Mengasihi Sesama

Mengasihi Sesama
Ibu Theresa dari Calcuta

Minggu, 15 Juli 2012

EENS (Extra Ecclesiam Nulla Salus)

Diluar Gereja Tidak Ada Keselamatan, itu arti EENS (Extra Ecclesiam Nulla Salus).

Kebanyakan dari kita, saat ini. Yang walaupun penganut atau umat GKR (Gereja Katolik Roma) seakan-akan sudah tidak mempercayai pernyataan di atas. Sebagian Romo-romo juga ada yang menganggapnya basi dan omong kosong atau ajaran itu telah dikoreksi oleh Konsili Vatikan II.

Pendapat ini. Maaf. SUNGGUH TIDAK BENAR. Mengapa ?

Karena dari awalnya Konsili Vatikan II tidak pernah menghapus EENS atau dogma-dogma lain. Untuk mengetahui kebenaran ini, sangat perlulah kita mengenal pencetus Konsili Vatiakan II sendiri, yaitu Paus Yohanes XXIII. Pemikirannya tentang keselamatan, gereja dll.

Untuk mengenal beliau, ada baiknya kita membaca tulisannya (diterjemahkan Oleh DeusVult di www.ekaristi.org). Saya membagikan hal ini juga karena membaca di website ybs. Dan merasa perlu menyebarkannya kepada kenalan saya dan teman-teman semua. Ini memang 'makanan keras', bagi yang masih belum kuat janganlah terlalu jadi pikiran, pelajari pelan-pelan, kunjungi juga tulisan-tulisan mengenai EENS di www.katolisitas.org (yang agak lembut) dan kalau sudah siap ikuti tanya-jawab seputar EENS di www.ekaristi.org. Selamat mempelajari ... dan pelan-pelan saja ... minta bimbingan Roh Kudus.



Paus Yohanes XXIII

Ensiklik Paus Yohanes XXIII Mengenai Kebenaran, Kesatuan dan Perdamaian, Dalam Semangat Kasih, di-promulgasi-kan pada 29 Juni 1959

... 

3. Lalu
 Kami memberitahukan rencana Kami untuk memanggil sebuah Konsili Ekumenis dan sebuah Sinode Roma, dan juga untuk me-revisi Kitab Hukum Kanonik bagi Gereja Ritus Timur. Pengumuman ini menerima banyak persetujuan dan membubungkan suatu harapan universal bahwa hati manusia akan digerakkan kepada suatu kesadaran yang mendalam dan penuh akan kebenaran, kepada suatu pembaruan moral-moral Kristen, dan kepada suatu restorasi kesatuan, harmoni dan perdamaian.

4. Hari ini ketika Kami menujukan Surat Ensiklik pertama Kami kepada seluruh dunia Katolik, jabatan kerasulan Kami jelas menuntut agar Kami mendiskusikan tiga obyektif--kebenaran, kesatuan, dan perdamaian--dan meng-indikasi-kan bagaimana [ketiganya] bisa dicapai dan dimajukan dalam semangat kasih.

5. Semoga terang Roh Kudus turun kepada Kami dari atas pada saat Kami menulis surat ini dan turun kepada kalian pada saat kalian membacanya. Semoga rahmat Allah menggerakkan semua orang untuk mencapai [ketiga] obyektif tersebut, yang didambakan semua [orang], meskipun prasangka, kesulitan besar dan banyak rintangan menghalangi pencapaian [ketiga obyektif tersebut]. 

6.
 Semua kejahatan yang meracuni manusia dan bangsa-bangsa dan meresahkan begitu banyak hati mempunyai satu penyebab dan satu muasal:ketidaktahuan akan kebenaran--dan kadang lebih dari ketidaktahuan, [tapi] sebuah kejijikan terhadap kebenaran dan penolakan gegabah atasnya. Maka timbullah berbagai macam kesalahan yang [kemudian] memasuki relung hati manusia dan aliran darah masyarakat bagai suatu wabah. Kesalahan-kesalahan ini menjungkirbalikkan segala hal; [kesalahan-kesalahan ini] mengancam individu-individu dan masyarakat itu sendiri

7. Namun Allah memberi kita masing-masing sebuah intelek yang mampu menggapai kebenaran kodrati. Bila kita menaati kebenaran ini, kita taat kepada Tuhan sendiri, sang pencipta kebenaran, pemberi-hukum dan yang memerintah kehidupan kita. Tapi bila kita menolak kebenaran ini, entah karena kebodohan, pengabaian, kejahatan, [maka ] kita berpaling dari kebaikan tertinggi itu sendiri dan [berpaling pada] norma-norma bagi hidup yang baik. 

