Pada masa Yesus, hak-hak perempuan sangat dibatasi secara agama dan sipil. Seorang wanita tidak bisa pergi lebih jauh ke dalam Bait Allah selain ke dalam Halaman Orang Kafir dan Halaman Wanita ( Antiquities of the Jews , 15.418 f; Wars of the Jews 5.199); mereka hanya bisa memasuki Istana Para Imam untuk mempersembahkan korban ( Tosephta Arakhin , II,1m 544). Di mana keluarga-keluarga Yahudi secara ketat menjalankan Hukum, para wanita di rumah tangga mereka tidak ambil bagian dalam kehidupan publik. Ketika seorang wanita harus keluar di depan umum, rambut dan wajahnya ditutupi oleh kerudung selama era pendudukan Romawi. Hanya dalam prosesi pernikahannya seorang wanita terlihat dengan kepala terbuka dan hanya jika dia masih perawan (Misnah : Ketuim, 2.1). Dilarang bagi seorang pria untuk berbicara dengan seorang wanita di depan umum yang bukan dari keluarganya ( Mishnah: Kiddushin, 70a-b; Yoh 4:27 ); juga dilarang untuk berduaan dengan wanita yang bukan istri atau putrinya ( Mishnah: Kiddushim, 4.12, 81a (Babilonia Talmud), atau bahkan melihat wanita yang sudah menikah atau bahkan menyapanya ( Mishnah: Kiddushim , 70a -b.) Seorang wanita tidak memiliki kekayaan pribadi; kekayaan materinya ada di tangan suaminya (Yeremias , Yerusalem pada Zaman Yesus, halaman 360) . Oleh karena itu, menurut kebiasaan pada masa itu, belum pernah terjadi sebelumnya bahwa Yesus mengizinkan para murid perempuan untuk menemani-Nya. St Yohanes Pembaptis sudah melanggar konvensi dengan membaptis wanita ( Mat 21:32 ).
Di sini, dirumah ini,di Gereja Katolik Roma, telah kutentukan, dengan iman, pemikiran, dengan segenap hati, segenap kekuatan dan segenap akalbudiku, pilihanku masuk dalam gereja yang didirikan oleh Yesus Kristus di atas sang batukarang rasul Petrus. Gereja ini akhirnya dinamakan Gereja Katolik Roma. Penamaan ini digunakan untuk menunjukkan identitas gereja yang setia kepada ajaran semula dari Yesus Kristus dan yang diteruskan para rasul.
Mengasihi Sesama
Ibu Theresa dari Calcuta
Rabu, 15 September 2021
Minggu, 12 September 2021
Audiensi Umum 31 Mei 1995
Penjelasan St. Yohanes Paulus II mengenai Dogma Extra Ecclesiam Nulla Salus dalam Audiensi Umum, 31 Mei 1995
|
|
|
Beato Yohanes Paulus II |
Semua Diselamatkan Melalui Kristus
Audiensi
Umum, 31 Mei 1995 (Paus Yohanes Paulus II)
Kesulitan yang kadang menyertai kemajuan
evangelisasi menyorot masalah yang rumit, yang solusinya tidak harus dicari
dalam hal [yang] murni historis atau sosiologis.
Ini adalah masalah keselamatan [bagi] mereka
yang tidak tampak [berada dalam] Gereja.
Kita tidak diberi kemungkinan untuk
mencernakan misteri tindakan Allah dalam pikiran dan hati, untuk menilai kuasa
kasih karunia Kristus sebagai pemilik, dalam kehidupan dan dalam kematian,
semua yang "Bapa berikan kepada Dia," dan yang Dia sendiri nyatakan
Dia tidak ingin "kehilangan." Kita mendengar Dia mengulangi ini dalam
salah satu bacaan Injil yang disarankan dalam misa bagi orang mati (bdk. Yoh
6:39-40).
Namun, seperti yang saya tulis dalam Ensiklik Redemptoris Missio, anugerah keselamatan
tidak dapat dibatasi "pada mereka yang secara eksplisit percaya kepada
Kristus dan telah memasuki Gereja. Karena keselamatan ditawarkan kepada semua,
itu harus secara konkret tersedia bagi semua."
Dan, dengan mengakui bahwa kenyataannya
[masih] tidak mungkin bagi banyak orang untuk memiliki akses ke pesan Injil,
aku menambahkan:
"Banyak orang tidak memiliki kesempatan
untuk datang untuk mengetahui atau menerima wahyu Injil atau untuk masuk [ke
dalam] Gereja. Kondisi sosial dan budaya di mana mereka hidup tidak memungkinkan
ini, dan seringkali mereka telah dibesarkan dalam tradisi agama lain " (RM 10).
Kita harus mengakui bahwa, sejauh manusia
dapat mengetahui dan meramalkan, ketidakmungkinan praktis ini tampaknya
ditakdirkan untuk bertahan lama, mungkin sampai karya evangelisasi akhirnya
selesai. Yesus sendiri mengingatkan bahwa hanya Bapa yang tahu "waktu yang
tepat" ditentukan oleh Dia untuk pembentukan kerajaanNya di dunia (lih.
Kis 1:7).
Apa yang saya katakan di atas, bagaimanapun, tidak
membenarkan posisi relativistik dari mereka yang mempertahankan bahwa jalan
keselamatan dapat ditemukan dalam agama apapun, bahkan independen dari iman
kepada Kristus Sang Penebus, dan bahwa dialog antaragama harus didasarkan pada
ide ambigu.
Bahwa [ada] jalan keluar untuk masalah keselamatan
bagi mereka yang tidak meyakini Kredo Kristen, tidak sesuai dengan Injil.
Sebaliknya, kita harus mempertahankan bahwa
jalan keselamatan selalu melewati Kristus, dan karena itu Gereja dan
misionarisnya memiliki tugas membuat Dia dikenal dan dicintai di setiap tempat,
waktu dan budaya.
Terpisah dari Kristus "tidak ada
keselamatan." Seperti Petrus menyatakan di depan Sanhedrin pada awal-awal
khotbah apostolik: "tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang
olehnya kita dapat diselamatkan” (Kis 4:12).
Juga bagi mereka yang bukan karena kesalahan
mereka sendiri tidak mengenal Kristus dan tidak dikenal sebagai orang Kristen,
rencana ilahi telah menyediakan suatu jalan keselamatan.
Seperti yang kita baca dalam Dekrit Konsili Ad
Gentes, kita percaya bahwa "Allah dalam cara-cara yang diketahuiNya
sendiri bisa membimbing orang yang bukan karena kesalahannya tidak tahu
(inculpably ignorant) tentang Injil” menuju iman yang diperlukan untuk
keselamatan (AG 7).
Tentu saja, kondisi "ketidak tahuan
bukan karena kesalahannya sendiri (inculpably ignorant) " tidak dapat
dinilai atau ditimbang oleh penilaian manusia, tetapi harus diserahkan kepada penghakiman
ilahi saja. Untuk alasan ini, Konsili menyatakan dalam Konstitusi Gaudium et
Spes bahwa dalam hati setiap orang yang berkehendak baik, "Rahmat bekerja
dengan cara yang tak terlihat .... Roh Kudus membuka kemungkinan bagi semua
orang untuk dengan cara yang diketahui Allah digabungkan dengan misteri Paskah
itu"(GS 22).
Penting untuk menekankan bahwa jalan keselamatan
yang ditempuh oleh mereka yang tidak tahu Injil bukanlah cara yang terpisah
dari Kristus dan Gereja. Rencana keselamatan universal terkait dengan perantaran
Kristus.
"Allah, Juruselamat kita, yang
menghendaki supaya semua orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan akan
kebenaran. Karena Allah itu esa dan esa pula Dia yang menjadi pengantara antara
Allah dan manusia, yaitu manusia Kristus Yesus, yang telah menyerahkan diri-Nya
sebagai tebusan bagi semua manusia."(1 Timotius 2:3-6).
Petrus menyatakan ini ketika ia berkata:
"Tidak ada keselamatan pada orang lain" dan menyebut Yesus sebagai
"batu penjuru" (Kis 4:11-12), menekankan perlunya peran Kristus
sebagai dasar Gereja.
Penegasan "keunikan" Juruselamat
berasal dari kata-kata Tuhan. Dia menyatakan bahwa Dia datang "untuk
memberikan hidupNya sendiri untuk menebus banyak orang" (Mrk 10:45),
yaitu, bagi kemanusiaan, sebagaimana St Paulus menerangkan ketika dia menulis:
"Satu mati untuk semua" (2 Kor 5: 14; bdk Rom 5:18).
Kristus memenangkan keselamatan universal
dengan memberikan hidupNya sendiri. Tidak ada mediator lain yang telah
ditetapkan oleh Allah sebagai Juruselamat. Nilai unik dari pengorbanan salib
harus selalu diakui dalam nasib setiap orang.
Karena Kristus membawa keselamatan melalui
Tubuh Mistik-Nya, yang adalah Gereja, jalan keselamatan secara mendasar
dihubungkan dengan Gereja.
Aksioma “extra ecclesiam nulla salus " -
"di luar Gereja tidak ada keselamatan" - dinyatakan oleh St.
Siprianus (Epist. 73, 21; PL 1123 AB), dalam tradisi Kristen.
Aksioma ini dimasukkan dalam Konsili Lateran
IV (DS 802), dalam Bulla Kepausan Unam Sanctam dari Bonifasius VIII (DS 870),
dan Konsili Florence (Decretum pro Jacobitis, DS 1351).
Aksioma ini berarti bahwa bagi mereka yang
mengetahui fakta bahwa Gereja telah ditetapkan Allah melalui Yesus Kristus
sebagai [hal yang] perlu, ada kewajiban untuk memasuki Gereja dan tetap di
dalamnya guna mencapai keselamatan diri (lih. LG 14).
Bagaimanapun, bagi mereka-mereka yang belum
menerima proklamasi Injil, seperti yang saya tulis di Ensiklik Redemptoris
Missio, keselamatan dapat diakses dengan cara yang misterius, sejauh rahmat
ilahi diberikan kepada mereka berdasarkan pengorbanan penebusan Kristus, tanpa
keanggotaan yang tampak di dalam Gereja, tetapi selalu dalam kaitannya dengan
dirinya (cf. RM 10).
Ini merupakan hubungan misterius.
Ini adalah misteri bagi mereka yang menerima
rahmat, karena mereka tidak tahu Gereja dan kadang-kadang bahkan secara
lahiriah menolaknya. Hal ini juga misterius dalam dirinya sendiri, karena
terkait dengan misteri rahmat penyelamatan, yang mencakup referensi hakiki pada
Gereja yang didirikan Juruselamat.
Supaya berlaku, anugerah keselamatan
membutuhkan penerimaan, kerjasama, sebuah ya untuk karunia ilahi. Penerimaan ini, setidaknya
secara implisit, berorientasi kepada Kristus dan Gereja.
Dengan demikian juga dapat dikatakan bahwa sine ecclesia nulla salus --
"Tanpa Gereja tidak ada keselamatan."
Berada dalam Gereja, Tubuh Mistik Kristus,
meskipun secara implisit dan sungguh secara misterius, adalah syarat esensial
untuk keselamatan.
Agama dapat memberikan pengaruh yang
positif terhadap nasib mereka yang ada di dalamnya dan mengikuti bimbingannya
dalam semangat tulus. Namun, dikarenakan tindakan yang menentukan bagi
keselamatan merupakan karya Roh Kudus, kita harus ingat bahwa manusia menerima
keselamatannya hanya dari Kristus melalui Roh Kudus.
Keselamatan sudah dimulai selama hidup di
dunia. Rahmat ini, ketika diterima dan ditanggapi, menghasilkan buah dalam arti
injil bagi bumi dan surga.
Demikianlah pentingnya peran Gereja yang tak
tergantikan. Dia "bukanlah akhir dari dirinya sendiri, melainkan
sungguh-sungguh berkaitan dengan kepenuhan Kristus, dalam Kristus dan bagi
Kristus, serta sepenuhnya dari manusia, antara manusia dan untuk manusia."
