by Cornelius Pulung
1
Pengantar.
Mengenal artikel-artikel pokok agama Katolik dan memberikan
pertanggungjawaban yang baik akan pengetahuan itu merupakan hal yang
sangat penting bagi orang Katolik. Ketika umat Katolik hidup dalam
sebuah komunitas, yang terdiri dari semua syahadat dan tanpa syahadat,
maka tindakan memberikan alasan bagi keyakinan dan praksis mereka
merupakan hal yang bijaksana. Bukankah, barangkali, kaum Rasionalis
berpendapat bahwa dogma Katolik muncul dan berkembang dalam cara yang
alami atau luar biasa seperti semua sistem manusiawi? Bukankah banyak
non-Katolik mengklaim bahwa doktrin Katolik menjadi rusak di sepanjang
waktu? Baiklah bila kita menelusuri kembali di sepanjang zaman, berhenti
di tempat-tempat berbeda dalam kehidupan Gereja dan menjangkau ke
sumbernya, tempat Kekristenan berasal. Di sana seseorang dapat melihat
bagaimana umat Kristen perdana hidup, apa yang mereka imani, sampai
sejauh mana mereka bekerja untuk menjaga agar Iman tetap tak bernoda,
yang mereka terima dari Para Rasul. Jiwa Gereja ada di sana dengan
segenap kepenuhannya. Air-air, yang mengalir dari mata air kehidupan,
masih murni dan menyegarkan. Apabila kita mengakui bahwa air-air itu
terkontaminasi di Abad Pertama, Kedua atau Ketiga, itu sama saja
menyatakan bahwa Kristus mendirikan Gereja-Nya tidak di atas batu
karang, tapi di atas pasir kerapuhan manusia.
Maka lihatlah Mempelai Yesus Kristus yang indah, murni dan kekal:
lihatlah satu-satunya Mempelai-Nya, Mempelai yang “kemarin, dan hari
ini, dan sama selamanya”[1],
satu-satunya yang dapat mengklaim secara sah bahwa Putra Allah adalah
miliknya, dan hanya miliknya. Ia membuktikan klaim itu melalui
dokumen-dokumen, tanpa keraguan, dan dengan mengecualikan semua yang
lain.
Tanpa mengecualikan Kitab Suci, kami mempertahankan bahwa Sejarah
Gereja, Konsili-Konsili Umum, tulisan-tulisan Bapa Gereja, Liturgi,
monumen-monumen Seni Kristiani dalam lukisan, pahatan, ruang bahwa
tanah, koin-koin, prasasti, ukiran, katakombe – semuanya membuktikan
Iman umat Kristen perdana sedemikian rupa sehingga, apabila bukti
lainnya gagal, “batu-batu akan berteriak,” “Lapides clamabunt.’[2]
Dokumen-dokumen dari Kekristenan purba mengandung sabda Allah dalam
satu atau lain cara. Mereka memperlihatkan kehidupan Gereja sehari-hari,
ajarannya, imannya, praksisnya, dan, yang terpenting, identitas iman dan ajaran Gereja perdana dengan Gereja Katolik hari ini. Dengan
kata lain, kehidupan Gereja yang sejati adalah satu dan selalu sama:
hatinya, seakan-akan, berdetak serempak dalam semua generasi. Tidak ada
perubahan Iman, tidak ada pengubahan substansial dalam praksisnya, tidak
ada perubahan vital dalam ajarannya.
Sekalipun semua dokumen dan monumen ini penting – Kitab Suci tidak
dikecualikan – mereka bukanlah organ utama Tradisi, yaitu, mereka
bukanlah sarana-sarana utama, yang melaluinya Agama Katolik harus
diketahui. Suksesi Apostolik yang senantiasa hidup dan infalibel, atau
lembaga mengajar Gereja yang hidup, adalah satu organ kasatmata, yang,
dengan menggunakan semua materi yang luas ini, menuntun manusia kepada
pengetahuan tentang Kristus yang sejati. Ia adalah saluran utama yang
melaluinya semua doktrin Kristiani mengalir. Kitab Suci dan Tradisi
pastinya adalah sabda Allah, dan konsekuensinya, merupakan Pedoman Iman
kita. Tapi mereka tidaklah demikian apabila dipertimbangkan dalam
dirinya, melainkan karena disetujui oleh persetujuan umum Gereja.
Sebagaimana dinyatakan Konsili Vatikan I: “Melalui iman yang Ilahi dan
Katolik semua hal-hal itu harus diimani, yang terkandung dalam sabda
Allah yang tertulis atau yang disampaikan, dan yang diajukan oleh Gereja
melalui penilaian definitifnya atau pengajaran biasa dan universal, sebagai hal yang diwahyukan secara ilahi.”[3]
Selain Kanon Kitab Suci, definisi-definisi dogmatik dari
Konsili-Konsili Umum dan Paus Roma, juga definisi-definisi
Konsili-Konsili partikular, yang disetujui secara resmi oleh
Takhta Suci; pengakuan-pengakuan Iman yang dikeluarkan Gereja yang
diwajibkan atas umat beriman; Simbol-Simbol paling kuno, semua ini
termasuk ke dalam penilaian defiinitif Gereja.
Liturgi, Sejarah Gereja, Tindakan-Tindakan para Martir,
monumen-monumen Seni Kristiani, persetujuan umat beriman dan
sekolah-sekolah teologi, serta tulisan-tulisan Bapa Gereja, semua ini
termasuk ke dalam pengajaran biasa atau universal Gereja.
Karena bukanlah bidang kami untuk menceritakan di sini tentang
Sejarah Gereja, Kisah Para Martir, Liturgi-Liturgi yang berbeda, atau
menghitung definisi-definisi dogmatik dari Paus Roma dan Konsili Umum,
maka cukuplah untuk menyatakan bahwa, bahkan pengetahuan dangkal akan
semua perkara ini sangatlah berguna bagi para pelajar Agama Katolik yang
mencari kebenaran. Misalnya, sebagaimana Liturgi di masa lalu dan masa
kini, merupakan ungkapan praktis dan lahiriah akan iman batin orang
Kristen, seseorang dapat memilah apa yang diimani dan dilakukan umat
Kristen perdana dengan membandingkan praksis-praksis dan upacara-upacara
Gereja hari ini dengan praksis-praksis dan upacara-upacara yang
dijelaskan dan digambarkan dalam Liturgi-Liturgi kuno Gereja. Karenanya
terdapat ungkapan Bapa Gereja: “Cara berdoa memperlihatkan cara kita
beriman.” “Legem credendi lex statuat supplicandi.”
Oleh karena itu, kami akan membatasi bahasan ini pada dokumen-dokumen
tertentu yang diperlukan untuk menjaga dan menyebarkan Agama sejati –
dokumen dan monumen yang merupakan sarana tak ternilai di tangan Gereja,
yang terhubung secara erat dengan Suksesi Apostolik. Tugas kami adalah
menggambarkan apakah penilaian definitif Gereja dan ajaran Gereja yang
biasa; apa maksud tulisan-tulisan Bapa Gereja; apakah Syahadat (Simbol)
itu, apakah nilai dari persetujuan Sekolah Katolik dan umat Kristen
Katolik, apa yang dapat dipelajari dari Katakombe dan dari monumen
Kristen lainnya. Sebagaimana Bapa Gereja adalah sumber utama, maka kami
akan membahasnya dalam bab tersendiri.
2
Penilaian definitif Gereja adalah bukti infalibel dari Tradisi Ilahi.
Ajaran Kekristenan harus dilindungi dari semua kekeliruan. Iman harus
dijaga. Hal ini tersirat dari perintah yang Kristus berikan kepada
Gereja: “Pergilah, ajarlah semua Bangsa … dan lihatlah Aku menyertai
kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.”[4]
Di sisi lain, anggota-anggota Gereja dipanggil tidak hanya untuk
mengimani ajaran yang mereka terima, tapi juga mengungkapkan keyakinan
itu. “Karena dengan hati orang percaya dan dibenarkan, dan dengan mulut
orang mengaku dan diselamatkan.”[5]
Hal ini menjadi sebuah keharusan di waktu bahaya. Untuk alasan inilah
Gereja, menurut situasi dan hakikat kesesatan, dari waktu ke waktu harus
memperingatkan umat berimannya, menjaga iman mereka melalui tindakan
pencegahannya, entah dengan deklarasinya yang infalibel, pengakuan akan
kebenarannya seara publik, atau pernyataan-pernyataan definitifnya.
Semua ini dapat disebut sebagai penilaian definitif (solemn judgment)
Gereja. Yang termasuk ke dalam penilaian definitif ini adalah semua
definisi dogmatik, yang dinyatakan dan diumumkan Paus Roma, sebagai
Kepala Gereja, atau oleh Konsili Umum yang disetujui Takhta Suci.
Definisi-definisi dogmatik adalah jawaban-jawaban Gereja. Mereka
adalah pernyataan-pernaytaan infalibel, yang didasarkan pada
infalibilitas yang diberikan Kristus kepada Paus Roma dan kepada Gereja.
Misalnya Definisi Dogmatik Maria yang Dikandung Tanpa Noda. Pada
tanggal 8 Desember 1854, Paus Pius IX mengumumkan, menyatakan, dan
mendefinisikan bahwa Maria, Bunda Allah, “dari momen pertama
pengandungannya, melalui privilese dan rahmat istimewa, yang diberikan
Allah, sambil mengingat jasa-jasa Yesus Kristus Juru Selamat umat
manusia, ia dilindungi dan dikecualikan dari semua noda dosa asal.”[6]
Pengakuan Iman dan Syahadat (Simbol) berada di dalam wilayah
yurisdiksi khusus Gereja. Tentang Simbol-Simbol yang berbeda, akan kami
bahas kemudian.
Pengakuan Iman memperlihatkan apa yang Gereja imani dan
lakukan ketika Pengakuan tersebut dikeluarkan. Ia merupakan eksposisi
yang lebih lengkap akan beberapa artikel Iman. Ketika
kebenaran-kebenaran pokok tertentu diserang atau disangkal, Gereja
memerintahkan mereka, yang kewajibannya adalah membela dan melindungi
apa yang selalu dianut oleh umat beriman, untuk melakuan pengakuan
publik dan lengkap akan ajaran-ajarannya. Pengakuan iman yang paling
terkenal adalah: Pengakuan Tridentine, yang disebut demikian
karena ia adalah rangkuman dari apa yang didefinisikan dan dinyatakan
sebagai perkara Iman oleh Konsili Trente. Ia ditetapkan oleh Konsili
yang sama di bawah Pius IV tahun 1564. Ia diakhiri dengan kata-kata ini,
“Dalam cara yang sama, semua hal lain, yang telah diserahkan,
didefinisikan, dan dinyatakan oleh Kanon-Kanon Suci dan Konsili-Konsili
Ekumenis, saya menerima dan mengakui tanpa ragu.” Tahun 1877 Kongregasi
Konsili Vatikan I memerintahkan penambahan kata-kata berikut: “dan oleh
Konsili Ekumene Vatikan, diserahkan, didefinisikan, dan dinyatakan,
khususnya tentang Primat dan Infalibilitas Paus Roma.”
Tiga Pengakuan Iman lainnya yang terkenal adalah: pengakuan iman yang
ditetapkan untuk orang Yunani oleh Paus Gregorius XIII; yang lainnya,
yang diterapkan atas kaum Oriental oleh Paus Urban VIII dan Benediktus
XIV. Pengakuan Iman terakhir ditetapkan untuk seluruh klerus Katolik
oleh Paus Pius X, guna menentang kekeliruan-kekeliruan kaum Modernis.
Semua Pengakuan ini dan juga Definisi Dogmatik Gereja merupakan
Penilaian-Penilaian definitif Gereja; konsekuensinya, mereka adalah
bukti infalibel akan Tradisi Ilahi, sebab mereka berasal dari Paus Roma,
sebagai Kepala Gereja, yang infalibel. Terlebih, kapanpun dokumen resmi
Gereja menunjukkan ajaran dalam cara yang demikian sehingga persetujuan
Suksesi Apostolik diperlihatkan, maka terjadi pula bahwa
anggota-anggota yang sama dari Suksesi Apostolik itu bukanlah saksi pribadi, melainkan saksi publik yang
termasuk ke dalam zaman-zaman Gereja yang berbeda: karenanya mereka,
seakan-akan, merupakan saksi masa kini, yang tidak memberikan pendapat
pribadi mereka, tapi menunjuk pada kesaksian bulat Tradisi.
Agustinus berbicara ke intinya: “Apabila Sinode episkopal dapat
dipanggil dari setiap bagian dunia, akan menjadi sebuah kekaguman
apabila mereka semua dapat ambil bagian di dalamnya. Sebab, mereka tidak
hidup di waktu yang sama, tapi Allah memanggil beberapa pelayannya yang
setia, yang lebih mulia daripada yang lainnya seturut waktu dan tempat
yang berbeda, seperti yang Ia kehendaki dan sebagaimana hal itu
bijaksana dalam penilaian-Nya. Kendati demikian, mereka ini, kamu
melihatnya dari waktu dan tempat yang berbeda, dari Timur dan Barat,
mereka berkumpul tidak ditempat yang tidak dapat dijangkau manusia, tapi
dalam buku-buku yang dapat menjangkau manusia. Semakin lemah lembut
hakim-hakim itu bagimu, apabila kamu berpegang pada iman Katolik,
semakin mengerikan mereka bagimu, apabila kamu menentang Iman Katolik;
yang kamu hisap seperti susu dalam masa kanak-kanak mereka, yang mereka
ambil makanan darinya, yang susu dan makanannya mereka bagikan kepada
anak-anak dan orang dewasa; yang secara terbuka dan tegas mereka bela
dari musuh-musuhnya ketika kamu belum lahir dan sekarang mereka bela
darimu, karena demikianlah kamu menyingkapkan dirimu. Sesudah Para
Rasul, Gereja telah berkembang dengan kehadiran para penanam, pengair,
pembangun, gembala, dan perawat tersebut.”[7]
Demikianlah senantiasa otoritas para Uskup Gereja Katolik. Kesaksian
bulat mereka dalam persetujuan dan persatuan dengan Kepala Gereja,
sebagaimana yang akan kita lihat, adalah bukti akan Tradisi Ilahi.
Penilaian definitif mereka adalah bukti akan Tradisi Ilahi.
3
Syahadat Para Rasul sungguh bersifat “Apostolik”, tidak hanya dalam ajarannya, tapi juga dalam asalnya.
Kata Simbol, secara umum, memiliki tiga arti. Ia dapat berarti kumpulan banyak hal; sebuah lambang, yang melaluinya militer dibedakan dari penduduk sipil; sebuah tanda
yang melaluinya kontrak dianggap otentik atau asli. Tiga arti ini
secara mengagumkan diselaraskan dengan Simbol-Simbol Iman kita. Simbol
adalah kumpulan, atau rangkuman dari apa yang harus diimani; sebuah
lambang yang melaluinya orang Kristen dibedakan dari orang kafir; sebuah
tanda perjanjian yang mana kita masuk ke dalamnya bersama Allah dalam
Baptisan. Simbol, karenanya, adalah kumpulan pendek dan sederhana dari
hal-hal yang harus diimani secara hakiki oleh semua orang Kristen.
Jumlahnya ada tiga, sebagaimana disetujui Gereja. Ketiganya adalah
Simbol para Rasul, Simbol Nicea – Konstantinople, dan Simbol Athanasius.
Ketiganya diketahui secara universal, sehingga bahkan Gereja Yunani dan
banyak kaum Protestan mengakuinya.
Kegunaan mereka dapat disimpulkan dari fakta bahwa guru-guru
terpandang memiliki Simbol-Simbol yang berguna bagi guru dan murid. Baik
Para Rasul dan Gereja purba menggunakan metode ini bagi murid-murid
mereka. Ia cukup sederhana untuk dimengerti oleh orang bodoh; cukup
pendek untuk diingat; dan cukup dalam bagi kaum terpelajar untuk
mempelajarinya, merenungkannya, dan diteguhkan olehnya.
“Simbol Para Rasul” atau “Kredo Para Rasul” sebagaimana secara umum
disebut oleh umat beriman, sejauh ini merupakan Simbol Kristiani
terpenting dan paling dikenal. Sekalipun terdapat penyelidikan yang
tajam oleh “kritikus terpandang” – baik dari Katolik dan Protestan – ia
tetap sungguh “Apostolik.” Hal ini benar, tidak hanya menyangkut ajaran
yang dikandungnya, tapi juga asal usulnya. Bisa saja benar bahwa tiap
kedua belas artikel, yang menyusun Simbol tersebut, tidak boleh secara
terpisah dan eksklusif diatributkan kepada satu Rasul tunggal. Bisa jadi
benar bahwa ia tidak sampai kepada kita seutuhnya dalam bentuknya saat
ini. Tapi tidak ada kritikus, betapapun besarnya dia, yang dapat
membantah kaidah emas St. Agustinus, yaitu “apapun yang sampai kepada
kita dari para tetua, dan tidak berasal dari Konsili atau Gereja, maka
itu berasal dari Para Rasul.”
Perintah terakhir yang diterima Para Rasul dari Kristus sebelum
Kenaikan-Nya adalah untuk mengajar dan membaptis. “Pergilah ke seluruh
dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk. Siapa yang percaya dan
dibaptis akan diselamatkan, tetapi siapa yang tidak percaya akan
dihukum.”[8]
Sadarilah, pertama, hubungan antara keyakinan dan penerimaan
Baptisan. Seseorang harus percaya sebelum ia menerima Baptisan. Para
Rasul diutus ke dunia, bukan untuk mempertobatkan anak-anak, tapi
generasi orang dewasa. Dan apa yang harus dipercaya? Hanya arti
kata-kata Baptisan dan implikasinya: apapun yang berhubungan dengan Bapa
dan Putra dan Roh Kudus. Karenanya, seseorang harus mempercayai Misteri
yang mengandung semua misteri lainnnya, yaitu Misteri Tritunggal
Mahakudus, dengan semua artinya, pentingnya dan maksudnya. Syarat ini,
sebelum penerimaan Baptisan, sungguh diperlukan hari ini, sebagaimana di
setiap abad, dan sama seperti di masa Para Rasul. Bahwa Para Rasul
menuntut keyakinan eksplisit dalam Allah sebelum memasukkan siapa saja
ke dalam Gereja, dapat kita simpulkan dari pengakuan iman dalam Kristus
yang ditetapkan Rasul Filipus bagi sida-sida[9],
sebagai persiapan menuju Baptisan. Keyakinan eksplisit itu adalah
rangkuman dari keberadaan dan sifat-sifat Tiga Pribadi Ilahi. Umat
berimannya menamainya Para Rasul. Mereka melakukannya karena Para Rasul,
sebagai Pendiri Gereja dan Legislator tertinggi, mewajibkannya pada
mereka semua yang ingin menjadi anggota Gereja. Jika siapa saja pada
masa-masa berhala universal itu harus percaya pada apapun, itu haruslah
sesuatu yang menjadi pukulan telak di jantung berhala: yakni keyakinan
akan Allah dalam Tiga Pribadi Ilahi. Inilah hal terkecil yang dapat
diharapkan dari mereka yang memasuki Gereja dalam nama Tiga Pribadi
Ilahi: Bapa, sebagai Pencipta; Putra, sebagai Penebus; Roh Kudus,
sebagai Pengudus.
Simbol Para Rasul, karenanya, merupakan eksposisi lengkap atas
Misteri Tritunggal Mahakudus. Di sepanjang zaman, Gereja, seperti dalam
Konsili Nicea, membuat penambahan baru ke dalam Kredo Para Rasul untuk
mengimbangi inovasi yang bertentangan dengan Iman. Para Rasul yang
berpandangan jauh ke depan juga menjaga Misteri Trinitas dalam
hal-halnya yang paling hakiki dari kesesatan. Untuk sesaat, kita bahkan
tidak bisa mempertimbangkan sebuah gagasan bahwa Para Rasul kurang
berpandangan jauh ke depan daripada Suksesi Apostolik mereka yang
senantiasa hidup.
Di sepanjang waktu, sedikit penambahan telah ditambahkan kepadanya.
Tapi itu tidaklah sangat penting. Ia merupakan detil-detil dari ajaran
utama yang terkandung dalam Kredo.
Penambahan-penambahan minor ini, terutama yang berasal di Roma selama
Abad Keenam, disetujui sepenuhnya dan digunakan oleh Gereja Universal.[10]
Kendati demikian, tak seorangpun harus merasa heran bahwa Simbol,
yang merupakan karya Para Rasul, harus mengalami perubahan kecil ini.
Sebab, Para Rasul menuntut keyakinan dalam Tritunggal Kudus, ketika
mereka mengajarkannya melalui mulut mereka. Apabila hal ini diberikan dalam tulisan, maka pastinya telah menjadi bagian Kitab Suci. Karenanya, dengan digunakan terus menerus di dalam Gereja, ia menjadi tradisi lisan, dan
karenanya tunduk pada Kuasa Petrus. Oleh karena itu, kekosongan apapun
yang dapat ada di antara bentuk Romawi kuno dan masa Para Rasul harus
diisi oleh kaidah emas St. Agustinus, seperti yang telah kita nyatakan
di atas.
Persoalannya ialah apakah ia sungguh dan secara otentik sampai pada
kita dari Para Rasul sendiri. Seharusnya ada keraguan yang sangat kecil
dalam hal ini. Apabila orang berpikir bahwa dalam tahun-tahun pertama
Kekristenan, tidak ada jejak Simbol yang muncul di dalam Gereja, mereka
seharusnya mengetahui bahwa kebijakan Kristiani pada saat itu, yang
disebut Disiplin Rahasia – Disciplina Arcani – sedang
diterapkan sepenuhnya saat itu. Pengetahuan akan misteri-misteri
Kekristenan yang paling dalam dengan hati-hati dilindungi dari kaum
kafir dan orang Yahudi, dan juga dari mereka yang untuk beberapa waktu
menjalani pengajaran dalam Iman. Disiplin Rahasia ini selalu mencegah
perlindungan dalam penulisan Kredo, yang mengandung misteri-misteri
utama Agama Kristen. Menurut tindakan pencegahan masa purba, Kredo harus
dipelajari dari hati dan tidak pernah diperuntukkan untuk dituliskan.
Disiplin Rahasia berasal dari masa Apostolik. Ia disebutkan oleh karya
Origen yang menentang Celsus[11] pada Abad Ketiga, dan sebelum dia, oleh Tertullian[12],
yang berasal dari Abad Kedua. Sikap diam tersebut diterapkan bagi semua
Sakramen, tapi terutama khususnya bagi Ekaristi Suci dan ajaran
Tritunggal Mahakudus. Sampai kebenaran tentang keesaan Allah telah masuk
ke dalam hati orang kafir, barulah ia dapat diajarkan dengan lebih aman
ke dalam Misteri Tritunggal yang lebih mendalam. Untuk alasan itulah ia
tidak pernah diajarkan kepada Katekumen sebelum mereka siap menerima
Baptisan. Kita mengetahui hal ini dari St. Ambrosius dalam Suratnya
kepada saudarinya Marcellina. Ia berkata bahwa pada Hari Tuhan, dengan
membubarkan para Katekumen, ia mengajarkan Kredo hanya kepada mereka
yang secara memadai sudah berkembang[13].
St. Sirilus juga menulis: “Kami tidak menyatakan misteri-misteri
rahasia kepada setiap orang non-Yahudi, yakni tentang Bapa, Putra, dan
Roh Kudus.”[14]
Kenyataan ini sangatlah penting ketika kita mempertimbangkan bahwa St.
Ambrosius hidup di Abad Keempat dan St. Sirilus di Abad Kelima; di masa
ketika tidak banyak bahaya penganiayaan. Walau demikian, masih tetap
dianggap bijaksana untuk tidak membuka ajaran-ajaran yang berhubungan
dengan Tritunggal Kudus secara sembarangan. Lebih disukai bila semua
orang mengingat Kredo, guna menjaganya dari hinaan massa kafir dan untuk
membedakan umat beriman dari orang kafir dan Yahudi. Komitmen terhadap
ingatan ini juga menjelaskan mengapa ajaran Tritunggal ini, sebagaimana
termuat dalam Kredo, telah dijaga dalam sebuah bentuk yang berkesinambungan.
Tapi tidaklah benar bahwa tidak ada jejak yang jelas akan Kredo Para
Rasul yang ditemukan di tahun-tahun pertama Kekristenan. Sebelum
pertengahan Abad Kedua, di Roma kita menemukan sebuah Kredo, yang dalam
kelengkapannya identik secara hakiki dengan Kredo yang kita daraskan
setiap hari.[15]
Merupakan fakta yang menonjol bahwa di Abad Keempat, Gereja-Gereja
Timur didapati memiliki Kredo, yang secara ketat selaras dengan Kredo
Romawi lama. Dua fakta ini menunjukkan asal-usul yang sama: keduanya
hanya dapat berasal dari Para Rasul dalam perjalanan mereka ke seluruh
dunia.
Menuju akhir Abad Kedua kita mendapati di Afrika Utara, dan juga di
Perancis Selatan, sebuah Kredo, yang sangat menyerupai dan selaras
dengan Kredo Romawi yang sama. Dalam karyanya, De Praescript,
Tertullian mereproduksi “Regula Doctrinae” (Kaidah atau ajaran Iman) dan
sesudah menjelaskan secara rinci bahwa melalui “Regula Doctrinae” ini,
ia memahami apa yang secara praktis substansial dengan Kredo Romawi, ia
bersikukuh dengan amat empatik bahwa “kaidah” ini ditetapkan Kristus dan
diteruskan pada kita (tradita) oleh Para Rasul[16]. St. Irenaeus, murid St. Polikarpus yang merupakan murid Rasul St. Yohanes, juga menulis dalam cara yang sama.
Kita dapat dengan mudah menyimpulkan bahwa Kredo Romawi diteruskan
kepada komunitas Romawi oleh Rasul Petrus dan Paulus; bahwa Gereja
Afrika dan Timur telah menerima Kredo yang sama dari Para Rasul yang
sama, atau dari salah satu Rasul lainnya, dan bahwa dalam waktu singkat,
ia telah tersebar ke seluruh dunia.
Juga harus dicatat bahwa rahib Rufinus di Abad Keempat, setelah
mengunjungi Timur, menulis bahwa Simbol di Gereja Timur diterima dari
zaman awal “tradunt majores nostri.” Bisa jadi ia tidak benar ketika
menyatakan bahwa Para Rasul menyusunnya bersama-sama pada Hari
Pentakosta. Tapi ia hampir tidak bisa membuat pernyataan tersebut
apabila Simbol itu di mana saja tidak diyakini berasal dari Para Rasul,
dan bahwa ia secara penuh selaras dengan bentuk Romawi.
APPENDIKS A
Pembelaan terhadap Apostolisitas Kredo ini tidak akan lengkap tanpa
menempatkan secara berdampingan Kredo Romawi lama dan Kredo yang sejak
abad Keenam telah digunakan di dalam Gereja.
| Bentuk Romawi yang lama |
Bentuk Romawi yang lebih baru |
| Aku percaya akan Allah, Bapa yang Mahakuasa |
Aku percaya akan Allah, Bapa yang Mahakuasa, Pencipta langit dan bumi |
| Dan dalam Yesus Kristus, Putra-Nya yang tunggal, Tuhan kita; |
Dan akan Yesus Kristus, Putra-Nya yang Tunggal, Tuhan kita; |
| Yang lahir dari Roh Kudus dan berasal dari Perawan Maria |
Yang dikandung dari Roh Kudus, dilahirkan oleh Perawan Maria |
| Yang disalibkan dalam pemerintahan Pontius Pilatus dan dimakamkan; |
Yang menderita sengsara dalam pemerintahan Pontius Pilatus, disalibkan, wafat, dan dimakamkan, |
| Pada hari ketiga Ia bangkit lagi dari mati; |
Ia turun ke tempat penantian: pada hari ketiga Ia bangkit dari mati; |
| Ia naik ke Surga; |
Ia naik ke Surga, duduk di sisi kanan Allah Bapa yang Mahakuasa; |
| Duduk di sisi kanan Bapa; |
Dari situ Ia akan datang untuk mengadili oran hidup dan mati. |
| Dari sana Ia akan datang untuk mengadili orang hidup dan mati |
Aku percaya akan Roh Kudus. |
| Dan dalam Roh Kudus, |
Gereja Katolik yang Kudus, persekutuan para kudus, |
| Gereja yang Kudus |
Pengampunan dosa, |
| Pengampunan dosa, |
Kebangkitan badan, dan |
| Kebangkitan badan. |
Kehidupan kekal. |
Simbol Para Rasul, oleh karena itu, sungguh bersifat Apostolik, tidak hanya dalam ajaran tapi juga dalam asal-usulnya.
4
Simbol Nicea – Konstantinopel dan Simbol Athanasius adalah sebuah pembelaan terhadap Misteri Tritunggal Mahakudus.
Penganiayaan besar selama tiga abad pertama terhadap Gereja memiliki
satu dampak yang baik. Ia menegaskan keilahian Gereja. Alam maut dan
kesesatan telah melampaui batasan mereka dalam mencabut pohon dari bumi,
yang telah ditanamkan Kristus dan Para Rasul dan diperciki dengan darah
mereka. Kombinasi kekuatan jahat begitu kuat sehingga Gereja pasti
takluk, apabila ia bukan karya Allah. Kemenangan Gereja, meski demikian,
begitu sempurna sehingga akhirnya perdamaian diberikan padanya di
seluruh Kekaisaran Romawi. Salib mengatasi kuil pemujaan dewa-dewa
palsu.
I. Bagian awal dari Abad Keempat memberikan tontonan, dalam
kecemerlangannya dan konsekuensi masa depannya, yang tak tertandingi
dalam sejarah peradaban. Gereja memukul Paganisme, yang darinya
Paganisme tidak pernah pulih kembali. Peradaban, yang dulunya pagan,
kini menjadi Kristen.
Tapi perdamaian tidak bertahan lama. Besama Julian si Murtad,
Paganisme muncul kembali, sementara Ular kesesatan juga mengancam
kehidupan Gereja. Dengan bantuan Allah, ia keluar sebagai pemendang
dalam kedua konflik itu. Di satu sisi, dari Naga Paganisme yang
menghembuskan nafas terakhirnya, dan di sisi lain, dari kepala-kepala
berdarah dari Ular kesesatan yang berlipat ganda.
Kesesatannya adalah Arianisme. Musuh baru! Bukan ajaran spekulatif
yang diingkarinya. Bukan pula sifat Gereja tertentu yang ditentangnya.
Melainkan upaya iblis untuk merampas Putra Allah dari Keilahian-Nya.
Arianisme menolak mengakui bahwa Yesus Kristus adalah Allah, Allah
dari Allah, Allah benar dari Allah benar. Para Uskup dengan nama besar
mengikuti Arius, pendirinya. Konstantin, yang memberikan perdamaian
kepada Gereja, melindungi Arius. Beberapa penerusnya mengakui tujuannya.
Ajaran baru, bak padang rumput berapi, segera tersebar ke empat penjuru
Kekaisaran. Ia menaklukkan banyak bangsa sebelum ia dapat diatasi
dengan berhasil. Ia tersebar secara universal, sehingga St. Hieronimus,
Bapa Gereja, yang melihat penghancuran tersebut di dalam Gereja, seraya
berseru walau agak berlebihan: “seluruh dunia merintih dan heran karena
mendapati dirinya sebagai Arian.”
Tapi Allah menolong Gereja-Nya. Apabila Arius adalah seorang jenius
dan pribadi yang menarik, maka ada Athanasius, Diakon muda, dan Patriak
Alexandria agung di masa depan! Allah memanggilnya untuk menopang
Gereja-Nya dalam periode panjang pencobaannya yang terbesar. Kehidupan
aktifnya dapat dikatakan telah bermula dan berakhir demi Keilahian
Kristus. Kemampuannya yang terkemuka, keberanian yang diperlihatkannya
dalam membela Dogma Katolik, karir penuh badai dalam kehidupannya yang
panjang, membuat dia sebagai salah satu jawara Katolisisme militan
terbesar yang pernah dikenal Gereja. Ia mengkonsekrasikan seluruh
dirinya kepada apa yang ia imani sebagai kebenaran pertama dan paling
hakiki dari Kredo Katolik. Lima kali ia diusir dari Takhtanya oleh
musuh-musuhnya dan dikirim ke pengasingan, dan lima kali pula ia
disambut kembali dengan antusias oleh umatnya. Akhirnya, Dogma Keilahian
Kristus menang. Primat agung Alexandria, sesudah lebih dari empat puluh
tahun menjalani karir episkopal penuh badai, meninggal dengan damai di
tempat tidurnya, seraya dikelilingi klerusnya dan diratapi oleh umatnya.
Sementara itu, kendati demikian, Kekristenan tampaknya terbelah dan
terpecah ke dalam faksi-faksi. Kaisar Konstantin, setelah menaklukkan
Licinius, menjadi satu-satunya penguasa seluruh Kekaisaran Romawi.
Setelah menetapkan kembali tatanan sipil di mana saja, ia gelisah untuk
memulihkan juga perdamaian religius. Untuk tujuan ini, dan sangat
mungkin bersama dengan Paus Silvester, ia mengadakan Konsili Umum Para
Uskup Gereja. Pertemuan agung itu terjadi di Nicea tahun 325, yang
dikenal sebagai Konsili Ekumenis Pertama Gereja. Tiga ratus delapan
belas Uskup, sebagian besar dari mereka termasuk ke dalam Gereja Timur,
dan banyak ratusan lebih para Teolog, menghadirinya. Di antaranya adalah
diakon muda Athanasius, yang, sebagai Sekretaris dan penasihat
teologis, menemani St. Alexander, Primat Alexandria, ke dalam Konsili.
Arius juga ada di sana. Ia sering dipanggil di hadapan majelis, tapi
setelah melewati banyak sesi dan diskusi, para Uskup, kecuali dua orang,
menyatakan dan mendefinisikan bahwa Yesus Kristus, Putra Allah,
“kosubstansial” atau koesensial (sehakikat) dengan Bapa. Artinya, Ia
sehakikat atau sekodrat dengan Bapa, walaupun “Bapa” dan “Firman” adalah
dua Pribadi berbeda. Arius menolak untuk patuh. Ia diasingkan ke
Illyria dan tulisan-tulisannya dibakar.
Damai yang diberikan Konsili Nicea kepada Gereja tidak bertahan lama.
Pada tahun 330, kampanye intrik, yang dilakukan terutama melalui rumah
tangga kekaisaran, membujuk Kaisar Konstantin untuk memanggil kembali
Arius dan para Uskup Arian dari pengasingan mereka, sambil bersikeras
agar mereka dimasukkan kembali dalam persekutuan. Tapi St. Athanasius,
yang saat ini telah menjadi Primat Alexandria, menolak menaati
permintaan kekaisaran.
Cukuplah di sini untuk mengamati bahwa ketika Gereja, oleh karena
situasi-situasi tertentu, diharuskan mengandalkan Pangeran-Pangeran
duniawi, peristiwa-peristiwa telah memperlihatkan bahwa intervensi
mereka, sebagai aturan umum, telah lebih banyak merugikan daripada
melakukan kebaikan bagi Gereja. Campur tangan Konstantin dan banyak dari
penerusnya sering kali memaksa Athanasius dan banyak Uskup ortodoks
lainnya untuk meninggalkan Takhta mereka dan pergi ke pengasingan dan
merugikan Kekristenan. Para Paus waktu itu, Silvester, Yulius dan
Liberius melakukan semua yang mereka bisa untuk menolong para pembela
Ortodoksi; tapi karena jauh dari pusat kontroversi dan seleksi para
Uskup, yang mana saat itu seleksi tersebut diserahkan kepada para
pangeran sekuler dan umat, mereka hampir tidak bisa menugaskan Katekumen
agung, Konstantin, atau para penerusnya yang berkuasa. Hanya sesudah
kematian Athanasius, maka Kaisar Theodosius memanggil Konsili Para Uskup
lainnya untuk menegaskan dan menerapkan Kredo Nicea dan mengakhiri
kesesatan Macedonian, yang menolak Prosesi Roh Kudus. Ia diadakan di
Konstantinople pada tahun 381.
Konsili Konstantinople Pertama ini awalnya adalah Konsili Timur. Ia
dihadiri oleh 150 Uskup Katolik dan 36 uskup bidat, dan diketuai pertama
oleh Meletius dari Antiokia, dan sesudah kematiannya, oleh para
patriaknya yang selanjutnya, St. Gregorius dari Nazianzus dan Nectarius.
Tapi karakter ekumenis dari Konsili ini berasal dari Konsili Chalcedon
yang diadakan tahun 451. Gregorius Agung, juga Paus Vigilius dan
Pelagius II mengakuinya sebagai Konsili Umum, tapi hanya dalam
dekrit-dekrit dogmatisnya.
Konsili ini, menurut versi Latin tertua, memiliki empat kanon, yang
pertama merupakan yang terpenting dan berkaitan dengan persoalan kita.
Ia mengutuk semua bayang-bayang Arianisme.
Rumusan yang disebut Simbol Nicea-Konstantinople biasanya
diatributkan kepada Konsili ini. Konsili Chalcedon menetapkan Simbol itu
sebagai “Kredo Konsili Konstantinople 381.” Menurut opini yang paling
umum[17],
rumusan Kredo Konstantinople mencakup pernyataan Nicea terpenting
mengenai Roh Kudus. Pengarangnya tampaknya merupakan St. Sirilus dari
Yerusalem (315-386).
Sekalipun demikian, rumusan Yerusalem dan Konstantinople merupakan
perluasan dari Kredo Nicea. Apabila rumusan yang digunakan sekarang
tidak sungguh berasal dari Konsili Konstantinople, pastinya bahwa
Konsili Chalcedon (451) mengatributkannya pada Konsili Konstantinople
Pertama. Apakah Konsili ini sungguh menyusunnya, atau sekadar
menggunakan dan mengesahkannya, faktanya tetap bahwa rumusan itu adalah
ungkapan sejati dari Iman para Bapa yang berkumpul dalam Konsili itu.
Tapi, sebagaimana Gereja tidak secara umum menetapkan definisi
definitif tanpa keharusan, maka Konsili Konstantinople tidak menyebutkan
Prosesi Ganda Roh Kudus dari Bapa dan Putra: ia hanya menyatakan dan
mendefinisikan Prosesi ini berasal dari Bapa. Di sepanjang waktu, kita
mendapati, dalam Gereja Spanyol, sesudah pertobatan kaum Goth, yang
terjadi dalam Sinode Toledo Ketiga, penambahan Filioque (Prosesi
Roh Kudus juga berasal dari Putra) dinyanyikan dalam Kredo. Praktik ini
menyebar dengan lambat ke setiap bagian Gereja Barat dan pada Abad
Kesebelas ia memperoleh pijakan yang kuat bahkan di Roma, sehingga Paus
Benediktus VIII, atas permintaan Kaisar Henry, dengan enggan, tapi
dengan bebas dan meriah, mengizinkan Simbol tersebut, dengan penambahan Filioque, untuk dinyayikan di hadapannya tahun 1014.
Doktrin Katolik ini diterima oleh para Uskup Yunani pada Konsili
Lyons Kedua tahun 1274, dan pada Konsili Florence tahun 1439. Dalam
kepulangan mereka ke Takhtanya, para Uskup Yunani gagal membawa umat
bersama mereka, dan skisma yang dimulai Photius, Patriak Konstantinople,
pada tahun 870 karena penambahan Filioque berubah menjadi
kesesatan dan berlanjut sampai hari ini. Para Patriak Konstantinople dan
para Uskup Yunani lainnya mendapati dalam doktrin Filioque dalih
yang terlalu bagus guna melepaskan semua ketergantungan dari saingan
Konstantinople yang kuno. Mereka lebih memilih untuk dipimpin Turban
dari Turki daripada Tiara Penerus St. Petrus. Keinginan mereka menjadi
kenyataan yang terpenuhi dan kenyataan itu bertahan sampai hari ini.
Berikut ini merupakan terjemahan dari teks Yunani bentuk
Konstantinople. Kata-kata dalam kurung adalah tambahan pada bentuk
Liturgis Barat, sebagaimana digunakan saat ini. “Aku percaya akan satu
Allah, Bapa yang Mahakuasa, pencipta langit dan bumi dan segala sesuatu
yang kelihatan dan tak kelihatan. Dan akan satu Tuhan Yesus Kristus,
Putra Allah yang tunggal, Ia lahir dari Bapa sebelum segala abad. (Allah
dari Allah) terang dari terang, Allah benar dari Allah benar. Ia
dilahirkan, bukan dijadikan, sehakikat dengan bapa, segala sesuatu
dijadikan oleh-Nya, Ia turun dari surga untuk kita manusia dan untuk
keselamatan kita. Ia dikandung dari Roh Kudus, dilahirkan oleh Perawan
Maria, dan menjadi manusia. Ia pun disalibkan untuk kita, waktu Pontius
Pilatus; Ia menderita sampai wafat dan dimakamkan. Pada hari ketiga Ia
bangkit menurut Kitab Suci. Ia naik ke surga, duduk di sisi Bapa. Ia
akan kembali dengan mulia, mengadili orang yang hidup dan yang mati;
kerajaan-Nya takkan berakhir. Aku percaya akan Roh Kudus, Ia Tuhan yang
menghidupkan; Ia berasal dari Bapa (dan Putra), yang serta Bapa dan
Putra, disembah dan dimuliakan; Ia bersabda dengan perantaraan para
nabi. Aku percaya akan Gereja yang satu, kudus, katolik dan apostolik.
Aku mengakui satu pembaptisan akan penghapusan dosa. Aku menantikan
kebangkitan orang mati
dan hidup di akhirat. Amin.”
II. Pernyataan-pernyataan yang sedikit namun penting harus dibuat
terkait dengan apa yang disebut “Kredo Athanasius.” Kredo ini adalah
eksposisi yang jelas akan doktrin Trinitas dan Inkarnasi. Ia disusun
dalam bentuknya saat ini untuk memperlihatkan secara benar Trinitas
Pribadi dalam Allah dan dua kodrat dalam satu Pribadi Ilahi Yesus
Kristus. Sampai Abad Ketujuh kredo tersebut diatributkan oleh semua
orang kepada St. Athanasius, Patriak Alexandria. Sekarang banyak kritik
berpendapat bahwa ia disusun hanya di bawah pengaruh Athanasius.
Gerard Voss berkata bahwa “tidak ada penulis otoritatif awal yang
berbicara tentangnya sebagai karya Doktor Gereja agung ini: karenanya ia
tidak seharusnya diatributkan kepada St. Athanasius.” Sekarang, jika
kita memeriksa dengan baik bukti sastrawi internal dari Simbol itu dan
waktu kemunculan pertamanya di dalam Gereja, tidak ada alasan mengapa ia
tidak seharusnya diatributkan kepada Primat Alexandria. Sebab, pada
tempat pertama, literatur Simbol memperlihatkan warna ungkapan dan
doktrinal yang mirip dengan literatur paruh kedua Abad Keempat, ketika
Athanasius hidup, dan dengan tulisan-tulisan Sang Santo. Terlebih,
penyelidikan terkini menghasilkan pendapat yang kuat bahwa Simbol
tersebut pastinya telah disusun dalam paruh kedua Abad Keempat, selama
kehidupan Patriak Timur yang Agung. Merupakan fakta sejarah bahwa di
Antiokia, Primat Alexandria berdialog dengan Kaisar Jovian, yang
memintanya mempersiapkan eksposisi Iman yang Ortodoks. Hal ini terjadi
di bulan September 363. Walaupun Kaisar wafat pada tahun selanjutnya,
seharusnya tidak ada alasan mengapa Athanasius tidak mematuhi permintaan
Kaisar dengan seketika, yang dengannya ia memiliki relasi yang
bersahabat. Siapakah yang dapat membuat pernyataan tersebut yang lebih
baik dari Athanasius? Bukankah klausula-klausula yang “mengutuk” atau
“mengerikan”, yang dengannya Simbol tersebut dibuka dan diakhiri, adalah
klausula yang paling pantas untuk Orang Kudus itu yang telah bertarung
begitu banyak demi Iman?
Sebagaimana semua keberatan terhadap kepengarangan Athanasius
tidaklah masuk akal, dan sebagaimana tidak ada alasan yang meyakinkan
yang diberikan terhadap fakta bahwa umat beriman dan Gereja sendiri,
sampai Abad Ketujuh, mengatributkan Kredo ini kepada Athanasius, kita
tidak seharusnya meragukan bahwa pengarang Kredo Athanasius adalah St.
Athanasius, Primat Alexandria. Walau demikian, kita tidak seharusnya
melupakan bahwa kepengarangan Kredo adalah hal yang penting secara
sekunder, sedangkan yang utama adalah kebenaran hakiki yang dikandungnya
dan disetujui oleh Gereja.
5
Keyakinan umum umat beriman adalah pedoman yang aman untuk Tradisi Ilahi.
Di atas kekacauan pendapat yang besar, dan masalah serta teori yang
sekarang mengganggu dunia Kristen, terdapat sesuatu dalam Gereja
Katolik, dan dalam Gereja itu saja. Itu adalah iman umat Katolik.
Kita tidak akan berbicara tentang Iman di sini, yang berasal dari
atas dan diwartakan oleh para pelayan Allah, tapi tentang iman, yang ada
dalam diri umat awam: iman itu, yang satu dalam segenap
panjang dan luasnya di bumi: yang merupakan keyakinan yang sedemikian
rupa, sehingga, sementara sisa dunia Kristen lainnya berada dalam
keraguan, umat Katolik teguh dalam keyakinan mereka. Apapun yang Gereja
Katolik ajarkan, mereka menerimanya. Gereja adalah juru bicara Allah,
yang tidak dapat menipu atau ditipu. Keyakinan tersebut bisa tidak
selalu sangat menonjol, tidak juga ia selalu tampil di permukaan. Ia
terletak lebih dalam. Ia ada di pikiran dan hati umat. Dalam arti
tertentu, ia membentuk pilar-pilar yang di atasnya Para Rasul telah
mendirikan bangunan Gereja.
Gereja Katolik tidak peduli dengan masalah-masalah agama yang lain
yang disebut Gereja-Gereja. Meski demikian, Ia tidak bisa tidak
memperhatikan tanah berbahaya yang mereka tapaki. Ia mengetahui dengan
baik bahwa ia adalah satu-satunya yang bisa dan pada akhirnya akan
menyelamatkan Masyarakat. Sebagai Gereja, Gereja tidak ikut campur
secara sosial dan politik dengan perkara duniawi bangsa apapun. Ia
menolong. Tapi ia tidak memaksakan dirinya pada Masyarakat dalam
perkara-perkara material. Ketika ajarannya diserang dengan keras dari
luar, atau ajaran baru dikembangkan dari dalam kawanan dombanya, yang
bertentangan dengan apa yang selalu diimani atau dilakukan, maka seluruh
Gereja berada dalam kegaduhan. Umat sendiri digegerkan. Mereka bertekad
dan memutuskan untuk menjaga apapun yang diteruskan pada mereka oleh
para kaum baheula dan menolak inovasi apapun harganya.
Inilah maksudnya. Ketika umat Katolik mempercayai bahwa sebuah ajaran
atau pendirian sebagai hal yang benar dan melaksanakannya, maka, kami
menyatakan bahwa keyakinan ini adalah tanda atau pertanda bahwa doktrin
atau pendirian ini adalah bagian dari Wahyu Ilahi, apakah ia terkandung
dalam Kitab Suci atau tidak. Kami mengacu pada persetujuan umat beriman
secara umum. Kami tidak berbicara tentang sebuah persetujuan dari pihak
sebagian umat beriman. Gereja-gereja individual atau bangsa-bangsa,
sebagai bangsa Inggris dan Skandinavia, dapat jatuh. Kami juga tidak
berbicara tentang sebuah persetujuan yag tidak selalu pasti dan jelas.
Ia haruslah universal sama seperti Gereja sendiri, dan mempercayainya
dengan jelas.
Semua ini tidak berarti bahwa umat Katolik memiliki hak untuk menolak
atau mempertahankan ajaran apapun atau bagian Wahyu apapun dari
otoritas mereka; tidak pula bahwa karunia infalibilitas terletak di
pihak umat Katolik.
Itu artinya bahwa pandangan, pengertian, dan keyakinan gereja universal tentang ajaran apapun, adalah sebuah bukti, atau kriteria, bahwa ajaran tersebut adalah bagian dari Tradisi Ilahi.
Kristus menetapkan Para Rasul dan para penerus mereka sebagai
pemimpin Gereja-Nya. Ia memerintahkan mereka untuk membaptis,
mewartakan, dan mengajar. Ia berjanji untuk menyertai mereka sampai
akhir zaman. Ia mengutus Roh Kudus untuk tinggal bersama mereka
selamanya. Semua ini berarti bahwa Kristus menjadikan Para Rasul dan
penerus mereka sebagai guru-guru yang infalibel.[18]
Walaupun demikian, Kristus menjadikan mereka infalibel, bukan hanya
demi mereka, tapi khususnya demi keuntungan semua umat beriman. Tujuan
dari institusi ilahi ini adalah pemeliharaan dan integritas Iman, tidak
hanya dalam diri mereka yang diperintahkan untuk mengajar, tapi lebih
lagi dalam diri mereka yang diperintahkan untuk mendengar.
Karunia-karunia ini diberikan Kristus demi kegunaan dan keperluan semua
tubuh Gereja-Nya. Oleh karena itu, jika guru-guru itu, di satu sisi,
diperintahkan Kristus untuk memimpin dan mengajar, di sisi lain, umat
mereka, wajib menaati mereka dalam hal apapun yang tergolong ke
dalam Deposit Iman. Jika guru-guru itu kebal dari mengajarkan ajaran
palsu, para murid mereka tidak bisa diajarkan ajaran palsu tersebut.
Jika guru-guru itu mengajar secara infalibel, maka para murid mereka,
yang mendengarkan dan menaati apa yang mereka ajarkan, juga infalibel dalam keyakinan mereka.
Para guru dan murid seperti anggota-anggota dari satu Tubuh – yang
disatukan oleh satu Iman – yang kepalanya adalah Kristus sendiri.
Tindakan-tindakan anggota-anggota ini selaras secara sempurna dengan
satu sama lain dalam arahan tertinggi kepala mereka, yakni Yesus
Kristus. Tidak bisa ada perbedaan, ketidaksetujuan, dan kontradiksi
dalam perbuatan dan perasaan Tubuh mistik ini. Para anggota disatukan
oleh Iman dengan Kepala mereka, selama mereka bertahan dalam kesatuan
dan persetujuan dengan para gembala mereka. Mereka ini, pada gilirannya,
selaras dengan Kepala Gereja di bumi, Petrus dan penerusnya dalam
jabatannya. Karenanya para anggota tersebut kebal dari kekeliruan dalam
perkara Iman dan Moral.
Keseragaman sempurna di antara para anggota tubuh mistik ini secara
indah diungkapkan oleh Ignatius di Abad Pertama: “Pertama aku menasihati
kamu untuk sehati dalam keputusan (sentence) Allah. Sebab, Yesus Kristus, hidup kita yang tak terpisahkan, adalah keputusan (sentence)
Bapa, sama seperti Para Uskup di setiap belahan dunia, adalah keputusan
Yesus Kristus. Jadi, kamu harus sehati dengan keputusan (sentence) Uskup.”[19] Yang dimaksud dengan sentence oleh Santo tersebut adalah doktrin atau kredo.
Jadi, apapun yang dipercaya umat Katolik, hal itu sama seperti gema
ajaran dari lembaga mengajar yang infalibel, yang Kristus tetapkan di
atas batu karang demi keuntungan umat beriman. Tidak bisa tidak.
Sebagaimana dikatakan Tertullian, Kristus menjanjikan Roh Kebenaran
kepada Gereja-Gereja agar mereka tidak “memahami secara berbeda,
mempercayai secara berbeda, selain apa yang Ia wartakan kepada Para
Rasul.”[20]
Semua ini ditegaskan oleh ikatan yang diperlukan, yang ada di antara
para guru dan murid. Sang Rasul menulis: “Firman itu dekat kepadamu,
yakni di dalam mulutmu dan di dalam hatimu.” … Tetapi bagaimana mereka
dapat berseru kepada-Nya, jika mereka tidak percaya kepada Dia?
Bagaimana mereka dapat percaya kepada Dia, jika mereka tidak mendengar
tentang Dia. Bagaimana mereka mendengar tentang Dia, jika tidak ada yang
memberitakan-Nya? Dan bagaimana mereka dapat memberitakan-Nya, jika
mereka tidak diutus? … Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan
pendengaran oleh firman Kristus.”[21] Umat beriman karenanya diajarkan untuk menjaga apapun yang Kristus perintahkan, tapi mereka juga diajar oleh mereka yang “diutus”. “Sebagaimana Bapa mengutus Aku, demikian pula Aku mengutus kamu.”[22] Dan Ia akan menyertai mereka “sampai kepada akhir zaman.”[23]
Jadi, apapun yang dipelajari umat beriman dari mereka yang diutus,
hal itu tidak bisa salah. Umat beriman tersebar di seluruh dunia, memang
akan menjadi murid yang malang, jika mereka diajar oleh guru-guru yang
infalibel, namun mereka berpegang bukan pada apa yang benar, tapi pada
apa yang berlawanan dengan kebenaran. Itu berarti bahwa “alam maut”
menguasai “Gereja.” Janji Kristus akan menjadi sia-sia. Keyakinan
bersama umat beriman haruslah menjadi Pedoman Tradisi Ilahi yang aman.
6
Tulisan-tulisan Bapa Gereja dan
analogi yang selaras dengan akal budi membuktikan bahwa persetujuan umat
beriman adalah pedoman Tradisi Ilahi.
Para Bapa Gereja begitu yakin bahwa “intuisi dan persetujuan” dari
semua umat beriman dalam persekutuan dengan para gembala mereka yang sah
adalah bukti akan Tradisi Ilahi, sehingga dalam kontroversi-kontroversi
mereka dengan kaum bidat di masa mereka, mereka menjadikan hal ini
sebagai argumen kuat untuk membela Dogma Katolik.
I. St. Agustinus, dalam penolakannya terhadap Pelagianisme, menulis:
“Bukan karena keluhan orang-orang saja kami menentang kamu, walaupun
orang-orang sendiri mengeluh terhadap kamu untuk sebuah alasan yang mana
itu bukanlah persoalan yang dapat luput dari pendapat populer. Orang
kaya dan miskin, tinggi dan rendah, terpelajar dan bodoh, pria dan
wanita, mereka mengetahui, dan dalam usia berapa, apakah yang dihapuskan
dalam Baptisan. Untuk alasan ini, setiap hari di setiap belahan dunia
para ibu bergegas dengan anak-anak mereka, tidak hanya pergi kepada
Kristus yaitu, Dia yang terurapi, tapi kepada Kristus Yesus, yaitu, Sang
Penyelamat. Seakan-akan kecil artinya bahwa dalam hal yang paling
pokok, kuat, dan hakiki, umat beriman yang tersebar di seluruh dunia
tidak sepakat.”[24]
Dengan cara yang sama St. Gregorius dari Nazianzus menulis Surat
keduanya kepada Cledon di Abad Keeempat. Demikian pula Tertullian[25] dan St. Vincentius dari Lerin[26].
Para Bapa Gereja juga membuktikan absurditas dari dugaan bahwa semua
umat beriman dapat keliru dalam hal yang termasuk ke dalam Deposit Iman.
St. Vincentius dari Lerin berargumen: “Jika semua umat beriman dapat
dibujuk untuk menerima inovasi kaum bidat, atau apa yang bertentangan
dengan doktrin kekunoan, maka harus dinyatakan bahwa semua umat beriman
di segala zaman, semua Orang Kudus, semua yang murni, bertarak, para
Perawan, semua klerus, Kaum lewi dan Para Imam, dan ribuan Pengaku Iman,
prajurit besar dari Para Martir, ketenaran dan banyaknya kota dan
bangsa, begitu banyak pulau, provinsi, raja-raja, negara, kerajaan,
negara, dan akhirnya hampir seluruh dunia, yang secara erat disatukan
dengan Kristus melalui Iman Katolik, semuanya ini selama ratusan tahun
telah mengabaikan, keliru, menghujat dan tidak pernah mengakui apa yang
mereka percayai.”[27]
“Intuisi dan persetujuan” dari semua umat beriman ini, bagi beberapa
teolog, adalah “pedoman tradisi ilahi”, sehingga mereka tidak ragu untuk
menyatakan bahwa Infalibilitas memiliki unsur aktif dan pasif. Unsur
aktif berarti bahwa Gereja tidak pernah bisa keliru dalam mengajarkan
umat beriman; unsur pasif berarti bahwa umat beriman, sebagai tubuh,
tidak pernah bisa keliru dalam mempercayai.
Untuk alasan inilah Paus Pius IX, sebelum menyatakan secara resmi
Dogma Perawan Maria Dikandung Tanda Noda, di antara syarat-syarat
persiapan yang ada, ia bertanya pada semua Uskup Gereja Katolik agar
mereka memberitahunya tentang “kesalehan dan devosi seperti apa yang
dimiliki umat beriman terhadap Bunda Allah yang Dikandung Tanpa Noda.”
Semua Uskup memberikan jawaban yang mendukung hal ini, dan Paus
Tertinggi, di antara pedoman-pedoman Tradisi Ilahi, menyebutkan dan
menyatakan “persetujuan tunggal Para Uskup dan Umat Beriman.”[28]
II. Kedua, “intuisi dan persetujuan” umum dari semua umat beriman dalam perkara Iman, dapat dibandingkan, menurut Hurter[29],
dengan “intuisi dan persetujuan” umum umat manusia dalam tataran
kodrati. Sebagaimana “persetujuan umum” dianggap oleh semua orang
sebagai pedoman bagi kesejahteraan semua orang, maka persetujuan
mengagumkan dari semua umat beriman dalam persekutuan dengan para
gembala mereka yang sah, dalam perkara Iman, berasal dari dan
berdasarkan pada Roh Kudus Allah, yang tidak dapat menipu, dan tidak
membiarkan Gereja-Nya ditipu.
Kita akan mengakhiri pokok ini dengan komentar bijak dari Melchior
Canus: “Terdapat dua kelompok kebenaran yang harus dipercaya di dalam
Gereja. Kelompok pertama menjadi milik semua orang secara setara. Di
sini tidaklah sulit untuk mengetahui iman bersama dan intuisi [iman] …
Yang lainnya ialah yang tidak menarik perhatian orang kebanyakan,
kecuali kaum cendekiawan dan murid. Jika kamu menanyakan pendapat orang
biasa dalam perkara ini, itu sama saja kamu bertanya pada orang buta
untuk membedakan warna-warna. Mereka harus mengakui apa yang mereka
percaya dan pikirkan dalam hal-hal ini, sama seperti Gereja mempercayai
dan memikirkannya … Sekarang, dalam sebuah kontroversi umum, argumen
tertentu dapat diperoleh dari intuisi semua umat beriman ini, tapi
tidaklah perlu untuk memeriksa intuisi setiap dan masing-masing umat
beriman. Dalam iman dari hal-hal itu, yang secara pas menjadi milik Para
Pengajar dan kaum terpelajar, hanya pendapat orang-orang tersebut, dan
bukan pendapat orang-orang yang harus dipertimbangkan. Tapi dalam
dekrit-dekrit dan Hukum-Hukum yang berhadapan dengan perkara ini, baik
orang awam maupun orang terpelajar tidak dapat berbicara banyak. Hanya
mereka yang dapat melakukannya, yaitu para gembala Gereja.”[30]
7
Persetujuan bulat dan tetap dari sekolah-sekolah Katolik dalam perkara iman adalah bukti yang pasti akan Tradisi Ilahi.
Gereja Katolik selalu menjadi guru bagi umat manusia. Setelah
pendudukan Kekaisaran Romawi, peradaban dihancurkan. Satu-satunya tempat
perlindungan bagi literatur, ilmu pengetahuan, dan karya seni adalah
biara para rahib. Biara-biara itu sedikit dan jauh jaraknya, tapi mereka
menyelamatkan Kitab Suci dan karya-karya besar peradaban dari
kehancuran total. Ajaran Gereja yang umum dan sederhana melembutkan adat
istiadat kasar dari kaum barbar yang menang, dan memungkinkan
perkembangan baru dalam sejarah dunia. Ratusan tahun telah berjalan,
tapi di bawah arahan kaum religius, sekolah-sekolah dari semua jenis
dibuka kembali di mana saja. Perkembangannya lambat, tapi pasti. Dan
karenanya tanaman pengetahuan yang lembut, yang dipasang orang-orang
baik itu di balik bayang-bayang biara mereka, bertambah ratusan kali
banyaknya. Pada Abad Kedua Belas, Universitas-Universitas pertama
didirikan di Paris dan Bologna. Paris menjadi terkenal oleh karena
Sekolah Teologinya; Bologna ternama oleh karena Sekolah Hukum Sipil dan
Kanon. Universitas-Universitas lain, di sepanjang waktu, didirikan dan
diberikan hak istimewa oleh para Paus dan Raja Katolik. Sebuah
kebangkitan studi memperoleh pijakan kuat di Benua Eropa.[31]
Konsili Trente yang diadakan pada Abad Keenam Belas mengilhami dan
mendorong pembentukan Seminari-Seminari Katolik. Tidak hanya sekolah
dasar, tapi juga studi umum untuk pendidikan tinggi, khususnya Teologi,
Hukum Sipil dan Kanon, dari Abad Kedua Belas sampai Keenam Belas, bahkan
sampai ke Abad Kedelapan belas, hanya ada di bawah arahan dan
pengawasan Gereja Katolik. Di Eropa Utara, meski demikian, Reformasi
menyerahkan Universitas-Universitas yang sudah berkembang ke dalam
arahan para pangeran Protestan, yang konsekuensinya Universitas tersebut
menjadi Protestan. Di negara-negara Katolik di Abad Kedelapan Belas,
otoritas sipil merampas kuasa tertinggi untuk mengendalikan Pendidikan
dan memasukannya ke dalam dirinya. Untuk alasan inilah di sini kami
hanya berbicara tentang institusi-institusi besar itu, yang tidak hanya
didirikan di bawah perlindungan Gereja Katolik dan diberikan hak
istimewa oleh Takhta Apostolik, tapi selalu, sampai belakangan ini,
berada di bawah arahan tertinggi Gereja. Pusat-pusat ini memperoleh dari
Gereja otoritas untuk mengajar Teologi, dan selalu menjaga devosi
filial kepada Gereja, devosi yang selayaknya dimiliki seorang anak
kepada ibunya.
Dengan didirikan dan disahkan oleh Gereja untuk mengajar anak-anak
terbaiknya, yang seakan-akan dipilih dari kawanan dombanya,
sekolah-sekolah ini menjadi terang zaman dan sampai tahap tertentu,
penerus bagi Bapa Gereja. Sebab, jika menurut Vincentius dari lerin,
para Bapa Gereja menjaga, menjelaskan, dan membela apa yang mereka
terima dari orang-orang kuno, maka Sekolah-Sekolah Teologi juga harus
menjaga, menjelaskan, dan membela doktrin yang mereka terima. Bila salah
satu guru mengembangkan sebuah teori yang berbahaya atau berlawanan
dengan akal budi Katolik, ia seketika itu juga diperingatkan, dan jika
ia bertahan dalam kekeliruannya, ia akan dikeluarkan oleh Uskup lokal
atau otoritas Paus.
Hubungan antara Gereja dan lembaga-lembaga pendidikan ini menjadi
lebih jelas ketika kita mempertimbangkan bahwa dari
Departemen-Departemen Teologi itu muncullah sebagian besar Para Uskup
dan unsur terbaik dari kaum Klerus. Di sanalah mereka belajar bagaimana
mengajar dan mengarahkan kawanan dombanya, yang dipercayakan dalam
perhatian mereka.
Kendati demikian, Sekolah-Sekolah ini tidak memperlihatkan kesaksian
otentik dari kebenaran: yaitu, mereka bukanlah saksi resmi dan langsung
dari Gereja. Hal itu menjadi milik Suksesi Apostolik dalam persatuan dan
persetujuan dengan Kepala Gereja. Tapi kita mampu tiba pada pengetahuan
yang sama akan Suksesi Apostolik melalui kesaksian memadai dari
Sekolah-Sekolah ini. Sebab, jika Kepala Gereja dan Suksesi Apostolik
merupakan kesaksian ilahi-insani akan kebenaran, maka Sekolah-Sekolah
Teologi atau Katolik adalah otoritas historis dan insani yang berada di
bawah kendali otoritas gerejawi.
Pernyataan ini tidak meminimalkan, sedikitpun, pernyataan bahwa
Sekolah-Sekolah Teologi atau katolik adalah bukti yang pasti akan
Tradisi Ilahi. Juga tidaklah penting bahwa para guru dan Pengajar dari
Sekolah-Sekolah ini bukanlah Para Uskup. Kita tidak seharusnya berpikir
bahwa kebenaran ditemukan hanya dalam Suksesi Apostolik dan bahwa setiap
Uskup, jika dipertimbangkan secara individu dan terpisah dari Kepala
Gereja, adalah infalibel. Untuk alasan-alasan inilah St. Agustinus
membedakan kesaksian St. Hieronimus, yang sekadar seorang teolog, dari
kesaksian sejumlah para Uskup, yang telah menyatakan ketetapan mereka.
Ia menulis: “Jangan pernah bepikir bahwa St. Hieronimus dapat
disingkirkan semata karena ia adalah seorang imam … Ia membaca semua
atau hampir mereka semua, yang di setiap belahan dunia, menulis tentang
doktrin gerejawi, dan ia pun tidak berbeda dari ketatapan Para Uskup
mereka.”[32]
Terlebih, Sejarah Gereja mengajarkan kita bahwa Uskup Roma dan para
Uskup, sebelum dan sesudah mereka berkumpul dalam Konsili Umum, mereka
berunding dengan para Pengajar dan guru dari Institusi-Institusi Teologi
ini sebagai persiapan tertentu untuk [merumuskan] definisi-definisi
otentik. Mereka berunding dengan mereka, bukan tentang perkara filosofis
belaka, tapi tentang doktrin-doktrin yang secara ketat termasuk ke
dalam Iman dan Moral; mereka meminta nasihatnya bukan tentang cara
membela, tapi tentang kebenaran-kebenaran doktrin Kristen; mereka
mencari informasi tentang persetujuan mereka yang bulat dan tetap tentang
doktrin, yang, dalam hubungannya dengan Kitab Suci dan Bapa Gereja,
diterima oleh semua Sekolah: persetujuan, yang tidak seharusnya terbatas
pada beberapa orang, tapi secara praktis merupakan persetujuan mereka
semua, bukan dari satu atau beberapa generasi, tapi dari semua zaman
dari institusi-institusi luhur tersebut.
Jika demikian halnya, tak seorangpun bisa gagal memahami hubungan
erat antara Sekolah-Sekolah Teologi dengan Para Gembala Tertinggi Gereja
dan Penerus Para Rasul lainnya. Ia menandakan betapa tingginya posisi
Sekolah-Sekolah Teologi di dalam Gereja dan besarnya makna dari ajaran
mereka.
Oleh karena itu, jika kita mempertimbangkan tujuan utama mereka,
yaitu, menjaga dan membela kebenaran Katolik; jika kita mengingat,
secara umum, betapa ternama dan terpelajarnya sebuah lembaga yang
terdiri dari para guru dan pengajar Teologi; jika kita merenungkan
perhatian khusus yang Paus dan Para Uskup berikan pada Sekolah-Sekolah
ini; jika kita mengingat persetujuan bulat dan tetap dari para Teolog
dalam perkara Iman dan Moral selalu dicari oleh para Paus dan juga
Konsili Nasional dan Ekumene, kita tidak bisa tidak melihat bahwa
persetujuan bulat dan tetap dari Sekolah Teologi Katolik yang unggul
tersebut dalam perkara Iman dan Moral mencerminkan, dan berhubungan,
dengan persetujuan seluruh Suksesi Apostolik, dan konsekuensinya, dengan
Gereja di segala zaman. Sebab, bila persetujuan umat beriman dalam
perkara Iman dan Moral adalah sebuah tanda akan Tradisi Ilahi, betapa
lebih lagi persetujuan kaum terpelajar dalam persatuan dengan para Uskup
mereka?
Persetujuan bulat dan tetap dari para Teolog dalam perkara Iman dan
moral, karenanya, tidaklah tunduk pada kekeliruan; bukan berarti bahwa
para Teolog atau Sekolah Teologi ada di bawah bantuan khusus Roh Kudus
dan karenanya infalibel. Melainkan, di bawah perhatian dan arahan khusus
dari Suksesi Apostolik, mereka memperlihatkan persetujuan infalibel dan
Akal Budi Katolik dari Suksesi Apostolik yang sama dan dari seluruh
Gereja. Karunia Infalibilitas dijanjikan tidak kepada siapa saja, selain
Kepala Gereja dan Penerus Para Rasul dalam persatuan dan persetujuan
dengan Kepalanya yang sama. Jadi, persetujuan bulat dan tetap dari Sekolah-Sekolah Teologi dalam perkara yang termasuk ke dalam Iman, tidak secara langsung, tapi secara tidak langsung memikul kesaksian sah akan Tradisi Ilahi. Sengaja kami berkata secara tidak langsung, sebab
saksi Iman yang langsung dan otentik adalah Paus dan Para Uskup Gereja
dalam persatuan dan persetujuan dengan Kepala Gereja yang sama. Untuk
alasan ini juga Paus Pius IX menyatakan: “Bahkan jika dalam pikiran kita
memiliki kepatuhan, yang dalam perbuatan-perbuatan kita, yang kita
berikan pada iman ilahi, maka hal itu tidak dibatasi pada dekrit-dekrit
khusus, yang telah didefinisikan Konsili Ekumenis atau oleh Paus Roma,
atau oleh Takhta Apostolik ini; tapi ia juga harus diperluas sampai pada
ajaran-ajaran itu, yang diajarkan oleh ajaran Gereja yang umum di
seluruh dunia, sebagai hal yang diwahyukan Allah, dan konsekuensinya,
oleh persetujuan bulat dan konstan yang dinyatakan para Teolog Katolik
sebagai hal yang termasuk ke dalam Iman.”[33]
Dalam semua perkara yang tidak secara ketat termasuk ke dalam Iman,
otoritas dari Sekolah-Sekolah itu sangatlah penting. Tidaklah diizinkan
untuk menyimpang dari ketatapan mereka, ketika persetujuan mereka
bersifat bulat dan tetap secara setara. Sekolah-Sekolah ini adalah
bagian terluhur dari Gereja Yang Belajar di bawah pengawasan langsung
Gereja Yang Mengajar.
Kita dapat merangkum ajaran tentang Sekolah-Sekolah Teologi ini dalam
empat bagian: I. Ketika secara bulat mereka mengajukan apapun sebagai De Fide, atau dari Iman, mereka
secara tidak langsung bersifat infalibel, karena kita dapat menganggap
mereka sebagai suara Suksesi Apostolik, yang di bawah perlindungannya
mereka hidup dan mengajar. II. Ketika mereka mengajarkan sesuatu yang
sifatnya Fidei Proximum atau Mendekati Iman, kita
tidak dapat menyimpang dari ajaran mereka, sebab demikianlah Akal Budi
Gereja Universal, yang keyakinannya tidak dapat salah. Dalam hal ini,
ajaran yang mereka ajarkan ialah melalui persetujuan umum yang
terkandung dalam Wahyu Ilahi, namun hanya kekurangan keputusan definitif
Gereja. III. Ketika mereka menyatakan suatu ajaran sebagai benar, tapi
tidak bersifat De Fide atau dari Iman, maka berbahaya bila
menyangkalnya. Sebab, ketika para Teolog, melalui penyelidikan dan ilmu
pengetahuan insani menurunkan deduksi-deduksi mereka sendiri dari
kebenaran-kebenaran yang diwahyukan dan mengajukan keputusan mereka
sebagai hal yang benar melalui persetujuan bulat, maka otoritas mereka
pastinya penting. Tak seorangpun dapat menolaknya tanpa sedikitnya
dianggap sebagai perbuatan yang gegabah (temerity). Tapi kita
tidak dapat berkata bahwa penyelidikan dan studi manusiawi mereka ada di
bawah bantuan langsung Roh Kudus. Karenanya, kita dapat menyebut
keputusan mereka, yang mereka nyatakan sebagai hal yang benar, pasti, tapi
tidak bersifat “De Fide” atau “Fide Credenda”. Menolak ajaran mereka
adalah hal yang gegabah. Tapi itu bukan kesesatan. IV. Ketika mereka
tidak sepakat, siapapun dapat mengikuti pendapatnya sendiri sampai
Gereja memberikan keputusannya.
Terakhir, harus diamati bahwa relasi antara Gereja dan Sekolah
Teologi terjalin jauh lebih kuat dari Abad Kedua Belas sampai Keenam
Belas atau bahkan sampai Abad Ketujuh Belas, daripada relasi yang
terjalin baru-baru ini. Melalui perlindungan dan campur tangan raja,
banyak Sekolah Teologi, khususnya dalam Universitas-Universitas
tertentu, membebaskan diri mereka dari pengaruh dan kendali Para Uskup.
Karenanya, persetujuan dari Sekolah-Sekolah Teologi yang labih lama
adalah pedoman Tradisi Ilahi yang lebih aman, walaupun, persetujuan
mereka yang lebih modern tidak untuk dipandang rendah.
Dengan membuat pernyataan ini, sedikitpun kami tidak bermaksud untuk
melemahkan otoritas Universitas-Universitas yang sungguh Katolik, tidak
pula Pusat-Pusat Teologi, yang sekarang berkembang di banyak Seminari
yang dikembangkan dengan baik di bawah arahan Para Uskup, dan yang
terhadapnya kami memberikan rasa hormat dan kekaguman terbesar.
8
Monumen-monumen gerejawi kuno adalah ungkapan yang selalu hidup dan konfirmasi kasatmata akan Kekristenan Katolik.
Penyelenggaraan Ilahi tidak membiarkan Gereja tanpa dokumen-dokumen
tak terbantahkan guna memperlihatkan kepada dunia bahwa ia adalah karya
terbesar dalam ciptaan. Hal ini sudah kami lihat di bagian lain dari
buku ini. Hal ini masih terlihat lebih jelas melalui monumen-monumen
kuno Seni Kristiani.
Monumen ini ada dalam semua jenis: lukisan, patung, ruang bawah
tanah, makam, sakrofagus, koin, prasasti, dan tulisan di batu nisan.
Bisa jadi mereka semua tidak menggambarkan dengan kata-kata iman dan
praksis para penyembah perdana Kristus; boleh jadi mereka tidak
memperlihatkan gagasan berbeda akan kebenaran-kebenaran Kristen; bisa
saja mereka tidak berbicara pada kita seperti kitab-kitab tertulis.
Tapi, lebih dari kitab-kitab tertulis, mereka berbicara pada kita dalam
bahasa sunyi yang memenuhi jiwa dengan terang dan semangat, dan
menempatkan di hadapan kita kehidupan religius umat Kristen perdana.
Kesaksian-kesaksian yang mulia ini lebih berharga, berlimpah, atau
lebih penting sebagaimana terdapat di Katakombe Romawi. Katakombe adalah
Kerajaan bawah tanah dari orang mati. Dinyatakan bahwa, jika
ditempatkan dalam sebuah garis lurus, katekombe itu akan membentang di
sepanjang seluruh Italia. Setelah dilupakan seutuhnya oleh Abad Kedua
Belas, Antonio Bosio, penduduk Pulau Malta, dan secara tepat disebut
Christopher Columbus dari Katakombe, bekerja selama empat puluh tahun
(1593-1629) dalam mengeksplorasi Katakombe Romawi. Kemudian orang lain
muncul, dan di masa kita terdapat Armelini, Stevenson, Marucchi,
Wilpert, dan terutama De Rossi, pangeran dari para arkeolog Kristen.
Kerja mereka mengarah pada penyebaran lebih luas akan Arkeologi Kristen
dan meningkatnya minat dan penghormatan bagi Katakombe. Selain Katakombe
Romawi terdapat juga beberapa Katakombe yang lebih kecil di Naples,
Sicily, Malta, dan satu di Afrika Utara. Di tempat-tempat seperti itulah
umat Kristen perdana berdoa, mempersembahkan kurban, dan dimakamkan.
Sampai hari ini aroma kekudusan, semangat pengurbanan, bau darah para
Martir tampak memancar dari kota-kota orang mati ini. Di dalam tanah
berpagar inilah umat Kristen perdana menyanyikan Mazmur yang mendalam
bersama-sama, merayakan Kurban Misa yang luhur, dan menerima Roti kaum
perkasa, dan bergegas ke medan perang Kemartiran.
Bukanlah bidang kami untuk secara rinci membahas harta karun Seni
Kristen. Kami akan berbicara sedikit saja. Batu nisan Romawi saja dari
tiga abad pertama menyediakan banyak bukti bagi Dogma dan praksis Gereja
Katolik yang hakiki, sehingga mereka dapat menggambarkan setiap halaman
Katekismus Kristen modern. Benar bahwa sangat sedikit prasasti dan
tulisan batu nisan yang berbicara secara cukup memadai tentang zaman
mereka. Tapi ada sarans lain untuk memastikan hal ini. Tempat penemuan,
nama-nama, bentuk surat, gaya, lambang, mengizinkan kita untuk
menelusurinya sampai ke masa-masa penganiayaan, atau sederhananya sampai
ke Abad Ketiga, Kedua, dan Kesatu. Yang paling terkemuka adalah
penggalian terkini dari Katakombe St. Callistus dan penemuan
prasasti-prasasti, yang menggambarkan karya St. Petrus di Roma dan
tempat baptistri yang rendah, yang digunakan Paus pertama untuk
membaptis umat Kristen perdana.
Prinsip yang sama kurang lebih berlaku bagi semua monumen Seni Kristen lainnya.
Kami di sini peduli bukan hanya tentang monumen-monumen mereka, tapi
juga maknanya. Sesudah Kitab Suci, Simbol-Simbol, dan Liturgi-Liturgi
menyediakan Gereja dengan begitu banyak bukti yang jelas dan kasatmata
sehingga mereka dapat ditempatkan secara sejajar dengan tulisan-tulisan
Bapa Gereja demi perawatan dan pemeliharaan Tradisi Ilahi. Mereka adalah
Meterai Agung dari Kekristenan Katolik. Mereka adalah bagian kasatmata
dari pertolongan yang dengannya Roh Kudus membantu Gerejanya menjaga
Deposit Iman tetap tak ternoda dan tidak jatuh ke dalam kekeliruan.
Bukan berarti bahwa mereka diperlukan bagi Gereja. Gereja ada tanpa
mereka. Tapi mereka sampai pada kita dari masa-masa penganiayaan, atau
periode pencobaan. Mereka merupakan ungkapan keyakinan dan sentimen dari
leluhur kita dalam Iman. Mereka membantu generasi masa depan untuk
membuat kebenaran lebih gemerlap. Mereka selaras dengan rencana Allah.
Gereja Yang Mengajar – yaitu Para Rasul dan para penerus mereka –
memperuntukkan sebagian pewartaan mereka dalam tulisan. Gereja Yang
Belajar, ingin mengungkapkan imannya dalam karya-karya seni yang
sentimental dan nyata. Kita akan menyebut sebagian dari mereka.
I. Yang paling ternama adalah “Fractio Panis” – “Pemecahan roti” –
gelar yang diberikan pada fresko di Kapel Yunani, yang ditemukan dalam
Katakombe St. Priscilla, yang terletak di dekat Roma. Ia berasal dari
paruh pertama Abad Kedua. Ia memiliki makna teologis dan liturgis yang
terpenting. Ia ditemukan oleh Wilpert tahun 1893 di muka lengkungan di
atas makam Altar kapel tersebut. Ia mereprentasikan gambar tujuh orang
di meja: enam pria dan satu wanita. Tujuh orang tersebut duduk dalam
cara yang bermartabat dengan kepalanya mundur ke belakang dan tangannya
merentang di depannya, dan tangannya memegang roti kecil yang hendak
dipecah. Di hadapannya terdapat dua cawan dengan gagang; jauh dari meja
terdapat dua piring besar, satu dengan dua ikan dan satunya lagi dengan
lima roti. Di sati sisi gambar terdapat empat keranjang dan di sisi
lainnya terdapat tiga keranjang, semuanya penuh dengan roti.

Jelaslah bahwa gambar ini mewakili Kurban Ekaristi. Sang Iman, dalam
nama dan pribadi Kristus mengambil roti dengan tangannya, mengarahkan
matanya ke langit, mengucap syukur, memberkatinya dan mengucapkan
kata-kata konsekrasi pada roti yang kemudian dibagikan kepada umat
beriman sesudah ia menjadi Tubuh Tuhan Kita. Tindakan imam Katolik ini
disebut oleh umat Kristen perdana sebagai “Fractio Panis.” Ia disebutkan
oleh empat Injil, dan oleh para penulis Apostolik dan pasca-apostolik.
St. Paulus menulis: “Bukankah cawan pengucapan syukur, yang atasnya kita
ucapkan syukur, adalah persekutuan dengan darah Kristus? Bukankah roti
yang kita pecah-pecahkan adalah persekutuan dengan tubuh Kristus?”[34]
Dan dalam Kisah Para Rasul: “Mereka bertekun dalam pengajaran
rasul-rasul dan dalam persekutuan. Dan mereka selalu berkumpul untuk
memecahkan roti dan berdoa.”[35] Inilah Komuni Suci Katolik.
Pemecahan Roti ini, yang diwakili dalam gambar ini, tidak hanya
menggambarkan Kurban Ekaristi, yang merupakan pusat semua ibadah
Kristen, tapi ia juga membuktikan bahwa umat Kristen pertama beribadah
di Hari Minggu dan bukan Sabtu sebagai Hari Tuhan, seturut Kitab Suci:
“Pada hari pertama dalam minggu itu, ketika kami berkumpul untuk
memecah-mecahkan roti.”[36]
“Pemecahan roti” ini juga membuktikan bahwa mereka mengaku dosa sebelum
menerima Komuni Suci, sebab para penulis pasca-apostolik lainnya,
seperti pengarang Didache, yakni “Pengajaran Para Rasul”, yang
mengundang umat beriman untuk berkumpul bersama untuk memecahkan roti
pada hari Minggu, namun mengingatkan umat beriman: “Dan pada hari Tuhan
datanglah bersama dan pecahkanlah roti serta mengucap syukur, setelah
lebih dahulu mengakui kesalahan-kesalahanmu agar Kurbanmu dapat menjadi
murni.”[37]
Berapa banyak kebenaran-kebenaran hakiki agama kita yang tidak
disertakan dalam beberapa baris singkat ini! Ekaristi Suci adalah
Sakramen dan Kurban syukur; kewajiban beribadah di Hari Tuhan; Sakramen
Tobat. Semua yang ada di meja merupakan simbol dan menjadi milik Kurban
Misa.
Di ruang yang sama di satu sisi gambar tersebut terdapat representasi
Kurban Abraham, dan di sisi lainnya terdapat potret nabi Daniel, yang
diberi makan secara mukjizat oleh nabi Habakuk di kandang singa. Sebab,
roti-roti yang ada di keranjang adalah materi bagi Kurban, atau,
sebagaimana dalam pendapat orang lain, roti itu sudah dikonsekrasi;
cangkir menandakan piala anggur untuk darah Tuhan; ikan merupakan kiasan
bagi Kristus sebagai makanan jiwa. Gereja Perdana sejak Abad Kedua
menganggap lima huruf dari Kata Yunani untuk ikan – yaitu ἰχθύς –
sebagai huruf pertama dari kata yang membentuk frase dalam bahasa
Yunani: “Yesus Kristus, Putra Allah, Penyelamat”, karena Kristus memberi
makan banyak orang dengan roti dan ikan. Kita dapat sungguh menegaskan
bahwa “fractio panis” yang ditemukan di Kapel Yunani, berhubungan dengan
dan mewakili “pengangkatan hosti” selama Misa dan juga Komuni Suci.
Ketika De Rossi, guru si Wilpert, mendengar dan mengamati pada hari
tuanya temuan baru ini, ia berseru: “Itu sungguh merupakan mutiara dari
semua temuan Katakombe.”
II. Primat Paus, yang adalah penerus St. Petrus, tidak hanya dalam
kehormatan, tapi juga dalam yurisdiksi, dilukskan, ketika Petrus,
seperti Musa yang lain, memukul batu karang dengan tongkat. Sebagaimana
Musa adalah legislator, pemimpin dan kepala umat pilihan Allah, maka
demikianlah Petrus juga di dalam Gereja Kristus di bumi. Kata Petrus dengan demikian jelas terlihat. Selain itu, tongkat adalah lambang yurisdiksi.

III. Bahwa tidak seharusnya ada perbedaaan antara Kitab-Kitab
Protokanonika dan Deuterokanonika dari Kitab Suci ditandakan oleh
lukisan-lukisan yang berhubungan dengan Tobias dan Daniel. Mereka
memperlihatkan bahwa Gereja Perdana menerimanya sebagai kitab yang
diilhami Allah. Karenanya, sebagaimana Protestan menolak Kitab-Kitab
Deuterokanonika, seperti Tobias dan Daniel, maka Kitab Suci Protestan
jelas tidak lengkap.
III. Kebangkitan Lazarus digunakan sebagai lambang kebangkitan kita
dari mati. Kematian juga dilukiskan telah memasuki dunia melalui dosa
Adam dan Hawa. Pembebasan dari maut ditandakan oleh penyelamatan Nuh
dari Air Bah, penyelamatan tiga anak-anak Ibrani dari tungku perapian,
atau oleh pembebasan Susanna dari tuduhan palsu. Semua ini
memperlihatkan keyakinan umat Kristen perdana akan kehidupan di masa
depan.

IV. Devosi yang kita perlihatkan kepada Bunda Allah dengan jelas dan
berulang kali dilukiskan dalam karya seni Katakombe. Sebuah fresco, yang
ditemukan di kuburan Priscilla menggambarkan Sang Perawan dengan Anak
Ilahinya, sementara nabi Yesaya berdiri di hadapannya dan menunjuk pada
bintang di atas kepalanya. Lukisan lain, di Abad Ketiga, ditemukan juga
di kuburan yang sama, yang menggambarkan Anunsiasi. Satu atau lebih
gambar Perawan Maria, oleh para cendekiawan terbaik, diatributkan kepada
St. Lukas. Satu dari kepingan paling ternama dari seni Kristen kuno
ialah fragmen kaca, yang disimpan di Museum Borgian di Istana Propaganda Fide di
Roma. Mozzoni mengatributkannya sebagai karya dari Abad Kedua. Ia
melukiskan Perawan Maria, yang berdoa untuk kita. Di satu sisinya ada
St. Petrus dan sisi lainnya ada St. Paulus. Sosok dua Rasul ini lebih
kecil dari sosok Sang Perawan, yang karenanya diberikan keunggulan lebih
besar di surga melebihi dua Rasul utama. Mereka juga ditandai oleh
nama-nama mereka. Hal ini memperlihatkan penghormatan, respek dan takzim
yang dimiliki Para Rasul kepada Bunda Allah.

Sungguh, monumen-monumen gerejawi kuno adalah bukti dan konfirmasi akan Kekristenan Katolik.
[1] Ibr 13:8.
[2] Luk 19:40.
[3] Sesi III, C. III.
[4] Mat 28:19-20.
[5] Rm 10:10.
[6] Konstitusi “Ineffabilis Deus.”
[7] Agustinus., C. Jul., L. II, C. X, N. 37.
[8] Mrk 16:15-16.
[9] Kis 8:37.
[10] Lih. Burn. Introduction, p. 239.
[11] Origen, Conra Celsum, L. I. N. 7.
[12] Tertullian., “Praescript”, C. XLI.
[13] Ambrose, Ep. 20.
[14] Cyril, Cath. C. N. 29.
[15] Lih. Burn., Journal of Theological Studies, July 1902.
[16] Lih. Migne P, L. II, 26, 27, 33, 50.
[17] Lih. Vossius and Hort.
[18] Lih. Chapter IV, 7-8
[19] Ignatius to Ephes., N. 3.
[20] Tertull., Preser., C. XXVIII.
[21] Rm 10:8-17.
[22] Yoh 20:21.
[23] Mat 28:20.
[24] Agustinus, C. Jul., L. I, N. 31-36. Ep. Fundam. N. 4.
[25] Tertull., “Prescript”, C. XXIX.
[26] Vincentius dari Lerin, Commonit., C. XXIV.
[27] Vincentius dari Lerin, Commonit., C. XXXIII.
[28] Pius IX, Bulla Ineffabilis.
[29] Hurther, Theol. Dogm. Vol I, N. 201.
[30] Melchior Canus, De L. Th., L. IV, C. VI.
[31]
Merupakan hal yang pas untuk memperhatikan bahwa
Universitas-Universitas pertama di benua Amerika didirikan di bahwa
perlindungan Gereja Katolik. Univesitas Lima, Peru, didirikan oleh
Dekrit Charles V tahun 1551 di Biara Rosario Suci. Universitas Santo
Domingo di West Indies didirikan oleh Bulla kepausan tujuh tahun
kemudian. Selanjutnya adalah San Antonio Abad yang didirikan tahun 1598
di Cuzco, Peru. Antara 1586 dan 1620, dua Univesitas besar didirikan di
Quito, Ecuador: pertama oleh kaum Agustinian dan yang kedua didirikan
oleh kaum Jesuit.
[32] Agustinus, C. Jul, L. 2, N. 36.
[33] Pius IX, ad Episc. Monach., A. 1863.
[34] 1 Kor 10:16.
[35] Kis 2:42.
[36] Kis 20:7.
[37] Didache XIV, 1.