8. Sebagaimana Kami telah mengatakan,
 adalah mungkin bagi kita untuk mendapatkan kebenaran kodrati berkat intelek kita. Namun tidak semua orang bisa melakukan hal ini dengan mudah; kadang upaya mereka [untuk mendapatkan kebenaran kodrati melalui intelek] akan menghasilkan suatu campuran kebenaran dan kekeliruan. Ini yang biasanya terjadi dalam permasalahan agama dan dalam permsalahan nilai-nilai moral yang baik. Terlebih, kita tidak mungkin dapat menggapai kebenaran-kebenaran yang melampaui kapasitas kodrati dan melampaui pemahaman nalar, kecuali Allah menerangi dan mengilhami kita. Inilah mengapa sang sabda Allah yang "bersemayam dalam terang yang tak terhampiri"[1Tim 6:16], dalam kasihNya yang besar, mengasihani kesulitan manusia dan [kemudian] "menjadi manusia, dan diam di antara kita"[Yoh 1:14], agar supaya Dia bisa "menerangi setiap orang yang datang ke dalam dunia"[Yoh 1:9] dan menuntunnya tidak hanya ke kebenaran yang penuh dan sempurna, namun [juga] menuntunnya kepda kebajikan dan kebahagiaan abadi. Karenanya semua orang terikat untuk menerima ajaran injil. Karena bila ini ditolak maka pondasi-pondasi kebenaran, kebaikan dan peradaban akan berada dalam bahaya.

9. Telah jelas bahwa Kami mendiskusikan sebuah masalah yang serius, yang mana keselamatan abadi kita terkait dengan sangat erat. Beberapa orang, sebagaimana di peringatkan oleh sang Rasul Kaum Non-Yahudi [ie. Rasul Paulus], "walaupun selalu ingin diajar, namun tidak pernah dapat mengenal kebenaran."[2Tim 3:7] Mereka menilai bahwa pikiran manusia tidak dapat menyingkapkan kebenaran apapun yang sifatnya pasti dan meyakinkan;mereka menolak kebenaran yang diwahyukan oleh Allah dan perlu bagi keselamatan kita. 

10.
 Orang-orang seperti itu telah tersesat jauh dari ajaran Kristus dan pandangan-pandangan yang dinyatakan sang Rasul ketika dia berkata, "mari kita semua mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah ... sehingga kita bukan lagi anak-anak, yang diombang-ambingkan oleh rupa-rupa angin pengajaran, oleh permainan palsu manusia dalam kelicikan mereka yang menyesatkan, tetapi dengan teguh berpegang kepada kebenaran di dalam kasih kita bertumbuh di dalam segala hal ke arah Dia, Kristus, yang adalah Kepala. Ef 4:16 Dari pada-Nyalah seluruh tubuh, (yang rapih tersusun dan diikat menjadi satu oleh pelayanan semua bagiannya, sesuai dengan kadar pekerjaan tiap-tiap anggota) menerima pertumbuhannya dan membangun dirinya dalam kasih."[Ef 4:13-16]

11. Siapapun yang secara sadar dan bersemangat menyerang kebenaran, yang mempersenjatai diri dengan kebohongan dalam perkataannya, tulisannya ataupun perlakuannya untuk menarik [perhatian] dan memenangkan [kehendak] orang yang kurang terpelajar dan untuk membentuk pemikiran tak berpengalaman dan mudah terpengaruh yang dimiliki orang muda agar sesuai pemikirannya sendiri, mengambil kesempatan atas ke-kurang-pengalaman-an dan keluguan orang lain dan melakukan suatu urusan yang sungguh menjijikkan.

... 