Peran ini tidak kemudian "ecclesiocentric," seperti yang kadang
dikatakan.
Gereja tidak ada dan juga tidak bekerja untuk
dirinya sendiri, tetapi pada pelayanan kemanusiaan yang dipanggil untuk menjadi
anak-anak Allah dalam Kristus (cf. RM 19).
Sehingga Gereja melaksanakan perantaraan
secara implisit berkaitan dengan orang-orang yang tidak tahu Injil.
Apa yang telah dikatakan, bagaimanapun, tidak
boleh mengarah pada kesimpulan bahwa aktivitas misionaris kurang diperlukan
dalam situasi ini - justru sebaliknya. Pada kenyataannya, siapa pun yang tidak
mengenal Kristus, bahkan bukan karena kesalahan sendiri, adalah dalam keadaan
kegelapan dan kelaparan spiritual, seringkali dengan dampak negatif pada
tingkat budaya dan moral.
Pekerjaan misionaris Gereja dapat menyediakan
mereka dengan sumber daya untuk pengembangan penuh anugrah keselamatan Kristus,
dengan menawarkan ketaatan penuh dan secara sadar kepada pesan iman dan
partisipasi aktif dalam kehidupan Gereja melalui sakramen-sakramen.
Ini adalah pendekatan teologis yang ditarik
dari tradisi Kristen. Magisterium Gereja telah mengikutinya dalam ajaran dan
praktek sebagai cara yang ditunjukkan oleh Kristus sendiri bagi para rasul dan
misionaris di setiap zaman.
---------------------------
Minggu, 05 September 2021
SEKILAS INFO TENTANG BAHASA ARAMAIC SEKITAR MASA YESUS
PENGARUH BAHASA ARAM
Akhir-akhir ini banyak yang menanyakan apakah
sebenarnya bahasa yang digunakan dalam masa Perjanjian Baru? Soalnya ada
kalangan yang akhir-akhir ini menekankan slogan ‘kembali ke akar yudaik’ yang
menyimpulkan bahwa bahasa Ibrani selalu dipakai oleh bangsa Ibrani termasuk
pada masa Perjanjian Baru dan Perjanjian Baru ditulis dalam bahasa Ibrani.
Benarkah kesimpulan demikian?
Bahasa Aram sejak abad IX
sM., baik sebagai bahasa tulisan maupun percakapan, sudah meluas di sekitar
Palestina sehingga dapat dimaklumi kalau bahasa Ibrani yang berasal dan tidak
jauh berbeda dengan Aram terdesak sehingga terpengaruh bahasa yang lebih sederhana
itu dan digunakan dalam percakapan sehari-hari.
”Pada abad IX sM. dan seterusnya, bahasa Aram dan
tulisannya (diambil dari abjad Ibrani/Punisia) secara pesat menjadi media
internasional dalam bidang hukum dan politik …. Bahasa Aram menjadi bahasa
komunikasi yang resmi di seluruh Kerajaan Persia. Ezra adalah contoh klasiknya.
Kenyataan ini secara jelas dapat dilihat pada papirus yang ditemukan di Mesir
(V sM.) …. Baik Daniel, Ester dan lainnya, dengan mudah menempatkan bahasa Aram
sebagai bahasa percakapan pada abad VI/V-sM. di Babel”. (Kata ”Aram, Arameans”
dalam The New Bible Dictionary, hlm. 58-59)
Aram Bahasa Sehari-hari
Perlu diketahui bahwa sekalipun ada dua
bahasa berpengaruh di Palestina pada abad-abad sesudahnya, yaitu Yunani dan
Aram, kenyataannya dari kedua bahasa itu, berangsur-angsur bahasa Yunani
menjadi lebih dominan daripada Aram sebagai bahasa umum dan perdagangan,
sehingga pada masa Yesus hidup bahasa Yunani lebih berfungsi sebagai bahasa
komunikasi umum lisan dan tulisan di sekitar Laut Tengah, dan bahasa Aram
sebagai dialek lokal di kalangan rakyat Palestina.
”Bahasa Yunani secara
berangsur-angsur menggeser bahasa Aram pada kurun waktu itu, tetapi untuk
mengimbangi kekalahan di kawasan yang lebih mengalami pengaruh Yunani, bahasa
Aram memperoleh kemenangan mempengaruhi dua kawasan yaitu di Arab di mana
orang Nabatea dan Palmira menggunakan bahasa Aram sampai masa Kristen, dan di
Palestina, di mana adanya penolakan kelompok atas pengaruh kebudayaan Yunani
mendorong penduduk setempat untuk menggunakan bahasa Aram”. ( Kata ”Aramaic”
dalam Interpreter’s, vol. 1, hlm. 187.)
Jadi, kala Yesus
hidup, ada dua bahasa berlaku umum di Palestina yaitu bahasa Yunani dan Aram.
Bahasa Yunani ibarat bahasa komunikasi umum lisan dan tulisan sebagai
bahasa regional yang digunakan di sekitar Laut Tengah,
sedangkan bahasa Aram lebih merupakan bahasa lokal yang biasa
digunakan di lingkungan kerabat dekat dan percakapan rakyat umum sehari-hari.
Bahasa Ibrani hanya digunakan kalangan terbatas, terutama kalangan imam agama
Yahudi yang digunakan dalam salin-menyalin Kitab Suci. Sama dengan
Mulder, Tenney juga mengemukakan bahwa:
”Meskipun tidak banyak yang diketahui mengenai sejarah
Yahudi sejak zaman Nehemia hingga abad II sM., ada tercatat beberapa kejadian
penting. Bangsa Yahudi dan Samaria berkembang menjadi dua suku bangsa yang terpisah;
bahasa Aram menggantikan bahasa Ibrani sebagai bahasa pergaulan di Palestina,
dan Helenisme mendesak Yudaisme”. ( Tenney, hlm. 29.)
”Bahasa Ibrani kuno, yang sangat
erat kaitannya dengan bahasa Aram, sudah tidak digunakan lagi sejak zaman Nabi
Ezra, kecuali di antara para rabi yang mempelajari dan menggunakannya sebagai
media pemikiran teologis. Bahasa ini tidak dikenal oleh orang kebanyakan ....
Bahasa Aram dan Yunani lebih banyak berperanan di dalam sejarah gereja pada
abad yang pertama daripada bahasa Latin atau Ibrani”. (Ibid., hlm.
67-68.)
Dapat
dimaklumi kalau Yesus berbicara dua bahasa, Ia mengucapkan ”Eli/Eloi Lama
Sabakhtani” bahasa Aram waktu di salib. Alkitab Perjanjian Baru ditulis
dalam bahasa Yunani, menunjukkan bahwa Yesus dan para murid yang menulis Injil
juga menguasai bahasa Yunani di samping Aram, bahasa ibu mereka.
”Agaknya Yesus berbicara juga
bahasa Yunani ... tetapi bahasa ibu mereka saat itu ialah bahasa Aram”. ( M.E.
Duyverman, Pembimbing ke dalam Perjanjian Baru, hlm. 16.)
Ada yang
berpendapat bahwa ucapan Yesus di kayu salib adalah bahasa Ibrani karena Yesus
mengucapkan ”Eli” atau ”Eloi” yang adalah ” bahasa Ibrani, lagi
pula Yesus mengucapkan kutipan ucapan pemazmur dengan mirip, padahal pemazmur
berbicara dalam bahasa Ibrani. Marilah kita bandingkan kemiripan itu.
”Eli Eli lamah ’azavtani”
(Mzm. 22:2).
Ini diucapkan oleh
Yesus sebagai:
”Eli Eli lama sabakhtani”
(Mat. 27:46).
”Eloi Eloi lama sabakhtani”
(Mrk. 15:34).
Kelihatannya ketiga
kalimat itu mirip, tetapi berbeda. Kita mengetahui bahwa menurut penelitian,
bahasa yang digunakan semasa Yesus hidup adalah bahasa Yunani sebagai
bahasa komunikasi umum regional dan bahasa Aram sebagai dialek
lokal, dan penelitian sejarah menyebutkan bahwa Yesus berkata dalam dialek
lokal Aram yang mirip dengan bahasa Ibrani. Menurut definisi Strong
Concordance, kata ”Eli/Eloi” dan ”sabackhtani” berasal bahasa
Aram, dan ”lama” adalah kata Aram sekalipun berasal bahasa Ibrani
”lamah”. Jadi di sini kita melihat sebenarnya Yesus di banyak bagian Alkitab
menerjemahkan ”Elohim” sebagai ”Theos” dan di atas kayu salib
menyebut dengan dialek lokal Aram kala itu dengan sebutan El Aram (kependekan
Elah). Mazmur 22:2 bahasa Ibrani, yang diucapkan Yesus di atas kayu
salib dalam dialek Aram, kata yang dipakai bukan Elohim tetapi El
Aram.
Adanya kata-kata
”Aram” yang tidak diterjemahkan menunjukkan bahwa memang kata-kata dan nama
”Yunani” Alkitab Perjanjian Baru itulah yang diucapkan Yesus jadi tidak
diterjemahkan dari bahasa Aram, kecuali kalau memang diucapkan dalam bahasa
Aram seperti yang diucapkan di atas kayu salib di mana Yesus mengucapkan
kata-kata dalam bahasa ibu-Nya, suatu ucapan dalam bahasa yang lebih bersifat
kekeluargaan yang intim.
Ternyata pada saat Yesus hidup ada dua bahasa yang
secara independen dipakai Yesus, tetapi yang jelas bukan bahasa Ibrani
melainkan bahasa Yunani dan Aram. Bila kitab Perjanjian Baru merupakan
terjemahan bahasa Aram, tentu kata-kata ”Aram” tidak pernah ada dalam PB, sebab
adalah sesuatu yang tidak biasa kalau ada bagian yang diterjemahkan dan yang
lain tidak. (Naskah-naskah PB bahasa Yunani ada ribuan yang ditemukan, tetapi
tidak dalam bahasa Ibrani dan Aram, menunjukkan bukti bahwa bahasa Yunanilah
yang digunakan dalam penulisan naskah asli PB. Memang kemudian ada terjemahan
ke dalam bahasa Ibrani dan Aram beberapa abad kemudian. Di Khirbet Mird,
ditemukan fragmen Markus, Yohanes dan Kisah dalam bahasa Yunani, dan fragmen
Matius Lukas, Kisah, dan Kolose, dalam bahasa Palestina-Siria (Aram). Namun
fragmen-fragmen ini setelah diselidiki ternyata berasal dari waktu diantara
abad V s/d VIII. (lihat La Sor, hlm. 45).)
Demikian juga
istilah ‘Alfa dan Omega’ dalam kitab Wahyu menunjukkan istilah awal dan
akhir abjad Yunani. ( Abjad
Ibrani diawali huruf Alef dan diakhiri huruf Taw). Yang menarik lagi untuk diamati adalah bahwa baik dari sumber para ahli
Kristen maupun Islam sendiri diakui bahwa bangsa dan bahasa Arab mempunyai
kaitan erat dengan bangsa dan bahasa Aram:
”sifat khusus dari bahasa Ibrani, bahasa itu selalu diancam oleh pangaruh
bahasa Aram. Kita sudah melihat bahwa dari permulaannya dalam bahasa Ibrani
terdapat unsur-unsur Aram Arab. Terutama di Israel Utara ... pengaruh itu juga
merembet ke selatan, ke tanah Yehuda”. ( D.C. Mulder, Pembimbing ke
dalam Perjanjian Lama, hlm. 18.)
Bahasa Aram dan Arab
Dalam Ensiklopedia Islam disebutkan
bahwa bangsa Aram merupakan salah satu nenek-moyang bangsa Arab.
