Mengasihi Sesama

Mengasihi Sesama
Ibu Theresa dari Calcuta

Rabu, 23 Januari 2019

SEJARAH SKISMA KATOLIK ROMA DENGAN ORTHODOKS DARI SISI KATOLIK

Saat ini saya sedang mengikuti diskusi antara katolik dan orthodoks, saya ingat-ingat rasanya saya pernah copas tulisan Deusvult di www.ekaristi.org Jadi saya merasa terdorong untuk membagikannya di sini, kalau mau lengkap sialakan search di ekaristi org saja.

Semoga bermanfaat ....

Berikut adalah terjemahan dari Catholic Encyclopedia: Eastern Schism 
Nanti dibawah aku akan juga terjemahkan detail kejadian seputar skisma Photius dan Michael Caerularius yang merupakan dua peristiwa yang sangat mempengaruhi Skisma Timur ini. 

Skisma Timur 
Sejak masa Diotrephes (3Yoh 1:9-10) telah terjadi skisma-skisma secara berkelanjutan, yang paling banyak adalah di Timur. Arianisme menyebabkan sebuah skisma yang besar; skisma pihak Nestorian dan Monophysite masih berlangsung. Namun yang dimaksudkan "Skisma Timur" biasanya adalah pertikaian memprihatinkan yang menimbulkan perpisahan dengan kebanyakan umat Kristen Timur, skisma yang memunculkan Gereja yang terpisah yang disebut "Gereja Orthodok." 

I. PERSIAPAN YANG LAMA BAGI TERJADINYA SKISMA 
Skisma Timur tidak bisa dianggap sebagai akibat dari satu buah pertikaian. Tidaklah benar bahwa setelah perdamaian sempurna berabad-abad, lalu karena satu perselisihan, hampir setengah kekristenan jatuh. Peristiwa seperti itu pastilah tidak ada duanya dalam sejarah, kecuali ada suatu bidaah besar. Sementara pada perselisihan yang menimbulkan Skisma Timur, pada awalnya tidak ada ke-bidaah-an dalam pertikaian yang terjadi, ataupun ada ketidaksetujuan yang tak ada harapan untuk terselesaikan mengenai Iman. Kasusnya adalah sebuah skisma murni, sebuah perpecahan persekutuan bersama yang diakibatkan oleh kemarahan dan perasaan tidak suka, bukan karena teologi yang berlawanan. Jikalau sebelumnya semua baik-baik saja maka tidaklah mungkin kalau ratusan uskup tiba-tiba memecahkan diri dari persekutuan dengan kepala mereka. Skisma besar tersebut (ie. Skisma Timur) adalah buah dari proses yang gradual [catatan DeusVult: "gradual" = "meningkat atau bertambah dengan derajat yang reguler dan secara terus menerus"]. Penyebab awalnya harus dicari berabad-abad sebelum ada kecurigaan akan terjadinya skisma. Ada sejumlah skisma sementara yang mengendorkan ikatan persekutuan dan mempersiapkan jalan bagi terjadinya Skisma Timur. Dua perpecahan besar (dilakukan Photius dan Michael Caerularius) yang diingat sebagai asal-muasal dari keadaan sekarang ini, telah telah diperbaiki setelah kejadiannya. Secara lebih tepat skisma yang terjadi pada saat ini bisa dilacak saat pihak Timur menolak Konsili Florence pada 1472. Jadi, meskipun nama Photius dan Caerularius memang dapat dikaitkan dengan bencana skisma, karena pertikaian dengan keduanya merupakan unsur utama dari cerita mengenai Skisma Timur, namun tidak boleh dipikirkan bahwa mereka adalah penyebab skisma satu-satunya ataupun penyebab skisma yang pertama-tama. Kalau kita mengelompokkan cerita mengenai asal-muasal Skisma Timur dengan memulai dari masa Photius dan masa Caerularius maka kita harus menjelaskan penyebab-penyebab awal yang mempersiapkan terjadinya peristiwa tersebut (ie. peristiwa yang berkenaan dengan Photius dan peristiwa yang berkenaan dengan Caerularius), dan kita harus mencatat bahwa setelah terjadinya kedua peristiwa tersebut ada kesatuan sementara. 

Penyebab awal dari semuanya adalah pengasingan gradual antara Timur dan Barat. Secara pokok pengasingan ini tidak terelakkan. Masyarakat Timur dan Barat mengelompokkan diri kepada dua pusat yang berbeda sebagai pusat langsung. Mereka menggunakan ritus yang berbeda dan mempunyai bahasa yang berbeda. Kita harus membedakan posisi Paus sebagai seorang kepala kasat mata atas seluruh kekristenan dari tempatnya sebagai Patriakh Barat. Posisi tersebut dan pendapat bahwa semua uskup setara dalam jurisdiksi adalah dua hal yang sama sekali tidak diketahui pada masa Gereja awal. Sejak awal kita menemukan sebuah hierarkhi ber-gradual dari Uskup-uskup metropolitan [sekarang disebut "Uskup Agung"], exarches [bentuk plural dari "exarch" yang berarti metropolitan alias Uskup Agung yang yurisdiksinya melampaui keuskupannya] dan primat [yaitu uskup yang mempunyai otoritas superior tidak hanya atas uskup-uskup dalam provinsinya, seperti yang dipunyai seorang metropolitan alias Uskup Agung, tapi juga otoritas atas beberapa provinsi dan beberapa metropolitan]. Kita sejak awal kita menemukan gagasan bahwa seorang uskup mewarisi kewibawaan pendiri tahtanya, sehingga uskup yang merupakan pengganti Rasul mempunyai hak dan keistimewaan khusus [ie. privilege]. Adanya hirarkhi yang gradual ini penting untuk menjelaskan posisi Paus. Dia bukanlah superior langsung dari setiap uskup; dia adalah kepala dari sebuah organisasi kompleks dan detail, bagaikan puncak dari sebuah pyramid yang bersusun meruncing. Pemikiran umat Kristen awal adalah bahwa para patriakh adalah kepala-kepala kekristenan; lalu lebih lanjut para umat Kristen tahu bahwa kepala Patriakh berada di Roma. Namun kepala langsung tiap-tiap Gereja adalah para Patriakh. Setelah Konsili Chalcedon (451) kita harus menghitung lima ke-patriakh-an: Roma, Constantinople, Alexandria, Antiokia dan Yerusalem.

Perbedaan antara Timur dan Barat, pertama-tamanya, adalah bahwa Paus di Barat bukan hanya kepala imam tertinggi, tapi juga patriakh local. Bagi umat Kristen Timur dia adalah seorang otoritas yang jauh dan asing, tempat banding terakhir bagi pertanyaan-pertanyaan serius, setelah patriakh-patriakh mereka sendiri tidak mampu menjawabnya. Namun bagi umat Latin di Barat, dia adalah kepala langsung, otoritas langsung atas metropolitan-metropolitan [ie.uskup agung – uskup agung] mereka, banding pertama dari uskup-uskup mereka. Sehingga semua kesetiaan di Barat langsung menuju ke Roma. Roma adalah Bunda Gereja dalam banyak artian, adalah karena misionaris yang dikirim dari Romalah Gereja-Gereja local Barat didirikan. Sebaliknya kesetiaan umat Kristen Timur pertama-tama mengarah ke patriakh mereka sendiri, sehingga selalu ada bahaya terbaginya rasa kesetiaan kalau sang patriakh bertikai dengan Paus. Hal ini tidak terjadi di Barat. Oleh karena itu, kejatuhan dari ratusan uskup Timur, kejatuhan jutaan umat Kristen sederhana, bisa dilacak oleh skisma yang dilakukan para patriakh. Bila keempat patriakh Timur menyetujui suatu tindakan maka bisa disimpulkan bahwa metropolitan-metropolitan [ie. uskup agung - uskup agung] dan uskup-uskup mereka akan mengikuti para patriakh dan bahwa romo-romo dan umat-umat akan mengikuti uskup-uskup mereka. Jadi organisasi Gereja, dalam satu cara, telah mempersiapkan landasan bagi sebuah kontras (yang mungkin akan menjadi suatu rivalitas) antara patriak pertama di Barat bersama dengan pengikut Latinnya yang luas, dan dengan para Patriakh Timur dengan pengikut mereka.

Hal lebih lanjut yang patut diketahui adalah perbedaan ritus dan bahasa. Masalah ritus mengikut kepada suatu ke-patriakh-an, dan hal ini menciptakan suatu perbedaan yang dengan mudah dipahami oleh umat Kristen sederhana. Seorang awam Syria, Yunani atau Mesir mungkin tidak memahami mengenai hukum kanon yang berkenaan dengan para patriakh, namun dia tidak mungkin tidak menyadari bahwa seorang uskup atau romo Latin yang kebetulan sedang bepergian merayakan Misteri Kudus dalam cara yang sangat aneh, dan kemudian me-label uskup/romo latin tersebut sebagai orang asing (yang mungkin mencurigakan). Sementara itu di Barat, Ritus Roma pertama-tama mempengaruhi [peribadatan umat], lalu kemudian menggantikannya. Sementara di Timur secara gradual terjadi hal yang sama berkenaan dengan Ritus Byzantine.. Jadi kita punya bibit atas dua kesatuan. Tidak diragukan lagi kedua belah pihak paham bahwa ritus yang lain merupakan cara yang sah dalam merayakan misteri yang sama, namun perbedaan yang ada membuat sulit pengucapan doa bersama. Kita melihat bahwa perkara ini merupakan sebuah perkara yang penting dalam sejumlah tuduhan yang berkenaan dengan masalah-masalah ritual yang diajukan oleh Caerularius ketika dia mencari-cari dasar untuk pertikaian

Bahkan detail atas bahasa merupakan sebuah unsur penyebab perpisahan [antara Barat dan Timur]. Memang benar bahwa Timur tidak pernah seluruhnya terpengaruh budaya hellenistik sebagaimana Barat pun tidak pernah sepenuhnya terpengaruh budaya Latin. Meskipun demikian, Yunani memang telah menjadi bahasa internasional di Timur. Pada konsili-konsili di Timur semua uskup berbicara bahasa Yunani. Jadi sekali lagi kita mempunyai dua kesatuan dalam hal bahasa — Yunani bagi Timur dan Latin bagi Barat. Sulit untuk membayangkan bagaimana detail mengenai bahasa ini menjadi sebuah sebab dari pengasingan, namun memang tidak diragukan lagi banyak kesalahpahaman timbul dan berkembang hanya karena orang-orang tidak bisa memahami satu sama lain. Karena saat perselisihan-perselishan ini timbul, masih sangat sedikit orang yang mampu berbahasa asing. Baru ketika jaman Renaissance timbul-lah masa dimana tata bahasa dan kamus-kamus yang mempermudah [pembelajaran bahasa asing]. St Gregorius I (d. 1604) merupakan seorang duta kepausan di Constantinople, namun tampaknya dia tidak mempelajari bahasa Yunani; Paus Vigilius (540-55) menghabiskan delapan tahun yang tak bahagia di Constantinople namun dia tidak pernah belajar bahasa Yunani. Photius merupakan seorang pelajar dengan pengetahuan mendalam pada jamannya, namun dia tidak paham Latin. Ketika Leo IX (memerintah 1048-54) menulis dalam bahasa Latin kepada Peter III dari Antiokia, Peter III terpaksa menyerahkan surat tersebut ke Constantinople untuk mengetahui isinya. Kasus-kasus tersebut terjadi secara berkelanjutan dan membingungkan semua hubungan Timur dan Barat. Pada konsili-konsili, duta-duta kepausan memberi sambutan kepada para bapa konsili dalam bahasa Latin dan tidak seorang pun yang memahami mereka; ketika konsili berjalan dengan menggunakan bahasa Yunani sebagai bahasa pengantar, para duta kepausan pun bertanya-tanya apa yang terjadi. Jadi muncul kecurigaan dari kedua belah pihak. Penerjemah terpaksa dipanggil; namun apakah versi mereka bisa dipercaya? Kaum Latin, khususnya, punya kecurigaan yang sangat dalam atas rancangan kaum yunani dalam perkara ini. Para duta diminta untuk menandatangani dokumen yang mereka sendiri tidak paham atas dasar jaminan bahwa tidak ada satupun [dalam dokumen tersebut] yang mengkompromi [posisi kepausan]. Dan hal-hal kecil membuat begitu banyak perbedaan. Contoh yang paling terkenal, bertahun-tahun kemudian, adalah dekrit [Konsili ekumenis] Florence dan bentuk-bentuk kath on tropon, quemadmodum, menunjukkan seberapa banyak kebingungan yang bisa disebabkan oleh penggunaan dua bahasa

Gabungan penyebab-penyebab tersebut menghasilkan dua bagian kekristenan, Timur satu bagian dan Barat satu bagian. Masing-masing terbedakan dari yang lainnya dalam banyak cara. Penyebab-penyebab tersebut memang tidaklah cukup untuk [dijadikan penyebab] atas perpecahan dua bagian tersebut; hanya saja, yang bisa kita catat adalah adanya suatu kesadaran akan keberadaan dua entitas, tertorehkannya suatu garis batas untuk pertama kali, dimana rivalitas, kecemburuan, kebencian bisa dengan mudah memotong tepat digaris batas kedua pihak. 


II. PENYEBAB PENGASINGAN 

Rivalitas dan kebencian muncul karena beberapa sebab. Tidak diragukan lagi sebab pertama, dan merupakan akar dari semua pertikaian, adalah kenaikan posisi Tahta Constantinople. Kita sering melihat bagaimana empat ke-patriakh-an Timur, dalam batasan tertentu, dikontraskan dengan kesatuan tunggal Barat. Kalau saja tetap ada kesatuan seperti itu di Timur, maka masalah yang lebih jauh tidaklah perlu terjadi. Apa yang memperkuat ke-kontras-an [antara empat ke-patriakh-an Timur dan satu ke-patriakh-an Barat] dan yang membuatnya menjadi sebuah rivalitas adalah kenaikan secara gradual otoritas Patriakh Constantinople atas ketiga ke-patriakh-an lainnya. Adalah Constantinople yang mengikat Timur menjadi satu tubuh, menyatukannya melawan Barat. Adalah upaya terus menerus Patriakh sang kaisar [ie. Pariakh Constantinople] untuk menjadi semacam paus Timur, sehingga menjadi sederajat mungkin dengan [Paus Roma], yang merupakan sumber sejati dari semua masalah.. Pada satu sisi, kesatuan [Gereja Timur] dibawah Constantinople telah membuat semacam Gereja rival yang bisa ber-oposisi dengan Roma; di sisi lain, [dalam seluruh upaya] sang Uskup Byzantine [untuk memajukan posisi Contantinople], mereka menemukan hanya satu penghalang nyata, yaitu oposisi terus menerus dari para Paus. Sementara itu sang kaisar adalah teman dan sekutu utama mereka selalu. Dan memang kebijakan sentralisasi kaisar yang menjadi penyebab bagi rancangan untuk menjadikan Tahta Constantinople sebagai suatu pusat. Patriakh-patriakh lain yang posisinya diubah bukanlah lawan yang berbahaya. Dilemahkan oleh pertikaian berkenaan dengan bidah monophysite yang tak berhenti, kehilangan kebanyakan gembala jagaan, lalu kemudian dibuat berada dalam kondisi tanpa pengharapan oleh karena penaklukan Moslem, uskup-uskup Aleksandria dan Antiokia tidak dapat mencegah tumbuhnya Constantinople. Dan memang lambat laun mereka kemudian menerima degredasi [posisi] mereka dengan rela dan menjadi ornament tak bergerak di Istana Patriakh yang baru. Yerusalem pun dihantam oleh skisma-skisma dan Moslem, dan Yerusalem adalah sebuah ke-patriakh-an baru yang hanya mempunyai hak-hak yang paling kecil dari kelima ke-patriarkh-an.

Di sisi lain, dalam setiap langkah kedepan Constantinople, selalu ada oposisi dari Roma. Ketika tahta baru tersebut [ie.Constantinople] mendapatkan kehormatan titular [ie. dalam namanya saja] pada Konsili Pertama Constantinople (381, kanon 3), Roma menolak menerima kanon tersebut (ketika itu Roma tidak terwakili di konsili tersebut[Constantinople I tahun 381 pada awalnya adalah sekedar konsili local Timur yang bahkan tidak dihadiri semua pihak Timur sendiri]; ketika konsili ekumenis chalcedon pada 451 menjadikan Constantinople sebagai ke-patriakh-an sejati (kanon 28) para duta dan Paus sendiri menolak untuk mengakui apa yang telah dilakukan [catatan DeusVult: ini karena keputusan untuk mengesahkan kanon tersebut dilakukan setelah para duta kepausan meninggalkan konsili untuk kembali menuju Roma]; saat sang penerus dari para uskup sufragan yang dulunya mematuhi Heraclea [Constantinople dulunya memang tahta sufragan dibawah Heraclea], yang begitu teracuni oleh kenaikan posisinya, mengambil gelar "patriakh ekumenis," lagi-lagi Paus Roma Kuno yang dengan tegas mengecam kesombongan mereka. Oleh karena itu kita bisa memahami rasa iri dan kebencian dalam pikiran sang patriakh baru [ie. Patriakh Constantinople] sampai-sampai mereka bersedia untuk menghempaskan sepenuhnya suatu otoritas yang selalu berada dihadapan setiap langkah mereka. Fakta bahwa pihak-pihak Timur lainnya bergabung dengan mereka [ie. para Patriakh Constantinople] merupakan buah dari otoritas yang berhasil mereka ambil alih dari uskup-uskup Timur lainnya. Jadi kita tiba pada pertimbangan penting dalam permasalahan ini. Skisma Timur bukanlah sebuah gerakan yang muncul di seluruh Timur; skisma Timur bukanlah sebuah pertikaian antara dua institusi besar; Skisma Timur secara esensial adalah pemberontakan satu tahta, yaitu Constantinople, yang berkat perlakuan kaisar kepadanya sebagai anak emas, berhasil mendapatkan suatu pengaruh yang besar sehingga berkat pengaruh itu Constantinople mampu menggeret para patriakh lain [yang tak senang dengan pengeretan tersebut] kedalam skisma. 

Kita telah melihat bagaimana sufragan-sufragan dari para patriakh secara alami akan mengikuti kepala mereka. Kalau saja Constantinople berdiri sendiri maka skisma yang dilakukannya hanya akan menimbulkan pengaruh yang relatif kecil. Apa yang membuat situasi menjadi begitu serius adalah fakta bahwa pihak Timur lain pada akhirnya bergabung bersamanya. Ini dikarenakan upaya Constantinople yang sangat sukses dalam menempatkan diri sebagai kepala Tahta di Timur. Jadi tindakan menaikkan posisi yang dilakukan Constantinople secara tak diragukan lagi adalah penyebab dari skisma besar tersebut [ie. Skisma Timur]. Tindakan tersebut membuatnya berkonflik dengan Roma dan membuat sang patriakh Byzantine [ie. Patriakh Constantinople] hampir secara tak terelakkan menjadi musuh Paus; dan pada saat yang sama [kenaikan posisi tersebut] membuatnya berada dalam suatu posisi dimana kebenciannya berarti kebencian seluruh pihak Timur. 

Atas apa yang terjadi, kita harus ingat bagaimana sepenuhnya tidak berdasar, benar-benar baru [ie. tidak pernah ada sebelumnya], dan tidak kanonik upaya Constantinople untuk meningkatkan statusnya. Tahta Constantinople bukanlah tahta apostolik, tidak mempunyai tradisi mulia, tidak punya alasan apapun atas pengambilalihannya atas posisi pertama di Timur, dimana pengambilalihan tersebut hanyalah akibat sampingan dari kegiatan politik sekuler. Uskup histories pertama dari Byzantium [ie. Constantinople] adalah Metrophanes (312-25); dia bahkan bukan seorang metropolitan [ie. uskup agung], rankingnya adalah ranking terendah yang bisa dimiliki seorang uskup dari sebuah keuskupan, seorang sufragan dari Heraclea. Hanya itulah seharusnya yang bisa dijabat oleh para penerusnya. Para penerusnya seharusnya tidak memiliki kuasa untuk mempengaruhi siapapun kalau saja kaisar Constantin tidak memilih kota mereka sebagai ibukotanya. Selama perkembangan [statusnya] para uskup Constantinople tidak menyembunyikan diri dalam mendasarkan klaim mereka tidak pada dasar apapun kecuali pada fakta bahwa mereka sekarang adalah uskup dari ibukota negara. Adalah sebagai uskup-uskup kekaisaran, sebagai fungsionaris istana kekaisaran, mereka ini naik kepada tempat kedua di ke-kristen-an. Legenda mengenai St. Andreas yang mendirikan tahta mereka adalah pemikiran yang muncul jauh kemudian; pemikiran tersebut sekarang ditinggalkan semua ahli. Klaim Constantinople sejujurnya adalah klaim yang sangat Erastian [ie.pandangan bahwa Gereja harus tunduk kepada negara], yaitu kalau Caesar bisa mendirikan ibukotanya dimanapun dia suka, maka dia [ie. Caesar], sebagai gubernur sipil, bisa memberikan ranking kegerejaan dalam suatu hierarkhi terhadap tahta manapun yang dia suka

Kanon 28 dari konsili ekumenis Chalcedon [yang ditetapkan setelah para duta kepausan meninggalkan konsili, dan Paus pun tidak pernah mengakuinya] menyatakan fakta diatas dalam banyak kata. [Kanon itu menyatakan bahwa] Constantinople telah menjadi Roma Baru, karenanya uskupnya akan mempunyai kehormatan sebagaimana patriakh Roma Kuno dan menjadi yang kedua setelahnya. Hanya butuh kelancangan sedikit lagi untuk meng-klaim bahwa sang kaisar bisa memindahkan semua hak kepausan kepada uskup yang kotanya dia jadikan kota kekaisaran. 
Biarlah diingat bahwa naiknya Constantinople, kecemburuannya kepada Roma, pengaruhnya yang tak disenangi diatas semua pihak Timur adalah Erastianisme murni ["Erastianisme adalah pandangan bahwa Gereja harus tunduk kepada negara], sebuah penyerahan atas semua yang dari Allah kepada Kaisar. Dan tak ada apapun yang lebih labil daripada mendasarkan hak-hak kegerajaan atas politik sekuler. Bangsa Turki pada 1453 memotong pondasi dari ambisi Byzantine [ie. Constantinople]. Sekarang tidak ada kaisar dan tidak ada Istana untuk memberi pembenaran atas posisi patriakh. Kalau kita menerapkan kembali prinsip yang dijadikan dasar [untuk menaikkan posisi Constantinople, yaitu bahwa kewibawaan suatu tahta kegerajaan didasarkan dari posisi kepemerintahan dimana tahta itu berada], [maka Constantinople] akan tenggelam ke tempat terendah [karena sekarang Constantinople menjadi Turki yang Islam] sedangkan sang Patriakh Ke-Kristen-an akan bertempat di Paris, London, New York [karena tempat-tempat itulah ibukota dunia berada]. Sementara itu prinsip kanon kuno dan sejati dari superioritas Tahta-Tahta Apostolik tetap tidak tersentuh oleh perubahan politik [dibandingkan kalau kita memakai prinsip yang digunakan Constantinople sebagai dasar untuk menaikkan posisinya]. Disamping asal-muasal ilahi dari Kepausan, upaya menaikkan posisi Constantinople merupakan suatu pelanggaran buruk atas hak-hak dari Tahta Apostolik Aleksandria dan Antiokia. Kita tidak perlu heran ketika para Paus, meskipun posisi mereka sebagai yang pertama tidak dipermasalahkan, menolak gangguan terhadap hak-hak kuno [dari Tahta Apostolik Aleksandria dan Antiokia] oleh ambisi dari sang uskup kekaisaran [dalam menaikkan posisi keuskupannya sendiri untuk sejajar dengan Tahta-Tahta Apostolik kuno tersebut]. 

Jauh sebelum Photius telah ada skisma-skisma antara Constantinople dan Roma, semuanya sembuh pada waktunya, namun secara alamiah semua itu cenderung memperlemah rasa akan adanya suatu kesatuan esensial [yang ada antara Barat dan Timur]. Sejak awal daripada Tahta Constantinople sampai kepada skisma besar pada 867, daftar pecahnya persekutuan yang terjadi memang sangat signifikan. Ada limapuluh-lima tahun skisma (343-98) ketika terjadi permasalahan dengan para Arian, sebelas tahun karena deposisi St. Yohanes Khrysostomus (404-15), tigapuluh-lima tahun skisma Acacia (484-519), empatpuluh-satu tahun skisma Monothelite (640-81), enampuluh-satu tahun karena Iconoclasm. Jadi selama 544 tahun (323-867) tidak kurang dari 203 tahun dijalani Constantinople dalam kondisi skisma. Kita catat juga bahwa pada setiap pertikaian yang terjadi Constantinople berada di pihak yang salah; dan juga, oleh persetujuan para Orthodoks pula-lah, Roma dalam semua skisma tersebut berdiri tegak bagi yang benar [ie.Othodoks pun setuju bahwa dalam semua skisma yang terjadi antara 323-867, Roma-lah yang benar]. Dan pada ketika itupun kita sudah bisa melihat bahwa pengaruh sang kaisar (yang secara alami selalu mendukung patriakh-nya sendiri [ie.Patriakh Constantinople]) , dalam kebanyakan kasus, selalu menggeret sejumlah besar uskup Timur ke dalam skisma



III. PHOTIUS DAN CAERULARIUS 

Cukuplah alamiah bahwa skisma-skisma besar [skisma-nya Photius dan skisma-nya Caerularius], yang secara langsung bertanggungjawab atas kondisi sekarang ini, seharusnya merupakan pertikaian local di Constantinople. Skisma-skisma besar tersebut sama sekali bukan suatu
keluhan umum dari seluruh Timur. Pada saat terjadinya kedua skisma tersebut [skisma-nya Photius dan skisma-nya Caerularius] tidak ada alasan apapun kenapa uskup-uskup [Timur] lainnya harus bergabung dengan Constantinople dalam pertikaian Constantinople dengan Roma, kecuali bahwa mereka telah terbiasa meminta perintah-perintah pada kota kekaisaran. Pertikaian yang dibuat si Photius merupakan sebuah pembangkangan menjijikkan atas tatanan kegerejaan yang sah. Tanpa bisa dipertanyakan lagi Ignatius adalah uskup yang sah [saat itu]; Ignatius telah memerintah secara damai selama sebelas tahun. Lalu Ignatius menolak Komuni kepada seseorang yang berdosa karena menjalani incest [ie. hidup secara suami-istri dengan kerabat yang masih sangat dekat] secara public (857). Namun orang itu adalah sang regent [regent adalah orang yang memerintah selama kaisar yang asli tidak mampu], Bardas, jadi pemerintah mencopot Ignatius dan menaikkan Photius ke tahta. Paus Nicholas I tidak punya pertikaian dengan Gereja Timur; Paus tidak punya pertikaian dengan tahta Byzantine [ie. Constantinople]. Paus membela bagi hak-hak seorang uskup yang sah [ie. Ignatius]. Baik Ignatius maupun Photius telah secara formal mengajukan banding kepadanya. Hanyalah ketika Photius sadar bahwa pembelaannya kalah maka kemudian dia dan kekaisaran lebih memilih skisma daripada tunduk (867). Bahkan pada saat inipun masih diragukan apakah telah terjadi skisma Timur secara umum atau belum. [Ini karena] pada konsili yang memulihkan Ignatius kepada tahtanya (869) para patriakh yang lain menyatakan bahwa mereka dulunya menerima keputusan paus yang sebelumnya [keputusan bahwa Ignatius-lah patriakh yang asli, bukan Photius]

Namun Photius telah membentuk satu faksi anti-Roma yang tidak pernah terbubarkan setelah [segala kemelut berakhir]. Efek dari pertikaian Photius, meskipun sifatnya murni pribadi dan meskipun sudah didamaikan dengan matinya Ignatius yang kemudian didamaikan untuk kedua kalinya lagi saat Photius jatuh, adalah menyatukan semua kecemburuan lama Constantinople terhadap Roma kepada satu pribadi (ie.Photius). Kita bisa melihat ini pada keseluruhan terjadinya peristiwa Skisma Photius. Permasalahan mengenai hak palsu Photius [sebagai seorang Patriakh sementara Patriakh yang sah, Ignatius, masih ada] tidak [layak dijadikan penyebab] atas ledakan kesengitan kepada sang Paus, kepada apapun yang berbau Barat dan Latin [dimana] ini kita ketahui dari dokumen-dokumen kekaisaran, dari surat-surat Photius, dari Akta-Akta sinode yang diadakan Photius pada 879, dari semua sikap faksinya. Sebenarnya yang menyebabkan semua itu adalah meledaknya kesengitan selama berabda-abad karena sebuah alasan palsu [ie. pretext] yang lemah; kepenolakan sengit atas campur tangan Roma ini datang dari orang-orang yang tahu peristiwa-peristiwa kuno bahwa Roma adalah penghalang rencana-rencana dan ambisi-ambisi mereka. Terlebih, Photius memberikan kepada kaum Byzantine sebuah senjata yang baru dan kuat. Seruan bidah sering digaungkan di sepanjang masa; dan hal ini tidak pernah gagal untuk menimbulkan ketidakpuasan massal. Namun [sebelum Photius] tidak pernah terpikirkan oleh siapapun untuk menuduh seluruh bahwa Barat terlibat dalam bidah yang sangat merusak. Sebelumnya kasus-kasus yang terjadi adalah penolakan terhadap penggunaan otoritas kepausan dalam kasus-kasus individu yang tak berhubungan. [Namun pada masa Photius] gagasan baru [si Patriakh Constantinople tersebut] membawa peperangan ke kemah sang musuh dengan sebuah perasaan dendam. Enam tuduhan Phoitus [kepada Roma] cukup konyol, sebegitu konyolnya sehingga kita bisa heran mengapa seorang pelajar yang besar seperti Photius
tidak memikirkan sesuatu yang lebih cerdik lagi, paling tidak di permukaannya saja. Namun tuduhan Photius tersebut merubah situasi sehingga keuntungan berada di pihak Timur. Ketika Photius menyebut kaum Latin "pembohong-pembohong, pelawan-pelawan Allah, pelayan-pelayan Antikristus", masalahnya bukan lagi pelecehan terhadap superior kegerejaannya [ie. Paus adalah superior dari Photius]. Sekarang Photius mendapatkan peran yang lebih efektif, dia adalah kampiun ortodoksi yang tidak puas terhadap si bidat

Setelah Photius, John Bekkos mengatakan bahwa ada "perdamaian sempurna" antara Timur dan Barat. Namun perdamaian tersebut hanya di permukaan. Agenda-agenda Photius tidaklah mati. Agenda-agenda tesebut masih belum terlihat pada faksi yang dia tinggalkan, faksi yang masih membenci Barat, dan yang siap untuk memutuskan kesatuan sekali lagi dengan berlandaskan alasan palsu apapun. Faksi yang masih ingat akan tuduhan bidat kepada kaum Latin dan siap untuk membangkitkan tuduhan itu kembali. Pastilah sejak masa Photius, kebencian dan kejijikan kepada kaum Latin merupakan sebuah warisan dari banyak klerus Byzantine. Bagaimana mengakarnya dan bagaimana luas sebarannya bisa dilihat dengan ledakan besar yang absolute 150 tahun kemudian dibawah [ke-patriakh-an] Michael Caerularius (1043-58). Bahkan pada saat ini tidak ada bayangan apapun atas sebuah alasan palsu. Tidak ada seorang pun yang mempertanyakan hak Caerularius sebagai Patriakh; sang Paus tidak mencampuri urusan Caerularius sama sekali. Lalu tiba-tiba pada 1053 dia mengirimkan sebuah deklarasi perang, lalu menutup semua gereja Latin di Constantinople, melontarkan sejumlah tuduhan-tuduhan tak jelas, dan mempertunjukkan dengan berbagai cara bahwa dia menginginkan suatu skisma, tampaknya hanya dikarenakan dia telah merasakan nikmatnya tidak bersekutu dengan Barat. Caerularius mendapatkan apa yang dia inginkan. Setelah sejumlah agresi tak terkendali, yang tak pernah ada duanya dalam sejarah gereja, setelah dia mulai mencoret nama Paus dari diptych-nya [ie. dua tatakan dari batu yang ada ukirannya], para duta kepausan meng-ekskomunikasinya (16 Juli 1054). Namun pada saat itu masih belum ada pemikiran akan terjadinya suatu ekskomunikasi umum atas Gereja Byzantine, ataupun bahkan ekskomunikasi semua [Gereja] Timur. Para duta kepausan dengan hati-hati menghindari hal tersebut dalam Bulla mereka. Mereka mengakui bahwa sang Kaisar (Constantine IX, yang sangat terganggu oleh keseluruhan pertikaian tersebut), dewan Senator, dan mayoritas penduduk kota [Constantinople] adalah [orang yang] "sangat saleh dan ortodoks". Mereka meng-ekskomunikasi Caerularius, Leo dari Achrida dan pengikut-pengikut mereka

Pertikaian inipun sebenarnya tidak perlu menghasilkan sebuah kondisi skisma yang lebih permanen sebagaimana pula bila terjadi ekskomunikasi uskup yang memberontak. Tragedi yang sebenarnya adalah bahwa secara gradual semua Patriakh Timur berpihak kepada Caerularius. Mereka mematuhinya dengan mencoret nama Paus dari diptych [ie. dua tatakan dari batu yang ada ukirannya] mereka, dan memilih atas kerelaan mereka sendiri untuk berbagai dalam skisma yang [dilakukan Caerularius]. Pada awalnya mereka tampaknya tidak ingin berlaku seperti itu. John III dari Antiokia jelas menolak ber-skisma atas ajakan Caerularius. Namun, lambat laun, kebiasan meminta perintah-perintah [ie.keputusan-keputusan] kepada Constantinople terbukti terlalu kuat. Sang kaisar ([pada saat ini yang menjabat] bukan Constantine IX, tapi penerusnya) berada di pihak patriakh-nya dan mereka [i.e semua Patriakh Timur] telah belajar dengan baik untuk menganggap kaisar sebagai Tuan mereka dalam perkara-perkara spiritual. Sekali lagi, adalah pengambilalihan otoritas oleh Constantinople, Erastianisme [ie. pandangan bahwa Gereja hrus tunduk kepada negara] kaum Timur yang mengubah sebuah pertikaian pribadi menjadi sebuah skisma besar. Kita juga melihat bagaimana gagasan Photius untuk menyebut kaum Latin sebagai bidat telah dipelajari. Caerularius mempunyai sebuah daftar, yang lebih panjang dan lebih parah, mengenai tuduhan-tuduhan seperti [yang dibuat Photius]. Poin-poin [tuduhan Caerularius] berbeda dari Photius; dia telah melupakan Filioque, dan telah menemukan sebuah bidaah baru berkenaan dengan penggunaan roti azyme oleh kaum Latin. Namun tuduhan yang sesungguhnya [sebenarnya] tidak begitu penting, [yang penting adalah] gagasan menyatakan bahwa kaum Latin adalah orang yang mustahil karena mereka adalah bidat, merupakan gagasan yang dirasa sangat berguna [bagi kaum Timur]. [Tuduhan bidat tersebut] sangat menghina dan [tuduhan tersebut] memberi kepada para pemimpin-pemimpin yang skismatik kesempatan memperoleh peran paling efektif, yaitu peran sebagai pembela Iman sejati


IV. SETELAH CAERULARIUS 

Dalam satu arti, skisma tersebut telah komplit. Apa yang pada awalnya adalah dua bagian dari Gereja yang sama, apa yang
telah menjadi dua entitas yang siap untuk pecah, sekarang adalah dua Gereja rival. Namun, sebagaimana sebagaimana ada skisma-skisma sebelum Photius, begitu pula ada reuni-reuni setelah Caerularius. Pada konsili Lyons Kedua pada 1274 dan [pada] Konsili Florence pada 1439 tercapai reuni yang diharapkan orang-orang untuk [menyatukan perpecahan] selamanya. Sayangnya, kedua reuni tersebut tidak abadi, keduanya tidak mempunyai basis yang kuat atas pihak Timur. Faksi anti-Latin yang laten sejak dahulu dan kemudian dibentuk dan diorganisasi oleh Photius, sekarang telah menjadi Gereja "Orthodox" secara keseluruhan dibawah Caerularius. Proses tersebut bersifat gradual, namun sekarang telah komplit. Pada awalnya Gereja Slavia (Rusia, Servia [Serbia], Bulgaria etc.) tidak melihat adanya suatu alasan mengapa mereka mesti memutus persekutuan dengan Barat karena seorang Patriakh Constantinople marah terhadap Paus. Namun kebiasaan merujuk kepada ibukota kekaisaran lambat laun mempengaruhi mereka juga. Mereka menggunakan ritus Byzantine, mereka adalah Timur; jadi mereka berpihak kepada Timur. Caerularius dengan cerdik telah berhasil menyajikan persoalannya sebagai persoalan kaum Timur; tampaknya persoalannya adalah permasalahan mengenai Byzantine versus Latin, meskipun ini sangat tidak adil. 
Pada Konsili Lyons, dan lagi pada Konsili Florence, reuni (bagi pihak timur) adalah sebuah perpanjangan tindakan politis dari Pemerintahan [Timur]. Sang Kaisar menginginkan kaum Latin untuk berperang bagi dirinya melawan bangsa Turki. Jadi dia sudah siap untuk memasrahkan apapun — sampai bahaya berlalu. Cukup jelas pada saat-saat ini motivasi agama hanya menggerakkan pihak Latin. Kita [ie. pihak Latin] tidak untung apapun; kita tidak mau apapun dari mereka [ie. pihak Timur]. Kaum Latin punya banyak hal yang bisa ditawarkan, mereka [ie.kaum Latin] siap untuk memberi bantuan.. Yang mereka minta sebagai balasan adalah berakhirnya tontonan yang memprihatinkan dan aib akan suatu kekristenan yang terpecah. Pihak Byzantine tidak peduli terhadap motivasi agama; atau lebih tepatnya, bagi mereka agama berarti terus melanjutkan skisma. Mereka begitu sering memanggil kita [ie. kaum Latin] sebagai bidat sehingga mereka mulai meyakininya. Reuni [bagi mereka] adalah suatu kondisi yang tidak menyenangkan dan memalukan supaya tentara [bangsa] datang dan melindungi mereka. Umat-umat awam Timur sudah begitu terlatih dalam kebencian mereka akan Azymite [color-darkred][catatan DeusVult: "tak beragi," maksudnya roti tak beragi. Gereja Timur menggunakan roti beragi][/b][/color]. dan perubah-syahadat, sehingga semangat mereka terhadap apa yang mereka anggap Orthodoksi menang atas ketakutan mereka terhadap bangsa Turki. Ungkapan "lebih baik turban sang Sultan daripada tiara sang Paus" mencerminkan dengan tepat pemikiran mereka. Ketika uskup-uskup yang menandatangani dekrit reuni pulang, mereka setiap kali disambut dengan badai seruan ketidakpuasan sebagai pengkhianat iman Orthodox. Setiap kali reuni berakhir secepat dibuatnya [reuni tersebut]. Tindakan skisma terakhir adalah ketika Dionysius I dari Constantinople (1467-72) memanggil sinode dan secara formal menolak persatuan (1472). Sejak saat itu tidak pernah ada interkomuni; sebuah Gereja "Orthodox" yang luas terbentuk, tampaknya puas dengan kondisi skisma dengan uskup yang mereka masih akui sebagai patriakh pertama ke-kristen-an [ie.Paus Roma]. 


V. ALASAN-ALASAN ATAS SKISMA SAAT INI 

Dalam kisah yang memprihatinkan ini kita mencatat beberapa poin. Adalah lebih mudah untuk memahami bagaimana suatu skisma berlanjut
daripada bagaimana skisma itu bermula. Skisma gampang dibuat; namun sangatlah sulit untuk diperbaiki. Insting religius sikapnya selalu konservatif; ada kecenderungan kuat untuk melanjutkan kondisi yang telah berlangsung. Pada awalnya para skismatik adalah para innovator [ie. pihak yang memunculkan sesuatu yang baru yang belum pernah ada sebelumnya] yang ceroboh; kemudian dengan berlalunya abad alasan mereka tampak sebagai alasan yang lebih kuno; alasan lebih kuno yang merupakan iman sejati para Bapa Gereja. Umat Kristen Timur khususnya mempunyai insting konservatif ini secara kuat. Mereka takut kalau reuni dengan Roma berarti suatu pengkhianatan terhadap Iman lama, pengkhianatan atas Gereja Orthodox, pengkhianatan terhadap apa yang telah mereka pegang secara heroik selama berabad-abad ini. Bisa dikatakan bahwa skisma Timur berlanjut karena daya inersia [ie. dari istilah fisika yang berarti kecenderungan suatu benda untuk tetap pada kondisi sebelumnya. Kalau kondisi sebelumnya diam, maka benda akan cenderung diam. Kalau bergerak, maka benda akan cenderung bergerak]. 

Pada asal muasalnya kita harus membedakan antara kecenderukan skismatik dan peristiwa actual atas meledaknya kecenderungan tersebut. Namun alasan atas keduanya sudah tidak ada lagi saat ini. Kecenderungannya adalah kecemberuan yang disebabkan oleh naiknya posisi Tahta Constantinople. Perkembangan posisi Constantinople telah berakhir sejak dulu sekali. Pada tiga abad terakhir Constantinople telah kehilangan hampir semua tanah yang dulunya dimiliki. Tidak ada yang lebih ditolak oleh umat Kristen Ortodoks modern daripada naiknya otoritas apapun oleh patriakh ekumenis diluar ke-patriakh-annya yang mengecil. Tahta Byzantine telah lama menjadi mainan bangsa Turki, [bagai] benda yang bisa dijual kepada penawar tertinggi. Tentunya sekarang harga diri yang [telah menjadi cukup] menyedihkan ini bukan lagi alasan bagi skisma oleh hampir 100,000,000 umat Kristen. Bahkan [dua] penyebab langsung dari perpecahan sudah tidak ada lagi. [Yang pertama adalah] permasalahan akan hak-hak Ignatius dan Photius [ie. siapa Patriakh yang sah] bahkan tidak dipedulikan lagi oleh kaum Ortodoks setelah sebelas abad.; [sedangkan penyebab langsung kedua yaitu] ambisi dan kelancangan Caerularius telah terkubur bersamanya. Tidak ada lagi yang tersisa atas penyebab-penyebab asli Skisma Timur. 

Tidak benar-benar ada masalah apapun yang berkenaan dengan doktrin. Masalahnya bukan bidaah, tapi skisma. Dekrit Florence [mengantisipasi segala perasaan tidak enak yang mungkin muncul dari mereka]. Tidak ada alasan nyata mengapa mereka tidak menandatangani dekrit tersebut sekarang. Mereka menolak infallibilitas Paus dan Konsepsi Tanpa Noda [ie. ajaran bahwa Perawan Maria dikandung tanpa noda dosa asal], mereka bertikai atas Api Penyucian, atas konsekrasi dengan menggunakan kata-kata institusi, prosesi Roh Kudus, dalam setiap hal tersebut [mereka] salah paham terhadap dogma yang mereka tolak. Tidak sulit untuk ditunjukkan bahwa atas semua poin-poin tersebut Bapa Gereja mereka sendiri [ie.para Bapa Gereja Timur] sepakat dengan ajaran Gereja Latin, Gereja yang hanya meminta mereka untuk kembali kepada ajaran kuno Gereja mereka sendiri. 

Itulah sikap yang benar terhadap Ortodoks, selalu. Mereka mempunyai ketakutan [bahwa mereka] akan dilatinisasi., [bahwa mereka akan] mengkhianati Iman kuno. Kita harus menekankan bahwa tidak ada pikiran untuk me-latin-kan mereka, dan bahwa iman kuno bukanlah tidak cocok, malahan menuntut kesatuan dengan tahta utama yang dipatuhi para Bapa Gereja mereka sendiri. Pada hukum kanon mereka tidak ada yang perlu diubah kecuali penyelewengan-penyelewengan seperti penjualan posisi uskup dan Erastianisme [ie. pandangan bahwa Gereja harus tunduk pada negara] yang dikecam teolog mereka sendiri. Selibat, roti tak beragi, dan yang lain adalah kebiasaan Latin yang tidak pernah terpikirkan seorang pun untuk dipaksakan kepada mereka. Mereka tidak perlu menambahkan filioque kepada syahadat mereka; ritus terhormat mereka tidak akan disentuh. Tidak ada satu uskup pun yang perlu dipindah dan hampir tidak ada satu hari raya pun yang perlu diubah (kecuali perayaan St. Photius pada 6 Februari). Yang diminta hanya agar mereka kembali ke tempat dimana Bapa Gereja mereka berdiri, untuk memperlakukan Roma sebagaimana Athanasius, Basil, Chrysostom memperlakukannya. Bukan kaum Latin, tapi merekalah yang telah meninggalkan iman para Bapa Gereja mereka. Tidak ada permaluan untuk melangkah balik ketika seseorang [memang] telah melanglang ke jalan yang salah karena pertikaian pribadi yang telah lama terlupakan. Mereka seharusnya juga melihat bagaimana parahnya skandal perpecahan terhadap tujuan bersama. Mereka seharusnya juga berkeinginan untuk mengakhiri jeritan iblis [skisma] ini. Dan kalau mereka benar-benar menginginkannya, caranya tidak harus menjadi sulit. Karena, memang, setelah enam abad skisma kita bisa menyadari dari sudut pandang kedua pihak bahwa skisma bukan hanya yang kejahatan terbesar di Kekristenan, tapi juga merupakan kejahatan paling sia-sia di Kekristenan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar