Mengasihi Sesama

Mengasihi Sesama
Ibu Theresa dari Calcuta

Sabtu, 13 April 2013

Katekismus Gereja Katolik Dalam Setahun - 181

KGK ke 181


"... hendaknya ia memanggil para penatua Gereja"

1516. Hanya imam (Uskup dan presbiter) adalah pemberi Urapan Orang Sakit.1 Para pastor mempunyai kewajiban untuk mengajarkan umat beriman mengenai daya guna yang menyelamatkan dari Sakramen ini. Umat beriman hendaknya mendorong orang sakit, supaya memanggil imam, dan menerima Sakramen ini. Orang sakit harus mempersiap-kan diri untuk itu, supaya menerimanya dalam keadaan batin yang baik. Para pastor dan seluruh jemaat hendaknya membantu mereka dan menyertai mereka dalam doa dan perhatian persaudaraannya.

III * Bagaimana Urapan Orang Sakit dirayakan?

1517. Seperti halnya semua Sakramen, Urapan Orang Sakit adalah perayaan liturgi dan perayaan bersama,2 apakah ia diberikan di rumah, di rumah sakit, atau di gereja, apakah untuk satu orang sakit saja atau untuk satu kelompok orang sakit. Sangatlah pantas, apabila ia dirayakan dalam perayaan Ekaristi, kenangan akan Paska Tuhan. Kalau keadaan mendukungnya, dapatlah Sakramen Pengakuan mendahului Sakramen Urapan Orang Sakit dan Sakramen Ekaristi menyusul. Sebagai Sakramen Paska Kristus, Ekaristi sebaiknya selalu merupakan Sakramen terakhir dalam penziarahan kita di dunia ini, "bekal perjalanan" untuk "peralihan" ke hidup abadi.

1518. Sabda dan Sakramen membentuk satu keseluruhan yang tidak terpisahkan. Ibadat Sabda, yang didahului pernyataan tobat, membuka upacara. Perkataan Kristus dan kesaksian para Rasul menghidupkan iman penderita sakit dan jemaat yang memohon dari Tuhan kekuatan Roh-Nya.

1519. Upacara Sakramen mencakup unsur-unsur pokok berikut: "para penatua jemaat" (Yak 5:14) meletakkan tangan ke atas orang sakit dalam keadaan diam; dalam iman Gereja mereka berdoa bagi orang sakit3 - inilah epiklese Sakramen ini. Sesudah itu mereka melakukan urapan dengan minyak, yang sedapat mungkin telah diberkati oleh Uskup.
Kegiatan liturgi ini menunjukkan, rahmat apa yang diberikan oleh Sakramen kepada orang sakit.

IV. * Buah-buah perayaan Urapan Orang Sakit

1520. Satu anugerah khusus Roh Kudus. Rahmat pertama Sakramen ini ialah kekuatan, ketenangan, dan kebesaran hati untuk mengatasi kesulitan-kesulitan yang berkaitan dengan satu penyakit berat atau dengan kelemahan karena usia lanjut. Rahmat ini adalah anugerah Roh Kudus, yang membaharui harapan dan iman kepada Allah dan menguat-kannya melawan godaan musuh yang jahat, melawan godaan untuk berkecil hati dan rasa
1 Bdk. Konsili Trente: DS 1697; 1719; CIC, can. 1003; CCEO, can. 739 §1.
2 Bdk. SC 27.
3 Bdk. Yak 5:15.

takut akan kematian.1 Bantuan Tuhan melalui kekuatan Roh-Nya hendak membawa orang sakit menuju kesembuhan jiwa, tetapi juga menuju kesembuhan badan, kalau itu sesuai dengan kehendak Allah.2 Dan jika ia telah berbuat dosa, maka dosanya itu akan diampuni (Yak 5:15).3

1521. Persatuan dengan sengsara Kristus. Oleh rahmat Sakramen ini, orang sakit menerima kekuatan dan anugerah untuk mempersatukan diri lebih erat lagi dengan sengsara Tuhan. Ia seakan-akan ditahbiskan untuk menghasilkan buah melalui keserupaan dengan sengsara Juru Selamat yang menebus. Sengsara sebagai akibat dosa asal, mendapat satu arti baru: ia menjadi keikutsertaan dalam karya keselamatan Yesus. 1535, 1499

1522. Rahmat Gerejani. Karena "secara bebas menggabungkan diri dengan sengsara dan wafat Kristus, maka orang-orang sakit memberi sumbangan bagi kesejahteraan umat Allah" (LG 11). Dalam upacara Urapan Orang Sakit, Gereja mendoakan orang sakit di dalam persekutuan para kudus. Sebaliknya orang sakit menyumbangkan melalui rahmat Sakramen demi pengudusan Gereja dan kesejahteraan semua orang, untuk siapa Gereja menderita dan menyerahkan diri kepada Allah Bapa melalui Kristus.

1523. Persiapan untuk perjalanan terakhir. Kalau Sakramen Urapan Orang Sakit diberikan kepada mereka yang menderita penyakit berat atau kelemahan, maka lebih lagi kepada mereka yang siap berpisah dari hidup ini (mereka yang "rasanya sudah berada di akhir hidup ini": Konsili Trente: DS 1698). Karena itu ia dinamakan juga "Sakramen orang yang menghadapi ajal" (ibid.). Urapan Orang Sakit membuat kita secara definitif serupa dengan kematian dan kebangkitan Kristus yang telah dimulai oleh Pembaptisan. Ia menyempurnakan urapan-urapan kudus yang membina seluruh hidup Kristen: urapan Pembaptisan mencurahkan hidup baru bagi kita; Penguatan meneguhkan kita untuk perjuangan hidup ini. Urapan terakhir ini membekali akhir hidup kita di dunia ini dengan satu tanggul kuat berhadapan dengan perjuangan perjuangan akhir sebelum masuk ke dalam rumah Bapa.4

V. * Bekal perjalanan - Sakramen terakhir bagi orang Kristen

1524. Selain Urapan Orang Sakit, Gereja memberi Ekaristi kepada orang yang berada di ambang kematian, sebagai bekal perjalanan. Dalam saat peralihan ke rumah Bapa ini, persatuan dengan tubuh dan darah Kristus mempunyai arti dan kepentingan khusus. Ia adalah benih hidup abadi dan kekuatan untuk kebangkitan, karena Tuhan berkata: "Barang siapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir zaman" (Yoh 6:54). Sebagai Sakramen kematian dan kebangkitan Kristus, maka sekarang Ekaristi merupakan Sakramen peralihan dari kematian menuju kehidupan, dari dunia ini menuju rumah Bapa ".

1525. Sebagaimana Sakramen-Sakramen Pembaptisan, Penguatan, dan Ekaristi, yakni "Sakramen-Sakramen inisiasi Kristen" membentuk satu kesatuan, dapat dikatakan bahwa pengakuan dosa, urapan kudus, dan Ekaristi sebagai bekal perjalanan pada akhir hidup Kristen, merupakan "Sakramen-Sakramen yang menyiapkan untuk tanah air" atau "Sakramen-Sakramen yang mengakhiri penziarahan ini".
1 Bdk. Ibr 2:15.
2 Bdk. Konsili Firense: DS 1325.
3 Bdk. Konsili Trente: DS 1717.
4 Bdk. Konsili Trente: DS 1694.

TEKS-TEKS SINGKAT

1526. "Kalau ada seorang di antara kamu yang sakit, baiklah ia memanggil para panatua jemaat, supaya mereka mendoakan dia serta mengolesnya dengan minyak dalam nama Tuhan. Dan doa yang lahir dari iman akan menyelamatkan orang sakit itu dan Tuhan akan membangunkan dia; dan jika ia telah berbuat dosa, maka dosanya itu akan diampuni " (Yak 5:14- 15).

1527. Sakramen Urapan Orang Sakit memberi rahmat khusus kepada orang Kristen yang menderita sakit berat atau yang mengalami kesulitan karena usia lanjut.

1528. Waktu yang tepat untuk menerima urapan kudus ini ialah selambat-lambatnya kalau orang berada dalam bahaya maut karena penyakit atau karena kelemahan yang berkaitan dengan usia lanjut.

1529. Seorang Kristen dapat menerima urapan kudus ini setiap kali apabila ia sakit berat, atau setiap kali apabila penyakit itu menjadi lebih parah.

1530. Hanya imam (presbiter atau Uskup) dapat menerimakan Urapan Orang Sakit; untuk itu mereka memakai minyak yang telah diberkati oleh Uskup, atau dalam keadaan darurat oleh selebran sendiri.

1531. Upacara Urapan Orang Sakit pada hakikatnya terdiri atas urapan dahi dan tangan orang sakit (dalam ritus Roma) atau bagian tubuh yang lain (dalam ritus Gereja-gereja Timur). Urapan ini diiringi oleh doa liturgi dari selebran yang memohon rahmat khusus Sakramen ini.

1532. Buah-buah rahmat khusus dari Sakramen Urapan Orang Sakit adalah:
- persatuan orang sakit dengan sengsara Kristus demi keselamatannya sendiri dan keselamatan Gereja;
- penghiburan, perdamaian, dan keberanian untuk menderita secara Kristen sengsara yang ditimbulkan oleh penyakit atau oleh usia lanjut;
- pengampunan dosa, apabila orang sakit tidak dapat menerimanya melalui Sakramen Pengakuan;
- penyembuhan, kalau ini berguna bagi keselamatan jiwa;
- persiapan untuk peralihan ke hidup abadi.

Jumat, 12 April 2013

Katekismus Gereja Katolik Dalam Setahun - 180

KGK ke 180


ARTIKEL 5 : URAPAN ORANG SAKIT

1499. "Melalui perminyakan suci orang sakit dan doa para imam, seluruh Gereja menyerahkan mereka yang sakit kepada Tuhan yang bersengsara dan telah dimuliakan, supaya Ia menyembuhkan dan menyelamatkan mereka; bahkan Gereja mendorong mereka untuk secara bebas menggabungkan diri dengan sengsara dan wafat Kristus, dan dengan demikian memberi sumbangan bagi kesejahteraan Umat Allah" (LG 11).

I. * Dasar-dasarnya dalam tata keselamatan


Penyakit dalam kehidupan manusia


1500. Penyakit dan sengsara sejak dahulu kala termasuk percobaan yang paling berat dalam kehidupan manusia. Di dalam penyakit manusia mengalami ketidak-mampuan, keterbatasan, dan kefanaannya. Setiap penyakit dapat mengingatkan kita akan kematian. 1006

1501. Penyakit dapat menyebabkan rasa takut, sikap menutup diri malahan kadang-kadang rasa putus asa dan pemberontakan terhadap Allah. Tetapi ia juga dapat membuat manusia menjadi lebih matang, dapat membuka matanya untuk apa yang tidak penting dalam kehidupannya, sehingga ia berpaling kepada hal-hal yang penting. Sering kali penyakit membuat orang mencari Allah dan kembali lagi kepada-Nya.

Orang sakit di depan Allah

1502. Manusia Perjanjian Lama menanggung penyakit dengan memandang kepada Allah. Ia mengeluh kepada Allah mengenai penyakitnya,1 ia memohon penyembuhan2 dari-Nya, Tuhan atas hidup dan mati. Penyakit menjadi jalan menuju pertobatan,3 dan karena pengampunan oleh Allah, terjadilah penyembuhan.4 Bangsa Israel mengalami bahwa penyakit, atas cara penuh rahasia, berhubungan dengan dosa dan dengan yang jahat, dan bahwa kesetiaan kepada Allah, sesuai dengan hukum-Nya, mengembalikan hidup: "sebab Aku Tuhanlah, yang menyembuhkan engkau" (Kel 15:26). Nabi Yesaya mengerti bahwa sengsara juga dapat mempunyai arti penyilihan bagi orang-orang lain.5 Ia mengumumkan bahwa Allah akan mendatangkan bagi Sion suatu waktu, di mana Ia akan mengampuni setiap kesalahan dan akan menyembuhkan setiap penyakit.6

Kristus sebagai dokter

1503. Belas kasihan Kristus kepada orang sakit dan penyembuhan segala macam penyakit7 yang dilakukan-Nya, adalah tanda-tanda nyata bahwa "Allah... telah melawat umat-Nya" (Luk 7:16) dan bahwa Kerajaan Allah sudah dekat sekali. Yesus mempunyai kuasa, tidak hanya untuk menyembuhkan, tetapi juga untuk mengampuni dosa.8 Ia telah datang untuk menyembuhkan manusia seutuhnya - jiwa dan badan. Ia adalah dokter, yang orang-orang sakit butuhkan.9 Belas kasihan-Nya kepada orang yang menderita sekian dalam, sampai Ia menyamakan diri-Nya dengan mereka: "Ketika Aku sakit, kamu melawat Aku" (Mat 25:36). Cinta-Nya yang khusus kepada orang sakit menggerakkan warga Kristen sepanjang sejarah agar memperhatikan mereka yang menderita, baik badan maupun jiwa. Cinta itu mengajak supaya berusaha tanpa kenal lelah untuk meringankan nasib mereka.

1504. Sering kali Yesus menginginkan dari penderita sakit supaya mereka percaya.10 Ia mempergunakan tanda-tanda untuk menyembuhkan: ludah dan peletakan tangan,11 adonan dari tanah dan pembasuhan.12 Penderita sakit mencoba untuk menjamah-Nya,13 "karena ada kuasa yang keluar dari pada-Nya dan semua orang itu disembuhkan-Nya" (Luk 6:19). Di dalam Sakramen-Sakramen, Yesus masih tetap "menjamah" dan menyem-buhkan kita.

1505. Terharu oleh sekian banyak penderitaan, Yesus tidak hanya membiarkan diri-Nya dijamah oleh para penderita, Ia malahan menjadikan sengsara mereka itu sebagai sengsara-Nya sendiri: "Dialah yang memikul kelemahan kita dan menanggung penyakit
1 Bdk. Mzm 38.
2 Bdk. Mzm 6:3; Yes 38.
3 Bdk. Mzm 38:5; 39:9.12.
4 Bdk. Mzm 32:5; 107:20; Mrk 2:5-12.
5 Bdk. Yes 53:11.
6 Bdk. Yes 33:24.
7 Bdk. Mat 4:24.
8 Bdk. Mrk 2:5-12.
9 Bdk. Mrk 2:17.
10 Bdk. Mrk 5:34.36; 9:23.
11 Bdk. Mrk 7:32-36; 8:22-25.
12 Bdk. Yoh 9:6-7.
13 Bdk. Mrk 1:41; 3:10; 6:56.

kita" (Mat 8:17).1 Tetapi Ia tidak menyembuhkan semua orang sakit. Penyembuhan-Nya adalah tanda-tanda untuk kedatangan Kerajaan Allah. Mereka memaklumkan satu penyembuhan yang jauh lebih dalam maknanya: kemenangan atas dosa dan kematian melalui Paska-Nya. Di kayu salib Kristus menanggung seluruh beban kejahatan.2 Ia "menghapus dosa dunia" (Yoh 1:29), yang adalah sebab bagi penyakit. Oleh sengsara dan wafat-Nya di kayu salib, Kristus memberi arti baru kepada penderitaan: Ia dapat membuat kita menyerupai-Nya dan dapat menyatukan kita dengan sengsara-Nya yang menyelamatkan.

"Sembuhkanlah orang sakit ...!"

1506. Kristus mengajak murid-murid-Nya, supaya mengikuti-Nya dan memikul salib mereka.3 Dalam mengikuti Dia mereka mendapat satu pandangan baru mengenai penyakit dan penderita sakit. Yesus mengikut-sertakan mereka di dalam hidup-Nya sendiri yang miskin dan siap melayani. Ia membiarkan mereka mengambil bagian dalam pelayanan belas kasihan dan keselamatan-Nya. "Mereka memberitakan bahwa orang harus bertobat, dan mereka mengusir banyak setan, dan mengoles banyak orang sakit dengan minyak dan menyembuhkan mereka" (Mrk 6:12-13).

1507. Tuhan yang bangkit mengulangi perutusan ini ("[Atas nama-Ku] mereka akan meletakkan tangannya atas orang sakit, dan orang itu akan sembuh": Mrk 16:18) dan meneguhkannya dengan tanda-tanda yang Gereja lakukan, apabila ia menyerukan nama-Nya.4 Tanda-tanda ini menyatakan dengan cara yang khusus, bahwa Yesus adalah benar-benar "Allah yang menyelamatkan".5 430

1508. Kudus memberi kepada orang tertentu karunia khusus untuk menyembuhkan , guna menunjukkan betapa berdaya guna rahmat dari Dia yang telah bangkit itu. Namun doa-doa yang paling intensif pun tidak mendatangkan penyembuhan segala penyakit. Dengan demikian Santo Paulus harus mendengar dari Tuhan sendiri: "Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna" (2 Kor 12:9). Penderitaan yang harus ditanggung dapat mempunyai arti yang berikut ini: "untuk tubuh-Nya, yaitu jemaat, aku menggenapkan dalam dagingku apa yang kurang pada penderitaan Kristus" (Kol 1:24). 798, 618

1509. "Sembuhkanlah orang sakit" (Mat 10:8). Gereja menerima tugas ini dari Tuhan dan berusaha melaksanakannya, dengan merawat orang sakit dan menyertainya dengan doa syafaatnya. Ia percaya akan kehadiran yang menghidupkan dari Kristus, Penyembuh penyakit jiwa dan badan. Kehadiran ini bekerja terutama melalui Sakramen-Sakramen, dan sangat khusus melalui Ekaristi, roti yang memberi hidup abadi.6 Santo Paulus menunjukkan bahwa Ekaristi mempunyai hubungan juga dengan kesehatan badan.7
1510. Gereja apostolik mengenal ritus tersendiri untuk orang sakit. Ini disaksikan oleh santo Yakobus: "Kalau ada orang di antara kamu yang sakit, baiklah ia memanggil para
1 Bdk. Yes 53:4.
2 Bdk. Yes 53:4-6.
3 Bdk. Mat 10:38.
4 Bdk. Kis 9:34; 14:3.
5 Bdk. Mat 1:21; Kis 4:12.
6 Bdk. Yoh 6:54.58.
7 Bdk. 1 Kor 11:30.

penatua jemaat, supaya mereka mendoakan dia serta mengolesnya dengan minyak dalam nama Tuhan. Dan doa yang lahir dari iman akan menyelamatkan orang sakit itu dan Tuhan akan membangunkan dia; dan jika ia telah berbuat dosa, maka dosanya itu akan diampuni" (Yak 5:14-15). Tradisi telah melihat dalam ritus ini satu dari ketujuh Sakramen Gereja. 1 1117

Sebuah Sakramen untuk orang sakit

1511. Gereja percaya dan mengakui bahwa di antara tujuh Sakramen ada satu yang sangat khusus ditentukan untuk menguatkan orang-orang yang dicobai oleh penyakit: Urapan Orang Sakit.
"Urapan Orang Sakit yang kudus ini ditetapkan oleh Kristus Tuhan kita, sebagai Sakramen Perjanjian Baru yang sebenamya dan sesungguhnya, disinggung oleh Markus,2 tetapi dianjurkan kepada orang beriman dan diumumkan oleh Yakobus, Rasul dan saudara Tuhan"3 (Konsili Trente: DS 16.95).

1512. Dalam tradisi liturgi baik di Timur maupun di Barat terdapat kesaksian-kesaksian sejak dahulu kala mengenai Urapan Orang Sakit dengan minyak yang diberkati. Lama-kelamaan Urapan Orang Sakit ini diberikan hanya kepada orang dalam sakratul maut, sehingga ia dinamakan sebagai "perminyakan terakhir". Meskipun terjadi perkembangan macam ini, namun Gereja tidak pernah berhenti berdoa kepada Tuhan, supaya orang sakit sembuh kembali, seandainya itu berguna bagi keselamatannya.4

1513. Konstitusi Apostolik "Sacram unctionem infirmorum" 30 Nopember 1972 menentukan seturut Konsili Vatikan II,5 bahwa mulai sekarang dalam ritus Roma berlaku yang berikut ini:
"Sakramen Urapan Orang Sakit diberikan kepada mereka, yang keadaan kesehatannya sangat terancam, dengan mengurapi mereka di dahi dan di tangan dengan minyak zaitun yang telah diberkati sesuai dengan peraturan atau, sesuai dengan keadaan, dengan minyak nabati lain yang diberkati sesuai dengan peraturan, sambil mengucapkan satu kali kata-kata yang berikut ini "Semoga karena pengurapan suci ini Allah yang Maharahim menolong Saudara dengan rahmat Roh Kudus. Semoga Tuhan membebaskan Saudara dari dosa dan membangunkan Saudara di dalam rahmat-Nya".6

II. * Siapa menerima dan siapa memberi Urapan Orang Sakit?


Dalam keadaan sakit berat...


1514. Urapan orang sakit "bukanlah Sakramen bagi mereka yang berada di ambang kematian saja. Maka saat yang baik untuk menerimanya pasti sudah tiba, bila orang beriman mulai ada dalam bahaya maut karena menderita sakit atau sudah lanjut usia" (SC 73).7

1515. Kalau seorang sakit yang telah menerima urapan ini sehat kembali, maka ia dapat menerima lagi Sakramen ini, apabila ia sakit berat lagi. Dalam menderita penyakit yang sama, Sakramen ini dapat diulangi, kalau keadaan makin buruk. Dianjurkan agar seorang
1 Bdk. DS 216; 1324-1325; 1695-1696; 1716-1717.
2 Bdk. Mrk 6:13.
3 Bdk. Yak 5:14-15.
4 Bdk. DS 1696.
5 Bdk. SC 73.
6 Bdk. CIC, can. 847 §1.
7 Bdk. CIC, cann. 1004 §1; 1005; 1007; CCEO, can. 738.

yang menghadapi operasi besar, menerima Urapan Orang Sakit. Demikian juga berlaku untuk orang tua renta, yang kekuatannya mulai melemah.

Kamis, 11 April 2013

Katekismus Gereja Katolik Dalam Setahun - 179

KGK ke 179


XI. * Perayaan Sakramen Pengakuan 

1480. Seperti semua Sakramen, Pengakuan adalah satu kegiatan liturgi. Perayaannya biasanya terdiri dari: salam dan berkat imam; pembacaan Sabda Allah untuk menerangi hati nurani dan membangkitkan penyesalan; ajakan untuk menyesal; pengakuan dosa secara perorangan di depan imam; penyampaian dan penerimaan penitensi; pengampunan [absolusi] oleh imam; pujian sebagai tanda terima kasih dan pengutusan dengan berkat imam.

1481. Liturgi Bisantin mengenal beberapa rumus absolusi dalam bentuk doa permohonan yang begitu bagus menyatakan misteri pengampunan, di antaranya yang berikut ini: "Allah telah mengampuni Daud melalui nabi Natan, setelah ia mengakukan dosanya, dan Petrus, setelah ia menangisi dengan sangat dosa-dosanya, dan pelacur, ketika ia mencurahkan air matanya di atas kaki-Nya, dan juga orang farisi, dan anak yang hilang. Semoga Allah yang sama itu mengampuni Anda melalui aku, orang berdosa ini, di dalam hidup ini dan hidup yang lain dan semoga Ia menghadirkan Anda di depan pengadilan-Nya yang menakutkan, tanpa mengadili Anda. Terpujilah Dia selama-lamanya. Amin". 1449

1482. Sakramen Pengakuan dapat juga diadakan dalam satu upacara bersama, di mana orang mempersiapkan diri secara bersama untuk Pengakuan, dan secara bersama pula menyampaikan terima kasih untuk pengampunan yang diterima. Dalam upacara demikian pengakuan dosa secara perorangan dan absolusi pribadi disisipkan ke dalam upacara Sabda dengan bacaan dan homili, pemeriksaan batin, permohonan pengampunan, doa Bapa Kami dan ucapan terima kasih bersama. Upacara bersama semacam ini menyatakan dengan lebih jelas sifat gerejani dari Pengakuan. Bagaimanapun ia dirayakan, Sakramen Pengakuan sesuai dengan kodratnya merupakan kegiatan liturgi dan dengan demikian kegiatan gerejani dan publik.2

1483. Dalam-keadaan yang sangat darurat, dapat diadakan upacara perdamaian bersama dengan pengakuan dosa secara umum dan pengampunan [absolusi] umum. Keadaan mendesak semacam itu ada, apabila terlihat bahaya maut mengancam secara langsung, dan tidak ada waktu untuk imam atau para imam mendengarkan pengakuaan masing-masing peniten. Itu juga ada, jika dibanding dengan jumlah peniten, tidak tersedia cukup bapa Pengakuan untuk mendengarkan pengakuan masing-masing dalam waktu yang layak, sehingga peniten tanpa kesalahan sendiri terpaksa lebih lama tidak dapat menikmati rahmat sakramental atau komuni kudus. Dalam keadaan ini, umat beriman harus mempunyai niat mengakukan dosa-dosa beratnya secepat mungkin agar supaya absolusi itu sah.3 Keputusan, apakah prasyarat-prasyarat untuk absolusi umum itu terpenuhi, adalah wewenang Uskup diosesan.4 Arus umat beriman yang besar
1 Bdk. Paulus VI. Konst. Ap. "Indulgentiarum doctrina" 8; Konsili Trente: DS 1835.
2 Bdk. SC 26-27.
3 Bdk. CIC, can. 962 §1.
4 Bdk. CIC, can. 961 §2.

pada pesta-pesta besar atau penziarahan tidak dianggap sebagai keadaan darurat yang cukup berat untuk mengizinkannya.1

1484. "Pengakuan dosa secara lengkap dan pengampunan perorangan, tetap merupakan jalan biasa satu-satunya untuk pendamaian umat beriman dengan Allah dan dengan Gereja, kecuali pengakuan dosa semacam itu tidak mungkin atau secara fisik atau secara moral" (OP 31). Untuk itu ada alasan-alasan kuat. Kristus bertindak dalam setiap Sakramen. Ia mendekati secara pribadi setiap pendosa: "Hai anak-Ku, dosamu sudah diampuni" (Mrk 2:5). Ia adalah dokter yang berpaling kepada setiap orang sakit secara tersendiri, yang membutuhkan-Nya,2 supaya menyembuhkannya. Ia membangun semua orang sakit dan menggabungkan mereka lagi ke dalam persekutuan persaudaraan. Dengan demikian pengakuan pribadi adalah bentuk perdamaian yang paling nyata untuk perdamaian dengan Allah dan dengan Gereja.

TEKS-TEKS SINGKAT

1485. Pada malam Paska, Yesus Tuhan menampakkan diri kepada para Rasul dan berkata kepada mereka: "Terimalah Roh Kudus. Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni, dan jikalau kamu menyatakan dosa orang tetap ada, dosanya tetap ada" (Yoh 20:22-23).

1486. Pengampunan dosa yang dilakukan sesudah Pembaptisan diberikan oleh satu Sakramen khusus; ia bernama Sakramen metanoia, pengakuan, tobat, atau perdamaian.

1487. Siapa berdosa, menghina kehormatan dan cinta Allah, martabatnya sendiri sebagai manusia yang dipanggil untuk menjadi anak Allah, dan kesejahteraan rohani Gereja, di mana setiap orang Kristen harus menjadi batu bangunan yang hidup.

1488. Dalam terang iman tidak ada yang lebih buruk daripada dosa; tidak ada yang mempunyai akibat yang sama buruk untuk pendosa, untuk Gereja, dan untuk seluruh dunia.

1489. Langkah pulang ke dalam persekutuan dengan Allah, yang telah hilang oleh dosa, timbul dari rahmat Allah, yang dalam belas kasihan-Nya sangat prihatin akan keselamatan manusia. Orang harus memohon anugerah yang bernilai ini untuk diri sendiri dan untuk orang lain.

1490. Langkah pulang kepada Allah yang dinamakan pertobatan dan penyesalan, terdiri dari rasa sedih dan jijik karena dosa yang telah dilakukan serta niat untuk tidak berdosa lagi di waktu datang. Jadi pertobatan mencakup masa lampau dan masa yang akan datang; ia dipupuk oleh harapan akan belas kasihan ilahi.

1491. Sakramen Pengakuan terdiri dari ketiga kegiatan peniten bersama dengan pengampunan oleh imam. Kegiatan peniten itu ialah penyesalan, pengakuan atau penyampaian dosa-dosa kepada imam, dan niat untuk mengganti rugi dan melakukan silih.

1492. Penyesalan [juga dinamakan kesedihan] harus didukung oleh alasan-alasan yang timbul dari iman. Kalau penyesalan itu disebabkan oleh cinta kepada Allah, ia dinamakan "sempurna"; kalau ia berdasarkan atas alasan lain, orang lalu menamakannya "tidak sempurna ".
1 Bdk. CIC, can. 961 §1.
2 Bdk. Mrk 2:17.

1493. Seorang yang hendak didamaikan dengan Allah dan dengan Gereja, harus mengakui semua dosa beratnya kepada imam, dosa yang belum ia akui dan dosa yang ia ingat sesudah pemeriksaan batin secara saksama. Walaupun sebenarnya tidak perlu untuk mengakui dosa ringan, namun Gereja sangat menganjurkannya.

1494. Bapa Pengakuan mewajibkan peniten melaksanakan kegiatan tertentu sebagai "penyilihan" atau "penitensi", supaya memperbaiki kerugian yang telah disebabkan oleh dosa dan supaya membiasakan diri lagi dengan cara hidup seorang murid Kristus.

1495. Hanya para imam yang telah menerima wewenang absolusi dari otoritas Gereja, dapat mengampuni dosa atas nama Kristus.

1496. Buah-buah rohani dari Sakramen Pengakuan ialah:
• perdamaian dengan Allah, yang olehnya pendosa mendapat kembali rahmat;
• perdamaian dengan Gereja;
• pembebasan dari siksa abadi, yang orang terima karena dosa berat,
• pembebasan paling sedikit sebagian dari siksa sementara, yang diakibatkan oleh dosa;
• perdamaian dan ketenangan hati nurani dan hiburan rohani;
• pertumbuhan kekuatan rohani untuk perjuangan Kristen.

1497. Pengakuan dosa berat secara perorangan dan sempurna serta pengampunannya sesudah itu adalah satu-satunya sarana biasa untuk berdamai dengan Allah dan dengan Gereja.

1498. Oleh indulgensi umat beriman dapat memperoleh untuk diri sendiri dan untuk jiwa-jiwa di tempat penyucian, penghapusan siksa-siksa sementara, yang diakibatkan oleh dosa.

Katekismus Gereja Katolik Dalam Setahun - 178

KGK ke 178


IX. * Buah-buah Sakramen Pengakuan

1468. "Seluruh hasil Pengakuan ialah bahwa ia memberi kembali kepada kita rahmat Allah dan menyatukan kita dengan Dia dalam persahabatan yang erat". (Catech. R. 2, 5, 18). Dengan demikian tujuan dan hasil Sakramen ini adalah perdamaian dengan Allah. Bagi mereka yang menerima Sakramen Pengakuan dengan penuh sesal dan khidmat, dapat menyusullah "perdamaian dan kegembiraan hati nurani, dihubungkan dengan hiburan roh yang kuat" (K. Trente: DS 1674). Sakramen perdamaian dengan Allah sungguh mengakibatkan "kebangkitan rohani", satu penempatan kembali dalam martabat dan dalam kekayaan kehidupan anak-anak Allah, dan yang paling bernilai adalah persahabat-an dengan Allah 5 2305
1 Bdk. CIC, can. 976; CCEO, can. 725.
2 Bdk. CIC, can. 986; CCEO, can. 735; PO 13.
3 Bdk. PO 13.
4 Bdk. CIC, can. 1388 §1; CCEO, can. 1456.
5 Bdk. Luk 15:32.

1469. Sakramen ini juga mendamaikan kita dengan Gereja. Dosa melemahkan atau memutuskan persekutuan persaudaraan. Sakramen Pengakuan memperbaharunya dan mengikatnya lagi. Ia menyembuhkan orang yang diterima kembali dalam persekutuan Gereja dan membangkitkan suatu pengaruh segar atas kehidupan Gereja yang menderita karena dosa dari salah seorang anggotanya.1 Pendosa diterima kembali ke dalam persekutuan para kudus atau diteguhkan di dalamnya dan diperkuat oleh pertukaran kekayaan rohani. Pertukaran ini terjadi di antara semua anggota Tubuh Kristus yang hidup, entah mereka yang sekarang masih dalam penziarahan maupun mereka yang sudah ada di dalam tanah air surgawi.2
"Perdamaian dengan Allah ini seakan-akan masih mengakibatkan juga bentuk-bentuk perdamaian lain, yang menyembuhkan retakan-retakan lain yang disebabkan oleh dosa: Orang yang mengakukan dosa, yang diampuni, didamaikan dalam keberadaan batinnya dengan diri sendiri, yang olehnya ia menerima kembali kebenaran batinnya; ia mendamaikan diri dengan saudara-saudaranya, yang entah bagaimana diserang dan dilukai olehnya; ia mendamaikan diri dengan seluruh ciptaan" (RP 31).

1470. Kalau dalam Sakramen ini pendosa menundukkan diri kepada keputusan Allah yang mahabelas kasihan, ia seakan-akan mengantisipasi pengadilan, yang terjadi atas dirinya pada akhir kehidupan duniawinya. Karena sekarang, dalam kehidupan ini ditawarkan kepada kita pilihan antara hidup dan mati, dan hanya dengan jalan pertobatan kita dapat masuk ke dalam Kerajaan surga, darinya dosa berat telah mengucilkan kita.3 Pendosa berpindah dari dalam maut ke dalam kehidupan dan "tidak akan dihukum" (Yoh 5:24), kalau ia berpaling kepada Kristus melalui pertobatan dan iman.

X. * Indulgensi

1471. Ajaran mengenai indulgensi [penghapusan siksa dosa] dan penggunaannya di dalam Gereja terkait erat sekali dengan daya guna Sakramen Pengakuan.
Apakah itu indulgensi?
"Indulgensi adalah penghapusan siksa-siksa temporal di depan Allah untuk dosa-dosa yang sudah diampuni. Warga beriman Kristen yang benar-benar siap menerimanya, di bawah persyaratan yang ditetapkan dengan jelas, memperolehnya dengan bantuan Gereja, yang sebagai pelayan penebusan membagi-bagikan dan memperuntukkan kekayaan pemulihan Kristus dan para kudus secara otoritatif".
"Ada indulgensi sebagian atau seluruhnya, bergantung dari apakah ia membebaskan dari siksa dosa temporal itu untuk sebagian atau seluruhnya."
Indulgensi dapat diperuntukkan bagi orang hidup dan orang mati (Paulus VI, Konst. Ap. "Indulgentiarum doctrina" normae 1-3).

Siksa dosa

1472. Supaya mengerti ajaran dan praktik Gereja ini, kita harus mengetahui bahwa dosa mempunyai akibat ganda. Dosa berat merampas dari kita persekutuan dengan Allah dan karena itu membuat kita tidak layak untuk kehidupan abadi. Perampasan ini dinamakan "siksa dosa abadi". Di lain pihak, setiap dosa, malahan dosa ringan, mengakibatkan satu hubungan berbahaya dengan makhluk, hal mana membutuhkan penyucian atau di dunia ini, atau sesudah kematian di dalam apa yang dinamakan purgatorium [api penyucian). Penyuciaan ini membebaskan dari apa yang orang namakan "siksa dosa sementara". Kedua bentuk siksa ini tidak boleh dipandang sebagai semacam dendam yang Allah kenakan dari luar, tetapi sebagai sesuatu yang muncul dari kodrat dosa itu sendiri. Satu pertobatan yang lahir dari cinta yang
1 Bdk. 1 Kor 12:26.
2 Bdk. LG 48-50.
3 Bdk. 1 Kor 5:11; Gal 5:19-21; Why 22:15.

bernyala-nyala, dapat mengakibatkan penyucian pendosa secara menyeluruh, sehingga tidak ada siksa dosa lagi yang harus dipikul.1

1473. Pengampunan dosa dan pemulihan persekutuan dengan Allah mengakibatkan pembebasan dari siksa dosa abadi. Tetapi siksa dosa sementara tinggal. Warga Kristen itu harus berusaha menerima siksa dosa sementara ini sebagai rahmat, dengan menanggung segala macam penderitaan dan percobaan dengan sabar dan, kalau saatnya telah tiba menerima kematian dengan tulus. Juga ia harus berikhtiar untuk menanggalkan "manusia lama" dan mengenakan "manusia baru" perbuatan-perbuatan belas kasihan dan cinta kasih serta dengan doa dan aneka ragam latihan mati raga.2

Dalam persekutuan para kudus

1474. Warga Kristen yang berusaha dengan bantuan rahmat Allah untuk membebaskan diri dari dosanya dan menguduskan diri, tidak sendirian. "Kehidupan setiap anak Allah dihubungkan di dalam Kristus dan oleh Kristus dengan kehidupan semua saudara Kristen yang lain dalam kesatuan adikodrati Tubuh Mistik Kristus seperti dalam satu pribadi mistik dalam ikatan yang mengagumkan" (Paulus VI, Konst. Ap. "Indulgentiarum doctrina" 5).

1475. Dalam persekutuan para kudus, "di antara para beriman apakah mereka telah ada di dalam tanah air surgawi atau masih menyilih di tempat penyucian atau masih berziarah di dunia - benar-benar terdapat satu ikatan cinta yang tetap dan satu pertukaran kekayaan yang berlimpah" (ibid.). Dalam pertukaran yang mengagumkan ini kekudusan seseorang dapat berguna untuk orang lain, dan malahan lebih daripada dosa seseorang dapat merugikan orang lain. Dengan demikian penggunaan persekutuan para kudus dapat membantu pendosa yang menyesal, bahwa ia lebih cepat dan lebih berdaya guna dibersihkan dari siksa-siksa dosanya.

1476. Kekayaan rohani persekutuan para kudus ini kita namakan juga harta pusaka Gereja. "la tidak boleh dibandingkan dengan sejumlah kekayaan semacam kekayaan material yang dikumpulkan dalam peredaran sejarah. Tetapi ia terdiri dari nilai yang tidak terbatas dan tidak habis-habisnya, yang dimiliki penyilihan dan jasa-jasa Kristus, Tuhan kita, yang dipersembahkan pada Allah, supaya seluruh umat manusia bebas dari dosa dan sampai kepada persekutuan dengan Bapa. Harta pusaka Gereja adalah Kristus, Penebus sendiri, sejauh di dalam Dia penyilihan dan jasa-jasa karya penebusan-Nya mempunyai kelang-sungan dan nilai"3 (ibid.).

1477. "Di samping itu termasuk pula dalam harta pusaka ini nilai yang benar-benar tidak terukur, tidak habis-habisnya dan selalu baru, yang dimiliki doa-doa dan karya-karya baik dari Perawan Maria tersuci maupun semua orang kudus di hadirat Allah. Oleh karena rahmat-Nya mereka mengikuti jejak-jejak Kristus, Tuhan, yang telah mengudus-kan diri dan telah menyelesaikan pekerjaan yang ditugaskan oleh Bapa. Dengan demikian mereka memperoleh keselamatannya sendiri dan karena itu juga menyumbang demi keselamatan saudara-saudaranya dalam kesatuan Tubuh Mistik" (ibid.).
1 Bdk. K.Trente: DS 1712-1713; 1820
2 Bdk. Ef 4:24.
3 Bdk. Ibr 7:23-25; 9:11-28.

Allah menghapus siksa dosa melalui Gereja

1478. Indulgensi diberikan melalui Gereja, yang berkat wewenangnya untuk mengikat dan melepaskan yang diterimanya dari Yesus Kristus, membela warga Kristen yang bersangkutan dan memperuntukkan kepadanya kekayaan jasa-jasa Kristus dan para kudus, supaya ia dapat menerima dari Bapa yang mahabelas kasihan penghapusan siksa-siksa sementara yang harus ditanggung untuk dosa-dosanya. Dengan cara ini Gereja tidak hanya membantu warga Kristen ini, tetapi juga mengajaknya untuk melakukan karya-karya kesalehan, pertobatan, dan amal.1

1479. Oleh karena umat beriman yang telah meninggal yang masih berada pada jalan penyucian adalah juga anggota-anggota persekutuan para kudus ini, maka kita antara lain dapat membantu mereka dengan memperoleh indulgensi bagi mereka. Dengan demikian dihapuskan siksa dosa sementara para orang mati di dalam purgatorium [api penyucian].

Katekismus Gereja Katolik Dalam Setahun - 177

KGK ke 177


VII. * Kegiatan peniten

1450. "Pertobatan mendorong pendosa untuk menerima segala sesuatu dengan rela hati: di dalam hatinya ada penyesalan, di mulutnya ada pengakuan, dalam tindakannya ada kerendahan hati yang mendalam atau penitensi yang menghasilkan buah" (Catech. R. 2, 5, 21).1

Penyesalan

1451. Di antara kegiatan peniten, penyesalan mendapat tempat utama. Ia adalah "kesedihan jiwa dan kejijikan terhadap dosa yang telah dilakukan, dihubungkan dengan niat, mulai sekarang tidak berdosa lagi" (Konsili Trente: DS 1676). 1431

1452. Kalau penyesalan itu berasal dari cinta kepada Allah, yang dicintai di atas segala sesuatu, ia dinamakan "sempurna" atau "sesal karena cinta" [contritio]. Penyesalan yang demi-kian itu mengampuni dosa ringan; ia juga mendapat pengampunan dosa berat, apabila ia dihubungkan dengan niat yang teguh, secepat mungkin melakukan pengakuan sakramental2 1822

1453. Yang dinamakan "penyesalan tidak sempurna" [attritio] juga merupakan anugerah Allah, satu dorongan Roh Kudus. Ia tumbuh dari renungan mengenai kejijikan dosa atau dari rasa takut akan hukuman abadi atau siksa-siksa lain, yang mengancam pendosa [penyesalan karena takut]. Keguncangan hati nurani yang demikian itu dapat membuka pengembangan batin, yang diselesaikan di bawah karya rahmat oleh pengampunan sakramental. Penyesalan tidak sempurna sendiri belum menerima pengampunan dosa berat; tetapi ia menciptakan kondisi, agar menerimanya dalam Sakramen Pengakuan.3

1454. Sangat dianjurkan, agar orang mempersiapkan diri untuk penerimaan Sakramen Pengampunan, melalui pemeriksaan batin dalam terang Sabda Allah. Teks-teks yang paling cocok untuk itu terdapat di dalam nasihat-nasihat moral dari Injil-Injil dan surat-surat para Rasul: dalam khotbah di bukit dan nasihat para Rasul.4

Pengakuan dosa

1455. Hanya dilihat dari segi manusiawi pun, pengakuan atau penyampaian dosa membebaskan kita dan merintis perdamaian kita dengan orang lain. Melalui pengakuan itu orang melihat dengan jujur dosa-dosanya, bahwa ia orang berdosa; ia menerima tanggung jawab atas dosa-dosanya itu, dengan demikian membuka diri kembali untuk Allah dan untuk persekutuan Gereja, sehingga dimungkinkanlah satu masa depan yang baru.
1 Bdk. Konsili Trente: DS 1673.
2 Bdk. Konsili Trente: DS 1677.
3 Bdk. Konsili Trente: DS 1678; 1705.
4 Bdk. misalnya Rm 12-15; 1 Kor 12-13; Gal 5; Ef 4-6.

1456. Pengakuan di depan imam merupakan bagian hakiki dari Sakramen Pengakuan: "Dalam Pengakuan para peniten harus menyampaikan semua dosa berat, yang mereka sadari setelah pemeriksaan diri secara saksama... juga apabila itu hanya dilakukan secara tersembunyi dan hanya melawan dua perintah terakhir dari sepuluh perintah Allah; 1 kadang-kadang dosa ini melukai jiwa lebih berat dan karena itu lebih berbahaya daripada dosa yang dilakukan secara terbuka" (Konsili Trente: DS 1680).
"Jadi kalau warga beriman Kristen berusaha mengakukan semua dosa yang mereka ingat, mereka tanpa ragu-ragu menyampaikan segala-galanya kepada kerahiman ilahi, agar mereka diampuni. Tetapi siapa yang berbuat lain dan dengan sengaja mendiamkan sesuatu, ia tidak menyampaikan apa-apa kepada kebaikan ilahi demi pengampunan oleh imam. Karena kalau orang sakit merasa malu membuka lukanya kepada dokter, maka obat tidak akan menyembuhkan apa yang tidak dikenalnya (Hieronimus, Eccl. 10, 11)" (Konsili Trente: DS 1680). 1855

1457. Gereja menuntut bahwa tiap warga beriman yang sudah mencapai usia mampu untuk membeda-bedakan, mengakukan dosa berat yang ia sadari paling kurang satu kali dalam satu tahun.2 Siapa yang tahu bahwa ia telah melakukan dosa berat, tidak boleh menerima komuni kudus, juga apabila ia merasakan penyesalan mendalam, sebelum ia menerima absolusi sakramental,3 kecuali ada alasan kuat untuk menerima komuni, dan kalau tidak mungkin baginya untuk mengakukan dosa.4 Anak-anak harus mengaku sebelum mereka menerima komuni kudus untuk pertama kalinya.5

1458. Pengakuan kekurangan sehari-hari, yakni dosa-dosa ringan, sebenamya tidak perlu, tetapi sangat dianjurkan oleh Gereja.6 Pengakuan dosa-dosa ringan secara teratur adalah suatu bantuan bagi kita, untuk membentuk hati nurani kita melawan kecondongan kita yang jahat, membiarkan kita disembuhkan oleh Kristus dan bertumbuh dalam hidup rohani. Kalau kita dalam Sakramen ini sering menerima anugerah belas kasihan Allah, Ia lalu mendorong kita, agar kita sendiri juga berbelaskasihan seperti Dia.7
"Siapa yang mengakukan dosanya, sudah bekerja sama dengan Allah. Allah menggugat dosa-dosamu; kalau engkau juga menggugatnya, engkau bergabung dengan Allah. Manusia dan pendosa, seakan-akan harus dibedakan: kalau berbicara tentang manusia, Allahlah yang menciptakannya; kalau berbicara tentang pendosa, manusialah yang menciptakannya. Robohkanlah apa yang telah engkau ciptakan, supaya Allah menyelamatkan, apa yang Ia ciptakan... kalau engkau mulai jijik akan apa yang engkau ciptakan, mulailah karya-karyamu yang baik, karena engkau menggugat karya-karyamu yang buruk. Pengakuan akan karya-karyamu yang buruk adalah awal karya-karyamu yang baik. Engkau melakukan kebenaran dan datang ke dalam terang" (Agustinus, ev. Jo. 12, 13).

Penyilihan

1459. Banyak dosa menyebabkan kerugian bagi sesama. Orang harus sedapat mungkin mengganti rugi (umpamanya mengembalikan barang yang dicuri, memperbaiki nama baik orang yang difitnah, memberi silih untuk penghinaan). Keadilan sendiri sudah menuntut ini. Tetapi di samping itu dosa melukai dan melemahkan pendosa sendiri, denukian pula hubungannya dengan Allah dan dengan sesama. Absolusi menghapuskan
1 Bdk. Kel 20:17; Ul 5:21; Mat 5:28.
2 Bdk. CIC, can. 989; DS 1683; 1708.
3 Bdk. Konsili Trente: DS 1647; 1661.
4 Bdk. CIC, can. 916; CCEO, can. 711.
5 Bdk. CIC, can. 914.
6 Bdk. Konsili Trente: DS 1680; CIC, can. 988 §2.
7 Bdk. Luk 6:36.

dosa, namun tidak mengatasi semua ketidak-adilan yang disebabkan oleh dosa.1 Setelah pendosa mengangkat diri dari dosa, ia masih harus mendapat kesehatan rohani yang penuh. Ia harus "membuat silih", untuk dosa-dosanya, harus memperbaiki kesalahan atas suatu cara yang cocok. Penyilihan ini juga dinamakan "penitensi".

1460. Penitensi yang diberikan bapa Pengakuan, harus memperhatikan keadaan pribadi peniten dan melayani kepentingan rohaninya. Sejauh mungkin harus sesuai dengan berat dan kodrat dosa yang dilakukannya. Penitensi dapat terdiri dari doa, derma, karya amal, pelayanan terhadap sesama, pantang secara sukarela, berkorban, dan terutama dalam menerima dengan sabar salib yang harus kita pikul. Karya penitensi macam ini sangat membantu untuk menyerupai Kristus, yang telah menjalankannya sendiri untuk dosa-dosa kita satu kali untuk selama-lamanya.2 Ia menjadikan kita ahli waris bersama Kristus yang telah bangkit. "jika kita menderita bersama-sama dengan Dia" (Rm 8:17).3
"Penyilihan ini, yang kita lakukan untak dosa-dosa kita, bukanlah milik kita sepenuhnya, seakan-akan tidak melalui Yesus Kristus; karena kita, yang dari diri sendiri tidak mampu apa-apa, mampu melakukan segala-galanya4 dalam kerja sama dengan Dia yang me-nguatkan kita. Dengan demikian manusia tidak mempunyai apa-apa yang dapat ia banggakan; tetapi seluruh kebanggaan kita ada dalam Kristus... di dalam Siapa kita melakukan penyilihan, kalau kita menghasilkan buah yang sesuai dengan pertobatan (Luk 3:8; Mat 3:8), yang mendapat kekuatannya dari Dia, dipersembahkan kepada Bapa oleh Dia, dan diterima oleh Bapa melalui Dia" (Konsili Trente: DS 1691).

VIII. * Pemberi Sakramen Pengakuan

1461. Karena Kristus telah percayakan pelayanan perdamaian kepada Rasul-rasul-Nya,5 maka pengganti-penggantinya, para Uskup dan rekan kerja mereka, para imam, terus melaksanakan pelayanan ini. Para Uskup dan imam telah menerima wewenang, berkat Sakramen Tahbisan, untuk mengampuni segala dosa atas nama Bapa dan Putera, dan Roh Kudus".

1462. Pengampunan dosa membawa perdamaian dengan Allah, tetapi juga dengan Gereja. Uskup, kepala Gereja lokal yang kelihatan, sejak dulu kala dipandang sebagai orang yang pada tempat pertama mempunyai wewenang untuk pelayanan perdamaian: ia mengatur disiplin pertobatan.6 Rekan kerjanya, para imam, melaksanakan pelayanan ini sejauh mereka telah menerima tugas ini dari Uskupnya (atau dari seorang pembesar tarekat) atau dari Paus, sesuai dengan hukum Gereja.7 1463. Dosa tertentu yang sangat berat dihukum dengan ekskomunikasi, hukuman Gereja terberat. Ia melarang penerimaan Sakramen-Sakramen dan pelaksanaan kegiatan Gereja tertentu. Karena itu pengampunannya, sesuai dengan hukum Gereja, hanya dapat diberikan oleh Paus, Uskup setempat atau oleh seorang imam yang diberi kuasa untuk itu.8 Namun dalam keadaan bahaya kematian, setiap imam, juga apabila ia tidak
1 Bdk. Konsili Trente: DS 1712.
2 Bdk. Rm 3:25; 1 Yoh 2:1-2.
3 Bdk. Konsili Trente: DS 1690.
4 Bdk. Flp 4:13.
5 Bdk. Yoh 20:23; 2 Kor 5:18.
6 Bdk. LG26.
7 Bdk. CIC, cann. 844; 967-969; 972; CCEO, cann. 722 §3-4.
8 Bdk. CIC, cann. l331; 1354-1357; CCEO, cann. 1431; 1434; 1420.

memiliki wewenang untuk memberi Pengakuan, dapat mengampuni setiap dosa1 dan setiap ekskomunikasi.

1464. Para imam harus mendorong umat beriman, supaya menerima Sakramen Pengakuan dan menunjukkan kesediaannya untuk menerimakan Sakramen ini, kapan saja warga Kristen memintanya secara wajar.2

1465. Kalau imam menerimakan Sakramen Pengakuan, ia memberi pelayanan gembala yang baik, yang mencari domba yang hilang; pelayanan orang Samaria yang baik, yang membalut luka-luka; pelayanan sang bapa, yang menantikan anak yang hilang dan menerimanya dengan penuh kasih sayang setelah ia kembali; pelayanan hakim yang benar, yang tanpa memandang bulu menjatuhkan keputusan yang sekaligus henar dan rahim. Pendeknya, imam adalah tanda dan alat cinta Allah yang penuh belas kasihan kepada orang berdosa. 

1466. Bapa Pengakuan bukan tuan, melainkan pelayan pengampunan Allah. Pelayan Sakramen ini harus mempersatukan diri dengan niat dan cinta Kristus.3 Ia harus mengetahui dengan pasti, bagaimana seorang Kristen harus hidup, ia harus mempunyai pengalaman dalam masalah-masalah manusiawi dan harus menghormati orang yang telah jatuh dan memegang teguh tugas Gereja untuk mengajar dan harus membimbing peniten dengan sabar menuju penyembuhan dan kematangan penuh. Ia harus berdoa untuk dia dan membuat silih dan menyerahkan dia kepada kerahiman Allah. 

1467. Pelayanan ini luar biasa mulianya. Ia menuntut penghormatan dan sikap hati-hati terhadap orang yang mengakukan dosanya. Karena itu, Gereja menjelaskan bahwa setiap imam, yang mendengar Pengakuan, diwajibkan dengan ancaman siksa yang sangat berat, supaya berdiam diri secara absolut, menyangkut dosa yang ini, peniten sampaikan kepadanya dalam Pengakuan.4 Ia juga tidak boleh merujuk kepada pengetahuan, yang Pengakuan telah berikan kepadanya mengenai kehidupan peniten. Rahasia Pengakuan ini, yang tidak mengenal kekecualian dinamakan "meterai sakramental", karena apa yang dipercayakan peniten kepada imam, tinggal "termeterai" oleh Sakramen.

Senin, 08 April 2013

Katekismus Gereja Katolik Dalam Setahun - 176

KGK ke 176


V. * Aneka ragam bentuk tobat dalam hidup Kristen

1434. Tobat batin seorang Kristen dapat dinyatakan dalam cara yang sangat berbeda-beda. Kitab Suci dan para Bapa Gereja berbicara terutama tentang tiga bentuk: puasa, doa, dan memberi sedekah3 sebagai pernyataan pertobatan terhadap diri sendiri, terhadap Allah, dan terhadap sesama. Di samping pembersihan secara menyeluruh yang dikerjakan oleh Pembaptisan atau martirium, mereka mencatat sebagai sarana-sarana untuk memperoleh pengampunan dosa: upaya-upaya untuk berdamai dengan sesamanya, air mata pertobatan, keprihatinan untuk keselamatan sesama,4 doa syafaat para kudus, dan cinta aktif kepada sesama - karena "kasih menutupi banyak sekali dosa" (1 Ptr 4:8).

1435. Pertobatan terjadi dalam kehidupan sehari-hari melalui perbuatan perdamaian, bantuan bagi orang miskin, pelaksanaan dan pembelaan keadilan dan hukum,5 pengakuan kesalahan sendiri, teguran persaudaraan, pemeriksaan cara hidup sendiri, pemeriksaan batin, bimbingan rohani, penerimaan sengsara, dan ketabahan dalam penghambatan demi keadilan. Setiap hari memikul salibnya dan mengikuti Kristus adalah jalan yang paling aman untuk pertobatan.6

1436. Ekaristi dan pertobatan. Pertobatan dan penebusan dosa setiap hari menemukan sumbar dan makanannya di dalam Ekaristi, karena di dalamnya kurban Kristus yang mendamaikan kita dengan Allah dihadirkan. Olehnya dikenyangkanlah dan dikuatkanlah orang yang hidup dari kehidupan Kristus. Ialah "nurbisa, yang olehnya kita dibebaskan dari kesalahan sehari-hari dan dilindungi dari dosa berat" (Konsili Trente: DS 1638). 1394,

1437. Pembacaan Kitab Suci, doa Bapa Kami dan Ibadat Harian, tiap kegiatan untuk menghormati Allah secara jujur dan tindakan kesalehan, menghidupkan roh pertobatan dan metanoia di dalam kita, dan turut membantu pengampunan dosa-dosa kita.

1438. Masa dan hari pertobatan dalam tahun Gereja (masa puasa, tiap hari Jumat sebagai kenangan akan kematian Tuhan) adalah waktu pembinaan hidup pertobatan Gereja.7 Waktu-waktu ini sangat cocok terutama untuk retret, upacara tobat dan ziarah pertobatan, untuk pengorbanan secara sukarela umpamanya oleh puasa dan memberi sedekah, dan untuk membagi-bagi dengan sesama (karya karitatif dan misioner).

1439. Jalan metanoia dan pertobatan dilukiskan Yesus secara sangat mengesankan dalam perumpamaan mengenai "anak yang hilang", yang pusatnya adalah "Bapa yang berbelaskasihan" (Luk 15:11-24): godaan untuk mengenyam kebebasan semu, meninggalkan rumah Bapa; kemelaratan lahiriah yang menjerat sang putera, setelah ia memboroskan segala milik kepunyaannya; penghinaan yang mendalam, karena harus menggembalakan babi dan, lebih buruk lagi, kerinduan agar memuaskan diri dengan makanan babi; renungan akan harta benda yang telah hilang; penyesalan dan keputusan mengaku diri bersalah di depan Bapa; jalan kembali; penerimaan yang penuh murah hati oleh Bapa; kegembiraan Bapa: semuanya itu adalah ciri-ciri proses pertobatan. Pakaian yang indah, cincin, dan perjamuan pesta adalah lambang kehidupan baru yang murni, layak, dan penuh kegembiraan, kehidupan seorang manusia yang kembali kepada Allah dan ke dalam pangkuan keluarganya, Gereja. Hanya hati Kristus, yang mengenal kedalaman cinta Bapa-Nya, dapat menggambarkan bagi kita jurang belas kasihan-Nya atas suatu cara yang begitu sederhana dan indah.
1 Bdk. Yoh 15:26.
2 Bdk. Kis 2:36-38; DeV 27-48.
3 Bdk. Tob 12:8; Mat 6:1-18.
4 Bdk. Yak 5:20.
5 Bdk. Am 5:24; Yes 1:17.
6 Bdk. Luk 9:23.
7 Bdk. SC 109-110; CIC, cann. 1249-1253; CCEO, cam. 880-883.

VI. * Sakramen tobat dan perdamaian

1440. Dosa adalah terutama penghinaan terhadap Allah dan pemutusan persekutuan dengan Dia. Serentak pula ia merugikan persekutuan dengan Gereja. Karena itu, pertobatan mendatangkan secara serentak pengampunan Allah dan perdamaian dengan Gereja. Sakramen pertobatan dan perdamaian menyatakan dan melaksanakannya dalam liturgi.1

Hanya Allah mengampuni dosa

1441. Hanya Tuhan dapat mengampuni dosa.2 Karena Yesus itu Putera Allah, Ia mengatakan tentang diri-Nya, "bahwa di dunia Anak Manusia mempunyai kuasa mengampuni dosa" (Mrk 2:10). Ia melaksanakan kuasa ilahi ini: "Dosamu sudah diampuni" (Mrk 2:5; Luk 7:48). Lebih lagi: berkat otoritas ilahi-Nya, Ia memberi kuasa ini kepada manusia,3 supaya mereka pun melaksanakannya atas nama-Nya.

1442. Kristus menghendaki bahwa Gereja secara keseluruhan dalam doanya, dalam kehidupan-nya, dan dalam kegiatannya adalah tanda dan alat pengampunan dan perdamaian, yang telah Ia beroleh dengan harga darah-Nya. Namun Ia mempercayakan pelaksanaan kuasa absolusi ini kepada jabatan apostolik. Kepadanya dipercayakan "pelayanan pendamaian" (2 Kor 5:18). Rasul diutus "dalam nama Kristus"; melalui dia Allah sendiri menasihati dan memohon: "Berilah dirimu didamaikan dengan Allah" (2 Kor 5:20).
Perdamaian dengan Gereja

1443. Selama hidupnya di muka umum Yesus tidak hanya mengampuni dosa, tetapi menunjukkan juga akibat dari pengampunan: Ia menggabungkan lagi para pendosa yang telah diampuni-Nya ke dalam persekutuan Umat Allah, yang darinya dosa telah menjauhkan mereka atau malahan mengucilkan mereka. Satu tanda yang sangat terkenal untuk itu ialah bahwa Yesus mengundang para pendosa ke meja-Nya, malahan Ia sendiri duduk di meja mereka - satu tindakan yang atas cara yang mengesankan menyatakan serentak pengampunan oleh Allah4 dan pengembalian ke dalam pangkuan Umat Allah.5

1444. Tuhan memberi kepada para Rasul kuasa-Nya sendiri untuk mengampuni dosa, Ia juga memberi kepada mereka otoritas untuk mendamaikan para pendosa dengan Gereja. Aspek gerejani dari tugas ini terutama kelihatan dalam perkataan meriah Kristus kepada Simon Petrus: "Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan surga; apa yang kau ikat di dunia ini akan terikat di surga, dan apa yang kau lepaskan di dunia ini akan terlepas di surga" (Mat 16:19). Jelaslah, bahwa "tugas mengikat dan melepaskan, yang diserahkan kepada Petrus, ternyata diberikan juga kepada Dewan para Rasul dalam persekutuan dengan kepalanya6" (LG 22).
1 Bdk. LG 11.
2 Bdk. Mrk 2:7.
3 Bdk. Yoh 20:21-23.
4 Bdk. Luk 15.
5 Bdk. Luk 19:9.
6 Bdk. Mat 18:18; 28:16-20.

1445. Kata-kata mengikat dan melepaskan berarti: siapa pun yang akan kamu kucilkan dari persekutuan, maka Allah pun akan mengucilkannya dari persekutuan dengan diri-Nya; siapa pun yang akan kamu terima kembali dalam persekutuanmu, maka Allah pun akan menerima-Nya kembali dalam persekutuan dengan diri-Nya. Perdamaian dengan Gereja tidak dapat dipisahkan dari perdamaian dengan Allah.
Sakramen Pengampunan

1446. Kristus telah menciptakan Sakramen Pengakuan untuk anggota-anggota Gereja-Nya yang berdosa, terutama untuk mereka yang sesudah Pembaptisan jatuh ke dalam dosa berat dan dengan demikian kehilangan rahmat Pembaptisan dan melukai persekutuan Gereja. Sakramen Pengakuan memberi kepada mereka kemungkinan baru, supaya bertobat dan mendapat kembali rahmat pembenaran Bapa-bapa Gereja menggambarkan Sakramen ini sebagai "papan penyelamatan kedua sesudah kecelakaan kapal yakni kehilangan rahmat" (Tertulianus, paen. 4, 2).1

1447. Dalam sejarah, bentuk konkret dengannya Gereja menjalankan kuasa yang diterimanya dari Tuhan, mengalami perubahan-perubahan besar. Selama abad-abad pertama perdamaian warga Kristen, terutama mereka yang melakukan dosa berat sesudah Pembaptisan (seperti pemujaan berhala, pembunuhan, dan zina) dikaitkan pada satu disiplin yang sangat keras: para peniten harus melakukan penitensi untuk dosa-dosanya sering kali sampai bertahun-tahun di muka umum, sebelum mereka menerima pengampunan. Ke dalam "status peniten" ini (yang hanya dimaksudkan untuk dosa berat tertentu) seorang diterima jarang sekali, malahan di daerah-daerah tertentu hanya sekali seumur hidup. Tergerak oleh tradisi monastis di Timur, para misionaris Irlandia selama abad ketujuh membawa praktik "penitensi perorangan" ke daratan Eropa. Praktik ini tidak menuntut cara berpenitensi yang panjang di muka umum sebelum orang mendapat perdamaian dengan Gereja. Sakramen terjadi atas cara yang rahasia antara peniten dan imam. Praktik baru ini memberi kemungkinan untuk mengulanginya dan dengan demikian mengantar menuju penerimaan Sakramen Pengakuan secara teratur. Ia membuka kemungkinan, memberi pengampunan atas dosa berat dan dosa ringan dalam satu upacara saja. Itulah garis besar bentuk pertobatan yang Gereja gunakan sampai hari ini. 

1448. Kendati susunan dan upacara Sakramen ini mengalami berbagai perubahan dalam peredaran sejarah, namun ada kerangka dasar yang sama. Ia mencakup dua unsur yang sama-sama hakiki: di satu pihak kegiatan manusia yang bertobat di bawah kuasa Roh Kudus, yaitu penyesalan, pengakuan, dan penitensi; di lain pihak kegiatan Allah oleh pelayanan Gereja. Di samping itu Gereja, yang memberi pengampunan dosa oleh Uskup dan imam-imamnya atas nama Yesus Kristus dan yang menentukan jenis dan cara penitensi, berdoa untuk pendosa dan menjalankan penitensi bersama dengannya. Dengan demikian pendosa disembuhkan dan diterima kembali ke dalam persekutuan Gereja.

1449. Rumus absolusi yang dipergunakan dalam Gereja Latin menyatakan unsur-unsur hakiki Sakramen ini: Bapa belas kasihan adalah sumber segala pengampunan. Ia mengerjakan pendamaian para pendosa berkat Paska Putera-Nya dan berkat anugerah Roh-Nya oleh doa dan pelayanan Gereja :
"Allah, Bapa yang mahamurah
telah mendamaikan dunia dengan diri-Nya,
dalam wafat dan kebangkitan Putera-Nya.
Ia telah mencurahkan Roh Kudus
demi pengampunan dosa.
Dan berkat pelayanan Gereja,
Ia melimpahkan pengampunan dan damai kepada orang yang bertobat.
1 Bdk. Konsili Trente: DS 1542.

Maka saya melepaskan saudara
dari dosa-dosa saudara
Demi nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus."

Minggu, 07 April 2013

Katekismus Gereja Katolik Dalam Setahun - 175

KGK ke 175

BAB DUA

SAKRAMEN-SAKRAMEN PENYEMBUHAN

1420. Oleh Sakramen-Sakramen inisiasi Kristen, manusia mendapat hidup baru dalam Kristus. Tetapi kita membawa kehidupan ini "dalam bejana tanah liat" (2 Kor 4:7). Sekarang kehidupan itu masih "tersembunyi bersama dengan Kristus di dalam Allah" (Kol 3:3). Kita masih hidup "dalam kemah kediaman kita di bumi ini" (2 Kor 5:1) dan takluk kepada sengsara, penyakit, dan kematian. Dengan demikian kehidupan yang baru ini pun dapat diperlemah dan malahan dapat hilang sama sekali oleh dosa.

1421. Yesus Kristus, dokter jiwa dan tubuh kita, yang telah mengampuni dosa orang lumpuh dan telah memberi kembali kesehatan kepadanya,1 menghendaki bahwa Gereja-Nya melanjutkan karya penyembuhan dan penyelamatan-Nya dalam kekuatan Roh Kudus. Karya ini juga dibutuhkan anggota-anggota Gereja sendiri Untuk itu ada dua Sakramen penyembuhan: Sakramen Pengakuan dan Sakramen Urapan Orang Sakit.

ARTIKEL 4 : SAKRAMEN TOBAT DAN PERDAMAIAN

1422. "Mereka yang menerima Sakramen Tobat memperoleh pengampunan dari belas kasihan Allah atas penghinaan mereka terhadap-Nya; sekaligus mereka didamaikan dengan Gereja, yang telah mereka lukai dengan berdosa, dan yang membantu pertobatan mereka dengan cinta kasih, teladan serta doa-doanya" (LG 11). {980}

I. * Bagaimana Sakramen ini dinamakan?

1423. Orang menamakannya Sakramen tobat, karena ia melaksanakan secara sakramental panggilan Yesus untuk bertobat,2 untuk bangkit dan kembali kepada Bapa,3 dari Siapa orang telah menjauhkan diri karena dosa.
Orang menamakannya Sakramen pemulihan, karena ia menyatakan langkah pribadi dan gerejani demi pertobatan, penyesalan, dan pemulihan warga Kristen yang berdosa. {1989, 1440}

1424. Orang menamakannya Sakramen Pengakuan karena penyampaian, pengakuan dosa di depan imam adalah unsur hakiki Sakramen ini. Menurut suatu pengertian yang mendalam, Sakramen itu juga adalah satu "pengakuan" - penghargaan dan pujian - akan kekudusan Allah dan kerahiman-Nya terhadap orang yang berdosa.
Orang menamakannya Sakramen pengampunan, karena oleh absolusi imam, Kristus menganugerahkan secara sakramental kepada orang yang mengakukan dosanya "pengampunan dan kedamaian" (OP, rumus absolusi).
1 Bdk. Mrk 2:1-12.
2 Bdk. Mrk 1:15.
3 Bdk. Luk 15:18.

Orang menamakannya Sakramen perdamaian, karena ia memberi kepada pendosa cinta Allah yang mendamaikan: "Berilah dirimu didamaikan dengan Allah" (2 Kor 5:20). Siapa yang hidup dari cinta Allah yang berbelaskasihan, selalu siap memenuhi amanat Tuhan: "Pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu" (Mat 5:24). {1456, 1449, 1442}

II. * Untuk apa suatu Sakramen perdamaian sesudah Pembaptisan? 

1425. "Kamu telah memberi dirimu disucikan, kamu telah dikuduskan, kamu telah dibenarkan dalam nama Tuhan Yesus Kristus dan dalam Roh Allah kita" (1 Kor 6:11). Orang harus sadar, betapa besar anugerah Allah ini, yang telah dianugerahkan kepada kita dalam Sakramen-Sakramen inisiasi Kristen, supaya mengerti, bagaimana dosa tidak pantas lagi bagi orang yang "mengenakan Kristus" (Gal 3:27). Tetapi Rasul Yohanes mengatakan: "Jika kita berkata bahwa kita tidak berdosa, maka kita menipu diri kita sendiri dan kebenaran tidak ada di dalam kita" (1 Yoh 1:8). Dan Tuhan sendiri mengajar kita berdoa: "Ampunilah kami akan dosa kami" (Luk 11:4). Sementara itu Ia menghubungkan kerelaan kita untuk saling mengampuni dengan pengampunan yang akan Allah berikan atas dosa-dosa kita. {1263, 2838}

1426. Pertobatan kepada Kristus, kelahiran kembali dalam Pembaptisan, anugerah Roh Kudus, penerimaan tubuh dan darah Kristus sebagai makanan, membuat kita "kudus dan tidak bercacat... di hadapan Allah" (Ef 1:4) sebagaimana Gereja sendiri, mempelai Kristus adalah "kudus" dan "tanpa kerut" (Ef 5:27). Namun kehidupan baru yang diterima dalam inisiasi Kristen tidak menghilangkan kerapuhan dan kelemahan kodrat manusiawi, dan juga tidak menghilangkan kecenderungan kepada dosa, yang dinamakan "concu-piscentia". Kecondongan ini tinggal dalam orang yang dibaptis, supaya dengan bantuan rahmat Kristus mereka membuktikan kekuatan mereka dalam perjuangan hidup Kristen1. Inti perjuangan ini ialah: kembali kepada kekudusan dan kehidupan abadi, ke mana Tuhan selalu memanggil kita.2 {405, 978, 1264}

III. * Pertobatan orang-orang yang telah dibaptis

1427. Yesus menyerukan supaya bertobat. Seruan ini adalah bagian hakiki dari pewartaan Kerajaan Allah: "Waktunya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil!" (Mrk 1:15). Di dalam pewartaan Gereja seruan ini ditujukan pertama-tama kepada mereka yang belum mengenal Kristus dan Injil-Nya. Tempat pertobatan yang pertama dan mendasar adalah Sakramen Pembaptisan. Oleh iman akan kabar gembira dan oleh Pembaptisan3 orang menyangkal yang jahat dan memperoleh keselamatan, yang adalah pengampunan segala dosa dan anugerah hidup baru. {541, 1226}

1428. Seruan Yesus untuk bertobat juga dilanjutkan dalam hidup orang-orang Kristen. Pertobatan kedua adalah tugas yang terus-menerus untuk seluruh Gereja; Gereja ini "merangkum pendosa-pendosa dalam pangkuannya sendiri: Oleh karena itu Gereja perlu selalu penyucian dan sekaligus harus dibersihkan, serta terus-menerus menjalankan pertobatan dan pembaharuan" (LG 8). Mengusahakan pertobatan itu bukan perbuatan
1 Bdk. DS 1515.
2 Bdk. DS 1545; LG 40.
3 Bdk. Kis 2:38.

manusia belaka. Ia adalah usaha "hati yang patah dan remuk" (Mzm 51:19), yang oleh rahmat diyakinkan dan digerakkan,1 untuk menjawab cinta Allah yang berbelaskasihan, yang lebih dahulu mencintai kita.2 {1036, 853, 1996}

1429. Hal ini dibuktikan pertobatan Petrus sesudah ia menyangkal Gurunya sebanyak tiga kali. Pandangan Yesus yang penuh belas kasihan mencucurkan air mata penyesalan3 dan sesudah kebangkitan Tuhan, Petrus menjawab ya sebanyak tiga kali atas pertanyaan Yesus, apakah ia mencintai-Nya.4 Pertobatan kedua juga memiliki satu dimensi persekutuan. Dan ini dinyatakan dalam satu seruan yang disampaikan oleh Yesus kepada satu umat secara keseluruhan: "Bertobatlah" (Why 2:5.16).
Santo Ambrosius mengatakan tentang dua macam pertobatan; di dalam Gereja ada "air dan air mata: air Pembaptisan dan air mata pertobatan" (ep. 41, 12).

IV. * Tobat batin

1430. Seperti seruan para nabi, demikian pula seruan Yesus mengarahkan kepada pertobatan dan penyesalan, bukan pertama-tama dengan karya yang kelihatan "karung dan abu", puasa dan matiraga, melainkan pertobatan hati, pertobatan batin. Tanpa itu kegiatan pertobatan akan tanpa hasil dan tidak jujur. Tetapi pertobatan batin mendesak agar menyatakan sikap ini dalam tanda-tanda yang kelihatan dalam kegiatan dan karya pertobatan.5

1431. Tobat batin adalah satu penataan baru seluruh kehidupan, satu langkah balik, pertobatan kepada Allah dengan segenap hati, pelepasan dosa, berpaling dari yang jahat, yang dihubungkan dengan keengganan terhadap perbuatan jahat yang telah kita lakukan. Sekaligus ia membawa kerinduan dan keputusan untuk mengubah kehidupan, serta harapan atas belas kasihan ilahi dan bantuan rahmat-Nya. Pertobatan jiwa ini diiringi dengan kesedihan yang menyelamatkan dan kepiluan yang menyembuhkan, yang bapa-bapa Gereja namakan "animi cruciatus" [kesedihan jiwa], "compunctio cordis" [penye-salan hati].6

1432. Hati manusia itu lamban dan keras. Allah harus memberi kepada manusia satu hati baru.7 Pertobatan itu pertama-tama adalah karya rahmat Allah, yang membalikkan hati kita kembali kepada-Nya: "Bawalah kami kembali kepada-Mu, ya Tuhan, maka kami akan kembali" (Rat 5:21). Allah memberi kita kekuatan untuk mulai baru. Kalau hati kita menemukan kebesaran dan cinta Allah, ia akan diguncangkan oleh kejijikan akan dosa dan oleh beban yang disebabkan dosa. Ia mulai merasa takut, untuk mempermalukan Allah dengan dosa dan dengan demikian dipisahkan dari-Nya. Hati manusia bertobat, apabila ia melihat kepada Dia yang ditembusi dosa-dosa kita.8
"Marilah kita memandang darah Kristus dan mengakui, betapa bernilai itu untuk Bapa-Nya; karena dicurahkan demi keselamatan kita, ia membawa rahmat pertobatan untuk seluruh dunia" (Klemens dari Roma, Kor 7, 4).
1 Bdk. Yoh 6:44; 12:32.
2 Bdk. 1 Yoh 4:10.
3 Bdk. Luk 22:61.
4 Bdk. Yoh 21:15-17. 5 Bdk. YI 2:12- 13; Yes 1:16-17; Mat 6:1-6.16-18.
6 Bdk. Konsili Trente: DS 1676-1678; 1705; Catech. R. 2, 5, 4.
7 Bdk. Yeh 36:26-27.
8 Bdk. Yoh 19:37; Za 12:10.

1433. Sejak Paska, Roh Kudus "menginsyatkan" dunia akan "dosa" (Yoh 16:8-9), artinya Ia menyingkapkan bahwa dunia tidak percaya kepada Dia, yang diutus Bapa. Roh yang sama, yang membuka kedok dosa, adalah juga Penolong1 yang memberi rahmat penyesalan dan pertobatan kepada hati manusia.2