”Bangsa Arab Utara dipandang
sebagai Arab al-Musta’ribah (Arab yang di-Arab-kan), sementara bangsa Arab
keturunan Quathan yang tinggal di wilayah selatan menamakan dirinya sebagai
Arab Muta’arribah, atau suku-suku hasil percampuran dengan Arab al-’Aribah
(Arab Asli) .... Kelompok Arab yang asli ini, yakni keturunan Aram putra Shem
putra Nabi Nuh”. ( ”Bangsa Arab” dalam Cyril Glasse, Ensiklopedia Islam,
hlm. 49-50.)
Jadi, di atas kayu
salib bukan saja Yesus berbahasa Aram dan bukan Ibrani, tetapi ia berbicara
dalam bahasa Aram yaitu bahasa dari bangsa yang menjadi salah satu nenek-moyang
(bahkan yang dianggap asli) dari bangsa dan bahasa Arab. Pengaruh bahasa Aram
disekitar Palestina, terutama ditempat aslinya di Siria, mendorong
diterjemahkannya Kitab Suci PL+PB ke bahasa Aram. Ini dikenal sebagai Peshita yang
ditulis sekitar abad II s/d III M.
Aram, Bahasa Asli PB ?
Ada pendapat dikemukakan bahwa bahasa asli
Alkitab Perjanjian Baru adalah bahasa Ibrani atau Aram. Salah satu argumentasi
yang dikemukakan didasarkan peristiwa dimana menurut Eusebius, Papias menyebut:
“Matius mengumpulkan ucapan-ucapan Yesus (ta logia) dan menuliskannya dalam
logat lokal, dan setiap orang menerjemahkannya sebisanya.” ( Eusebius, Sejarah
Gereja, 111, xxxix, 16)
Gema ucapan Eusebius tentang Papias ini
kemudian diteruskan oleh a.l. Irenius, Origenes, dan Jerome. Ucapan Papias ini
menimbulkan spekulasi atas beberapa hal, (1) apakah Matius menulis Injilnya
dalam logat lokal?; (2) dan Apakah logat lokal itu bahasa Ibrani atau Aram?
Mengenai apakah Matius menulis Injil
dalam bahasa Ibrani masih dipersoalkan, soalnya ucapan Papias itu tidak secara
eksplisit menyebutnya sebagai Injil, mungkin hanya ucapan-ucapan (‘ta logia.’
Band. logion Injil Thomas) Yesus yang dikumpulkannya dan ketika menulis Injil
dalam bahasa Yunani ia menjadikan ucapan-ucapan itu sebagai masukan. Anggapan
seakan-akan yang ditulis itu adalah Injil yang lalu diterjemahkan ke bahasa
Yunani lemah, soalnya dari penelitian kandungan Injil Matius yang salinannya
dalam bahasa Yunani banyak ditemukan dibandingkan kandungan Injil-Injil yang lain,
tidak ada indikasi bahwa Injil itu diterjemahkan dari bahasa lain, Injil Matius
ditulis aslinya dalam bahasa Yunani.
Mengenai logat lokal itu apakah bahasa
Ibrani atau Aram, kita sudah melihat dari sejarah yang dibahas di atas bahwa
bahasa Ibrani sebagai logat percakapan lokal sudah lama mati sejak sebelum Ezra
sehingga kotbah Ezra diterjemahkan ke dalam bahasa Aram pada abad V sM, dan
Tanakh diterjemahkan pada abad III sM ke dalam bahasa Yunani (Septuaginta).
Jadi dialek lokal itu jelas Aram dan bukan Ibrani.
Mungkin saja Matius menulis ta-logia
atau Injil dalam bahasa Aram, namun naskah salinan Injil Matius bahasa Aram
tidak pernah ditemukan, sedangkan naskah salinan kitab Injil Matius dalam
bahasa Yunani banyak ditemukan. Anggapan bahwa bahasa Aram adalah bahasa asli
PB karena Injil Matius ditulis dalam bahasa Aram terlalu dipaksakan, apalagi
kalau disebutkan bahwa bahasa asli Alkitab PB adalah bahasa Ibrani.
Untuk membuktikan bahwa bahasa asli PB
adalah bahasa Ibrani dikemukakan juga argumentasi ditemukannya Injil Matius
dalam bahasa Ibrani yang dikenal sebagai Shem-Tov dan Du
Tillet. Kedua Injil Ibrani itu sebenarnya ditemukan pada abad-abad
pertengahan, yaitu Shem-Tov (abad XIV) yang ditulis oleh Shem Tov ben
Shaprut dalam karya Eben Bohen, sedangkan Du Tillet (abad
XVI) ditemukan seorang uskup Perancis bernama Jean Du Tillet ketika
ia berkunjung ke Roma.
Yang dipersoalkan adalah bahwa kedua
Injil Matius Ibrani itu karena berbeda beberapa bagian isinya dengan Injil
Yunaninya, dianggap berasal dari naskah yang cukup kuno dan diusahakan setua
abad pertama bahkan sebelum Injil Matius dalam bahasa Yunani ditulis. Namun
kebanyakan para ahli menyebutnya sebagai karya hasil abad pertengahan yang
diterjemahkan dari naskah Yunani. Dalam kedua versi Injil Matius Ibrani tidak
memuat tetragrammaton.
Kita harus menyadari dengan benar bahwa
karena kedua versi Injil Matius Ibrani di atas adalah terjemahan dari naskah
Matius dalam bahasa Yunani, maka jelas tidak bisa dijadikan dasar untuk
membuktikan bahwa Perjanjian Baru itu ditulis dalam bahasa Ibrani. Demikian
juga menggunakan kitab-kitab suci kalangan gerakan nama suci untuk membuktikan
bahwa bahasa asli Perjanjian Baru adalah bahasa Ibrani juga menunjukkan
lingkaran tanpa ujung, soalnya baik Shem Tov, Du Tillet, The Scripture dan
lainnya itu sendiri perlu diuji keabsahan terjemahannya. Ini sama halnya dengan
membuktikan bahwa dalam Perjanjian Baru ada banyak nama Yahwe hanya dengan
menunjukkan bukti adanya nama itu dalam Kitab Suci Torat dan Injil, padahal
KS-TDI sendiri kehadirannya dan proses penerjemahannya dipertanyakan.
Demikian juga, bila dikemukakan adanya
argumentasi bahwa Alkitab Perjanjian Baru aslinya ditulis dalam bahasa Ibrani
dengan nama Brit Hakadasha, itu adalah terjemahan bahasa Ibrani
yang belum lama dikerjakan yang diterjemahkan dari naskah PB Yunani Koine.
Dari pembahasan
mengenai bahasa Ibrani di atas, kita melihat bahasa Ibrani itu muda dan berasal
dari pencampuran bahasa Aram, Kanaan & Amorit, bahasa itu juga labil yaitu
mudah terpengaruh bahasa asing Aram, Yunani, dan Arab, bahkan bahasa itu sukar
dan kurang populer sehingga untuk waktu yang lama tidak digunakan sebagai
bahasa percakapan, sekalipun tetap bertahan sebagai bahasa di kalangan terbatas
terutama surat-menyurat, dan agama untuk saling-menyalin Alkitab.
Membatasai karya
Yahweh pencipta langit dan bumi yang maha-agung dan universal itu dengan salah
satu bahasa yang terbatas dan labil, justru membatasi keagungan Yahweh sendiri.
Bahasa-bahasa diciptakan dan adalah milik Yahweh, karena itu Ia tentu
berotoritas menggunakan bahasa-bahasa itu untuk penyebaran firman-Nya sesuai
kehendak-Nya.
A m i n !
Sabtu, 04 September 2021
MASIH SEKITAR SOLA SCRIPTURA
|
Sedikit soal sola scriptura: saya pribadi percaya bahwa Alkitab
adalah otoritas tertinggi dalam kehidupan kita sebagai pengikut Kristus, dan
semua perkataan manusia yang mengatas namakan Tuhan harus diuji kebenarannya
dengan Alkitab, karena bukankah manusia bisa salah?? Kita sudah seringkali
mendengar orang yang berkata ini dan itu, bernubuat yang aneh-aneh atas nama
Tuhan, dan mereka sudah menyesatkan banyak orang (contoh: pondok nabi),
kenapa? Karena mereka yang mendengarkannya tidak melihat apakah yang dikatakan
itu sesuai dengan Firman. Jadi apa yang bisa dijadikan tolok ukur kebenaran perkataan
itu?? Tidak lain dan tidak bukan adalah Firman Tuhan sendiri yaitu Alkitab.
Kalau kita bilang ada dua sumber yang pasti benar, namun tiba2 memberikan
pernyataan yang berbeda, yang mana yang kita pegang? Karena kita tentu harus
punya patokan untuk menentukan mana salah dan mana benar. Kalau kita tidak
punya patokan bukannya kita malah jadi hidup dalam keraguan? Misalnya jika kamu sendiri mendengar khotbah apakan kamu terima
mentah-mentah dan yakini sebagai kebenaran?? Kalau saya akan kembali
menyelidiki apa benar itu yang Alkitab katakan? Kenapa? Karena kebenaran
mutlak hanya dalam perkataan Tuhan BUKAN perkataan manusia,
sekalipun yang berkata adalah mereka yang mengatasnamakan Tuhan.
|
Benar seperti kata kamu bahwa Alkitab harus diuji dan karena itu
alkitab justru membuktikan bahwa iman sola scriptura kamu adalah salah. Sebab
siapa yg menguji Alkitab adalah pasti dan nyata berupakan sumber dari luar
alkitab, apakah alkitab dapat menguji dirinya sendiri? Ini teori dan filsafat
yg sama dengan fiksi ala "Planet of the apes".
1. Bagaimana kamu tau alkitab adalah komplit dan benar?
2. Bagaimana kamu tau bahwa alkitab mengandung seluruh FIRMAN ALLAH?
3. Apakah alkitab telah menyatakan bahwa daftar isi dari kulit muka s/d
belakang adalah seperti kanon yg kamu terima? Siapa dan kuasa apa yg
menganonkan? Apakah kuasa ini terdapat dalam alkitab?
4. Apakah alkitab menyatakan doktrin Sola Scriptura? Dimana?
5. Apakah terdapat tradisi atau sejarah sebelum abad ke 16 mengenai sola
scriptura?
6. Bagaimana kamu tau maksud dan arti yg terdapat dalam alkitab tanpa guru atau
referensi buku2 lainnya? Yg adalah faktual sumber diluar alkitab yg berarti
anti sola scriptura.
7. Apakah kamu seorang sakti yg dapat begitu buka alkitab, baca dan langsung
mengerti Firman Allah, kemudian mencari untuk dibaptis oleh pendeta yg sekali
lagi adalah sebuah kuasa diluar alkitab dan menjadi pengikut Yesus?
8. Berarti kamu tidak BOLEH kegereja pada hari minggu dan mendegarkan khotbah
pendeta yg memberikan alkitab VERSI dia, karena sola scriptura
menuntut praktek yg merupakan "HANYA kamu dan ALKITAB" karena ini
baru yg namanya HANYA ALKITAB tanpa pengaruh luar!
Apakah kamu pasti sepertinya
begitu LITERAL dan EKSPLISTInya alkitab yg telah mengajarkan sola scriptura
seperti dugaan kamu bahwa ekaristi adalah simbolis? coba tunjukan
bagiannya dalam alkitab? Sebab omong kosong dan isapan jempol itu dapat
dilakukan siapa saja. Seperti kata kamu sendiri OMONGAN MANUSIA adalah BOHONG!
Dapat saja saya berkata tadi malam saya melihat dan berbicara sama Malaikat yg
diutus dan saya harus mendirikan gereja yg memerintahkan untuk mengajarkan kawin
sesama jenis dan juga kawin sama binatang...ini kan nyata2 isapan jempol saya
belaka bukan?
Saya tanya kamu secara jujur dan sangat mengharapkan jawaban yg jujur dari
seorang yg mengaku pengikut Yesus. Apakah kamu mengerti alkitab dengan cara
pandang kamu yg protestan liberal (yg dimaksud bukan fundamentalis yg
membaca secara literal) tanpa guru dan belajar bersama pendeta atau
sekolah minggu? silahkan uraikan cara kamu mendalami alkitab. Lihat alkitab
berkata apa kepada mereka yg sok tau.
