Sebuah pengalaman yang melengkapi pengalaman Romo yang lalu, silakan menyimak dan membandingkannya supaya mendapatkan pengertian yang lengkap.
Pengalaman rohani yang amat meneguhkan.
Sebagai seorang imam, saya tahu bahwa tidak boleh orang sembarangan melakukan exorcisme, karena akibatnya memang bisa fatal, baik bagi si imam itu (ingat kesadaran Romo Dwi akan ancaman si setan), dan juga bagi orang yang kerasukan. Dikatakan fatal, karena memang bisa berujung ke kematian betul si penderita yang dirasuki roh jahat itu.
Selama menjadi imam hanya sekali saja saya diminta untuk membantu mendoakan orang yang kerasukan. Itu telah terjadi lebih dari 20-an tahun lalu. Kisahnya tidak seheboh dan sesepektakuler pengalaman romo Dwi. Tidak sampai ke exorcisme, seperti saya ungkapkan di atas, maka saya mulai dari doa biasa dengan iman tulus saya.
Kisahnya,
Sekitar tahun 1989-an lalu (saya tidak ingat persis, tetapi pasti sebelum tahun 1990), saya disamping menjadi pendidik (Perfect Disciplinae) Seminari Menengah St Paulus, Palembang; juga 2 minggu sekali melayani stasi Prabumulih dan sekitarnya.
Suatu hari ada telpon (waktu itu belum ada HP) dari ketua stasi di pertamina Prabumulih dan katekis di situ, bahwa ada seorang umat yang kerasukan setan, dan sudah 3 hari dicoba dipanggilkan orang pintar, kiyai, dll, tetapi tetap tidak bisa, setiap kali kambuh lagi; dan hari itu semua "orang pintar" dan kiyai menyerah karena lebih kuat. Dijagal (dipegang dan ditahan) 8 orang lelaki dewasa semua kalah dan tetap kalah, padahal dia adalah seorang wanita, yang sehari-hari amat lembut, dan santun. Untungnya dia tidak mengamuk. Dia adalah seorang katolik, menikah dengan suami muslim dan tidak boleh lagi ke gereja karena dipaksa keluarga suaminya. Maka memang saya tidak kenal dia. Tetapi setelah kerasukan itulah, baru orang mencari pastor, karena suaminya mengatakan dan 'blaka' (mengakui) bahwa isterinya ini dulu katolik.
Karena itulah lalu ketua stasi dan katekis itu menghubungi saya.
Maka, karena mendengar sudah 3 hari menderita, dan semua orang menyerah, maka saya terpaksa berangkat juga. Saya katakan terpaksa, karena jarak Palembang - Prabumulih itu 99 km; dan itu adalah hari biasa, artinya biasanya saya akan ke tempat itu 2 minggu sekali pada hari Minggu.
Maka saya siapkan stola, air suci, springkle, salib, minyak urapan dan tentu saja pasti membawa rosario seperti kebiasaan saya. Lalu saya mengajak para Suster Charitas di Novisiat (karena selama ini saya juga membantu mengajar di Novisiat, maka kesempatan mengajak suster jalan keluar kota balik hari), dan herannya biasanya prosedur mengajak suster itu rumit, kali ini lancar, langsung dijawab Ya oleh Magistra (pemimpin Novisiat)-nya. Bahkan juga magistranya akhirnya ikut juga, karena ingin tahu bagaimana mendoakan orang kerasukan (katanya).
Maka jadilah jam 10-an kami berangkat ke Prabumulih. Saya setir sendiri, karena darurat. Saya mampir ke biara suster dan langsung ke Prabumulih. Saya juga tidak tahu di mana tempatnya, apalagi suster yang tidak pernah ke Prabumulih. Tetapi umat sudah memberi ancer-ancer dan akan menunggu di pinggir jalan. Perjalanan lancar, jam 12 sudah sampai di tempat, benar umat sudah menunggu di pinggir jalan. Orang banyak, masyarakat sekitar keluarga itu sudah berkumpul di rumah itu, persis seperti kalau ada orang meninggal suasananya, kesan saya, karena banyak orang, tetapi suasananya seperti genting atau apalah gitu.
Kami langsung dibawa ke kamar tempat wanita itu berada. Saya ditemani sekitar 8 suster (saya tidak persis ingat, yang jelas L300 penuh).
Begitu kami masuk ke ruang itu, ibu itu yang semual tertidur - menjerit, saya tidak tahu arti atau maksud jeritan itu, tidak ada kata. Lalu dia beringsut mojok di sudut ruangan, di atas tempat tidur.
Saya tidak menyapa setannya atau siapa pun, prinsip saya tidak tidak perlu dialog dengan setan, usir ya usir saja. Kalau bisa pergi tanpa dialog kan gak usah dramatis. Maka saya mengajak suaminya dan orang banyak yang lihat di situ untuk berdoa. Lalu saya dekati si ibu itu, dia hanya menutup mukanya dan matanya mengintip kami dari sela-sela jarinya. Pakaiannya tidak karu-karuan, praktis setengah telanjang, karena baju yang dikenakannya sudah nyaris hancur, tidak tahu akibat pemberontakannya atau apa. Tapi waktu kami datang sudah tidak dijagal lagi, tidak dipegangi karena waktu itu tidur.
Maka saya mulai dengan langkah sederhana, saya doakan saja, belum exorcis. Setelah saya pakai stola (lambang saya melaksanakan tugas imamat saya) - kami buat tanda salib, termasuk saya buatkan tanda salib untuknya dengan berkat saya, lalu saya mengundang semua berdoa dengan mengangkat (menumpangkan) tangan ke arah si ibu itu.
Lalu saya doa spontan: mohon kehadiran Tuhan di rumah itu, membersihkanNya dari kuasa jahat, dan mohon kesehatan bagi ibu yang kami doakan itu, kekuatan rohani. Dan juga dengan tegas saya minta kepada kuasa kegelapan apapun bentuknya yang mengganggu ibu itu, (saya lupa namanya) untuk pergi ke tempat yang layak dan tidak mengganggu manusia.
Kemudian saya berkati dia dengan berkat imami saya, dan ibu itu saya perciki air suci. Herannya, yang selama kami berdoa ibu itu menggeram dan bersuara seperti orang kedinginan dipojok tempat tidur itu, setelah saya perciki air suci, diam dan lemas. Maka lalu saya pegang tangannya seperti menyalaminya dan saya katakan, ibu kami datang untuk menolong itu dan mendoakanmu.
Ia langsung membuka mata dan mengatakan "terimakasih romo ........!" Biasa, tidak ada peristiwa dramatis apapun.
Karena setelah saya tunggu beberapa menit tidak ada reaksi lanjutan dari si jahat yang terusir, ya sudah, selesai.
Kemudian saya minta ibu itu menyalami para suster dan membenahi dirinya.
Kemudian saya tanya kepada si suami yang muslim itu, apakah boleh rumah ini saya berkati? Dan dia menjawab silahkan pak ..... dan memang lalu saya berkati keliling dengan air suci yang kami bawa dari Palembang itu.
Orang-orang bernafas lega, dan mulai keluar dari kamar untuk kembali duduk-duduk dan merokok lagi sambil ngobrol lagi. Kini suasananya lebih enak dan ringan, seperti langit terbuka, dan semua beban hati lepas.
Setelah itu kami baru disambut untuk duduk istirahat di ruang tamu keluarga itu seadanya. Si suami mengucapkan terimakasih. Dan ajaibnya, tidak lama sesudah itu, sekitar setengah jam, si isteri (ibu yang semual kerasukan) sudah rapi dengan baju bersih, rapi, dan keluar menyajikan minuman untuk kami seperti tidak terjadi apa-apa.
Barulah suami cerita latar belakang keluarganya, dan mengapa selama ini isteri itu tidak ke gereja.
Masyarakat Prabumulih adalah mayoritas adalah masyarakat asli sumatra dan islam fanatik. Suami pun berasal dari keluarga muslim fanatik. Tetapi dengan peristiwa itu, maka si suami mengatakan bahwa mulai minggu depan isterinya akan diijinkan untuk ke gereja. Dan memang sejak saat itu isteri itu rajin ke gereja dengan membawa dua anak gadis kecilnya.
Dari peristiwa itu, saya sampai sekarang mempunyai keyakinan kuat, bahwa iman katolik adalah the best, dan mengalahkan segala kuasa kegelapan apapun. Syaratnya adalah: tulus beriman. Bukan berarti bahwa diberkati Allah dan beriman baik itu lalu artinya tidak ada penderitaan dan kesulitan. Justru rasanya adaaaa saja tantangannya, tetapi tetap bisa kita lewati dengan baik - kalau kita tekun dalam iman. Tak ada yang tak tertanggungkan dalam iman itu.
Maka saya juga heran, di tempat yang katanya banyak hantu atau isyu kerasukan dll, saya yakinkan kepada teman-teman, jangan gentar karena kita ini anak-anak Tuhan yang sudah diberkati dengan Sakramen Permandian dan dikuatkan dengan EkaristiNya. Yang kedua, jangan beri ruang kepada kegelapan atau kuasa jahat apa pun bentuknya untuk masuk. Misalnya, jangan membesar-besarkan isyu hantu dll, sehingga roh jahat itu akan senang dan justru akan hadir dan mengganggu ... Tetapi juga jangan meremehkan, di mana dikatakan ada hantu, doakanlah, tanpa harus banyak omong dan upacara heboh agar orang lain tidak perlu malah menggarisbawahi hebohnya, sehingga menciptakan "ruang terbuka" bagi roh jahat itu untuk masuk dalam hati dan pikiran kita. Saya selalu katakan, kalau kami tidak berani sendiri, jangan heboh tetapi minta bantuan orang yang berani, entah romo atau siapa, tetapi jangan beri "ruang" roh itu untuk masuk dalam "dunia" kita, entah itu menjadi bahan pergunjingan, atau pun yang lain, yang efeknya justru menimbulkan ketakutan, dan itulah yang membuka "ruang" roh-roh jahant untuk mengusik-usik kita. Semakin kita terusik, semakin bersukarialah mereka dan berkembang, karena ada ruang yang bisa dimasuki.
Contoh saya beberapa kali meyakinkan dan mengajak saudara-saudara saya (SCJ, entah para frater atau romo lain):
a. Seminari St Paulus pernah ada banyak isyu anak kerasukan, yang menjadi seperti macan, naga, dll ... yang hantu wanita, dll. Saya katakan bahwa sejak tahun 1985-1991 saya tinggal full di tempat itu, dan beberapa kali harus sendirian di rumah, karena anak seminari semua libur, dan staf waktu itu hanya 3 orang termasuk saya; dan tidak pernah ada yang mengganggu atau menakuti-nakuti saya. Saya tidur nyenyak dan sehat wal afiat. Maka saat tahun 2005 lalu saya kembali lagi dan isyu itu terdengar, kiat yang sama saya tegaskan kepada para seminaris dalam konferensi di kapel. Selama 3 tahun tidak ada anak kerasukan, apalagi yang aneh-aneh. Memang saya juga tidak menyetujui orang yang menawarkan diri untuk datang membuat pengusiran setan karena katanya tahun-tahun sebelumnya banyak anak seminaris datang ke seminari membawa roh-roh jahat, entah ajimat, dll; akibatnya kalau tidak dibersihkan akan ada saja anak yang kerasukan dlsb. Saya katakan TIDAK, jangan membuka ruang psikologis untuk dimasuki dan dimanfaatkan kuasa jahat untuk masuk. Lawanlah yang memang sungguh ada dan terjadi, tetapi jangan jadi paranoid roh jahat, atau phobia sehingga seolah di mana-mana orang dalam bahaya kerasukan.
Ingatkah kita, bahwa di seluruh Indonesia ramai dan menjadi kayak mode dan berita media massa yakni anak sekolah kerasukan di sana sini? Itu terjadi pada jaman hampir semua stasiun TV di Indonesia berlomba menayangkan kisah perburuan roh halus, entah apa pun nama programnya. Banyak kiyai tampil di layar TV untuk menjagal anak kerasukan dan dengan gaya macam-macam memburu, menangkap dan apalah roh-roh jahat itu. Aneh bukan, di mana-mana ditangkap, kok malah di mana-mana anak sekolah kerasukan?
Itulah yang saya sebut "membuka ruang" untuk masuknya roh jahat dalam hati, pikiran, dan perasaan kita.
Setan itu bukan musuh yang bisa kita binasakan, ia tidak mengenal kematian. Allah pun tidak membinasakannya, maka janganlah membuat pikiran salah seolah kita berhasil membinasakannya. Yang perlu kita buat adalah kita membuat benteng pertahanan yang kuat dalam nama Tuhan, agar dia tidak memasuki ruang kita. Dan itu adalah dengan hidup rohani yang baik, doa yang tekun dan tulus, iman yang kuat dan mendalam (saya tidak mengatakan pengetahuan iman yang pinter lho).