17.
 Beberapa orang meskipun tidak menyerang kebenaran secara sengaja, tapi bekerja tanpa meperhatikan kebenaran. Mereka bertingkah seakan-akan Allah telah memberi kita intelek untuk suatu tujuan yang lain daripada pencarian dan penggapaian kebenaran. Tindakan yang keliru ini mengarah langsung kepada proposisi tak-masuk-akal: [bahwa] sebuah agama itu sama baiknya dengan yang lain, karena tidak ada perbedaan antara kebenaran dan kekeliruan. "Sikap ini," dengan mengutip lagi dari Paus Leo [XIII], "diarahkan kepada kehancuran semua agama, namun secara khusus kepada [kehancuran] iman Katolik, yang tidak bisa ditempatkan sejajar dengan agama-agama lain tanpa berlaku sangat tidak adil, karena [iman katolik] sendirilah yang benar."[9] Terlebih, untuk menilai bahwa tidak ada pilihan antara kontradiksi-kontradiksi dan antara hal-hal yang berlawanan akan mengarah kepada kesimpulan fatal ini: [yaitu] sebuah ke-enggan-an untuk menerima agama apapun dalam teori maupun praktek.

18. Bagaimana bisa Allah, yang adalah kebenaran, mengijinkan atau men-toleransi sikap indifferen, sikap mengabaikan, dan sikap malas bagi mereka yang tidak menganggap penting perkara-perkara yang mana keselamatan abadi kita bergantung; kepada mereka yang tidak menganggap penting pencarian dan penggapaian kebenaran-kebenaran yang perlu, atau [yang tidak menganggap penting] penghaturan sembah yang layak yang patut hanya bagi Allah saja?

... 

59.
 Sekarang kami akan mendiskusikan kesatuan yang bagi Kami merupakan perhatian khusus dan berhubungan erat dengan misi pastoral yang telah dipercayakan Tuhan kepada Kami:kesatuan Gereja.

60. Semua orang menyadari, tentunya, bahwa Allah sang penebus kita mendirikan masyarakat ini [ie. Gereja] yang akan bertahan sampai akhir jaman, karena Kristus berkata, "Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman."[Mat 28:20] Untuk niatan ini Dia menghaturkan doa yang khusuk kepada BapaNya: "supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita."[Yoh 17:21] Tentunya doa ini telah didengarkan dan telah dikabulkan karena ketundukanNya yang penuh hormat [bdk. Ibr 5:7] Ini adalah sebuah harapan yang menentramkan: [harapan ini] meyakinkan kita bahwa suatu hari semua domba yang bukan merupakan kawanan [domba Kristus] akan ingin kembali kepada [kawanan tersebut]. Lalu, menurut perkataan Tuhan penyelamat kita, "mereka akan menjadi satu kawanan dengan satu gembala."[Yoh 10:16]

61. Harapan gembira ini mendorong Kami untuk mem-publikasi-kan niat kami untuk mengadakan sebuah Konsili Ekumenis. Uskup-uskup dari seluruh bagian dunia akan berkumpul disana untuk secara serius mendiskusikan topik-topik religius. Mereka akan mempertimbangkan, khususnya, pertumbuhan iman Katolik, restorasi nilai moral yang baik diantara kawanan Kristen, dan adaptasi yang tepat akan disiplin Gereja kepada kebutuhan dan kondisi masa kita [saat ini].

62. Peristiwa ini akan menjadi pertunjukan indah akan kebenaran, kesatuan dan kasih. Karena mereka yang menyaksikan tapi tidak bersatu dengan Tahta Suci ini, [maka kami mengharapkan agar pertunjukan tersebut] akan menjadi undangan lembut untuk mencari dan menemukan kesatuan yang di-doa-kan Yesus Kristus begitu khusuknya kepada BapaNya di surga.

63. Kami telah mengetahui, [dan ini membuat] Kami Gembira, bahwa banyak komunitas-komunitas yang terpisah dari Tahta Petrus yang Terberkati akhir-akhir ini menunjukkan kecenderungan kepada iman Katolik dan ajaran-ajarannya. Mereka telah mempertunjukkan sebuah pandangan yang tinggi terhadap Tahta Suci ini dan sebuah penghormatan yang bertumbuh besar dari hari ke hari seiring menangnya penghormatan terhadap kebenaran atas kesalahpahaman-kesalahpahaman awal.

64. Kami telah mencatat bahwa hampir semua yang dianugrahi nama Kristen, meskipun terpisah dari Kami dan dari satu sama lain, telah berupaya untuk mengikat kesatuan melalui kongres-kongres dan dengan mengadakan konsili-konsili. Ini merupakan bukti bahwa mereka digerakkan oleh sebuah keinginan yang kuat akan suatu jenis kesatuan. 

65.
 Ketika sang Penebus Ilahi mendirikan GerejaNya, tidaklah ada keraguan bahwa Dia membuat "kesatuan yang kuat" sebagai batu penjuru dan sebagai salah satu dari ciri-ciri esensial [dari GerejaNya]. Kalau Dia tidak membuat hal tersebut--dan merupakan sesuatu yang tidak masuk akal untuk berpikiran demikian--Dia akan mendirikan sesuatu yang sementara, yang dengan berlalunya waktu akan menghancurkan dirinya sendiri. Karena dengan seperti inilah hampir semua filosofis yang tercetus diantara ketidakstabilan pendapat manusia muncul: [yaitu] satu persatu filosofis-filosofis tersebut muncul, lalu berevolusi, lalu dilupakan. Namun ini jelas tidak bisa berlaku bagi sejarah sebuah otoritas mengajar ilahi yang didirikan oleh Yesus Kristus, "sang jalan, kebenaran dan hidup."[Yoh 14:6]

66. Namun kesatuan ini, para Saudara Terhormat dan para putra terkasih, harus solid, teguh dan pasti, bukannya sementara, tidak pasti dan tidak stabil[23] Meskipun tidak ada kesatuan seperti itu diantara komunitas-komunitas Kristen, semua yang memperhatikan dengan cermat bisa melihat bahwa [kesatuan seperti itu] hadir dalam Gereja Katolik.

67. Memang, Gereja Katolik terpilahkan dan terbedakan oleh tiga karakteristik ini: kesatuan ajaran, kesatuan organisasi, kesatuan penyembahan. Kesatuan ini begitu gamblang sehingga olehnya orang-orang bisa menemukan dan mengenali Gereja Katolik.


68. Adalah merupakan kehendak Allah, sang pendiri Gereja, agar semua domba pada akhirnya akan berkumpul kepada satu kawanan ini, dibawah satu gembala. Semua anak-anak Allah dipanggil ke satu-satunya rumah bapa mereka, dan batu penjurunya adalah Petrus. Semua orang harus bekerja bersama bagai saudara-saudara untuk menjadi bagian dari kerajaan Allah yang satu ini; karena penduduk kerajaan tersebut disatukan dalam perdamaian dan harmoni di bumi agar mereka bisa menikmati kebahagiaan abadi suatu hari nanti di surga.

69. Gereja Katolik mengajarkan perlunya mempercayai dengan teguh dan penuh iman semua yang diwahyukan Allah. Wahyu ini terdapat dalam kitab suci dan tradisi tertulis dan tak tertulis yang telah disampaikan melalui berabad-abad sejak dari jaman rasuli dan menemukan bentuknya dalam aturan-aturan dan definisi-definisi Paus dan Konsili Ekumenis yang sah.

70. Kapanpun seseorang telah tersesat dari jalan ini, Gereja tak pernah gagal untuk menggunakan otoritas ke-ibu-annya untuk memanggilnya gembali lagi dan lagi kepada jalan yang benar. Dia [ie. Gereja] tahu benar bahwa tidak ada kebenaran lain selain satu-satunya kebenaran yang dia [ie. Gereja] pusaka-i; tidak bisa ada "kebenaran" yang berlawanan dengannya. Karenanya dia [ie. Gereja] mengulangi dan menjadi saksi bagi perkataan sang Rasul: "Karena kami tidak dapat berbuat apa-apa melawan kebenaran; yang dapat kami perbuat ialah untuk kebenaran."[2Kor 13:8]

... 

79. Kami sekarang mengarahkan diri Kami sendiri
 kepada kalian semua yang dipisahkan dari Tahta Suci. Biarlah Pertunjukan kesatuan yang indah ini, yang olehnya Gereja Katolik terpilahkan dan terbedakan, dan juga doa-doa dan permohonan-permohonan yang dia [ie. Gereja] mohonkan kepada Allah untuk [terciptanya] kesatuan, menggerakkan hatimu dan membangunkanmu kepada apa yang merupakan kepentingan terbaikmu.

80. Bolehkah Kami, dalam antisipasi yang bahagia, menyebut kalian sebagai putra-putra dan saudara-saudara? Bolehkah Kami berharap dengan harapan penuh kasih seorang bapa bagi kembalinya kalian?

... 