Berikut adalah contoh seorang bangsawan terpelajar dan sekertaris keuangan ratu
Etiopia yg membaca kitab Yesaya.
Kisah para rasul 8: 29-31
29 Roh Allah berkata kepada Filipus, "Pergilah mendekati kendaraan
itu." 30 Maka Filipus pergi mendekati kendaraan itu, lalu ia
mendengar orang itu membaca Buku Yesaya. Filipus bertanya
kepadanya, "Apakah Tuan mengerti yg Tuan baca itu?"
31 Orang itu menjawab, "Bagaimana aku mengerti, kalau tidak ada yg
menjelaskannya kepadaku?" Lalu ia mengajak Filipus naik ke kereta
dan duduk bersama-sama dia.
Pada ayat2 tsb jelas sekali si bangsawan terpelajarpun tidak dapat mengerti isi
dan arti alkitab, karena itu terdapat sumber diluar alkitab yaitu Filipus yg
menerangkan dan MENGAJARKAN artinya. Alkitab mengajarkan bahwa sola scriptura
adalah palsu dan buatan manusia. Nah, Yesus memberikan kuasa kepada siapa?
Alkitab atau Rasul = Apostolos = Apostolik = Gereja = Katolik. Mat 16:18, Mat
18:18, Yoh 20:19, Mat 28 :19-20, Yoh 21:15-17. Tolong tunjukan dimana Yesus
pernah memberikan kuasa kepada alkitab agar sola scriptura kamu dapat dikatakan
sebagai KUASA Yesus didunia?
Sola scriptura = hanya alkitab ... apakah bila saya memberikan sebuah alkitab
kepada yg tidak dapat membaca dia akan mengerti tanpa bantuan saya? Bukankah
bantuan saya adalah merupakan sebuah ajaran, pandangan dan sumber dari luar
alkitab itu sendiri? Apakah bila saya memberikan seorang muslim alkitab dan
kemudian dia baca, apakah dia akan mengerti isinya mengenai Tritunggal misalnya?
Ini merupakan fakta yg tidak dapat digugat dan yg literal membuktikan bahwa
semua yg sebenarnya mengimani doktrin sola scriptura adalah pendusta dan telah
membohongi dirinya sendiri karena tidak satupun yg telah murni dan benar2
mengimaninya. Apakah Billy Graham menjadi pandai alkitab dengan hanya membaca
alkitab? hehehehehe ..... billy graham saja telah terlampau banyak menggunakan
buku, tulisan, ajaran dan tafsiran yg berada diluar alkitab ....... apakah ini
yg dimaksudkan dengan HANYA ALKITAB? Contoh ini jelas membuktikan kemunafikan
dan kebohonngannya sola scriptura.
Kemudian dilema paling besar yg dihadapi penganut sola scriptura adalah ajaran
tsb sama sekali tidak dapat ditemukan dalam alkitab
mana ada dalam
alkitab ayat yg mengaktakan SOLA SCIPTURA
Lucu sekali, mau mengajarkan bahwa seluruh dan segalanya harus terdapat
dalam alkitab akan tetapi ajaran yg mengajarkannya saja tidak ada dalam alkitab
Apakah Jaman Musa, Yesaya, Yesus dst mereka semua menganut sola scriptura?
Apakah jaman gereja muda sebelum adanya perjanjian baru mereka menganut sola
scriptura? Apakah st. Paulus menganut sola scriptura, sedangkan surat2 dia dan
surat2 Yohanes, Petrus, Judas, Yakobus pun belum ditulis alias belum
ada, jadi ajaran sola yg mana dan dari mana nih? Apakah Yesus pernah
memerintahkan untuk MENULIS ALKITAB agar kamu bisa mengimani sola scriptura?
Tolong tunjukan dimana? Bagaimana dapat kamu tau dan patuhi ajaran2 Yesus yg
tidak tertulis dalam alkitab seperti yg diajarkan oleh Yohanes di Yoh 21:25
bahwa banyak ajaran Yesus yg tidak ditulis ... bagaimana kamu
bisa mengimani dan patuh sama Yesus dengan baik hanya dengan sola-sola kamu?
Apakah kamu tidak ingin mengetahui Yesus sepenuhnya dan patuh kepada Yesus
sepenuhnya? Ngga rindu untuk mengetahui-Nya sepenuhnya seperti kata Yohanes!
Apakah kamu tidak penasaran dengan ajaran Yesus yg tidak tertulis dalam
alkitab?
Yoh 21:25 Masih banyak hal lain yg dilakukan oleh Yesus. Andaikata
semuanya itu ditulis satu-persatu, saya rasa tak ada cukup tempat diseluruh
bumi untuk memuat semua buku yg akan ditulis.
Wah ternyata sola scriptura kamu tidak KOMPLIT!
Bila saya mendengar bahwa Yesus berada dan dapat ditemukan dan kita dapat
bersatu dengan-Nya dalam sakramen Ekaristi dalam gereja Katolik, saya tidak
akan memikirkannya dua kali, saya akan langsung angkat kaki dan berangkat untuk
menemui-Nya ..... kenapa kamu menolak-Nya dan angkuh dengan prinsip sola
scriptura yg salah dan palsu yg hanya merupakan AJARAN MANUSIA (Seperti
kata kamu) untuk menerima-Nya bukankah alkitab dengan jelas mengatakan
Yesus berada dalam sakramen Ekaristi? Berangkatlah untuk menemui dan
menerima-Nya dalam sakramen Ekaristi.
Saya berdoa agar kamu mau menjauhkan ajaran sesat dan yg menyesatkan yaitu sola
scriptura yg praktek sola-nyapun adalah jelas2 palsu dan bohong besar karena
tidak satupun diantara kalian yg benar2 mengimani sola scriptura dan dapat
menjadi protestan seperti sekarang hanya karena diberikan alkitab = sola
scriptura, melainkan karena ajaran para pendeta dan orang2 anti Tradisi Suci
dan Katolik yg telah membohongi kamu dengan ajaran yg palsu yaitu sola
scriptura. Nyata dan tidak bisa digugat bahwa para guru2 kalian adalah nyata
sebuah sumber DILUAR ALKITAB! Itu berarti kamu tidak sepenuhnya mempraktekan
sola scriptura.........
Segeralah berangkat untuk menemui-Nya dalam sakramen Ekaristi Kudus dan
pulanglah ke gereja-Nya yg satu, kudus, apostolik dan katolik dimana kamu dapat
bertemu dan mengetahui Yesus sepenuhnya.
Rindulah akan Yesus sang roti yg turun dari surga.
Rindulah akan Yesus yg tidak tertulis dalam alkitab.
Rindulah kepada kuasa yg diberikan Yesus didunia.
Rindulah untuk dapat bersatu dengan Yesus didunia ini.
Rindulah untuk gereja-Nya yg benar.
Rindulah ............
Salam
Sola Scriptura
Inilah ayat yang menyanggah konsep Sola
Scriptura
2 Thessalonians 2:15 (KJV)
Therefore, brethren, stand fast, and hold the
traditions which ye have been taught, whether by word, or our epistle
2 Tesalonika 2:15
Sebab itu, berdirilah teguh dan berpeganglah
pada ajaran-ajaran yang kamu terima dari ajaran-ajaran yang kamu terima dari
kami, baik secara lisan, maupun secara tertulis.
Bisa dilihat bahwa ini sudah sangat sesuai
dengan ajaran Gereja Katolik yang menolak mentah2 Sola Scriptura karena tidak
Alkitabiah. Gereja Katolik menganggap bahwa Tradisi Suci dan Kitab suci adalah
sumber iman umat Kristus, ini sudah sangat sesuai dengan ayat diatas. Plus,
Kitab Suci sebenarnya adalah bagian dari Tradisi, jaman dahulu umat Kristus
tidak memakai Alkitab seperti sekarang ini (dan Gereja KAtoliklah yang pada
akhirnya menyusun Alkitab).
Namun ini aku hadirkan satu yang menurutku paling menarik
yang JELAS-JELAS menolak doktrin Sola Scriptura:
|
THE SECOND ECUMENICAL COUNCIL OF
NICAEA (787 AD) |
Nah, bagian ini adalah akta atau catatan dari
kejadian di Konsili Nicaea II tersebut. Bagian ini tidak ada di dokumen
keluaran Nicaea II karena memang pernyataan iman pribadi atau kolektif seperti
ini bukan tempatnya untuk ditulis dalam dokumen resmi hasil konsili.
Namun disini kita lihat iman dari para
hierarkhi yang mengikuti dan membuat keputusan di Konsili tersebut. Dan
pengakuan ini dibacakan di tengah berlangsungnya konsili.
Pengakuan yang mengutuk mereka yang
menggunakan argumen yang dipakai Arius, Nestorius etc (yaitu para bidat
sebelumnya). Argumen bahwa ajaran para Bapa, keputusan Konsili-konsili ekumenis
dan tradisi Gereja Katolik tidak perlu diikuti kecuali semuanya itu terbukti
cocok dengan Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Jadi menggunakan Kitab Suci
sebagai kriteria tunggal sehingga yang lain [ie. Tradisi] harus dicocokkan
dengan Kitab Suci, adalah posisi yang dianathema. Kebetulan (atau mungkin "bukan
kebetulan") bahwa posisi tersebut adalah posisi Protestant dengan ajaran
Sola Scriptura mereka.
Apa yang bisa lebih jelas dari ini? Ini adalah
iman para Bapa, inilah iman Gereja Katolik, anathema to those who believe
otherwise!
PS
"pretext" adalah "alasan yang
bukan alasan sebenarnya." Sebagai contoh, cowok yang pinjam buku ke
seorang cewek dan berkata bahwa dia ingin mengkopi catatan kelas. Padahal
alasan sebenarnya adalah agar nanti dia bisa ketemu si cewek saat mengembalikan
catatan, dan siapa tahu si cewek mau diajak kencan. Nah, yang disebut
"pretext" disini adalah alasan "ingin mengkopi catatan kelas."
Itu bukan alasan sebenarnya kenapa si cowok meminjam buku (meskipun mungkin si
cowok juga tidak mencatat di kelas. Namun alasan utamanya adalah ingin ketemu
si cewek lagi supaya bisa diajak kencan).
Aku akan bantu shmily dan membahas kutipan dan argumen atas
St. Athanasius.
Patut diketahui bahwa tulisan dari tiani-oc yang di post
di forum
jawaban.com tersebut adalah terjemahan dari artikel
Steve Rudd yang di post di website bible.ca. Di
webpage bible.ca ini silahkan lihat tabel bawah yang ada nama
para Bapa Gereja (Irenaeus, Clement of Alexandria, Tertullian, Hippolytus,
Cyprian, Athanasius, Hilary of Potiers, Cyril of Jerusalem, Basil, Gregory of
Nyssa, Jerome John Chrysostom, Augustine, John Casian, Theodoret). Kalau di
klik nama-nama mereka maka akan tampak kutipan Bapa Gereja tersebut beserta
argumen Steve Rudd yang menyatakan bahwa para Bapa Gereja mengajarkan Sola
Scriptura. tiani_oc menerjemahkan tiap halaman dari tabel yang
bersangkutan.
Pertama-tama kita harus tahu definisi Sola Scriptura yang di-iman-i Steve Rudd
di bible.ca ini. Pemahaman ini sangat penting karena akan membantu dalam
menunjukkan kontradiksi dari perkataan Steve Rudd di kedepannya.
Berikut adalah apa arti Sola Scriptura menurut Steve Rudd (ada di webpage ini)
|
Sola Scriptura means: |
Dari bagian ini saja "iman" Steve Rudd ini sudah terlihat aneh dan
cukup berbeda dengan Protestant kebanyakan.
Hal yang paling aneh menurutku adalah point 5. Dia tidak mengakui tradisi lisan
(oral tradition) kecuali kalau tradisi lisan itu ada di Alkitab. Nah,
kalau suatu tradisi lisan itu ada di Alkitab bukankah ini berarti tradisi
tersebut adalah tradisi tertulis dan tidak bisa dikatakan tradisi lisan? Disini
terlihat kontradiksi di pemikiran si Steve Rudd ini.
No.4 juga sangat kontradiktif. Karena toh dengan membuat daftar seperti diatas
maka itu adalah pernyataan iman dari "gereja" si Steve Rudd ini. Dan
juga daftar seperti itu TIDAK ADA DI ALKITAB.
Bahkan dibagian agak bawah Steve Rudd lebih lanjut memaparkan
keyakinannya:
|
1. We view scripture itself as our only
creed and statements of faith. |
Yang cukup menyolok bagiku dan bisa membuat orang yang awam tertipu adalah no.5
sampai no.8. Di point-point tersebut Steve Rudd berargumen bahwa Allah yang
menciptakan manusia pasti bisa membuat buku yang bisa dimengerti manusia tanpa
dibantu. Kalau Allah tidak bisa melakukan itu, maka tentunya manusia juga tidak
bisa. Dan karena itu tidak ada gunanya tulisan-tulisan buatan manusia lain
tentang iman.
Rasanya cukup meyakinkan argumen ini dan masuk akal KALAU MEMANG ALLAH BERNIAT
UNTUK MEMBUAT SUATU KITAB SUCI YANG BISA LANGSUNG DIPAHAMI MANUSIA TANPA
BANTUAN!
Faktanya, Allah memang tidak pernah mendesain Kitab Suci sedemikian
rupa sehingga manusia bisa langsung mengerti tanpa bantuan. Kisah tentang
kasim Ethiopia yang membaca kitab Yesaya dan tidak mengerti maksud kitab itu
sampai akhirnya Filipus membantunya mengerti (Kis 28:35), menunjukkan bahwa
perlu pengajar untuk memahami kitab suci. Ini juga di-amin-i Ef 4:11-16 dimana
Gereja perlu pengajar, pastor, penginjil etc.
Sampai disini rasanya aku akan berhenti mengomentari sambil menunjukkan
kontradiksi dan kesalahan "pernyataan iman" si Steve Rudd tersebut
(sekalipun dia berkata bahwa dia tidak punya pernyataan iman, toh daftar-daftar
tesebut adalah pernyataan imannya YANG TIDAK TERDAPAT DI ALKITAB). Kalau itu
terus aku lakukan aku tidak bisa konsentrasi ke hal utama, yaitu menanggapi
tulisan Steve Rudd bahwa Athanasius, seorang Bapa Gereja dan Uskup Aleksandria,
mengimani Sola Scriptura.
|
Tulisan
Steve Rudd di bible.ca wrote: |
|
1.
"the sacred and inspired Scriptures are sufficient to declare
the truth" (Athanasius, Against the Heathen, part 1, 1, 3) |
Seperti yang sudah aku post-kan sebelumnya, ketiga kutipan ini sudah dijawab
dengan sangat baik oleh Apologist Katolik Joseph (Joe) Gallegos di artikel ini:
|
St.
Athanasius and Sola Scriptura |
Juga baca artikel Joe Gallegos yang lain tentang St. Athanasius dan Tradisi
Suci:
|
St.
Athanasius and Sacred Tradition |
Nah, sekarang mengenai kutipan dan argumen yang lain.
|
Tulisan
Steve Rudd di bible.ca wrote: |
|
4.
"Such then, as we have above described, is the madness and daring of
those men. But our faith is right, and starts from the teaching of
the Apostles and tradition of the fathers, being confirmed both by the New
Testament and the Old. For the Prophets say: 'Send out Thy Word and Thy
Truth,' and ' Behold the Virgin shall conceive and bear a son, and they shall
call His name Emmanuel, which is being interpreted God with us.' But what
does that mean, if not that God has come in the Flesh? While the
Apostolic tradition teaches in the words of blessed Peter... [Athanasius
then quotes: 1 Peter 4:1; Titus 2:13; Heb 2:1] (Athanasius, To Adelphius,
Letter 60, 6) |
Mengenai kutipan dari St. Athanasius sendiri. kalau kita lihat kutipan dari St.
Athanasius sendiri, sang Uskup Aleksandria mengatakan bahwa iman yang benar
itu DIMULAI dari ajaran para rasul dan tradisi para Bapa
("our faith is right, and starts from
the teaching of the Apostles and tradition of the fathers") lalu kemudian di "confirmed both by the New Testament and the Old." Apakah Sola Scriptura mempelajari iman yang benar
dengan cara seperti itu? Apakah Steve Rudd mempelajari iman yang benar dengan
cara seperti itu? Tidak dan tidak. Kebanyakan Protestant langsung mulai dari
Kitab Suci tanpa perlu tradisi para Bapa karena hal tersebut tidak perlu. Jadi
jelas bahwa st. Athanasius tidak mempraktekkan Sola Scriptura seperti yang
secara ngawur diklaim Rudd.
Mengenai argumen Steve Rudd sendiri. Rudd mengatakan bahwa tradisi tersebut
di-"confirmed by scripture." But so what? Tentu saja umat Katolik bisa
meng-amin-i ini karena toh Tradisi Lisan dan Tradisi Tertulis (Kitab Suci)
berasal dari sumber yang sama sehingga sering terjadi overlap (sesuatu yang ada
di Tradisi Lisan dan ada juga di Tradisi Tertulis). Jadi, sekedar menunjukkan
adanya tradisi yang dikonfirmasi oleh Kitab Suci tidak membuktikan klaim
penganut Sola Scriptura bahwa semua tradisi harus dikonfirmasi dengan Kitab
Suci. Bahkan sebaliknya St. Athanasius mengecam orang yang mengacu kepada Kitab
Suci tapi menolak pendapat para kudus:
|
6.
For not only in outward form did those wicked men dissemble, putting on as
the Lord says sheep's clothing, and appearing like unto whited sepulchres;
but they took those divine words in their mouth, while they inwardly
cherished evil intentions. And the first to put on this appearance was
the serpent, the inventor of wickedness from the beginning--the devil,--who,
in disguise, conversed with Eve, and forthwith deceived her. But after him
[ie. the devil] and with him [ie. the Devil] are all inventors of unlawful
heresies, who indeed refer to the Scriptures, but do not hold such
opinions as the saints have handed down, and receiving them as the traditions
of men, err, because they do not rightly know them nor their[13]
power. Therefore Paul justly praises the Corinthians[11], because
their opinions were in accordance with his traditions. And the Lord most
righteously reproved the Jews, saying, 'Wherefore do ye also transgress the
commandments of God on account of your traditions[14].' For they changed the
commandments they received from God after their own understanding, preferring
to observe the traditions of men. And about these, a little after, the
blessed Paul again gave directions to the Galatians who were in danger
thereof, writing to them, 'If any man preach to you aught else than that ye
have received, let him be accursed[15].' (Festal Letter II, 6) |
St. Athanasius menyebut orang yang me-"refer
to scripture" tapi tidak memegang "opinions as the saints have handed down" dan menganggap "opinions" tersebut adalah sekedar "tradition of men"
adalah orang yang "do not rightly know them nor their power" ("them" dan "their" yang dimaksud adalah "opinions as the saints have handed down"). Dan "opinions" itu bukanlah sembarang "opinions" tapi "opinions" yang menurut St.
Athanasius adalah tradisi yang dibawa St Paulus kepada umat Korintus.
Mengenai argumen Steve Rudd bahwa "Apostolic
tradition" adalah "scripture itself."
Disini Rudd mencoba peng-identik-an "apostolic tradition = scripture"
dengan mengacu kepada kutipan Athanasius yang menyebut Surat Petrus sebagai
"apostolic tradition".
Padahal, memang Kitab Suci itu adalah "Apostolic Tradition"
tapi TIDAK SEMUA "apostolic tradition" adalah Kitab Suci.
Jadi, hanya karena Athanasius kebetulan mengatakan bahwa Surat Petrus merupakan
"apostolic tradition" (yang bisa di-amin-i juga oleh semua umat Katolik)
tidak bisa langsung disimpulkan bahwa Athanasius berpendapat kalau "apostolic
Tradition = Scripture."
Sebagai bukti, berikut adalah tulisan dari St. Athanasius yang menunjukkan
bahwa formula yang ditulis para Bapa Konsili Nicea I adalah formula yang "apostolical" dan sama dengan yang
diajarkan oleh para rasul. Ini berarti bahwa yang apostolik bagi St. Athanasius
itu tidak hanya Kitab Suci [seperti yang dikatakan Steve Rudd]:
|
the
Fathers [of the Nicene Council] pronounced the Arian heresy to be the
forerunner of Antichrist(10), and drew up a suitable formula against
it. And yet in this, many as they are, they ventured on nothing like the
proceedings(11) of these three or four men(12). Without pre-fixing Consulate,
month, and day, they wrote concerning Easter, 'It seemed good as follows,'
for it did then seem good that there should be a general compliance; but
about the faith they wrote not, 'It seemed good,' but, 'Thus
believes the Catholic Church;' and thereupon they confessed how
they believed, in order to shew that their own sentiments were not
novel, but Apostolical; and what they wrote down was no discovery of
theirs, but is the same as was taught by the Apostles.
(Athanasius, De Synodis 5 [A.D. 362], in NPNF2, IV:453) |
|
Tulisan
Steve Rudd di bible.ca wrote: |
|
5.
"This is no Ecclesiastical Canon; nor have we had transmitted
to us any such tradition from the Fathers, who in their turn received
from the great and blessed Apostle Peter... but where only the fear of
God and the Apostolical rule shall prevail; that so in the first
place, the faith of the Church may be secure, as the Fathers defined
it in the Council of Nicaea (Athanasius, History of the Arians, Part
5, 36) |
Pertama-tama, mengenai kutipan dari St. Athanasius yang dibahas Steve Rudd
diatas. Latar belakangnya adalah sebagai berikut. Pihak Arian mendapat bantuan
dari Kaisar Constantius untuk membujuk Uskup Roma, Paus Liberius, agar
menghukum St. Athanasius. Sang Kaisar kemudian mengirimkan seorang kasim
bernama Eusebius untuk membujuk Liberius sambil membawa hadiah kalau Liberius
menghukum St. Athanasius. Liberius kemudian berusaha memberi pengertian kepada
si kasim bahwa tidak bisa St. Athanasius dihukum karena dua konsili sudah
membebaskan dia dari segala dakwaan. Lebih lanjut Liberius beralasan bahwa Gereja
Roma sendiri (tempat Liberius) sudah menggugurkan tuduhan terhadap St.
Athanasius. Lalu kemudian Liberius berkata seperti yang dikutip Rudd
diatas.
Jadi yang dikutip oleh St. Athanasius itu adalah ucapan Paus Liberius, bukan
ucapannya sendiri. Lalu bagaimana mungkin Rudd bisa berargumen bahwa "Athanasius has already stated that 'Ecclesiastical Canons'
'tradition from the Fathers' 'Apostolical rule' were based directly upon
scripture."??? Yang ngomong itu sang Uskup Roma,
Paus Liberius!
Lalu....
Steve Rudd disini mencoba taktik pengaburan. Keberatan atas doktrin Sola
Scriptura BUKANLAH karena Sola Scriptura sekedar mengajarkan bahwa semua ajaran
harus didasarkan kepada kitab suci. Karena toh Gereja Katolik sekalipun selalu
punya dasar Kitab Suci atas doktrin-doktrinnya yang dianggap Protestant seperti
Steve Rudd sebagai ajaran yang diluar Kitab Suci dan berasal dari tradisi
manusia (ex. infallibilitas Paus, dogma-dogma Maria dll)
Masalahnya adalah, doktrin Sola Scriptura mengajarkan lebih dari itu. Seperti
yang terlihat di daftar buatan Steve Rudd sendiri, ajaran Sola Scriptura
menganggap tradisi lisan atau tradisi Gereja (kecuali ditemukan di Alkitab)
sama sekali tidak perlu untuk memahami Kitab Suci. Nah, bagian inilah yang
tidak akan pernah diimani St. Athanasius sendiri yang mengatakan (diambil
dari website
Joe Gallegos):
|
"But beyond these [Scriptural]
sayings, let us look at the very tradition, teaching and faith of the
Catholic Church from the beginning, which the Lord gave, the Apostles
preached, and the Fathers kept." |
Ini ditambah dua kutipan yang aku sediakan diatas. Semuanya menunjukkan akan
perlunya Tradisi.
Jadi, sekalipun St. Athanasius punya dasar Alkitabiah atas doktrin-doktrin yang
dia ajarkan, tidak berarti bahwa dia mengimani Sola Scriptura. Karena selain
punya dasar Alkitabiah, St. Athanasius juga memakai Tradisi dalam memahami
Kitab Suci. Dan ini bukan sikap seorang penganut Sola Scriptura karena bagi
Sola Scriptura Tradisi tidak perlu untuk mengerti Kitab Suci.
Lalu si Steve Rudd menantang umat Katolik dan Orthodox untuk menemukan di
tulisan St. Athanasius [atau Bapa Gereja lain] yang menyebutkan suatu Tradisi
Lisan yang sama sekali tidak ada di Alkitab. Well, tanpa menge-check tulisan
para Bapa Gereja aku akan langsung sebutkan satu Tradisi Lisan yang benar-benar
tidak ada di Kitab Suci tapi diimani semua umat Kristen termasuk Steve Rudd
sendiri. Tradisi Lisan itu adalah kanon Kitab Suci!
Faktanya, kita tidak menemukan dimanapun di Kitab Suci sendiri daftar buku apa
saja yang termasuk kanon Kitab Suci. Jadi daftar itu adanya DILUAR Kitab Suci,
terkandung dalam Tradisi Lisan para Bapa yang diterima dari para rasul.
|
Tulisan
Steve Rudd di bible.ca wrote: |
|
6.
"For where is there a Canon that a Bishop should be appointed from
Court? Where is there a Canon that permits soldiers to invade Churches? What
tradition is there allowing counts and ignorant eunuchs to exercise
authority in Ecclesiastical matters, and to make known by their edicts the
decisions of those who bear the name of Bishops? He is guilty of all manner
of falsehood for the sake of this unholy heresy" (Athanasius, History of
the Arians, Part 7, 51). |
Mengenai kutipan dari St. Athanasius yang diambil Steve Rudd. Kutipan itu merupakan
satu bukti bagaimana Tradisi dijadikan otoritas dalam menentukan praktek
kegerejaan. Praktek yang bukan sekedar disiplin tapi imani. Yaitu bahwa mereka
yang bukan hierarkhi Gereja tidak mempunyai otoritas dalam perkara kegerejaan.
Memang pada kenyataannya banyak penguasa (raja, militer etc) yang memaksakan
kehendaknya dan mencampuri urusan kegerejaan. Tapi hal tersebut adalah
pelanggaran dari ketentuan ilahi (bdk. Luk 20:25).
Lalau mengenai argumen Steve Rudd. Well seluruh argumen tersebut tidak lebih
dari sekedar silat lidah Rudd.
Rudd mengakui bahwa St. Athanasius memang menggunakan kanon-kanon dan tradisi
untuk banding (appeal) karena kanon-kanon dan tradisi tersebut adalah
sumber otoritas ilahi. Kalau Rudd sudah mengakui demikian bukankah ini
menunjukkan bahwa tidak mungkin St. Athanasius mengajarkan Sola Scriptura?
Kalau ada suatu otoritas lain selain Kitab Suci dan otoritas itu bersifat ilahi
(sama seperti otoritas Kitab Suci yang juga ilahi) bukankah itu berarti
otoritas diluar Alkitab itu "compete
with the authority of the Bible" seperti ditulis di
daftar Rudd?
Lebih lanjut Rudd juga mengakui di paragraph diatas bahwa ada suatu dokumen
tertulis yang, "seen to have the same authority of
scripture." Nah, bukankah pengakuan akan adanya
otoritas yang sama dengan Kitab Suci merupakan pengkhianatan terhadap Sola
Scriptura? Jadi bagaimana bisa disimpulkan bahwa St. Athanasius, sang Bapa
Gereja, mengajarkan Sola Scriptura sejati versi Rudd?
Rudd kemudian mengajukan dua pertanyaan bersambung, "If the Roman Catholic and Orthodox churches point to these
Canons and tradition as a source of divine extra-biblical authority, we would
ask, why is Nicea the first time we hear about them? If these Canons and
tradition are 'divine rules practiced by the apostles' then why did later
councils and creeds modify and reverse decisions of earlier councils and
canons?" Untuk menjawab yang pertama kita bisa
katakan, "siapa bilang bahwa otoritas extra-biblical yang ilahi
tersebut pertama kalinya muncul mulai setelah Konsili Nicea I?"
Bagaimana si Rudd bisa mengasumsikan bahwa Gereja Katolik dan Gereja Orthodoks
hanya mampu menunjuk ke Nicea untuk suatu otoritas extra-biblical yang ilahi?
Faktanya baik Gereja Katolik dan Orthodox bisa menunjukkan adanya otoritas
extra-biblical ilahi sebelum Nicea I. Berikut adalah sedikit kutipan:
|
CHAP. II.--THE HERETICS
FOLLOW NEITHER SCRIPTURE NOR TRADITION. |
Ini kutipan dari St. Irenaeus yang jelas-jelas ditulis pada jaman sebelum Nicea
I. Dari judul babnya sendiri jelas sekali bahwa bagi St. Irenaeus para bidat
adalah orang yang tidak mengikuti Kitab Suci DAN Tradisi. Jadi ada dua otoritas
untuk menentukan bidat dengan bidaahnya. Di no.1 kita lihat bagaimana St.
Irenaeus mengisahkan kalau para bidat menyangkal otoritas Kitab Suci. Nah, di
no.2 kita lihat bahwa "tradition which originates
from the apostles" kemudian diajukan utuk mempertanyakan
para bidat tersebut. Tapi lagi-lagi para bidat menolak tradisi karena menurut
bidat-bidat tersebut para rasul telah keliru dan mereka [ie. para bidat] lebih
bijaksana dari para rasul. St. Irenaeus kemudian menyimpulkan bahwa "these men do now consent neither to Scripture nor to
tradition."
Hal yang sama juga di-amin-i St. Hyppolitus dari Roma (diambil dari
scripturecatholic.com):
|
'It
is not by drawing on the Holy Scriptures nor by guarding the
tradition of some holy person that the heretics have formulated
these doctrines.' Hippolytus of Rome, Refutation of All Heresies 1, Preface
(c. A.D. 230). |
Sekali lagi otoritas tradisi disejajarkan dengan otoritas Kitab Suci dalam menilai
bidaah para bidat.
Lalu mengenai pertanyaan sambungan kedua dari Steve Rudd, yaitu mengapa konsili
selanjutnya "reverse (membalik)"
atau "modified"
keputusan konsili sebelumnya? Well, Gereja Katolik mengajarkan bahwa ada
tradisi yang bersifat disipliner dan bisa berubah ada tradisi yang bersifat
dogmatik. Yang pertama bisa berubah (ex. baju imam, tanggal hari raya etc)
sementara yang kedua tidak (ex. kanon konsili ekumenis yang berkenaan dengan
iman dan moral). Jadi sepanjang yang dimaksud Rudd adalah masalah disipliner
maka pem-balik-an (ie. reversal) atas keputusan itu sah-sah saja
karena toh masalah disiplin tidak dogmatis. Tapi kalau yang dimaksud Rudd
adalah tradisi yang dogmatis, silahkan Rudd menunjukkan mana yang dibalik.
Gereja tidak pernah membalik keputusannya yang definitif mengenai iman dan
moral. Mengenai modifikasi, hal ini sah-sah saja baik bagi masalah displin atau
dogmatis. Modifikasi boleh dilakukan untuk memperjelas asalkan tidak membalik
atau berlawanan dengan keputusan sebelumnya (ex. Syhadat Nicea dimodifikasi
dengan ditambahi klausa mengenai Roh Kudus dari Konsili Constantinople [381
AD]. Syahadat Nicea-Constantinople kemudian diimani para Bapa Gereja).
Terakhir, Rudd mengatakan bahwa kalau saja dulu umat Kristen memakai Alkitab
saja tanpa mengadakan Konsili Nicea I, maka "quite certain"
bahwa Arians akan tertunjukkan sebagai pengajar palsu. Well, terlepas dari
kenyataan bahwa "quite certain"
itu adalah sekedar pendapat pribadi Rudd yang bias, faktanya para Bapa Gereja
dahulu, yang kata Rudd adalah penganut Sola Scriptura, berkumpul dalam satu
konsili untuk menangani masalah Arianisme. Kalau Kitab Suci saja cukup kenapa
mereka (yang menurut Rudd mempraktekkan Sola Scriptura) berkonsili? Kalau
mereka berkonsili maka itu hanya membuktikan bahwa para Bapa Gereja bukan
penganut Sola Scriptura dan merasa bahwa Kitab Suci saja tidak cukup untuk
menumpas Arianisme.
|
Tulisan
Steve Rudd di bible.ca wrote: |
|
7.
"6. For not only in outward form did those wicked men dissemble,
putting on as the Lord says sheep's clothing, and appearing like unto whited
sepulchres; but they took those divine words in their mouth, while
they inwardly cherished evil intentions. And the first to put on this
appearance was the serpent, the inventor of wickedness from the beginning-the
devil,-who, in disguise, conversed with Eve, and forthwith deceived her. But
after him and with him are all inventors of unlawful heresies, who indeed
refer to the Scriptures, but do not hold such opinions as the saints have
handed down, and receiving them as the traditions of men, err, because
they do not rightly know them nor their power. Therefore Paul justly
praises the Corinthians [1 Cor 11:2] , because their opinions were in
accordance with his traditions. And the Lord most righteously reproved
the Jews, saying, `Wherefore do ye also transgress the commandments of God on
account of your traditions.' For they changed the commandments they received
from God after their own understanding, preferring to observe the
traditions of men. And about these, a little after, the blessed Paul
again gave directions to the Galatians who were in danger thereof, writing to
them, `If any man preach to you aught else than that ye have received, let
him be accursed." ... "7. Again we write, again keeping to
the apostolic traditions, we remind each other when we come together for
prayer; and keeping the feast in common, with one mouth we
truly give thanks to the Lord" ... "8. We begin the fast of forty
days on the 13th of the month Phamenoth (Mar. 9). After we have given
ourselves to fasting in continued succession, let us begin the holy Paschal
week on the 18th of the month Pharmuthi (April 13). Then resting on the 23rd
of the same month Pharmuthi (April 18), and keeping the feast afterwards on
the first of the week, on the 24th (April 19), let us add to these the seven
weeks of the great Pentecost" (Athanasius, Festal Letters, Easter,
Letter 2. For 330, 6,7,8) |
Mengenai kutipan dari St. Athanasius yang diajukan Rudd diatas. Kutipan
tersebut adalah versi panjang dari kutipan yang aku kutip dan aku bahas diatas.
Dan sudah aku tunjukan bagaimana kutipan tersebut malahan menyanggah Sola
Scriptura.
Selanjutnya mengenai argument Rudd. Pertama, tidak semua tradisi yang berasal
dari rasul ("apostolic tradition" atau "tradisi rasuli") adalah masalah
dogmatis yang tidak bisa diubah. Beberapa tradisi rasuli tersebut bersifat
disipliner, jadi bisa diubah. Tradisi yang bersifat disipliner ini ada juga di
Perjanjian Baru, contohnya adalah mengenai kerudung bagi wanita. Di 1Kor 11:5
dikatakan bahwa wanita yang berdoa dengan kepalanya tidak berkerudung maka dia
tidak menghormati kepalanya [ie. maksudnya suaminya]. Sekarang kita bisa tanya
ke Steve Rudd, apakah dia juga menyuruh para wanita agar setiap mereka berdoa,
mereka memakai kerudung?