Kalau tidak salah, sekitar th 2007 lalu saya juga diminta membimbing retret para frater SCJ Yogya, untuk persiapan pembaharuan kaul mereka. Retret dilakukan di rumah retret Klaten. Lagi-lagi sebelum mulai retret isyu hantu santer terdengar dari para frater, dan saya sempat mendengar itu. Maka ungkapan sama saya katakan kepada para frater tentang bagaimana menyikapi hal itu. Dan saya selama 7 hari itu, jalan ke semua tempat, ya kebun, gang, dll, aman. Kamar saya bahkan ternyata adalah kamar yang dikatakan selalu heboh karena penghuninya selalu diganggu, bahkan katanya pernah dipindahkan saat tidur. Karena katanya di atas bekas kubur atau ada yang mati di situ, saya lupa, karena memang saya termasuk tidak begitu berminat menyimpan kisah horor seperti itu. Saya tahu itu, karena setelah selesai retret par frater bertanya apakah selama di situ 7 hari saya pernah mendengar suara aneh atau mengalami hal-hal aneh.
Retret berlangsung tenang, baik, tidak ada yang heboh dan kerasukan. Walau toh sesudah sampai di rumah ada saja yang bercerita sempat diganggu apalah .... tetapi omongan seperti itu kan sulit membedakan antara khayali, omong kosong (ndobos) atau sungguh. Saya sih hanya menegaskan "Dan kamu masih selamat dan utuhkan sampai kembali?". Jawabnya tentu saja YA. "Nah, itulah kalau itu benar berarti sebenarnya kamu mampu lolos dari hal itu dengan baik, utuh, dan sehat. Jadi tidak perlu takut dan heboh dengan hal seperti itu. Kamu anak Tuhan, saudara Yesus, masak takut dikalahkan oleh iblis dan anak buahnya."
Teman-teman, ini sekedar sharing, melengkapi pengalaman romo Dwi Harsanto Pr.
Supaya para Apikers tidak salah mengerti, maka saya merangkumkan intisari tulisan saya di atas:
a. Saya tidak meremehkan kisah tentang roh jahat, hantu, setan, dan sejenisnya.
b. Saya menegaskan bahwa roh jahat itu ada, hantu, setan, dan sejenisnya itu memang ada. Banyak orang telah mengalami itu. Jadi jangan pandang itu hanya ilusi. Itu realitas alam semesta ini.
c. Kita yang sudah dibaptis ini adalah orang-orang yang sudah diurapi dengan Roh Kudus, dan menjadi anak Allah. Maka kuasa kegelapan mana pun jauh di bawah kita. Tetapi jangan meremehkan karena merasa hebat. Orang yang meremehkan hal sederhana, seringkali justru terpukul di situ.
d. Maka senjata iman kita harus terus kita gembleng, kalau masih ingin terus bebas dari sasaran si jahat. Si jahat tidak pernah berhenti membidik kita, maka jangan pernah memberi kesempatan dia untuk itu karena melemahnya iman kita.
e. Segala ketakutan berlebihan, obsesi berlebihan, kebanggaan berlebihan ... dll atas pengalaman dengan si jahat, akan menjadi "pintu masuk" si jahat untuk menguasai kita dan orang yang mendengar kisah kita, sehingga menjadi miris, takut, khawatir dll atau sok jago dst, karena perasaan itu membuka "ruang" dalam diri kita untuk masuknya kuasa jahat itu.
salam dan doa,
Yohanes Samiran SCJ
Di sini, dirumah ini,di Gereja Katolik Roma, telah kutentukan, dengan iman, pemikiran, dengan segenap hati, segenap kekuatan dan segenap akalbudiku, pilihanku masuk dalam gereja yang didirikan oleh Yesus Kristus di atas sang batukarang rasul Petrus. Gereja ini akhirnya dinamakan Gereja Katolik Roma. Penamaan ini digunakan untuk menunjukkan identitas gereja yang setia kepada ajaran semula dari Yesus Kristus dan yang diteruskan para rasul.
Mengasihi Sesama
Ibu Theresa dari Calcuta
Minggu, 05 Desember 2010
Rabu, 01 Desember 2010
Pengalaman Pengusiran Setan Seorang Romo, patut di baca
Sebuah pengalaman rohani seorang romo, yang patut jadi pembelajaran dan renungan kita. Saya copy dari millis API KATOLIK untuk anda semua....
Full text dari pengalaman pribadi Rm. Yohanes Dwi Harsanto, Pr
Semoga dapat berguna.
Pengalaman tak terlupakan
Saudara-Saudari terkasih, dan para imam yang terhormat. Rasa hati saya masih
menggelegak, bergetar, tremendum-fascinoscum oleh pengalaman pertama saya
melakukan eksorsisme. Pertama-tema saya mengucapkan terima kasih kepada Bruder
Yohanes FC yang telah pernah memposting teks resmi mengenai doa exorcism dari
Vatikan ke milist komunikasi KAS. Saya sempat membacanya sambil lalu waktu itu,
namun puji Tuhan, saya dapat ingat akan apa yang tertulis di postingan bruder
ketika harus menghadapinya sendiri. Melalui pengalaman saya melakukan
eksorsisme, sayapun semakin bersyukur atas rahmat Sakramen Imamat kepada Gereja,
yang ternyata memang menjadi sasaran tembak utama setan namun sekaligus juga
alasan ketakutan setan.
Panggilan menjelang tengah malam
Kisahnya demikian: Pada hari Sabtu, tanggal 27 November 2010, saya mendampingi
rekoleksi OMK (Orang Muda Katolik) Stasi Tambun paroki Bekasi di Cipanas. Dewan
Stasi dan Paroki turut mendampingi. Acara berlangsung dengan baik dan inspiratif
sampai malam hari. Setelah acara api unggun, semua peserta dan penyelenggara
bersiap untuk tidur. Sayapun masuk ke kamar saya. Baru saja saya jatuh tertidur,
pintu kamar saya diketuk. Saudari Marta dan Anton serta beberapa orang yang lain
memberitahu saya, bahwa di Cibulan di daerah bawah Cisarua, ada sekelompok
Mahasiswa KAJ dekenat Timur yang sedang rekoleksi, dan mereka membutuhkan
bantuan imam untuk menghadapi empat orang mahasiswi yang sedang kesurupan. Satu
orang di antara mereka bahkan telah menghilang dan tidak ada di villa. Romo
pendamping yakni Rm. Hari Sulistyo sudah pulang dan tidak akan kembali lagi ke
sana.
Saya terhenyak. Pikiran saya langsung bekerja: jarak antara Cipanas hingga
Cibulan adalah sekitar 15 Km. Cukup jauh. Menjelang pukul sebelas malam begini
pula…. Namun hati saya tergerak untuk menolong. Akhirnya saya memutuskan untuk
berangkat ke sana disertai oleh Martha dan Anton. Sambil mengemudikan mobil,
saya mengingat kembali postingan bruder Yohanes dalam milist, apakah ciri-ciri
orang kerasukan setan dan perbedaannya dengan orang yang mengalami stress
berat/depresi. Lalu saya berpikir, ah, jangan-jangan mereka hanya depresi saja.
Biasanya perempuanlah yang suka kesurupan, dan benar juga, perempuanlah yang
dikatakan kesurupan malam ini. Jujur saja, sebenarnya saya termasuk golongan
orang yang skeptis dalam urusan semacam ini. Maksud saya datang hanyalah sekedar
menenangkan anak-anak itu saja. Kehadiran pastoral sajalah, demikian pikir saya.
Namun demikian, saya tetap mencoba mengingat- ingat kembali teks itu. Kebetulan
handphone BB saya hang setelah tersiram air teh di gerbong kereta api saat saya
kembali dari Jogja ke Jakarta hari Jumat dinihari kemarin. Karena itu, saya
tidak dapat membuka kembali teks dari milist itu. Saat itu saya tak punya
pilihan lain, selain berusaha mengingat- ingat sendiri saja, sambil
berbincang-bincang dengan Anton dan Martha.
Villa tua, tempat si jahat beraksi
Sesampainya kami di villa tua itu, terlihat para “pasien” sudah terlentang dan
tengkurap tidur. Mereka dipisahkan di tiga tempat. ’Pasien’ yang hilang sudah
ditemukan. Menurut berita, ia kini berada di kamar atas. Dari keempat anak itu,
ada satu orang yang kata mereka paling kuat. Karena villa itu tidak dikelola
Gereja dan bukan tempat khusus retret, maka reaksi spontan orang sekitar villa
adalah memanggil Pak Kiyai/dukun setempat. Mbah dukun itu sudah dipanggil sejak
pukul tujuh malam tadi dan gagal, lalu pulang. Kata mbah dukun, jenis ini bukan
yang dia ketahui. Mereka memanggil pula pak Pendeta Protestan dari gereja
terdekat. Namun kata mereka, Pak pendeta juga menyatakan tak sanggup pula, lalu
pulang. Terlihat para mahasiswa masih menggenggam rosario dan berdoa bersama.
Ada salib besi tergeletak di sofa. Pasien terparah itu adalah seorang perempuan
berperawakan kecil saja. Ia tergolek tengkurap di sofa, ditunggui oleh
teman-temannya. ”Ia sudah tidur”, demikian kata mereka. Karena kondisi sudah
tenang, saya spontan memutuskan: ”Ya sudah saya kembali saja, kan anaknya sudah
tidur… ” Tetapi beberapa mahasiswa meminta saya melihat dulu kondisi gadis yang
terparah itu. Kata mereka, tadi dia kuat sekali. Delapan orang mahasiswa lelaki
yang kuat pun dia hempaskan. Rosario yang mereka kalungkan di lehernya ia
putuskan, dan ia lemparkan ke halaman. Anehnya, rosario itu kemudian mereka
temukan berada di WC villa. Salib besi itu juga telah ia ludahi. Kata mereka,
suaranya pun berubah seperti bukan suara gadis itu. Hhmm… Masih dengan agak
skeptis, saya mendekatinya.
Kuncinya: jangan berkompromi dengan setan
Terlihat badan gadis itu tengkurap, mata terpejam separuh. Dari situ terlihat
manik matanya…. melihat ke arah mata saya… Aneh… Saya agak tersinggung. Lha kok
dia melirik ke saya terus. Kepalan tangannya menggenggam erat. Saya duduk di
sofa yang sama, dekat punggungnya. Ia mengais punggung bawah sambil keluar bunyi
desis dari mulutnya, sampai bajunya terlihat sobek sedikit. Desisnya berbunyi
”panasss” …..Lalu, saya nekad… Saya pegang tangannya. Ia memberontak. Saya buka
genggaman tangannya, dia melawan dengan sebaliknya. Posisinya masih menelungkup.
Saya ingat postingan teks dari bruder Yohanes. Ciri kerasukan setan yang
membedakannya dari depresi antara lain adalah, jika disebut nama Malaikat Agung
Santo Mikael, atau nama Para Kudus, juga Bunda Maria dan Tuhan Yesus Kristus,
maka ia tentu akan bereaksi dengan keras. Agak skeptis, namun tetap dengan
memegang erat jari-jari kaku yang mencekam dari anak itu, saya katakan dengan
suara wajar namun jelas terdengar, ”Keluarlah dari badan anak ini! Dalam nama
Yesus Kristus Tuhanmu, serta Malaikat Agung Santo Mikael yang kepadanya kamu
membangkang, keluarlah”.
Namun reaksi anak itu begitu mengejutkan kami semua, termasuk saya sendiri.
Dengan gerakan cepat dan tak terpahami dari sudut mekanika badan manusia, ia
berkelit langsung menatap wajahku, face to face, eyes to eyes….Ia mendesis
menatap lurus ke mata saya, matanya penuh kebencian… Lalu dia berkata: ”Jangan
sebut nama itu! Itu musuh kami!”. Dia bertanya : ”Apakah kamu takut, Bapa?” Saya
menjawab, ”Kamulah yang takut!” Kemudian, dengan tatapannya yang tajam dia
bertanya, ”Mengapa Bapa mengusir saya? Saya juga anak Tuhan. Kalau tidak, tentu
saya tidak ada!” Segera kujawab, ”Kamu anak Tuhan yang tidak taat, sombong.
Mengapa kamu memasuki anak ini?” Namun setan itu menjawab enteng saja, ”Tempat
ini nyaman. Saya mau pergi asalkan anak ini kubawa. Saya telah menambah penyakit
pada dirinya, meremas alat cernanya, dan membunuhnya. Itu salah Bapa kalau Bapa
memaksakan kehendak”. Saya tidak mau diajak tawar menawar dengan setan. Maka
saya menjawab: ”Tidak ada kompromi. Kamu tidak bisa membunuh anak ini dan tidak
akan mampu membawa nyawanya”. Setan inipun menantang saya dengan mengatakan
bahwa ia tidak takut pada imamNya, tidak takut pada Sakramen dan tidak takut
pada Yesus, karena dia juga mengaku sebagai anakNya.
Pergumulan dari tengah malam sampai dini hari
Maka sejak pukul 23.45 hingga memasuki hari Minggu dini hari, saya dan para
mahasiswa Katolik di sana bergumul untuk mengusir setan dari anak itu. Ia yang
kesurupan itupun berubah dari waktu ke waktu. Kadang-kadang suaranya berubah
menjadi lembut bak wanita cantik, namun kemudian menjadi ganas. Kadang ia
tertawa ngikik, kadang menantang, kadang merunduk sok kalah. Kadangkala ia
merajuk minta dikasihani. Anak itu muntah-muntah berkali-kali. Kadang setan
melepaskan anak itu, lalu masuk lagi. Ketika anak itu dilepas, si anak mengeluh,
”Romo, saya tak kuat, badan saya dan usus serta lambung sakit semua. Saya mau
mati saja, dan takut”. Kami menguatkan agar ia berani melawan. Ternyata si anak
ini juga diberitahu oleh setan bahwa Romo akan dibunuhnya jika anak itu tidak
taat padanya. Maka si anak merasa lemah, karena tak mau Romo diapa-apakan oleh
setan.
Namun, yang paling mengejutkan ialah, walaupun setan itu dapat keluar
meninggalkan anak itu tetapi selang beberapa menit, namun kemudian setan kembali
memasuki anak itu dengan jumlah yang makin banyak. ”Kami ini Legion”, katanya
jelas sekali. Ia fasih berbahasa Inggris dan Jawa. Hal ini terjadi ketika saya
mengajak dia berdialog dalam bahasa Inggris dan Jawa, sekedar mengetes apakah
itu benar-benar setan ataukah hanya ’acting’ anak itu. Saya tetap mengingat teks
postingan bruder di milist itu, dan makin yakin akan kebenaran isinya. Saya
katakan padanya, ”Kekuatanmu hanya seperempat. Masih ada Malaikat Agung Santo
Mikael, serta Gabriel dan Rafael.” Mendengar ini, ia mundur dan melepaskan anak
itu. Tiba-tiba ia masuk lagi dan berkata, ”You are stupid, Father”, lalu
menghantam saya. Suatu saat ia terjatuh tepat di salib, dan kontan ia menjerit
kepanasan. Maka para mahasiswa menempelkan salib-salib mereka. Ia berteriak
kepanasan dan tersiksa. Begitulah, si setan itu pergi lagi. Namun dengan cepat
ia kembali lagi, dengan membawa lebih banyak lagi setan bersamanya. Ia mau
menguras kekuatan saya. ”Sampai kapan Bapa bisa bertahan? Akan kukuras tenagamu,
Bapa!”. Saya menjawab sambil teringat Mzm 121:2, ”Kekuatanku datang dari Allah,
yang menjadikan langit dan bumi”. Kami bertempur lagi. Si setan menjerit-jerit,
dan kemudian ia lari lagi… Lalu saya mendengar berita bahwa ketiga mahasiswi
lain sudah dilepaskan. Semua setan kemudian berpindah merasuki mahasiswi yang
satu ini.
”Aku, Lucifer”
Ketika masuk lagi yang terakhir kali ke dalam anak itu, dia memeluk saya. Dengan
seolah suara si mahasiswi, dia mengendus tengkuk saya sambil berbisik, ”Aku
Lucifer”. Saya merinding. Terasa bulu kuduk saya berdiri dan ketakutan mendera.
”Kamu takut, Romo?” katanya dengan lembut di telinga saya. ”Aku akan mengincarmu
terus sampai kapanpun”. Tiba- tiba bangkitlah keberanian saya. Saya berteriak
kepada para mahasiswa: ”Kita mendapat kehormatan, sampai Lucifer sendiri, si
penghulu Setan, datang!” Para mahasiswa terbawa emosi, mereka berdoa makin
keras. Ada pula yang berteriak, ”Hancurkan saja… Sikat dia, Romo!”. Setan itu
berkata, ”Paus Yohanes Paulus II memarahiku”. Kujawab, ”Tak hanya Paus Yohanes
Paulus II, semua paus dan uskup, dan imam memarahimu, bahkan Tuhanmu Yesus dan
Malaikat Agung Mikael atasan langsungmu! Taatlah kepadaNya!” ”Sayalah tuhan”,
jawabnya sinis. Saya membanting dia, dan kami berpegangan tangan sambil saling
melawan. Saya mulai berkeringat dan tenaga saya terkuras, tetapi tetap saja saya
melawannya. Saya mengatakan, ”Kamulah yang ketakutan, melihat kami semua dan
Tuhanmu! Lepaskan badan anak ini, karena dia sudah menerima Sakramen Ekaristi! ”
Lucifer menjawab: ”Aih, itu hanya roti biasa! Dan kalian imam-imam semua bodoh!”
Mendengar perkataannya, saya marah sekali. ”Kamu sudah melawan kuasa imamat
rajawi Tuhan Yesus Kristus! Kamu mau melawan imamatNya?” Lalu ia menjawab dengan
nada meremehkan, ”Aku tak takut, Romo, pada imamatmu!”
Ke kapel Lembah Karmel kami membawanya
Ketika Lucifer menantang imamat saya, saya marah. Saya minta tas saya kepada
para mahasiswa. Saya melepaskan dia dulu untuk mengambil peralatan aspergil dan
stola serta minyak suci, sementara dia ditahan oleh para mahasiswa yang
”menimbunnya”: dengan doa-doa Salam Maria, Bapa Kami, Aku Percaya, serta
menindihnya dengan tubuh-tubuh kuat mereka. Ketika saya datang lagi, saya
percikkan dia dengan air suci. Ia menjerit kepanasan, dan lari. Saat itu, saya
berpikir, ini sudah dini hari, semua akan kacau jika tak diakhiri. Oleh karena
itu, saya memerintahkan agar tubuh mahasiswi ini digotong dan dievakuasi. Mereka
menggotongnya masuk ke mobil saya, lalu saya tancap gas dengan tujuan ke Lembah
Karmel. Saya menelpon Mbak Sari dan Suster Lisa P Karm. Mbak Sari dengan sigap
telah meminta Satpam membuka gerbang dan pintu kapel.
Si mahasiswi dipegangi oleh Martha, Anton dan Asrul. Ia berteriak, ”Cepat Romo,
cepat… dia mengejar…” katanya panik. Kami tetap berdoa Aku Percaya, Bapa Kami,
dan Salam Maria. Tiba-tiba suara mahasiswi berubah lagi, ”Haaa. Mau dibawa ke
mana anak ini, Bapa? Aku telah menambah lagi penyakitnya. Aku meremas
jerohannya… Anak ini hanya sampai dini hari ini, Bapa. Bapalah yang harus
tanggungjawab atas kematiannya!” Kemudian, anak itu muntah-muntah di mobil.
Anton, Asrul dan Marta tetap berdoa dengan memeganginya yang berontak ke sana
kemari. Saya mengatakan kepada Setan itu, ”Kamulah yang harus bertanggungjawab.
Jangan memutarbalik fakta, dasar setan! Kamu telah melecehkan Sakramen
Mahakudus. Kamu akan kubawa ke hadapan Yesus, supaya tahu rasa kamu nanti. Mau
lepaskan dia sekarang, atau nanti kamu makin sengsara di hadapan Raja Semesta
Alam!” Lalu dia mulai merayu lagi, ”Sia-sia semua ini Bapa… Bapa besok banyak
acara kan? Ditunggu banyak umat.. sudahlah Bapa kembali saja istirahat”. Saya
jawab: “Acara satu-satunya imam Tuhan ialah mengenyahkan kamu ke neraka!” Di
situlah selama perjalanan ia menawari saya apapun akan diberikan asalkan saya
tunduk pada keinginannya. Namun, saya tak mau berkompromi. Saya katakan dengan
tegas bahwa dia yang harus tunduk pada Kristus! Mendengar ini ia berkata,
”Sayalah tuhan, I am the Lord”. Saya tertawakan dia. Lalu ia mengancam akan
menggulingkan mobil. Saya menjawab, ”Ini mobil para uskup Indonesia. Tak bakalan
kau berhasil menggulingkannya!” Saya mengingatkannya akan Santo Yohanes Maria
Vianney yang dia bakar tempat tidurnya gara-gara tak mampu mengalahkan imam
kudus itu. Di hatiku aku berharap, Santo Yohanes Maria Vianney, kumohon agar
engkau mendoakan aku untuk mengalahkan Setan ini…
Lalu si Setan lalu merajuk lagi, ”Ah kenapa tenagaku melemah, tak sekuat tadi”.
Anak-anak mahasiswa ikut menjawab, ”Rasain lu.” Dia mendamprat : ”Apa lo, bocah
kemarin sore!” Saya menjawabnya, ”Mereka bukan bocah kemarin sore. Mereka
anak-anak Tuhan semesta alam”. Sepanjang jalan kami berdebat dengan bahasa
Inggris, Jawa, dan Indonesia. Mobil bagaikan terbang… dalam setengah jam kami
mendekati Lembah Karmel, dan semakin mendekati Sakramen Mahakudus. Lagi- lagi,
Setan itu mulai menendang dan berontak. Kukatakan padanya, ”No place for evil,
you know!” Kutantang dia, ”Kenapa kau kuasai anak ini. Apa salahnya?” Dia
menjawab, “Bukan salah anak ini, tetapi ayahnya”. Kujawab: “Ya, aku tahu,
berarti ayahnya mengikat perjanjian kegelapan denganmu. Nanti acara kita di
rumah Tuhan hanya satu, ialah memutus perjanjian leluhur anak ini dengan Lucifer
keparat ini!” Kemudian dia mengikik mirip nenek Lampir dalam film Misteri Gunung
Merapi, atau mirip kuntilanak. Dia katakan: “Bukan, bukan begitu imam bodoh.
Kamu memang imam munafik dan pendosa!” Aku menjawab, “Aku memang pendosa, namun
tidak memberontak kepada Tuhan seperti kamu!”. Dia menjawab lagi, “Ayahnyalah
yang mempersembahkan diri kepadaku, Bodooh!” Kupancing dia, “Jadi, ayahnya
mengikat perjanjian denganmu bukan?” Dia jawab: “Bukan, bodoh! Kamu keliru, imam
bodoh. Ayahnya mempersembahkan diri kepada Kristus. Leluhurnyalah yang
mempersembahkan diri kepadaku”. Dia tertawa ngekek lagi. Saya juga,
mentertawakan kekeliruan saya. Jadinya kami terkekeh bersama. Namun dengan tegas
kukatakan: “Kamu setan bodoh. Gampang dipancing ya hahaha… Maka acara kita
satu-satunya di depan Sakramen Mahakudus nanti hanyalah memutuskan perjanjian
itu dan kamu akan mengalami sengsara kekal. Go to hell! Kalau kamu ingin
bahagia, ajaklah anak buahmu dan dirimu sendiri bertobat, kembali menyembah
Allah yang benar! Jangan iri lagi karena Putra-Allah menjadi Manusia”… Mendengar
perkataan ini, dia meradang, ”I hate you.. I hate all priests of Christ…!!!”
Namun, setelah mendengar betapa ia membenci para imam, saya merasa mendapatkan
kekuatan dan keharuan. Sebab itu artinya kami berada di pihak yang benar,
sehingga kerenanya, Setan membenci kami. Saya membayangkan jajaran imam Tuhan
dan uskup yang berada di pihak saya. Sungguh itu menguatkan batin saya.
Setan kalah di hadapan Kristus dalam Sakramen Mahakudus
Sementara itu pohon-pohon bambu Lembah Karmel sudah mulai tampak… Si Setan
berteriak lagi, ”Rumah jelek! Mosok Tuhan mau tinggal di rumah jelek! Akulah
tuhan.” Aku menjawabnya, ”Itulah bedanya Kristus dengamu, Jelek! Dia mau
merendahkan diri, sedangkan kamu malah menyombongkan diri! Rasakan akibatnya,
kebencian abadi bersamamu sajalah!’ Lalu kudengar ia merajuk lagi, ”Romo, ini
saya, saya sudah sadar… saya mau pulang ke Bekasi, ke Jatibening, ini mau dibawa
ke mana?” Tak terpengaruh atas rajukannya, saya menjawab, ”Sadar gundulmu kuwi!
Kami mau membawamu ke hadapan Sakramen Mahakudus, Raja Semesta Alam yang penuh
kuasa. Hanya kepadaNya semua lidah mengaku dan segala lutut bertelut, termasuk
kamu!”
Pak Satpam membuka gerbang. Ia mengawal kami sampai ke samping kapel kecil (yang
sebenarnya besar sekali). Mobil berhenti di jalan menanjak di samping kapel, di
depan wisma St. Antonius. Tubuh mahasiswi itu kami bopong keluar mobil. Aneh
sekali, badan yang kecil itu mempunyai bobotnya berlipat-lipat. Dia tertawa
ngikik. Mengerikan sekali. Melihat pak Satpam yang tinggi besar, dia berkata
seolah suara mahasiswi itu : ”Wah, ini dia bapakku”. Tapi segera dia
mendesis-desis dan mengikik ketika kami bopong ke kapel, ” Kalian tak kan
berhasil… tak kan berhasil kikikiiiiikkk….” Tubuh kecil namun berbobot itu kami
baringkan di depan panti imam, di bawah altar, di lantai sebelum trap pertama.
Jika dilihat dari ruang umat, kepalanya kami letakkan di sebelah kiri. Anton,
Asrul dan Martha memegangi tangan dan kakinya. Saya minta dipinjamkan korek api
dari pak Satpam untuk menyalakan lilin di kanan kiri tabernakel. Pak Satpam
menyalakan lampu di patung Bunda Maria. Suasana temaram, dan dingin dini hari
menggigit. Pukul 03.45. Saya berlutut di hadapan tabernakel. Saya memohon
kekuatan dari Tuhan sendiri. Lalu saya turun, berlutut lagi di trap di sisi kiri
si mahasiswi. Saya mengajak anak-anak mahasiswa itu berdoa. Saya berdoa: ”Tuhan
Yesus yang hadir dalam Sakramen Mahakudus, dengan rendah hati kami bawa ke
hadapanmu tubuh anakMu yang sedang dirasuki si Jahat. Kami tidak sanggup
mengusirnya dengan kekuatan kami sendiri. Bertindaklah Tuhan atas dia, utuslah
malaikat agungMu dan balatentara sorgawi membebaskan dia. Amin”. Lalu saya
menghadapi tubuh mahasiswi itu dari trap, membelakangi altar dan Sakramen
Mahakudus. Dengan duduk karena lelah, saya angkat tangan kanan saya di atasnya
dan membuat gerakan tanda salib berkat dengan berkata (saya heran mengapa saya
bisa mengatakan ini): ”Atas kuasa imamat rajawi yang diberikan Tuhan Yesus
Kristus kepada GerejaNya dan kepadaku, aku melepaskan ikatan perjanjian
kegelapan antara kamu dengan leluhur anak ini. Dalam Nama Bapa, dan Putra dan
Roh Kudus, Amin.”
Tubuh anak yang berbaring itu tiba-tiba terjungkit, duduk, melengos ke depan,
menatap tajam ke Asrul yang memegangi kakinya, lalu menoleh menatap tajam ke
kiri menatap langsung ke mata saya….. Sedetik kemudian terkulailah tubuh si
mahasiswi ini… Si jahat sudah keluar dari tubuhnya. Si mahasiswi ini lalu
merintih : ”Romo, itu Tuhan Yesus… ooo Tuhan”, tangan kiri dan tangannya nya
menggapai ke arah altar. Tapi kami bawa keluar dengan dituntun. Tapi ia melihat
ke atas, ”Ooo… malaikat banyak sekali… oooh.. Romo, lihat?.. Ooo… Dia yang
terjelek, hitam, telah diborgol… dimasukkan ke dalam kereta… Ooo Malaikat Agung
Santo Mikael… ooh.. Sampai di pintu utama, anak itu minta kembali ke dalam,
”Romo, teman-teman, saya harus kembali… Itu Tuhan…” Dia kutuntun, dan dengan
tangannya ia menggapai ke arah Tabernakel…” Sampai di panti imam, di samping
kanan altar ia mencium patung kaki Kristus… Lalu menuju tabernakel, ia memeluk
tabernakel itu erat-erat. ”Tuhan Yesus terima kasih.. Syukur kepadamu.. ” lalu
ia menangis di situ beberapa saat. Setelah selesai, ia ke altar Bunda Maria, ia
memeluk kaki patung Bunda Maria dan menangis: “Bunda, terima kasih atas doamu.
Aku tak akan meninggalkan engkau dan putramu”…
Iman lebih kuat daripada segala yang jahat
Pak Satpam menyerahkan kunci wisma Antonius. Anak itu mulai mengeluh lapar dan
haus. Pak Satpam menggendongnya. Kini ia tidak berat lagi. Dia membersihkan diri
di wisma, sementara teman-teman yang lain membelikan makanan dan minuman di
warung yang memang agak jauh, karena dapur rumah retret belum buka. Hari masih
pukul 04.30 pagi. Setelah makan minum, anak itu bercerita kepada kami tentang
kejadian semalam. Bahwa setelah makan malam, ia masuk kamar di villa, dan
melihat dua orang manusia bertanduk. Ia takut, lalu menceritakan hal ini kepada
temannya. Kedua makhluk itu marah karena diceritakan keberaadaannya kepada orang
lain. Mereka mengancam akan merasuki semua peserta Rekoleksi KMK KAJ itu. Si
mahasiswi menawar, karena ketakutan serta kasihan kalau semua peserta kesurupan,
maka spontan dia mempersilakan mahluk itu merasuki dirinya saja. Ketika di depan
altar itulah, sebenarnya dia hampir saja mengikuti kehendak Lucifer untuk
mengikutinya. Pasalnya, Lucifer mengancam, jika ia tidak mau ikut, maka imam
itulah yang akan dibunuhnya. Karena kasihan pada Romo, ia akan ikut saja. Tetapi
melesat ada malaikat yang membisikinya, ”Romo itu baik-baik saja, maka lawanlah
Lucifer, sementara kami akan menariknya keluar dari tubuhmu.” Maka ia berani
melawan, dan Lucifer ditarik oleh balatentara malaikat, diborgol lalu dimasukkan
ke dalam kereta yang melesat membuangnya ke neraka. Setelah itu tinggal Tuhan
Yesus dan Bunda Maria yang memeluk dan mendukungnya. Begitulah kesaksiannya.
Namun bagi saya, ini juga adalah suatu kejadian iman melawan kuasa jahat di awal
masa Adven 2010, tepat di Minggu pertama.
Sampai Minggu sore tak habis-habisnya saya, Asrul, Anton, Martha membicarakan
hal ini. Juga teman-teman peserta rekoleksi KMK-KAJ Dekenat Timur dan OMK
Wilayah Mikael Malaikat Agung dan St. Andreas. Semua membuahkan satu kenyataan:
bahwa iman lebih kuat daripada kebencian, apalagi setan. Saya sendiri merasa
dikuatkan dalam iman dan imamat saya, dan disadarkan akan kelemahan diri serta
pertobatan. Saya makin yakin dan percaya bahwa alam maut tak akan menguasai
Gereja sampai kapanpun sesuai dengan janji Tuhan. ”Dan Akupun berkata kepadamu:
Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku
dan alam maut tidak akan menguasainya.” (Mat 16:18). Sungguh, kuasa Allah
mengatasi segalanya. Berbahagialah semua orang yang percaya yang bersandar
kepada-Nya dan mengandalkan Dia.
”Tuhan Yesus, hamba-Mu bersyukur atas pengalaman yang tak terlupakan ini. Aku
semakin teguh mengimani kehadiran-Mu di dalam sakramen- sakramen-Mu. Syukur tak
terkira untuk kuasa-Mu di dalam Sakramen Maha Kudus dan Imamat yang Engkau
karuniakan kepadaku. Segala hormat, pujian dan syukur, kusampaikan kepada-Mu, Ya
Tuhan Raja semesta alam. Amin.”
Terima kasih kepada semua yang telah membaca kisah sharing ini. Semoga kesaksian
ini berguna bagi iman, harapan, dan kasih para pembaca, kepada Allah pencipta
langit dan bumi.
Salam saya,
Yohanes Dwi Harsanto Pr.
Semoga dapat berguna.
Pengalaman tak terlupakan
Saudara-Saudari terkasih, dan para imam yang terhormat. Rasa hati saya masih
menggelegak, bergetar, tremendum-fascinoscum oleh pengalaman pertama saya
melakukan eksorsisme. Pertama-tema saya mengucapkan terima kasih kepada Bruder
Yohanes FC yang telah pernah memposting teks resmi mengenai doa exorcism dari
Vatikan ke milist komunikasi KAS. Saya sempat membacanya sambil lalu waktu itu,
namun puji Tuhan, saya dapat ingat akan apa yang tertulis di postingan bruder
ketika harus menghadapinya sendiri. Melalui pengalaman saya melakukan
eksorsisme, sayapun semakin bersyukur atas rahmat Sakramen Imamat kepada Gereja,
yang ternyata memang menjadi sasaran tembak utama setan namun sekaligus juga
alasan ketakutan setan.
Panggilan menjelang tengah malam
Kisahnya demikian: Pada hari Sabtu, tanggal 27 November 2010, saya mendampingi
rekoleksi OMK (Orang Muda Katolik) Stasi Tambun paroki Bekasi di Cipanas. Dewan
Stasi dan Paroki turut mendampingi. Acara berlangsung dengan baik dan inspiratif
sampai malam hari. Setelah acara api unggun, semua peserta dan penyelenggara
bersiap untuk tidur. Sayapun masuk ke kamar saya. Baru saja saya jatuh tertidur,
pintu kamar saya diketuk. Saudari Marta dan Anton serta beberapa orang yang lain
memberitahu saya, bahwa di Cibulan di daerah bawah Cisarua, ada sekelompok
Mahasiswa KAJ dekenat Timur yang sedang rekoleksi, dan mereka membutuhkan
bantuan imam untuk menghadapi empat orang mahasiswi yang sedang kesurupan. Satu
orang di antara mereka bahkan telah menghilang dan tidak ada di villa. Romo
pendamping yakni Rm. Hari Sulistyo sudah pulang dan tidak akan kembali lagi ke
sana.
Saya terhenyak. Pikiran saya langsung bekerja: jarak antara Cipanas hingga
Cibulan adalah sekitar 15 Km. Cukup jauh. Menjelang pukul sebelas malam begini
pula…. Namun hati saya tergerak untuk menolong. Akhirnya saya memutuskan untuk
berangkat ke sana disertai oleh Martha dan Anton. Sambil mengemudikan mobil,
saya mengingat kembali postingan bruder Yohanes dalam milist, apakah ciri-ciri
orang kerasukan setan dan perbedaannya dengan orang yang mengalami stress
berat/depresi. Lalu saya berpikir, ah, jangan-jangan mereka hanya depresi saja.
Biasanya perempuanlah yang suka kesurupan, dan benar juga, perempuanlah yang
dikatakan kesurupan malam ini. Jujur saja, sebenarnya saya termasuk golongan
orang yang skeptis dalam urusan semacam ini. Maksud saya datang hanyalah sekedar
menenangkan anak-anak itu saja. Kehadiran pastoral sajalah, demikian pikir saya.
Namun demikian, saya tetap mencoba mengingat- ingat kembali teks itu. Kebetulan
handphone BB saya hang setelah tersiram air teh di gerbong kereta api saat saya
kembali dari Jogja ke Jakarta hari Jumat dinihari kemarin. Karena itu, saya
tidak dapat membuka kembali teks dari milist itu. Saat itu saya tak punya
pilihan lain, selain berusaha mengingat- ingat sendiri saja, sambil
berbincang-bincang dengan Anton dan Martha.
Villa tua, tempat si jahat beraksi
Sesampainya kami di villa tua itu, terlihat para “pasien” sudah terlentang dan
tengkurap tidur. Mereka dipisahkan di tiga tempat. ’Pasien’ yang hilang sudah
ditemukan. Menurut berita, ia kini berada di kamar atas. Dari keempat anak itu,
ada satu orang yang kata mereka paling kuat. Karena villa itu tidak dikelola
Gereja dan bukan tempat khusus retret, maka reaksi spontan orang sekitar villa
adalah memanggil Pak Kiyai/dukun setempat. Mbah dukun itu sudah dipanggil sejak
pukul tujuh malam tadi dan gagal, lalu pulang. Kata mbah dukun, jenis ini bukan
yang dia ketahui. Mereka memanggil pula pak Pendeta Protestan dari gereja
terdekat. Namun kata mereka, Pak pendeta juga menyatakan tak sanggup pula, lalu
pulang. Terlihat para mahasiswa masih menggenggam rosario dan berdoa bersama.
Ada salib besi tergeletak di sofa. Pasien terparah itu adalah seorang perempuan
berperawakan kecil saja. Ia tergolek tengkurap di sofa, ditunggui oleh
teman-temannya. ”Ia sudah tidur”, demikian kata mereka. Karena kondisi sudah
tenang, saya spontan memutuskan: ”Ya sudah saya kembali saja, kan anaknya sudah
tidur… ” Tetapi beberapa mahasiswa meminta saya melihat dulu kondisi gadis yang
terparah itu. Kata mereka, tadi dia kuat sekali. Delapan orang mahasiswa lelaki
yang kuat pun dia hempaskan. Rosario yang mereka kalungkan di lehernya ia
putuskan, dan ia lemparkan ke halaman. Anehnya, rosario itu kemudian mereka
temukan berada di WC villa. Salib besi itu juga telah ia ludahi. Kata mereka,
suaranya pun berubah seperti bukan suara gadis itu. Hhmm… Masih dengan agak
skeptis, saya mendekatinya.
Kuncinya: jangan berkompromi dengan setan
Terlihat badan gadis itu tengkurap, mata terpejam separuh. Dari situ terlihat
manik matanya…. melihat ke arah mata saya… Aneh… Saya agak tersinggung. Lha kok
dia melirik ke saya terus. Kepalan tangannya menggenggam erat. Saya duduk di
sofa yang sama, dekat punggungnya. Ia mengais punggung bawah sambil keluar bunyi
desis dari mulutnya, sampai bajunya terlihat sobek sedikit. Desisnya berbunyi
”panasss” …..Lalu, saya nekad… Saya pegang tangannya. Ia memberontak. Saya buka
genggaman tangannya, dia melawan dengan sebaliknya. Posisinya masih menelungkup.
Saya ingat postingan teks dari bruder Yohanes. Ciri kerasukan setan yang
membedakannya dari depresi antara lain adalah, jika disebut nama Malaikat Agung
Santo Mikael, atau nama Para Kudus, juga Bunda Maria dan Tuhan Yesus Kristus,
maka ia tentu akan bereaksi dengan keras. Agak skeptis, namun tetap dengan
memegang erat jari-jari kaku yang mencekam dari anak itu, saya katakan dengan
suara wajar namun jelas terdengar, ”Keluarlah dari badan anak ini! Dalam nama
Yesus Kristus Tuhanmu, serta Malaikat Agung Santo Mikael yang kepadanya kamu
membangkang, keluarlah”.
Namun reaksi anak itu begitu mengejutkan kami semua, termasuk saya sendiri.
Dengan gerakan cepat dan tak terpahami dari sudut mekanika badan manusia, ia
berkelit langsung menatap wajahku, face to face, eyes to eyes….Ia mendesis
menatap lurus ke mata saya, matanya penuh kebencian… Lalu dia berkata: ”Jangan
sebut nama itu! Itu musuh kami!”. Dia bertanya : ”Apakah kamu takut, Bapa?” Saya
menjawab, ”Kamulah yang takut!” Kemudian, dengan tatapannya yang tajam dia
bertanya, ”Mengapa Bapa mengusir saya? Saya juga anak Tuhan. Kalau tidak, tentu
saya tidak ada!” Segera kujawab, ”Kamu anak Tuhan yang tidak taat, sombong.
Mengapa kamu memasuki anak ini?” Namun setan itu menjawab enteng saja, ”Tempat
ini nyaman. Saya mau pergi asalkan anak ini kubawa. Saya telah menambah penyakit
pada dirinya, meremas alat cernanya, dan membunuhnya. Itu salah Bapa kalau Bapa
memaksakan kehendak”. Saya tidak mau diajak tawar menawar dengan setan. Maka
saya menjawab: ”Tidak ada kompromi. Kamu tidak bisa membunuh anak ini dan tidak
akan mampu membawa nyawanya”. Setan inipun menantang saya dengan mengatakan
bahwa ia tidak takut pada imamNya, tidak takut pada Sakramen dan tidak takut
pada Yesus, karena dia juga mengaku sebagai anakNya.
Pergumulan dari tengah malam sampai dini hari
Maka sejak pukul 23.45 hingga memasuki hari Minggu dini hari, saya dan para
mahasiswa Katolik di sana bergumul untuk mengusir setan dari anak itu. Ia yang
kesurupan itupun berubah dari waktu ke waktu. Kadang-kadang suaranya berubah
menjadi lembut bak wanita cantik, namun kemudian menjadi ganas. Kadang ia
tertawa ngikik, kadang menantang, kadang merunduk sok kalah. Kadangkala ia
merajuk minta dikasihani. Anak itu muntah-muntah berkali-kali. Kadang setan
melepaskan anak itu, lalu masuk lagi. Ketika anak itu dilepas, si anak mengeluh,
”Romo, saya tak kuat, badan saya dan usus serta lambung sakit semua. Saya mau
mati saja, dan takut”. Kami menguatkan agar ia berani melawan. Ternyata si anak
ini juga diberitahu oleh setan bahwa Romo akan dibunuhnya jika anak itu tidak
taat padanya. Maka si anak merasa lemah, karena tak mau Romo diapa-apakan oleh
setan.
Namun, yang paling mengejutkan ialah, walaupun setan itu dapat keluar
meninggalkan anak itu tetapi selang beberapa menit, namun kemudian setan kembali
memasuki anak itu dengan jumlah yang makin banyak. ”Kami ini Legion”, katanya
jelas sekali. Ia fasih berbahasa Inggris dan Jawa. Hal ini terjadi ketika saya
mengajak dia berdialog dalam bahasa Inggris dan Jawa, sekedar mengetes apakah
itu benar-benar setan ataukah hanya ’acting’ anak itu. Saya tetap mengingat teks
postingan bruder di milist itu, dan makin yakin akan kebenaran isinya. Saya
katakan padanya, ”Kekuatanmu hanya seperempat. Masih ada Malaikat Agung Santo
Mikael, serta Gabriel dan Rafael.” Mendengar ini, ia mundur dan melepaskan anak
itu. Tiba-tiba ia masuk lagi dan berkata, ”You are stupid, Father”, lalu
menghantam saya. Suatu saat ia terjatuh tepat di salib, dan kontan ia menjerit
kepanasan. Maka para mahasiswa menempelkan salib-salib mereka. Ia berteriak
kepanasan dan tersiksa. Begitulah, si setan itu pergi lagi. Namun dengan cepat
ia kembali lagi, dengan membawa lebih banyak lagi setan bersamanya. Ia mau
menguras kekuatan saya. ”Sampai kapan Bapa bisa bertahan? Akan kukuras tenagamu,
Bapa!”. Saya menjawab sambil teringat Mzm 121:2, ”Kekuatanku datang dari Allah,
yang menjadikan langit dan bumi”. Kami bertempur lagi. Si setan menjerit-jerit,
dan kemudian ia lari lagi… Lalu saya mendengar berita bahwa ketiga mahasiswi
lain sudah dilepaskan. Semua setan kemudian berpindah merasuki mahasiswi yang
satu ini.
”Aku, Lucifer”
Ketika masuk lagi yang terakhir kali ke dalam anak itu, dia memeluk saya. Dengan
seolah suara si mahasiswi, dia mengendus tengkuk saya sambil berbisik, ”Aku
Lucifer”. Saya merinding. Terasa bulu kuduk saya berdiri dan ketakutan mendera.
”Kamu takut, Romo?” katanya dengan lembut di telinga saya. ”Aku akan mengincarmu
terus sampai kapanpun”. Tiba- tiba bangkitlah keberanian saya. Saya berteriak
kepada para mahasiswa: ”Kita mendapat kehormatan, sampai Lucifer sendiri, si
penghulu Setan, datang!” Para mahasiswa terbawa emosi, mereka berdoa makin
keras. Ada pula yang berteriak, ”Hancurkan saja… Sikat dia, Romo!”. Setan itu
berkata, ”Paus Yohanes Paulus II memarahiku”. Kujawab, ”Tak hanya Paus Yohanes
Paulus II, semua paus dan uskup, dan imam memarahimu, bahkan Tuhanmu Yesus dan
Malaikat Agung Mikael atasan langsungmu! Taatlah kepadaNya!” ”Sayalah tuhan”,
jawabnya sinis. Saya membanting dia, dan kami berpegangan tangan sambil saling
melawan. Saya mulai berkeringat dan tenaga saya terkuras, tetapi tetap saja saya
melawannya. Saya mengatakan, ”Kamulah yang ketakutan, melihat kami semua dan
Tuhanmu! Lepaskan badan anak ini, karena dia sudah menerima Sakramen Ekaristi! ”
Lucifer menjawab: ”Aih, itu hanya roti biasa! Dan kalian imam-imam semua bodoh!”
Mendengar perkataannya, saya marah sekali. ”Kamu sudah melawan kuasa imamat
rajawi Tuhan Yesus Kristus! Kamu mau melawan imamatNya?” Lalu ia menjawab dengan
nada meremehkan, ”Aku tak takut, Romo, pada imamatmu!”
Ke kapel Lembah Karmel kami membawanya
Ketika Lucifer menantang imamat saya, saya marah. Saya minta tas saya kepada
para mahasiswa. Saya melepaskan dia dulu untuk mengambil peralatan aspergil dan
stola serta minyak suci, sementara dia ditahan oleh para mahasiswa yang
”menimbunnya”: dengan doa-doa Salam Maria, Bapa Kami, Aku Percaya, serta
menindihnya dengan tubuh-tubuh kuat mereka. Ketika saya datang lagi, saya
percikkan dia dengan air suci. Ia menjerit kepanasan, dan lari. Saat itu, saya
berpikir, ini sudah dini hari, semua akan kacau jika tak diakhiri. Oleh karena
itu, saya memerintahkan agar tubuh mahasiswi ini digotong dan dievakuasi. Mereka
menggotongnya masuk ke mobil saya, lalu saya tancap gas dengan tujuan ke Lembah
Karmel. Saya menelpon Mbak Sari dan Suster Lisa P Karm. Mbak Sari dengan sigap
telah meminta Satpam membuka gerbang dan pintu kapel.
Si mahasiswi dipegangi oleh Martha, Anton dan Asrul. Ia berteriak, ”Cepat Romo,
cepat… dia mengejar…” katanya panik. Kami tetap berdoa Aku Percaya, Bapa Kami,
dan Salam Maria. Tiba-tiba suara mahasiswi berubah lagi, ”Haaa. Mau dibawa ke
mana anak ini, Bapa? Aku telah menambah lagi penyakitnya. Aku meremas
jerohannya… Anak ini hanya sampai dini hari ini, Bapa. Bapalah yang harus
tanggungjawab atas kematiannya!” Kemudian, anak itu muntah-muntah di mobil.
Anton, Asrul dan Marta tetap berdoa dengan memeganginya yang berontak ke sana
kemari. Saya mengatakan kepada Setan itu, ”Kamulah yang harus bertanggungjawab.
Jangan memutarbalik fakta, dasar setan! Kamu telah melecehkan Sakramen
Mahakudus. Kamu akan kubawa ke hadapan Yesus, supaya tahu rasa kamu nanti. Mau
lepaskan dia sekarang, atau nanti kamu makin sengsara di hadapan Raja Semesta
Alam!” Lalu dia mulai merayu lagi, ”Sia-sia semua ini Bapa… Bapa besok banyak
acara kan? Ditunggu banyak umat.. sudahlah Bapa kembali saja istirahat”. Saya
jawab: “Acara satu-satunya imam Tuhan ialah mengenyahkan kamu ke neraka!” Di
situlah selama perjalanan ia menawari saya apapun akan diberikan asalkan saya
tunduk pada keinginannya. Namun, saya tak mau berkompromi. Saya katakan dengan
tegas bahwa dia yang harus tunduk pada Kristus! Mendengar ini ia berkata,
”Sayalah tuhan, I am the Lord”. Saya tertawakan dia. Lalu ia mengancam akan
menggulingkan mobil. Saya menjawab, ”Ini mobil para uskup Indonesia. Tak bakalan
kau berhasil menggulingkannya!” Saya mengingatkannya akan Santo Yohanes Maria
Vianney yang dia bakar tempat tidurnya gara-gara tak mampu mengalahkan imam
kudus itu. Di hatiku aku berharap, Santo Yohanes Maria Vianney, kumohon agar
engkau mendoakan aku untuk mengalahkan Setan ini…
Lalu si Setan lalu merajuk lagi, ”Ah kenapa tenagaku melemah, tak sekuat tadi”.
Anak-anak mahasiswa ikut menjawab, ”Rasain lu.” Dia mendamprat : ”Apa lo, bocah
kemarin sore!” Saya menjawabnya, ”Mereka bukan bocah kemarin sore. Mereka
anak-anak Tuhan semesta alam”. Sepanjang jalan kami berdebat dengan bahasa
Inggris, Jawa, dan Indonesia. Mobil bagaikan terbang… dalam setengah jam kami
mendekati Lembah Karmel, dan semakin mendekati Sakramen Mahakudus. Lagi- lagi,
Setan itu mulai menendang dan berontak. Kukatakan padanya, ”No place for evil,
you know!” Kutantang dia, ”Kenapa kau kuasai anak ini. Apa salahnya?” Dia
menjawab, “Bukan salah anak ini, tetapi ayahnya”. Kujawab: “Ya, aku tahu,
berarti ayahnya mengikat perjanjian kegelapan denganmu. Nanti acara kita di
rumah Tuhan hanya satu, ialah memutus perjanjian leluhur anak ini dengan Lucifer
keparat ini!” Kemudian dia mengikik mirip nenek Lampir dalam film Misteri Gunung
Merapi, atau mirip kuntilanak. Dia katakan: “Bukan, bukan begitu imam bodoh.
Kamu memang imam munafik dan pendosa!” Aku menjawab, “Aku memang pendosa, namun
tidak memberontak kepada Tuhan seperti kamu!”. Dia menjawab lagi, “Ayahnyalah
yang mempersembahkan diri kepadaku, Bodooh!” Kupancing dia, “Jadi, ayahnya
mengikat perjanjian denganmu bukan?” Dia jawab: “Bukan, bodoh! Kamu keliru, imam
bodoh. Ayahnya mempersembahkan diri kepada Kristus. Leluhurnyalah yang
mempersembahkan diri kepadaku”. Dia tertawa ngekek lagi. Saya juga,
mentertawakan kekeliruan saya. Jadinya kami terkekeh bersama. Namun dengan tegas
kukatakan: “Kamu setan bodoh. Gampang dipancing ya hahaha… Maka acara kita
satu-satunya di depan Sakramen Mahakudus nanti hanyalah memutuskan perjanjian
itu dan kamu akan mengalami sengsara kekal. Go to hell! Kalau kamu ingin
bahagia, ajaklah anak buahmu dan dirimu sendiri bertobat, kembali menyembah
Allah yang benar! Jangan iri lagi karena Putra-Allah menjadi Manusia”… Mendengar
perkataan ini, dia meradang, ”I hate you.. I hate all priests of Christ…!!!”
Namun, setelah mendengar betapa ia membenci para imam, saya merasa mendapatkan
kekuatan dan keharuan. Sebab itu artinya kami berada di pihak yang benar,
sehingga kerenanya, Setan membenci kami. Saya membayangkan jajaran imam Tuhan
dan uskup yang berada di pihak saya. Sungguh itu menguatkan batin saya.
Setan kalah di hadapan Kristus dalam Sakramen Mahakudus
Sementara itu pohon-pohon bambu Lembah Karmel sudah mulai tampak… Si Setan
berteriak lagi, ”Rumah jelek! Mosok Tuhan mau tinggal di rumah jelek! Akulah
tuhan.” Aku menjawabnya, ”Itulah bedanya Kristus dengamu, Jelek! Dia mau
merendahkan diri, sedangkan kamu malah menyombongkan diri! Rasakan akibatnya,
kebencian abadi bersamamu sajalah!’ Lalu kudengar ia merajuk lagi, ”Romo, ini
saya, saya sudah sadar… saya mau pulang ke Bekasi, ke Jatibening, ini mau dibawa
ke mana?” Tak terpengaruh atas rajukannya, saya menjawab, ”Sadar gundulmu kuwi!
Kami mau membawamu ke hadapan Sakramen Mahakudus, Raja Semesta Alam yang penuh
kuasa. Hanya kepadaNya semua lidah mengaku dan segala lutut bertelut, termasuk
kamu!”
Pak Satpam membuka gerbang. Ia mengawal kami sampai ke samping kapel kecil (yang
sebenarnya besar sekali). Mobil berhenti di jalan menanjak di samping kapel, di
depan wisma St. Antonius. Tubuh mahasiswi itu kami bopong keluar mobil. Aneh
sekali, badan yang kecil itu mempunyai bobotnya berlipat-lipat. Dia tertawa
ngikik. Mengerikan sekali. Melihat pak Satpam yang tinggi besar, dia berkata
seolah suara mahasiswi itu : ”Wah, ini dia bapakku”. Tapi segera dia
mendesis-desis dan mengikik ketika kami bopong ke kapel, ” Kalian tak kan
berhasil… tak kan berhasil kikikiiiiikkk….” Tubuh kecil namun berbobot itu kami
baringkan di depan panti imam, di bawah altar, di lantai sebelum trap pertama.
Jika dilihat dari ruang umat, kepalanya kami letakkan di sebelah kiri. Anton,
Asrul dan Martha memegangi tangan dan kakinya. Saya minta dipinjamkan korek api
dari pak Satpam untuk menyalakan lilin di kanan kiri tabernakel. Pak Satpam
menyalakan lampu di patung Bunda Maria. Suasana temaram, dan dingin dini hari
menggigit. Pukul 03.45. Saya berlutut di hadapan tabernakel. Saya memohon
kekuatan dari Tuhan sendiri. Lalu saya turun, berlutut lagi di trap di sisi kiri
si mahasiswi. Saya mengajak anak-anak mahasiswa itu berdoa. Saya berdoa: ”Tuhan
Yesus yang hadir dalam Sakramen Mahakudus, dengan rendah hati kami bawa ke
hadapanmu tubuh anakMu yang sedang dirasuki si Jahat. Kami tidak sanggup
mengusirnya dengan kekuatan kami sendiri. Bertindaklah Tuhan atas dia, utuslah
malaikat agungMu dan balatentara sorgawi membebaskan dia. Amin”. Lalu saya
menghadapi tubuh mahasiswi itu dari trap, membelakangi altar dan Sakramen
Mahakudus. Dengan duduk karena lelah, saya angkat tangan kanan saya di atasnya
dan membuat gerakan tanda salib berkat dengan berkata (saya heran mengapa saya
bisa mengatakan ini): ”Atas kuasa imamat rajawi yang diberikan Tuhan Yesus
Kristus kepada GerejaNya dan kepadaku, aku melepaskan ikatan perjanjian
kegelapan antara kamu dengan leluhur anak ini. Dalam Nama Bapa, dan Putra dan
Roh Kudus, Amin.”
Tubuh anak yang berbaring itu tiba-tiba terjungkit, duduk, melengos ke depan,
menatap tajam ke Asrul yang memegangi kakinya, lalu menoleh menatap tajam ke
kiri menatap langsung ke mata saya….. Sedetik kemudian terkulailah tubuh si
mahasiswi ini… Si jahat sudah keluar dari tubuhnya. Si mahasiswi ini lalu
merintih : ”Romo, itu Tuhan Yesus… ooo Tuhan”, tangan kiri dan tangannya nya
menggapai ke arah altar. Tapi kami bawa keluar dengan dituntun. Tapi ia melihat
ke atas, ”Ooo… malaikat banyak sekali… oooh.. Romo, lihat?.. Ooo… Dia yang
terjelek, hitam, telah diborgol… dimasukkan ke dalam kereta… Ooo Malaikat Agung
Santo Mikael… ooh.. Sampai di pintu utama, anak itu minta kembali ke dalam,
”Romo, teman-teman, saya harus kembali… Itu Tuhan…” Dia kutuntun, dan dengan
tangannya ia menggapai ke arah Tabernakel…” Sampai di panti imam, di samping
kanan altar ia mencium patung kaki Kristus… Lalu menuju tabernakel, ia memeluk
tabernakel itu erat-erat. ”Tuhan Yesus terima kasih.. Syukur kepadamu.. ” lalu
ia menangis di situ beberapa saat. Setelah selesai, ia ke altar Bunda Maria, ia
memeluk kaki patung Bunda Maria dan menangis: “Bunda, terima kasih atas doamu.
Aku tak akan meninggalkan engkau dan putramu”…
Iman lebih kuat daripada segala yang jahat
Pak Satpam menyerahkan kunci wisma Antonius. Anak itu mulai mengeluh lapar dan
haus. Pak Satpam menggendongnya. Kini ia tidak berat lagi. Dia membersihkan diri
di wisma, sementara teman-teman yang lain membelikan makanan dan minuman di
warung yang memang agak jauh, karena dapur rumah retret belum buka. Hari masih
pukul 04.30 pagi. Setelah makan minum, anak itu bercerita kepada kami tentang
kejadian semalam. Bahwa setelah makan malam, ia masuk kamar di villa, dan
melihat dua orang manusia bertanduk. Ia takut, lalu menceritakan hal ini kepada
temannya. Kedua makhluk itu marah karena diceritakan keberaadaannya kepada orang
lain. Mereka mengancam akan merasuki semua peserta Rekoleksi KMK KAJ itu. Si
mahasiswi menawar, karena ketakutan serta kasihan kalau semua peserta kesurupan,
maka spontan dia mempersilakan mahluk itu merasuki dirinya saja. Ketika di depan
altar itulah, sebenarnya dia hampir saja mengikuti kehendak Lucifer untuk
mengikutinya. Pasalnya, Lucifer mengancam, jika ia tidak mau ikut, maka imam
itulah yang akan dibunuhnya. Karena kasihan pada Romo, ia akan ikut saja. Tetapi
melesat ada malaikat yang membisikinya, ”Romo itu baik-baik saja, maka lawanlah
Lucifer, sementara kami akan menariknya keluar dari tubuhmu.” Maka ia berani
melawan, dan Lucifer ditarik oleh balatentara malaikat, diborgol lalu dimasukkan
ke dalam kereta yang melesat membuangnya ke neraka. Setelah itu tinggal Tuhan
Yesus dan Bunda Maria yang memeluk dan mendukungnya. Begitulah kesaksiannya.
Namun bagi saya, ini juga adalah suatu kejadian iman melawan kuasa jahat di awal
masa Adven 2010, tepat di Minggu pertama.
Sampai Minggu sore tak habis-habisnya saya, Asrul, Anton, Martha membicarakan
hal ini. Juga teman-teman peserta rekoleksi KMK-KAJ Dekenat Timur dan OMK
Wilayah Mikael Malaikat Agung dan St. Andreas. Semua membuahkan satu kenyataan:
bahwa iman lebih kuat daripada kebencian, apalagi setan. Saya sendiri merasa
dikuatkan dalam iman dan imamat saya, dan disadarkan akan kelemahan diri serta
pertobatan. Saya makin yakin dan percaya bahwa alam maut tak akan menguasai
Gereja sampai kapanpun sesuai dengan janji Tuhan. ”Dan Akupun berkata kepadamu:
Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku
dan alam maut tidak akan menguasainya.” (Mat 16:18). Sungguh, kuasa Allah
mengatasi segalanya. Berbahagialah semua orang yang percaya yang bersandar
kepada-Nya dan mengandalkan Dia.
”Tuhan Yesus, hamba-Mu bersyukur atas pengalaman yang tak terlupakan ini. Aku
semakin teguh mengimani kehadiran-Mu di dalam sakramen- sakramen-Mu. Syukur tak
terkira untuk kuasa-Mu di dalam Sakramen Maha Kudus dan Imamat yang Engkau
karuniakan kepadaku. Segala hormat, pujian dan syukur, kusampaikan kepada-Mu, Ya
Tuhan Raja semesta alam. Amin.”
Terima kasih kepada semua yang telah membaca kisah sharing ini. Semoga kesaksian
ini berguna bagi iman, harapan, dan kasih para pembaca, kepada Allah pencipta
langit dan bumi.
Salam saya,
Yohanes Dwi Harsanto Pr.
Senin, 29 November 2010
Mengenai St.Cyprianus dan St.Agustinus yang argumennya di kutip sebagian
Saya copy artikel bagus dari Ibu Ingrid Listiati dari www.katolisitas.org yang bagus banget :
St. Cyprian dan St. Agustinus menentang kepemimpinan Rasul Petrus?
PEMBAHASAN
- Pertanyaan:
- Jawaban:
- 1. St. Cyprian, Uskup dari Carthage (+ 258)
- a. Pengajaran St. Cyprian
- b. Surat St. Cyprian kepada Paus Kornelius di Roma (252)
- c. Surat St. Cyprian kepada Antonianus, Uskup Numidia (252)
- d. St. Cyprian kepada Paus Stephen (254- 257)
- e. Cyprian kepada seluruh umat
- 2. St. Agustinus, Uskup Hippo (354-430)
- 3. Kesimpulan
Pertanyaan:
Kak, mohon diartikan arti kata2 ini..maksud dari Bapa Gereja itu apa, soalnya tulisan ini digunakan John Calvin untuk menentang Gereja.
“In the person of one man he gave the keys to all, that he might denote the unity of all; the rest, therefore, were the same that Peter was, being admitted to an equal participation of honour and power, but a beginning is made from unity that the Church of Christ may be shown to be one” (Cyprian, de Simplic. Prælat.). Augustine’s words are, “Had not the mystery of the Church been in Peter, our Lord would not have said to him, I will give thee the keys. For if this was said to Peter, the Church has them not; but if the Church has them, then when Peter received the keys he represented the whole Church” (August. Hom. in Joann. 50). Again, “All were asked, but Peter alone answers, Thou art the Christ; and it is said to him, I will give thee the keys; as if he alone had received the power of loosing and binding; whereas he both spoke for all, and received in common with all, being, as it were, the representative of unity. One received for all, because there is unity in all” (Hom. 124).
“In the person of one man he gave the keys to all, that he might denote the unity of all; the rest, therefore, were the same that Peter was, being admitted to an equal participation of honour and power, but a beginning is made from unity that the Church of Christ may be shown to be one” (Cyprian, de Simplic. Prælat.). Augustine’s words are, “Had not the mystery of the Church been in Peter, our Lord would not have said to him, I will give thee the keys. For if this was said to Peter, the Church has them not; but if the Church has them, then when Peter received the keys he represented the whole Church” (August. Hom. in Joann. 50). Again, “All were asked, but Peter alone answers, Thou art the Christ; and it is said to him, I will give thee the keys; as if he alone had received the power of loosing and binding; whereas he both spoke for all, and received in common with all, being, as it were, the representative of unity. One received for all, because there is unity in all” (Hom. 124).
terima kasih..
Thomas Vernando
Thomas Vernando
Jawaban:
Shalom Thomas Vernando,
Jika kita ingin memahami ajaran para Bapa Gereja, kita tidak dapat hanya mencuplik sedikit saja dari tulisan- tulisan mereka dan mengabaikan tulisan- tulisan mereka yang lain. Sebab jika demikian, kita dapat menjadi salah paham.
Sekarang mari kita bahas pernyataan kedua orang kudus tersebut (berikut ini saya terjemahkan):
1. St. Cyprian, Uskup dari Carthage (+ 258)
“Di dalam pribadi satu orang, Ia [Tuhan Yesus] memberikan kunci- kunci kepada semua, sehingga Ia dapat menandai kesatuan semuanya; oleh karena itu para rasul yang lain adalah sama dengan Petrus yang, diijinkan mempunyai hak partisipasi yang sama dalam hal penghormatan dan kuasa, tetapi sebuah permulaan dibuat dari kesatuan sehingga Gereja Kristus dapat terlihat sebagai satu kesatuan.” (St. Cyprian,De catholicae ecclesiae unitate, seperti dikutip oleh John Calvin, Institute of the Christian Religion, p. 734).
Berikut ini saya lampirkan kutipan dari tulisan St. Cyprian -yang dikutip oleh John Calvin- yang dalam bahasa Inggris berjudul The Unity of the Catholic Church (Terima kasih kepada sdr. Phiner yang telah memberitahukan kepada saya teks ini yang secara on-line dapat diakses di link ewtn, klik di sini). Menarik disimak di sini adalah di tulisan tersebut St. Cyprian sesungguhnya ingin menekankan kesatuan Gereja dan malah mengecam orang- orang yang memisahkan diri dari kesatuan Gereja Katolik yang didirikan oleh Kristus di atas Rasul Petrus (Ini jelas disebutkan dalam Bab 1-3). Menurut hemat saya, agaklah dipaksakan argumen yang mengutip kesetaraan para rasul sampai kepada penolakan kepemimpinan Petrus. Sebab justru dikatakan oleh St. Cyprian bahwa pada St. Petruslah permulaan kesatuan Gereja, sebab Gereja didirikan oleh Kristus di atas Rasul Petrus yang mewakili para rasul lainnya. Maka Calvin yang mencuplik hanya satu kalimat dari keseluruhan paragraf/ chapter ini, malah mengaburkan konteks yang sedang dibicarakan. Maka berikut ini saya sampaikan keseluruhan paragraf yang dimaksud, yaitu di Bab 4. (Disampaikan pertama dalam bahasa Inggris, kemudian diikuti dengan terjemahannya dalam bahasa Indonesia):
Chapter 4If anyone considers and examines these things, there is no need of a lengthy discussion and arguments. Proof for faith is easy in a brief statement of the truth.The Lord speaks to Peter: ‘I say to thee,’ He says, ‘thou art Peter, and upon this rock I will build my church, and the gates of hell shall not prevail against it. And I will give thee the keys of the kingdom of heaven; and whatever thou shalt bind on earth shall be bound also in heaven, and whatever thou shalt loose on earth shall be loosed also in heaven.’ Upon him [Peter], being one, He builds His Church, and although after His resurrection He bestows equal power upon all the Apostles, and says: ‘As the Father has sent me, I also send you. Receive
ye the Holy Spirit: if you forgive the sins of anyone, they will be forgiven him; if you retain the sins of anyone, they will be retained,’ yet that He might display unity, He established by His authority the origin of the same unity as beginning from one.Surely the rest of the Apostles also were that which Peter was, endowed with an equal partnershipof office and of power, but the beginning proceeds from unity, that theChurch of Christ may be shown to be one. This one Church, also, the HolySpirit in the Canticle of Canticles designates in the person of the Lord and says: ‘One is my dove, my perfect one is but one, she is the only one of her mother, the chosen one of her that bore her.’ Does he who does not hold this unity think that he holds the faith? Does he who strives against the Church and resists her think that he is in the Church, when too the blessed Apostle Paul teaches this same thing and sets forth the sacrament of unity saying: ‘One body and one Spirit, one hope of your calling, one Lord, one faith, one baptism, one God’?Bab 4.Jika seseorang mempertimbangkan dan memeriksa hal- hal ini [adanya penyesatan secara halus yang menyimpang dari kebenaran Kristus dalam Gereja], tidaklah perlu diskusi dan argumen yang panjang. Tuhan berbicara kepada Petrus, “Aku berkata kepadamu,” Ia berkata, “Kamu adalah Petrus, dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan Gereja-Ku, dan alam maut tidak akan menguasainya. Dan Aku akan memberimu kunci- kunci Kerajaan Surga, dan apapun yang kau ikat di dunia akan terikat juga di Surga dan apapun yang kau lepas di dunia akan terlepas juga di Surga.’ Di atas dia [Petrus], yang satu, Ia [Yesus] mendirikan Gereja-Nya, dan meskipun setelah kebangkitan-Nya Ia memberikan kuasa yang sama kepada semua rasul-Nya, dan berkata, “Seperti Bapa telah mengutus aku, Aku juga mengutus kamu. Terimalah Roh Kudus: Jika kamu mengampuni dosa orang, dosanya akan diampuni; jika kamu menyatakan dosanya tetap ada, dosanya tetap ada,’ tetapi agar Ia dapat menunjukkan kesatuan, Ia mendirikan dengan kuasa-Nya, asal muasal dari kesatuan yang sama sebagai permulaan dari satu. Tentulah para rasul yang lain juga adalah seperti Petrus, yang dikaruniai dengan kerjasama yang sama tentang tugas dan wewenang, tetapi permulaan berawal dari kesatuan, bahwa Gereja Kristus dapat terlihat sebagai satu kesatuan. Gereja yang satu ini, juga di dalam kitab Kidung Agung Roh Kudus menandai di dalam pribadi Tuhan dan berkata: ‘Satu adalah burung merpatiku, kesempurnaanku adalah satu, ia adalah hanya satu- satunya dari ibunya, satu- satunya yang dipilihnya yang melahirkan dia.’ Apakah ia yang tidak memegang kesatuan ini berpikir bahwa ia memegang iman? Apakah ia yang berusaha keras melawan Gereja dan menentangnya berpikir bahwa ia ada di dalam Gereja, ketika Rasul Paulus yang terberkati juga mengajarkan hal yang sama dan menentukan sakramen kesatuan, dengan berkata: ‘Satu Tubuh dan satu Roh, satu pengharapan, satu Tuhan, satu iman, satu baptisan, satu Allah’?
Menarik untuk dilihat di sini, bahwa Calvin mengutip kalimat yang dicetak tebal, tetapi tidak mengutip perkataan yang digarisbawahi. Padahal kalimat yang digarisbawahi tersebut justru menunjukkan konteks tulisan yang dikutip Calvin (yang dicetak tebal). Membaca keseluruhan paragraf di atas, secara obyektif seseorang dapat menyimpulkan bahwa tulisan itu tidaklah dimaksudkan untuk menolak kepemimpinan Petrus, tetapi malahan untuk menekankan pentingnya kesatuan Gereja, dalam kesatuan dengan para rasul, di mana Rasul Petrus merupakan permulaan kesatuan itu, karena di atasnyalah Tuhan Yesus mendirikan Gereja-Nya. Inilah yang diajarkan oleh Gereja Katolik.
Jadi St. Cyprian tetap mengakui hal pemberian kunci- kunci kepada satu orang (yaitu Petrus) yang menandai kesatuan para rasul, sebagai ‘permulaan dari kesatuan/ a beginning is made from unity‘). Implikasinya adalah kesatuan Gereja dimulai dari pemberian kunci- kunci kepada Rasul Petrus yang juga mewakili para rasul yang lain. Selanjutnya para rasul diberi kuasa yang sama dalam melanjutkan karya penyelamatan Kristus. Gereja awal melaksanakan hal ini, dan kuasa dan wewenang para rasul itu kemudian diteruskan oleh para Uskup, yang mengepalai jemaat/ Gereja. Konsili Vatikan II mengajarkan bahwa kuasa yang sama yang diberikan kepada para Uskup tersebut adalah dalam hal tugas sebagai guru, imam dan pelayan:
Perutusan ilahi, yang dipercayakan Kristus kepada para rasul itu, akan berlangsung sampai akhir zaman (lih. Mat 28:20)….. Maka dari itu … para Rasul telah berusaha mengangkat para pengganti mereka.….supaya perutusan yang dipercayakan kepada para Rasul dapat dilanjutkan sesudah mereka meninggal, mereka menyerahkan kepada para pembantu mereka yang terdekat – seakan-akan sebagai wasiat – tugas untuk menyempurnakan dan meneguhkan karya yang telah mereka mulai. Kepada mereka itu para Rasul berpesan, agar mereka menjaga seluruh kawanan, di mana mereka telah ditempatkan oleh Roh Kudus untuk menggembalakan Gereja Allah (lih. Kis 20:28)…. Di antara pelbagai pelayanan, yang sejak awal mula dijalankan dalam Gereja itu, menurut tradisi yang mendapat tempat utama ialah tugas mereka yang diangkat menjadi Uskup, dan yang karena pergantian yang berlangsung sejak permulaan membawa ranting benih rasuli. Demikianlah menurut kesaksian S. Ireneus, melalui mereka yang oleh para Rasul diangkat menjadi uskup serta para pengganti mereka sampai akhir zaman kita, tradisi rasuli dinyatakan dan dipelihara di seluruh dunia.Jadi para Uskup menerima tugas melayani jemaat bersama dengan para pembantu mereka, yakni para imam dan diakon. Sebagai wakil Allah mereka memimpin kawanan yang mereka gembalakan, sebagai guru dalam ajaran, imam dalam ibadat suci, pelayan dalam bimbingan. Seperti tugas, yang oleh Tuhan secara khas diserahkan kepada Petrus ketua para rasul, dan harus diteruskan kepada para penggantinya, tetaplah adanya, begitu pula tetaplah tugas para rasul menggembalakan Gereja, yang tiada hentinya harus dilaksanakan oleh pangkat suci para Uskup. Maka dari itu Konsili suci mengajarkan, bahwa atas penetapan ilahi para Uskup menggantikan para Rasul sebagai gembala Gereja. Barang siapa mendengarkan mereka, mendengarkan Kristus; tetapi barang siapa menolak mereka, menolak Kristus dan Dia yang mengutus Kristus (lih. Luk 10:16) (Konsili Vatikan II, Tentang Gereja,Lumen Gentium 20)
Kesamaan penghormatan dan kuasa/ wewenang para Uskup pada daerah pelayanannya tidak meniadakan keutamaan kepemimpinan Rasul Petrus selaku kepalanya. Hal ini jelas jika kita membaca pengajaran St. Cyprian dan tulisan- tulisannya yang lain, yaitu:
a. Pengajaran St. Cyprian
“Tuhan berkata kepada Petrus: “Aku berkata kepadamu,” Ia berkata, ‘bahwa engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan Gereja-Ku, dan alam maut tidak akan menguasainya. Dan kepadamu aku akan memberikan kunci Kerajaan Surga: dan apapun yang kamu ikat di dunia akan terikat di surga dan apapun yang kamu lepaskan di dunia akan terlepas di Surga.” Dan lagi Ia berkata kepadanya setelah kebangkitan-Nya, “Gembalakanlah domba- domba-Ku.” Atasnya Ia mendirikan Gereja-Nya, dan kepadanya Ia memberikan perintah untuk menggembalakan domba- domba-Nya; dan meskipun Ia memberikan kuasa serupa kepada semua rasul-Nya, namun Ia mendirikan [hanya] satu kursi kepemimpinan; dan Ia mendirikan dengan kuasa-Nya sendiri sebuah sumber dan alasan mendasar untuk kesatuan itu. Memang para rasul yang lain ada di mana Petrus berada, namun keutamaan diberikan kepada Petrus, di mana sudah dinyatakan dengan jelas bahwa hanya ada satu Gereja dan satu kursi kepemimpinan. Demikian pula, semua gembala dan kawanan dombanya dinyatakan satu, yang diberi makan oleh semua Rasul dengan pemikiran yang satu. Jika seseorang tidak berpegang pada kesatuan dengan Petrus ini, dapatkah ia membayangkan bahwa ia masih memegang iman? Jika ia mengabaikan kursi kepemimpinan Petrus yang atasnya Gereja didirikan, dapatkah ia masih yakin dan percaya bahwa ia berada di dalam Gereja?” (St. Cyprian, The Unity of the Church, 4, (251-256)in Jurgens, Faith of the Early Fathers, 1:220. Menurut Cyprian, The See of Rome is ecclesia principalis unde unitas sacerdotalis exorta est, “The Church which persides in Love” (Gereja yang memimpin di dalam kasih), seperti dikutip dalam John Meyendorff, The Primacy of Peter, (Crestwood: New York: St. Vladimir’s Seminary Press, 1992) p. 98-99)Hanya ada satu Tuhan dan satu Kristus, dan satu Gereja dan satu kursi kepemimpinan yang didirikan di atas Petrus, oleh perkataan Tuhan Yesus. Tidaklah mungkin untuk membangun altar yang lain atau imamat yang lain disamping altar yang satu dan imamat yang satu itu. Siapapun yang berkumpul di luar kesatuan itu, akan tercerai berai.” (St. Cyprian, Letter of Cyprian to All His People [43 (40),5] in Jurgens, Faith of the Early Fathers, 1:229).
b. Surat St. Cyprian kepada Paus Kornelius di Roma (252)
Dalam suratnya kepada Paus Cornelius di Roma (252), Cyprian menulis:
“Dengan uskup yang mereka tunjuk sendiri oleh para heretik, mereka bahkan berlayar dan membawa surat- surat dari para skismatik dan bidat kepada kursi kepemimpinan Petrus dan pimpinan Gereja, di mana kesatuan imamat mempunyai sumbernya; namun mereka [para bidat] tidak berpikir bahwa ini adalah jemaat Roma, yang imannya dipuji oleh Rasul pengkhotbah [Paulus] dan di antara mereka tidak mungkin kesesatan dapat masuk.” (Letter of Cyprian to Cornelius of Rome 59, 14, in Jurgen, Faith of the Early Fathers, 1: 232)
c. Surat St. Cyprian kepada Antonianus, Uskup Numidia (252)
“Kamu menulis juga bahwa saya harus meneruskan kepada Kornelius [Uskup Roma], kolega kita, salinan dari suratmu, sehingga beliau dapat mengesampingkan semua keresahan dan mengetahui langsung bahwa kamu berada di dalam persekutuan dengan beliau, yaitu dengan Gereja Katolik.”[1]
Di sini diketahui bahwa St. Cyprian mengajarkan bahwa untuk berada dalam persekutuan dengan seluruh Gereja Katolik, seseorang harus berada dalam persekutuan langsung dengan Uskup Roma.
“Ketika penganiayaan sudah reda, dan kesempatan untuk bertemu memungkinkan; sejumlah besar uskup Afrika …. bertemu bersama … Dan jika sejumlah uskup di Afrika tidak puas, kamu juga menulis ke Roma, kepada Kornelius [Paus], kolega kita tentang hal ini, yang juga akan mengadakan konsili dengan banyak sekali uskup, yang setuju dalam satu pendapat seperti yang kita pegang. (Letter of Cyprian to Antonianus, a Bishop in Numidia 51, 6, (251-252), ANF, 5:328).
Melalui surat ini St. Cyprian menyatakan praktek yang terjadi untuk menyelesaikan perselisihan pendapat di keuskupannya, dengan mengakui keutamaan Uskup Roma.
“Kornelius dijadikan Uskup [Uskup Roma] oleh keputusan Tuhan dan Kristus, oleh kesaksian hampir semua klerus, oleh dukungan orang- orang yang hadir pada saat itu, oleh kolese para imam yang terberkati, dan orang- orang yang baik lainnya, … di mana adalah tempat Petrus, martabat kursi kepemimpinan imamat. Sebab kursi terisi sesuai dengan kehendak Tuhan dan dengan persetujuan kita semua…. Sebab seseorang tidak dapat mempunyai jabatan gerejawi jika tidak memegang kesatuan dengan Gereja.” (Letter of Cyprian to Cornelius of Rome 55 (52), 8, in Jurgen, Faith of the Early Fathers, 1: 230)
d. St. Cyprian kepada Paus Stephen (254- 257)
“Cyprian kepada saudaranya [Paus] Stephen, salam …. Adalah pantas bagimu untuk menuliskan surat- surat kepada sesama uskup yang ditunjuk di Gaul, agar tidak menderita lagi karena Marician….karena ia sepertinya tidak di-ekskomunikasi oleh kami …. Biarlah surat- surat ditujukan olehmu kepada provinsidan orang- orang yang ada di Arles, yang dengan demikian, Marcian diekskomunikasi; [dan] orang lain dapat menggantikan kedudukannya… Sebab kehormatan dari para pendahulu kami, para martir Paus Kornelius dan Lucius, seharusnya dilestarikan… Tunjukkan kepada kami siapa yang ditunjuk menggantikan Marcian, sehingga kami mengetahui kepada siapa kami mengarahkan saudara- saudara kami, dan kepada siapa kami harus menulis[surat].”[2]
Di sini terlihat bahwa Cyprian tidak menganggap bahwa posisinya sebagai uskup setara dengan uskup Roma, sebab jika demikian ia tidak perlu menulis demikian kepada Paus Stephen. Bahkan St. Cyprian yang sering dianggap menentang kepemimpinan Paus (Cyprian berbeda pandangan dengan Paus Stephen dalam hal menerima baptisan yang dilakukan oleh para heretik. Cyprian berkeras untuk membaptis kembali, sedang Paus Stephen, memegang makna satu baptisan (Ef 4:5) menerima para heretik yang bertobat, tanpa perlu membaptis kembali; sepanjang baptisan diadakan dalam intensi, forma dan materia yang sama seperti yang dilakukan oleh Gereja Katolik), namun ia memohon kepada Uskup Roma (Paus) untuk melakukan kepemimpinan atas Gereja universal.
e. Cyprian kepada seluruh umat
“Hanya ada satu Tuhan dan satu Kristus, dan satu Gereja, dan satu Tahta yang didirikan di atas Petrus oleh sabda Tuhan. Tidaklah mungkin untuk memasang altar lain atau untuk di sana mengadakan imamat lain, di samping satu altar dan satu imamat itu. Siapapun yang mengumpulkan di tempat lainnya tercerai berai.” (Letter of Cyprian to All His People [43 (40), 5], in Jurgen, Faith of the Early Fathers, 1:229)
Perlu kita renungkan, mengapa John Calvin tidak mengutip tulisan St. Cyprian yang ini?
2. St. Agustinus, Uskup Hippo (354-430)
Calvin mengutip tulisan St. Agustinus yang mengatakan demikian (berikut ini terjemahannya):
“Jika misteri/ rahasia Gereja tidak ada di dalam Petrus, Tuhan kita tidak akan berkata kepadanya, Aku akan memberimu kunci-kunci [kunci Kerajaan Surga]. Sebab jika ini dikatakan kepada Petrus maka Gereja tidak mempunyai kunci-kunci itu; tetapi jika Gereja mempunyai kunci- kunci tersebut, maka ketika Petrus menerima kunci- kunci itu, ia mewakili seluruh Gereja” (St. Augustine, In Johann. 50).
“Semua ditanyai, tetapi hanya Petrus saja yang menjawab, Engkau adalah Kristus; dan dikatakan kepadanya, Aku akan memberi kamu kunci-kunci; seakan-akan ia sendiri telah menerima kuasa melepas dan mengikat; namun ia [Petrus] berkata atas nama semua, dan menerima bersama-sama dengan semua, menjadi sepertinya, wakil dari kesatuan. Seseorang menerima atas nama semua, sebab terdapat kesatuan di dalam semua.” (St. Augustine, De tempore homilia 124).
Dari tulisan ini St. Agustinus ingin menyampaikan bahwa bukan hanya kepada Petrus, Tuhan Yesus memberikan kuasa ‘mengikat dan melepaskan’, namun juga kepada para rasul lainnya. Tentu saja Gereja Katolik juga mengajarkan hal ini, sebab ini disebutkan jelas di dalam Injil (Mat 18:18). Namun pemberian kuasa mengikat dan melepaskan kepada para rasul tidak meniadakan kepemimpinan Petrus atas para rasul lainnya, sebab demikian juga yang diajarkan oleh St. Agustinus dalam tulisannya yang lain, terutama pada saat ia menuliskan suratnya kepada para heretik/ bidat. Demikian kutipannya:
“Sebab jika jalur suksesi para uskup harus diperhitungkan, dengan kepastian yang lebih tinggi dan menguntungkan bagi Gereja, kita menghitung kembali sampai kepada Petrus sendiri, kepada siapa, sebagai yang mengemban figur seluruh Gereja, Tuhan berkata: ‘Di atas batu karang ini Aku mendirikan Gereja-Ku, dan alam maut tidak akan menguasainya!’ Penerus Petrus adalah Linus, dan para penerusnya dalam kesinambungan yang tidak terputus adalah: Klemens, Anakletus, Evaristus, Alexaner, Sixtus, Teleforus, Iginus, Anicetus, Pius, Soter, Eleutherius, Victor, Zephirinus, Calixtus, Urbanus, Pontianus, Antherus, Fabianus, Cornelius, Luciu, Stefanus, Xystus, Dionisius, Felix, Eutychianus, Gaius, Marcellinus, Marcellus, Eusebius, Miltiades, Sylvester, Marcus, Julius, Liberius, Damasus, dan Siricius yang digantikan oleh Uskup Anastasius saat ini. Dalam jalur apostolik ini tidak ditemukan satupun Uskup Donatis” (Letters of St. Augustine 53, 3, NPNF 1, 1:298. Donatism adalah aliran sesat yang berkembang pada masa St. Agustinus hidup).
Di sini kita melihat adanya pernyataan yang kuat yang mendukung keutamaan Uskup/ Paus di Roma, untuk menolak ajaran sesat. St. Agustinus memberikan dasar untuk menolak para bidat dengan menyatakan adanya tradisi dan suksesi kepemimpinan apostolik di dalam Gereja Katolik. St. Agustinus menanyakan secara rethorik, “Apakah para Donatist mempunyai klaim kebenaran kepada kebenaran? Tidak. Dapatkah mereka mengklaim suksesi apostolik dari Petrus sendiri? Tidak.” Oleh karena itu mereka tidak di dalam Gereja dan tidak dapat mengklaim kembali sampai kepada para rasul.
Selanjutnya, dalam suratnya menanggapi penyerangan yang dilakukan para bidat kepada Caecilianus, Uskup Carthage, St. Agustinus menulis demikian:
“Kota itu (Carthage) mempunyai seorang uskup yang otoritasnya tidak kecil, yang mampu untuk tidak mempedulikan banyaknya para musuhnya yang bersekongkol menyerang dia, ketika ia [Caesilianus] melihat dirinya bersatu dalam surat persekutuan, baik dengan Gereja Roma, yang di dalamnya keutamaan tahta apostolik [apostolicae cathedrae principatus] telah selalu diterapkan- dan dengan daratan yang lain- yang dari mana Injil datang ke Afrika itu sendiri, di mana ia dapat dengan siap sedia memohon tentang kasusnya, jika para penyerangnya berusaha mengasingkan gereja- gereja itu darinya.” (St. Augustine, Epistle 43,7, in Joseph Berrington and John Kirk, Faith of Catholics, ed. T.J. Capel, vol 2 (New York: F. Pustet & Co, 1885) p. 81-82.
Untuk menangani ajaran sesat yang terjadi di Afrika Utara, para Uskup, termasuk St. Agustinus, Uskup Hippo, mengirimkan surat untuk memperoleh konfirmasi resmi konsili mereka dari “tahta apostolik”/ Apostolik See. Surat tersebut diawali dengan perkataan, “Sebab Tuhan, dengan kelimpahan yang istimewa dari rahmat-Nya, telah menempatkan engkau di Tahta Apostolik…”
3. Kesimpulan
Dengan melihat fakta di atas, maka secara obyektif kita dapat melihat bahwa sebenarnya baik St. Cyprian maupun St. Agustinus tidak menentang keutamaan Paus. Pernyataan mereka yang seolah mengatakan bahwa kunci-kunci diberikan kepada para rasul yang lain, mengacu kepada pemberian kuasa ‘mengikat dan melepaskan’ yang memang diberikan kepada para murid yang lain seperti yang tertulis dalam Mat 18:18. Namun baik St. Cyprian dan St. Agustinus tidak menyangkal bahwa keuskupan/ Gereja Roma tetap menempati tempat istimewa di antara keuskupan/ Gereja lainnya. Tulisan- tulisan mereka secara keseluruhan membuktikan hal itu, terutama dengan kenyataan bahwa mereka tetap menulis surat kepada keuskupan/ Gereja Roma yang mereka sebut sebagai “kursi kepemimpinan Petrus dan pimpinan Gereja, di mana kesatuan imamat mempunyai sumbernya” (St. Cyprian) atau sebagai “Tahta Apostolik” (St. Agustinus).
Agaknya kita tidak dapat hanya mengambil sebagian dari tulisan para Bapa Gereja dan kemudian terlalu bergegas mengambil kesempulan, karena sesungguhnya tak seorangpun dari kedua Uskup tersebut menentang keutamaan Gereja Roma.
Demikian Thomas, semoga keterangan di atas dapat berguna.
Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- katolisitas.org
Ingrid Listiati- katolisitas.org
Langganan:
Postingan (Atom)