Mengasihi Sesama

Mengasihi Sesama
Ibu Theresa dari Calcuta

Kamis, 24 September 2020

BAB II. Unsur-Unsur Pembentuk Gereja

 IN TEOLOGI FUNDAMENTALTRADISI

1

Ikhtisar unsur-unsur pembentuk Gereja di sepanjang zaman.

Gereja adalah komunitas adikodrati dan diperlukan, yang ditetapkan Kristus demi keselamatan umat manusia. Semua manusia wajib menjadi anggota Gereja, jika tidak, konsekuensinya adalah siksaan kekal. Keharusan dan institusi ilahi tersebut memperlihatkan fakta bahwa bukan manusia, tapi Allah sendiri memberikan Gereja-Nya sebuah organisasi hakiki dan internal – yaitu, sebuah Konstitusi (catatan penerjemah: saya terjemahkan juga kata constitution menjadi frase unsur-unsur pembentuk) – yang mana tak seorang manusia memiliki hak untuk mengubahnya.

Unsur-unsur pembentuk (konstitusi) ini kita temukan masih bertahan dalam Gereja di seluruh dunia hari ini, dan Konstitusi ini kita temukan secara tertulis dalam kitab Suci. Hal ini tampil tidak menurut cara konvensional yang mana masyarakat di bumi menulis dan mewartakan hukum-hukum konstitusional mereka – hukum-hukum fundamental Negara mereka – tapi dalam cara yang sungguh Biblis, yaitu, dalam instruksi, yang mana para pengarang Perjanjian baru yang terilhami, di sini dan di sana mewartakan, menjelaskan, dan menulis kepada umat beriman. Sebab, Kitab Suci tidak dimaksudkan untuk menjadi sebuah kitab undang-undang, atau textbook bagi orang Kristen. Kitab Suci ditulis karena situasi dan alasan-alasan yang menyebabkan Para Rasul menjelaskan perkara-perkara tertentu kepada umat beriman.