84.
 Ketika kami dengan bahagia memanggil kalian kepada kesatuan Gereja, tolong diperhatikan bahwa Kami tidak mengundang kalian kepada sebuah rumah yang asing, tapi tumah kalian sendiri, kepada tempat tinggal bapa leluhur kalian. Maka ijinkanlah kami untuk merindukan kalian semua "dalam kasih mesra Kristus Yesus,"[Fil 1:8] dan menganjurkan kalian semua untuk mengingat bapa leluhur kalian yang "menyampaikan firman Allah kepadamu; renungkanlah kebahagian hidup yang mereka alami, dan contohlah iman mereka."[Ibr 13:7]

85. Ada di firdaus sekumpulan Orang-Orang Kudus yang mulia yang telah bernagkat ke surga dari orang-orang kalian. Melalui teladan hidupnya mereka seperti memanggil kalian semua kepada kesatuan dengan Tahta Apostolik ini yang dengan komunitas Kristen kalian sendiri dulunya bersatu selama beradab-abad. Kalian dipanggil terutama oleh para Kudus tersebut yang dalam tulisan-tulisannya melestarikan dan menjelaskan, dengan ke-akurat-an yang patut dikagumi, pengajaran-pengajaran Yesus Kristus

86. Karenanya Kami sebut sebagai saudara semua orang yang terpisah dari Kami, dengan menggunakan perkataan St. Agustinus: "Entah mereka menginginkannya atau tidak, mereka adalah saudara kita. Mereka berhenti menjadi saudara kita hanya pada waktu mereka berhenti mengatakan 'Bapa Kami'"[37]

87. "Marilah kita mencintai Allah Tuhan kita; marilah kita mencintai GerejaNya. Marilah kita mencintaiNya sebagai bapa kita dan mencintainya [ie. Gereja] bagai ibu kita, Dia bagai tuan kita dan dia [ie. Gereja] bagai hambaNya [ie. handmaid]. Karena kita adalah anak-anak dari hambaNya [ie. handmaid]. Perkawinan ini [antara Tuhan dan GerejaNya] didasarkan atas cinta yang mendalam. [Sehingga] tidak bisa seseorang menghina yang satu dan berteman dengan yang lain ... Apakah bedanya bila engkau tidak menghina ayahmu, bila dia [ie. sang ayah] menghukum penghinaan terhadap ibumu? ... Karenanya, yang terkasih, jadilah satu pikiran dan tetaplah setia kepada Allah bapamu dan Gereja ibumu."

... 

90. ... Karenanya, untuk semua saudara dan putra-putra Kami
 yang terpisah dari Kursi Petrus Terberkati, Kami katakan lagi: "Akulah ... Yusuf, saudaramu"[Kej 45:4] Datanglah, "Berilah tempat bagi kami"[2Kor 7:2] Kami tidak menginginkan yang lainnya, tidak mendambakan yang lainnya, berdoa kepada Allah tidak bagi lainnya kecuali kesalamatan kalian, kebahagiaan abadi kalian.

91. Kemarilah! kesatuan yang lama-didamba, yang dijaga dan dipelihara oleh kasih persaudaraan, akan melahirkan sebuah damai yang besar. Ini adalah damai "yang melampaui segala akal,"[Fil 4:7] karena kelahiran [damai tersebut] adalah di surga. Itulah damai yang sama yang dijanjikan Kristus kepada orang-orang yang berkehendak baik melalui nyanyian-nyanyian para malaikat yang melayang diatas palunganNya;[bdk. Luk 2:14] itulah damai yang Dia serahkan setelah meng-institusi-kan Sakramen dan Korban Ekaristi: "Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu."[Yoh 14:27]
92. Kedamaian dan kebahagiaan! Ya, kebahagiaan--karena mereka yang secara nyata dan efektif bersatu dengan Tubuh Mistik Kristus, yang adalah Gereja Katolik, barbagi dalam kehidupan yang mengalir dari sang Kepala ilahi kepada setiap bagian dari si Tubuh. ...

...




Nah itu diterjemahkan dari bahasa Inggrisnya yang sbb : (Sumber www.ekariati.org)




Pope John XXIII 

Encyclical of Pope John XXIII On Truth, Unity and Peace, In A Spirit of Charity, promulgated on 29 June 1959 

... 

3. Then
 We revealed Our plans to summon an Ecumenical Council and a Roman Synod, as well as to revise the Code of Canon Law in accordance with present needs and to issue a new Code of Canon Law for the Church of the Oriental Rite. This announcement received widespread approval and bolstered the universal hope that the hearts of men would be stirred to a fuller and deeper recognition of truth, a renewal of Christian morals, and a restoration of unity, harmony, and peace. 

4. Today as We address Our first Encyclical Letter to the entire Catholic world, Our apostolic office clearly demands that We discuss three objectives--truth, unity, and peace--and indicate how they may be achieved and advanced in a spirit of charity.

5. May the light of the Holy Spirit come upon Us from on high as We write this letter and upon you as you read it. May the grace of God move all men to attain these objectives, which all desire, even though prejudices, great difficulties, and many obstacles stand in the way of their achievement. 

6.
 All the evils which poison men and nations and trouble so many hearts have a single cause and a single source: ignorance of the truth--and at times even more than ignorance, a contempt for truth and a reckless rejection of it. Thus arise all manner of errors, which enter the recesses of men's hearts and the bloodstream of human society as would a plague. These errors turn everything upside down: they menace individuals and society itself. 

7. And
 yet, God gave each of us an intellect capable of attaining natural truth. If we adhere to this truth, we adhere to God Himself, the author of truth, the lawgiver and ruler of our lives. But if we reject this truth, whether out of foolishness, neglect, or malice, we turn our backs on the highest good itself and on the very norm for right living.

8. As We have said, it is possible for us to attain natural truth by virtue of our intellects. But all cannot do this easily; often their efforts will result in a mixture of truth and error. This is particularly the case in matters of religion and sound morals. Moreover, we cannot possibly attain those truths which exceed the capacity of nature and the grasp of reason, unless God enlightens and inspires us. This is why the word of God, "who dwells in light inaccessible,"[2] in His great love took pity on man's plight, "became flesh and dwelt among us,"[3] that He might "enlighten every man who cometh into the world"[4] and lead him not only to full and perfect truth, but to virtue and eternal happiness. All men, therefore, are bound to accept the teaching of the gospel. For if this is rejected, the very foundations of truth, goodness, and civilization are endangered.

9. It is clear that We are discussing a serious matter, with which our eternal salvation is very intimately connected. Some men, as the Apostle of the Gentiles warns us, are "ever learning yet never attaining knowledge of the truth."[5] They contend that the human mind can discover no truth that is certain or sure; they reject the truths revealed by God and necessary for our eternal salvation.

10. Such men have strayed pathetically far from the teaching of Christ and the views expressed by the Apostle when he said, "Let us all attain to the unity of the faith and of the deep knowledge of the son of God . . . that we may no longer be children, tossed to and fro and carried about by every wind of doctrine devised in the wickedness of men, in craftiness, according to the wiles of error. Rather are we to practice the truth in love, and grow up in all things in him who is the head, Christ. For from him the whole body (being closely joined and knit together through every joint of the system according to the functioning in due measure of each single part) derives its increase to the building up of itself in love."[6]

11. Anyone who consciously and wantonly attacks known truth, who arms himself with falsehood in his speech, his writings, or his conduct in order to attract and win over less learned men and to shape the inexperienced and impressionable minds of the young to his own way of thinking, takes advantage of the inexperience and innocence of others and engages in an altogether despicable business.

... 

17.
 Some men, indeed do not attack the truth willfully, but work in heedless disregard of it. They act as though God had given us intellects for some purpose other than the pursuit and attainment of truth. This mistaken sort of action leads directly to that absurd proposition: one religion is just as good as another, for there is no distinction here between truth and falsehood. "This attitude," to quote Pope Leo again, "is directed to the destruction of all religions, but particularly the Catholic faith, which cannot be placed on a level with other religions without serious injustice, since it alone is true."[9] Moreover, to contend that there is nothing to choose between contradictories and among contraries can lead only to this fatal conclusion: a reluctance to accept any religion either in theory or practice.

18. How can God, who is truth, approve or tolerate the indifference, neglect, and sloth of those who attach no importance to matters on which our eternal salvation depends; who attach no importance to pursuit and attainment of necessary truths, or to the offering of that proper worship which is owed to God alone?

... 

59.
 Now we shall discuss a unity which is of particular concern to Us and is closely connected to the pastoral mission which God has entrusted to Us: the unity of the Church.

60. Everyone realizes, of course, that God our Redeemer founded this society which was to endure to the end of time, for as Christ said, "Behold, I am with you all days, even unto the consummation of the world."[18] For this intention He addressed ardent prayers to His Father: "That all may be one, even as thou, Father, in me and I in thee; that they also may be one in Us."[19] Surely this prayer was heard and granted because of His reverent submission.[20] This is a comforting hope; it assures us that someday all the sheep who are not of this fold will want to return to it. Then, in the words of God our Savior, "there shall be one fold and one shepherd."[21]

61. This fond hope compelled Us to make public Our intention to hold an Ecumenical Council. Bishops from every part of the world will gather there to discuss serious religious topics. They will consider, in particular, the growth of the Catholic faith, the restoration of sound morals among the Christian flock, and appropriate adaptation of Church discipline to the needs and conditions of our times.

62. This event will be a wonderful spectacle of truth, unity, and charity. For those who behold it but are not one with this Apostolic See, We hope that it will be a gentle invitation to seek and find that unity for which Jesus Christ prayed so ardently to His Father in heaven. 

63. We are already aware, to Our great joy, that many of the communities that are separated from the See of Blessed Peter have recently
 shown some inclination toward the Catholic faith and its teachings. They have manifested a high regard for this Apostolic See and an esteem which grows greater from day to day as devotion to truth overcomes earlier misconceptions. 

64. We have taken note that almost all those who are adorned with the name of Christian even though separated from Us and from one another have
 sought to forge bonds of unity by means of many congresses and by establishing councils. This is evidence that they are moved by an intense desire for unity of some kind.

65. When the Divine Redeemer founded His Church, there is no doubt that He made firm unity its cornerstone and one of its essential attributes. Had He not done this--and it is absurd even to make such a suggestion--He would have founded a transient thing, which in time, at least, would destroy itself. For in just this way have nearly all philosophies risen from among the vagaries of human opinion: one after another, they come into being, they evolve, they are forgotten. But this clearly cannot be the history of a divine teaching authority founded by Jesus Christ, "the way, the truth, and the life."[22]

66. But this unity, Venerable Brethren and beloved sons, must be solid, firm and sure, not transient, uncertain, or unstable.[23] Though there is no such unity in other Christian communities, all who look carefully can see that it is present in the Catholic Church. 

67. Indeed, the Catholic Church is set apart and distinguished by these three characteristics: unity of doctrine, unity of organization, unity of worship.
 This unity is so conspicuous that by it all men can find and recognize the Catholic Church.

68. It is the will of God, the Church's founder, that all the sheep should eventually gather into this one fold, under the guidance of one shepherd. All God's children are summoned to their father's only home, and its cornerstone is Peter. All men should work together like brothers to become part of this single kingdom of God; for the citizens of that kingdom are united in peace and harmony on earth that they might enjoy eternal happiness some day in heaven.

69. The Catholic Church teaches the necessity of believing firmly and faithfully all that God has revealed. This revelation is contained in sacred scripture and in the oral and written tradition that has come down through the centuries from the apostolic age and finds expression in the ordinances and definitions of the popes and legitimate Ecumenical Councils.

70. Whenever a man has wandered from this path, the Church has never failed to use her maternal authority to call him again and again to the right road. She knows well that there is no other truth than the one truth she treasures; that there can be no "truths" in contradiction of it. Thus she repeats and bears witness to the words of the Apostle: "For we can do nothing against the truth, but only for the truth."[24]

... 

79. We address Ourselves now
 to all of you who are separated from this Apostolic See. May this wonderful Spectacle of unity, by which the Catholic Church is set apart and distinguished, as well as the prayers and entreaties with which she begs God for unity, stir your hearts and awaken you to what is really in your best interest.

80. May We, in fond anticipation, address you as sons and brethren? May We hope with a father's love for your return?

... 

84.
 When We fondly call you to the unity of the Church, please observe that We are not inviting you to a strange home, but to your own, to the abode of your forefathers. Permit Us, then, to long for you all "in the heart of Christ Jesus,"[35] and to exhort you all to be mindful of your forefathers who "preached God's word to you; contemplate the happy issue of the life they lived, and imitate their faith."[36]

85. There is in paradise a glorious legion of Saints who have passed to heaven from your people.By the example of their lives they seem to summon you to union with this Apostolic See with which your Christian community was beneficially united for so many centuries. You are summoned especially by those Saints who in their writings perpetuated and explained with admirable accuracy the teachings of Jesus Christ.

86. We address, then, as brethren all who are separated from Us, using the words of Saint Augustine: "Whether they wish it or not, they are our brethren. They cease to be our brethren only when they stop saying 'Our Father.'"[37]

87. "Let us love God our Lord; let us love His Church. Let us love Him as our father and her as our mother, Him as our master and her as His handmaid. For we are the children of His handmaid. This marriage is based on a deep love. No one can offend one of them and be a friend of the other. . . What difference does it make that you have not offended your father, if he punishes offenses against your mother? . . . Therefore, dearly beloved, be all of one mind and remain true to God your father and your mother the Church."[38]

... 

90. ... Wherefore, to all Our brethren and sons
 who are separated from the Chair of Blessed Peter, We say again: "I am . . . Joseph, your brother."[40] Come, "make room for us."[41] We want nothing else, desire nothing else, pray God for nothing else but your salvation, your eternal happiness.

91. Come! This long-desired unity, fostered and fed by brotherly love, will beget a great peace. This is the peace "which surpasses all understanding,"[42] since its birthplace is in heaven. It is the same peace which Christ promised to men of good will through the song of the angels who hovered over His crib;[43] it is the peace He imparted after instituting the Eucharistic Sacrament and Sacrifice: "Peace I leave with you, my peace I give to you; not as the world gives do I give to you."[44]

92. Peace and joy! Yes, joy--because those who are really and effectively joined to the Mystical Body of Christ, which is the Catholic Church, share in that life which flows from the divine Head into each part of the Body. ...

Bagaimana pendapat anda? Pendapat saya hanya satu, itu adalah ajaran Gereja. Dan saya secara tegas mempercayainya, dengan menggunakan nalar dan iman. Bisa kita diskusikan jika mau.

Salam 

Saulus

2 komentar:

  1. Kapankah EENS ini menjadi dogma ?

    Apa maksudnya E yg kedua , Exclesiam/ exclesia , itu : gereja katolik, atau semua gereja atau umat allah ?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dalam EENS, E yang kedua tentu saja yang menunjukkan bersatu dengan Gereja yang di dirikan Tuhan, karena bergabung dengan gereja yang di dirikan Tuhan berarti menjadi bagian dari Tubuh Mistik Tuhan, yang bersatu dengan gereja katolik.

      Dogma ini sesungguhnya adalah prinsip yang sudah diajarkan Yesus sendiri, Seorangpun tidak akan sampai pada Bapa tanpa melalui Aku,.... Santo Siprianus mengatakan sbb :

      Sungguh, Gereja Katolik adalah subyek pembicaraan yang paling St. Siprianus sukai. Ia selalu membedakan bahwa Gereja Katolik itu ada yang tampak (hierarkis) dan ada juga yang tidak tampak (mistik). Tetapi ia menegaskan bahwa hanya ada satu Gereja, yaitu Gereja yang didirikan diatas Santo Petrus.


      Dia tidak kenal lelah untuk memberitahukan semua orang bahwa “Orang yang memisahkan diri dari Tahkta Santo Petrus, yang di atasnya Gereja telah dibangun, apakah dia masih berpikir bahwa dia masih didalam Gereja? ” [On the unity of the Catholic Church],4).

      Siprianus sangat tahu bahwa “di luar Gereja tidak ada keselamatan” dan mengungkapkannya dengan tegas.(Epistles 4, 4 and 73, 21). Dan Ia juga tahu bahwa“tak seorang pun dapat mempunyai Allah sebagai Bapa kalau tidak mempunyai Gereja sebagai Ibu”. (De unit., 6). Karakteristik yang tidak terpisahkan dari Gereja adalah kesatuan yang dilambangkan oleh Jubah Kristus yang tidak berjahit. (ibid., 7). Siprianus berkata bahwa kesatuan itu didirikan diatas Santo Petrus dan disempurnakan dalamperayaanEkaristi. (Epistle 63, 13).

      Dia tidak kenal lelah untuk memberitahukan semua orang bahwa “Orang yang memisahkan diri dari Tahkta Santo Petrus, yang di atasnya Gereja telah dibangun, apakah dia masih berpikir bahwa dia masih didalam Gereja? ” [On the unity of the Catholic Church],4).

      “Allah itu adalah satu, dan Kristus itu satu dan iman juga adalah satu. (De unit., 23).

      Hapus