Mengasihi Sesama

Mengasihi Sesama
Ibu Theresa dari Calcuta

Sabtu, 14 Maret 2020

Tubuh Manusia penting untuk Penyembahan ???

Allah yang dimulai oleh Yesus melalui Inkarnasi-Nya: menyelamatkan dunia. Hal itu tidak terjadi
di luar dunia jasmani. Pembaruan dunia oleh surga dimulai pada saat Inkarnasi, dan akan berlangsung
terus di sekeliling alam jasmani kita. 


Tom Howard, di dalam bukunya Evangelical Is Not Enough, menunjukkan bahwa orang Evangelis
berprasangka buruk  terhadap sesuatu yang jasmani. Prasangka buruk ini mengingatkan kepada
ajaran Manikheisme, aliran sesat Gnostik, pada zaman Gereja purba. Banyak orang Evangelis 
berkeyakinan teguh bahwa Allah tidak menggunakan sesuatu yang jasmani untuk berhubungan
dengan kita secara rohani. Kita telah membicarakan hal ini, betapa prasangka buruk ini membatasi
kemampuan orang Evangelis untuk menghargai Ekaristi dan pembaptisan sebagaimana diajarkan
oleh Kitab Suci. 


Ada beberapa hal lain lagi yang dipengaruhi oleh prasangka buruk terhadap sesuatu yang jasmani ini.
Hal yang sangat nyata berhubungan dengan cara kita melakukan penyembahan. Jika Allah mencintai
tubuh kita, kita seharusnya menyembah-Nya  dengan menggunakan tubuh kita. Ketika orang Katolik
memasuki gereja untuk berdoa, mereka berhenti di wadah air suci dekat pintu masuk. Mereka
mencelupkan jari mereka ke dalam air dan membuat tanda salib pada diri mereka. Mereka menyentuh
kening, dada, kemudian kedua pundak mereka, sambil berdoa “Dalam nama Bapa, dan Putra, dan
Roh Kudus, Amin”, yang mengingatkan mereka akan Tritunggal. Air itu mengingatkan mereka akan
pembaptisan mereka. Tanda salib mengingatkan mereka akan harga yang harus dibayar untuk
menebus mereka, dan mengingatkan bahwa mereka juga dipanggil untuk memanggul salib setiap
hari. Saat mencapai tempat duduk, mereka menekuk satu dari lutut mereka ke arah tabernakel. Ini
adalah tanda penghormatan, sama seperti cara orang memperlakukan para bangsawan. Kristus
adalah bangsawan tingkat paling tinggi. Tabernakel merupakan tempat Kristus bersemayam, tubuh,
jiwa dan keilahianNya. Sebuah lampu khusus dinyalakan dekat tabernakel sehingga semua orang
akan tahu bahwa Kristus hadir secara jasmani di dalam gereja. Ketika sampai di tempat duduk, orang
Katolik akan berlutut, membuat tanda salib lagi, dan berdoa. Pada saat itu mereka mengingat diri
mereka sendiri, memeriksa kesalahan kesalahan mereka, dan mulai melakukan penyembahan.
Dengan melakukan ini mereka memberikan kesempatan kepada Allah untuk berbicara kepada
mereka mengenai peristiwa-peristiwa sepekan yang telah lewat agar mereka berterima kasih atas
seluruh pemberian-Nya. Di bagian depan gereja ada altar, tempat kurban Ekaristi akan dilakukan.
Saat Misa, pada bagian-bagian tertentu umat akan duduk, seperti ketika pastor berkhotbah; pada
bagian-bagian lain mereka akan berdiri untuk menghormati, seperti ketika Injil dibacakan; dan pada
bagian-bagian lain lagi mereka berlutut untuk penyembahan (lih. Neh 8:6-7), ketika Kristus hadir
secara jasmani di dalam bahan-bahan komuni pada saat konsekrasi. Ketika mereka pulang, mereka
akan menekuk salah satu lutut mereka dan menggunakan air untuk membuat tanda salib di pintu
keluar. 


Semua tindakan ini aneh di mata orang Evangelis. Karena mereka tidak mengerti, mereka menyebut
itu sesuatu yang “ritual” atau “takhayul”. Saya mengetahuinya, karena seperti itulah yang saya pikirkan
hampir sepanjang hidup saya. 


Namun seharusnya kita tidak menghakimi sesuatu yang tidak kita pahami. Orang Katolik menyembah
Allah dengan seluruh tubuh mereka. Mereka melakukan ini karena kita bukanlah malaikat. Malaikat
tidak memiliki tubuh. Seandainya mereka memiliki tubuh, apakah kita akan berpikir mereka akan
menolak untuk merendahkan tubuh mereka dengan berlutut, sebagai penghormatan? 


Kitab Wahyu menggambarkan surga sebagai suatu tempat di mana para malaikat dan orang-orang
yang telah ditebus menyembah dalarn kekaguman yang kudus: “Maka tersungkurlah kedua puluh
empat tua-tua itu di hadapan Dia yang duduk di atas takhta itu, dan mereka menyembah Dia”
(Why 4:9-11). Para tua-tua itu menggunakan tubuh mereka untuk menyembah. 


Orang Katolik senang menggunakan segala perasaan di dalam penyembahan mereka. Ketika saya
dan keluarga saya menjadi Katolik, kami sudah mengetahui bagaimana menggunakan telinga dan
suara untuk menyembah Allah. Saya senang menyanyi. Ketika saya menyanyi dalam ibadat Katolik,
lebih mudah bagi mata saya untuk tetap terfokus kepada Kristus dan pikiran saya pada kata-kata lagu
yang dinyanyikan. 


Dupa digunakan, sebagaimana pada Perjanjian Lama, untuk melambangkan doa yang dilambungkan
kepada Allah. Hal itu dapat juga mengingatkan kita bahwa kita sedang berada di suatu tempat di mana
Allah hadir untuk disembah. Istri saya menggunakan minyak wangi untuk tujuan yang sama:
mengingatkan saya akan kehadirannya. Saya tidak pernah mengecamnya karena melakukan hal itu. 


Pengecapan dan sentuhan pun digunakan untuk menyembah Allah setiap hari Minggu. Saya
mengecap Tubuh dan Darah Kristus. Saya percaya itu adalah Tubuh Kristus berdasarkan kata-kata
Kristus sendiri. Kitab Suci begitu jelas mengatakan hal ini dan hanya orang yang berprasangka buruk
yang akan menjelaskan Ekaristi sesuai ajaran Evangelis. Saya menyentuh Tubuh Kristus yang
sungguh hadir di dalam Ekaristi kudus, dan saya menyentuh tubuh mistik-Nya ketika saya berbagi
damai-Nya dengan umat yang lain (saat dalam Misa di mana setiap orang saling bersalaman dengan
mengucapkan kata seperti “Damai Kristus besertamu”). Bahkan murid-murid Yesus sendiri tidak
pernah sedekat ini dengan Kristus, dengan cara yang nyata dan secara jasmani, dibandingkan
dengan saya pada setiap Misa. 


Kita memiliki mata, dan orang Katolik ingin agar mata mereka mengingatkan mereka akan Allah dan
karya penebusan-Nya. Altar di setiap gereja Katolik memiliki sebuah salib di atasnya. Gereja lokal
saya kebetulan memiliki sebuah salib dengan patung Yesus yang terbuat dari perunggu yang indah,
panjangnya sekitar tujuh kaki. Seorang pendeta Evangelis berpendapat bahwa adanya salib ini
karena orang Katolik tidak sungguh-sungguh percaya akan kebangkitan! Ketika saya menatap salib
itu, mata saya membantu jiwa saya untuk berkonsentrasi pada apa yang dilakukan Allah untuk
membawa saya kepada Gereja-Nya. Orang Katolik percaya akan kebangkitan, namun tidak ada
Paskah tanpa Jumat Agung. 


Pada awalnya patung-patung dan kaca-kaca berwarna merupakan batu sandungan bagi saya dan
Colleen. (Seorang pendeta Evangelis bersaksi bahwa ia tidak dapat menahan ketawa saat melihat
patung Maria di bagian depan mobil orang Katolik). Setelah saya dan Colleen memahami tujuannya,
patung malahan menjadi sarana yang membantu. Kita dapat mengarahkan perhatian kita kepada
salib di atas altar dan mengetahui Allah mengerti bahwa tujuan kita adalah menyembah-Nya.
Di dalam gereja Evangelis, biasanya podium, pengkhotbah, atau koor yang menjadi elemen
dominan di depan gereja. Pengaturan seperti itu membuat orang jauh lebih sulit untuk menyembah
secara langsung kepada Allah sendiri. Barang atau orang-orang tersebut dapat menghalangi jalan. 


Dulu saya menggunakan satu dari Sepuluh Perintah Allah sebagai dasar argumentasi melawan
keberadaan patung-patung di gereja: “Jangan membuat bagimu patung yang menyerupai apa pun
yang ada di langit di atas, atau yang ada di bumi di bawah, atau yang ada di dalam air di bawah bumi.
Jangan sujud menyembah kepadanya atau beribadah kepadanya” (Kel 20:4- 5). Namun orang
Evangelis tidak memperhitungkan Keluaran 25:18-22 dan 36:8-35, di mana Musa diperintahkan
secara khusus oleh Allah untuk membuat patung-patung yang akan digunakan dalam menyembah
Dia. Dalam Bilangan 21:8-9, Allah memerintahkan Musa untuk membuat sebuah ular tembaga agar
mereka yang dipagut oleh ular berbisa dapat diselamatkan. Orang yang telah dipagut harus melihat
patung ular itu agar disembuhkan. Allah memerintahkan lagi untuk membuat patung-patung ketika
Salomo mendirikan sebuah Bait Suci (lRaj 6:23-29 dan 7:23-26). Sangat jelas bahwa Sepuluh
Perintah Allah melarang penggunaan patung-patung yang tidak berhubungan dengan penyembahan
kepada Yahweh. Orang Katolik menggunakan patung sesuai dengan maksud Alkitab, 


Orang Evangelis juga menggunakan patung dan gambar. Banyak orang Evangelis menggunakan
patung bayi Yesus pada saat Natal. Sesuatu yang konyol bila menuduh mereka melakukan
penyembahan patung bayi Yesus. Baik orang Katolik maupun orang Evangelis tidak melanggar
Sepuluh Perintah Allah hanya karena menggunakan patung atau gambar. 


Orang Katolik tidak “menyembah” gambar, patung, dan relikui sebagaimana pemahaman orang
Evangelis atas kata “menyembah”. Hal ini sangat jelas dalam literatur Katolik. Orang Katolik
menggunakan pengingat yang berwujud untuk memfokuskan jiwa mereka dalam menyembah Allah.
Hanya Allahlah yang harus menjadi tujuan dari segala penyembahan, Orang Katolik menghormati
patung, para kudus, atau Maria. Literatur Katolik mengajarkan dengan jelas bahwa dosa berat bila
menyembah siapa pun atau apa pun selain Allah. Lebih lanjut, orang Katolik “menyembah” (worship),
“memuja” (adore), dan “menghormati” (venerate). Orang Katolik menyembah dan memuja hanya Allah
saja. Mereka menghormati Maria dan para kudus lainnya serta benda-benda kudus. “Penghormatan
yang kita berikan kepada gambar-gambar adalah suatu (penghormatan yang khidmat), bukan
penyembahan; penyembahan hanya boleh diberikan kepada Allah” (KGK 2132). 


Dulu saya selalu menyadari bahwa penyembahan Tabut Perjanjian Lama merupakan suatu peristiwa
fisik yang sangat berat. Di sana ada domba, kambing, merpati, api, pisau, darah, dan besi pengait
kurban. Namun, pada waktu itu Allah Putra sendiri belum mengambil bagian dengan tubuh fisik-Nya
secara permanen. Apakah masuk akal bahwa Allah sendiri yang masuk ke dunia fisik, meminta kita
untuk tidak menggunakan tubuh kita sendiri dalam penyembahan? Bagi saya, hal itu kelihatannya
tidak mungkin, terutama jika saya mempertimbangkan Kitab Suci. Allah mencintai tubuh kita dan
mempunyai suatu rencana atasnya. “Karena kewargaan kita adalah di dalam surga, dan dari situ juga
kita menantikan Tuhan Yesus Kristus sebagai Juruselamat, yang akan mengubah tubuh kita yang hina
ini, sehingga serupa dengan tubuh-Nya yang mulia” (Flp 3:20-21). Paulus telah mengatakan kepada
kita bahwa ia mengeluh karena rindu akan saat di mana tubuhnya akan ditebus: “Kita juga mengeluh
dalam hati kita sambil menantikan pengangkatan sebagai anak, yaitu pembebasan tubuh kita”
(Rm 8:23). 


Kitab Ibrani secara jelas mendesak kita untuk menghampiri Allah dengan hati yang tulus dan tubuh
yang murni. Keduanya penting. “Mari kita menghadap Allah dengan hati yang tulus ikhlas dan tubuh
kita telah dibasuh dengan air yang murni” (Ibr 10:22). Hal ini seharusnya tidak mengejutkan kita jika
kita mengingat bahwa tubuh kita, bukan hanya jiwa kita, merupakan anggota tubuh mistik Kristus
sendiri: “Tidak tahukah kamu bahwa tubuhmu adalah anggota Kristus?” (1 Kor 6:15). 


Sesungguhnya tanggapan kita atas rahmat penyelamatan Allah harus juga berupa penampilan tubuh
kita kepada Allah untuk keperluan-Nya. Tidaklah cukup hanya memberi hati kita, kepala kita, doa-doa
kita, atau jiwa kita; Allah menginginkan tubuh kita: “Demi kemurahan Allah, aku menasihatkan kamu,
supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang
berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati” (Rm 12:1). Menggunakan tubuh kita untuk
melayani dan menyembah Allah merupakan suatu tindakan rohani. Allah sendiri telah bersemayam di
dalam tubuh kita: “Tubuhmu adalah bait Roh Kudus ....... Kamu telah dibeli dan harganya telah lunas
dibayar: karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu” (1Kor 6:19-20). Cara apa yang lebih baik
untuk menghormati Allah dibandingkan dengan menggunakan tubuh kita di dalam penyembahan
terhadap-Nya? 


Pemisahan yang dilakukan oleh orang Evangelis antara menyembah secara roh dan menyembah
dengan menggunakan tubuh kita sangat sulit dipersatukan dengan ayat-ayat ini. Dalam terang ini,
apakah aneh bila orang Katolik percaya Allah menginginkan kita menyertakan tubuh kita dalam
penyembahan? 


Ada kesaksian sejarah yang menarik mengenai penyembahan dengan menggunakan fisik secara
aktif. Menoleh pada sejarah meyakinkan saya bahwa tekanan atas penggunaan fisik dalam
penyembahan sesungguhnya dapat ditelusuri pada para rasul sendiri. Hampir seluruh
Evangelis ingat bagaimana Filipus berjumpa dengan seorang sida Etiopia dalam perjalanannya
menuju Gaza. Sida itu percaya dan dibaptis, dan keduanya berpisah (Kis 8:26-39). Sida itu pergi ke
tempat yang sekarang disebut Sudan. Tradisi yang dapat dipercaya berdasarkan sejarah mengatakan
di sana hanya ada satu misionaris awal yang berhubungan dengan bagian dari Afrika ini, yaitu Rasul
Matius, yang pergi ke sana sebagai seorang misionaris. 


Karena sulit bepergian ke wilayah itu, maka selama tiga ratus tahun wilayah itu tidak memiliki kontak
sama sekali dengan dunia Kristen luar. Sebagaimana dilaporkan Warren H. Carol] dalam tulisan sejarah
nya, ketika para misionaris Kristen kembali menjelajah di sana, banyak orang Kristen sudah hilang.
Walaupun demikian ada satu hal yang mengagetkan para misionaris, yaitu orang Afrika tahu membuat
tanda salib. Melihat keterpencilan mereka, hanya ada dua penjelasan yang masuk akal tentang hal itu:
Filipus mengajarkan tanda salib kepada sida itu dan sida itu meneruskan praktek tersebut, atau Matius
sendiri yang mengajarkan orang Afrika secara langsung. Apa pun yang terjadi, praktek membuat tanda
salib dapat ditelusuri secara langsung sampai kepada para rasul sendiri. 


