Mengasihi Sesama

Mengasihi Sesama
Ibu Theresa dari Calcuta

Kamis, 16 Juni 2022

KONSILI YAMNIA TAK PERNAH TERJADI

 KONSILI YAMNIA TAK PERNAH TERJADI

Oleh : Steve Ray
Kebanyakan mitos dipercayai bukan karena mitos-mitos tersebut benar tapi sekedar karena orang ingin mempercayainya. Tapi angan-angan bukan pengganti suatu kebenaran. Selalu lebih baik untuk menggali lebih dalam dan menemukan fakta-faktanya dan tidak mempercayai sesuatu hanya karena engkau menghendaki agar itu menjadi kebenaran.
Sebagai contoh, cukup populer dalam kalangan Protestant tertentu untuk mengklaim bahwa orang Yahudi mempunyai kanon Kitab Suci yang telah ditutup pada abad pertama, dan bahwa umat Kristen awal menerima koleksi Yahudi yang final atas tulisan-tulisan terilhami tersebut sebagai [keputusan yang juga] final dan mengikat Gereja. Umumnya, Konsili Jabneh (biasanya disebut literatur Katolik sebagai Yamnia) diasumsikan sebagai "bukti" atas klaim ini. Pada "Konsili Jabneh," para Rabi Yahudi, dikatakan berkumpul—seperti konsili ekumenis di Gereja Katolik—untuk menetapkan kriteria spesifik bagi Kitab Suci yang terilhami dan pada akhirnya mendefinisikan dan menutup kanon Perjanjian Lama.
Apakah ini benar? Pertama-tama, kita akan melihat bagaimana berbagai penulis mempertahankan pengecualian Protestan atas tujuh buku [ie. Deuterokanonika] yang didasarkan atas pemahaman yang cacat atas apa yang disebut "Konsili Jabneh." Kedua, apakah anggota-anggota "konsili" ini benar-benar mendiskusikan batasan kanon Perjanjian Lama, dan ketiga, kalau memang begitu, apakah mereka mempunyai otoritas untuk menutup kanon? Keempat, apakah mereka benar-benar mengkompilasi sebuah daftar final mengenai tulisan-tulisan yang diakui, dan, kelima—dan yang penting—bila keputusan semacam itu telah dibuat, apakah umat Kristen terikat oleh keputusan itu? Kita akan mengakhiri dengan ajaran Gereja Katolik dan mengapa kita bisa mempercayai [ajaran tersebut].
Mari mengklarifikasi beberapa istilah. [Yang dimaksud] kanon Kitab Suci adalah koleksi final dari buku-buku terilhami yang dimasukkan dalam Alkitab. Alkitab Katolik mengandung tujuh buku yang tidak tampak di Perjanjian Lama Protestan. Tujuh tulisan ini disebut sebagai Deuterokanonika atau Kanon Kedua [catatan DeusVult: "deuterokanonika" = "kanon tambahan." Disebut "tambahan" karena baru diterima belakangan.
Perjanjian Baru pun mempunyai buku-buku yang diterima belakangan alias "deuterokanonika," yaitu surat Yohanes, Surat Yakobus, Surat kepada umat Ibrani dan Wahyu]. Protestan biasanya menyebut tujuh tulisan ini Apokripha (yang berarti tersembunyi), buku-buku yang menurut mereka berada diluar kanon. Termasuk didalam tujuh tulisan ini adalah Makabe 1 dan 2, Tobit, Yudit, Sirakh, Kebijaksanaan Salomo, dan Barukh, dan juga tambahan-tambahan untuk Daniel dan Ester. Sebelum jaman Kristus, tulisan-tulisan ini dimasukkan dalam Septuaginta Yunani para Yahudi (disebut juga LXX)—yaitu terjemahan Yunani atas Kitab Suci Yahudi—namun [tujuh buku dan tambahan-tambahan tersebut] tidak diikutkan dalam teks Masoretic Ibrani. [catatan DeusVult: Septuaginta tidak hanya mengandung tambahan deuterokanonika saja tapi juga buku-buku lain seperti Makabe III, Makabe IV dan lain-lain. Buku-buku lain tersebut dinilai oleh Gereja Katolik sebagai bukan bagian kanon PL meskipun baik untuk dibaca]
KANON YAHUDI