Konstitusi ini adalah sebagai berikut: I. Gereja adalah Komunitas yang tidak setara, yang terdiri dari dua kelompok – Klerus dan Umat Awam. II. Apapun kuasa dan yurisdiksi yang dimiliki Gereja, ia haruslah tinggal di dalam Klerus. III. Kuasa diberikan kepada Klerus, sebab Klerus memiliki asal-usul dan hak yang bersifat ilahi – Para Uskup, Imam, dan Diakon. IV. Imamat dibuat tunduk pada Episkopat oleh Para Rasul, seturut perintah Kristus; sebab, Kristus tidak menahbiskan para imam selain dari mereka yang Ia konsekrasikan sebagai Uskup dan Rasul. Ketika Kristus berkata pada Para Rasul, “Lakukanlah ini untuk mengenangkan Aku”[1], Ia memberikan mereka kuasa untuk mengkonsekrasikan dan menahbiskan.[2] V. Gereja dan Kitab Suci adalah “Pedoman Iman.” VI. Terdapat hirarki Ganda, yakni Hirarki Tahbisan (hierarchy of order) dan Yurisdiksi. Yang pertama ditetapkan oleh karakter Sakramental khusus: karenanya ia tidak pernah bisa hilang atau dibatalkan; yang kedua berasal dari, dan diberikan oleh, perintah yang sah: karenanya ia dapat hilang – dalam Imam Tertinggi (Paus), kuasa tersebut dapat hilang melalui penolakan atau kematian. VII. Para Imam memiliki Kuasa dari Tahbisan tapi tidak Kuasa dari Yurisdiksi. Hal ini berasal dari atas, yaitu: mereka harus diutus oleh Uskup. VIII. Otoritas tertinggi, yaitu, primat yurisdiksi, diberikan kepada Uskup Roma, melalui fakta bahwa St. Petrus, yang ditunjuk Kristus sendiri sebagai Kepala Gereja, menetapkan jabatannya di Roma secara permanen sampai kematiannya yang mulia. Otoritasnya bersifat universal, independen dari yang lainnya. Kuasanya bersifat ordinari: ia berpindah kepada para penerusnya. Kuasa Rasul lainnya bersifat universal, tapi tidak independen dari Petrus. Siapapun yang mereka terima ke dalam Gereja, mereka jadikan patuh kepada Petrus. Apapun Gereja yang mereka dirikan, mereka buat bergantung pada Petrus, karena, yurisdiksi Petrus juga ada atas Para Rasul sendiri. Uskup Roma dahulu dan kini adalah Wakil Kristus, pusat kesatuan dan persekutuan gerejawi, sumber yurisdiksi di seluruh Gereja. IX. Para Rasul memiliki misi luar biasa untuk mewartakan Injil ke seluruh dunia, untuk mendirikan Gereja di mana saja, untuk mengaturnya dan memerintahkan hukum kepadanya. Terlebih, mereka secara individual memiliki hak prerogatif infalibilitas dan karunia lidah, yang mereka buktikan secara nyata dan melalui mukjizat. Tapi tidak setiap Rasul memiliki otoritas atas Gereja Universal. Karenanya mereka tidak dapat membuat hukum bagi Gereja Universal kecuali dalam menyatakannya melalui wahyu ilahi: Tapi lantas hukum tersebut adalah hukum ilahi, bukan sekadar hukum apostolik. Secara personal mereka bukanlah kepala Gereja yang mereka dirikan, kecuali dalam jabatan mereka sebagai Pastor, yang untuk pada Petrus, yang mereka akui sebagai Gembala Utama mereka sendiri dan Gembala Gereja mereka. Apabila Petrus membuat hukum atau aturan apapun bagi Gereja Universal, mereka berkewajiban untuk menaatinya. Apabila mereka membuat hukum apapun bagi Gereja-Gereja mereka, Petrus memiliki hak untuk membatalkannya. Walaupun demikian, hal ini tidak bisa terjadi, kecuali Para Rasul mengeluarkan hukum, bukan sekadar sebagai Rasul, tapi sebagai legislator. Dengan anugerah infalibilitas, mereka tidak bisa memecah kesatuan Gereja. Seorang Rasul juga dapat menata ulang Gereja-Gereja yang didirikan oleh Para Rasul lainnya, mengubah apa yang telah ditetapkan oleh mereka, seperti yang ia anggap bijaksana di dalam Tuhan. Hal yang sama juga dapat dikatakan tentang hukum-hukum yang dibuat Petrus, bukan sebagai Kepala Gereja, tapi sebagai seorang legislator. Sebagai tubuh, Para Rasul dapat membuat hukum-hukum bagi Gereja Universal, tetapi di bawah Petrus, Pangeran Kolega Apostolik.[3] X. Takhta atau Ibu Kota Kekristenan adalah Roma. Siapapun yang dipilih sebagai Uskup Roma serentak adalah Kepala Gereja Universal. Hal ini, kendati demikian, bukanlah dua kekuasaan – kuasa Episkopat dan Primat – tapi satu kekuasaan. Mereka hanya dibedakan dalam namanya saja (vitermini), bukan dalam substansi (non in re ipsa). Ketika Petrus menunjuk orang lain sebagai Uskup di bagian lain di dunia – khususnya Evodius untuk menggantikannya di Antiokia – mereka tidak menggantikannya dalam otoritas Kerasulannya dan Primatnya. Fakta bahwa Petrus hidup dan wafat di Roma membuktikan bahwa, sebagaimana otoritasnya harus berlanjut sampai akhir dunia, Gereja haruslah memiliki Takhta yang stabil. Seluruh Gereja akan menderita karena Takhta utama yang berubah-ubah dan tidak pasti. Telah ditekankan dengan baik di dunia Katolik bahwa Ibu Kota Kekristenan tidak bisa diubah bahkan oleh otoritas-otoritas Gereja. Penetapannya adalah kuasa Petrus yang hakiki dan diterima, seturut instruksi Tuhan. Seluruh zaman purbakala mengakuinya tanpa kontroversi apapun, bahwa Penerus Petrus di Roma tidak hanya menggantikannya dalam Episkopat, tapi juga dalam Primat. Semua rekan sezaman Petrus mengetahui apa yang dipikirkannya; mereka mengetahuinya tanpa dekrit Gereja apapun. Hal ini sendiri adalah tradisi, dan satu dari yang terpenting. Gereja-Gereja tidak akan pernah mengakui Penerus Petrus di Takhta Roma, sebagai Kepala Gereja, tanpa pernyataan sebelumnya dari Pangeran Para Rasul tentang hal yang penting ini. Otoritas Uskup Roma dan Penguasa Gereja Universal adalah satu dan sama. Identitas inilah yang dulu dan kini menjamin bahwa siapapun yang menggantikan Petrus di Roma, maka ia menggantikannya juga dalam Primat. XI. Para Uskup Gereja wajib taat kepada Kepala Gereja, yang mana mereka harus memimpin Gereja-Gereja mereka. Secara individual mereka tidak infalibel. Sebagai tubuh (kolegialitas), di bawah Petrus, mereka infalibel. Para Uskup tidak mewarisi karisma apostolik infalibilitas, mukjizat, wahyu, dan ilham, tidak juga otoritas untuk mewartakan Injil dan mendirikan Gereja di seluruh dunia. Mereka mewarisi otoritas dan kuasa episkopal, yang sifatnya biasa (ordinari).

Tak satupun dari Para Rasul, sebagai Rasul, yang memiliki penerus. St. Yakobus, Uskup Yerusalem, tidak memiliki penerus dalam kerasulannya. Penerusnya menerima hanya kuasa biasa sebagai Uskup Yerusalem. Para Uskup, terlebih, memang menggantikan Para Rasul dalam kuasa kolegialitas mereka, sebab itu juga merupakan kuasa biasa (kolegialiter). XII. Bentuk pemerintahan Gereja adalah monarki. Dalam diri Paus saja terdapat semua kuasa tertinggi, penuh, dan independen. Para Uskup dan umat tidak memiliki hak untuk membatasi kuasa Imam Tertinggi. Para Uskup, walau demikian, menolongnya, atas permohonan dan kehendak baiknya, di dalam dan di luar Konsili Umum. Kongregasi-Kongregasi Romawi yang Suci, yang diketuai Para Kardinal yang dipilih Paus, mewakili Imam Tertinggi dalam pelaksanaan tugas yang terhubung dengan tata laksana umum perkara Gereja. Hal ini membuat Pemerintahan Gereja sebagai Monarki Absolut, yang dibantu oleh hirarki para Uskup di seluruh dunia, dan dilembutkan oleh kasih, yang mana Bapa Kekristenan wajib memikul dan memberikannya kepada semua anak-anaknya.

Tidak semua pernyataan di atas ditemukan secara eksplisit dalam Kitab Suci. Kendati demikian, mereka semua secara implisit dimengerti dari, dan didasarkan pada Kitab Suci yang sama. Mereka berasal dari kodrat hal-hal. Ini adalah sebuah ikhtisar singkat tentang Konstitusi Gereja, yang mana St. Agustinus dapat menulisnya di Abad Kelima: “Ada banyak hal, yang dalam segenap kebenaran menahan saya di dadanya (Gereja Katolik): persetujuan masyarakat dan ras, otoritas, yang lahir dari mukjizat, diperkuat oleh harapan, diteguhkan oleh kasih, dan dikukuhkan oleh zaman kuno; suksesi Paus di Takhta Rasul Petrus … hingga ke Episkopat saat ini; terakhir, nama Katolik yang sama, yang mana, bukan tanpa alasan, di tengah begitu banyak kesesatan, hanya dapat dicapai oleh Gereja ini. Selagi semua kaum bidat ingin disebut Katolik, tak seorang pun dari mereka, yang menunjukkan gerejanya, atau rumah ketika orang asing bertanya untuk diarahkan kepada Gereja Katolik. Ikatan-ikatan nama Kristen ini, begitu banyak dan begitu disayang, dengan tepat mempertahankan umat beriman dalam Gereja Katolik.”[4]

2

Unsur-unsur pembentuk Gereja secara substansial tidak dapat berubah.

Sampai Abad Keenam Belas, dengan pengecualian Gereja Yunani dan beberapa gereja skismatik di Timur, hanya ada satu Gereja Kristen di dunia – yakni Gereja Katolik.

Gereja itu dipimpin oleh kepala tertinggi yang satu dan kasatmata, yaitu Uskup Roma dan Penerus St. Petrus. Maka tetap ada “satu kawanan dan satu gembala”[5] dengan “satu Tuhan, satu iman, dan satu Baptisan”[6], ketika terdapat pemberontakan keagamaan besar yang timbul di Eropa Utara terhadap semua otoritas Gereja yang ditetapkan. Sesudah tiga puluh tahun perang sipil dan agama, ketika para saudara bertempur dengan para saudara lainnya, sebagian besar bangsa-bangsa Eropa Utara, yang menerima dari Kekristenan dan beserta Kekristentan peradaban mereka, menolak ketaatan kepada Bunda mereka yang tua, Roma, pusat Kekristenan yang agung, sumber semua yurisdiksi gerejawi.

Dalam tahun-tahun pertama pemberontakan mereka, para pemimpin masyarakat ini berseru kepada Roma: yang satu ingin mengesampingkan istri sahnya yang hidup guna menikahi wanita lain yang dinafsuinya; yang lain menyatakan kuasa kunci-kunci dibatasi secara mutlak pada bidang rohani; lainnya lagi ingin ajaran-ajaran sesat mereka disetujui Penerus Petrus. Mereka meminta hal yang mustahil: “menceraikan apa yang telah dipersatukan Allah”, memalsukan deposit iman, mengubah ajaran Yesus Kristus. Gereja tidak mungkin mengabulkan tuntutan mereka. Ia tidak bisa membiarkan alam maut berkuasa atasnya. Tapi Kristus berkata, “Surga dan bumi akan berlalu, tapi sabda-Ku tidak akan berlalu.”[7] Anak-anak manusia ini, setelah “memikirkan hal-hal yang lebih tinggi dari pada yang patut kamu pikirkan”[8], dan setelah melihat bahwa tuntutan-tuntutan mereka tidak dikabulkan oleh otoritas tertinggi Gereja, mereka membangkang dan memberontak terhadap Gereja Roma yang terhormat.

Mereka menetapkan sebuah sistem baru, otoritas baru, yang sebenarnya bukan otoritas, sebagai pengganti bagi otoritas Gereja. “Kitab Suci dan hanya Kitab Suci.”

Penggantian otoritas tersebut merupakan perubahan radikal secara total dari ketentuan yang ditetapkan Kristus dan Para Rasul. Hal ini adalah pemusnahan – akar dan cabang – dari Konstitusi Gereja.

Otoritas adalah bagian yang diperlukan dari Agama Kristen. Apa yang diperlukan dalam sebuah komunitas tidak dapat diubah tanpa menghancurkan komunitas tersebut. Hal ini bahkan lebih benar dalam Gereja Kristus daripada dalam lembaga manusia. Manusia terkadang dapat mengubah atau menghancurkan karya mereka. Tapi malaikat dan manusia tidak memiliki hak apapun untuk mengubah atau menghancurkan karya Allah.[9] Bahkan Paus pun tidak memiliki hak untuk mengubah apa yang Kristus, Putra Allah, telah gabungkan sebagai bagian yang perlu dari Gereja-Nya. Ia ada melalui Persetujuan ilahi. Bentuk pemerintahan yang Ia berikan adalah kehidupannya. Ia adalah buah Penebusan. Untuk mengenalkan bentuk lainnya berarti mengubah Gereja itu sendiri. Menetapkan otoritas Kitab Suci yang bisu untuk menggantikan otoritas Gereja yang hidup sama artinya dengan merusak karya Kristus.

Para pembaharu lupa bahwa Kristus bermaksud agar Konstitusi Gereja-Nya selalu sama. Mereka mengabaikan janji-janji-Nya kepada Gereja, khususnya janji infalibilitas dalam ajaran, yang menjaga ajarannya bebas dari kerusakan, dan karenanya menyelamatkan dirinya dan Kitab Suci.

Jadi, apa yang Kristus tetapkan sebagai hal yang penting dan diperlukan haruslah tetap tidak berubah. Ia tidak dapat dimusnahkan, diubah, atau digantikan, dalam atau oleh bentuk apapun yang lain.

Sebuah bangsa dapat menolak ajaran-ajaran Gereja, tapi Gereja Universal tetap tidak dapat dihancurkan, walaupun ia dapat berhenti berfungsi dalam wilayah bangsa yang murtad. Bangsa yang murtad itu sajalah yang menderita.

Ini tidak berarti bahwa Kitab Suci adalah huruf-huruf mati. Ia adalah sabda Allah, dan Gereja mendasarkan konstitusi dan otoritasnya di atasnya secara historis dan dogmatis. Kitab Suci ditulis untuk semua orang, mereka yang terpelajar dan tidak terpelajar. Tapi Kitab Suci bukanlah Pemerintah. Ia juga bukan satu-satunya Pedoman Iman. Melainkan, ia adalah Pedoman Iman di tangan Gereja yang hidup dan infalibel.

3

Sebelum mendirikan Gereja, Kristus membuktikan keilahian-Nya.

Hanya Allah yang dapat membuat agama Kristen. Untuk membuat jutaan manusia, yang membenci dan membunuh satu sama lain, dan membawa mereka untuk menerima satu iman dan hidup dalam satu hukum kasih – inilah bukti bahwa Kristus adalah Allah. Gereja-Nya bersifat Ilahi oleh karena kepantasannya. Tapi masih ada alasan lain yang lebih besar: Mukjizat-mukjizat dan nubuat-nubuat tentang pendirinya. Tidak ada agen tercipta yang dari dirinya sendiri dapat melakukan mukjizat. Mukjizat melampaui kekuatan kodrat, dan membutuhkan intervensi khusus Allah. Untuk alasan inilah St. Yohanes Penginjil, setelah menceritakan beberapa dari banyaknya mukjizat Kristus, yang berpuncak dalam mukjizat yang paling mulia dari semuanya, yaitu Kebangkitan-Nya dari mati – ia mengakhiri Bab Kedua Puluh dengan kutipan yang menonjol ini: “Memang masih banyak tanda lain yang dibuat Yesus di depan mata murid-murid-Nya, yang tidak tercatat dalam kitab ini, tetapi semua yang tercantum di sini telah dicatat, supaya kamu percaya, bahwa Yesuslah Mesias, Anak Allah, dan supaya kamu oleh imanmu memperoleh hidup dalam nama-Nya.”[10] Injil Yohanes ditulis untuk membuktikan bahwa Yesus adalah Allah.

Nubuat-nubuat hanya mungkin bagi Allah. Meramalkan kejadian-kejadian bebas di masa depan tanpa bantuan adikodrati merupakan hal yang ada di luar batas akal budi tercipta. Nubuat-nubuat itu sendiri dalam dirinya adalah mukjizat. Untuk alasan inilah Yesus menggunakan nubuat-nubuat untuk menyatakan keilahian-Nya. Hal yang paling mengerikan dari semua nubuat-Nya digenapi hanya tiga puluh tujuh tahun sesudah Penyaliban. Dan Yesus menyimpulkannya dengan kata-kata ini: “Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya angkatan ini tidak akan berlalu, sebelum semuanya ini terjadi.”[11] Mengenai kebenaran yang menakutkan yang tersembunyi dalam kata-kata ini, bacalah sejarah Yosephus tentang kejatuhan Yerusalem.

Melalui pengetahuan-Nya tentang ciptaan yang bersifat universal, khususnya dalam pencarian isi hati, Yesus memperlihatkan bahwa Ia adalah Allah. “Kata Natanael kepada-Nya: “Bagaimana Engkau mengenal aku?” Jawab Yesus kepadanya: “Sebelum Filipus memanggil engkau, Aku telah melihat engkau di bawah pohon ara.”[12] “Karena tidak perlu seorangpun memberi kesaksian kepada-Nya tentang manusia, sebab Ia tahu apa yang ada di dalam hati manusia.”[13]

Banyak teks yang tak terbilang jumlahnya yang memberi kesaksian akan keilahian Kanak-Kanak Yesus. “Kedatangannya akan didahului oleh perdamaian universal”[14] “Namanya disebutkan orang: Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai.”[15] Pada saat kelahiran-Nya “Tampaklah bersama-sama dengan malaikat itu sejumlah besar bala tentara sorga yang memuji Allah, katanya: “Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya.””[16]

Kehidupan Yesus lebih menjadi milik Surga daripada bumi. Ajaran-ajaran-Nya memperlihatkan kesempurnaaan yang mustahil bagi manusia semata. Tidak ada yang lebih mendalam dari ajaran Kristus mengenai Allah, manusia, dan dunia. Tidak ada yang lebih sempurna dari hukum moral yang Ia ajarkan dalam khotbah-khotbah-Nya. “Dan semua orang yang mendengar Dia sangat heran akan kecerdasan-Nya dan segala jawab yang diberikan-Nya.”[17]

Bahkan musuh-musuh Kekristenan dipaksa mengakui bahwa “moralitas Yesus Kristus adalah fondasi peradaban manusia” (Strauss). Orang tak beriman lainnya menyatakan bahwa “ajaran moral Yesus adalah ajaran paling indah yang pernah diterima: Khotbah di Bukit tidak akan pernah dilampaui.” (Renan).