Tentu dapat dikatakan bahwa Injil tidak pernah mengajarkan kita untuk membuat tanda salib. Praktek
itu sesungguhnya muncul sebelum penulisan Perjanjian Baru. Hal itu tidak pernah ditulis karena tidak
pernah dipertanyakan. Orang Kristen purba percaya akan keselarasan antara jasmani dan rohani. 


Tujuan penyembahan kita tidak boleh terlalu disederhanakan, tetapi harus diperkaya sebagaimana
Allah inginkan. Raja Daud sungguh tidak pelit kepada Allah ketika ia menari untuk Allah di hadapan
seluruh orang yang menentangnya (2 Sam 6). Orang Evangelis berpendapat bahwa semakin sedikit
semakin baik. Hal ini nyata bukan saja di dalam penggunaan tubuh mereka tetapi bahkan di dalam
penggunaan kalender. Orang Evangelis menggunakan kalender Gereja Katolik untuk beberapa
perayaan, seperti Natal dan Paskah, namun mereka berbalik dan menyebut sebagai ritual ketika
orang Katolik merayakan perayaan-perayaan lainnya, seperti Pentakosta atau Penerimaan Kabar
Gembira. 


Para pemimpin Evangelis terampil dalam marketing. Mereka menanyakan kepada diri mereka,
“Cara menyembah yang bagaimana yang diinginkan oleh orang Amerika di abad kedua puluh?”
Mereka dengan sangat baik telah membuat suatu pengetahuan sebagai jawaban atas hal tersebut.
Orang Katolik tanpa rasa malu bertanya mulai dari arah yang berbeda. Uskup Uskup bertanya,
“Cara yang bagaimana yang dikehendaki Allah dari kita untuk menyembah-Nya?” Jawabannya
mungkin sesuai atau mungkin tidak sesuai dengan keinginan setiap orang Amerika, tetapi bukan itu
permasalahannya. Pendapat Allah mengenai cara penyembahan kita kepada-Nya itulah yang
terpenting. 


Prasangka buruk orang Evangelis mengenai hal-hal jasmani mempunyai maksud lain di luar persoalan
cara penyembahan. Hal ini menciptakan lahan subur untuk mengakomodasi konsep yang tidak jelas
dari orang-orang yang percaya akan Gereja yang tidak tampak, tidak dihubungkan dengan persatuan
apa pun secara Fisik atau dengan sesuatu yang dapat dilihat, namun, entah bagaimana caranya,
bersatu, sebagaimana Allah adalah satu (Yoh 17:20-21). 


Saya memahami asal-usul kepercayaan ini. Dulu para pelaku reformasi harus menjelaskan bagaimana
tubuh seseorang dapat menjadi bagian dari tubuh Kristus, dan walaupun demikian tidak kelihatan
sebagai persatuan fisik dengan orang lain. “Tidak tahukah kamu bahwa tubuhmu adalah anggota
Kristus?” (1 Kor 6:15). Selama seribu lima ratus tahun seluruh orang Kristen memahami bahwa Gereja
merupakan suatu badan yang tampak di dunia. Gereja merupakan manifestasi fisik dari tubuh mistik
Kristus. lni tema kesukaan Paulus. Sebagian besar orang Kristen masih percaya akan hal ini. Namun
pelaku reformasi harus menemukan pembenaran untuk berpisah dari Gereja yang tampak itu. Mereka
menciptakan konsep mengenai Gereja yang tidak tampak. Hal itu sungguh tidak memiliki dasar
alkitabiah yang jelas. 


Sesungguhnya hal itu bertentangan dengan beberapa bacaan dalam Kitab Suci. Matius 5:14
memberikan suatu gambaran yang baik: “Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas
gunung tidak mungkin tersembunyi.” Apakah orang Evangelis yakin Gereja mereka yang tidak tampak
sama dengan sebuah kota yang terletak di atas gunung? Mereka sendiri memandang Gereja yang
tidak tampak itu lebih sebagai suatu pemberontakan bawah tanah, tidak tampak namun memiliki
kekuatan yang berpengaruh untuk selamanya. Gereja mereka berada di luar alam fisik. 


Ada masalah-masalah lain yang tidak dapat diatasi dengan Gereja yang tak tampak. Dari segi definisi,
mereka hanya menyertakan orang-orang beriman sejati, tetapi ini bertentangan langsung dengan
gambaran Gereja yang diberikan Yesus sendiri kepada kita. Untuk lulus sebagai Gereja Kristus, kita
harus mampu menemukan lalang di antara gandum (Mat 13:24-30; juga Mat 13:47-52). 

Menyadari ketidaknyamanan mereka dengan segala sesuatu yang bersifat fisik, apakah aneh jika
orang Evangelis memiliki kesulitan dengan sesuatu yang tampak sangat jelas, seseorang yang bukan
ilahi terlibat dalam Inkarnasi? Ia melabuhkan seorang Kristus secara nyata di dalam alam fisik di mana
kita hidup.

Minggu, 08 Maret 2020

APAKAH PATUNG DI KATOLIK ..... ADALAH BERHALA ???

“Katolik Penyembah Patung !!!” Banyak orang non katolik mengolok-ngolok demikian. Karena di dalam gereja katolik terpasang banyak patung, karena itu muncul tuduhan, orang katolik melanggar perintah Allah : “Jangan membuat bagimu patung yang menyerupai apa pun yang ada di langit di atas, atau yang ada di bumi di bawah, atau yang ada di dalam air di bawah bumi. Jangan sujud menyembah kepadanya atau beribadah kepadanya, sebab Aku, TUHAN, Allahmu, adalah Allah yang cemburu, yang membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya, kepada keturunan yang ketiga dan keempat dari orang-orang yang membenci Aku,” (Kel 20 : 4 – 5).

Mengingatkan orang untuk tidak jatuh dalam dosa menyembah berhala adalah haal yang tepat. Tetapi menyebut umat katolik sebagai penyembah berhala karena di dalam gereja memasang Patung, gambar , Yesus, Maria dan para kudus lebih pada kesalahpahaman dan ketidak tahuan apa yang disampaikan oleh alkitab tentang tujuan dan kegunaan (baik dan buruk) patung atau pun gambar yang terpasang.

Penulis anti katolik Loraine Boetner, dalam bukunya “Roman Catholicism”, membuat pernyataan berikut, “Allah melarang penggunaan gambar dalam penyembahan” (281). Namun, jika orang mau "menyelidiki tulisan suci" (mis Yohanes 5:39), akan ditemukan kebalikannya juga benar. Allah melarang penyembahan patung berhala, tetapi Ia tidak melarang penggunaan patung bagi keagamaan. Sebaliknya, Allah memerintahkan penggunaannya dalam konteks keagamaan !

Allah memerintahkan pembuatan patung dan gambar.

Orang yang menentang penggunaan patung-patung bagi keagamaan melupakan ayat-ayat alkitab di mana Tuhan memerintahkan pembuatan patung. Misalnya;”  Dan haruslah kau buat dua kerub dari emas, kau buatlah itu dari emas tempaan, pada kedua ujung tutup pendamaian itu. Buatlah satu kerub pada ujung sebelah sini dan satu kerub pada ujung sebelah sana; seiras dengan tutup pendamaian itu kamu buatlah kerub itu di atas kedua ujungnya. Kerub-kerub itu harus mengembangkan kedua sayapnya ke atas, sedang sayap-sayapnya menudungi tutup pendamaian itu dan mukanya menghadap kepada masing-masing; kepada tutup pendamaian itulah harus menghadap muka kerub-kerub itu. (Kel 25:18-20)

Daud memberikan rancangan pembuatan Bait Allah pada Salomo "  juga emas yang disucikan untuk mezbah pembakaran ukupan seberat yang diperlukan dan emas untuk pembentukan kereta yang menjadi tumpangan kedua kerub, yang mengembangkan sayapnya sambil menudungi tabut perjanjian TUHAN. Semuanya itu terdapat dalam tulisan yang diilhamkan kepadaku oleh TUHAN, yang berisi petunjuk tentang segala pelaksanaan rencana itu." (1 Taw. 28:18 – 19). Rencana Daud untuk Bait Suci termasuk patung para malaikat. Demikian pula dalam Yehezkiel 41:17 – 18 menyuruh menggambarkan relief (diukir) pada Bait Suci yang di dapat dalam sebuah penglihatan, karenanya dia menulis, " sampai bagian atas pintu dan ruang dalam dan juga di luar. Dan di seluruh dinding bagian dalam dan bagian luar terukir gambar-gambar kerub dan pohon-pohon korma, di antara dua kerub sebatang pohon korma, dan masing-masing kerub itu mempunyai dua muka.”

