Mengasihi Sesama

Mengasihi Sesama
Ibu Theresa dari Calcuta

Senin, 17 Maret 2025

TANYA JAWAB MENGENAI INDULGENSI

 


PERTANYAAN ATAS BAHAN-BAHAN INDULGENSI 

1. Apakah indulgensi itu ? 

Indulgensi adalah penghapusan di hadapan Allah hukuman-hukuman sementara untuk dosa-dosa yang kesalahannya sudah dilebur, yang diperoleh orang beriman kristiani yang berdisposisi baik serta memenuhi syarat-syarat tertentu, diperoleh dengan pertolongan Gereja yang sebagai pelayan keselamatan, secara berkuasa membebaskan dan mengetrapkan harta pemulihan Kristus dan para kudus. 

2. Apa yang dimaksudkan dengan "Kesalahan" yang terdapat dalam perbuatan dosa ? 

Dalam setiap dosa terdapat kesalahan atau makian, penghinaan terhadap Allah dan merupakan sikap hati si pendosa yang lebih menyukai dirinya sendiri daripada Allah.  

3. Apa yang dimaksudkan dengan "Hukuman kekal" yang diakibatkan oleh dosa manusia ? 

Hukuman kekal karena dosa adalah kehilangan oleh manusia secara total "KEBAIKAN-YANG-TAK-TERBATAS" (Allah). Disebut kekal karena kehendak manusia menetap dalam sikap melawan Allah yang dimiliki sebelum meninggal dunia. 

4. Apa yang dimaksudkan dengan "Hukuman sementara" ? 

Hukuman sementara adalah kehilangan suatu "kebaikan-yang-terbatas", yang berkat pahala Kristus, dari sifatnya kekal menjadi sementara, yakni dapat dipulihkan melalui perbuatan baik yang dilakukan oleh manusia. 

5. Jelaskantah yang dimaksudkan dengan "Hukuman karena kehilangan suatu 'kebaikan-yang-tak-terbatas' !" 

Hukuman ini adalah kerugian yang dialami jiwa manusia dalam hidup adikodratinya, yakni kehilangan Allah sebagai Kebaikan tertinggi, sebab dia suka melakukan perbuatan-perbuatan penting lebih untuk menyukai dirinya sendiri daripada menyukai Allah, sehingga perbuatan menjadi suatu perlawanan terhadap Allah.  

6. Jelaskaniah yang dimaksudkan dengan "Hukuman karena kehilangan suatu kebaikan-yang-terbatas" !

Hukuman ini adalah kerugian yang dialami jiwa dalam kodrat manusiawinya, karena dia melalu perbuatan-perbuatannya melawan ketertiban kosmos yang berasal dari Allah. Dengan kata lain, manusia tidak rela menggunakan ciptaan menurut aturan yang ditentukan Allah.  

7. Apa yang terabadikan dalam jiwa si pendosa yang meninggal dunia tanpa bertobat ? 

Kematian yang menimpa pendosa yang tidak bertobat mengabadikan “Kesalaharn" maupun sikap kehendak manusia yang memberontak baik terhadap Allah maupun terhadap ketertiban kosmos yang berasal dari Allah. 

Konsekwensinya: 

Kematian mengabadikan pula kedua hukuman yang terdapat dalam dosa berat: 

  • hukuman karena kehilangan persahabatan dengan Allah (kebaikan yang tak terbatas) 
  • hukuman karena kehilangan kedamaian dengan kosmos (kebaikan yang terbatas) 

8. Apa yang dibutuhkan agar tercapai pengampunan maupun penyilihan atas dosa-dosa secara tuntas ? 

  1. dibutuhkan agar persahabatan dengan Allah dipulihkan kembali melalui suatu pertobatan hati dan budi yang sejati, demikian juga penghinaan terhadap kebijaksanaan dan kebaikan Allah dipulihkan kembali. Proses pertobatan manusia ini diterima oleh Allah yang membenarkan manusia berkat pahala Yesus Kristus di kayu salib.
  2. dibutuhkan juga agar segala kerusakan yang diakibatkan oleh dosa manusia terhadap kebaikannya sendiri atau terhadap masyarakat maupun terhadap ketertiban universal dipulihkan kembali: 

      • melalui perbuatan-perbuatan bebas yang disertai penderitaan, atau 
      • dengan menerima hukuman-hukuman yang di tentukan oleh kebijaksanaan Allah yang adil dan suci. 

9. Jelaskanlah apa yang dimaksudkan dengan "Silih atas hukuman sementara" ?

Usaha si pendosa, atas dorongan cinta dan cahaya Ilahi, untuk memperbaiki segala kerusakan terhadap dirinya sendiri, masyarakat maupun kosmos yang diakibatkan oleh dosanya. Usaha ini dilaksanakan melalui: 

    • perbuatan-perbuatan yang dipilih secara bebas oleh si pendosa dan yang disertai penderitaan, dan 
    • hukuman-hukuman yang berasal dari kebijaksanaan Allah yang adil dan suci. Melakui perbuatan perbuatan ini kesucian dan cahaya kemukaan Allah bersinar kembali ke seluruh dunia. Umpama: jika si pendosa sudah menjadi seorang kikir, maka dia terdorong untuk menjadi lebih murah hati lagi.

10. Dengan cara manakah kita menanggung hukuman-hukuman yang berasal dan kesucian dan keadilan Allah yang dijatuhkan atas diri kita ? 

Hukuman-hukuman itu kita tanggung: 

  • di dunia ini dengan mengalami penderitaan, kemiskinan dan kemalangan yang berasal dari hidup sehari-hari dan terutama dengan menerima kematian: 
  • di dunia lain dengan menanggung siksaan atau hukuman-hukuman yang memurnikan. 
11. Jelaskanlah apa arti "Hukuman atau penderitaan yang memurnikan" ! 

  • Berarti tertunda perjumpaan jiwa dengan Allah, jiwa belum dapat menikmati Akah dari muka ke muka.
  • Penderitaan itu berfungsi untuk menyilih dan mempersiapkan jiwa untuk bertemu dengan Allah. 

12. Tujuan apa yang dimiliki oleh kerahiman dan keadilan Allah dalam menjatuhkan hukuman-hukuman atas diri manusia ? 

Tujuan ialah: 

  • untuk memurnikan jiwa 
  • untuk melindungi kesucian tata moral 
  • untuk memulihkan kemuliaan Allah dalam kebesaran semula. 

13. Tolong jelaskan mana tujuan perbuatan tobat: dan perbuatan tobat manakah yang sangat dianjurkan oleh Injil? 

Tujuan perbuatan tobat ialah menimbulkan di dalam hati si pendosa kesadaran terhadap kejahatan dan akibat-akibat dari dosanya, supaya merasa remuk-redam hatinya sehingga minta ampun dan bertobat kepada Allah.

Perbuatan yang dianjurkan oleh Kitab suci talah doa, puasa dan amal kasih 

14. Tolong jelaskan apa perbuatan tobat itu ? 

Perbuatan tobat adalah perbuatan yang dilakukan manusia untuk memperbaiki baik kesalahannya maupun kekacauan yang diakibatkan oleh dosanya sendiri atau dosa orang lain.

15. Apa artinya "persekutuan para kudus" ? 

“Persekutuan para kudus" adalah solidaritas rohani adikodrati antar umat manusia, sehingga kebaikan seseorang menguntungkan orang lain. Anggota umat Allah yang masih mengembara dan yang sudah meninggal saling mencintai, membantu dan mendoakan. 

16. Apa yang dimaksudkan dengan "khazanah Gereja" ? 

Khazanah Gereja adalah nilai yang tidak terbatas dan tidak dapat habis yang dimikki oleh karya silih dan pahala Yesus Kristus pada Allah Bapa, yang dipersembahkan agar seluruh umat manusia dibebaskan dani dosa dan memperoleh kesatuan dengan Allah Bapa. Dalam khazanah Gereja ini fermasuk juga doa dan perbuatan baik dari Sang Perawan Mariia dan para kudus, yang sangat bernilai di hadapan Allah. 