Kebanyakan orang Yahudi pada abad pertama sebelum masehi dan abad pertama sesudah masehi tinggal diluar Israel. Mereka disebut diaspora, [yang artinya] mereka yang tersebar di semerata Kekaisaran Roma. Banyak dari mereka telah ter-Hellenisasi—maksudnya, mereka telah mengasimilasi budaya Greco-Romano, termasuk bahasa Yunani. Septuaginta, yang mengandung buku-buku deuterokanonika, adalah Alkitab utama yang digunakan para umat Yahudi diaspora ini.
Kebanyakan umat Yahudi non-Kristen di abad pertama menganggap Gereja sebagai suatu sekte Yahudi yang bídát dan keliru, mungkin mirip dengan bagaimana umat Kristen menganggap Mormon atau saksi Yehuwa jaman sekarang ini. Pada abad pertama, beberapa dekade setelah kehidupan Kristus, mayoritas umat Kristen berasal dari kalangan non-Yahudi, dan mereka menggunakan Septuaginta Yunani sebagai Perjanjian Lama mereka, mengikuti contoh umat Yahudi berbahasa Yunani, termasuk Yesus dan para rasul.
Ketika umat Kristen mulai menggunakan terjemahan Yunani ini untuk mempertobatkan orang-orang Yahudi ke iman [Kristen], para Yahudi mulai merasa jijik dengan terjemahan tersebut. Apakah mengejutkan siapapun kalau mereka kemudian mengutuk kanon dan terjemahan yang digunakan umat Kristen, bahkan kalaupun [kanon dan terjemahan tersebut] pada awalnya diterjemahkan, diakui, dan disebarkan oleh para Yahudi sendiri tiga ratus lima puluh tahun sebelumnya (c. 250 B.C.)? Gereja awal, yang mengikuti Septuaginta Yunani dan [mengikuti teladan] para rasul yang menggunakan [Septuaginta Yunani tersebut] (Paulus mengambil kebanyakan kutipan Perjanjian Lama dari [Septuaginta Yunani]), menerima kitab-kitab deuterokanonika. Ketika kanon secara resmi ditutup oleh konsili-konsili Gereja Katolik, buku-buku ini telah dimasukkan.
Apa yang disebut "Konsili Jabneh" adalah sekelompok pelajar Yahudi yang diberi ijin oleh Roma pada sekitar tahun 90 untuk bertemu di Palestina didekat Laut Mediterania di Jabneh (Yamnia). Di sini mereka mengadakan sebuah Sanhedrin [catatan DeusVult: semacam konsili atau mahkamah Yahudi] yang tidak otoritatif dan "reconstituted". Di antara hal-hal yang mereka diskusikan adalah kejelasan status dari beberapa tulisan-tulisan yang ada di Alkitab Yahudi. Mereka juga menolak tulisan-tulisan Kristen dan membuat sebuah terjemahan baru dari Septuaginta Yunani.
Karena banyak penulis Protestant yang merujuk kepada "Konsili Jabneh" sebagai argumen melawan buku-buku deuterokanonika yang terdapat di Alkitab Katolik, maka baiklah bagi kita untuk melihat beberapa contoh [dari rujukan para penulis Protestant terhadap konsili tersebut].
Dalam buku populernya Roman Catholics and Evangelicals: Agreements and Differences (ditulis bersama Ralph MacKenzie [Baker Books, 1995]), Norman Geisler, dekan dari Southern Evangelical Seminary, menolak kanon Perjanjian Lama Katolik dan mengklaim bahwa rabbi-rabbi Yahudi di Jabneh mengecualikan buku-buku deuterokanonika yang diterima umat Katolik dan mengklaim bahwa kanon ditetapkan (difinalisasi) di Jabneh.
Geisler menulis, "Para pelajar Yahudi di Jabneh (sekitar A.D. 90) tidak menerima Apokripha [ie. deuterokanonika] sebagai bagian dari kanon Yahudi yang diilhami Allah. Karena Perjanjian Lama secara eksplisit menyatakan bahwa kepada Israel dipercayakan firman Allah dan Israel adalah penerima perjanjian-perjanjian [covenants] dan Hukum (Rom 3:2), para Yahudi harus dianggap sebagai penjaga dari batasan kanon mereka sendiri. Dan mereka selalu menolak Apokripha [ie. deuterokanonika]" (169). Dan meskipun Geisler tampaknya menolak otoritas para rabbi di Jabneh di bukunya yang lain A General Introduction to the Bible (dengan W. E. Nix [Moody Press, 1996]), dia kemudian menuliskan dalam sebuah diagram, "Konsili Jabneh (A.D. 90), Kanon Perjanjian Lama ditetapkan".
Geisler tidak sendirian dalam menilai bahwa pada Konsili Jabneh Apokripha ditolak dan Kanon Perjanjian Lama ditetapkan. Penilaian tersebut tampaknya bagai suatu legenda umum yang digunakan sebagai "bukti" untuk menguatkan sebuah asumsi ahistoris dan keliru. Sebelum kita melihat mitos tersebut, kita akan menunjukkan bagaimana mitos tersebut selalu dirujuk. Beberapa contoh akan rujukan yang dibuat pada "Konsili Jabneh" akan mencukupi:
"Pada akhir abad Kristen pertama, para rabbi Yahudi, pada Konsili Gamnia [Yamnia], menutup kanon buku Ibrani yang dipandang otoritatif" (Jimmy Swaggart, Catholicism & Christianity [Jimmy Swaggart Ministries, 1986], 129).
"Setelah kehancuran Yerusalem, Yamnia menjadi tempat bagi salah satu Sanhedrin Agung. Pada sekitar [tahun] 100, sebuah konsili para rabbi di tempat tersebut menetapkan kanon final Perjanjian Lama" (Ed. Martin, Ralph P., dan Peter H. Davids, Dictionary of the Later New Testament and Its Developments [InterVarsity Press, 2000, c1997], 185).
Meskipun banyak penulis Protestant sekarang yang mengakui bahwa Jabneh tidak mengecualikan buku-buku deuteokanonika atau secara otoritatif menutup kanon Perjanjian Lama, masih banyak sumber-sumber yang mengklaim dan mengasumsikan bahwa hal tersebut dilakukan pada Konsili Jabneh.
Apakah Jabneh punya otoritas?
Menurut Oxford Dictionary of the Christian Church, "konsili" di Jabneh pada tahu 90 bahkan bukanlah suatu konsili "resmi" dengan otoritas mengikat untuk membuat keputusan seperti itu [ie. menetapkan kanon bagi umat Yahudi]:
"Setelah kehancuran Yerusalem (A.D.70), sebuah perserikatan guru-guru agama didirikan di Jabneh; badan ini dianggap menggantikan Sanhedrin, meskipun tidak memiliki karakter perwakilan atau otoritas nasional. Tampaknya salah satu subyek yang didiskusikan diantara para rabbi adalah status dari buku-buku Alkitab tertentu (sebagai contoh, Pengkhotbah dan Kidung Agung) yang kanonnya masih terbuka untuk dipertanyakan pada abad pertama. Pandangan bahwa pada sinode Jabneh tertentu, yang diadakan sekitar 100 AD, yang dengan final menetapkan batasan-batasan dari kanon Perjanjian Lama, diutarakan oleh H.E. Tyle; meskipun pandangan tersebut beredar luas, tidak ada bukti yang meneguhkannya" (ed. oleh F. L. Cross dan E. A. Livingston [Oxford Univ. Press, 861], penekanan ditambahkan).
Bukankah menarik bahwa orang Yahudi tidak memiliki sebuah "kanon tertutup" Kitab Suci pada jaman Kristus, [atau] sebelum tahun 100, atau bahkan setelah Jabneh? Bahkan selama jaman Kristus ada pandangan-pandangan yang bersaingan mengenai buku-buku apa yang ada. Para Saduki dan Samaria menerima hanya Pentateukh, lima buku pertama, sementara Farisi menerima kanon yang lebih lengkap termasuk Mazmur dan tulisan-tulisan para nabi. Teks Masoretic tidak mengandung Deuterokanonika, sementara Septuaginta Yunani yang lebih luas dipakai mengandung Deuterokanonika.
Ketidakpastian ini berlanjut sampai abad kedua. Diskusi mengenai buku-buku di kanon Perjanjian Lama berlangsung diantara orang Yahudi jauh setelah Jabneh, di mana hal ini menunjukkan bahwa kanon masih didiskusikan di abad ketiga—jauh setelah periode apostolik. Tantangan yang dibahas pada Jabneh hanya mengenai Pengkhotbah dan Kidung Agung, tapi debat mengenai kanon Perjanjian Lama terus berlangsung sesudah Jabneh, bahkan sampai abad kedua dan ketiga. Bahkan kanon Ibrani yang diterima Protestan sekarang ini diperselisihkan oleh para Yahudi selama dua ratus tahun setelah Kristus.
Beberapa point yang harus diperhatikan:
1. Meskipun penulis-penulis Kristen sepertinya mengira bahwa ada sebuah konsili formal di Jabneh, sebenarnya tidak ada yang seperti itu. Adalah satu sekolah untuk mempelajari Hukum [Taurat] di Jabneh, dan para rabbi disana melakukan fungsi-fungsi legal dalam komunitas Yahudi.
2. Bukan hanya tidak pernah ada suatu konsili formal, tidak ada pula bukti adanya daftar kitab apapun yang dihasilkan di Jabneh.
3. Suatu diskusi spesifik mengenai penerimaan di Jabneh hanyalah penerimaan atas kitab Pengkhotbah dan Kidung Agung. Meskipun begitu, argumen mengenai status penerimaan buku-buku tersebut masih terus berlanjut di Yudaisme berabad-abad setelah periode Jabneh. Juga ada perdebatan-perdebatan lanjutan mengenai Kitab Ester.
4. Kita tahu bahwa tidak satupun buku dikecualikan di Jabneh. Bahkan, Sirakh, yang dibaca dan dikopi oleh para Yahudi setelah periode Jabneh, lama-lama tidak menjadi bagian dari Alkitab Ibrani (cf. Raymond Edward Brown, Joseph A. Fitzmyer, and Roland Edmund Murphy, The Jerome Biblical Commentary [Prentice-Hall, 1996, c. 1968], vol. 2, 522).
MENGAPA GEREJA MENOLAK KANON YAHUDI
Kalaupun para rabbi di Jabneh memang mempunyai otoritas untuk menetapkan kanon dan memang telah menutup kanon. Siapa yang bisa berkata bahwa mereka punya otoritas dari Allah untuk membuat ketetapan yang mengikat tersebut? Mengapa umat Kristen mesti menerima ketetapan mereka? Allah telah secara publik berpaling dari orang-orang Yahudi sebagai "suara kenabian"-Nya dua puluh tahun sebelum Jabneh ketika Yerusalem dihancurkan dan dibakar api. Allah menghakimi mereka dan menolak kantong-kantong kulit yang tua [bdk.Mat 9:17]. Anggur tua dan kantongnya (Yudaisme) sekarang telah diganti dengan anggur baru (Injil) dan kantong-kantong baru (Gereja). Kenapa malah menerima ketetapan para rabbi yang tidak memiliki hierarkhi atas Israel baru—[yaitu] Gereja? Allah melalui Putra-Nya sudah memindahkan kepada magisterium baru ini kuasa untuk mengikat dan melepas (Matt. 16:19; 18:18). Gereja, karenanya, ditunjuk untuk berbicara bagi Allah, dan kanon final Kitab Suci termasuk dalam otoritas [Gereja].
Penulis Protestan Paul Achtemeier memberitahu kita, "tradisi Timur dan Katolik Roma umumnya menganggap buku-buku 'apokripha' Perjanjian Lama sebagai bagian dari kanon. Baru setelah munculnya Reformasi Protestantisme buku-buku tersebut ditolak status kanonikalnya di lingkungan Protestan. Namun Gereja Roma tetap meneguhkan tempat buku-buku tersebut di kanon Kitab Suci" (Harper’s Bible Dictionary, 1st ed. [Harper & Row, c1985], 69).
Pada Konsili Trente Gereja menyelesaikan masalah tersebut dengan mendaftarkan secara definitif buku-buku yang diterima, termasuk Deuterokanonika, dan Katekismus Gereja Katolik meneguhkan daftar ini (KGK 120). Inilah Alkitab Katolik yang kita punyai saat ini.
Tidakkah menarik bahwa Martin Luther mengakui Gereja Katolik sebagai penjaga Kitab Suci ketika dia menulis, "Kita mengakui—sebagaimana kita harus—bahwa banyak yang mereka [Gereja Katolik] katakan adalah benar: [yaitu] bahwa kepausan memiliki firman Allah dan jabatan para rasul, dan bahwa kita menerima kitab suci, baptisan, sakramen, dan mimbar dari mereka. Apa yang kita ketahui akan semua ini kalau tidak berkat mereka."

Tidak ada komentar:

Posting Komentar