Sengsara dan Wafat Kristus hanya pantas untuk Allah yang menjadi manusia. “Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib. Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama, supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku: “Yesus Kristus adalah Tuhan,” bagi kemuliaan Allah, Bapa!”[18]

Setelah kematiannya yang memalukan, “Kepala pasukan dan prajurit-prajuritnya yang menjaga Yesus menjadi sangat takut ketika mereka melihat gempa bumi dan apa yang telah terjadi, lalu berkata: “Sungguh, Ia ini adalah Anak Allah.””[19]

Kendati demikian, Kristus berkata: “Rombak Bait Allah ini (yaitu tubuh-Ku), dan dalam tiga hari Aku akan mendirikannya kembali.”[20] Yang dimaksud adalah kebangkitan-Nya, yang merupakan syarat hakiki bagi keilahian-Nya. “Dan jika Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah kepercayaan kamu.”[21] Tapi Kristus “telah dibangkitkan, pada hari yang ketiga, sesuai dengan Kitab Suci; bahwa Ia telah menampakkan diri kepada Kefas dan kemudian kepada kedua belas murid-Nya. Sesudah itu Ia menampakkan diri kepada lebih dari lima ratus saudara sekaligus; kebanyakan dari mereka masih hidup sampai sekarang, tetapi beberapa di antaranya telah meninggal… Tetapi andaikata Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah pemberitaan kami dan sia-sialah juga kepercayaan kamu.”[22]

Jadi, Kebangkitan Kristus adalah tanda yang memahkotai keilahian-Nya. Apabila Ia tidak bangkit, maka semua karya dan klaim-Nya akan terkubur bersama-Nya. Tapi Ia juga berkata: “Dan Aku, apabila Aku ditinggikan dari bumi, Aku akan menarik semua orang datang kepada-Ku.”[23]

Kristus selamanya menekankan pada para Murid-Nya bahwa peristiwa-peristiwa harus terjadi sebagaimana mestinya. Hal ini untuk membuktikan bahwa Ia adalah Mesias. “Jika begitu, bagaimanakah akan digenapi yang tertulis dalam Kitab Suci, yang mengatakan, bahwa harus terjadi demikian?”[24] “Lalu Ia berkata kepada mereka: “Hai kamu orang bodoh, betapa lambannya hatimu, sehingga kamu tidak percaya segala sesuatu, yang telah dikatakan para nabi! Bukankah Mesias harus menderita semuanya itu untuk masuk ke dalam kemuliaan-Nya?” Lalu Ia menjelaskan kepada mereka apa yang tertulis tentang Dia dalam seluruh Kitab Suci, mulai dari kitab-kitab Musa dan segala kitab nabi-nabi.”[25]

Bahkan Bapa Surgawi-Nya memberikan kesaksian yang kasatmata. “Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan.”[26] “Lalu Yesus berubah rupa di depan mata mereka; wajah-Nya bercahaya seperti matahari dan pakaian-Nya menjadi putih bersinar seperti terang.”[27]

Tidak pula bumi gagal memberikan penghormatan kepada Penciptanya. Di waktu kematian-Nya “Tabir Bait Suci terbelah dua dari atas sampai ke bawah dan terjadilah gempa bumi, dan bukit-bukit batu terbelah, dan kuburan-kuburan terbuka dan banyak orang kudus yang telah meninggal bangkit. Dan sesudah kebangkitan Yesus, merekapun keluar dari kubur, lalu masuk ke kota kudus dan menampakkan diri kepada banyak orang.”[28]

Merupakan sebuah klaim yang mengerikan untuk dibuat manusia: yakni mengklaim sebagai Allah. Tapi Kristus membuat klaim itu dan menganutnya sampai akhir. Dan setiap peristiwa dalam kehidupan dan kematian-Nya menjadi saksi akan kebenaran dan keadilannya.

4

Otoritas adalah hal yang perlu di dalam Gereja.

Kristus memanggil kepada diri-Nya dua belas pria, murid-murid-Nya yang pertama: inti Gereja-Nya. Mereka bukanlah orang terpelajar. Kita bahkan tidak tahu apakah mereka bisa membaca. Tapi mereka memiliki karunia yang lebih tinggi: Iman dan ketaatan kepada Sang Guru. Untuk mengamankan dan menyelamatkan karunia-karunia inilah Ia melakukan mukjizat. St. Agustinus menjelaskannya dengan baik: “Melalui Mukjizat-Mukjizat-Nya Ia memperoleh otoritas. Melalui otoritas Ia mengamankan Iman mereka. Melalui Iman ia menarik banyak orang.”[29] Dan sebaliknya kita dapat berkata: Tanpa otoritas tidak akan ada ketaatan. Tanpa ketaatan tidak akan ada iman. Tanpa iman tidak akan ada Gereja.

Otoritas dan ketaatan, lantas, merupakan jiwa dan tubuh bagi Gereja yang baru berkembang. Tanpa keduanya ia tidak bisa dilahirkan, apalagi hidup dan berkembang. Ia tidak akan pernah ada sama sekali. Ia akan menjadi salah satu Mazhab yang lain, dengan para cendekiawannya yang bebas datang dan pergi sesuka mereka. Dan Gurunya adalah Sokrates atau Plato yang lain, hanya lebih besar. Tapi Gereja bukanlah mazhab. Ia adalah Gereja. Ia tidak hanya mengajar. Ia memerintah. Ajaran-ajarannya bukanlah pendapat-pendapat. Mereka adalah kebenaran yang diwahyukan. Para anggotanya tidak bisa datang dan pergi. Mereka harus datang dan tinggal. Apabila mereka pergi, ini berarti kehancuran mereka. Dan Kristus bukanlah Sokrates atau Plato yang lain yang lebih besar. Kristus adalah Allah. Apabila Ia lebih kecil dari Allah maka Ia pasti gagal. Otoritaslah yang membuat perbedaan. Ia berbicara sebagai orang yang memiliki kuasa. Dan itulah sebabnya mengapa Gereja akan hidup selamanya. Seperti Pendirinya, ia berbicara sebagai orang yang memiliki kuasa. Suaranya adalah suara Allah.