17. Bagaimana Gereja menerapkan indulgensi bagi orang hidup dan bagi orang mati ? 

Gereja, berdasarkan kuasa apostolk dan sebagai pelayan keselamatan, Secara berkuasa membagi-bagikan (membebaskan) dan menerapkan harta pemulihan Kristus, Perawan Maria dan para kudus kepada kaum beriman: 

  1. kepada kaum beriman yang masih mengembara di dunia indulgensi diberi dalam bentuk pengampunan, 
  2. dan kepada kaum beriman yang sudah meninggal dalam bentuk permohonan. 

Dasar mengapa Gereja memberi indulgensi ialah keyakinan para Gembala Gereja (PAUS) bahwa: 

  • beberapa perbuatan yang sangat berguna demi kebaikan umum Gereya "dapat mengganti seluruh perbuatan mati-raga", 
  • kepada kaum beriman "yang sungguh menyesal dan mengaku dosanya" yang melakukan perbuatan yang sangat berguna itu, Gereja memberi pengampunan bukan saja secara penuh dan beriimpah, tetapi juga secara fotal atas doa-doa mereka. 

  • Gereja melakukan hal imi, berkat kerahiman Allah yang Mahakuasa..., dengan bertopang pada pahala dan kuasa para rasul, dengan menggunakan kepenuhan kuasa apostolik yang drwariskan kepada mereka. (Bulla, Antiguorum habet. PAUS BONIFACIUS VIII) 
  • "Putera Allah yang tunggal ... telah menyiapkan suatu khazanah bagi Gereja yang mengembara. Khazanah itu diserahkannya kepada Santo Petrus, pemegang kunci surga, dan kepada para penggantinya, wakil-wakilNya di dunia, agar membagikannya kepada kaum beriman demi keselamatan mereka, dan berdasarkan suatu sebab yang masuk akal, menerapkannya dengan penuh kerahiman kepada mereka yang menyesal dan mengaku dosa-dosanya, kadang-kadang dengan menghapus secara penuh dan kadang-kadang secara sebagian hukuman sementara yang dikarenakan oleh dosa-dosa mereka. (Bulla, Unigonitus Des Filus, PAUS CLEMENS VI) 

18. Mana tujuan yang mau diperoleh oleh Gereja dalam memberi indulgensi ?

 Tujuannya bukan saja untuk menolong kaum beriman untuk menyilih hukuman-hukuman karena dosa, namun juga dan terutama untuk menghidupkan di dalam diri orang beriman, kerinduan untuk semakin bertobat dan berkembang dalam cintakasih adikodrati. 

19. Hukuman mana yang disilih oleh jiwa-jiwa dalam api penyucian ? 

Hukuman atas kesalahan yang dilakukan dan kebaikan yang tidak dilakukan yang sudah disesali sungguh-sungguh, namun belum disilih dengan perbuatan tobat yang pantas.  

20. Jenis penderitaan apa yang ditanggung jiwa-jiwa dalam api penyucian?

 Penderitaan yang memurnikan, yakni tertundanya perjumpaan jiwa dengan Allah sehingga jiwa itu belum dapat menikmati pandangan Allah dari mirka-kemuka. 

21. Jelaskan hubungan antara perbuatan-perbuatan cinta-kasih, mati-raga dan doa dengan indulgensi ! 

Indulgensi adalah penghapusan di hadapan Allah hukuman sementara yang dikarenakan oleh dosa-dosa aktuil, (yang kesalahannya sudah dilebur melakui sakramen tobat) melahui indukgensi gereja (PAUS LEO X) 

Indulgensi dalam segi tertentu sama seperti sarana-sarana lain (cintakasih, matiraga, doa), yang ditujukan untuk menghapus sisa dosa dalam jwa, namun pada waktu yang sama indulgensi sangat berbeda dari sarana-sarana Itu. Sebab dalam indulgensi, Gereja dengan menggunakan kuasanya sebagai pelayan penebusan Kristus Tuhan, bukan saja berdoa, tetapi juga dengan tindakan kuasanya membagi-bagikan kepada orang beriman yang hukuman sementara. 

“Indulgensi yang Gereja berikan kepada orang beriman yang bertobat adalah pernyataan persekutuan para kudus itu, yang dalam ikatan tunggal cinta kasih Kristus, secara mistik menyatukan Santa Perawan dan jemaat kaum beriman yang sudah berada dalam kemukaan atau hidup dalam api penyucian atau mengembara di dunia. Sebab indulgensi yang diberi melakii pengantaraan Gereja, mengurangi atau menghapuskan seluruh hukuman, yang menjadi hambatan bagi manusia dalam memperoleh suatu kesatuan yang lebih erat dengan Allah. Karena itu orang benman yang bertobat menemukan bantuan yang mujarab dalam cintakasih Gereja dalam bentuk khas indulgensi untuk berhasil membuang manusia lama dan mengenakan manusia baru "yang terus menerus diperbaharui untuk memperoleh pengetahuan yang benar menurut gambar khakiknya" (Kol 3 : 19) (Surat "Sacrosancta Portiunculae, PAUS PAULUS VI). 

22. Apa artinya "indulgensi penuh" dan "indulgensi sebagian" ? 

Indulgensi adalah penuh atau sebagian jika melepaskan manusia secara total atau sebagian dari hukuman sementara karena dosa-dosanya. 

23. Betapa besar indulgensi sebagian yang diperoleh dengan melakukan suatu perbuatan yang berhubungan dengan indulgensi sebagian ? 

Orang beriman, yang dengan hati penuh sesal atas dosa-dosanya dan terutama dengan sikap penuh cinta kasih, melakukan suatu perbuatan yang berhubungan dengan indulgensi sebagian, selain penghapusan hukuman Sementara yang diperoleh dengan perbuatan itu memperoleh penghapusan hukuman sementara sama besarnya berkat karya gereja (indulgensi). Pengampunan dilipatgandakan. 

24. Jelaskaniah kepentingan Tahun Yubileum. 

Tahun Yubileum di mana kita dapat indulgensi penuh adalah kesempatan yang luar biasa untuk memperbaharui hidup rohani kita. Selama tahun Yubikum kita mengaktifkan segala sarana untuk mencintai Tuhan dan mempertobatkan diri. 

25. Syarat-syarat umum untuk memperoleh indulgensi. 

- harus memiliki minat/kehendak untuk memperolehnya: minat itu tidak perlu secara eksplisit cukup diandaikan. 

- harus mematuhi perbuatan-perbuatan lainnya yang tercantum dalam peraturan gereja. 

26. Syarat-syarat untuk memperoleh indulgensi penuh ? Lihat tulisan berikutnya

27. Manakah obyek dan tujuan dari ketiga kemurahan umum untuk indulgensi sebagian ? 

  • obyek ialah perbuatan-perbuatan yang merangkai kehidupan sehari-hani: 
  • tujuan: 

    1. menjiwai perbuatan-perbuatan itu dengan semangat kristiani: 
    2. memperoleh kesempurnaan cintakasih dalam kesibukan sehari-hari. 

28. Apa yang dimaksudkan dengan "penyembahan sakramen mahakudus" ? Dan manakah syarat-syarat untuk memperoleh indulgensi penuh ? 

Yang dimaksudkan ialah kunjungan kepada sakramen mahakudus, syaratnya ialah berdoa selama setengah jam di hadapannya.

INDULGENSI ... APA ITU?

 


INDULGENSI

Apa sesungguhnya indulgensi itu ? Indulgensi merupakan salah satu cara untuk memenuhi kebutuhan akan hukuman sementara, Indulgensi bukan suatu cara untuk mendapatkan pengampunan atas kesalahan atau dosa kita, karena pengampunan harus diperoleh melalui pertobatan, yang telah tersedia melalui pekerjaan yang diselesaikan oleh Kristus.
Ketika seorang Katolik menerima sebuah indulgensi, sebagian atau seluruh hukuman sementaranya dilepaskan. Pada umumnya suatu indulgensi terdiri dari suatu tindakan berdoa.
  • • Kadang-kadang suatu indulgensi harus memberikan kontribusi bagi yang memerlukan, bersamaan dengan doa yang khusus.
  • • Gereja tidak pernah mengajarkan bahwa pemberian uang cukup untuk memperoleh sebuah indulgensi. Jiwa dari orang yang berdosa harus menyesal dan melakukan doa.
Seluruh konsep mengenai indulgensi didasarkan pada peran perbuatan dan penderitaan dalam menyempurnakan jiwa kita.
Gereja merupakan gudang rahmat yang dihasilkan oleh Kristus dan orang-orang kudus yang menderita yang dikatakan oleh Paulus (Yoh 20:22-23: Mat 16:13-20).
Kolam rahmat ini tidak terbatas. Dengan demikian, Gereja memiliki kekuasaan untuk memberikan rahmat kepada orang Kristen yang membutuhkannya, dalam usaha menyucikan jiwa mereka.
Orang Evangelis bangga mengatakan bahwa Allah tidak memiliki cucu. Maksud mereka, setiap kita harus menjawab secara pribadi panggilan Allah. Hal ini sungguh benar. Namun itu tidak berarti orang Kristen yatim piatu, tidak memiliki saudara kandung dan keluarga.
Allah memberikan kita sebuah keluarga, Gereja, untuk membantu kita selama ziarah menuju kekudusan. Indulgensi adalah salah satu dari bantuan-bantuan itu.
Kepercayaan Gereja ini nyata pada para martir Kristen purba, di zaman Gereja purba, jika seorang pendosa mengaku dosanya, ia mungkin akan dikenakan penitensi yang sangat panjang, atau penyucian melalui usaha.
Para pendosa zaman itu sering pergi ke penjara mengunjungi mereka yang tidak lama kemudian menjadi martir dan “meminjam” beberapa jasa mereka kepada Allah, jasa yang telah dikumpulkan melalui penderitaan dan kehidupan yang kudus. Ketika pendosa itu kembali kepada uskupnya, penitensinya akan dinyatakan memuaskan, didasarkan pada jasa martir. Indulgensi tidak mempengaruhi kesalahan kekal pendosa itu tetapi hanya mempengaruhi hukuman sementaranya.
Seluruh konsep ini sangat asing bagi orang Evangelis, namun saya tidak dapat menemukan sesuatu yang secara fundamental tidak alkitabiah di dalamnya. Ini tidak mengatakan bahwa hal ini tidak bertentangan dengan pandangan Evangelis mengenai keselamatan. Tetapi saya tidak dapat membantah bahwa praktek indulgensi telah berlangsung sejak masa awal komunitas Kristen. Sebagaimana Chesterton, saya menyerahkan kehendak saya tanpa mempertimbangkan emosi saya.
Mungkin perlu saya tambahkan bahwa kebanyakan orang Katolik setuju bahwa Luther benar dalam menyerang penyelewengan atas indulgensi yang terjadi pada masanya. Banyak uskup yang baik juga menentang penyelewenganpenyelewengan yang sama selama bertahun-tahun sebelum Luther mengutuknya. Namun penyelewengan atas sesuatu tidak membatalkan praktek yang benar untuk seterusnya. Penyelewengan harus dikoreksi agar hal itu dapat digunakan sebagaimana mestinya.
Tidak perlu melempar bayi keluar bersama air bekas mandinya.

USIA TERAH SAAT MEMILIKI ABRAM 70 ATAU 130 TAHUN



BAGAIMANA KITA MENGHITUNG USIA TERAH SAAT MEMILIKI ABRAM ???

Perhatikan ayat berikut ... yang sering disalah artikan orang yang membaca alkitab secara sepintas : 

Kej 11:26 Setelah Terah hidup tujuh puluh tahun, ia memperanakkan Abram, Nahor dan Haran.

Berapa banyak yang langsung berkesimpulan saat Terah memiliki anak Abraham pada umur 70 tahun ??? Terpikirkan kah oleh kita bahwa saat berumur 70 tahun itu Terah memiliki 3 anak kembar ??? atau baru setelah usianya 70 dia berturut-turut memiliki 3 anak ??? Coba periksa ayat berikut : 

Kej 11:32 Umur Terah ada #dua_ratus_lima tahun; lalu ia mati di Haran.

dan perhatikan ayat berikut : 

Kej 12:4 Lalu pergilah Abram seperti yang difirmankan TUHAN kepadanya, dan Lot pun ikut bersama-sama dengan dia; Abram berumur #tujuh_puluh_lima tahun, ketika ia #berangkat dari #Haran

lalu ... perhatikan bahasan berikut :

Perjanjian Baru memberitahu kita bahwa Abraham meninggalkan Haran pada usia 75 tahun SETELAH Terah meninggal pada usia 205 tahun di Haran:

a. "Kemudian ia meninggalkan negeri orang Kasdim dan menetap di Haran. Dari sana, #setelah_ayahnya_meninggal, Allah menyuruh dia pindah ke negeri ini, tempat kamu diam sekarang." (Kisah Para Rasul 7:4)

b. Perjanjian Baru menyelesaikan masalah ini bagi kita karena Abraham meninggalkan Haran pada usia 75 tahun ketika ayahnya meninggal pada usia 205 tahun: Jadi, Abraham lahir ketika Terah berusia 130 tahun.

c. Jadi, kita tahu dengan pasti bahwa jika Terah meninggal pada usia 205 tahun, yang memicu Abraham meninggalkan Haran pada usia 75 tahun, maka Abraham lahir ketika Terah berusia 130 tahun.

d. Namun, para penerjemah Septuaginta pada tahun 282 sM tidak memiliki akses ke Kisah Para Rasul 7:4.

e. "Selain itu, ada beberapa peringatan dalam teks Alkitab bahwa jika kita menjumlahkan angka-angka ini, akan terjadi distorsi dan kesalahan. Ambil contoh, yang terakhir dalam seri dua puluh tokoh penting: Terah. Tampaknya ia hidup 70 tahun dan kemudian memiliki anak kembar tiga (Kejadian 11:26). Total umur hidupnya adalah 205 tahun (Kejadian 11:32). Namun, ada sesuatu yang tidak sesuai, karena Abram meninggalkan Haran setelah ayahnya meninggal (Kejadian 12:4; Kisah Para Rasul 7:4), tetapi ia hanya berusia 75 tahun pada saat itu dan bukan 135 tahun, yang seharusnya ia capai jika angka-angka itu dimaksudkan dengan cara yang disetujui oleh penggunaan saat ini! Oleh karena itu, jika kita menjumlahkan angka-angka dalam bagian silsilah ini, kita sudah akan meleset 60 tahun, karena teks itu pasti bermaksud bahwa Terah 'mulai memiliki anak ketika ia berusia 70 tahun,' tetapi Abram sebenarnya lahir ketika ayahnya berusia 130 tahun dan bukan 70 tahun. Ia bukan anak sulung, tetapi namanya disebutkan pertama karena ia adalah tokoh yang paling penting." (Hard Sayings of the Bible, W. C. Kaiser, P. H. Davids, F. F. Bruce, M. T. Brauch, hlm. 49, 1996 M)

JADI APA KESIMPULAN KITA ???

secara singkat bisa kita simpulkan demikian :

- Terah meninggal saat berusia 205

- Abran meninggalkan Haran saat berusia 75, dan saat itu ayahnya Terah usinya 205. Jadi Abram lahir pada saat usia Terah = 205-75 = 130 tahun, dan bukan pada usia 70 tahun. Itu cuma salah menafsir saja...

dengan demikian ... kita diingatkan untuk membaca dengan menyeluruh dari sumber kitab suci untuk mencegah salah tafsir 🙏🙏🙏

Sabtu, 15 Maret 2025

API PENYUCIAN OLEH DAVID B. CURRIE

 





API PENYUCIAN

(dicuplik dari petobat intelektual David B. Currrie. sebagai sumbangsih bagi orang-orang diluar katolik yang tak pernah paham dogma katolik yang satu ini ...)
Secara pribadi, api penyucian itu masuk akal sejak awal mula, namun hal ini tidak dipahami sama sekali oleh kebanyakan orang Evangelis. Kata itu sendiri cukup untuk membuat jantung kebanyakan orang Evangelis berhenti berdetak. Putra saya mengatakan ia telah diberitahu oleh seorang guru bahwa orang Katolik percaya api penyucian sama seperti api neraka, hanya tidak separah api neraka. Setelah menyelidiki ajaran Katolik, saya bertanya dalam hati, “Dari mana orang Evangelis mendapatkan pemikiran seperti itu?”
Ada tiga tempat bagi orang yang telah mati. Neraka adalah suatu tempat penderitaan dan ketidakbahagiaan yang permanen. Sekali di sana, tidak ada yang dapat keluar. Surga adalah suatu tempat permanen yang nyaman dan bahagia. Sekali di sana, tidak seorang pun ingin meninggalkannya. Api penyucian adalah suatu tempat penderitaan dan ketidakbahagiaan yang sementara. Sebenarnya, api penyucian merupakan jalan masuk ke surga. Api penyucian bukanlah kesempatan kedua di surga. Api penyucian bersifat sementara karena hanya mereka yang dijamin ke surga yang masuk ke dalamnya. Jiwa-jiwa di api penyucian pada dasarnya bahagia karena mereka tahu bahwa tempat keabadian mereka terjamin.
Mengapa api penyucian diperlukan?
Yesus mengatakan, “Orang yang suci hatinya.... akan melihat Allah” (Mat 5:8).
Hanya orang Kristen yang memiliki jiwa yang suci dapat melihat Allah. Allah menggunakan kehidupan kristiani kita sehari-hari untuk menguduskan kita dan menyiapkan kita untuk melihatNya. Hanya ketika kita suci secara lahir dan batin, kita akan melihat Allah. Yesus telah mengatakan hal ini.
Banyak orang Kristen, mungkin juga termasuk orang Evangelis, mungkin suci seperti itu ketika mereka meninggal: mereka langsung masuk ke surga. Namun bagaimana dengan orang Kristen yang tidak membiarkan Allah menyucikan diri mereka akibat dosa-dosa yang mereka lakukan? Kesalahan mereka telah diampuni, namun Cacat, atau retakan di dalam jiwa mereka tetap ada, Hukuman sementara mereka belum dihapuskan.
Itulah gunanya api penyucian. Api penyucian merupakan tempat sementara di mana jiwa-jiwa yang belum disucikan secara sempurna melalui perbuatan dan penderitaan di dunia dapat menjadi suci melalui penderitaan sementara setelah kematian. Di sana ada suatu kelegaan, — suatu tempat untuk membersihkan segala dosa yang telah kita lakukan di dunia. Ketika jiwa itu suci, jiwa itu akan memasuki surga.
Ketika kami sekeluarga pertama kali menyelidiki doktrin ini, salah seorang putra saya bertanya, Jika hanya yang suci hatinya dapat melihat Allah, mengapa tidak ada dua bagian surga? Satu untuk mereka yang dapat melihat Allah — yang suci hatinya dan yang satu lagi untuk mereka yang tidak dapat melihat Allah, yang kurang suci.” Saya merenungkan pernyataan anak saya ini pada malam harinya. Keesokan harinya saya mengatakan kepadanya bahwa pemikirannya sangat benar meskipun saya segera memberikan tambahan yang sesuai). Api penyucian bagaikan pintu masuk atau teras dari surga. Api penyucian akan lenyap ketika jiwa yang terakhir telah “disucikan”, dan seluruh isi surga akan melihat Allah.
Kepercayaan akan adanya api penyucian sangat jelas dalam tahun-tahun awal kekristenan.
Dugaan bahwa hal itu tidak pernah disebutkan di dalam Kitab Suci adalah suatu kenyataan sederhana yang mengungkapkan bahwa ajaran tersebut tidak pernah diperdebatkan.
Agustinus, dalam The City of God (Kota Allah), berkata, “Hukuman sementara diderita oleh beberapa orang hanya dalam kehidupan ini saja, oleh yang lainnya sesudah kematian, dan oleh yang lainnya lagi sekarang dan nanti” Hal ini jelas mengarah kepada api penyucian.
Adanya api penyucian merupakan satu-satunya alasan untuk mendoakan orang-orang yang telah meninggal.
Doa-doa kita membantu mereka di dalam penderitaan mereka supaya menjadi cukup suci bagi surga. Doa-doa untuk orang yang telah meninggal ada dalam tulisan-tulisan orang Kristen purba. Didalam kitab kedua Makabe 12:43-46, doa-doa dan persembahan dilakukan untuk keperluan mereka yang telah meninggal: “Sungguh suatu perbuatan yang sangat baik dan tepat berdoa bagi yang telah meninggal, supaya mereka dilepaskan dari dosa mereka." Pelepasan jelas terjadi di Api Penyucian.
Meskipun arti sesungguhnya dari 1Korintus 15:29 diperdebatkan dengan seru, namun ada suatu kenyataan yang jelas : Orang Kristen yang masih hidup dapat melakukan sesuatu yang berguna bagi jiwa orang-orang yang sudah meninggal - “Jika tidak demikian, apakah faedahnya perbuatan orang-orang yang dibaptis bagi orang mati? Kalau orang mati sama sekali tidak dibangkitkan, mengapa mereka mau dibaptis bagi orang: orang yang telah meninggal?”
Ayat ini tidak masuk dalam konsep Evangelis mengenai surga dan neraka. Tanpa api penyucian, apa yang mungkin dapat diperoleh dengan melakukan sesuatu bagi orang mati? Doa-doa kita sungguh berguna bagi orang Kristen yang telah meninggal - inilah ajaran Gereja yang tidak terusik.
Ayat-ayat lainnya yang lebih masuk akal dalam konteks kepercayaan akan api penyucian tersebar di seluruh Kitab Suci. Dalam Matius 12:32, Yesus mengisyaratkan ada dosa-dosa yang dapat dilepaskan dari kita pada saat ini, dan ada pula yang dilepaskan setelah kehidupan saat ini: “Apabila seseorang mengucapkan sesuatu menentang Anak Manusia, ia akan diampuni, tetapi jika ia menentang Roh Kudus, ia tidak akan diampuni, di dunia ini tidak, dan di dunia yang akan datang pun tidak.” Ayat ini sesungguhnya membantu kita untuk memahami adanya api penyucian kelak. Tanpa api penyucian, bagian terakhir dari perkataan Yesus menjadi tidak jelas.
Sabda dalam 1Korintus 3:15 selaras dengan dogma Katolik mengenai api penyucian, namun ayat ini menjadi berkurang artinya karena soteriologi Evangelis: “Jika hal itu (perbuatan perbuatan manusia) dibakar, ia akan menderita kerugian, namun ia sendiri akan diselamatkan, tetapi hanya sebagai seorang yang terlepas dari kebakaran.”
Di dalam surat Ibrani 12:23 kita melihat adanya pengelompokan orang. Menariknya, ada perbedaan antara “Jemaat (Gereja) anak-anak sulung” dan “roh-roh orang benar yang telah menjadi sempurna.” Hal ini selaras dengan ajaran Gereja mengenai api penyucian. Di situ disebutkan penjelasan tentang mereka yang meninggal dan langsung masuk surga (“anak-anak sulung”) dan mereka yang harus mengalami proses penyucian (“disempurnakan”) di api penyucian.
Di dalam perumpamaan Yesus dalam Lukas 12:42-48, disebutkan tiga hamba, yang diperlakukan dengan tiga cara yang berbeda. Hal itu “akan baik” bagi “manager yang setia dan bijaksana” (surga). Hamba “yang tahu” tetapi “tidak melakukan apa yang diinginkan tuannya” akan ditaruh ke dalam Suatu “tempat dengan orang-orang yang tidak percaya” (neraka). Akhirnya, hamba yang “melakukan sesuatu yang mendatangkan hukuman” tetapi ia sendiri “tidak tahu” akan didisiplinkan (api penyucian).
Meskipun Alkitab tidak pernah menyebut “api penyucian”, namun Alkitab dengan jelas mengatakan bahwa di sana ada tempat ketiga selain surga dan neraka: “Sebab juga Kristus telah mati sekali untuk segala dosa kita.... Ia pergi memberitakan Injil kepada roh-roh yang di dalam penjara, yaitu kepada roh-roh mereka yang dahulu tidak taat kepada Allah” (1Ptr 3:14 20).

Karena otoritas Gereja mengajarkan bahwa tempat ketiga adalah api penyucian, maka nama itu jugalah yang saya gunakan.