Penggunaan Gambar2 dalam keagamaan

Selama peristiwa wabah ular yang dikirim untuk menghukum bangsa Israel selama masa eksodus, Allah memerintahkan Musa untuk :” Buatlah ular tedung dan taruhlah itu pada sebuah tiang; maka setiap orang yang terpagut, jika ia melihatnya, akan tetap hidup." Lalu Musa membuat ular tembaga dan menaruhnya pada sebuah tiang; maka jika seseorang dipagut ular, dan ia memandang kepada ular tembaga itu, tetaplah ia hidup.
(Bil 21: 8-9).

Orang yang terkena pagutan harus memandang patung ular perunggu untuk disembuhkan, hal itu menunjukkan bahwa patung dapat digunakan secara ritual, tidak hanya sebagai hiasan keagamaan.

Katolik menggunakan patung, lukisan, dan perangkat artistik lainnya untuk mengingat orang atau peristiwa atau hal yang digambarkan. Untuk membantu mengingat ibu seseorang dengan melihat fotonya, sehingga foto itu membantu ingatan, contoh lain, mengingat orang kudus dengan melihat gambar mereka. Katolik juga menggunakan patung sebagai alat mengajar. Dalam Jemaat awal, patung2 berguna khususnya bagi pengajaran kepada orang buta huruf. Banyak Protestan memiliki gambar Yesus dan gambar Alkitab lainnya di sekolah minggu untuk mengajar anak. Katolik juga menggunakan patung untuk memperingati orang dan peristiwa tertentu, seperti Gereja Protestan memiliki materi tiga dimensi untuk menggambarkan adegan kelahiran Yesus di Natal.

Jika umat Protestan diperlakukan aturan yang sama, maka dengan menggunakan gambar "graven" ini, mereka bisa juga dianggap mempraktekkan "penyembahan berhala" sebagaimana kebanyakan dari mereka menuduh umat Katolik. Padahal tidak ada penyembahan berhala yang terjadi dalam situasi ini. Allah melarang penyembahan gambar sebagai Allah, tetapi tidak melarang pembuatan gambar.

Kondisi seperti apa yang membuat Allah marah ? Yaitu ketika orang mulai memuja patung sebagai Allah. Jadi, apabila orang mula menyembah ular tembaga itu sebagai ilah-ular (yang mereka Namai "Nehushtan"), raja Hizkia yang saleh telah dimusnahkan (2 Raj. 18:4 Dialah yang menjauhkan bukit-bukit pengorbanan dan yang meremukkan tugu-tugu berhala dan yang menebang tiang-tiang berhala dan yang menghancurkan ular tembaga yang dibuat Musa, sebab sampai pada masa itu orang Israel memang masih membakar korban bagi ular itu yang namanya disebut Nehustan).

Bagaimana dengan Sujud ?

Terkadang anti-Katolik mengutip Ulangan 5:9, di mana Tuhan berkata mengenai berhala, "Janganlah kamu sujud menyembah kepada mereka." Karena banyak umat Katolik terkadang membungkuk atau berlutut di depan patung Yesus, Maria dan para orang kudus, anti-Katolik rancu atau tak dapat membedakan penghormatan pada patung Suci dengan dosa penyembahan berhala.

Meskipun membungkuk dapat digunakan sebagai postur dalam ibadahtidak semua sikap membungkuk adalah ibadah. Di Jepang, orang menunjukkan sikap hormat dengan membungkuk saat memberi salam (setara dengan peristiwa jabat tangan pada kultur di Barat). Demikian pula, seseorang dapat berlutut di hadapan seorang raja bukan menyembah raja sebagai Allah. Dengan cara yang sama, seorang Katolik yang berlutut di depan patung saat berdoa tidak menyembah patung atau  berdoa kepada patung sebagai Allah, bagaimana apabila umat Protestan yang berlutut dengan Alkitab di tangannya saat berdoa, apakah berarti dia menyembah Alkitab atau berdoa kepada Allah ?

Katolik menghilangkan Perintah Kedua ?

Tuduhan lain yang terkadang dibuat oleh Protestan adalah bahwa Gereja Katolik "menyembunyikan" perintah kedua. Ini karena dalam Katekismus Katolik, perintah yang pertama sering tertulis sebagai "Jangan ada Allah lain di hadapanku" (Kel. 20:3), dan yang kedua tertulis sebagai "Janganlah menyebut nama Tuhan dengan sembarangan." (Kel. 20:7). Karena hal inidikatakan bahwa umat Katolik telah menghapus larangan penyembahan berhala untuk membenarkan penggunaan patung keagamaan mereka. Tapi ini tidak benar, tuduhan palsu. Karena Katolik hanya mengelompokkan perintah secara berbeda dari pengelompokan Protestan.

Dalam Keluaran 20:2 – 17, yang dijadikan sepuluh perintah Allah, sebenarnya memiliki empat belas pernyataan penting. Agar menjadi sepuluh perintah Allah, beberapa pernyataan harus dikelompokkan, dan ada beberapa metode untuk melakukan ini. Karena, di dunia kuno, politeisme dan penyembahan berhala selalu bersatu-penyembahan berhala menjadi ekspresi luar politeisme-Sejarah pengelompokkan Yahudi untuk sepuluh perintah Allah selalu dikelompokkan bersama secara imperatif "Jangan ada Allah lain di hadapan-Ku" (Kel. 20:3) dan "Janganlah membuat bagimu patung patung" (Kel. 20:4). Dalam sejarah Pengelompokkan Katolik untuk perintah pertama mengikuti metode Yahudi, demikian pula dengan sejarah Lutheran.

Orang Yahudi dan Kristen menyingkat perintah Allah agar mudah diingat dengan menggunakan Rangkuman, menjadi sepuluh. Misalnya, orang Yahudi, Katolik, dan Protestan biasanya meringkas perintah tentang Sabat sebagai berikut, " Kuduskanlah hari Tuhan.," meskipun teks sebenarnya dari perintah itu mengambil empat ayat (Kel. 20:8 – 11). Protestan (Kuduskanlah hari Sabat.)

Ketika larangan politeisme/penyembahan berhala diringkas, orang Yahudi, Katolik, dan Lutheran menyingkat itu sebagai " Jangan menyembah berhala, berbaktilah kepadaKu saja, dan cintailah Aku lebih dari segala Sesuatu." Ini tidak ada usaha untuk "menyembunyikan" larangan pemujaan berhala (orang Yahudi dan Lutheran bahkan tidak menggunakan patung orang kudus dan malaikat). (“Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku,” versi protestan). Hal ini membuat sepuluh perintah lebih mudah untuk dipelajari.
Gereja Katolik tidak mendogmakan penomoran sepuluh perintah Allah. Katekismus Gereja Katolik mengatakan, "Dalam peredaran sejarah perintah-perintah dibagi dan diurutkan secara berlain-lainan. Katekis­mus ini mengikuti pembagian yang dibuat oleh santo Agustinus, dan telah menjadi tradisi dalam Gereja Katolik. Pembagian ini juga digunakan dalam pengakuan iman Luteran. Bapa-bapa Yunani memakai pembagian yang agak lain, yang terdapat di dalam Gereja Ortodoks dan kelompok Reformed."(KGK 2066).

Wujud Allah ?
Beberapa anti-Katolik mengajukan Ulangan 4:15 – 18 dalam serangan mereka terhadap patung keagamaan: “ Hati-hatilah sekali -- sebab kamu tidak melihat sesuatu rupa pada hari TUHAN berfirman kepadamu di Horeb dari tengah-tengah api -- supaya jangan kamu berlaku busuk dengan membuat bagimu patung yang menyerupai berhala apa pun: yang berbentuk laki-laki atau perempuan; yang berbentuk binatang yang di bumi, atau berbentuk burung bersayap yang terbang di udara, atau berbentuk binatang yang merayap di muka bumi, atau berbentuk ikan yang ada di dalam air di bawah bumi;”
Kita telah menunjukkan bahwa Allah tidak melarang pembuatan patung atau gambar dari berbagai makhluk untuk tujuan keagamaan (cf. 1 Raj. 6:29 – 328:6 – 66; 2 Taw. 3:7 – 14). Tapi bagaimana dengan patung atau gambar yang mewakili Allah? Banyak Protestan akan mengatakan itu salah karena Ulangan 4 mengatakan bangsa Israel tidak melihat Allah dalam bentuk apapun ketika ia membuat perjanjian dengan mereka; oleh karena itu kita hendaknya tidak membuat representasi simbolis Allah juga. Tapi apakah Ulangan 4 melarang representasi tersebut?
Jawabannya Tidak, itu Keliru.
Di awal sejarahnya, Israel dilarang untuk membuat penggambaran Tuhan karena Tuhan tidak mengungkapkan dirinya dalam wujud yang terlihat. Mengingat budaya pagan yang ada di sekeliling mereka, bangsa Israel mungkin telah tergoda untuk menyembah Allah dalam bentuk binatang atau objek alami (misalnya, banteng atau matahari).
Tetapi kemudian Allah menyatakan dirinya dalam wujud yang terlihat, seperti dalam Daniel 7:9: " Sementara aku terus melihat, takhta-takhta diletakkan, lalu duduklah Yang Lanjut Usianya; pakaian-Nya putih seperti salju dan rambut-Nya bersih seperti bulu domba; kursi-Nya dari nyala api dengan roda-rodanya dari api yang berkobar-kobar;" Denominasi2 Protestan ada yang membuat penggambaran Bapa di bawah bentuk ini apabila mereka membuat ilustrasi nubuatan Perjanjian lama.
Roh Kudus menyatakan dirinya di bawah setidaknya dua wujud yang dapat terlihat — yaitu seekor merpati, pada baptisan Yesus (Mat. 3:16; Markus 1:10; Lukas 3:22; Yohanes 1:32), dan sebagai lidah api, pada hari Pentakosta (Kis. 2:1 – 4). Umat Protestan menggunakan gambar ini saat menggambar atau melukis bagian alkitab ini dan juga ada yang memakai peniti Roh Kudus atau meletakkan lambang burung merpati pada kendaraan.
Tapi yang lebih penting, adalah dalam inkarnasi Kristus PuteraNya, Allah menunjukkan kepada manusia ikon dirinya. Paulus berkata, "Ia adalah gambar (Yunani: ikon) dari Allah yang tidak kelihatanyang sulung dari segala ciptaan." Kristus adalah yang nyata, "ikon" Ilahi yang gaib, Allah yang tak terbatas.
Kita membaca bahwa ketika orang Majus "pergi ke rumah tempat mereka melihat sang Putera dengan Maria ibunya, dan mereka jatuh dan menyembah Dia." Kemudian, membuka harta mereka, mereka memberikan kepadanya hadiah, emas, kemenyan, dan mur "(Matt. 2:11). Meskipun Allah tidak mengungkapkan bentuk untuk dirinya sendiri di gunung Horeb, ia mengungkapkan satu di rumah di Betlehem.
Akal sehat mengatakan menunjukkan pada kita bahwa, karena Allah telah mengungkapkan dirinya dalam berbagai gambar, terutama saat menjelma menjadi manusia Yesus Kristus, tidaklah salah bagi kita untuk menggunakan gambar bentuk ini untuk memperdalam pengetahuan dan kasih kita akan Allah. Itulah sebabnya Allah menyatakan dirinya dalam bentuk yang kelihatan, dan itulah sebabnya patung dan gambar dibuat untuk mengacu pada Tuhan.
Gereja Katolik melarang Menyembah Berhala.
Sejak jaman para rasul, Gereja Katolik secara konsisten telah mengutuk dosa penyembahan berhala. Katekismus Konsili Trent (1566) mengajarkan bahwa penyembahan berhala dilakukan "dengan menyembah berhala dan gambar sebagai Allah, atau mempercayai bahwa mereka memiliki keilahian atau kebajikan yang membuat mereka berhak untuk disembah, dengan berdoa kepada, atau mengajukan kepercayaan kepada mereka" (374).
Apa yang gagal dikenali kebanyakan anti-Katolik adalah membedakan antara sepotong batu atau plester adalah Allah dan hasrat manusia untuk secara visual mengingat Kristus dan orang-orang kudus di surga dengan membuat patung untuk menghormati mereka. Pembuatan dan penggunaan patung dalam keagamaan adalah praktik alkitabiah secara menyeluruh. Siapapun yang mengatakan sebaliknya tidak paham  Alkitab.

NIHIL OBSTAT: I have concluded that the materials presented in this work are free of doctrinal or moral errors.
Bernadeane Carr, STL, Censor Librorum, August 10, 2004
IMPRIMATUR: In accord with 1983 CIC 827
permission to publish this work is hereby granted.
+Robert H. Brom, Bishop of San Diego, August 10, 2004


Sabtu, 07 Maret 2020

APA YANG DI PERBUAT YESUS DI USIA 12 - 30 TAHUN ???

Di zaman Yesus, masyarakat Galilea dikenal sebagai yang paling religious. Agak berlawanan dengan anggapan umum yang mengatakan Galilea sederhana, tidak terdidik berada di daerah yang terisolasi. Gambaran ini barangkali muncul dari beberapa tulisan dalam alkitab, yang tampaknya meremehkan orang dari daerah ini. Pada pesta Shavuoth dalam Kisah Para Rasul misalnya, orang-orang tampak kagum bahwa orang-orang Galilea mampu berbicara dalam bahasa lain. Tetapi ini tentu saja merupakan bias terhadap orang-orang Galilea oleh orang-orang Yudea dan negara-negara lain karena komitmen agama yang sangat kuat dan bersemangat dari orang-orang Galilea. Selain itu, orang-orang Galilea lebih banyak berinteraksi dengan dunia yang hidup di "jalan laut" (rute perdagangan, lihat Mat. 4:15) daripada orang-orang Yahudi di Yerusalem yang lebih terisolasi di pegunungan. Orang-orang Galilea sebenarnya lebih berpendidikan dalam Alkitab dan penerapannya daripada kebanyakan orang Yahudi. Lebih banyak guru Yahudi terkenal muncul dari Galilea daripada di tempat lain di dunia. Mereka dikenal karena penghormatan besar mereka terhadap Kitab Suci dan keinginan yang kuat untuk setia kepada itu. Ini diwujudkan ke dalam komunitas keagamaan yang bersemangat, yang ditujukan untuk keluarga yang kuat, negara mereka, yang sinagoganya menggemakan perdebatan dan diskusi tentang menjaga Taurat. Mereka menentang pengaruh pagan Hellenisme jauh lebih kuat daripada rekan-rekan mereka di Yudea. Ketika pemberontakan hebat melawan bangsa Romawi kafir dan kolaborator mereka (66-74 M) yang akhirnya terjadi, dimulai di antara orang-orang Galilea.

Yesus dilahirkan, tumbuh, dan menghabiskan pelayanannya di antara orang-orang yang mengenal Alkitab dengan hapalan, yang memperdebatkan penerapannya dengan antusias, dan yang mengasihi Allah dengan segenap hati mereka, semua jiwa mereka dan dengan segala kekuatan mereka (Ul 6: 5). Tuhan mempersiapkan lingkungan ini dengan hati-hati sehingga Yesus akan memiliki konteks yang tepat yang diperlukannya untuk menyampaikan pesannya tentang Malchut Shemayim ( "Kerajaan surga") dan para pengikutnya akan memahami dan bergabung dengan gerakan barunya. Galilea sangat cocok dengan dunianya. Memahami hal ini membantu untuk memahami iman dan keberanian para pengikutnya yang meninggalkan Galilea dan pergi ke seluruh dunia untuk membawa kabar baik. Keberanian mereka, pesan mereka, metode yang mereka gunakan, dan pengabdian mereka sepenuhnya kepada Allah dan Firman-Nya lahir di komunitas agama di Galilea.




Dunia Pendidikan di Galilea

Mishnah (1) menggambarkan proses pendidikan untuk seorang anak laki-laki Yahudi belia di zaman Yesus.

Pada usia lima tahun [satu cocok] belajar Kitab Suci, pada sepuluh tahun Mishnah (belajar Taurat lisan, interpretasi) pada tiga belas tahun belajar untuk menjalankan perintah-perintah, pada lima belas tahun belajar Talmud (membuat interpretasi Rabinik), di delapan belas tahun dapat menikah, pada dua puluh tahun menanggapi panggilan, pada tiga puluh tahun berusaha mendapatkan otoritas (mampu mengajar orang lain). Tahap terakhir ini jelas menggambarkan siswa yang luar biasa, karena sangat sedikit akan menjadi guru tetapi menunjukkan sentralitas Kitab Suci dalam pendidikan di Galilea. Sangat menarik untuk membandingkan kehidupan Yesus dengan deskripsi ini. Meskipun sedikit yang dinyatakan tentang masa kecilnya, kita tahu bahwa dia "tumbuh dalam kebijaksanaan" sebagai anak laki-laki (Lukas 2:52) dan bahwa dia mencapai "pemenuhan perintah" yang ditunjukkan oleh orang-orang yang merayakan Paskah pertama pada usia dua belas (Lukas 2:41) . Dia kemudian belajar perdagangan (Mat. 13:55, Markus 6: 3) dan menghabiskan waktu bersama Yohanes Pembaptis (Lukas 3:21; Yohanes 3: 22-26) dan memulai pelayanannya di -usia tiga puluh- (Lukas 3: 23). Ini sangat cocok dengan deskripsi Mishnah. Tentunya hal ini menuntut proses penelitian di Galilea yang lebih dekat.

Sekolah dikaitkan dengan sinagog lokal di Galilea abad pertama. Tampaknya setiap komunitas akan dilakukan seorang guru (dengan sebutan hormat  "rabi") untuk belajar. Sementara guru ini bertanggung jawab atas pendidikan di desa, ia tidak memiliki wewenang khusus di sinagoge. Anak-anak mulai belajar pada usia 4-5 di Beth Sefer (sekolah dasar). Kebanyakan cendekiawan percaya anak laki-laki dan perempuan menghadiri kelas di sinagoge. Pengajaran terutama berfokus pada Taurat, menekankan membaca dan menulis Kitab Suci. Sebagian besar dihafal dan kemungkinan banyak siswa mengetahui seluruh Taurat melalui ingatan pada saat pendidikan ini selesai. Pada titik ini sebagian besar siswa (dan tentu saja anak perempuan) tinggal di rumah untuk membantu keluarga dan dalam kasus anak laki-laki untuk belajar perdagangan keluarga. Pada titik inilah seorang anak lelaki akan berpartisipasi dalam Paskah pertamanya di Yerusalem (sebuah upacara yang mungkin membentuk latar belakang bar mitzvah saat ini di keluarga-keluarga Yahudi ortodoks). Pertanyaan-pertanyaan luar biasa Yesus bagi para guru di bait suci pada Paskah pertamanya menunjukkan studi yang telah dilakukannya.



Siswa terbaik melanjutkan studi mereka (sambil belajar perdagangan) di Beth Midrash (sekolah menengah) juga diajar oleh seorang rabi komunitas. Di sini mereka (bersama dengan orang dewasa di kota) mempelajari para nabi dan tulisan-tulisan (3) selain Taurat dan mulai belajar interpretasi dari Taurat Lisan (4) untuk belajar bagaimana membuat aplikasi dan interpretasi mereka sendiri seperti kelas katekismus. Penghafalan tetap menjadi penting karena kebanyakan orang tidak memiliki salinan Alkitab mereka sendiri sehingga mereka harus mengetahuinya dengan hati atau pergi ke sinagoge untuk mencocokannya dengan gulungan alkitab desa. Ingatan ditingkatkan dengan melafalkan, sebuah praktik yang masih banyak digunakan dalam pendidikan Timur Tengah baik Yahudi maupun Muslim. Pengulangan terus menerus dianggap sebagai elemen penting dari pembelajaran (5).

Beberapa (sangat sedikit) siswa Beth Midrash yang paling menonjol meminta izin untuk belajar dengan seorang rabi terkenal yang seringkali meninggalkan rumah untuk bepergian bersamanya untuk jangka waktu yang lama. Siswa-siswa ini disebut talmidim (talmid, bentuk tunggal) Dalam bahasa Ibrani, yang diterjemahkan sebagai murid. Ada jauh lebih banyak talmid daripada apa yang kita sebut mahasiswa. Seorang siswa ingin tahu apa yang guru ketahui untuk kelas, untuk menyelesaikan kelas atau tingkat atau bahkan untuk menghormati guru. Seorang talmid ingin menjadi seperti guru, yaitu menjadi seperti apa guru itu. Itu berarti bahwa para siswa dengan penuh semangat mengabdi kepada rabi mereka dan mencatat semua yang dia lakukan atau katakan. Ini berarti hubungan rabbi-talmid adalah sistem pendidikan yang sangat kuat dan personal. Ketika rabi hidup dan mengajarkan pemahamannya tentang Kitab Suci, murid-muridnya (talmidim) mendengarkan dan menyaksikan dan meniru sehingga menjadi seperti dia. Akhirnya mereka akan menjadi guru yang mewariskan gaya hidup kepada talmidim mereka.

Sebagai akibatnya, Galilea adalah tempat studi Alkitab yang intens. Orang-orang memiliki pengetahuan tentang isinya dan berbagai aplikasi yang dibuat oleh tradisi mereka. Mereka bertekad untuk hidup dengan itu dan untuk meneruskan iman dan pengetahuan serta gaya hidup mereka kepada anak-anak mereka. Ke dunia inilah Yesus datang sebagai seorang anak dan akhirnya seorang rabi.



Yesus sang Rabi

Istilah rabi pada zaman Yesus tidak selalu merujuk pada jabatan atau pekerjaan tertentu. Itu akan terbukti saat setelah Kuil di Yerusalem dihancurkan (70 M). Kata itu, adalah kata yang berarti "hebat" atau "tuanku" yang diterapkan pada banyak jenis orang dalam percakapan sehari-hari. Itu jelas digunakan sebagai istilah penghormatan terhadap guru seseorang juga meskipun posisi rabi formal akan datang kemudian. Di satu sisi kemudian, menyebut Yesus "Rabi" adalah sebuah anakronisme. Dalam arti lain penggunaan istilah ini untuknya oleh orang-orang pada zamannya merupakan ukuran rasa hormat mereka yang besar terhadapnya sebagai pribadi dan sebagai guru dan bukan hanya referensi ke aktivitas mengajar yang ia ikuti.

Banyak orang menyebut Yesus sebagai Rabi. Murid-muridnya (Lukas 7:40), ahlihukum (Mat. 22: 35-36), orang-orang biasa (Lukas 12:13), orang kaya (Mat. 19:16), orang Farisi (Lukas 19:39), dan Saduki ( Lukas 20: 27-28). Yesus cocok dengan deskripsi seorang rabi abad pertama terutama yang berada pada tingkat paling maju, yang dicari oleh talmidim.

Ia melakukan perjalanan dari satu tempat ke tempat dengan murid-muridnya tergantung pada keramahan orang lain (Lukas 8: 1-3) dan sering bertemu di rumah-rumah pribadi (Lukas 10: 38-42)

Dalam perjalanan, para rabi akan mengunjungi sinagog-sinagog lokal karena pembahasan Alkitab yang terjadi secara teratur di pusat-pusat komunitas ini (Mat. 4:23)

Para rabi menggunakan metode serupa dalam menafsirkan Kitab Suci. Sebagai contoh, para guru besar menggunakan teknik ini yang disebut remez atau hint, di mana mereka menggunakan bagian dari ayat Alkitab dalam diskusi dengan asumsi pengetahuan pendengar mereka tentang Alkitab akan memungkinkan mereka untuk menyimpulkan makna yang lebih penuh bagi diri mereka sendiri. Rupanya Yesus sering menggunakan metode ini. Ketika anak-anak menyanyikan Hosanna kepadanya di Bait Suci dan orang-orang Saduki menuntut Yesus untuk menenangkan mereka, ia menjawab dengan kutipan dari Mazmur 8: 2 "Dari bibir anak-anak dan bayi-bayi kamu telah mentahbiskan pujian." Kemarahan mereka pada Yesus lebih dipahami ketika Anda menyadari bahwa frasa berikutnya dalam Mazmur menambahkan alasan mengapa anak-anak dan bayi akan memuji, karena musuh-musuh Allah yang akan dibungkam (Mzm 8: 2). Dengan kata lain para imam kepala menyadari bahwa Yesus menyiratkan bahwa mereka adalah musuh Allah.

Contoh lain adalah komentar Yesus kepada Zakheus (Lukas 19: 1-10). Yesus berkata, "Karena Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang." (Lukas 19:10) Latar belakang pernyataan ini mungkin adalah Yehezkiel 34. Allah, marah kepada para pemimpin Israel karena mencerai-beraikan dan membahayakan kawanannya (bangsa Israel) menyatakan bahwa ia sendiri akan menjadi gembala dan akan mencari yang terhilang dan mengirimkan (menyelamatkan) mereka. Berdasarkan hal ini orang-orang pada zaman Yesus mengerti bahwa Mesias yang akan datang akan "mencari dan menyelamatkan" yang terhilang. Dengan menggunakan frasa ini, tahu bahwa khalayak mengetahui Alkitab, Yesus mengatakan beberapa hal. Kepada orang-orang ia berkata, "Akulah Mesias dan Tuhan." Kepada para pemimpin (yang dengan pengaruhnya menjauhkan Zakheus dari kerumunan), dia berkata, "Kamu telah menceraiberaikan dan melukai kawanan domba Allah." Kepada Zakheus dia berkata, "Kamu adalah salah satu domba Allah yang hilang, dia masih mengasihimu."

Teknik ini menunjukkan pemahaman yang brilian tentang Alkitab dan keterampilan mengajar yang luar biasa di pihak Yesus. Itu juga menunjukkan latar belakang pengetahuan Alkitab yang dimiliki orang awam di jamannya.

Para rabi menggunakan teknik pengajaran yang serupa seperti penggunaan perumpamaan. Lebih dari 3.500 perumpamaan dari para rabi abad pertama masih ada dan perumpamaan Yesus adalah sebagian yang terbaik. Dia menggunakan tema yang sama (pemilik tanah, raja, dan petani) juga. (Mat. 13: 3,34)

Yesus tampaknya adalah tipe rabi yang diyakini memiliki s'mikhah atau otoritas untuk membuat interpretasi baru. Sebagian besar guru adalah guru Taurat (guru bidang hukum) yang hanya bisa mengajarkan interpretasi yang diterima. Mereka yang memiliki wewenang (hari ini "penahbisan") dapat membuat interpretasi baru dan memberikan penilaian hukum. Orang banyak kagum karena Yesus mengajar dengan otoritas (Ibrani s’mikhhah, exousia Yunani) tidak seperti guru Taurat mereka (Mat. 7: 28-29). Yesus ditanyai tentang otoritasnya (Mat. 21: 23-27). Ini menunjukkan Yesus salah satu dari sekelompok kecil guru, ia bukan satu-satunya yang memiliki otoritas.

Para rabi mengundang orang untuk belajar memelihara Taurat. Ini disebut mengambil "kuk Torah" atau "kuk kerajaan surga". Rabi dengan s'mikhah akan memiliki interpretasi baru atau kuk. Guru-guru Taurat akan mengajarkan interpretasi yang diterima atau kuk dari komunitas mereka. Undangan Yesus kepada mereka yang mendengarkan banyak guru dan penafsiran membantu menjadikannya sebagai seorang Rabi akan menghadirkan penafsiran yang mudah dan ringan (untuk memahami tidak harus dilakukan) (Mat. 13: 11-30). Karena itu, ia mungkin tidak berbicara kepada orang-orang yang belum selamat yang dibebani dengan dosa tetapi orang-orang yang tidak yakin akan banyak tafsiran yang mereka dengar dalam debat agama yang dinamis di Galilea.

Memenuhi Taurat adalah tugas seorang rabi abad pertama. Istilah teknis untuk menafsirkan Alkitab sehingga dapat dipatuhi dengan benar adalah "terpenuhi." Menafsirkan Kitab Suci secara keliru sehingga tidak akan dipatuhi sebagaimana yang dimaksudkan Allah adalah untuk "menghancurkan" Taurat. Yesus menggunakan istilah-istilah ini untuk menggambarkan tugasnya juga (Mat. 5: 17-19). Bertolak belakang dengan apa yang dipikirkan oleh beberapa orang bahwa Yesus tidak datang untuk menghapus Taurat atau Perjanjian Lama Allah. Dia datang untuk menggenapinya dan menunjukkan bagaimana cara menyimpannya dengan benar. Salah satu cara Yesus menafsirkan Taurat adalah dengan menekankan pentingnya sikap hati yang benar dan tindakan yang benar (Mat. 5: 27-28).

Para Murid sebagai Talmidim

Keputusan untuk mengikuti seorang rabi sebagai talmid berarti komitmen total pada abad pertama seperti yang terjadi hari ini. Karena talmid benar-benar dikhususkan untuk menjadi seperti rabi, dia akan menghabiskan seluruh waktunya mendengarkan dan mengamati guru untuk mengetahui bagaimana memahami Alkitab dan bagaimana mempraktikkannya. Yesus menggambarkan hubungannya dengan murid-muridnya dengan cara yang persis seperti ini (Mat 10: 24-25; Lukas 6:40) 15).

Sebagian besar siswa mencari para rabi yang ingin mereka ikuti. Ini terjadi pada Yesus kadang-kadang (Markus 5:19; Lukas 9:57). Ada beberapa kekecualian rabi luar biasa, yang terkenal , mencari siswa mereka sendiri. Jika seorang siswa ingin belajar dengan seorang rabi, dia akan bertanya apakah dia mungkin "mengikuti" rabi itu. Rabi akan mempertimbangkan potensi siswa untuk menjadi seperti dia dan apakah dia akan membuat komitmen itu perlu. Besar kemungkinan , sebagian besar siswa ditolak. Beberapa tentu saja diundang untuk "ikutlah aku". Ini menunjukkan bahwa rabi percaya bahwa talmid potensial memiliki kemampuan dan komitmen untuk menjadi seperti dia. Itu akan menjadi penegasan yang luar biasa akan kepercayaan diri guru terhadap siswa. Dalam terang itu, pertimbangkan apakah para murid Yesus adalah talmidim sebagaimana dipahami oleh orang-orang pada masanya. Mereka harus "bersama" dengannya Markus 3: 13-19; untuk mengikutinya Markus 1: 16-20; untuk hidup dengan ajarannya Yohanes 8:31; harus meniru tindakannya Yohanes 13: 13-15; adalah untuk membuat segala sesuatu yang sekunder untuk pembelajaran mereka dari rabi Lukas 14:26.

Ini mungkin menjelaskan Petrus berjalan di atas air (Mat. 14: 22-33). Ketika Yesus (sang rabi) berjalan di atas air, Peter (sang talmid) ingin menjadi seperti dia. Tentu saja Petrus belum pernah berjalan di atas air sebelumnya atau dia tidak dapat membayangkan bisa melakukannya. Namun, jika guru, yang memilih karena dia percaya saya bisa seperti dia, dapat melakukannya, saya juga. Dan dia melakukannya! Itu adalah mukjizat, bahwa ia bias sama seperti rabi! Dan kemudian ... dia ragu. Meragukan apa? Secara tradisional kita telah mengira dia meragukan kekuatan Yesus. Mungkin, tetapi Yesus masih berdiri di atas air. Saya percaya Pettrus meragukan dirinya sendiri, atau mungkin lebih baik kemampuannya untuk diberdayakan oleh Yesus. Jawaban Yesus, "Mengapa kamu ragu?" (14:31) lalu berarti "mengapa kamu ragu aku bisa membuat kamu untuk menjadi sepertku?"

Itu adalah pesan penting untuk talmid saat ini. Kita harus percaya bahwa Yesus memanggil kita untuk menjadi murid karena dia tahu dia dapat mengajar, memberdayakan, dan memenuhi kita dengan Roh-Nya sehingga kita dapat menjadi seperti dia (setidaknya dalam tindakan kita). Kita harus percaya pada diri kita sendiri! Kalau tidak, kita akan ragu bahwa dia dapat menggunakan kita dan akibatnya kita tidak akan menjadi seperti dia.

Menjadi seperti rabi adalah fokus utama kehidupan talmidim. Mereka mendengarkan dan bertanya, mereka menjawab ketika ditanyai, mereka mengikuti tanpa mengetahui ke mana rabi membawa mereka , tahu bahwa rabi memiliki alasan yang baik untuk membawa mereka ke tempat yang tepat untuk pengajarannya agar lebih masuk akal. Dalam kisah yang dicatat dalam Matius 16, Yesus berjalan hampir tiga puluh mil untuk berada di Kaisarea Filipi untuk pelajaran yang sesuai dengan lokasi dengan sempurna. Tentunya ia berbicara dengan mereka di sepanjang jalan tetapi seluruh perjalanan tampaknya telah disesuaikan untuk satu pelajaran yang membutuhkan waktu kurang dari sepuluh menit untuk diberikan (Mat. 16: 13-28).

Ini berarti bahwa talmid (murid) masa kini harus sepenuhnya fokus pada rabi. Kita harus bersamanya dalam Firman-Nya, kita harus mengikutinya bahkan jika kita tidak tahu akan tujuan akhirnya, kita harus hidup dengan ajarannya (yang berarti kita harus mengetahui ajaran-ajaran itu dengan baik), dan kita harus meniru dia kapan saja kita bisa. Dengan kata lain, segala sesuatu menjadi sekunder dalam hidup menjadi seperti dia. Ketika mereka mengamati dan belajar selama beberapa waktu mereka diutus untuk mulai berlatih menjadi seperti guru (Lukas 9: 1-6; 10: 1-24). Ketakjuban talmidim saat mengetahui bahwa mereka bisa seperti guru mereka sangat menyenangkan (Luk 10:17). Sangat bisa dimengerti oleh siapa pun yang telah melihat keterikatan mendalam talmidim kepada rabi-nya bahkan hingga hari ini. Ini paling menegaskan ketika seorang siswa menemukan bahwa menjadi seperti guru itu mungkin. Kegembiraan para guru tidak kurang ketika dia menemukan murid-muridnya telah belajar dengan baik dan diberi karunia dan diberdayakan oleh Allah untuk bertindak seperti yang dilakukan rabi (Lukas 10:21; lihat juga Yohanes 17:16, 18).

Ketika guru percaya bahwa talmidimnya disiapkan untuk menjadi seperti dia, dia akan memerintahkan mereka untuk menjadi guru juga. Dia berkata, "Sejauh mungkin kalian seperti saya. Sekarang pergi dan cari orang lain yang akan meneladani-mu. Karena kalian seperti saya, ketika mereka meniru kalian, mereka akan seperti aku." Praktek ini tentu ada di balik amanat agung Yesus (Mat. 28: 18-20). Sementara di satu sisi tidak ada yang bisa menjadi seperti Yesus dalam kodrat ilahi-Nya, atau dalam kodrat manusiaNya yang sempurna, ketika diajarkan oleh Rabi, diberdayakan dan diberkati oleh Roh Allah, meniru Yesus menjadi suatu kemungkinan. Misi para murid adalah mencari orang lain yang akan meniru mereka dan karenanya menjadi seperti Yesus. Strategi itu, diberkati oleh Roh Allah akan menghasilkan buah yang luar biasa khususnya di dunia orang-orang bukan Yahudi.

Ini juga membantu untuk memahami ajaran Paulus yang berupaya memuridkan. Dia mengundang Herodes Agripa dan gubernur Romawi untuk menjadi seperti dia (Kisah Para Rasul 26: 28-29). Dia mengajar gereja-gereja muda untuk meniru dia dan orang lain yang seperti Yesus (1 Kor. 4: 15-16, 11: 1; 1 Tes. 1: 6-7, 2:14; 2 Tes. 3: 7-9; 1 Tim 4:12 Penulis Surat Ibrani memiliki misi yang sama (Ibrani 6:12, 13: 7).

Ini adalah salah satu konsep Perjanjian Baru yang paling signifikan. Yesus, sang Mesias ilahi, memilih sistem rabi-talmid. Dia mengajar seperti seorang rabi dalam situasi kehidupan nyata, menggunakan metode paling cemerlang yang pernah dibuat. Dia menafsirkan firman Tuhan dan menyelesaikannya. Dia menunjukkan ketaatan padanya. Dia memilih murid-murid yang akan dia beri kuasa untuk menjadi seperti dia dan memimpin mereka berkeliling sampai mereka mulai meniru dia. Kemudian (setelah karunia Roh Kudus) ia mengirim mereka untuk menjadikan murid ... untuk memimpin orang untuk meniru mereka dengan menaati Yesus. Dan strategi itu, dengan berkah Tuhan akan mengubah budaya yang paling kafir.

Itu juga panggilan kita! Yesus memanggil kita untuk menjadi talmidimnya. Kita harus tahu Firman Tuhan dan interpretasi Yesus tentang itu. Kita harus bersemangat dalam pengabdian kita pada kata itu dan teladan Yesus. Ketika kita dipenuhi dengan Roh-Nya, kita harus terobsesi untuk menjadi seperti dia sejauh mungkin secara manusiawi. Kita harus berjuang untuk hubungan dengan orang lain sehingga mereka akan mengamati kita dan berusaha untuk meniru cinta dan pengabdian kita kepada Allah dan gaya hidup kita yang seperti Yesus (1 Kor. 2:16, 11: 1; Gal. 3:27). Dengan rahmat Tuhan, strategi itu BISA mengubah budaya yang paling kafir .... menjadi milik kita sendiri!

Referensi :
1. Mishnah berisi interpretasi rabinis tentang Kitab Suci yang ditulis pada abad kedua Masehi. Para sarjana Yahudi percaya itu berisi tradisi lisan yang hadir selama abad ke-1 SM hingga abad ke-1 dan karenanya akan mencerminkan apa yang benar selama masa hidup Yesus.

2. Aboth 5:21, The Mishnah, Herbert Danby, ed., Oxford University Press, Oxford, 1985.

3. Orang-orang Yahudi menyebut Alkitab Ibrani (Perjanjian Lama) Tanakh sebuah akronim yang diambil dari Taurat (Pentateuch), Navi'im (Nabi termasuk buku-buku sejarah karena sejarah bersifat kenabian), Ketubim (tulisan). Anak laki-laki mulai mempelajari Taurat karena itu adalah dasar dari iman Yahudi dan yang lainnya (tulisan dan nabi) diyakini mengomentari dan menerapkan Taurat.

4. Torah Lisan adalah interpretasi dan penerapan Torah yang diyakini berasal dari Musa dan telah diturunkan secara lisan selama berabad-abad. Banyak perdebatan Yesus dengan para ahli Taurat mengenai masalah Torah Lisan (Mat. 23: 5. Allah telah memerintahkan pemakaian Jumbai [Im. 19:18] tetapi Torah Lisan menentukan panjangnya).

5. Perlakuan yang sangat baik terhadap pendidikan ini dapat ditemukan di Orang-orang Yahudi di Abad Pertama. ll, oleh Shmuel Safrai, Amsterdam: Van Gorcum, 1974