Kedua, Rudd tidak bisa menyimpulkan bahwa St. Athanasius mengabaikan tradisi
karena dia memakai tradisinya sendiri dalam penentuan perayaan Paskah dan bukan
tradisi Gereja-Gereja. Ini karena tradisi kapan perayaan Paskah pada jaman
tersebut ada dua, dan dua-duanya diakui bersumber dari para rasul sendiri.
Pertama adalah penetapan kapan jatuhnya Hari Paskah dengan cara penghitungan
seperti yang dilakukan umat Gereja Katolik dan kebanyakan Protestant saat ini.
Kedua adalah cara penghitungan seperti yang dilakukan oleh St. Athanasius yang
sekarang dipakai oleh sebagain besar umat Gereja Orthodox. Cara pertama berasal
dari otoritas St. Petrus dan St. Paulus. Sedangkan cara kedua berasal dari
otoritas St. Yohanes penginjil. Jadi tidak bisa dikatakan bahwa St. Athanasius
memakai tradisinya sendiri dan mengabaikan tradisi apostolik. Justru penetapan
Paskah oleh St. Athanasius tersebut berdasarkan suatu tradisi apostolik, yaitu
tradisinya St. Yohanes penginjil. Nah, apakah adanya dua macam tradisi
apostolik yang berbeda ini berarti bahwa antar tradisi apostolik saling
kontradiktif dan bisa diubah-ubah? Tentu tidak. Karena masalah perayaan Paskah
adalah tradisi yang bersifat disipliner dan tidak esensial dalam iman dan moral
Kristen.
Ketiga, Rudd menganjurkan agar Paskah tidak perlu dirayakan saja karena tidak
ada di Kitab Suci [karena para rasul merasa tidak perlu untuk dituliskan di
Kitab Suci] dan para Bapa Gereja sendiri tidak tahu kapan Paskah. Well, pada
faktanya para Bapa Gereja tahu kapan merayakan paskah berdasarkan apa yang
dipraktekkan para rasul. St. Irenenaeus sendiri mengatakan bahwa St. Polycarp
merayakan paskah menurut tradisi dari St. Yohanes sang rasul dan penginjil
(lihat CE:
Easter Controversy, FIRST PHASE). Jadi
adalah tradisi rasuli untuk merayakan Paskah. Para rasul dan para Bapa Gereja
merayakannya. Kenapa kita tidak boleh merayakannya?
Lagipula, bila memang benar bahwa para rasul dan Bapa Gereja mengimani Sola
Scriptura seperti versi Rudd [dimana menurut versi ini Paskah tidak perlu],
lalu kenapa mereka merayakan Paskah sampai-sampai timbul kontroversi besar yang
sempat mengakibatkan skisma dan ekskomunikasi (baca di entry CE: Easter
Controversy tersebut)? Jawabannya adalah, para rasul
dan Bapa Gereja sebenarnya TIDAK mengimani Sola Scriptura versi Rudd!
|
Tulisan
Steve Rudd di bible.ca wrote: |
|
8.
"Let this, then, Christ-loving man, be our offering to you,
just for a rudimentary sketch and outline, in a short compass, of the faith
of Christ and of His Divine appearing to usward. But you, taking occasion by
this, if you light upon the text of the Scriptures, by genuinely
applying your mind to them, will learn from them more completely and clearly
the exact detail of what we have said. For they were spoken and written
by God, through men who spoke of God. But we impart of what we have
learned from inspired teachers who have been conversant with them, who
have also become martyrs for the deity of Christ, to your zeal for learning,
in turn. (Athanasius, On the Incarnation of the Word, 56) |
Mengenai kutipan dari St. Athanasius diatas. Lagi-lagi ini adalah kutipan yang
menunjukkan bahwa St. Athanasius tidak mempraktekkan Sola Scriptura. Sebelumnya
St. Athanasius memberikan penjelasan tentang inkarnasi. St. Athanasius
menjelaskan bahwa penjelasannya tersebut dipelajari dari "inspired teachers who have been conversant with them." "Them" disini mengacu kepada "men who spoke of God"
yaitu para penulis Kitab Suci. Jadi ini adalah penjelasan yang BUKAN berasal
dari Kitab Suci. Lalu kemudian St. Athanasius melanjutkan bahwa kalau pembaca
suratnya tersebut meng-cross check apa yang dikatakannya dengan Kitab Suci,
maka para pembaca akan mempelajari dengan lebih lengkap dan detail penjelasan
St. Athanasius.
Terlihat disini bahwa titik awal penjelasan St. Athanasius bukanlah Kitab Suci.
Tapi adalah suatu penjelasan yang dia pelajari dari "inspired teachers."
Baru kemudian penjelasan ini bisa di check secara detail di Kitab Suci. Ini
persis dengan tata cara yang dituliskan di Kis 17:11, dimana setelah Paul dan
Silas menjelaskan para Yahudi di Berea mengenai firman, baru kemudian para
Yahudi Berea tersebut menyelidiki Kitab Suci untuk mencocokkan. Apakah penganut
Sola Scriptura versi Rudd memulai dari tradisi para "inspired teachers"
baru kemudian mengecheck ke Kitab Suci?
Lagipula, pola "tradisi lalu Kitab Suci" tersebut tidaklah baku.
Kadang polanya adalah "Kitab Suci lalu tradisi." Maksudnya disini
untuk mengerti apa yang dibaca di Kitab Suci perlu bantuan tradisi dari para
pengajar. Kitab Suci sendiri berkesaksian atas pola kedua ini. Di Kis 8:26-39
terlihat bahwa kasim dari Ethiopia sedang membaca Kitab Suci tapi dia tidak
mengerti. Baru setelah Filipus menjelaskannya sang kasim mengerti apa yang
tertulis di Kitab Suci tersebut. Di bagian lain Kitab Suci juga ditunjukkan
perlunya pengajar, penginjil, pastor [ie. gembala] dll untuk membangun Tubuh
Kristus.
Sekarang mengenai argument Steve Rudd. Rudd mengklaim bahwa Athanasius
mengajarkan bahwa Kitab Suci bisa dipahami oleh orang biasa hanya dengan
membacanya. Well ini tidak bisa disimpulkan dari kutipan tersebut apalagi
mengingat di awal-awal St. Athanasius menjelaskan dahulu mengenai inkarnasi
baru kemudian menyuruh pembaca untuk meng-cross check dengan Kitab Suci.
Terlebih, berikut adalah kutipan dari St. Athanasius sendiri yang menyanggah
klaim Steve Rudd tersebut:
|
"
Now what has been briefly said above may suffice to show their
misunderstanding of the passages they then alleged; and that of what
they now allege from the Gospels they certainly give an unsound
interpretation, we may easily see, if we now consider the scope
of that faith which we Christians hold, and using it as a rule, apply
ourselves, as the Apostle teaches, to the reading of inspired Scripture.
For Christ's enemies, being ignorant of this scope, have wandered from the
way of truth, and have stumbled Romans 9:32 on a stone of stumbling, thinking
otherwise than they should think." (St. Athanasius against the
Arians [Apologia Contra Arianos], Discourse 3, Chapter 26, 28) |
Kali ini St. Athanasius menunjukkan kesalahahan para Arian dalam memahami
injil-injil. Bagaimana para Arian memberikan "unsound interpretation" atas injil-injil tersebut. Lalu kalau
cara par Arian membaca Kitab Suci menghasilkan penafsiran yang tidak benar lalu
bagaimana caranya? St. Athanasius lebih lanjut menjelaskan bahwa dalam
membaca kita suci, pertama-tama kita harus mempertimbangkan cakupan dari
iman yang dipegang umat
Kristen dan menggunakannya sebagai aturan bagi kita. Cara
seperti inilah yang
diajarkan para rasul dalam membaca Kitab Suci.
Jadi kalau kita membuka Kitab suci dan membacanya tanpa tahu cakupan dari
iman Kristen sebagaimana diajarkan oleh "inspired teachers" dan menggunakannya sebagai aturan, maka
kita akan tersesat ke penafsiran yang keliru seperti para Arians.
Terakhir mengenai Ef 3:3-5 yang dijadikan dasar oleh Rudd bahwa
kita semua bisa menafsirkan Kitab Suci dengan benar. Well, apa yang aku tulis sebelumnya cukup
menunjukkan bahwa hal tersebut tidak pernah diimani St. Athanasius apalagi
diajarkan Kitab Suci (terlebih mengingat tulisan Paulus satu bab sesudahnya di Ef
4:11-16 yang malahan menunjukkan perlunya pengajar, penginjil,
pastor [ie. gembala] dan bagaimana mereka ini adalah pemberian dari
Kristus yang naik ke surga. Lagipula, kalau meneliti Ef 3:3-5 kita
lihat bahwa, seperti St. Athanasius, St Paulus
memulai dari "pengertian"-nya dulu baru kemudian dia menganjurkan agar orang yang menerima "pengertian"
darinya tersebut untuk meng-cross check dengan Kitab Suci (Apabila kamu membacanya, kamu dapat
mengetahui dari padanya pengertianku akan rahasia
Kristus [Ef 3:4]).
CATATAN DV atas RUDD
Setelah mengerjakan
apologi khusus untuk St. Athanasius ini aku merasa bahwa tulisan Steve Rudd selevel dengan tulisan Loraine Boetner (berarti
masih diatas Jack Chick, Hislop etc).
Argumen-argumen dia jauh
dari maksud dan konteks tulisan Bapa Gereja dan
bahkan mengkontradiksi keyakinan Rudd sendiri (ex. Rudd mengakui St. Athanasius memandang adanya otoritas ilahi selain Kitab suci, dan ini tidak sesuai dengan Sola Scriptura
versi Rudd sendiri, tapi Rudd tetap bersikeras bahwa St. Athanasius
mengajarkan Sola Scriptura). Hal ini tidak berlaku bagi kutipan St.
Athanasius saja, tapi juga kutipan yang lain.
Si tiani_oc tampaknya tidak
sadar ini dan merasa hanya dengan mengutip tulisan Rudd yang banyak dan
kelihatan meyakinkan maka dia bisa menyanggah keyakinan Katolik bahwa Bapa
Gereja tidak pernah mengimani Sola Scriptura. tiani_oc tampaknya
tidak meneliti secara seksama argumen-argumen Rudd sendiri yang penuh
kekeliruan dan kontradiksi.
Pada akhirnya terlihatlah kebenaran sejati
bahwa para Bapa Gereja tidak pernah mengajarkan Sola Scriptura dan bahwa ajaran
Sola Scriptura sendiri tidak sesuai dengan Kitab Suci.
Tambahan DV :
But just a few
things.
1. Ketika Bapa Gereja menyanjung Kitab Suci
dan menggunakannya sebagai rule of faith itu tentu saja posisi
yang sangat Katolik. Gereja Katolik menakui Kitab Suci DAN Tradisi [lisan] Suci
sebagai rule of faith. Sehingga tidaklah cukup bagi
apologist Protestant untuk sekedar menghadirkan kutipan Bapa Gereja yang
menunjukkan apresiasi Bapa Gereja terhadap Kitab Suci untuk membuktikan bahwa
Bapa Gereja mengimani Sola Scriptura. Apologist Protestant JUGA HARUS
menunjukkan bahwa para Bapa Gereja menolak Tradisi [lisan] Suci sebagai rule
of faith. Dan hal itu tidak akan pernah dapat dilakukan karena...
lihat no. 2.
2. Para Bapa Gereja menjunjung tinggi Tradisi
[lisan] Suci dan otoritas Gereja sebagai rule of faithdan patokan
ajaran yang Katolik dan apostolik. Berbagai kutipan di catholic.com, website Joe Gallegos dan scripturecatholic.com menunjukkan ini.
3. Hal lain yang tidak kalah pentingnya
adalah apa yang dimaksud Bapa Gereja dengan "Kitab Suci." Di
abad-abad awal jaman patristik (jaman Patristik berkisar dari abad kedua sampai
abad ketujuh [ini pendapat paling populer]) kanonisasi belum dilakukan Gereja.
Konsili lokal Roma pada 382 AD pertama kali mengkanonisasi Kitab Suci (lalu
pada 397 AD di Chartage, Africa). Pasca konsili-konsili tersebut pun masih ada
beberapa Bapa yang punya kanon berbeda karena berbagai alasan. Di daftar yang dikompilasi Dave Armstrong
dari berbagai pengarang Protestant ini menunjukkan bahwa para Bapa punya kanon
Perjanjian Baru yang berbeda satu sama lain. Ini belum lagi mengenai Perjanjian Lama. Para Bapa Gereja jelas-jelas menggunakan
Deuterokanonika dan menganggapnya sebagai Kitab Suci.
Nah, apakah Protestant mau mengakui bahwa
Kitab Suci yang digunakan para Bpa Gereja untuk "mempraktekkan Sola
Scriptura" adalah buku-buku seperti Shepard of Hermas (Apokripha), Epistle
of Barnabas (Apokripha), Didache (Apokripha),
Kebijaksanaan Solomo (Deuterokanonika), Sirakh (Deuterokanonika), Barukh
(Deuterokanonika), Tambahan pada Kitab Daniel (Deuterokanonika), Makabe
(Deuterokanonika) dll?
4. Katakanlah kita setuju bahwa Bapa Gereja
memang menggunakan Sola Scriptura namun faktanya Bapa Gereja juga mengakui
artikel-artikel iman Katolik yang disangkal Protestant seperti: kehadiran nyata
Yesus dalam ekaristi, primasi Paus Roma, efek regeneratif baptisan,
sakramen-sakramen, doa kepada para kudus dan lain-lain. Ini berarti bahwa para
Bapa Gereja, yang katanya menganut Sola Scriptura, merasa bahwa artikel-artikel
iman Katolik tersebut memang ada di Kitab Suci. Nah, apakah Protestant sekarang
mau menerima artikel-artikel iman tersebut?
|
John 5:39-40 |
Jadi... ada beberapa orang yang gagal ber-Sola
Scriptura seperti yang dicatat Alkitab.
Yang pertama adalah para Yahudi. Mereka ini
baca-baca Perjanjian Lama tapi tetap tidak mengerti bahwa PL justru
berkesaksian atas Yesus.
Yang kedua adalah para murid Yesus yang hidup
dan diajar oleh Yesus sendiri. Nyatanya mereka tidak mengerti-mengerti petunjuk
Kitab Suci bahwa Mesiah harus menderita untuk mencapai kemuliaan (ex. Hos
6:1-2; Yes 53:12 etc). Yesus, setelah bangkit, malahan terpaksa menafsirkan
Kitab Suci kepada mereka. Karena tampaknya, kalau tidak ditafsirkan, para rasul
ini tidak akan mengerti.
Yang ketiga sangat gamblang. Si kasim dari
Etiopia baca-baca Yesaya 53:7-8 tapi dia tidak mengerti dan minta petunjuk dari
Philip. Setelah diberi petunjuk barulah si kasim mengerti dan mau dibaptis.
Nah, mungkin Protestant akan bilang "Yah,
mereka yang gagal kan hanya baca PL. Kan PB belum ada. Kalau mereka lengkap Alkitabnya
tentu saja mereka tidak akan gagal ber-Sola Scriptura."
Namun kapan Alkitab lengkap itu ada?
Sebagian besar Protestant meyakini bahwa pada
90AD Perjanjian Lama dikanonkan oleh para Yahudi (betapa kelirunya keyakinan
ini bisa dibaca dengan mengklik artikel
ini [harap-harap ada waktu nanti
menterjemahkan]). Lalu Perjanjian Baru? Yah, tidak bisa tidak Protestant harus
ikut Gereja Katolik karena memang daftar kanon Perjanjian Baru yang identik
dengan yang ada di Alkitab sekarang ini, paling awal terdaftarkan pada Konsili
Roma 382AD. Sehingga satu Alkitab lengkap baru ada pada 382 masehi.
Jadi selama sekitar 3 abad setelah buku
terakhir ditulis (Injil Yohanes adalah buku paling akhir diantara buku dan
surat-surat lainnya. Kira-kira pada 96AD) umat Kristus tidak bisa ber-Sola
Scriptura karena mereka tidak punya Alkitab yang lengkap.
Sungguh aneh.
DV
Mau tanya nih....
|
Quote: |
|
Beberapa [orang] berkata bahwa mereka tidak terikat oleh ajaran
... yang mengajarkan bahwa Tubuh Mistik Kristus dan Gereja Katolik
Roma adalah satu hal yang sama. Beberapa [orang] mereduksi perlunya
menjadi anggota Gereja untuk mendapatkan keselamatan abadi, menjadi formulasi
yang tidak ada artinya. Yang lain bahkan meremehkan karakter dari
kredibilitas iman Kristen tersebut. ... Kepada mereka Kita [merasa] sedih
untuk menyatakan dengan keras [dan] mengulangi kembali kebenaran yang telah
diketahui, dan untuk menunjukkan dengan cemas kesalahan yang jelas [ini] dan
bahaya dari kesalahan [tersebut]. |
1. "Tubuh Mistik Kristus dan Gereja Katolik Roma adalah satu hal
yang sama", artinya apakah maksudnya Gereja Katolik Roma adalah
perhujudan dari Yesus ?
|
Quote: |
|
|
Enggak (walaupun aku tidak yakin apa yang kamu maksud dengan perujudan)...dalam
kitab suci Kristen hubungan antara Gereja dan Yesus digambarkan begitu eratnya
sehingga dikatakan Yesus adalah Kepala dan Gereja adalah tubuhNya sehingga
keduanya merupakan satu kesatuan.
|
Athanasios
wrote: |
||
|
Ini yang saya tanya, berarti gereja sama Yesus itu sama kan. Artinya apa yang
dilakukan gereja mewakili Yesus, berarti gereja tidak pernah salah karena
gereja dan Yesus itu satu.
Berarti pemimpin gereja tertinggi itu mewakili Yesus di dunia sekarang ini
kurang lebih begitu ?
|
ronin03
wrote: |
|
|
Tidak sesederhana itu. For a start, Gereja tidak identik dengan Yesus
sebagaimana kepala tidak identik dengan tubuh (tapi keduanya sama-sama tak terpisahkan).
Hubungan antara Yesus dan Gereja cukup kompleks dan kekompleksan ini adalah
bahan teologi yang tak pernah kering untuk digali.
|
Quote: |
|
berarti gereja tidak pernah salah karena gereja dan Yesus itu
satu. |
Ketidakdapatsalahan Gereja tidak sama dengan ketidakdapatsalahan Allah [ie.
Yesus].
|
Quote: |
|
Berarti pemimpin gereja tertinggi itu mewakili Yesus di dunia
sekarang ini kurang lebih begitu ? |
Ini benar. Paus adalah wakil Kristus di Bumi.
|
DeusVult
wrote: |
||
|
Beda dimana ya ?
|
ronin03
wrote: |
||||
|
Ketidakdapatsalahan Gereja terbatas pada kuasa Paus dalam menetapkan doktrin
sebagai sebuah kebenaran.
Di luar kuasa mengajar tersebut, Gereja bisa salah dan berdosa.
Berbeda dengan Tuhan Yesus yang tidak bisa salah dan tidak bisa berdosa
GBU
|
Quote: |
|
Di luar kuasa mengajar tersebut, Gereja bisa salah dan berdosa. |
Aq rasa kalimatnya lebih tepat jika:
Gereja memiliki kuasa mengajar tentang iman. Di luar kuasa mengajar tersebut,
Gereja tidak memiliki wewenang. (cmiiw)
|
b_christ
wrote: |
||
|
Ini juga keliru.
Batasan infallibilitas Gereja adalah mengenai masalah iman dan
moral. Itupun atas ajaran Gereja yang mengikat seluruh umat secara
universal.
Sementara wewenang Gereja tidak hanya berkenaan dengan iman dan moral. Gereja
punya kuasa yuridis atas semua subyeknya [ie. seluru umat atolik dari atas
samapi bawah), bahkan para penguasa dunia (ie. Raja, Presiden etc).
|
Fundamentals of
Catholic Dogma, Dr. Ludwig Ott, P,285 7. The Nature of
the Papal Primacy 1. Dogma
In consonance with
this declaration, the Primatial power is: a) A true power of
jurisdiction that is, a true governing power, not merely a warrant of
supervision or direction, such as, for example, belongs to the president of a
political party, or a society, or of a conference. As a govermental power, it
embraces the full power of legislation, administration of justice (disputed
and voluntary jurisdiction) and of its execution. Corresponding to it on the
part of the subjects is the duty of subordination and of obedience. b)A universal
power, that is, it extends personally to the pastors (bishops) and to the
faithful, totally and individually, of the whole church. Materially it
refers, not merely to matters of faith and morals (treaching office), but
also to Church discipline and goverment (pastoral offive). c)Supreme power in
the Church, that is, there’s no jurisdiction possessing a greater or equally
great power. The power of the Pope transcends both the power of each
individual bishop and also of all the other bishops together. The bishops
collectively (apart from the Pope), therefore, are not equal to or superior
to the Pope. d)A full power,
that is, the Pope posses of himself alone, the whole fullness of the Church
power of jurisdiction and not merely the greater share than the other bishops
taken individually or conjointly. Thus the Pope can rule independently on any
matter which come under the sphere of the Church’s jurisdiction without the
concurence of the other bishops or of the rest of the Church. e) An ordinary
power, that is, it is connected with the office, by virtue of divine
ordinance, and is not delegated from a higher possessor or jurisdiction. Thus
it can be exercised at any time, i.e., not merely in exceptional cases, e.g.,
where the bishops neglect their pastoral duties in their territoris (Febronius,
Eybel). D 1500. f) A truly
episcopal power, that is, the Pope is just as much a “universal bishop” of
the whole Church, as he is bishop of his diocese of Rome (“Episcopus Urbis et
Orbis” ; Jacob of Viterbo). Thus, the Papal power, like any other episcopal
power, embraces the legislative, the juridicial and punitive power. Cf. CIC
218, Par 2 and 335). g) An immediate
power, that is, the Pope can exercise his power, without the intervention of
an intermediary, over the bishops and the faithful of the whole Church. 2. Inference a) It follows from
the supreme governing power of the Pope over the whole Church that he has the
right, in the exercise of his office, of coming into free contact with all
the bishops and faithful of the whole Church. For this reason the Church
rejects all attempts by the State to subject official intercourse with the
Apostolic See to state control, and to make the juridicial obligation of
papal decrees dependent on the cocurrence of the State authorities (placet).
D 1829. b)As the supreme
lawgiver of the Church, the Pope is not legally bound by ecclesiastical
decisions and usages, but by divine law alone. This demands that Papal power,
in consonance with its purpose, should be employed for the building-up of the
Mystical Body of Christ, not for its destruction (2 Cor. 10, 8). The divine
law, therefore, is an efficacious brake on arbitrariness. The third Gallican
article, which demanded a far reaching limitation of the exercise of the Papal
power, was properly rejected. D 1324. c) As supreme judge
of the Church, the Pope has the right of bringing every Church law-matter
before his court, and to receive appeals in all Church disputes. He himself
is judged by nobody (CIC 1556; prima sedes a nemine iudicator), because
there’s no higher judge on Earth than he. For the same reason there’s no
appeal to a higher court against the judgment of the Pope. The Church rejects
an appeal from the Pope to General Council as this would mean putting General
Council above the Pope. D 1830; CIC 228, Par. 2. Cf. D 1323 (22nd Gallican
Article). |