Allah dalam hikmat dan penyelenggaraan-Nya yang tak terbatas menetapkan Gereja supaya bertahan selama ada manusia untuk diselamatkan. Kepada Gereja itu Ia memberikan para guru dan doktor, yang kepadanya Ia memberikan otoritas-Nya dan kuasa untuk mewartakan dan mengajar. Ia memilih beberapa orang dalam cara khusus, yang kepadanya Ia memberikan kuasa khusus yang tidak diberikan pada orang lain: di atas mereka Ia mendirikan Gereja-Nya: melalui mereka Ia berbicara kepada generasi masa depan. Ia tidak menulis kitab apapun untuk meneruskan ajaran-Nya, perintah-perintah-Nya dan institusi-institusi. Sebuah kitab tertulis semata adalah benda mati. Benda mati tidak bisa berbicara. Hanya yang hidup yang dapat memberikan kehidupan kepada yang mati.

Otoritas, karenanya, adalah hal yang perlu bagi kehidupan Gereja, sebab demikianlah tatanan yang dipilih Kristus. Otoritas tersebut tidak bisa menjadi hal yang sifatnya aksidental atau sekunder. Ia merupakan hal yang substansial dan hakiki dalam hidup komunitas itu, yang ditetapkan Putra Allah di bumi. Tanpa otoritas tidak akan ada ketaatan, dan tanpa ketaatan akan terdapat kekacauan, kekisruhan religius, yang menjadi penyebab berakhirnya komunitas apapun. Otoritas itu adalah Allah sendiri.

5

Kristus memberikan otoritas-Nya kepada para Rasul.

Otoritas di dalam Gereja adalah otoritas Kristus sendiri. Ia mewariskannya kepada Para Rasul, dan melalui mereka kepada para penerusnya. “Kitab yang Kristus tulis adalah Para Rasul, sebuah kitab yang tidak ditulis dengan tinta, tapi dengan Roh Kudus, yang memberikan kepada Para Rasul semua otoritas, kuasa dan yurisdiksi di dalam Gereja. Ia menunjuk mereka untuk memimpin, mengajar, dan menguduskan umat beriman.”[30]

Selama tiga tahun pelayanan publik-Nya, Ia berbicara tentang gereja sebagai sesuatu yang belum tiba. Tapi di malam sebelum wafat-Nya, waktunya sudah dekat, dan Ia menghadirkannya. Pada Perjamuan Terakhir Ia menetapkan dua Sakramen yang meneruskan hidup Gereja sendiri dan menopangnya dalam para anggotanya – Tahbisan Suci dan Ekaristi. “Ketika tiba saatnya, Yesus duduk makan bersama-sama dengan rasul-rasul-Nya. Kata-Nya kepada mereka: “Aku sangat rindu makan Paskah ini bersama-sama dengan kamu, sebelum Aku menderita. Sebab Aku berkata kepadamu: Aku tidak akan memakannya lagi sampai ia beroleh kegenapannya dalam Kerajaan Allah.” Kemudian Ia mengambil sebuah cawan, mengucap syukur, lalu berkata: “Ambillah ini dan bagikanlah di antara kamu. Sebab Aku berkata kepada kamu: mulai dari sekarang ini Aku tidak akan minum lagi hasil pokok anggur sampai Kerajaan Allah telah datang.” Lalu Ia mengambil roti, mengucap syukur, memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada mereka, kata-Nya: “Inilah tubuh-Ku yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku.” Demikian juga dibuat-Nya dengan cawan sesudah makan; Ia berkata: “Cawan ini adalah perjanjian baru oleh darah-Ku, yang ditumpahkan bagi kamu.”[31]

Sesudah Kebangkitan-Nya Ia menyempurnakan Sakramen-Sakramen, memberikan otoritas-Nya kepada Para Rasul, menganugerahkan Primat pada Petrus, dan memahkotai karya teresbut dengan sebuah janji bahwa Ia sendiri akan bersama mereka sampai akhir zaman. “Yesus mendekati mereka dan berkata: “Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi. Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus.”[32] “Maka kata Yesus sekali lagi: “Damai sejahtera bagi kamu! Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu.” Dan sesudah berkata demikian, Ia mengembusi mereka dan berkata: “Terimalah Roh Kudus. Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni, dan jikalau kamu menyatakan dosa orang tetap ada, dosanya tetap ada.””[33]

Yang mustahil sudah terjadi. Putra Allah telah memberikan kuasa-Nya yang mahakuasa kepada sebelas pria lemah: untuk mengikat dan melepas, untuk memimpin dan membimbing sampai akhir zaman.

Para rasul diberi kuasa dan otoritas Kristus sendiri. Mereka ditopang dalam misi agung mereka oleh janji akan pertolongan Kristus, dan kedatangan Roh Kudus atas diri mereka untuk mengajarkan mereka semua kebenarab dan melindungi mereka dari kesesatan. “Dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.”[34] “Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya.”[35] “Tetapi apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran; … dan Ia akan memberitakan kepadamu hal-hal yang akan datang.”[36]

Jadi Para Rasul itu seperti Kristus: mereka harus mewahyukan kebenaran seperti Kristus, mewartakan dan mengajar seperti Kristus, dan memimpin Gereja seperti Kristus. “Tetapi kamu juga harus bersaksi, karena kamu dari semula bersama-sama dengan Aku.”[37] “Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk.”[38] “Pergilah, jadikanlah semua bangsa muridku.”[39] Jadi, apa yang mereka wartakan dan ajarkan bebas dari kesalahan, sebab mereka dibantu oleh Kristus, diajar oleh Roh Kudus dan dipenuhi oleh Roh yang sama. Tidak, bahkan lebih dari itu; mereka menggunakan otoritas mereka, sebagai makhluk bebas di tangan Allah. “Sebab adalah keputusan Roh Kudus dan keputusan kami.[40]

Ketika Kristus berkata kepada Petrus dan hanya kepada Petrus: “Gembalakanlah domba-dombaku … gembalakanlah domba-dombaku,”[41] Ia menganugerahkannya dengan kuasa tertinggi untuk memimpin umat, para imam dan uskup Gereja. Ia memenuhi apa yang Ia janjikan padanya sebelumnya: “Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Sorga. Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga.”[42]

Lihatlah, inilah Gereja Kristus. Ia ditetapkan dengan persetujuan ilahi; dianugerahi dengan hidup ilahi; berbagi dalam keabadian ilahi. Dalam bimbingan Roh Kudus dengan jaminan bahwa mereka tidak bisa gagal dan tidak akan salah, dan dengan ditemani Gurunya, yang tidak akan pernah meninggalkan mereka, Para Rasul pergi untuk mewartakan dan mengajar dan membaptis. Gereja yang didirikan Kristus adalah Gereja dengan Otoritas Hidup dan akan tetap demikian hingga akhir zaman. Tulisan-tulisan Perjanjian Baru akan tiba kemudian – sebuah bukti, sebagaimana tulisan-tulisan Perjanjian Lama merupakan nubuat – bahwa Allah telah menepati janji-Nya. Tulisan-tulisan yang terilhami ini akan memberi kesaksian terhadap hal yang sudah ada dan akan terus ada, dan yang ilahi, benar, dan kekal, apabila Para Rasul tidak pernah menulis sebarispun.

Terakhir, Gereja itu adalah sebagaimana adanya, bukan karena Matius, Yohanes, atau Paulus atau rasul lainnya telah menuliskannya, tapi karena Kristus memerintahkannya. Para Rasul memiliki otoritas mereka dan menggunakannya, dan Gereja melakukan karyanya, bertahun-tahun sebelum satu kata dari Perjanjian baru ditulis.

6

Para Rasul menegaskan otoritas penuh mereka.

Ketaatan kepada perintah Kristus untuk meneruskan karya agung-Nya yang telah Ia mulai, membuat Para Rasul “pergi memberitakan Injil ke segala penjuru, dan Tuhan turut bekerja dan meneguhkan firman itu dengan tanda-tanda yang menyertainya.”[43] Mereka memimpin Gereja dengan otoritas dan yurisdiksi itu, yang diberikan Putra Allah pada mereka sebelum Ia pergi kepada Bapa.

Para Rasul menghadirkan dirinya kepada dunia, pertama, sebagai Kristus yang lain, seturut perkataan Guru mereka. “Barangsiapa mendengarkan kamu, ia mendengarkan Aku; dan barangsiapa menolak kamu, ia menolak Aku.”[44]

Kedua, mereka menyatakan dirinya sebagai pelayan dan hamba Kristus: “Demikianlah hendaknya orang memandang kami: sebagai hamba-hamba Kristus, yang kepadanya dipercayakan rahasia Allah.”[45]

Terlebih, mereka mengklaim sebagai rekan kerja Allah. “Karena kami adalah kawan sekerja Allah; kamu adalah ladang Allah, bangunan Allah.”[46]

Terakhir, mereka menyatakan diri sebagai utusan Kristus: “Jadi kami ini adalah utusan-utusan Kristus, seakan-akan Allah menasihati kamu dengan perantaraan kami; dalam nama Kristus kami meminta kepadamu: berilah dirimu didamaikan dengan Allah.”[47]

Pernyataan-pernyataan Para Rasul ini ditegaskan oleh perbuatan mereka. Sebagaimana Yesus Krisus katakan pada orang Yahudi: “Tetapi jikalau Aku melakukannya dan kamu tidak mau percaya kepada-Ku, percayalah akan pekerjaan-pekerjaan itu,”[48] demikian pula Para Rasul memperkuat klaim-klaim atas misi mereka melalui mukjizat-mukjizat. “Baik perkataanku maupun pemberitaanku tidak kusampaikan dengan kata-kata hikmat yang meyakinkan, tetapi dengan keyakinan akan kekuatan Roh.”[49] “Segala sesuatu yang membuktikan, bahwa aku adalah seorang rasul, telah dilakukan di tengah-tengah kamu dengan segala kesabaran oleh tanda-tanda, mujizat-mujizat dan kuasa-kuasa”[50] Karenanya mereka membutuhkan persetujuan penuh dan ketaatan dari umat beriman. St. Paulus menulis: “Dengan perantaraan-Nya kami menerima kasih karunia dan jabatan rasul untuk menuntun semua bangsa, supaya mereka percaya dan taat kepada nama-Nya.”[51] Sebab ajaran mereka bukanlah milik mereka, tapi milik Allah. Dan sebagaimana Allah itu satu, maka harus satu pula iman umat, dan satu pula pengakuan publik dalam ajaran Yesus Kristus.

Jadi, tidaklah mengherankan, bahwa Para Rasul kukuh dan tidak berkompromi terhadap apapun yang menjadi milik kebenaran Kristen. “Tetapi sekalipun kami atau seorang malaikat dari sorga yang memberitakan kepada kamu suatu injil yang berbeda dengan Injil yang telah kami beritakan kepadamu, terkutuklah dia. Seperti yang telah kami katakan dahulu, sekarang kukatakan sekali lagi: jikalau ada orang yang memberitakan kepadamu suatu injil, yang berbeda dengan apa yang telah kamu terima, terkutuklah dia.”[52]

Dengan demikian, lihatlah bagaimana Para Rasul, dalam melanjutkan karya Kristus di bumi, menyatakan otoritas mereka.

7

Ketaatan umat beriman harus diberikan kepada para Rasul.

Tidak ada gunanya memilih atau menunjuk seseorang untuk sebuah jabatan dengan otoritas, dan serentak membebaskan ketaatan dari mereka yang ditempatkan di bawah yurisdiksinya. Ini adalah kontradiksi. Otoritas selaras dengan ketaatan. Keduanya tidak terpisahkan. Yang satu mengandaikan yang lain. Mereka seperti gagasan “bapa” dan “putra.” Sebagaimana gagasan bapa tidak bisa dipahami tanpa gagasan putra, demikian pula kuasa otoritas tidak bisa dipikirkan tanpa kewajiban ketaatan.

Kini, Para Rasul diberikan otoritas untuk “mengikat” dan “melepas.” Untuk mengikat dan melepas siapa? Umat beriman. Jadi, umat beriman harus menaati mereka yang ditunjuk Kristus untuk memimpin mereka. Dan supaya membuat ketaatan semakin efektif, Kristus memberikan perintah kepada Para Rasul: “Lalu Ia berkata kepada mereka: “Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk. Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan, tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum.”[53]

Di sini, lantas, kita memiliki, di satu sisi, perintah yang diberikan kepada Para Rasul untuk mengajar dunia, dan di sisi lain, perintah kepada semua bangsa di bumi untuk belajar dari mereka. Para Rasul diperintahkan untuk mewartakan kepada setiap ciptaan guna membuat Kristus dikenal oleh semua orang, dan untuk membawa kepada mereka semua sarana keselamatan. “Celakalah aku apabila aku tidak mewartakan Injil.”[54] Apabila ini benar, maka semua ciptaan diperintahkan untuk mendengarkan mereka, dengan konsekuensi siksaan abadi: “siapa yang tidak percaya akan dihukum.”[55]

Semua manusia, oleh karena itu, patuh pada Para Rasul dalam perkara keselamatan. Apabila mereka menolak untuk mendengarkannya, mereka menolak mendengarkan Kristus; apabila mereka menolak otoritasnya, maka mereka menolak otoritas Kristus sendiri. “Kamu telah menerima firman Allah yang kami beritakan itu, bukan sebagai perkataan manusia, tetapi–dan memang sungguh-sungguh demikian–sebagai firman Allah.”[56] Otoritas Allah ini, pertama, dimiliki bersama oleh para wakil-Nya. Tidak hanya melalui mereka Ia membuatnya dikenal di seluruh dunia. Mereka diutus oleh Allah sendiri kepada setiap makhluk untuk mewartakan dan mengajar dalam nama-Nya.

Ketaatan harus diberikan kepada para wakil ini, sebab melalui merekalah kehendak dan sabda Allah dikenal oleh dunia. Jadi, Sang Rasul: “Dengan perantaraan-Nya kami menerima kasih karunia dan jabatan rasul untuk menuntun semua bangsa, supaya mereka percaya dan taat kepada nama-Nya.”[57] Ketaatan itu hakikatnya tidaklah bebas. Ia adalah ketaatan yang diperlukan. Ia sama perlunya, sebagaimana dalam komunitas lain yang dibentuk dan tertata dengan baik. Ini jelas dari peringatan Kristus: “Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan, tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum.”[58]

Keharusan yang sama juga muncul dalam surat St. Paulus: “Kami mematahkan setiap siasat orang dan merubuhkan setiap kubu yang dibangun oleh keangkuhan manusia untuk menentang pengenalan akan Allah. Kami menawan segala pikiran dan menaklukkannya kepada Kristus.”[59] Bagi orang Ibrani yang bertobat, Rasul yang sama menulis: “Taatilah pemimpin-pemimpinmu dan tunduklah kepada mereka, sebab mereka berjaga-jaga atas jiwamu, sebagai orang-orang yang harus bertanggung jawab atasnya.”[60]

Ketaatan kepada Para Rasul, dan seperti yang akan kita lihat kemudian, kepada otoritas Gerejawi selalu dianggap sebagai keharusan di dalam Gereja. Gereja tidak ada tanpanya, ia juga tidak bisa ada tanpa kepatuhan kepada mereka, yang telah ditempatkan Roh Kudus “untuk menggembalakan jemaat Allah.”[61]


[1] Luk 22:19.

[2] Cavagnis II, C. I, N. 1.

[3] Cavagnis II, C. I, N. 3.

[4] Agustinus, Contra Manich, C. IV.

[5] Yoh 10:16.

[6] Ef 4:5.

[7] Mat 24:35.

[8] Rm 12:3.

[9] Lih. Gal 1:8-9.

[10] Yoh 20:30-31.

[11] Mat 24:34

[12] Yoh 1:48.

[13] Yoh 2:25.

[14] Mzm 72.

[15] Yes 9:6.

[16] Luk 2:13-14.

[17] Luk 2:47.

[18] Fil 2:5-11.

[19] Mat 27:54.

[20] Yoh 2:19.

[21] 1 Kor 15:17.

[22] 1 Kor 15:4-14.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar