Mengasihi Sesama

Mengasihi Sesama
Ibu Theresa dari Calcuta

Senin, 18 September 2023

HYPOSTATIC UNION

 HYPOSTATIC UNION OF CHRIST



Konsep Hypostatic Union (hypostasis=substantive reality) ini dinyatakan oleh Gereja dalam Kredo Chalcedonian yang ditetapkan pada Konsili Chalcedon tahun 451. 


Tujuan Kredo Chalcedonian adalah menegaskan sikap Gereja mengenai kodrat Yesus Kristus pasca-inkarnasi. Konsili dan kredo ini diakui oleh Gereja Orthodox Timur, Gereja Katolik Roma dan Gereja Protestan pada umumnya.

Bunyi dari Kredo Chalcedonian adalah (bahasa Inggris):


We, then, following the holy Fathers, all with one consent, teach men to confess one and the same Son, our Lord Jesus Christ, the same perfect in Godhead and also perfect in manhood; truly God and truly man, of a reasonable soul and body; consubstantial with us according to the manhood; in all things like unto us, without sin; begotten before all ages of the Father according to the Godhead, and in these latter days, for us and for our salvation, born of the virgin Mary, the mother of God, according to the manhood; one and the same Christ, Son, Lord, Only-begotten, to be acknowledged in two natures, inconfusedly, unchangeably, indivisibly, inseparably; the distinction of natures being by no means taken away by the union, but rather the property of each nature being preserved, and concurring in one Person and one Subsistence, not parted or divided into two persons, but one and the same Son, and only begotten, God the Word, the Lord Jesus Christ, as the prophets from the beginning have declared concerning him, and the Lord Jesus Christ himself taught us, and the Creed of the holy Fathers has handed down to us.


terjemahan teks tersebut ke dalam Bahasa Indonesia:

Kami, oleh karena itu, mengikuti para Bapa Kudus, dengan seia-sekata yang mengajarkan kepada semua orang untuk mengakui satu dan Putra yang sama, Tuhan kita Yesus Kristus, yang sama sempurna dalam Keallahan dan juga sempurna dalam kemanusiaan; sungguh-sungguh Allah dan sungguh-sungguh manusia, dengan jiwa yang berakal budi dan tubuh; sehakikat dengan kami menurut kemanusiaan; dalam segala hal serupa dengan kami, hanya tanpa dosa; diperanakkan sebelum segala abad dari Bapa menurut Keallahan, dan pada zaman akhir ini, untuk kita dan untuk keselamatan kita, dilahirkan dari perawan Maria, Bunda Allah, menurut kemanusiaan; satu dan Kristus yang sama, Putra, Tuhan, Yang Tunggal, untuk diakui dalam dua kodrat, tanpa tercampur, tanpa berubah, tanpa terbagi, tanpa terpisah; perbedaan kodrat sama sekali tidak dihilangkan oleh persatuan itu, melainkan justru sifat-sifat masing-masing kodrat dipelihara, dan bersatu dalam satu Pribadi dan satu Subsistensi, tidak terpecah atau terbagi menjadi dua pribadi, melainkan satu dan Putra yang sama, dan yang tunggal diperanakkan, Sabda Allah, Tuhan Yesus Kristus, sebagaimana para nabi sejak awal telah menyatakan tentang Dia, dan Tuhan Yesus Kristus sendiri telah mengajarkan kita, dan Pengakuan Iman para Bapa Kudus telah menurunkan kepada kita.

Inti dari Kredo tersebut adalah
:


Yesus Kristus adalah sungguh Allah dan sungguh Manusia; dikenal dalam 2 kodrat yaitu kodrat ilahi dan kodrat manusiawi dengan tidak tercampur-baur, tidak terbagi-bagi, tidak terlarutkan satu sama lain dan tidak terpisahkan; dimana kedua kodrat tersebut berada dalam satu Pribadi.


Kredo tersebut melahirkan doktrin Hypostatic Union of Christ (2 kodrat dalam 1 Pribadi Kristus) yang kita kenal dalam istilah populer Yesus Kristus adalah sepenuhnya Allah dan sepenuhnya Manusia.

-----

100% Allah 100% Manusia ?? Lebih tepatnya Sepenuhnya Allah, sepenuhnya manusia

Dalam artikel Kenosis, kita ketahui bahwa Sang Firman Allah yang adalah Allah sepenuhnya (Allah 100%) mengambil rupa manusia (berinkarnasi).

Ia yang pada mulanya Allah kemudian pada satu waktu mengambil kodrat kemanusiaan, bukan melepas kodrat ilahi kemudian menjadi manusia.

Sang Firman Allah tidak pernah kehilangan kodrat ilahiNya. Saat berinkarnasi Ia tetap ilahi namun Ia juga mengambil kodrat kemanusiaan.


Dalam hal itu, maka kodrat ilahi dan kodrat manusia bersama-sama sepenuhnya ada dalam satu Pribadi Yesus Kristus.

Ini adalah sesuatu yang ajaib.


Kol 2:9
Sebab dalam Dialah berdiam secara jasmaniah seluruh kepenuhan ke-Allahan


KJV
For in him dwelleth all the fulness of the Godhead bodily


Ia adalah Allah yang jasmaniah atau Allah dalam rupa jasmaniah.

Mat 1:23
Sesungguhnya, perawan itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan mereka akan menamakan Dia Imanuel" --yang berarti: Allah menyertai kita.

Ya begitulah.
Dia Allah yang dapat disentuh, dapat diraba dan diam di tengah-tengah kita.

Sekalipun jasmaniah, Ia tidak kehilangan keilahian.
Sekalipun ilahi, Ia tidak kehilangan kejasmanian.

Yoh 1:14
Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran.


(KJV)
And the Word was made flesh, and dwelt among us, (and we beheld his glory, the glory as of the only begotten of the Father,) full of grace and truth.


Firman Allah menjadi daging (flesh).

Maka dagingNya bukan sembarang daging, daging itu adalah Sang Firman Allah.

Bagaimana mungkin?


kita tidak paham namun ini benar-benar terjadi.  

-----

Satu Pribadi

Kredo itu mengatakan lebih lanjut bahwa Yesus Kristus itu adalah satu Pribadi.
Walaupun Ia mempunyai kodrat ilahi dan kodrat manusiawi, namun Ia adalah satu Pribadi.
Sama seperti saya adalah satu Pribadi, maka Yesus pun satu Pribadi.

Mitologi Yunani mengenal dewa bernama Hermaphroditus. Dewa yang lahir sebagai laki-laki ini pada suatu hari disatukan dengan Salmacis yang merupakan sebangsa peri. Sejak penyatuan itu maka Hermaphroditus memiliki 2 kepribadian, yaitu dirinya sendiri dan pribadi Salmacis di dalam dirinya. 

Tuhan Yesus tidak seperti itu. 

Ia tidak memiliki dua kepribadian, seolah-olah di satu sisi kepribadian Allah dan di sisi lain kepribadian manusia.

-----
Tidak Bercampur-Baur

Kedua kodrat dalam diriNya juga tidak bercampur-baur.

Maksudnya bagaimana?

Mungkin ada orang membayangkan seperti warna merah dicampur warna biru sehingga melahirkan warna hijau (suatu warna yang tidak merah sepenuhnya dan tidak biru sepenuhnya).

Bukan begitu!!!

Kodrat ilahiNya tidak tercampur-baur dengan kodrat manusiaNya sehingga melahirkan makhluk hybrid/sintetis/campuran.

Begitu juga kodrat ilahiNya tidak melarutkan kodrat manusiaNya atau sebaliknya.

Mitologi Yunani mengenal Hercules yang adalah campuran dewa dan manusia. Hercules tidak bertaraf dewa tetapi juga bukan manusia biasa. Dikatakan bahwa Hercules adalah manusia berkekuatan super sebagai hasil percampuran kedewaan dan kemanusiaan.

Yesus Kristus tidak seperti itu!!!!!
Kodrat ilahiNya tetap ada sepenuhnya/100% dan kodrat manusiaNya tetap ada sepenuhnya/100% dalam satu Pribadi Yesus Kristus.

-----

Tidak terbagi-bagi

Inilah alasan saya concern untuk menulis tentang Hypostatic Union.


Ada beberapa kawan diskusi saya yang melihat kehidupan Yesus Kristus seolah Dia terbagi-bagi. 

Yang saya maksud adalah pandangan-pandangan seperti ini:

·        Tubuh Yesus Kristus adalah tubuh manusiawi saja, sedangkan isi di dalam diriNya (jiwa dan roh) adalah ilahi.

·        Pada saat Ia disalib, maka Ia adalah manusia dan keilahianNya tidak aktif sehingga Ia bisa mati dibunuh.

·        Ia lahir sebatas manusia biasa, tidak ada lagi atribut keilahian selain dari identitas diriNya bahwa Ia ilahi.

Hal-hal di atas adalah upaya pembagi-bagian kapan Ia 'hanya' ilahi, kapan Ia 'hanya' manusiawi.

Mengapa dibagi-bagi seperti itu? 
Karena manusia bingung:

·        Bagaimana mungkin Allah bisa mati, bisa merasa lapar, bisa merasa takut? 

·        Yang mati, yang lapar dan yang takut pastilah bukan Allah, melainkan manusianya saja.

·        Pastilah somehow pada kondisi itu Ia bukan Allah karena Allah tidak mungkin mati.

Kredo Gereja purba menyatakan bahwa dalam segala tindakanNya Ia adalah ilahi sekaligus manusiawi.

Coba kita pikirkan, bisakah Allah lahir melalui rahim perempuan?
Ternyata Allah menemukan caranya untuk dikandung perempuan dan dilahirkan sebagai bayi.

Allah memang tidak bisa mati, tapi
God-Man (Allah-Manusia) bisa.
Allah memang tidak bisa takut, tapi God-Man (Allah-Manusia) bisa. 
Allah memang tidak bisa lapar, tapi God-Man (Allah-Manusia) bisa. 
Allah memang tidak lahir sebagai bayi, tapi God-Man (Allah-Manusia) bisa.

Ya, istilah God-Man (sepenuhnya Allah dan sepenuhnya Manusia) boleh kita gunakan sekalipun secara hurufiah tidak ditulis di Alkitab.

Istilah ini adalah ciri khas kekristenan.

Kutipan Origen (abad ke-3)
This substance of a soul, then, being intermediate between God and the flesh – it being impossible for the nature of God to intermingle with a body without an intermediate instrument – the God-man is born

Bahan katekisasi Westminster
Christ is exalted in his sitting at the right hand of God, in that as God-man He is advanced to the highest favour with God the Father

Westminster Confession of Faith (1646)
The Son of God, the second Person in the Trinity, being very and eternal God, of one substance, and equal with the Father, did, when the fullness of time was come, take upon him man’s nature, with all the essential properties and common infirmities thereof; yet without sin: being conceived by the power of the Holy Ghost, in the womb of the Virgin Mary, of her substance. So that two whole, perfect, and distinct natures, the Godhead and the manhood, were inseparably joined together in one person, without conversion, composition, or confusion. Which person is very God and very man, yet one Christ, the only Mediator between God and man.

Jangan membayangkan Yesus Kristus seperti Hulk yang pada saat lemah maka Hulk tidak ada dan pada saat kuat maka Bruce Banner tidak ada.


Ia juga bukan hanya manusia biasa yang diurapi Roh Kudus.
Ia masih memiliki keilahianNya karena kodrat ilahi bukan hal yang dilepas-pakai seolah baju zirah iron-man.

Jadi, pd saat disalibkan itu yang disalib adalah manusia ataukah Allah?
Dua-duanya.

1 Kor 2:8
Tidak ada dari penguasa dunia ini yang mengenalnya, sebab kalau sekiranya mereka mengenalnya, mereka tidak menyalibkan Tuhan yang mulia.

-----

Tidak terpisahkan

Ada miskonsepsi yang beredar di beberapa orang, yaitu:


Sesudah kebangkitanNya, Yesus Kristus kembali pada kondisi awalNya yang ilahi sepenuhnya karena kemanusiaanNya sudah lenyap seiring kematianNya.

Konsepsi ini tidak sesuai kredo Gereja purba.
Hypostatic Union ini tidak terpisahkan.
Hingga saat ini Yesus Kristus masih sepenuhnya Allah dan sepenuhnya Manusia.
Dwi naturNya masih berlangsung.

1 Tim 2:5
Karena Allah itu esa dan esa pula Dia yang menjadi pengantara antara Allah dan manusia, yaitu manusia Kristus Yesus

·        Ia hingga kini masih menjadi Pengantara bagi kita.

·        Ia adalah Imam Besar kita.

·        Imam Besar dan Pengantara kita adalah Manusia juga, memang harus demikian.

Pada saat Ia menampakkan diri kepada murid-muridNya, maka Ia berkata:

Luk 24:39
Lihatlah tangan-Ku dan kaki-Ku: Aku sendirilah ini; rabalah Aku dan lihatlah, karena hantu tidak ada daging dan tulangnya, seperti yang kamu lihat ada pada-Ku.

Yoh 20:27
Kemudian Ia berkata kepada Tomas: "Taruhlah jarimu di sini dan lihatlah tangan-Ku, ulurkanlah tanganmu dan cucukkan ke dalam lambung-Ku dan jangan engkau tidak percaya lagi, melainkan percayalah. 

Mungkin ada di antara kita yang membayangkan saat ini Yesus Kristus sepenuhnya dalam wujud rohani (seolah hantu/arwah) karena Ia sudah kembali menjadi Allah sepenuhnya.

Namun kedua nas di atas menunjukkan pada kita bahwa tubuhNya masih mengandung daging dan tulang, tanganNya dan perutNya masih berlubang sehingga lambungNya terlihat.

Jangan lupa, Ia pun masih makan ikan goreng!
Ia bukan hantu yang tidak berdaging tulang.

Ia bangkit dengan tubuh yang sama seperti tubuh kematianNya, bekas lukanya masih ada.

Dengan begitu maka kita bisa mengerti bahwa tubuhNya selama Ia hidup memang bukan tubuh biasa.

Saya pribadi berkeyakinan tubuhNya ini istimewa. Menurut saya, tubuh Kristus selama Ia hidup adalah tubuh kemuliaan. Tubuh kemuliaan ini ilahi dan jasmani.

Ia bisa jalan di atas air, Ia bisa tiba-tiba menghilang di Bait Suci, Ia bisa berubah rupa dan transfigurasi di atas gunung. 

Jadi, Yesus Kristus bangkit sebagai Manusia dan Allah.

Ia masih Manusia. 
Jika Ia mau, Ia bisa menampakkan diri di hadapan saya dan saya bisa memegang tubuhNya sama seperti saya memegang tubuh orang lain.
Ia adalah yang Sulung dari banyak saudara, yaitu kita semua sesama manusia.

-----

Esensi Dwi Natur Kristus

Mengapa sih kok ribet sekali Kristus ini 'harus' dwi-natur?
Harus Allah dan Manusia sepenuhnya?
 
Semua ini atas 2 alasan utama:

1. Pemerintahan atas Bumi


Kita memahami bahwa Bumi dan segala isinya telah diberikan pada Manusia (Adam). Adam kemudian jatuh dalam dosa sehingga penguasaan atas bumi akhirnya jatuh ke tangan Iblis.


Misi Tuhan Yesus adalah merebut kembali penguasaan bumi dari tangan Iblis dengan membinasakan pekerjaannya.


Kis 10:38; 26:17-18
yaitu tentang Yesus dari Nazaret: bagaimana Allah mengurapi Dia dengan Roh Kudus dan kuat kuasa, Dia, yang berjalan berkeliling sambil berbuat baik dan menyembuhkan semua orang yang dikuasai Iblis, sebab Allah menyertai Dia.

Aku akan mengasingkan engkau dari bangsa ini dan dari bangsa-bangsa lain. Dan Aku akan mengutus engkau kepada mereka,
untuk membuka mata mereka, supaya mereka berbalik dari kegelapan kepada terang dan dari kuasa Iblis kepada Allah, supaya mereka oleh iman mereka kepada-Ku memperoleh pengampunan dosa dan mendapat bagian dalam apa yang ditentukan untuk orang-orang yang dikuduskan

Itulah sebabnya Tuhan Yesus disebut 'Adam yang kedua'.
Ia datang sebagai Adam dan harus sebagai Adam karena Ia diberi misi untuk merebut kembali Bumi.

Dengan ketaatanNya hingga mati di kayu salib, maka sebagai manusia Yesus Kristus telah menang. Ia berjaya, Ia mengalahkan musuh dan berhak menerima pemerintahan atas bumi.
Ia memenangkan misiNya sebagai Mesias (Yang Diurapi).

Atas kemenanganNya sebagai manusia, Ia 'diangkat' atau 'dilantik' atau 'disahkan' sebagai Tuhan,
Kristus dan Imam Besar.

Kis 2:36
Jadi seluruh kaum Israel harus tahu dengan pasti, bahwa Allah telah membuat Yesus, yang kamu salibkan itu, menjadi Tuhan dan Kristus.

Fil 2:8-11
Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.
Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama,
supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi,
dan segala lidah mengaku: "Yesus Kristus adalah Tuhan," bagi kemuliaan Allah, Bapa!

2 nas itu menunjukkan bahwa Yesus Kristus (yang sebetulnya adalah Allah) harus membuktikan diriNya dengan menjadi manusia yang taat kepada Bapa. Karena ketaatanNya, maka Ia menang dan Bapa memberikan ganjaran sesuai perbuatanNya yaitu Nama di atas segala nama serta penguasaan atas bumi.

Mat 28:18
Yesus mendekati mereka dan berkata: "Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi.

Yang memegang kekuasaan di Bumi adalah Manusia.

Maka itu hingga saat ini pun penguasa Bumi adalah Manusia Yesus Kristus.
Ia tidak kehilangan kemanusiaanNya karena Ia tetap harus memegang kekuasaan di Bumi hingga nanti segala-galanya diserahkan kembali pada Bapa.

2. Penebusan


Bayangkan ilustrasi berikut:

Dalam peperangan,
1 prajurit tawanan ditukar 1 prajurit
1 kapten tawanan ditukar 100 prajurit
1 kolonel tawanan ditukar 1000 prajurit
1 jenderal tawanan ditukar 10000 prajurit
1 raja tawanan ditukar 1 negara
1 Allah ditukar dengan?

Ya memang benar bahwa Yesus Kristus menjadi manusia agar menebus dosa manusia.

Apakah dengan sebatas menjadi 'manusia saja' maka Ia dapat menebus dosa seluruh umat manusia dari mula pertama tercipta hingga terakhir dilahirkan?

Tidak bisa hanya 'manusia' saja karena nyawa 1 manusia
berimbang dengan nyawa 1 manusia juga.
Maka itu yang mati disalibkan jugalah ilahi, yang mati bagi kita adalah Allah.

Jadi nyawa yang diberikan itu nyawa dari Allah dan nyawa dari manusia.

Nyawa dari God-Man.
Makanya imbang, seluruh manusia beroleh jalan keluar karena penebusan itu.

Memang harus Sang Firman (Allah itu sendiri)
yang berinkarnasi dan tetap mempertahankan kodrat ilahi agar karyaNya dapat sempurna.

Itulah alasannya Yesus Kristus tetap memiliki dwi-natur selama Ia berinkarnasi hingga saat ini sampai kelak akhir zaman.


------


Interaksi Dwi-Natur Kristus

Kini kita tiba pada pertanyaan: Bagaimana cara mainnya dwi-natur ini?


Inilah yang tricky, banyak menjebak orang terutama bagi mereka dari agama lain yang berusaha memahami Injil semata dengan logika yang belum diterangi Roh Kudus.


Ketika kita membaca Alkitab Perjanjian Baru, maka kita akan temukan bahwa 
kadang-kadang Tuhan Yesus bertindak dan berbicara dengan menunjukkan sisi kemanusiaanNya, kadang-kadang Tuhan Yesus bertindak dan berbicara dengan menunjukkan sisi keilahianNya; tetapi dalam apapun tindakanNya Ia tidak kehilangan kedua kodrat tersebut.

Apabila pembaca Alkitab dari agama lain belum diterangi Roh Kudus, maka ia bisa saja hanya terfokus pada ayat-ayat ketika Tuhan Yesus menunjukkan sisi kemanusiaanNya dan mengabaikan ayat-ayat bersifat sisi ilahi Kristus.


Misalnya, Kristus menunjukkan sisi kemanusiaanNya ketika Ia berkata bahwa Ia tidak maha tahu, Ia tidak berwenang menentukan siapa yang duduk di sisi kanan-kiriNya, Bapa lebih besar daripadaNya, Ia adalah utusan, Ia merasa lapar, Ia merasa takut dan gentar, Ia tidak dapat berbuat apa-apa dari diriNya sendiri, dan sebagainya.


Orang juga bisa salah memahami Kristus ketika mereka membaca bahwa Yesus diangkat menjadi Tuhan dan Kristus atau Yesus dikaruniakan nama di atas segala nama (seolah tadinya Ia bukan siapa-siapa).


Semua itu contoh ayat-ayat ketika Yesus Kristus menunjukkan pada kita sisi kemanusiaanNya.
Sisi itu bertujuan supaya kita sebagai manusia dapat meneladaniNya, sebagai gambaran yang sempurna atas kehambaan, sebagai ciri-ciri ketaatan sempurna.

Yang diajarkan oleh para Bapa Gereja purba adalah sekalipun Ia menunjukkan diriNya sebagai manusia, Ia tidak pernah kehilangan sedikitpun keilahianNya.

Banyak juga ayat-ayat dimana Ia menyatakan keilahianNya.
Ia berkata: 'Akulah Dia' (Yunani=Ego Aimi) dengan cara pengucapan yang persis sama seperti cara YHVH berbicara kepada umat Israel. Gaya pengucapan ini menarik perhatian agamawan Yahudi sehingga mereka bertanya-tanya siapa Dia yang berani bicara seolah YHVH itu sendiri.
Ia berkata bahwa Ia adalah Tuhan atas hari Sabat, Ia adalah Jalan dan Kebenaran dan Hidup, Ia adalah Terang Dunia, Ia adalah Anak Manusia yang duduk di sebelah kanan Bapa, bahwa Ia harus dihormati sama seperti Bapa dihormati, bahwa Ia dan Bapa adalah satu, bahwa siapa melihat Dia sudah melihat Bapa, Ia adalah Alfa dan Omega, Yang Mahakuasa. Ia juga secara supranatural bertransfigurasi di atas gunung dimana wajahNya bercahaya seperti matahari terik.

Begitupun kita bisa melihat ayat-ayat dimana Ia disebut cahaya kemuliaan Allah, gambar wujud Allah dan yang menopang segala yang ada dengan firman-Nya yang penuh kekuasaan.


Di dalam deklarasi dan tindakanNya yang bersifat ilahi, Ia tetap mempertahankan kodrat manusiawi.


-----


Marilah kita coba padankan dengan ilustrasi sederhana yang semoga dapat mewakili sedikit gambaran dwi-natur ini.


Besi itu keras, api itu panas.

Besi benda padat, api adalah plasma.
Ketika besi dibakar api dengan suhu tinggi, maka keduanya akan (terlihat) menyatu, besi menjadi merah membara.
Namun begitu, persatuan itu tetap membawa sifat keduanya masing-masing. Besi tetap besi, api tetap api. Besi tidak menjadi api dan api tidak menjadi besi. Mereka juga tidak tercampur menjadi unsur baru.
Jika besi panas itu ditempa, maka besinya berubah tetapi apinya tidak berubah.
Jika besi panas itu dicelup ke air, maka apinya berubah tetapi besinya tidak berubah.
Kita umpamakan saja besi itu kodrat kemanusiaan dan api adalah kodrat keilahian.
Ketika Kristus disalibkan, kodrat kemanusiaanNya terkena tetapi kodrat keilahianNya tetap ada di situ tidak berkurang sedikitpun. Kristus wafat karena menyerahkan nyawaNya, bukan karena diambil paksa daripadaNya.

Di dalam teori Fisika, kita mengenal adanya Teori Dualisme Cahaya (Wave-Particle Duality).

Teori ini mengindikasikan bahwa cahaya (light) kadang-kadang muncul sebagai gelombang dan kadang-kadang muncul sebagai partikel, tetapi tidak pernah muncul sebagai kedua-duanya sekaligus.
Albert Einstein mengatakan:
It seems as though we must use sometimes the one theory and sometimes the other, while at times we may use either. We are faced with a new kind of difficulty. We have two contradictory pictures of reality; separately neither of them fully explains the phenomena of light, but together they do

Yoh 8:12

I am the light of the world. If you follow me, you won't have to walk in darkness, because you will have the light

Bukan suatu yang kebetulan bahwa Ia adalah LIGHT tersebut.

Tuhan Yesus memberkati. 

Minggu, 27 Agustus 2023

SERI 7 : APAKAH BENAR ARTI PENUH RAHMAT ?

Bertentangan dengan Kecharitomene


Menanggapi implikasi yang jelas dari Lukas 1:28, beberapa orang menunjukkan bahwa dalam Kisah Para Rasul 6:8, Stefanus disebut sebagai "penuh dengan kasih karunia dan kuasa."

Kisah Para Rasul 6:8 Dan Stefanus, yang penuh dengan kasih karunia dan kuasa, mengadakan banyak mujizat dan tanda ajaib di antara orang banyak.

Apakah itu berarti dia juga tidak berdosa? Jawabannya adalah, "Tidak." Sebenarnya ada banyak perbedaan di antara kedua ayat ini yang sangat mempengaruhi maknanya.

Perbedaan yang paling jelas adalah dalam bahasa Yunani. Dalam Lukas 1:28, "penuh kasih karunia" adalah terjemahan dari kecharitomene, yang, seperti yang telah kita lihat, adalah bentuk pasif sempurna dari charitoo, dalam bentuk kata kerja. Namun, dalam Kisah Para Rasul 6:8, bahasa Yunani yang mendasarinya adalah plerescharitos (atau dalam beberapa naskah, pleres pisteos, yang menunjukkan iman, bukan kasih karunia). Ketika bahasa Yunaninya berbeda, maka maknanya pun biasanya berbeda.

Dalam Lukas 1:28, Maria sedang ditindaklanjuti oleh Allah. Tindakan ini terjadi di masa lalu dengan hasil yang terus berlanjut hingga saat ini. Kepenuhan dan kesempurnaan tersirat dalam kata kerja, dan kata kerja ini digunakan sebagai nama Maria. Dalam Kisah Para Rasul 6:8, Stefanus tidak disebut "penuh dengan kasih karunia" sebagai namanya. Sebaliknya, frasa ini hanya menggambarkan sesuatu yang terjadi di masa lalu dengan hasil yang telah diselesaikan di masa lalu. Kasih karunia yang terus menerus atau abadi tidak tersirat dalam kata kerja tersebut. Ia dipenuhi dengan kasih karunia pada saat itu dan hanya selama Ia melakukan mukjizat-mukjizat dan tanda-tanda ajaib di antara orang-orang. Implikasi dari bahasa Yunani sama sekali tidak sama. Dan, seperti yang telah di katakan sebelumnya, terjemahan-terjemahan yang lebih tua (lih. KJV, PB Wesley, Alkitab Jenewa, Alkitab Uskup) dan bahkan beberapa Alkitab modern (Alkitab Milenium Ketiga, YLT, Webster) memiliki kata "penuh dengan iman dan kuasa", dalam hal ini sebenarnya tidak ada paralelnya sama sekali.

Ayat lain yang dikutip oleh kaum Protestan sebagai paralel dari Lukas 1:28 adalah Efesus 1:6:

Ef 1:6 untuk memuji kasih karunia-Nya yang mulia, yang dengan cuma-cuma dilimpahkan-Nya kepada kita di dalam Dia yang terkasih.

KJV, yang mengatakan, "di mana Ia telah membuat kita diterima," dan DRB, yang mengatakan, "di mana Ia telah menganugerahi kita," mungkin memberi kita pemahaman yang lebih baik tentang bahasa Yunani yang mendasarinya daripada terjemahan-terjemahan modern. Kata yang digunakan di sini adalah echaritosen. Meskipun kata ini memiliki kata dasar yang sama (charitoo) dengan kecharitomene, namun karena infleksinya berbeda, maka maknanya pun berbeda.

Echaritosen berada dalam bentuk aorist, aktif, dan indikatif. Kata ini tidak menunjukkan kepenuhan (seperti halnya kecharitomene) karena tidak dalam bentuk perfect tense. Melihat konteksnya juga menghalangi makna seperti itu:

Ef 1:3-6 Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, yang telah mengaruniakan kepada kita di dalam Kristus segala berkat rohani yang ada di dalam sorga, 4 sebagaimana Ia telah memilih kita di dalam Dia sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya. 5 Di dalam kasih Ia telah menentukan kita di dalam Yesus Kristus untuk menjadi anak-anak-Nya, sesuai dengan rencana dan maksud kehendak-Nya, 6 untuk memuji kasih karunia-Nya yang mulia, yang dilimpahkan-Nya dengan cuma-cuma kepada kita di dalam Dia, Sang Kekasih.

Perhatikan bahwa Paulus menyebutkan "kasih karunia yang dengan cuma-cuma dianugerahkan Allah kepada kita" (ay. 6) dalam pembahasannya tentang "berbagai macam berkat rohani" (ay. 3) yang Ia anugerahkan kepada kita. Dengan kata lain, orang percaya menerima banyak kasih karunia yang berbeda di sepanjang hidup mereka, dan kasih karunia-kasih karunia ini memiliki ukuran yang berbeda, seperti yang ditunjukkan oleh ayat-ayat lain:

Rm. 5:20 Hukum Taurat datang untuk menambah pelanggaran, tetapi di mana dosa bertambah banyak, di situ kasih karunia makin bertambah,

Ef 4:7 Tetapi kepada kita masing-masing telah dianugerahkan kasih karunia menurut ukuran pemberian Kristus.

Yak. 4:6 Tetapi Ia memberikan kasih karunia yang lebih besar lagi, sebab itu dikatakan: "Allah menentang orang yang congkak, tetapi memberikan kasih karunia kepada orang yang rendah hati."

2 Pet 3:18 Tetapi bertumbuhlah dalam kasih karunia dan pengetahuan akan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus. Bagi Dialah kemuliaan, sekarang dan sampai selama-lamanya. Amin.

Maka, kasih karunia yang "dianugerahkan secara cuma-cuma" dalam Efesus 1:6 tidak mungkin dapat dianggap setara dengan "kepenuhan kasih karunia" yang diberikan kepada Maria. Luk. 1:28 merujuk kepada satu karunia anugerah kepenuhan kasih karunia di dalam kehidupan seseorang. Ef. 1:6 merujuk kepada beberapa ukuran kasih karunia yang diberikan kepada orang-orang percaya selama masa hidup mereka, dan dibagikan kepada setiap orang secara individu sesuai dengan kehendak Roh Kudus (bdk. 1 Kor. 12:11). Ini merujuk kepada sekelompok besar orang, dengan karunia-karunia yang berbeda dan berbagai tingkat anugerah yang diberikan. Karena setiap karunia diberikan kepada setiap orang percaya dengan takaran yang berbeda, maka karunia tersebut tidak menghasilkan kepenuhan seperti halnya satu karunia yang diberikan kepada Maria.

Kamis, 24 Agustus 2023

SERI 6 : DIBERKATILAH ENGKAU DIANTARA PARA WANITA

Diberkatilah Engkau di Antara Para Wanita

Kata-kata Elisabet kepada Maria terus menjadi hal yang penting di sini:

Luk. 1:42 dan ia berseru dengan suara nyaring: "Diberkatilah engkau di antara perempuan dan diberkatilah buah rahimmu!... "

Kita telah melihat bagaimana kata-kata Elisabet menggemakan seruan yang sama dari Perjanjian Lama dan bagaimana hal ini menegaskan identitas Maria sebagai "WANITA" dalam Kej. 3:15; Why. 12 dan Tabut Perjanjian Baru. Bahkan dengan semua ini, kita belum menyelesaikan implikasi dari ayat ini terhadap ketidakberdosaan Maria. Yang ingin kita bahas di sini adalah apa arti frasa, "Diberkatilah engkau di antara para wanita" bagi orang-orang pada zaman dan budaya Elisabet.

Bahasa Yunani di sini mencoba mengungkapkan sebuah ungkapan bahasa Hewi/Aram yang digunakan Elisabet sebagai tanggapannya ketika melihat Maria. Ungkapan tersebut adalah baruchah att minnashim.... בַּנָשִׁים אַתְּ בְּרוּכָה "diberkatilah engkau dari pada perempuan," yang merupakan cara lain untuk mengatakan, "Engkau [lebih] diberkati dari pada perempuan [lain atau semua]." 

Bahasa Ibrani dan Aram tidak memiliki kata superlatif, tetapi mereka memiliki cara untuk mengekspresikan pengertian superlatif: misalnya, "Mahakudus" berarti "Yang Mahakudus". Secara teknis, frasa dalam Lukas 1:42 ini adalah sebuah komparatif, tetapi ketika kita memiliki komparatif di mana satu pihak adalah individu dan pihak lainnya adalah semua orang, maka frasa ini akan memiliki kekuatan superlatif. Jika Maria lebih diberkati daripada wanita lain, maka ia adalah yang paling diberkati dari semua wanita. Ini adalah perbandingan tata bahasa dengan kekuatan superlatif.

Kita mungkin bertanya pada diri sendiri, "Mengapa hal ini penting?" Untuk beberapa alasan, sebagian besar pembela Katolik hanya menunjukkan bahwa Maria adalah yang paling diberkati di antara semua wanita dan mereka tidak pernah memberi tahu pembaca apa kaitannya dengan dogma Maria Dikandung Tanpa Noda. Saya pikir jawabannya akan ditemukan ketika kita meneliti mengapa Elisabet menyebut Maria sebagai "yang paling diberkati di antara para wanita".

Alasan yang jelas, tentu saja, karena Maria, dari semua wanita yang pernah hidup, dipilih untuk menjadi bunda Tuhan kita. Hal ini tentu saja menjadikannya wanita yang paling diberkati yang pernah ada. Namun, saya pikir ada juga alasan lain. Bagaimanapun juga, Maria berkata tentang dirinya sendiri, "mulai dari sekarang segala keturunan akan menyebut aku berbahagia" (Luk. 1:48). Mengapa? "Sebab Dia yang Mahakuasa telah melakukan hal-hal yang besar kepadaku" (Luk. 1:49). Keibuannya yang unik hanyalah satu hal. Jadi, apa lagi yang telah Tuhan lakukan dalam hidupnya yang membuatnya lebih diberkati daripada wanita lain?

Saya pikir hal lain itu adalah kemurahan ilahi yang tak tertandingi, atau kasih karunia, yang telah Dia berikan kepadanya. Dalam konteks kisah Kabar Sukacita dan Visitasi, Inkarnasi dan keibuannya yang ajaib selalu hadir. Namun, keanggunannya yang sangat nyata juga ada di sana. "Salam, hai yang dikaruniai" [atau "penuh rahmat"] (Luk 1:28); "Engkau beroleh kasih karunia di hadapan Allah" (Luk 1:30); "Jiwaku memuliakan Tuhan" (Luk 1:46).

Mengapa Allah memilihnya di atas semua wanita lain untuk menjadi ibu dari Tuhan kita? Apa yang ada dalam diri wanita ini yang membuatnya cocok untuk tugas tersebut? Hanya orang Katolik yang memiliki jawaban untuk pertanyaan itu, dan kami percaya bahwa jawaban itu ditemukan dalam perkataan malaikat. Roh Kudus menaungi dia dan membuat Juruselamat kita dikandung di dalam rahimnya karena Allah telah mempersiapkannya untuk menjadi seorang ibu dan mengisinya dengan rahmat-Nya. Dengan demikian, ia "diberkati di antara para wanita" bukan hanya karena keibuannya, tetapi juga karena persiapan untuk menjadi seorang ibu yang ia terima.


Kesimpulan

Secara keseluruhan, Kitab Suci memberikan beberapa indikasi yang sangat kuat bahwa kehidupan Maria yang dipenuhi dengan kasih karunia menghalangi dosa. Gereja mula-mula, dengan merenungkan contoh-contoh ini dan dengan bimbingan para rasul dan penerus mereka, memahami bahwa Maria adalah makhluk yang telah diluputkan oleh Allah dari noda dosa asal dan, sebagai konsekuensinya, tidak melakukan dosa dalam hidupnya. 

Tidak ada satu titik pun dalam sejarah di mana hal ini tidak menjadi kepercayaan umum seluruh Kekristenan hingga Reformasi Protestan, seribu lima ratus tahun setelah kelahiran Gereja. Saya menyadari bahwa beberapa orang Protestan tidak peduli dengan hal itu, tetapi bagi kita hal itu sangat signifikan. Kebaruan dari keberatan Protestan, adalah tanda pertama yang menentangnya.

Rabu, 23 Agustus 2023

SERI 5 : SALAM MALAIKAT GABRIEL

PENDAHULUAN

Manusia diselamatkan oleh karena kasih karunia Allah.
Manusia diselamatkan oleh karena rahmat Allah.

Roma 6:14 TB

Sebab kamu tidak akan dikuasai lagi oleh dosa, karena kamu tidak berada di bawah hukum Taurat, tetapi di bawah kasih karunia. 

Efesus 2:8 TB

Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: 

2 ayat di atas menunjukkan bahwa mendapat kasih karunia/rahmat :

  • berarti tidak dikuasai oleh dosa lagi
  • berarti diselamatkan

Itu menunjukkan efek yang luar biasa bagi seseorang yang menerima rahmat atau kasih karunia dari Allah.

Bagimana jika seseorang menerima dari Allah : "penuh rahmat" atau "penuh kasih karunia" ???

SALAM MALAIKAT GABRIEL


Sekarang, mari kita lihat salam Malaikat Gabriel kepada Maria:

Luk 1:28 (RSV-CE) Lalu ia datang kepada Maria dan berkata: "Salam, hai engkau yang penuh rahmat, Tuhan menyertai engkau!"

Kata Yunani yang diterjemahkan sebagai "penuh rahmat" di sini adalah κεχαριτωμένη (translasi: kecharitomene), yaitu bentuk pasif sempurna dari χαριτόω (translasi: charitoo), yang menunjukkan kasih karunia. Beberapa versi menerjemahkan kecharitomene sebagai "Salam, engkau yang sangat disukai (highly favored)," tetapi terjemahan ini tidak benar-benar menangkap makna penuh dari apa yang dikatakan malaikat Gabriel di sini.

Pertama, menerjemahkan charitoo sebagai "favor (disukai)" dan bukannya "rahmat" adalah terjemahan yang sangat sederhana. Pada akhirnya, kecharitomene berasal dari kata χάρις (translasi: charis): 

   charis --> charitoo --> kecharitomene. 

 χάρις  --> χαριτόω --> κεχαριτωμένη.

KJV menerjemahkan charis sebagai "rahmat/kasih karunia" lebih dari 83%. Leksikon Yunani KJV PB mendefinisikan charitoo sebagai "membuat mempesona, tampak penuh rahmat" sebagai arti utamanya. Ketika berkat/nikmat/kemurahan yang dimaksud adalah berkat/nikmat/kemurahan ilahi, "rahmat" adalah terjemahan yang lebih baik.

Berbagai karya referensi yang dihormati dan ilmiah mengkonfirmasi pemahaman ini. Sebagai contoh:

"Charitoo can mean to Grace as in Luke 1:28 and Eph. 1:6, provided we understand that this grace is endowed by God..." [The Pocket Word Study of the New Testament, Atlanta Ga., Bernard & Brothers publishing, 1982, pg 348]

- "Charitoo dapat berarti Kasih Karunia seperti dalam Lukas 1:28 dan Efesus 1:6, asalkan kita memahami bahwa kasih karunia ini diberikan oleh Allah..." 

 "Charitoo...Highly favored as in Luke 1:28 meaning to bestow grace upon...it really does not mean to show favor, but to give grace to" [Lexicon To The Old and New Testaments, edited by Spiros Zodhiates, TH.D, 1988 Iowa Falls, Iowa, World Bible Publications Inc.Pg. 1739]

- "Charitoo... Sangat disukai seperti dalam Lukas 1:28 yang berarti melimpahkan kasih karunia kepada... sebenarnya tidak berarti menunjukkan kemurahan hati, tetapi memberikan kasih karunia kepada" 

"Charitoo: Grace. To Grace.. as to the virgin Mary in Luke 1:28,... as in Eph. 1:6 were believers are said to be "accepted in the beloved" i.e., objects of Grace" [The Complete Word Study Dictionary New Testament, copyright 1992, printed by AMG International, Inc. Pg. 1471]

- "Charitoo: Kasih karunia. Kepada Kasih Karunia ... seperti kepada anak dara Maria dalam Lukas 1:28, ... seperti dalam Efesus 1:6 orang percaya dikatakan "diterima dalam yang dikasihi" yaitu, objek dari Kasih Karunia" 

"Luke 1:28 This is all one word in Greek kecharitomene a perfect passive participle of the verb Charitoo (only here and Eph. 1:6)... Abbott- Smith defines Charitoo as follows: endow with charis i.e. 1. (a.) to make graceful; (b.) to endure with Grace (i.e. Divine favor)" [Word Meaning in the New Testament, copyright 1986, printed by Henndrickson Publishing, edited by Ralph Earle Pg. 52]

- "Lukas 1:28 Ini semua adalah satu kata dalam bahasa Yunani kecharitomene, sebuah bentuk pasif sempurna dari kata kerja Charitoo (hanya di sini dan Efesus 1:6)... Abbott-Smith mendefinisikan Charitoo sebagai berikut: menganugerahi dengan charis yaitu 1. (a.) membuat anggun; (b.) menanggung dengan Kasih Karunia (yaitu kemurahan Ilahi)"

 "...Highly favored as in Luke 1:28 meaning to bestow grace upon...it really does not mean to show favor, but to give grace to" [Lexical Aides To the New Testament, copyright 1992, printed by AMG International, Inc., p. 966]

- "... Sangat disukai seperti dalam Lukas 1:28 yang berarti melimpahkan kasih karunia kepada ... ini benar-benar tidak berarti menunjukkan kesukaan, tetapi memberikan kasih karunia kepada" 

 "Charitoo. . . kecharitomene, full of grace, Luke, i. 28 (RV. in margin, endued with grace) " [Greek- English Lexicon to the New Testament, by W.J. Hickie M.A, 1945, p. 208]

- "Charitoo. . kecharitomene, penuh kasih karunia, Lukas, i. 28 

"Charitoo: to bestow grace upon, Lk 1:28 Ep 1:6" [The New Englishman's Greek Concordance and Lexicon, by Wigram - Green, 1982, p. 915]

- "Charitoo: melimpahkan kasih karunia, Luk 1:28 Ep 1:6" 

"28. kecharitomene... to bestow grace" [A Linguistic Key To The New Testament, copyright 1970, printed by Zondervan Publishing House, edited by Cleon L. Rogers, Jr. Vol. 1, Pg. 140]

- "28. kecharitomene... untuk melimpahkan kasih karunia" 

"Charitoo. . . to endue with grace... : Lk 1:28, Eph 1:6" [A Manual Lexicon of the New Testament, by G Abbott- Smith D.D, D.C.L., 1929, p. 480]

- "Charitoo. . untuk memberikan kasih karunia...: Luk 1:28, Ef 1:6" 

"Charitoo: akin to A., to endow with charis, primarily signified to make graceful or gracious... Luke I:28 'Highly favoured' (Marg., 'endued with grace')" [Vine's Expository Dictionary of New Testament Words, (unabridged edition), by W. E. Vine, printed by Riverside Book and Bible House, Pg. 424]

- "Charitoo: mirip dengan A., to endow with charis, terutama berarti membuat anggun atau ramah... Lukas I:28 'Sangat disukai'


Kita sudah mengerti maksudnya. Sekarang setelah kita tahu bahwa charitoo lebih baik dipahami dalam hal ini sebagai "rahmat/kasih karunia" dan bukan sekedar "kemurahan", sekarang kita harus mempertimbangkan apa arti dari bentuk pasif yang sempurna ini.

Situs web NTGreek.org, yang menyediakan instruksi tentang bahasa Yunani Koine dari Injil, memberi tahu kita di bagian "Grammatical Voice of Verbs" bahwa bentuk pasif menunjukkan bahwa subjek dari kalimat tersebut sedang ditindaklanjuti (dan bukannya melakukan tindakan, yang merupakan bentuk aktif). Lebih jauh lagi di halaman yang sama, di bagian "Bentuk Kata Kerja" kita belajar bahwa bentuk perfect tense menunjukkan bahwa tindakan ini telah selesai di masa lampau, dengan hasil yang terus berlanjut hingga saat ini dan masih berlaku sepenuhnya. Tindakan itu adalah pemberian anugerah. Jadi, kecharitomene, bentuk pasif sempurna dari charitoo, secara harfiah berarti, "kamu yang telah dan terus dipenuhi dan disempurnakan dalam kasih karunia." Tata Bahasa Yunani Perjanjian Baru karya Blass dan DeBrummer mengatakan [penekanan dari saya]: "Boleh saja, dengan dasar tata bahasa dan gramatika Yunani, untuk memparafrasekan kecharitomene sebagai sepenuhnya, secara sempurna, secara terus-menerus dikaruniai kasih karunia."

Ini adalah satu-satunya contoh di dalam Alkitab PB di mana kata kerja charitoo digunakan dengan cara ini. Ada kelengkapan di sini dengan hasil yang permanen. Ada kepenuhan dan kesempurnaan pada kasih karunia yang telah diterima Maria. Ia tidak diberi kasih karunia seperti kita diberi kasih karunia. Ia dipenuhi dengan kasih karunia, digenapi dalam kasih karunia, disempurnakan dalam kasih karunia, dan kepenuhan kasih karunia ini terus berlanjut, terus berlanjut hingga saat ini.

Singkirkan sejenak prasangka .... dan lihatlah buktinya. Sungguh menakjubkan apa yang telah terjadi di sini! Perhatikan bahwa dosa dan kasih karunia bertentangan (Rm. 5:20-21), dan kasih karunia menyelamatkan kita dari dosa (Ef. 2:5,8). Di mana ada kepenuhan kasih karunia, di situ tidak ada ruang untuk dosa. Itulah mengapa kami menyatakan bahwa Lukas 1:28 menunjukkan ketidakberdosaan Maria.


Hal lain yang menarik dari kata kecharitomene adalah kata ini menggunakan bentuk kata kerja. NTGreek.org memberi tahu kita (di sini) bahwa kata kerja adalah "bentuk kata ganti orang yang digunakan untuk menyapa secara langsung. Kata ini digunakan ketika seseorang berbicara kepada orang lain, memanggil atau menyebut nama mereka, atau secara umum menyapa mereka." Dengan kata lain, Gabriel secara harfiah memanggil Maria "penuh kasih karunia" seolah-olah itu adalah namanya.


Hal ini penting karena di dalam Alkitab, nama seseorang sering kali menunjukkan elemen penting dari sifat orang tersebut, atau karakteristik yang menentukan orang tersebut. 

  • Nama Yakub diubah menjadi "Israel" karena ia bergumul dengan Tuhan. 
  • Abram disebut "Abraham" karena ia akan menjadi bapa banyak bangsa. 

Sekarang malaikat memanggil Maria dengan nama yang berbeda: kecharitomene. 

Tidak ada seorang pun di dalam Alkitab yang begitu ditentukan oleh kasih karunia yang telah diterimanya sehingga keadaan kasih karunia ini menjadi nama orang tersebut. 

Namun, itu diterapkan pada Maria. 

Saya semakin berpikir bahwa, ............  ketika kita menggali lebih dalam makna kecharitomene, kita menemukan bahwa Maria adalah seorang individu yang dianugerahi secara unik.


Minggu, 20 Agustus 2023

SERI 4 : TABUT PERJANJIAN BARU

Tabut Perjanjian


Indikasi lain dari ketidakberdosaan Maria dapat ditemukan dalam paralel antara Maria dan Tabut Perjanjian dari Perjanjian Lama:

  • Luk 1:28, 31, 42, 45, 48 (DRB) dan Mzm 93:5 : Maria adalah bait Tuhan, dan bait Tuhan adalah kudus untuk selama-lamanya.
  • Luk 1:35 dan Kel 40:35 : Allah menaungi Maria sama seperti Ia menaungi TABUT.
  • Luk 1:39 dan 2 Sam 6:2 : Maria dan TABUT bangkit dan pergi ke Yehuda.
  • Luk 1:41 dan 2 Sam 6:16 : Daud melompat kegirangan di hadapan TABUT, sama seperti Yohanes melonjak kegirangan dihadapan Maria.
  • Luk 1:43 dan 2 Sam 6:9 : Apa yang dikatakan Daud tentang kedatangan TABUT hampir persis seperti yang dikatakan Elisabet tentang kedatangan Maria.
  • Luk 1:56 dan 2 Sam 6:11 : Baik Maria maupun TABUT tinggal selama 3 bulan di lokasi baru mereka.
  • Ibr 9:4 dan Yoh 1:1; 6:51; Ibr 5:4-5 : Sama seperti tabut Perjanjian Lama berisi firman Allah di loh batu, manna dari surga, dan tongkat Harun, Imam Besar Agung, demikian pula Maria mengandung Yesus Kristus, yang adalah Firman Tuhan, Manna dari Surga, dan Imam Besar yang Agung.

Jika itu tidak cukup untuk menetapkan Maria sebagai Tabut Perjanjian Baru, ada kata yang sangat menarik dari Luk 1:42 yang lebih jauh menegaskan hal ini.  Perhatikan bahwa ketika Elisabet melihat Maria untuk pertamakalinya, Elisabet "berseru" dengan seruan nyaring. Hal ini tampaknya tidak perlu diperhatikan sampai Anda melihat kata Yunani yang Lukas putuskan untuk digunakan di sini.  ἀνεφώνησεν (transliterasi: anaphonesen ) hanya digunakan sekali di seluruh Perjanjian Baru dan itu ada di sini dalam Luk 1:42.  Kehadirannya dalam Perjanjian Lama Yunani (Septuaginta) juga jarang, hanya muncul lima kali. Mengapa ini penting?  Scott Hahn dan Curtis Mitch menjelaskan:

Setiap kali ungkapan itu digunakan dalam Perjanjian Lama, itu menjadi bagian dari cerita seputar Tabut Perjanjian. Secara khusus, ini mengacu pada suara melodi yang dibuat oleh penyanyi dan musisi Lewi ketika mereka memuliakan Tuhan dalam lagu. Dengan demikian menggambarkan suara "gembira" dari instrumen yang dimainkan di depan Tabut ketika Daud membawanya dalam prosesi ke Yerusalem (1 Taw 15:28; 16:4-5) dan ketika Salomo memindahkan Tabut ke tempat peristirahatan terakhirnya di Bait Suci (2 Taw 5:13).  

Menyinggung episode-episode ini, Lukas menghubungkan ungkapan yang sama ini dengan seruan melodi dari keturunan Lewi lainnya, Elizabeth yang sudah lanjut usia (Luk 1:5). Dia juga menyerukan suaranya dalam pujian liturgi, bukan di depan peti emas, tetapi di hadapan Maria. ( Ignatius Catholic Study Bible , "The Gospel of Luke," hal. 21).

Tapi apa hubungan "Maria sebagai TABUT" dengan ketidakberdosaannya? Jangan lupa: loh-loh, manna, dan tongkat imam yang ada di dalam Tabut adalah yang paling suci dari semua peninggalan Yahudi dan mewakili kehadiran Tuhan bagi orang-orang Yahudi. Dengan demikian, wadah atau "TABUT" yang menampung mereka layak terbuat dari bahan yang paling murni dan paling sempurna. TABUT  itu sendiri dianggap begitu suci sehingga tidak seorang pun diizinkan menyentuhnya, yang berani menyentuhnya akan mati (lih. 2 Sam 6:7; 1 Taw 13:9-10 ).

Sama seperti isi TABUT perjanjian lama menuntut wadah yang benar-benar murni, demikian pula Kristus, bukan karena kebutuhan yang mutlak (Allah dapat mengambil daging manusia dari wanita mana pun) tetapi karena kekudusan-Nya menuntut dan layak mendapatkannya. Dengan menjaga Maria dari dosa, Tuhan telah mempersiapkannya untuk menjadi Tabut Perjanjian Baru yang murni.







SERI TIGA : TENTANG SETAN DAN WANITA, MUSUHNYA

 Iblis dan Wanita


Tempat terbaik untuk memulainya adalah di awal, dengan sabda Tuhan kepada ular dan manusia setelah kejatuhan manusia ke dalam dosa di Taman Eden:

Kej 3:15 Aku akan mengadakan permusuhan antara kamu dan perempuan itu, dan antara benihmu dan benihnya; dia akan meremukkan kepalamu, dan kamu akan meremukkan tumitnya."

I will put enmities between thee and the woman, and thy seed and her seed: she/he/it shall crush thy head, and thou shalt lie in wait for her heel.

Bagian ini disebut Protoevangelium (atau "Injil pertama") karena ini adalah pertama kalinya dalam Kitab Suci di mana kita melihat janji munculnya Juruselamat bagi umat manusia. 

Sedangkan, secara harfiah, wanita yang dimaksud adalah Hawa, banyak sarjana mengakui bahwa Maria menggenapi nubuatan ini. 

Bagaimanapun, benihnya/her seed, 

Yesus Kristus, 

gereja-Nya (Mat 16:18 ... And I say to thee: That thou art Peter; and upon this rock I will build my church, and the gates of hell shall not prevail against it.), 

murid2nya (Luk 10:19-20 TB Sesungguhnya Aku telah memberikan kuasa kepada kamu untuk menginjak ular dan kalajengking dan kuasa untuk menahan kekuatan musuh, sehingga tidak ada yang akan membahayakan kamu. ......” ) 

keturunannya yang lain, yang menuruti hukum2 Allah dan memiliki kesaksian Yesus (Why 12:17) 

yang akan meremukkan kepala ular, mengalahkan Setan dengan Sengsara, Kematian, dan Kebangkitan-Nya sendiri.


Tapi, bagian ini juga mengatakan sesuatu tentang wanita itu.  Dikatakan bahwa Tuhan akan menempatkan "permusuhan" antara dia dan ular. Permusuhan adalah keadaan pertentangan dan oposisi langsung. Wanita dan ular benar-benar bertentangan satu sama lain.  Mereka adalah musuh. Terlebih lagi, ular itu tidak dapat menaklukkannya, tidak peduli seberapa keras dia mencoba. Kita melihat permusuhan ini terlihat dalam Kitab Wahyu di mana, sekali lagi, wanita dan ular (kali ini, seekor naga tua) bertentangan satu sama lain
:

Why 12:13-17 Dan ketika naga itu melihat, bahwa ia telah dilemparkan kebumi, ia mengejar perempuan yang melahirkan anak laki-laki itu. 14 Tetapi perempuan itu diberi dua sayap rajawali besar agar dia dapat terbang dari ular kepadang gurun, ke tempat di mana dia akan dipelihara untuk sementara waktu, satu waktu, dan setengah waktu. 15 Ular itu mengalirkan air seperti sungai dari mulutnya kearah perempuan itu, untuk menghanyutkannya dengan air bah. 16 Tetapi bumi datang membantu wanita itu, dan bumi membuka mulutnya dan menelan sungai yang telah dicurahkan naga itu dari mulutnya. 17Kemudian naga itu marah kepada wanita itu, dan pergi berperang melawan keturunannya yang lain, terhadap mereka yang menuruti perintah Allah dan bersaksi tentang Yesus.

Betapapun iblis menginginkannya, dia tidak bisa memilikinya. Mengapa? Karena wanita itu telah diampuni/diselamatkan oleh Tuhan . 

Ketika kita melihat semua ini terjadi, kita dibiarkan bertanya-tanya: Jika "wanita" itu sebenarnya adalah Maria, bagaimana permusuhan ditempatkan antara dia dan Setan? 

Bagaimana Maria diselamatkan oleh Tuhan? 

Mungkinkah Tuhan melindunginya dari noda dosa asal?  

Mungkinkah dia adalah "wanita" yang tidak bisa dimiliki iblis?

Secara tidak langsung ....
Kenyataannya, yang jelas bahwa dia adalah ibu dari anak yang akan meremukkan kepala ular, dukungan lebih lanjut untuk mengidentifikasi Maria dengan "perempuan" ini terlihat dalam kata-kata Elizabeth kepada Maria dalam Luk 1:42 dan cara Yesus sendiri menyapa Maria dalam Injil Yohanes. 

Kita telaah masing-masing secara berurutan.

Dalam Luk 1:42, Elizabeth menyapa Maria dengan kata-kata yang pernah diucapkan kepada Yael dan Judith dalam Perjanjian Lama. Mari kita bandingkan ayat ini dengan Hakim-hakim 5:24 dan Yudit 13:18:

Luk 1:42 dan dia berseru dengan suara nyaring, "Diberkatilah engkau di antara wanita, dan terpujilah buah rahimmu !"

Hakim 5:24 " Wanita yang paling diberkati adalah Ya'el, istri Heber, orang Ken'ite , dari wanita penghuni tenda yang paling diberkati.

Judith 13:18 Dan Uzia berkata kepadanya, "Hai putri, Anda diberkati oleh Allah Yang Mahatinggi di atas semua wanita di bumi; dan terpujilah Tuhan Allah, yang menciptakan langit dan bumi, yang telah membimbing Anda untuk menyerang kepala pemimpin musuh kita."

Yang menarik dari Jael dan Judith adalah kedua wanita tersebut dinyatakan paling diberkati di atas semua wanita. Kenapa ini? Karena dengan iman dan keberanian mereka menangkis pasukan  yang memusuhi Israel, bagaimana bisa mereka melakukan hal ini?  Dengan benar-benar memberikan pukulan mematikan ke kepala komandan setiap pasukan. 

  • Yael " meletakkan tangannya kepatok tenda dan tangan kanannya kepalu pekerja; dia memukul Sis'era, dia meremukkan kepalanya, dia meremukkan dan menusuk pelipisnya " (Hakim 5:26). 
  • Judith, seperti yang baru saja kita lihat, dibimbing oleh Tuhan untuk "memukul kepala pemimpin musuh kita" (Judith 13:18).


Sekarang, Elizabeth yang dipenuhi Roh Kudus menyatakan Maria "diberkati di antara wanita." Namun bagaimana Maria dapat berdiri sejalan dengan Yael dan Judith, yang diberi pernyataan serupa, terkecuali jika dia, Maria, ... juga memberikan pukulan telak kepada musuh? 

Jika Maria adalah "perempuan" dari Kej 3:15, maka kita tahu persis bagaimana dia melakukan ini: yaitu ... dengan melahirkan keturunan yang akan meremukkan kepala ular.

Kini, perhatikan, ... kata-kata panggilan Yesus sendiri kepada ibu-Nya juga penting di sini. Dalam Injil Yohanes, 

Ketika Yesus menyebut Maria sebagai "wanita". Pada awal pelayanan-Nya (lih. Yoh 2:4), Dia berkata kepadanya, "Hai wanita, apa urusanmu dengan-Ku?" ... atau, secara lebih harfiah, 

  • And Jesus saith to her: Woman, what is that to me and to thee? my hour is not yet come ("Wanita, apa artinya itu bagiku dan bagimu?" [Douay-Rhimms Bible] atau 
  • "Wanita, apa hubungannya dengan kita?" [NAS]). 

Di Kayu Salib, pada puncak pekerjaan penyelamatan-Nya, Dia menyapanya lagi: 

... he saith to his mother: Woman, behold thy son...  

"Wanita, lihatlah, anakmu!" (Yoh 19:26). 

Dalam hal ini, kesejajaran yang menarik muncul antara "wanita" yang adalah ibu Yesus dan "wanita" dari Kej 3:15 dan Wahyu 12:

  • Sama seperti "wanita" yang muncul dalam kitab Kejadian dan Wahyu, di awal dan di akhir "Firman" (Wahyu Ilahi yang tertulis dari Tuhan), demikian pula Maria, "wanita", muncul di awal dan akhir dari "Firman" Yesus Kristus, firman terakhir dari Bapa.

  • Rasul Yohanes, simbol Gereja, menjadi putra "wanita" Maria sama seperti semua orang yang "menuruti perintah-perintah Allah dan memberikan kesaksian tentang Yesus" adalah keturunandari "wanita" dari Wahyu 12 (lih. ayat 17).

Maka dengan sederhana/mudah, berdasarkan penjelasan di atas dan pada identitas Yesus yang jelas sebagai "keturunan perempuan" yang akan "meremukkan kepala ular" dalam kehancuran-Nya atas pekerjaan iblis (lih. 1 Yoh 3:8 ), bahwa Maria adalah "wanita" dari Kej 3:15 dan Wahyu 12, dimana sengat maut tidak dapat menahannya dan racun ular tidak dapat menginfeksi.

Sabtu, 05 Agustus 2023

SERI 2 TULISAN TENTANG BUNDA MARIA : THEOTOKOS


Doktrin Theotokos
:

Theotokos adalah bahasa Yunani dan artinya adalah 'Pembawa ALLAH'. Dan siapakah 'Pembawa ALLAH' itu? Maria, Bunda ALLAH. Siapa lagi yang melahirkan ALLAH? Hal ini ditunjukkan dalam Yohanes 1:1, "... Firman itu adalah ALLAH", dan dalam Yohanes 1:14, "Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita." Jadi Firman itu, yang adalah ALLAH, telah menjadi manusia. Dari manakah substansi daging itu berasal? Itu berasal dari substansi Maria. Layakkah substansi daging dan darah Yesus Kristus berasal dari seseorang yang ternoda oleh dosa asal?

Ibu melahirkan pribadi, bukan kodrat. Pribadi Yesus Kristus adalah ilahi, bukan manusia. Maria melahirkan seorang pribadi ilahi. Hal ini menjadikan Maria sebagai 'Theotokos', 'Pembawa ALLAH', 'Bunda ALLAH'.

Dalam Lukas 1:41-43, '... Elisabet, yang penuh dengan Roh Kudus, berseru dengan suara nyaring: "Diberkatilah engkau di antara perempuan, dan diberkatilah anak yang ada di dalam rahimmu! Dan bagaimanakah aku layak, sehingga ibu Tuhanku datang kepadaku?"

Elisabet, yang dipenuhi dengan Roh Kudus, menyebut Maria sebagai 'Bunda Tuhanku'. Karena 'dipenuhi Roh Kudus' memiliki arti yang sama di seluruh Alkitab, maka Roh Kuduslah yang memberinya kata-kata untuk diucapkan, bukankah itu benar?

"Maka penuhlah mereka semua dengan Roh Kudus dan mereka mulai berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain, seperti yang dikehendaki Roh Kudus," Kisah Para Rasul 2:4.

Siapakah 'Tuhanku' itu, bukankah itu ALLAH? Bukankah ia kemudian memanggil Maria, 'BUNDA ALLAH'? Jika itu yang dikatakannya, maka Roh Kudus menyebut Maria sebagai 'Bunda ALLAH', bukan? Jika Anda menjawab 'tidak' untuk pertanyaan-pertanyaan di paragraf ini, maka tolong jelaskan alasan Anda kepada saya.

Jika pribadi ketiga dari Tritunggal Mahakudus menyebut Maria sebagai 'Bunda ALLAH', apakah ada di antara kita yang berani menyangkalnya?

Dapatkah 'Bunda ALLAH' memiliki dosa asal dalam jiwanya?

Doktrin Maria, 'Bunda ALLAH' pertama kali diproklamasikan oleh Gereja pada Konsili Efesus pada tahun 431.

Saya akan bertanya kepada Anda, 'Apakah ALLAH akan menyatukan diri-Nya dengan sesuatu yang najis'?

Ada dua cara untuk menangani suatu penyakit:

Dosa dapat disembuhkan dengan pengobatan, dan dapat ditangani dengan pencegahan.
Dosa asal dapat dilihat sebagai penyakit jiwa dan dapat ditangani dengan dua cara. Dosa ini dapat dibersihkan dengan Pembaptisan, sebagai obatnya, atau dapat dicegah dengan rahmat ALLAH. Cara pencegahan inilah yang kita umat Katolik percaya dianugerahkan kepada Maria.

Ketika pembuahan terjadi, ALLAH menciptakan jiwa bagi yang dikandung. Adalah hal yang sederhana bagi Pencipta Alam Semesta untuk mencegah dosa asal menodai jiwa manusia Yesus Kristus, dan tidak diragukan lagi, Dia melakukan hal yang sama untuk Maria ketika dia dikandung.

Yesaya 64:8, "Dan sekarang, ya TUHAN, Engkaulah Bapa kami, dan kami ini tanah liat, dan Engkaulah yang membentuk kami, dan kami semua adalah buatan tangan-Mu."

Yeremia 18:4-6, "Lalu pecahlah bejana yang dibuatnya dari tanah liat dengan tangannya, lalu ia membuat bejana yang lain, seperti yang kelihatannya baik pada pemandangannya. Maka datanglah firman TUHAN kepadaku: "Tidak dapatkah Aku berbuat seperti tukang periuk itu kepadamu, hai kaum Israel, demikianlah firman TUHAN? Lihatlah, seperti tanah liat di tangan tukang periuk, demikianlah kamu di tangan-Ku, hai kaum Israel."

Jadi, ALLAH adalah Tukang Periuk, dan kita adalah tanah liat yang dibentuk sesuai kehendak-Nya.

Roma 9:21, "Apakah tukang periuk tidak mempunyai hak atas tanah liatnya, untuk membuat dari gumpal yang sama suatu benda untuk dipakai guna tujuan yang mulia dan suatu benda lain untuk dipakai guna tujuan yang biasa?"

Tukang periuk dan tanah liat, dan Roma 9:21 memberikan pembenaran Alkitabiah terhadap doktrin Dikandung Tanpa Noda.

"Sebab tidak ada yang mustahil bagi ALLAH." Lukas 1:37.

Ingatlah bahwa Dia tahu bahwa Maria akan menjadi ibu dari Sang Sabda yang Menjelma.

Yang Mulia Paus Pius IX mendeklarasikan dogma Maria Dikandung Tanpa Noda pada tanggal 8 Desember 1854:

Dekrit banteng itu berbunyi:

"Oleh karena itu, dengan ilham Roh Kudus, demi kehormatan Tritunggal Mahakudus dan tak terbagi, demi kemuliaan dan perhiasan Perawan Bunda ALLAH, demi peninggian iman Katolik dan demi kemajuan agama Katolik, dengan otoritas Yesus Kristus Tuhan kita, Rasul Petrus dan Paulus yang terberkati dan kita sendiri, kami menyatakan, mengumumkan, dan menetapkan bahwa doktrin yang menyatakan bahwa Perawan Maria yang paling Terberkati, pada saat pertama kali dikandung, oleh rahmat dan hak istimewa yang diberikan oleh ALLAH Yang Mahakuasa, mengingat jasa-jasa Yesus Kristus, Juruselamat umat manusia, dipelihara bebas dari segala noda dosa asal, adalah sebuah doktrin yang diwahyukan oleh ALLAH dan oleh karena itu harus diimani dengan teguh dan terus-menerus oleh semua umat beriman. "

'Perawan Maria yang Terberkati' menampakkan diri kepada St Bernadette di Lourdes, Perancis, empat tahun kemudian pada tahun 1858. Ketika St Bernadette menanyakan namanya, Bunda Maria menjawab, "AKULAH PERAWAN YANG TIDAK BERSALAH." Hal ini mengukuhkan dogma tersebut.


Doktrin Dikandung Tanpa Noda ini bukanlah "batu sandungan" bagi umat Katolik.
Mengapa JADI BATU SANDUNGAN bagi sebagian orang non-Katolik?