gereja. Ia sangatlah kuat sehingga tidak ada kompromi doktrinal yang mungkin. “Surga dan bumi akan berlalu”[7] tapi sikap Paus terhadap Kebenaran-Kebenaran Dogmatik tidak akan berlalu. Ia bertahan selamanya. Sebuah penyangkalan, pembalikkan, dan kompromi pada Kebenaran-Kebenaran Dogmatik yang dinyatakan Paus-Paus sebelumnya, atau oleh Paus saat ini, adalah akhir dari Gereja Katolik. Kemungkinan tersebut berlawanan dengan janji Kristus. “Alam maut tidak akan menguasainya.”

Bapa Suci, pertama, menetapkan apa yang non-Katolik minta darinya. Lalu ia memberikan alasan-alasan mengapa ia tidak bisa mengabulkan tuntutan-tuntutan mereka. Terakhir, ia mengundang mereka, sebagai seorang ayah yang baik, untuk kembali ke rumah bapa mereka.

Setelah menyatakan bahwa “Tidak semua yang mengaku diri sebagai orang Kristen saling bersepakat,” ia berkata: “Para pencipta rencana konfederasi semua Gereja Kristen percaya bahwa perkataan Kristus ‘satu kawanan dan satu gembala’ hanya mengungkapkan sebuah keinginan dan doa Kristus Yesus yang sejauh ini belum terjawab. Mereka berpendapat bahwa kesatuan iman dan pemerintahan, yang adalah tanda satu-satunya Gereja Kristus yang sejati, hampir tidak ada sampai saat ini dan tidak ada sekarang; ia dapat diinginkan dan barangkali di masa depan ia dapat diperoleh melalui kehendak baik secara umum, tapi sementara itu, hal ini harus dianggap sebagai khayalan. Terlebih, mereka berkata bahwa Gereja, melalui kodratnya, terbagi ke dalam bagian-bagian, bahwa ia terdiri dari banyak Gereja atau komunitas-komunitas khusus, yang terpisah di antara mereka, dan sekalipun mereka memiliki poin-poin ajaran tertentu secara umum, namun berbeda dalam yang lainnya; bahwa tiap gereja menikmati hak-hak yang sama, bahwa maksimal, Gereja adalah hanya dan satu-satunya Gereja di antara zaman Apostolik dan Konsili-Konsili Ekumenis Pertama … Ada beberapa orang di tengah mereka, yang berasumsi dan mengakui bahwa Protestanisme telah menolak tanpa pertimbangan artikel-artikel iman tertentu dan ritus-ritus ibadah lahiriah, yang secara penuh diterima dan berguna, dan yang masih dilestarikan Gereja Roma. Tapi mereka segera menambahkan bahwa Gereja telah merusak agama perdana dengan menambahkan kepadanya dan dengan mengajukan doktrin-doktrin tertentu untuk diimani yang tidak hanya asing baginya, tapi juga berlawanan dengan Injil, di antaranya, terutama, yang mereka ajukan, ialah tentang primat yurisdiksi yang diberikan kepada Petrus dan para penerusnya di Takhta Roma … Atas dasar syarat-syarat tersebut jelaslah bahwa Takhta Apostolik tidak bisa berpartisipasi dalam cara apapun di acara persatuan kembali tersebut, dan bahwa umat Katolik tidak bisa berpegang atau memberikan bantuan terhadap upaya-upaya tersebut. Apabila itu terjadi, maka ia akan memberikan otoritas kepada agama Kristen palsu, yang asing seutuhnya bagi Gereja Kristus yang tunggal. Bisakah kita mentolerir upaya lalim untuk menyeret kebenaran dan memang kebenaran yang diwahyukan secara ilahi, sampai pada tingkat yang bisa ditawar-menawar? Sebab perlindungan kebenaran yang diwahyukan itulah yang sedang dipertimbangkan.”

Ensiklik tersebut selanjutnya berkata bahwa apabila Yesus Kristus mengutus Roh Kudus atas Para Rasul agar mereka dapat diajarkan tentang semua kebenaran, “dapatkah ajaran Para Rasul ini menghilang atau digelapkan di dalam Gereja yang mana Allah sendiri adalah pemimpin dan penjaganya? Dan apabila Penebus Kita secara terbuka berkata bahwa Injil-Nya tidak hanya berkaitan dengan periode apostolik, tapi juga untuk semua generasi masa depan, bisakah bahwa konten iman akan menjadi, dengan berlalunya waktu, begitu kabur dan tidak pasti sehingga mengizinkan penerimaan pendapat-pendapat yang berlawanan dengannya hari ini? Apabila itu benar, maka seseorang harus berkata bahwa kedatangan Roh Kudus atas Para Rasul dan kekekalan Roh kudus di dalam Gereja, dan bahkan ajaran Yesus Kristus, selama ratusan tahun ini, telah kehilangan semua kemanjurannya dan kegunaannya. Untuk mengiakan hal ini sama dengan menghujat.”

Kemudian Bapa Suci memberikan contoh dalam cara yang mahir, tentang ketidakcocokan komunitas-komunitas Kristen yang berlandaskan penilaian pribadi dengan Gereja Katolik yang didirikan atas dasar otoritas. “Bagaimana bisa sebuah komunitas Kristen dianggap demikian, yang anggota-anggotanya, dalam perkara iman, dapat masing-masing mempertahankan cara berpikir dan menilai mereka, sekalipun itu bertentangan dengan keyakinan orang lain? Melalui persetujuan apakah orang-orang dengan pemikiran yang berlawanan itu dapat menjadi himpunan umat beriman yang satu dan sama? Bagaimana, misalnya, mereka dapat berkata, bahwa yang mengiakan Tradisi Suci adalah sumber wahyu ilahi, dan mereka yang menyangkalnya, dapat menjadi anggota Gereja ysang satu? Mereka yang menganut pandangan bahwa otoritas gerejawi yang terbentuk dari para uskup, imam dan pelayanan ditetapkan secara ilahi, dan mereka yang menyatakan bahwa sedikit demi sedikit ia telah diperkenalkan melalui kondisi-kondisi waktu dan peristiwa? Mereka yang menyembah Krisus yang sungguh hadir dalam Sakramen Mahakudus melalui perubahan mukjizat roti dan anggur yang disebut transubstansiasi, dan mereka yang berkata bahwa Tubuh Kristus hadir di sini hanya melalui tanda dan keutamaan Sakramen? Mereka yang berpandangan bahwa dalam Ekaristi terdapat kurban dan sakramen, dan mereka yang berkata bahwa Ekaristi hanyalah kenangan atau peringatan akan penderitaan Tuhan Kita? Mereka yang percaya bahwa baik dan berguna untuk berdoa kepada Orang Kudus, yang berkuasa bersama Kristus, dan terutama kepada Maria, Bunda Allah yang Perawan, dan menghormati gambaran-gambaran mereka, dan mereka yang berlagak bahwa bentuk penghormatan tersebut adalah kesalahan, sebab ia mengambil kehormatan yang seharusnya diberikan kepada Yesus Kristus, perantara Allah dan manusia?[8] Dalam perbedaan pendapat tersebut, kita tidak tahu bagaimana sebuah jalan dapat dibuat menuju kesatuan Gereja, kecuali melalui satu otoritas mengajar, satu hukum keyakinan, dan satu-satunya iman di antara orang Kristen.”

Kepada mereka yang mengklaim bahwa Gereja Yesus Kristus dibuat dari banyak cabang, ada cabang Katolik Roma, cabang Katolik-Anglikan, cabang Katolik-Yunani, dst, Bapa Suci menjawab: “Karena Tubuh Mistik Kristus, yaitu Gereja, adalah seperti tubuh secara fisik, yakni sebuah kesatuan[9], hal yang padu, disatukan dengan erat[10], maka akan keliru dan bodoh untuk berkata bahwa Tubuh Mistik Kristus dapat terdiri dari anggota-anggota yang terpisah dan terputus. Jadi, siapapun yang tidak satukan dengannya bukanlah anggotanya, ia juga tidak berkomunikasi dengan kepalanya, yang adalah Kristus.[11] Dalam Gereja Kristus yang satu, tidak seorang pun ditemukan dan tidak seorang pun bertekun kecuali ia mengakui dan menerima, dengan ketaatan, otoritas tertinggi St. Petrus dan para penerusnya yang sah. Bukankah para leluhur mereka, yang dibingungkan oleh kekeliruan Photius, dan para Protestan menaati Uskup Roma sebagai gembala utama jiwa-jiwa? Sayangnya, anak-anak mengabaikan rumah bapa mereka, tapi rumah tersebut tidak jatuh dan hancur bertanakan, sebab ia ditopang oleh pertolongan Allah yang tiada henti.”

Terakhir, Bapa Suci melakukan seruan yang menyentuh kepada semua non-Katolik untuk “kembali kepada bapa bersama semua umat manusia”; ia telah melupakan kesalahan-kesalahan yang tidak adil, yang dilakukan kepada Takhta Suci dan akan menerima mereka dengan penuh kasih. “Jika, sebagaimana mereka ulangi, mereka ingin disatukan kembali dengan Kami dan bersama menjadi Milik Kami, mengapa mereka tidak segera kembali ke Gereja ‘Bunda dan kekasih bagi semua pengikut Kristus’[12]” Hendaklah anak-anak yang terpisah ini kembali ke Takhta Apostolik, yang ditetapkan di Roma, yang mana Pangeran para Rasul, Petrus dan Paulus, mengkonsekrasikan darah mereka kepada Takhta ini, ‘akar dan rahim Gereja Katolik’[13] tidak dengan gagasan atau harapan bahwa ‘Gereja Allah yang hidup, pilar dan dasar kebenaran’[14] akan mengabaikan integritas iman dan memikul kekeliruan mereka, tapi untuk menundukkan mereka kepada otoritas mengajarnya dan aturannya. Semoga apa yang belum dikabulkan kepada para pendahulu kami, akan dikabulkan kepada Kami, untuk menerima dengan hati seorang ayah, anak-anak, yang atasnya Kami berduka, dalam perpisahan mereka dari kami melalui perselisihan jahat.”

Tidaklah perlu dikatakan tentang komentar-komentar yang berbeda dan tiada habisnya, kebencian mendalam, dan juga hinaan-hinaan kurang ajar yang keluar setelah penerbitan Surat Ensiklik ini. Hal ini patut disayangkan. Tapi sikap Bapa Suci, atas dasar Kitab Suci, adalah satu-satunya sikap yang mungkin. Semua manusia memiliki kewajiban untuk berada di dalam Gereja, dan Gereja Kristus yang sejati adalah Gereja Roma, Katolik, Apostolik. Hanya kepadanya janji-janji Ilahi telah dibuat. Janji-janji itu tidak dapat diubah. Bapa Suci, sebagai penjaga Wahyu, menganggapnya mustahil untuk memahami sebuah Gereja Kristen tempat setiap orang bebas mengimani apapun sebagaimana yang disukainya. Betapapun diinginkannya sebuah persatuan kembali atas semua gereja, tidak bisa ada penyerahan kebenaran-kebenaran yang diwahyukan. Tidak bisa ada kompromi, independensi, dan pemisahan dari batu karang, yang di atasnya Kristus membangun Gereja-Nya. Kesatuan Iman berasal hanya dari batu karang itu. Batu karang itu adalah Petrus dan para penerusnya yang sah.

3

Universalitas Iman tidak bisa dicapai melalui Kitab Suci saja.

Allah dalam kerahiman-Nya yang tak terhingga menghendaki agar semua manusia berbagi dalam buah Penebusan. Untuk alasan inilah Tuhan Ilahi kita menugaskan para imam pertama-Nya, Para Rasul, dan dalam pribadi mereka, semua penerus mereka dalam jabatan, untuk mengajar dan mewartakan Injil kepada semua umat manusia. “Ajarlah segala bangsa.”[15] “Beritakanlah Injil kepada segala makhluk.”[16]

Ketika Allah memerintahkan para utusan-Nya untuk membuat pesan-Nya diketahui, Ia bermaksud agar mereka menawarkannya sehingga manusia dapat percaya tanpa kekeliruan. Pada pengetahuan dan keyakinan tersebutlah bergantung keselamatan atau kebinasaan. “Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan, tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum.”[17]

Adapun wahyu bukanlah pengetahuan duniawi, ilmiah, atau filosofis, yang bebas diakui atau ditolak seseorang. Ia adalah pengetahuan dan keyakinan yang kepadanya bergantunglah kebahagiaan kekal. Jadi, pengetahuan dan keyakinan itu haruslah berlandaskan kebenaran absolut dan tanpa bahaya kekeliruan. Tapi bagaimana manusia bisa memperoleh kebenaran tanpa kekeliruan? Dengan membaca Kitab Suci, kata orang. Dan jika kita bertanya lagi pada mereka: Apakah semua kebenaran Allah terkandung dalam Kitab Suci? Ya, mereka akan bersikeras. Kita tidak seharusnya mempercayai apapun yang tidak terdapat dalam Kitab Suci: “Selidikilah Kitab Suci.”[18] Tapi apakah sekadar membaca Kitab Suci dapat menuntun kita pada pengetahuan Iman yang sejati? Secara  komparatif, tipografi adalah ciptaan modern, dan tidak semua orang bisa membaca atau menulis. Dalam lima belas abad pertama Kekristenan, berkat itu hanya dibatasi pada segelintir orang. Bahkan hari ini ada jutaan orang yang buta huruf. Bagaimana mereka bisa diselamatkan?

Anggaplah bahwa semua pria dan wanita dapat membaca, berapa banyak dari mereka yang memiliki waktu dan kesenggangan untuk membaca dan belajar? Bahkan apabila mereka memilikinya, bagaimana mereka bisa belajar dan menilai semua kebenaran Kristen tanpa guru-guru yang bertanggung jawab dan tanpa bahaya kekeliruan? Dan ketika mereka tidak sepakat tentang kebenaran-kebenaran paling hakiki dari agama Kristen, siapa yang mampu menyelesaikan kontroversi mereka dan menyelesaikannya tanpa kekeliruan sekali dan untuk selamanya? St. Agustinus berkomentar, “Apabila seseorang ingin belajar tentang perdagangan, tidak peduli betapa mudah dan sedikitnya, ia haruslah memiliki seorang empu dan guru. Apakah yang lebih arogan selain menolak untuk mengetahui buku-buku tentang Sakramen-Sakramen Ilahi dan para penafsir mereka dan mencela apa yang mereka tidak ketahui?[19]

Tapi beberapa orang akan mengklaim bahwa pengetahuan Iman sejati dicapai melalui pembacaan kitab Suci dengan ilham dan penjelasan batiniah dari Roh Kudus. Tidak ada apapun yang dapat membenarkan klaim tersebut. Pengalaman mengajarkan bahwa hal ini tunduk pada ilusi yang konyol.  Bagaimana bisa Roh Kudus menerangi pikiran umat beriman pada topik yang sama dalam arahan-arahan yang bertentangan? Dapatkah Roh Kebenaran memperlihatkan hal yang sama hitam kepada satu orang, dan putih kepada orang lain? Anggaplah bahwa semua kebenaran Allah ditemukan dalam Kitab Suci, dapatkah kita mengetahuinya dengan baik? Beberapa bagian Kitab Suci sangat sulit dimengerti, biarpun para Protestan dapat berkata yang sebaliknya.

Lalu, siapakah yang dapat menyelesaikannya bagi kita dan tanpa kekeliruan? Para pengkhotbah, atau mereka yang melakukan studi khusus tentang Agama? Lihatlah, bagaimana beberapa orang Kristen dengan buta menentang diri mereka. Mereka memisahkan diri dari Gereja dan menolak otoritasnya atas dasar Kitab Suci dan Kitab Suci adalah satu-satunya Pedoman Iman tanpa otoritas lain di luarnya. Penilaian pribadi, bagi mereka, adalah otoritas tertinggi dalam semua perkara Agama. Dan mereka masih dipaksa mengakui bahwa mereka membutuhkan bantuan para pengkhotbah atau orang lain, yang cakap dalam Kitab Suci. Tapi tidak pernah membutuhkan Gereja! Apa artinya? Tidak ada, kecuali bahwa kesalahan besar telah dilakukan di masa lalu. Satu jurang mengarah pada jurang lainnya. Seluruh bangsa memberontak terhadap suara hidup Gereja yang Infalibel hanya untuk berpaling kepada suara-suara hidup yang falibel. Apakah mengherankan bahwa bangsa-bangsa yang sama itu sekarang meninggalkan Kitab Suci, para pengkhotbah, dan Agama?

Gereja Katolik selalu mengajarkan tentang Kitab Suci. Ia menyelamatkannya dari kehancuran dalam kerusakan zaman dan menjelaskannya kepada umat. Ini adalah fakta dan bukan dugaan, bukan pula perebutan kuasa dari Gereja. Gereja mendasarkan otoritas mengajar dan mewartakannya pada perintah yang diberikan padanya oleh Kristus sendiri. Tanpa otoritasnya untuk mengajar dan mengarahkan, akan ada kekacauan total berkaitan dengan apa yang harus diketahui dan diimani manusia untuk diselamatkan.

Tidaklah cukup untuk “menyelidiki Kitab Suci” guna memperoleh pengetahuan Iman yang benar.

4

Universalitas Iman tidak bisa disebabkan melalui pewahyuan langsung atau pembuktian ilmiah, tapi hanya dengan otoritas Gereja yang hidup.

Teori bahwa Universalitas Iman dapat dicapai melalui Kitab Suci harus ditinggalkan. Tapi ada dua cara yang mungkin: pewahyuan langsung, dan pembuktian ilmiah.

Pewahyuan langsung diberikan kepada individu tunggal. Pembuktian ilmiah adalah cara yang mana seseorang dapat merasa yakin oleh argumen-argumen kebenaran-kebenaran agama Kristen.

Keduanya kekurangan generalitas atau universalitas. Mereka tidak dapat menjangkau sebagian besar umat beriman. Jadi, mereka tidak berguna bagi sebagian besar umat manusia.

Kita tidak menyangkal bahwa pewahyuan langsung bisa, dan telah diberikan Allah kepada jiwa-jiwa yang disukainya. Tapi kita secara empatik menyatakan bahwa hal-hal tersebut jarang terjadi. Kita bahkan siap untuk mengakui, bahwa, secara absolut, Allah dapat membuat pewahyuan langsung itu kepada setiap pria, wanita, dan anak-anak. Tapi kita tidak dapat menerima bahwa tatanan pewahyuan tersebut telah dijanjikan Allah. Ia juga tidak pernah ada dalam agama Kristen.

Pembuktian ilmiah harus meliputi tidak hanya kemungkinan dan fakta tentang Wahyu, tapi juga semua kebenaran, aturan, dan institusi Agama yang didirikan Kristus, juga makna yang benar dan infalibel dari Kitab Suci. Semua ini harus diperliahtkan kepada setiap pria dan wanita tidak melalui otoritas Gereja, tapi melalui akal budi manusia, persuasi, dan keyakinan. Inilah metode ilmiah. Tapi berapa banyak orang yang dapat memahami kebenaran melalui metode ilmiah ini? Berapa banyak orang yang dapat dijangkau dengan metode ini? Dan siapa yang dapat berpikir bahwa demikianlah halnya dengan mayoritas umat manusia? Semua manusia, menurut St. Agustinus, sampai tahap tertentu adalah “bodoh sebelum mereka menerima Iman.”[20]

Otorias manusia selau bersifat insani dan bisa salah (falibel). Lalu siapa yang bisa bergantung pada otoritas manusia dalam perkara Agama? Di manakah orang-orang terpelajar itu, yang, di bidang Wahyu, tapi tanpa kekudusan, telah mencapai puncak Ilmu Pengetahuan dengan begitu aman dan pada tingkat yang sedemikian rupa sehingga tak seorang pun meragukan ketulusan atau keputusan mereka? Kita tahu dengan baik, dari Sejarah dan pengalaman, bahwa dalam perkara-perkara abstrak, seraya mempertimbangkan hakikat dan kesulitan dari kebenaran-kebenaran Iman, orang-orang terpelajar – bahkan orang Kudus besar – telah tidak sependapat. Lalu bagaimana bisa orang-orang tidak terdidik dibujuk melalui pembuktian ilmiah untuk menerima secara buta kesimpulan-kesimpulan orang terpelajar? Sebagai aturan, semakin terpelajar seseorang, semakin mereka tidak sependapat di antara mereka sendiri. Dan hal itu juga terjadi terhadap persoalan-persoalan saat ini.

Kemudian, mengapa orang-orang terpelajar ini harus menggantikan otoritas Gereja, yang ditetapkan Kristus untuk mengajar dan mewartakan tentang perkara Iman? Bukankah ini alasannya mengapa banyak orang menolak otoritas Gereja? Mereka tidak menginginkan otoritas manusia apapun. Ini adalah kontradiksi yang menyedihkan. Tidak ada apapun untuknya selain otoritas yang infalibel. Otoritas ini tidak bisa membuat kesalahan dalam perkara Iman. Ia ditetapkan oleh Kristus sebagai guru resmi umat manusia hingga akhir zaman. “Ketahuilah bahwa Aku senantiasa menyertai kamu sampai kepada akhir zaman.”[21]

Tanpa otoritas dan arahan dari lembaga mengajar yang infalibel, Univesalitas Iman adalah kemustahilan.

5

Tanpa otoritas Gereja, tidak akan ada Kesatuan Iman.

Ada banyak alasan yang memperlihatkan keharusan adanya pengadilan otoritatif apabila perkataan Para Rasul “Satu Tuhan, satu Iman”[22] hendak diwujudkan di setiap zaman, dan sampai ke ujung dunia.

Kodrat manusia akan selalu sama. Manusia cenderung menjadi independen dalam pemikirannya, dan berusaha memaksakan gagasannya pada orang lain, sampai diperlihatkan secara jelas bahwa ia salah. Terkadang ia pun tidak berhenti setelah itu. Ia bersikeras dalam kekeliruannya dan melawan kebenaran yang diketahui, dan karenanya berdosa terhadap Roh Kudus.

Akan selalu ada skandal di dalam Gereja, tapi Kristus berkata, “Celakalah dunia dengan segala penyesatannya: memang penyesatan harus ada, tetapi celakalah orang yang mengadakannya.”[23] Kendati demikian, Allah mengizinkan kejahatan ini, agar iman kaum terpilih dapat dikuatkan. “Dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.”[24]

Hal ini benar khususnya di masa kita. Semua jenis literatur membanjiir dunia. Ada terlalu banyak orang yang menganggap diri mereka hakim bagi setiap orang dan segalanya. Guru-guru dari segala jenisnya menyebarkan wabah mereka di setiap sudut kota dna desa. Barangkali Gereja tua yang megah masih ada di sana, atau ia baru saja muncul. Pintu-pintunya terbuka. Tapi sebagian besar orang melewatinya dan pergi untuk mendengarkan mereka yang sesuai dengan hasrat dan kecenderungan mereka. Mode baru adalah tatanan hari ini. Angin dan kesombongan ditebar dalam hati mereka. Sangat sedikit yang tersisa dari kebenaran-kebenaran kekal dan kuno, yang diwartakan Kristus dan Para Rasul kepada dunia. “Karena akan datang waktunya, orang tidak dapat lagi menerima ajaran sehat, tetapi mereka akan mengumpulkan guru-guru menurut kehendaknya untuk memuaskan keinginan telinganya. Mereka akan memalingkan telinganya dari kebenaran dan membukanya bagi dongeng.”[25]

Jadi, Kekristenan terpecah dan terbelah. Kitab-kitab Pewahyuan dijadikan landasan zaman, yang di atasnya setiap orang Kristen diizinkan untuk menghantamnya sesuka mereka. Kebingungan dan suara yang memekakkan telinga didengar, ketika perdamaian yang seharusnya diumumkan “kepada semua orang berkehendak baik.” Bukankah seharusnya kondisi yang demikian membuka mata semua orang Kristen dan membuat mereka menyadari adanya kebutuhan akan pengadilan yang hidup, yang kepadanya Kristus telah mempercayakan hak dan kewajiban suci untuk menjaga Deposit Iman dengan segala upaya? “Beritakanlah firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya, nyatakanlah apa yang salah, tegorlah dan nasihatilah dengan segala kesabaran dan pengajaran.”[26]

Tapi dunia tidak menginginkan Kristus. Bangsa-bangsa dan masyarakat-masyarakat dipimpin oleh hukum mereka. Hakim yang hidup ditunjuk untuk menafsiran kitab hukum atau anggaran rumah tangga, dan keputusan mereka bersifat final dan mengikat. Perlakuan yang sama tidak diberikan kepada Gereja oleh anak-anak dunia yang sama itu. Apakah barangkali Kitab Suci adalah hukum yang dibuat manusia, sama-sama huruf mati dalam dirinya? Kitab Suci memang merupakan firman Allah. Tapi serentak ia membutuhkan penafsir yang hidup. Apabila hukum-hukum manusia yang dibuat oleh dan untuk manusia, membutuhkan penafsir yang otoritatif dan hidup demi penegakannya, bukankah terlebih lagi firman Allah membutuhkan penafsir untuk menjelaskannya tanpa kekeliruan dan melaksanakannya dengan otoritas?

Apabila Kitab Suci mudah dimengerti, mengapa Martin Luther dan para penirunya membuat katekismus ajaran Kristen yang baru? Mengapa mereka memenuhi perpustakaan dengan kitab-kitab penafsiran, penjelasan, dan komentar yang tak terhitung jumlahnya? Terutama, mengapa mereka memiliki Gereja apapun – tempat Kitab Suci dijelaskan – apabila Kitab Suci itu cukup? Dan apabila harus ada Gereja, mengapa ada begitu banyak gereja dan denominasi di setiap kota?

Jika terdapat pernyataan yang jelas dalam Kitab Suci, yang mana semua orang Kristen harus berupaya melaksanakannya, pastilah itu adalah keinginan yang Kristus ungkapkan dalam doa-Nya kepada Bapa yang Kekal pada malam Sengsara dan wafat-Nya, “supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita.”[27] Apakah artinya perkataan itu selain bahwa semua pengikut Kristus pertama harus memiliki iman yang sama? – “Satu Tuhan, satu Iman, satu Baptisan.”[28]

Tapi sayangnya, ada terlalu banyak kontroversi yang mengganggu dan memecah-belah Kekristenan. Bagaimana menyelesaikannya? Apabila harus ada hakim, dapatkah hakim itu adalah kitab Suci? Dapatkah Kitab Suci berbicara dan menjatuhkan keputusan dalam cara yang tidak dapat salah, sehingga para pengguat mengetahui siapa yang benar dan salah? Sungguh baik hikmat Romawi kuno yang diwartakan dua ribu tahun yang lalu: tak seorang pun adalah hakim dalam perkaranya sendiri. Jadi, bukan kepada Kitab Suci, tapi kepada Petrus dan para penerusnyalah Kristus berkata “kuatkanlah saudara-saudaramu.”[29] Tertullian menyatakan di Abad Kedua, bahwa “kontroversi-kontroversi religius tidak seharusnya dan tidak bisa diselesaikan hanya dengan Kitab Suci, sebab tidak hanya Rasul melarang perdebatan di antara orang Kristen tapi juga karena mereka tidak menghasilkan buah. “Hindarilah persoalan yang dicari-cari dan yang bodoh, persoalan silsilah, percekcokan dan pertengkaran mengenai hukum Taurat, karena semua itu tidak berguna dan sia-sia belaka” (Tit 3:9).”[30] Sang apologist besar itu melanjutkan, “Apa kebaikan yang akan dilakukannya, hai pakar Kitab Suci, apabila apa yang kamu bela akan disangkal; atau sebaliknya, apa yang akan kamu sangkal akan dibela? Pastinya kamu tidak akan kehilangan apa-apa selain suaramu dalam perbantahan; kamu tidak akan memperoleh apa-apa selain murka dari penistaan.”[31] Dan Ia tiba pada kesimpulan berikut yang tak dapat dijawab: “Kita tidak seharusnya berpaling, tidak pula menetapkan sebuah perkelahian, terhadap Kitab Suci, yang mana kemenangan bersifat tidak pasti atau tidak ada sama sekali” tapi “tatanan hal-hal mensyaratkan agar diajukan pertama kali, apa yang sekarang hanya diperdebatkan, yang kepadanya Iman menjadi bagiannya, yang miliknya ialah kitab Suci. Oleh siapa, dan melalui siapa, dan kapan, dan kepada siapa otoritas untuk mengajar diserahkan, yang melaluinya manusia dijadikan orang Kristen. Sebab, di mana diperlihatkan ajaran dan displin Kristen yang sejati, di sana juga akan terdapat kebenaran Kitab Suci dan penafsirannya dan semua Tradisi Kristen.”[32]

Pengadilan infalibel yang hidup, karenanya, merupakan hal yang hakiki dan diperlukan untuk tidak hanya menjaga keutuhan Deposit Iman dan mengajukannya tanpa kekeliruan, tapi juga untuk menjaga di mana saja dan di segala waktu Kesatuan Iman, yang begitu hakiki bagi Agama yang didirikan Kristus.

6

Universalitas dan Kesatuan Iman telah dihilangkan oleh semua denominasi Protestan tertua.

Semua yang sudah kita katakan ditegaskan secara penuh oleh Sejarah Protestanisme. Setelah menolak otoritas Gereja, mereka yang disebut Para Pembaharu pertama menggantikannya dengan penilaian pribadi umat beriman. Penilaian pribadi mengambil tempat semua otoritas Gereja. Mereka berkata, setiap manusia yang mendengar atau membaca Kitab Suci, akan diterangi dan diilhami Roh Kudus sedemikian rupa sehingga Kitab Suci menjadi jelas baginya, dan jiwa dipenuhi dengan ilham dan kehendak baik. Iluminasi dan ilham itu membuat otoritas dari luar menjadi tidak berguna dan tidak bermanfaat. Tiap orang cukup untuk dirinya. Jadi Universalitas dan Kesatuan Iman, dari keharusannya, harus menjadi konsekuensinya, sebab Roh Kudus, Roh Kebenaran, adalah satu dan tidak dapat menentang Diri-Nya.

Memang ini teori yang indah, tapi tidak ditopang oleh fakta-fakta. Apabila penyair pagan Horace mencoba teori itu, sebagaimana ia telah lebih dari sekali mencicipi anggur Roma yang kuno, ia akan sekali lagi berseru: “Gunung yang berjerih payah menghasilkan tikus yang konyol (artinya: upaya yang besar malah memberikan hasil yang kecil).”

Teori ini tidak lebih dari ilusi dan tipu muslihat. Pertama, apabila Roh Kudus menerangi dan mengilhami dalam cara yang sama setiap orang yang membaca atau mendangar Kitab Suci, maka hanya ada satu Gereja Kristen, dan bahwa Gereja itu tidak bisa selain Gereja Katolik. Ia adalah yang pertama yang keuar dari tangan Putra Allah. Hanya bersamanya Roh Kudus berjanji untuk tinggal selamanya.

Anggaplah, demi argumen itu, bahwa Gereja Katolik harus dikecualikan dari iluminasi dan ilham Roh Kudus, maka seharusnya hanya ada satu Gereja Protestan besar. Sebab, prinsip Protestan itu sama, yaitu, bahwa setiap orang, yang membaca atau mendangar Kitab Suci diterangi dan diilhami oleh Roh Kudus. Iluminasi dan ilham itu haruslah memiliki kesimpulan yang sama dalam setiap orang. Roh yang samalah yang menerangi dan mengilhami tiap orang. Kendati demikian, prinsip ini, bukannya menghasilkan ikatan persatuan, namun terbukti sebagai parang yang menyeramkan, yang memecah Protestanisme dalam perpecahan dan perpisahan. Setiap Protestan dapat menjadi Gereja dalam dirinya dan bagi dirinya.

Bukannya mendirikan satu Agama yang dapat menerima penghormatan dari dunia, iluminasi dan ilham itu telah menciptakan banyak sekte protestan yang kita hampir tak dapat tentukan jumlahnya secara tepat. Sejarah Protestanisme tidak lain adalah sejarah variasi, sebagaimana disebut Fenelon. Bahkan para Pembaharu pertama juga tidak sependapat di antara mereka. Apakah mengherankan bila para pengikut mereka membinasakan banyak hal selama bertahun-tahun dengan pedang dan api di sebagian besar wilayah Jerman, Swiss, Perancis, Skotlandia, dan Inggris? Banyak dari mereka melarikan diri dari penganiayaan dan kematian dengan menetap di Amerika.

Lantaran menyadari kekeliruan prinsip ini, Luther sendiri seraya menulis kepada Zwingli, menyatakan: “Apabila dunia masih bertahan lebih lama, oleh karena perbedaan penafsiran Kitab Suci yang sekarang ada, guna menjaga Kesatuan Iman, maka akan perlu lagilah untuk menerima dekrit-dekrit Konsiil dan berpaling kepadanya.”[33]

Protestan yang berpikiran adil wajib mengakui adanya dua Luther, yang pertama sebelum tahun 1525 atau sebelum pemberontakan besar di Jerman; yang lain sesudah tahun 1525. Luther pertama, dengan memisahkan diri dari otoritas Gereja, memberitahu banyak orang bahwa setiap orang Kristen “diajar oleh Allah.”[34] Luther kedua, yang melihat perpecahan besar, yang mulai tersebar di dalam barisannya sendiri, guna menjaga suatu kesatuan dan koherensi di antara para pengikutnya, menyatakan bahwa “lembaga mengajar gerejawi, setelah ditetapkan Allah, memiliki, dari sumbernya, Kristus sendiri dan juga mandat dan institusi-Nya.”[35]

Soerang Protesan bernama Schwarts menulis, “Luther pertama, dengan keberanian yang menghasut, berseru pada hati nurani umat yang bertentangan dengan hirarki gerejawi (yaitu otoritas Gereja); Luther kedua bimbang secara gugup di antara kebebasan roh yang tak terbatas dan otoritas keras dari pelayanan mengajar yang otentik.”[36] Jadi, Martin Luther yang samalah, kepala pemberontakan terhadap otoritas Roma, dia, yang di awal pemberontakannya, mengklaim “diajar oleh Allah”, diterangi dan dilhami Roh Kudus, memberikan penilaian yang berbeda di waktu berbeda tentang kebenaran-kebenaran yang diwahyukan, seakan-akan Roh Kudus sendiri dapat menjungkirbalikkan diri-Nya untuk menyesuaikan dengan Luther dan intrik-intrik politiknya.

Mayoritas denominasi Protestan sesudahnya menyatakan bahwa Kesatuan Iman – konsekuensinya, Universalitas Iman juga – tidaklah diperlukan. Pengakuan tersebut, walaupun salah, jauh lebih selaras dengan prinsip penilaian pribadi.

7

Universalitas dan Kesatuan Iman tidak ada pada denominasi Protestan hari ini.

Apabila Universalitas dan Kesatuan Iman tidak dapat ditemukan dalam denominasi-denominasi Protestan yang lebih tua, maka Protestanisme hari ini juga tidak lebih baik darinya.

Semua denominasi Protestan hari ini, walaupun masing-masing berbeda dari yang lain, dapat tergolong secara luas ke dalam dua kelompok: mereka yang mempertahankan prinsip hakiki dari penilaian pribadi; dan mereka yang, setelah melihat konsekuensi buruk dari penilaian pribadi, telah menetapkan otoritas.

Yang termasuk kelompok pertama adalah mereka semua yang melaksanakan prinsip penilaian pribadi sampai ujungnya yang paling jauh. Mereka adalah protestan asli dan jumlahnya jauh lebih banyak, khususnya di antara kelompok-kelompok cerdas. Secara praktis mereka menyangkal bahwa Kitab Suci adalah sungguh satu-satunya Pedoman Iman. Sebaliknya mereka menegaskan bahwa seseorang secara sempurna bebas mengikuti Kitab Suci, atau hanya sebagian darinya, seturut pandangannya dan selalu dalam cara ia memahaminya sebagai hal yang benar.

Mereka adalah kaum Rasionalis, yang, secara ketat, adalah Kristen KTP. Sebab, sebagaimana seorang Ateis bernama Harmann berkomentar: “Para Pembaharu tidak menyadari bahwa iman mereka, yang melaluinya mereka percaya dalam kanonisitas infalibel dari Kitab Suci, berlandaskan sepenuhnya pada iman, yang mengajarkan kesaksian tentang Gereja dan Tradisi Gerejawi yang infalibel. Dengan menentang infalibilitas Gereja dan Tradisi, mereka menghancurkan fondasi itu sendiri. Dasar dari bangunan hirarkis yang kuat, sekalinya rusak, maka secara bertahap kehancuran seluruh bangunan akan mengikutinya.”[37]

Karenanya prinsip penilaian pribadi secara perlahan tapi pasti mempersiapkan jalan menuju ketidakpercayaan. Ia adalah Bapa dari Ateisme. Dengan kelompok kaum Protestan ini terhubunglah mereka semua, yang percaya bahwa, untuk menjadi Kristen cukuplah untuk mengakui iman tertentu dalam Kristus, sebagai Penyelamat, atau, iman umum tertentu dalam Kristus dan Kitab Suci, sebagai sebuah kesaksian publik yang pasti akan agama Kristen. Banyak orang tidak percaya pada kelahiran Kristus secara perawan, dan masih mereka percaya bahwa mereka adalah Presbiterian yang baik, Episkopalian yang baik, Methodis yang baik, Kongregasionalis yang baik. Mereka telah menetapkan Kredo mereka sendiri dan merevisinya secara berkala. Tapi para tua-tua dan Uskup mereka tidak berani, dan jarang, mengadili para pengkhotbah mereka yang dituduh karena kesesatannya. Orang-orang ini tahu dengan amat baik bahwa guru-guru tersebut memiliki simpati sebagian besar dari saudara-saudaranya. Apabila sebuah tindakan harus dilakukan, maka denominasi akan terganggu dan karenanya denominasi lain akan muncul. Merupakan sebuah fakta bahwa sebagian besar jumlah Protestan, di antara mereka para pewarta dan uskup, secara praktis tidak percaya dalam dogma apapun.

Kini mereka dibedakan sebagai Modernis dan Fundamentalis. Modernis mengikuti arahan penilaian pribadi mereka yang diterangi, sebagaimana yang mereka klaim, dan yang diilhami Roh Kudus. Fundamentalis percaya pada dan terikat oleh “Kredo” mereka yang berlandaskan Kitab Suci.

Semua denominasi Protestan dari para Pembaharu sampai hari ini berusaha membenarkan perpisahan mereka dengan Gereja Katolik dengan alasan otoritas. Karenanya mereka menggantikannya dengan penilaian pribadi umat beriman. Bila demikian halnya, maka prinsip Modernis Protestan, biarpun salah, tetap lebih konsisten dengan prinsip Protestan akan penilaian pribadi, sebab, sebagaimana mereka katakan, “tidak ada orang Kristen yang wajib terikat oleh otoritas insani apapun dalam perkara iman.” Kaum Fundamentalis, selagi mereka terlihat benar, sebab mereka menjunjung Kitab Suci dan otoritas, namun mereka secara terbuka menentang diri mereka sendiri, karena “Kredo” mereka dibuat oleh pelayanan mereka, oleh otoritas insani yang dibentuk sendiri. Bukankah karena otoritas mereka memisahkan diri dari Gereja Roma? Siapa yang memberikan mereka otoritas untuk memaksakan otoritas pada orang lain?

Yang termasuk pada kelompok kedua, sebagaimana dijelaskan di atas, ialah mereka semua yang lebih memilih kesatuan iman daripada penilaian pribadi, yang menginginkan otoritas gerejawi ditetapkan dengan kuat di atas umat beriman dan ditaati oleh semua. Kepada kelas ini, secara ketat, termasuklah kaum Fundamentalis, sebagaimana yang sudah kita lihat, tapi khususnya kaum Lutheran dari iman yang lama, dan Lutheran Reformed atau Evangelikal. Lutheran lama mengikuti otoritas para Pembaharu pertama bersama dengan Kitab-Kitab Simbolis dan Tradisi-Tradisi itu, yang dalam cara ini menyusup ke dalam sejak Abad Keenam Belas.

Ketika kaum Lutheran lama membela diri mereka dari indiferentisme dan rasionalisme, atau, independensi yang berlebihan dalam perkara iman, mereka menyangkal bahwa haruslah ada dalam perkara iman prinsip independensi apapun, melainkan yang harus ada adalah prinsip otoritas. Tapi mereka lupa bahwa melalui prinsip independensi yang sama itulah mereka lahir sebagai lembaga religius, yang memisahkan diri dari Gereja Roma. Serentak, ketika mereka bersikeras pada prinsip otoritas, mereka mengabaikan fakta bahwa mereka adalah yang pertama yang menolak otoritas dengan menolak otoritas Gereja Katolik. Untuk Tradisi Ilahi Gereja Katolik, yaitu, Suksesi Apostolik, mereka menggantikannya dengan tradisi lain, yang mana asal-usulnya adalah negasi dari prinsip Tradisi yang sama.

Kaum Lutheran Reformed tidak mengakui otoritas para Pembaharu pertama. Mereka menyetujui dan membela otoritas Gereja mereka. Mereka berkata bahwa otoritas itu diberikan padanya oleh Kristus dan Para Rasul. Tapi dalam hembusan yang sama mereka menyetujui pemberontakan Abad Keenam Belas. Mereka mengakui bahwa haruslah ada otoritas di dalam Gereja, tapi, sebagaimana otoritas tidak sungguh ada di Gereja di masa Reformasi religius besar, jadi, mereka berkata, ia datang pada mereka melalui kemurtadan mereka dari Gereja Katolik.

Lihatlah kontradiksi yang satu terhadap yang lain! Tidaklah mengherankan bahwa banyak Protestan, yang tidak termasuk ke dalam Lutheran yang lama, atau kepada Lutheran Reformed, telah banyak kali menyatakan bahwa “mereka lebih memilih mengikuti Tradisi yang lebih suci dan Imam yang lebih Rohani dari Gereja Katolik, daripada loh-loh batu itu, yang tidak berasal dari Gunung Sinai.”[38] Seorang Protestan bernama D. Shenkel menulis kepada Protestan lainnya, D. Stahl, yang berkata: “Jika aku harus mengakui otoritas apapun di dalam Gereja, logika itu sendiri meyakinkan aku untuk berpaling kepada Gereja Katolik.”[39]

Argumen yang sama dapat digunakan terhadap “Episkopalian Tinggi”, Latter Day Saints, Adventists, dan yang lainnya.

Oleh karena itu, semua denominasi, yang pada awal pemberontakan mereka, mereka menolak otoritas Gereja Katolik, mereka memisahkan diri dari pohon kehidupan. Mereka menjadi ranting-ranting mati. Sebab, dengan menolak otoritas Gereja Katolik, mereka memutus hubungan mereka dengan Petrus, yang kepadanya Kristus berkata, “Gembalakanlah domba-dombaku, gembalakanlah domba-dombaku.” Dan ketika mereka melihat konsekuensi mematikan dari pemberontakan mereka dan memutuskan bahwa mereka harus dipimpin oleh suatu otoritas, bukan oleh otoritas Gereja Katolik, tapi oleh otoritas yang ditetapkan mereka sendiri, mereka menjadi bersalah atas kejahatan terbesar dalam sejarah Kekristenan. Mereka tidak memiliki hak untuk menempatkan tradisi-tradisi mereka, tidak pula otoritas mereka, guna menggantikan Tradisi dan otoritas Gereja Katolik. Hanya kepada Para Rasul dan para penerus jabatan mereka Kristus berkata: “Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu.”[40]

8

Penerus Para Rasul adalah para penjaga yang infalibel dari Deposit Iman.

Ketika Tuhan kita memberikan perintah kepada Para Rasul untuk pergi dan mengajar semua bangsa, Ia juga menyertai perintah-Nya dengan kata-kata yang menghibur dan membesarkan hati: “Ketahuilah Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.”[41] Selama Para Rasul mengajarkan semua bangsa, yaitu semua manusia di segala zaman dan tempat “untuk melakukan segala sesuatu”, Ia juga menyertai mereka sampai kepada akhir zaman. Kristus akan membimbing, melindungi, dan membantu Gereja selamanya agar ia dapat hidup dan berkembang dan mengajarkan hanya kebenaran. Karenanya, seturut perintah Kristus, di satu sisi, kita memiliki Para Rasul, yang harus mengajarkan seluruh dunia – semua generasi di setiap tempat, agar mereka dapat “melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu”[42]; di sisi lain, kita memiliki jaminan dari Tuhan Yesus Kristus bahwa Ia akan menyertai mereka selamanya – mewartakan bersama mereka, mengajar bersama mereka, memimpin Gereja Allah bersama mereka. Inilah kehendak Allah: agar semua manusia dapat diselamatkan. Sebagaimana Putra Allah telah menebus semua orang, bahkan manusia terakhir, yang akan dilahirkan dari seorang wanita, “semua kebenaran’ yang menjadi milik keselamatan abadi manusia, haruslah diajarkan, kepada semua generasi oleh Para Rasul di setiap bagian dunia. Kendati demikian, hal ini tidak mungkin bisa dilakukan sendiri oleh Para Rasul. Sama seperti makhluk fana lainnya, mereka akan mati. Karya ini mereka lakukan di sepanjang zaman, mereka lakukan sekarang, dan akan mereka lakukan “sampai kepada akhir zaman,” melalui para penerus jabatan mereka. Jadi, perintah yang diberikan kepada Para Rasul untuk “mengajar semua bangsa” … “ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang Kuperintahkan kepadamu”, mengikat tidak hanya Kolegium Para Rasul, tapi juga para penerus jabatan mereka, sebab, perintah Kristus adalah perintah biasa. Ia tidak berkenaan hanya dengan pribadi para Rasul, tapi Para Rasul sebagai guru, yaitu, lembaga Gereja yang mengajar, yang akan bertahan selama ada jiwa-jiwa untuk diselamatkan.

Apabila jabatan dan kewajiban agung Para Rasul adalah untuk menyebarluaskan “semua kebenaran” kepada semua bangsa, tanpa merusak, atau menambahkannya, maka kewajiban para penerus mereka konsekuensinya ialah melindungi dari kerusakan semua kebenaran yang disebarluaskan Para Rasul ke dunia. Mereka harus menjaga keutuhan Deposit Iman yang dipercayakan pada mereka, tanpa mutilasi, kerusakan, atau penambahan. Karenanya Sang Rasul menulis: “Peganglah segala sesuatu yang telah engkau dengar dari padaku sebagai contoh ajaran yang sehat dan lakukanlah itu dalam iman dan kasih dalam Kristus Yesus” dan “Peliharalah harta yang indah, yang telah dipercayakan-Nya kepada kita, oleh Roh Kudus yang diam di dalam kita.”[43] “Apa yang telah engkau dengar dari padaku di depan banyak saksi, percayakanlah itu kepada orang-orang yang dapat dipercayai, yang juga cakap mengajar orang lain.”[44] “Tetapi hendaklah engkau tetap berpegang pada kebenaran yang telah engkau terima dan engkau yakini, dengan selalu mengingat orang yang telah mengajarkannya kepadamu.”[45] Dengan cara yang sama, umat beriman juga diperintahkan, dengan konsekuensi ekskomunikasi, untuk tidak menerima Injil lainnya selain yang telah mereka terima dan diwartakan kepada mereka.[46] “Tetaplah berjuang untuk mempertahankan iman yang telah disampaikan kepada orang-orang kudus”[47] dan “Hendaklah kamu bertambah teguh dalam iman yang telah diajarkan kepadamu … Hati-hatilah, supaya jangan ada yang menawan kamu dengan filsafatnya yang kosong dan palsu menurut ajaran turun-temurun dan roh-roh dunia, tetapi tidak menurut Kristus.”[48]

Jadi, para penerus Para Rasul adalah para penjaga Deposit Iman. Hanya mereka. Umat beriman harus sekadar menerima dari mereka Deposit Iman dan ajaran-ajaran yang terkandung di dalamnya. Apakah artinya ini selain bahwa para penerus Para Rasul adalah satu-satunya penjaga Deposit Iman yang infalibel?

Kita juga mengetahui, sebagaiman dibuktikan pada bagian lain karya ini, bagaimana para penerus Para Rasul di sepanjang zaman, menaati peringatan apostolik yang disebutkan di atas. Hal ini hanya dapat dicapai mereka sebab Kristus ada bersama Gereja “sampai kepada akhir zaman’ dan karena Ia “penuh kasih karunia dan kebenaran.”[49]

9

Mereka, yang ditugaskan dengan penjagaan infalibel akan Deposit Iman, juga merupakan gurunya yang infalibel.

Merupakan sebuah fakta bahwa orang-orang cerdas tidak selalu setuju bahkan tentang hal-hal mendasar yang menjadi bagian dunia ini. Jadi, tidaklah mengherankan, bahwa beberapa manusia tertentu, yang dalam dukacita dilahirkan oleh ibu duniawi mereka ke dunia ini, menyebabkan kesedihan besar bagi ibu rohani mereka, yakni Gereja. Mereka tampak menjalani hidup dalam perdebatan yang tiada henti, dalam pertengkaran dan diskusi, yang dipertahankan terlalu lama oleh kesombongan dan dipanaskan oleh ilham iblis. Mereka tidak atau tidak bisa memahami kebenaran-kebenaran agama yang mendalam dan sukar dimengerti.

Ketika kita mengamati kontroversi-kontroversi yang kerap muncul di antara para anggota Gereja; ketika kita merenungkan tentang kekejian dari penghancuran begitu banyak Gereja-Gereja Nasional; ketika kita merenungkan bahwa Gereja telah banyak menderita karena pemberontakan anak-anaknya, kita pasti melihat keharusan akan perlunya Tradisi Ilahi.

Merupakan sebuah kesalahan untuk mempertimbangkan gagasan tentang “Tradisi” sebagai hal yang terdiri dalam percakapan tentang jumlah tertentu dari rumusan-rumusan Iman. Itu dapat menjadi obyek – obyek material – dari hal-hal yang diimani. Prinsip hakiki dari Tradisi Ilahi ialah penjagaan makna sejati dan pengertian sejati dari Deposit Iman secara abadi dan infalibel oleh Suksesi Apostolik yang hidup. Kita tidak boleh pernah kehilangan hal yang paling penting ini.

Apabila kontroversi-kontroversi muncul di masa lalu dan masih berlanjut di masa kini, kita boleh jadi yakin bahwa beberapa di antara mereka akan bertahan dan lainnya akan muncul di masa depan. Lantas apakah yang dapat menyelesaikan persoalan religius ini secara definitif? Bukan obyek material Tradisi, yaitu huruf mati, tetapi Roh; bukan Kitab Suci, tapi suara hidup dari mereka yang “ditetapkan Roh Kudus menjadi penilik untuk menggembalakan jemaat Allah.”[50]

Merupakan hal yang paling hakiki agar makna ajaran yang benar dan juga integritas Deposit Iman dijaga di dalam Gereja. Sebab, apabila berguna bahwa apa yang secara implisit terkandung dalam kebenaran-kebenaran lain yang diwahyukan hendak dinyatakan secara eksplisit, maka bijaksanalah bila apa yang meragukan, atau ambigu, dijelaskan dan diselesaikan secara otoritatif. Terlebih, perlulah bahwa apa yang sifatnya melukai, jahat dan menghancurkan bagi Iman ditolak. Tapi, semua ini tidak bisa dicapai kecuali para penjaga Iman bukan hanya terpelajar dan suci, tapi juga infalibel. Apabila Iman harus dijaga keutuhannya, keseluruhan dan kemurniannya, maka perlulah agar para penjaga – para penjaga Deposit Iman yang infalibel – juga merupakan para guru dan pembelanya yang infalibel.

Sebab, kita tidak dapat memahami perlindungan infalibel akan materi Deposit Iman tanpa ia juga infalibel dalam pernyataannya, penjelasannya, dan pembelannya. Jelas, penjagaan yang infalibel melibatkan dan mengandung jabatan ganda. Jabatan-jabatan ini dapat dibedakan tapi tidak dapat dipisahkan: mereka harus berjalan berdampingan.

Perkataan Para Rasul: “Dan Ialah yang memberikan baik rasul-rasul maupun nabi-nabi, baik pemberita-pemberita Injil maupun gembala-gembala dan pengajar-pengajar”[51] dengan jelas membedakan dan memisahkan pribadi-pribadi yang memiliki kewajiban yang berbeda unuk dilakukan, yaitu Para Rasul ata para nabi, dst; tapi ketika Sang Rasul menunjuk orang yang sama dengan gelar yang berbeda melalui kata hubung dan, yaitu para gembala dan pengajar, ia dengan jelas menandakan bahwa pribadi-pribadi yang sama memiliki kewajiban ganda sebagai gembala dan pengajar.

Kesatuan tugas gembala dan mengajar dalam pribadi yang sama ini, menurut Sang Rasul, ditegaskan oleh ajaran Bapa Gereja. Karenanya St. Agustinus berkata: “Para gembala dan pengajar, yang mana kalian ingin agar aku membedakannya, aku percaya, mereka adalah pribadi yang sama, yang sudah kamu pikirkan sendiri, yaitu, bahwa kita tidak seharusnya berpikir bahwa beberapa orang adalah gembala dan beberapa orang lainnya adalah pengajar; tapi, setelah pertama kali menyebutkan gembala, Sang Rasul menambahkan pengajar, agar para gembala dapat memahami bahwa mengajar termasuk ke dalam jabatan mereka. Sebab, ia tidak berkata beberapa orang adalah gembala dan beberapa yang lain adalah pengajar, dengan cara yang sama seperti di atas, ketika Kristus berkata Ia memberikan beberapa Rasul, dan beberapa nabi, dan beberapa penginjil; tapi Ia meliputi dan menetapkan dua nama sebagai sebuah kesatuan:” maupun gembala-gembala dan pengajar-pengajar.[52]

Demikian halnya pernyataan St. Hieronimus: “Dari yang dikatakan Sang Rasul tentang tiga jabatan yang disebutkan di atas, yaitu, beberapa adalah Rasul, yang lainnya nabi dan lainnya lagi pemberita Injil, tidak seharusnya dipahami bahwa harus ada perbedaan jabatan juga bagi para gembala dan pengajar. Sebab, ia tidak berkata beberapa adalah gembala dan yang lainnya adalah pengajar, tapi yang lainnya adalah gembala dan pengajar, supaya berarti bahwa ia yang adalah seorang gembala juga haruslah seorang pengajar.”[53]

Hal ini sungguh benar, bahwa Sang Rasul yang sama, yang menulis kepada Timotius, menyatukan bersama-sama kewajiban sebagai gembala dengan kewajiban untuk mengajar, yaitu, kewajiban untuk menjaga apapun yang dipercayakan dan diteruskan kepadanya dengan kewajiban mengajar. Sesudah ia memperingatkannya: “Tetapi hendaklah engkau tetap berpegang pada kebenaran yang telah engkau terima dan engkau yakini, dengan selalu mengingat orang yang telah mengajarkannya kepadamu”[54] – inilah kewajiban gembala – ia menganjurkan kepadanya Kitab Suci sebagai sarana keselamatan bagi dirinya[55], dan sebagai sarana untuk mengajar orang lain, “Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran”[56] – inilah kewajiban untuk mengajar.

Terlebih, sebagaimana Sang Rasul memerintahkan Timotius untuk mengajarkan ajaran yang benar, “Hai Timotius, peliharalah apa yang telah dipercayakan kepadamu. Hindarilah omongan yang kosong dan yang tidak suci dan pertentangan-pertentangan yang berasal dari apa yang disebut pengetahuan”[57] ia juga memerintahkan dia untuk menjaga Deposit Iman: “Peganglah segala sesuatu yang telah engkau dengar dari padaku sebagai contoh ajaran yang sehat … Peliharalah harta yang indah, yang telah dipercayakan-Nya kepada kita, oleh Roh Kudus yang diam di dalam kita.”[58]

Dengan kata lain, Sang Rasul menginginkan Timotius – dan dalam pribadi Timotius, semua Uskup Gereja – untuk mengajarkan ajaran Kristus, karena kepada merekalah Allah telah mempercayakan penjagaan Deposit Iman.

Jadi, dua jabatan sebagai gembala dan pengajar dapat dibedakan, tapi tidak dipisahkan dalam pribadi yang sama. “Gembala” juga adalah “pengajar.” Ia adalah gembala “yang memelihara harta yang indah, yang telah dipercayakan-Nya kepadamu, oleh Roh Kudus”; ia adalah pengajar “yang berpegang pada kebenaran yang telah engkau terima dan engkau yakini dariku dalam iman.” Terdapat persatuan, persatuan personal, dalam jabatan ganda sebagai gembala dan pengajar: yang satu tidak bisa sungguh dimengerti secara sah atau dilaksanakan tanpa yang lain.

Oleh karena itu, apabila, sebagaimana yang telah kita buktikan, para gembala Gereja itu infalibel dalam menjaga Deposit Iman, bukankah betapa mereka juga seharusnya infalibel dalam ajarannya? Sebab, prinsip yang sama, yang menganugerahkan infalibilitas untuk penjagaan secara integral Deposit Iman, juga menganugerahkan infalibilitas dalam ajarannya.

Apapun yang membuktikan perlindungan Kristus dan bantuan Roh Kudus, yang dijanjikan Kristus sendiri kepada para gembala Gereja, serentak membuktikan bahwa perlindungan yang sama, dan bantuan Roh kudus adalah penyebab efisien, yang melaluinya para gembala yang sama juga infalibel dalam penjelasannya, pernyataan dan pembelaannya. Sebab bukan untuk alasan lainnlah para gembala itu infalibel dalam menjaga Deposit Iman, selain untuk memberikan maknanya yang benar kepada umat. Kebaikan apa yang dapat diberikan kepada Gereja dari infalibiltas dalam menjaga Deposit Iman, apabila para gembala yang sama, yang bertugas untuk menjaga seacra infalibel, dapat keliru dalam ajarannya?

Karenanya, Bapa Gereja, dalam menjelaskan perlindungan yang dijanjikan Kristus[59] dan bantuan yang dijanjikan Roh Kudus[60], yang melaluinya mereka membuktikan infalibilitas para gembala Gereja dalam menjaga Deposit Iman, membuktikan pula infalibilitas para gembala yang sama dalam pengajarannya.

Kardinal Franzelin menulis: “Alasan mengapa merupakan kesesatan untuk menolak makna Kitab Suci, yang diberikan oleh persetujuan umum Gereja, menurut Irenaeus, berasal ‘dari charismata Tuhan, yang melaluinya mereka semua, yang melalui suksesi Gereja dari Para Rasul, menjelaskan Kitab Suci pada kita tanpa kesalahan.’[61]” Penyebab efisien yang melaluinya ‘studi yang paling tekun tidak berjalan ke dalam kekeliruan dalam Gereja Universal,’ menurut St. Agustinus, ‘adalah Tuhan, yang berdiam di dalam Gereja.’[62] Penyebab infalibilitas definisi-definisi dogmatik, menurut Sirilus dari Alexandria, ‘adalah Kristus yang memimpin’ dan ‘Roh Kudus, yang berbicara melalui konsili-konsili.’[63] Penyebab, yang mana ‘Agama selalu dijaga tak bercela dalam Takhta Apostolik’ ialah fakta bahwa kita tidak dapat mengabaikan kata-kata Tuhan kita Yesus Kristus yang berkata: ‘Engkau adalah Petrus, dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan Gereja-Ku,’ seturut Pengakuan Kaum Oriental, yang dianut di bawah Paus Hormisdas. Alasan pasti dari persetujuan mengagumkan para Bapa Gereja yang tersebar di semua bagian dunia dan di segala zaman, hanya dapat ditemukan dalam “karunia ilahi khusus dari Roh Kudus, yang mereka terima dalam roh yang satu dan sama utnuk mengajar”[64] menurut Theodoretus, dan dalam ‘rahmat Roh Kudus, yang melalui-Nya mereka diajarkan dan dalam persetujuan di antara mereka’, menurut Leontius Galland.”[65] Demikianlah kata Kardinal Franzelin.[66]

Jadi, para gembala Gereja, yang ditugaskan dengan penjagaan secara infalibel akan Deposit Iman, serentak juga merupakan gurunya yang infalibel.


[1] Ef 4:5.

[2] Mat 16:18.

[3] Yoh 21:15-16.

[4] Yoh 21:17.

[5] Luk 22:32.

[6] Paus Pius XI, On the Promotion of True Religious Unity (dikeluarkan dan dinyatakan pada 6 January 1928.)

[7] Luk 21:33.

[8] Bdk. 1 Tim 2:5.

[9] 1 Kor 12:12.

[10] Ef 4:16.

[11] Bdk. Ef 5:30;1:22.

[12] Konsili Lateran. IV. C. V.

[13] St. Siprians, Ep. 48, ad Cornelium, 3.

[14] 1 Tim 3:15.

[15] Mat 28:20.

[16] Mrk 16:15.

[17] Mrk 16:16.

[18] Yoh 5:39.

[19] St. Agustinus, Utility of Belief, N. 85.

[20] Agustinus, Utility of Belief.

[21] Mat 28:20.

[22] Ef 4:5.

[23] Mat 18:7.

[24] 2 Kor 12:9.

[25] 2 Tim 4:3-4.

[26] 2 Tim 4:2.

[27] Yoh 17:21.

[28] Ef 4:5.

[29] Luk 22:32.

[30] Tertullian, “Prescript”, C. XV.

[31] Tertullian, C. XVII.

[32] Tertullian, C. XIX.

[33] Luther, About the Eucharist.

[34] Yoh 6:45.

[35] In Jorg., T. I, p. 386.

[36] In Jorg., T. I, p. 416-419.

[37] Hartmann, Internal Dissolution of Christianity.

[38] In Jorg, T. I., hal. 122-130.

[39] In Jorg., hal. 135.

[40] Yoh 20:21.

[41] Mat 28:20.

[42] Mat 28:20.

[43] 2 Tim 1:13-14.

[44] 2 Tim 2:2.

[45] 2 Tim 3:14.

[46] Lih. Gal 1:8-9.

[47] Yud 1:3.

[48] Kol 2:7-8.

[49] Yoh 1:14.

[50] Kis 20:28.

[51] Ef 4:11.

[52] Agustinus, Epist. 149, N. 11, ad Paulinum.

[53] St. Jerome’s Commentaries.

[54] 2 Tim 3:14.

[55] 2 Tim 3:15.

[56] 2 Tim 3:16.

[57] 1 Tim 4:20.

[58] 2 Tim 1:13-14.

[59] Mat 28:20.

[60] Yoh 14:26.

[61] Iren, IV, 26, N.5.

[62] Agustinus, In Ps., N. 12.

[63] Sirllus Alexandria, Tom. V, Part II, 175.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar