Mengasihi Sesama

Mengasihi Sesama
Ibu Theresa dari Calcuta

Selasa, 12 Maret 2013

Katekismus Gereja Katolik Dalam Setahun - 148

KGK ke 148


III. * Penyucian akhir - purgatorium

1029. Mereka yang berbahagia di dalam kemuliaan surga tetap memerlukan kehendak Allah dengan gembira. Mereka melakukan itu juga dalam hubungan dengan manusia lain dan seluruh ciptaan, karena mereka memerintah bersama Kristus; bersama Dia mereka akan "memerintah sampai selama-lamanya" (Why 22:5).3

1030. Siapa yang mati dalam rahmat dan dalam persahabatan dengan Allah, namun belum disucikan sepenuhnya, memang sudah pasti akan keselamatan abadinya, tetapi ia masih harus menjalankan satu penyucian untuk memperoleh kekudusan yang perlu, supaya dapat masuk ke dalam kegembiraan surga.
1 Bdk. Yoh 14:3; Flp 1:23; 1 Tes 4:17.
2 Bdk. Why 2:17.
3 Bdk. Mat 25:21.23.

1031. Gereja menamakan penyucian akhir para terpilih, yang sangat berbeda dengan siksa para terkutuk, purgatorium [api penyucian]. Ia telah merumuskan ajaran-ajaran iman yang berhubungan dengan api penyucian terutama dalam Konsili Firence1 dan Trente.2 Tradisi Gereja berbicara tentang api penyucian dengan berpedoman pada teks-teks tertentu dari Kitab Suci:3
"Kita harus percaya bahwa sebelum pengadilan masih ada api penyucian untuk dosa-dosa ringan tertentu, karena kebenaran abadi mengatakan bahwa, kalau seseorang menentang Roh Kudus, ia tidak akan diampuni, di dunia ini tidak, dan di dunia yang akan datang pun tidak (Mat 12:32). Dari ungkapan ini nyatalah bahwa beberapa dosa dapat diampuni di dunia ini, yang lain di dunia lain" (Gregorius Agung, dial. 4, 39).

1032. Ajaran ini juga berdasarkan praktik doa untuk orang yang sudah meninggal tentangnya Kitab Suci sudah mengatakan: "Karena itu [Yudas Makabe] mengadakan kurban penyilihan untuk orang-orang mati, supaya mereka dibebaskan dari dosa-dosanya" (2 Mak 12:45).
Sudah sejak zaman dahulu Gereja menghargai peringatan akan orang-orang mati dan membawakan doa dan terutama kurban Ekaristi4 untuk mereka, supaya mereka disucikan dan dapat memandang Allah dalam kebahagiaan. Gereja juga menganjurkan amal, indulgensi, dan karya penitensi demi orang-orang mati.
"Baiklah kita membantu mereka dan mengenangkan mereka. Kalau anak-anak Ayub saja telah disucikan oleh kurban yang dibawakan oleh bapanya,5 bagaimana kita dapat meragukan bahwa persembahan kita membawa hiburan untuk orang-orang mati? Jangan kita bimbang untuk membantu orang-orang mati dan mempersembahkan doa untuk mereka" (Yohanes Krisostomus, hom. in 1 Cor 41, 5).

IV. * Neraka

1033. Kita tidak dapat disatukan dengan Allah, kalau kita tidak secara sukarela memutuskan untuk mencintai Dia. Tetapi kita tidak dapat mencintai Allah, kalau melakukan dosa berat terhadap Dia, terhadap sesama kita, atau terhadap diri sendiri: "Barang siapa tidak mengasihi, ia tetap di dalam maut. Setiap orang yang membenci saudaranya, adalah seorang pembunuh manusia. Dan kamu tahu, bahwa tidak ada seorang pembunuh yang memiliki hidup kekal di dalam dirinya" (1 Yoh 3:14-15). Tuhan kita memperingatkan kita, bahwa kita dipisahkan dari-Nya, apabila kita mengabaikan perhatian kita kepada kebutuhan-kebutuhan mendesak dari orang miskin dan kecil, yang adalah saudara dan saudari-Nya.6 Mati dalam dosa berat, tanpa menyesalkannya dan tanpa menerima cinta Allah yang berbelas-kasihan, berarti tinggal terpisah dari-Nya untuk selama-lamanya oleh keputusan sendiri secara bebas. Keadaan pengucilan diri secara definitif dari persekutuan dengan Allah dan dengan para kudus ini, dinamakan "neraka". 1034. Yesus beberapa kali berbicara tentang "gehenna", yakni "api yang tidak terpadamkan",7 yang ditentukan untuk mereka, yang sampai akhir hidupnya menolak untuk percaya dan
1 Bdk. DS 1304.
2 Bdk. DS 1820; 1580.
3 Bdk. misalnya 1 Kor 3:15; 1 Ptr 1:7.
4 Bdk. DS 856.
5 Bdk. Ayb 1:5. 6 Bdk. Mat 25:3146.
7 Bdk. Mat 5:22.29; 13:42.50; Mrk 9:43-48.

bertobat, tempat jiwa dan badan sekaligus dapat lenyap.1 Dengan pedas, Yesus menyam-paikan bahwa Ia akan "menyuruh malaikat-malaikat-Nya", yang akan mengumpulkan semua orang, yang telah menyesatkan orang lain dan telah melanggar perintah Allah, dan... mencampakkan mereka ke dalam dapur api; di sanalah terdapat ratapan dan kertakan gigi" (Mat 13:41-42), dan bahwa Ia akan mengucapkan keputusan pengutukan: "Enyahlah daripada-Ku, hai kamu orang-orang terkutuk, enyahlah ke dalam api yang kekal" (Mat 25:41).

1035. Ajaran Gereja mengatakan bahwa ada neraka, dan bahwa neraka itu berlangsung sampai selama-lamanya. Jiwa orang-orang yang mati dalam keadaan dosa berat, masuk langsung sesudah kematian ke dunia orang mati, di mana mereka mengalami siksa neraka, "api abadi".2 Penderitaan neraka yang paling buruk adalah perpisahan abadi dengan Allah; hanya di dalam Dia manusia dapat menemukan kehidupan dan kebahagiaan, karena untuk itulah ia diciptakan dan itulah yang ia rindukan.

1036. Pernyataan-pernyataan Kitab Suci dan ajaran Gereja mengenai neraka merupakan peringatan kepada manusia, supaya mempergunakan kebebasannya secara bertanggung jawab dalam hubungannya dengan nasib abadinya. Semua itu juga merupakan himbauan yang mendesak supaya bertobat: "Masuklah melalui pintu yang sesak itu, karena lebarlah pintu dan luaslah jalan yang menuju kebinasaan, dan banyak orang yang masuk melaluinya; karena sesaklah pintu dan sempitlah jalan yang menuju kepada kehidupan, dan sedikit orang yang mendapatinya" (Mat 7:13-14).
"Karena kita tidak mengetahui hari maupun jamnya, atas anjuran Tuhan kita wajib berjaga terus-menerus, agar setelah mengakhiri perjalanan hidup kita di dunia hanya satu kali saja, kita bersama dengan-Nya memasuki pesta pernikahan, dan pantas digolongkan pada mereka yang diberkati, dan supaya janganlah kita seperti hamba yang jahat dan malas, diperintahkan enyah ke dalam api yang kekal, ke dalam kegelapan di luar, tempat ratapan dan kertakan gigi" (LG 48). 1734, 1428

1037. Tidak ada seorang pun ditentukan lebih dahulu oleh Tuhan supaya masuk ke dalam neraka; 3 hanya pengingkaran secara sukarela terhadap Tuhan (dosa berat), di mana orang bertahan sampai akhir, mengantarnya ke sana. Dalam perayaan Ekaristi dan dalam doa harian umatnya Gereja senantiasa mohon belas kasihan Allah, supaya "jangan ada yang binasa, melainkan supaya semua orang berbalik dan bertobat" (2 Ptr 3:9):
"Terimalah dengan rela persembahan umat-Mu. Bimbinglah jalan hidup kami dan selamatkanlah kami dari hukuman abadi agar tetap menjadi umat kesayangan-Mu (MR, Doa Syukur Agung Romawi 88). 162, 1014, 1821

Minggu, 10 Maret 2013

Katekismus Gereja Katolik Dalam Setahun - 147

KGK ke 147


ARTIKEL 12 : "AKU PERCAYA... [AKAN] KEHIDUPAN KEKAL"

1020. Warga Kristen yang menyatukan kematiannya dengan kematian Yesus, menganggap kematian sebagai pertemuan dengan Yesus dan sebagai langkah masuk ke dalam kehidupan abadi. Kalau Gereja mengucapkan - untuk terakhir kalinya - kata-kata pengampunan atas nama Kristus untuk warga Kristen yang dalam sakratul maut, dan memeteraikannya - untuk terakhir kalinya - dengan pengurapan yang menguatkan, dan memberikan kepadanya Kristus dalam bekal perjalanan sebagai makanan untuk pejalanan, ia berkata kepadanya dengan ketegasan yang lemah lembut:
"Bertolaklah dari dunia ini, hai saudara (saudari) dalam Kristus, atas nama Allah Bapa yang maha kuasa, yang menciptakan engkau; atas nama Yesus Kristus, Putera Allah yang hidup, yang. menderita sengsara untuk engkau; atas nama Roh Kudus, yang dicurahkan atas dirimu; semoga pada hari ini engkau di tempatkan dalam ketenteraman dan memperoleh kediaman bersama Allah di dalam Sion yang suci, bersama Maria Perawan yang suci dan Bunda Allah, bersama santo Yosef dan bersama semua malaikat dan orang kudus Allah. ... Kembalilah kepada Penciptamu, yang telah mencipta engkau dari debu tanah. Apabila engkau berpisah dari kehidupan ini, semoga Maria bersama semua

1 Bdk. 1 Kor 15:42.

malaikat dan orang kudus datang menyongsong engkau. ... Engkau akan melihat Penebusmu dari muka ke muka..." (Doa penyerahan jiwa). 1523-1525, 1524, 2677, 336

I. * Pengadilan khusus

1021. Kematian mengakhiri kehidupan manusia, masa padanya, ia dapat menerima atau menolak rahmat ilahi yang diwahyukan di dalam Kristus.1 Perjanjian Baru berbicara mengenai pengadilan, terutama dalam hubungan dengan pertemuan definitif dengan Kristus pada kedatangan-Nya yang kedua. Tetapi berulang kali ia juga mengatakan bahwa setiap orang langsung sesudah kematiannya diganjari sesuai dengan pekerjaan dan imannya. Perumpamaan tentang Lasarus yang miskin2 dan kata-kata yang Kristus sampaikan di salib kepada penyamun yang baik,3 demikian juga teks-teks lain dalam Perjanjian Baru,4 berbicara tentang nasib tetap bagi jiwa,5 yang dapat berbeda-beda untuk masing-masing manusia. 1038, 679

1022. Pada saat kematian setiap manusia menerima ganjaran abadi dalam jiwanya yang tidak dapat mati. Ini berlangsung dalam satu pengadilan khusus, yang menghubungkan kehidupannya dengan Kristus: entah masuk ke dalam kebahagiaan surgawi melalui suatu penyucian,6 atau langsung masuk ke dalam kebahagiaan surgawi7 ataupun mengutuki diri untuk selama-lamanya.8
"Pada malam kehidupan kita, kita akan diadili sesuai dengan cinta kita" (Yohanes dari Salib, dichos 64). 393, 1470


II. * Surga

1023. Orang yang mati dalam rahmat dan persahabatan Allah dan disucikan sepenuhnya, akan hidup selama-lamanya bersama Kristus. Mereka serupa dengan Allah untuk selama-lamanya, karena mereka melihat Dia "dalam keadaan-Nya yang sebenarnya" (1 Yoh 3:2) dari muka ke muka.9
"Kami mendefinisikan berkat wewenang apostolik, bahwa menurut penetapan Allah yang umum, jiwa-jiwa semua orang kudus... dan umat beriman yang lain, yang mati sesudah menerima Pembaptisan suci Kristus, kalau mereka memang tidak memerlukan suatu penyucian ketika mereka mati, ... atau, kalaupun ada sesuatu yang harus disucikan atau akan disucikan, ketika mereka disucikan setelah mati, ... sudah sebelum mereka mengenakan kembali tubuhnya dan sebelum pengadilan umum, sesudah Kenaikan Tuhan dan Penyelamat kita Yesus Kristus ke surga sudah berada dan akan berada di surga, dalam Kerajaan surga dan firdaus surgawi bersama Kristus, sudah bergabung pada persekutuan para malaikat yang kudus, dan sesudah penderitaan dan kematian Tuhan kita Yesus Kristus, jiwa-jiwa ini sudah melihat dan sungguh melihat hakikat ilahi dengan suatu pandangan langsung, dan bahkan dari muka ke muka, tanpa perantaraan makhluk apa pun" (Benediktus XII: DS 1000; Bdk. LG 49).
1 Bdk. 2 Tim 1:9-10.
2 Bdk. Luk 16:22.
3 Bdk. Luk 23:43.
4 Bdk. 2 Kor 5:8; Flp 1:23; Ibr 9:27; 12:23.
5 Bdk. Mat 16:26.
6 Bdk. Konsili Lyon: DS 857-858; Konsili Firense: DS 1304-1306; Konsili Trente: DS 1820.
7 Bdk. Benediktus XII: DS 1000-1001; Yohanes XXII: DS 990.
8 Bdk. Benediktus XII: DS 1002.
9 Bdk. 1 Kor 13:12; Why 22:4.

1024. Kehidupan yang sempurna bersama Tritunggal Mahakudus ini, persekutuan kehidupan dan cinta bersama Allah, bersama Perawan Maria, bersama para malaikat dan orang kudus, dinamakan "surga". Surga adalah tujuan terakhir dan pemenuhan kerinduan terdalam manusia, keadaan bahagia tertinggi dan definitif. 260, 326, 2794, 1718

1025. Hidup di dalam surga berarti "ada bersama Kristus".1 Kaum terpilih hidup "di dalam Dia", mempertahankan, atau lebih baik dikatakan, menemukan identitasnya yang sebenarnya, namanya sendiri:2
"Hidup berarti ada bersama Kristus; di mana ada Kristus, di sana dengan sendirinya ada kehidupan, di sana ada Kerajaan" (Ambrosius, Luc. 10, 121).

1026. Oleh kematian dan kebangkitan-Nya, Yesus Kristus telah "membuka" surga bagi kita. Kehidupan orang bahagia berarti memiliki secara penuh buah penebusan oleh Kristus. Ia mengundang mereka, yang selalu percaya kepada-Nya dan tetap setia kepada kehendak-Nya, mengambil bagian dalam kemuliaan surgawi-Nya. Surga adalah persekutuan bahagia dari semua mereka yang bergabung sepenuhnya dengan Dia.

1027. Misteri persekutuan berbahagia dengan Allah ini dan dengan semua mereka yang berada dalam Kristus, mengatasi setiap pengertian dan setiap gambaran. Kitab Suci berbicara kepada kita mengenai itu dalam gambar-gambar, seperti kehidupan, terang, perdamaian, perjamuan pernikahan meriah, anggur Kerajaan, rumah Bapa, Yerusalem surgawi, dan firdaus: "Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul dalam hati manusia: semuanya itu disediakan oleh Allah untuk mereka yang mengasihi Dia" (1 Kor 2:9).

1028. Oleh karena Allah itu Maha agung, maka Ia hanya dapat dilihat, dalam keadaan-Nya yang sebenarnya, apabila Ia sendiri membiarkan manusia melihat misteri-Nya secara langsung dan menyanggupkannya untuk itu. Memandang Allah dalam kemuliaan surgawi-Nya secara demikian dinamakan Gereja "pandangan yang membahagiakan" [visio beatifica].
"Betapa mulianya, betapa gembiranya, kalau engkau diizinkan untuk melihat Allah, kalau engkau mendapat kehormatan, menikmati kegembiraan kebahagiaan dan terang abadi bersama Kristus, Tuhan dan Allahmu... bersama orang-orang benar dan sahabat Allah dalam Kerajaan surga, bergembira atas nikmat kebakaan yang dianugerahkan" (Siprianus, en. 58 10 1). 1722, 163

Katekismus Gereja Katolik Dalam Setahun - 146

KGK ke 146


TEKS-TEKS SINGKAT

 1015. "Caro salutis est cardo - daging adalah poros keselamatan" (Tertulianus, res.8, 2).
Kita percaya akan Allah, Pencipta daging; kita percaya akan Sabda, yang sudah menjadi daging, supaya menebus daging; kita percaya akan kebangkitan daging, di mana penciptaan dan penebusan daging disempurnakan.

1016. Oleh kematian, jiwa dipisahkan dari badan; tetapi dalam kebangkitan, Allah akan memberi kehidupan abadi kepada badan yang telah diubah, dengan mempersatukannya kembali dengan jiwa kita. Seperti Kristus telah bangkit dan hidup untuk selamanya, demikian juga kita semua akan bangkit pada hari kiamat.

1017. "Kami percaya akan kebangkitan yang sesungguhnya dari daging ini, yang sekarang kita miliki" (DS 854). Tubuh yang dapat binasa ditaburkan dalam makam, tubuh yang tidak dapat binasa akan dibangkitkan,1 satu "tubuh rohani" (1 Kor 15:44).

1018. Sebagai akibat dosa asal, manusia harus mengalami kematian badani "yang darinya manusia akan lolos, andai kata ia tidak berdosa" (GS 18).

1019. Yesus, Putera Allah, telah menderita kematian untuk kita secara suka rela dalam ketaat-an penuh dan bebas kepada kehendak Allah, Bapa-Nya. Oleh kematian-Nya Ia menga-lahkan maut dan dengan demikian membuka pintu masuk menuju keselamatan untuk semua manusia.

Katekismus Gereja Katolik Dalam Setahun - 145

KGK ke 145


Arti kematian Kristen

1010. Oleh Kristus kematian Kristen mempunyai arti positif.
"Bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan" (Flp 1:21). "Benarlah perkataan ini: jika kita mati dengan Dia, kita pun akan hidup dengan Dia" (2 Tim 2:11). Aspek yang sungguh baru pada kematian Kristen terdapat di dalam hal ini: Oleh Pembaptisan warga Kristen secara sakramental sudah "mati bersama Kristus", supaya dapat menghidupi satu kehidupan baru.
Kalau kita mati dalam rahmat Kristus, maka kematian badani menyelesaikan "mati bersama Kristus" ini dan dengan demikian melaksanakan secara definitif penggabungan kita dalam Dia oleh karya penebusan-Nya:
"Lebih baiklah bagiku untuk mati karena Kristus, daripada hidup sebagai raja atas segala ujung bumi. Aku mencari Dia, yang wafat untuk kita; aku menghendaki Dia, yang bangkit demi kita. Kelahiran aku nantikan... biarlah aku menerima sinar yang cerah. Setelah tiba di sana, aku akan menjadi manusia" (Ignasius dari Antiokia, Rom 6, 1-2). 1681-1690, 1220

1011. Dalam kematian, Allah memanggil manusia kepada diri-Nya.
Karena itu, seperti Paulus, warga Kristen dapat merindukan kematian: "Aku ingin pergi dan diam bersama-sama dengan Kristus" (Flp 1:23). Dan ia dapat mengubah kematiannya menjadi perbuatan ketaatan dan cinta kepada Bapa, sesuai dengan contoh Kristus.1
"Kerinduan duniawiku sudah disalibkan... Di dalam aku ada air yang hidup dan berbicara, yang berbisik dan berkata kepada aku: Mari menuju Bapa" (Ignasius dari Antiokia, Rom 7, 2).
"Aku hendak melihat All nah, dan untuk melihat Dia, orang harus mati" (Teresia dari Yesus. vida 1).
"Aku tidak mati; aku masuk ke dalam kehidupan" (Teresia dari Anak Yesus, verba). 1025

1012. Pandangan Kristen mengenai kematian2 dilukiskan dengan sangat bagus dalam liturgi Gereja:
"Bagi umat beriman-Mu, ya Tuhan, hidup hanyalah diubah, bukannya dilenyapkan. Dan sesudah roboh rumah kami di dunia ini, akan tersedia bagi kami kediaman abadi di surga" (MR, Prefasi Arwah).
1013. Kematian adalah titik akhir penziarahan manusia di dunia, titik akhir dari masa rahmat dan belas kasihan, yang Allah berikan kepadanya, supaya melewati kehidupan dunia ini sesuai dengan rencana Allah dan dengan demikian menentukan nasibnya yang terakhir. "Apabila jalan hidup duniawi kita yang satu-satunya sudah berakhir" (LG 48), kita tidak kembali lagi, untuk hidup beberapa kali lagi di dunia. "Manusia ditetapkan untuk mati hanya satu kali saja dan sesudah itu dihakimi" (Ibr 9:27). Sesudah kematian tidak ada "reinkarnasi".

1014. Gereja mengajak kita, supaya kita mempersiapkan diri menghadapi saat kematian ("Luputkanlah kami dari kematian yang mendadak ya Tuhan" - Litani semua orang kudus), supaya mohon kepada Bunda Allah agar ia mendoakan kita "pada waktu kita mati" (doa "Salam Maria") dan mempercayakan diri kepada santo Yosef, pelindung orang-orang yang menghadapi kematian:
"Dalam segala perbuatanmu, dalam segala pikiranmu, hendaklah kamu bertindak seakan-akan hari ini kamu akan mati. Jika kamu mempunyai hati nurani yang bersih, kamu tidak akan terlalu takut mati. Lebih baik menjauhkan diri dari dosa, daripada menghindari kematian. Jika hari ini kamu tidak siap, apakah besok kamu akan siap?" (Mengikuti Jejak Kristus 1, 23, 1).

1 Bdk. Luk 23:46.
2 Bdk. 1 Tes 4:13-14.

"Terpujilah Engkau, Tuhanku,
karena saudari kami, Maut Jasmani
darinya tiada insan hidup terlepas.
Malanglah yang mati dalam dosa.
Bahagialah yang didapati dalam kehendak suci-Mu,
maut kedua takan mencelakakannya" (Fransiskus dari Asisi Gita Sang Surya). 2676, 2677

Kamis, 07 Maret 2013

Katekismus Gereja Katolik Dalam Setahun - 144

KGK ke 144


I. * Kebangkitan Kristus dan kebangkitan kita

Wahyu bertahap tentang kebangkitan

992. Allah mewahyukan kepada umat-Nya tentang kebangkitan dari antara orang mati langkah demi langkah. Harapan akan kebangkitan badan dari orang-orang yang telah meninggal, muncul sebagai akibat dari iman akan satu Allah, yang menciptakan seluruh manusia dengan jiwa dan badan. Juga Pencipta langit dan bumi memegang teguh dan dengan setia akan perjanjian-Nya kepada Abraham dan keturunannya. Sambil memandang kedua kenyataan ini, mulailah iman akan Kebangkitan menyata.

Dalam mati syahidnya orang Makabe menyatakan: "Raja alam semesta membangkitkan kami untuk kehidupan kekal, karena kami mati demi hukum-hukum-Nya" (2 Mak 7:9). "Sungguh baiklah berpulang oleh tangan manusia dengan harapan yang dianugerahkan Allah sendiri, bahwa kami akan dibangkitkan kembali olehnya" (2 Mak 7:14)3 297

993. Para Farisi4 dan banyak orang sezaman Yesus5 mempunyai harapan akan kebangkitan. Yesus ajarkan itu dengan sangat tegas. Kepada orang Saduki yang menolaknya, Ia menjawab: "Kamu sesat, justru karena kamu tidak mengerti Kitab Suci maupun kuasa Allah" (Mrk 12:24). Iman akan kebangkitan orang-orang yang telah meninggal berdasar atas iman, bahwa Tuhan "bukanlah Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup" (Mrk 12:27). 575, 205

994. Yesus menghubungkan iman akan kebangkitan itu dengan pribadi-Nya: "Akulah kebangkitan dan hidup" (Yoh 11:25).

1 Bdk. 1 Tes 4:14; 1 Kor 6:14; 2 Kor 4:14; Flp 3:10-11.
2 Bdk. Kej 6:3; Mzm 56:5; Yes 40:6.
3 Bdk. 2 Mak 7:29; Dan 12:1-13.
4 Bdk. Kis 23:6.
5 Bdk. Yoh 11:24.

Pada hari kiamat Yesus sendiri akan membangkitkan mereka, yang percaya kepada-Nya1 yang telah makan tubuh-Nya dan minum darah-Nya.2 Dalam kehidupan-Nya di dunia ini Yesus telah memberikan tanda dan jaminan untuk itu, waktu Ia membangkitkan beberapa orang mati3 dan dengan demikian mengumumkan kebangkitan-Nya sendiri, tetapi yang termasuk dalam tatanan yang lain. Kejadian yang sangat khusus ini Ia bicarakan sebagai "tanda nabi Yunus" (Mat 12:39), tanda kanisah:4 Ia mengumumkan bahwa Ia akan dibunuh, tetapi akan bangkit lagi pada hari ketiga.5 646, 652

995. Saksi Kristus berarti "saksi kebangkitan-Nya" (Kis 1:22),6 "makan dan minum bersama dia setelah kebangkitan-Nya dari antara orang mati" (Kis 10:41). Harapan akan kebangkitan Kristen diwarnai seluruhnya oleh pertemuan-pertemuan dengan Kristus yang bangkit. Kita akan bangkit seperti Dia, bersama Dia dan oleh Dia. 860, 655

996. Iman Kristen akan kebangkitan sejak awal bertemu dengan salah paham dan perlawanan.7 "Tidak ada satu topik pun dalam iman Kristen yang mengalami lebih banyak perlawanan dari pada yang berhubungan dengan kebangkitan daging" (Agustinus, Psal. 88, 2, 5).

Pada umumnya orang berpendapat bahwa kehidupan pribadi manusia sesudah kematian bersifat rohani. Tetapi bagaimana orang dapat percaya bahwa tubuh ini yang nyata-nyata mati, akan bangkit lagi untuk kehidupan abadi? 643

Bagaimana orang-orang mati akan bangkit?

997. Apa artinya "bangkit"?
Pada saat kematian, di mana jiwa berpisah dari badan, tubuh manusia mengalami kehancuran, sedangkan jiwanya melangkah menuju Allah dan menunggu saat, di mana ia sekali kelak akan disatukan kembali dengan tubuhnya. Dalam kemaha-kuasaan-Nya, Allah akan menganugerahkan kepada tubuh kita secara definitif kehidupan yang abadi, waktu Ia menyatukannya lagi dengan jiwa kita berkat kebangkitan Yesus.

998. Siapa akan bangkit? Semua manusia yang telah meninggal: "Mereka yang, berbuat baik akan keluar dan bangkit untuk hidup yang abadi, tetapi mereka yang berbuat jahat akan bangkit untuk dihukum" (Yoh 5:29).8

999. Bagaimana? Kristus telah bangkit dengan tubuh-Nya sendiri: "Lihatlah tangan-Ku dan kaki-Ku; Aku sendirilah ini" (Luk 24:39), tetapi Ia tidak kembali lagi kepada kehidupan di dunia ini.
Atas cara demikian "semua orang akan bangkit... dengan tubuhnya sendiri, yang sekarang mereka miliki" (Konsili Lateran IV: DS 801). Tetapi tubuh mereka akan diubah ke dalam "rupa tubuh yang mulia" (Flp 3:21), ke dalam "tubuh rohani" (1 Kor 15:44):
"Tetapi mungkin ada orang yang bertanya: Bagaimanakah orang mati dibangkitkan? Dan dengan tubuh apakah mereka akan datang kembali? Hai orang bodoh! Apa yang engkau sendiri taburkan,

1 Bdk. Yoh 5:24-25; 6:40.
2 Bdk. Yoh 6:54.
3 Bdk. Mrk 5:21-42; Luk 7:11-17; Yoh 11.
4 Bdk. Yoh 2:19-22.
5 Bdk. Mrk 10:34.
6 Bdk. Kis 4:33.
7 Bdk. Kis 17:32; 1 Kor 15:12-13.
8 Bdk. Dan 12:2.

tidak akan tumbuh dan hidup, kalau ia tidak mati dahulu. Dan yang engkau taburkan bukanlah tubuh tanaman yang akan tumbuh, tetapi biji yang tidak berkulit... yang ditaburkan akan binasa, yang dibangkitkan tidak akan binasa... Orang-orang mati akan dibangkitkan dalam keadaan yang tidak dapat binasa... Karena yang dapat binasa ini harus mengenakan yang tidak dapat binasa, yang dapat mati ini harus mengenakan yang tidak dapat mati" (1 Kor 15:35- 37.42.52-53).

1000. "Cara" ini melampaui gambaran dan pengertian kita: kita hanya dapat menerimanya dalam iman. Namun penerimaan Ekaristi sudah memberi kepada kita satu gambaran terlebih dahulu mengenai perubahan rupa badan kita oleh Kristus:
"Seperti roti yang berasal dari bumi, kalau ia menerima panggilan Allah, bukan lagi roti biasa, melainkan Ekaristi, yang terdiri dari dua unsur, unsur duniawi dan unsur surgawi, demikian juga tubuh kita, kalau menerima Ekaristi, tidak lagi takluk kepada kehancuran, tetapi memiliki harapan akan kebangkitan" (Ireneus, haer. 4, 18, 5).

1001. Bilamana? Secara definitif "pada hari kiamat" (Yoh 6:39-40.44.54; 11:24).
"Pada akhir zaman" (LG 48). Kebangkitan orang-orang yang telah meninggal berkaitan dengan kedatangan Kristus kembali:
"Sebab pada waktu tanda diberi, yaitu pada waktu penghulu malaikat berseru dan sangkakala Allah berbunyi, maka Tuhan sendiri akan turun dari surga dan mereka yang mati dalam Kristus akan lebih dahulu bangkit" (1 Tes 4:16). 1038, 673

Bangkit bersama Kristus

1002. Kristus akan membangkitkan kita "pada hari kiamat"; tetapi di pihak lain kita telah bangkit bersama Kristus dalam arti tertentu. Oleh Roh Kudus, kehidupan Kristen di dunia ini sudah merupakan keikut-sertaan pada kematian dan kebangkitan Kristus:
"Karena dengan Dia kamu dikuburkan dalam baptisan, dan di dalam Dia kamu turut dibangkitkan juga oleh kepercayaanmu kepada kerja kuasa Allah, yang telah membangkitkan Dia dari orang mati. ... Karena itu kalau kamu dibangkitkan bersama dengan Kristus, carilah perkara yang di atas, di mana Kristus duduk, di sebelah kanan Allah" (Kol 2:12; 3:1). 655

1003. Umat beriman telah disatukan dengan Kristus melalui Pembaptisan dan karena itu sekarang juga telah mengambil bagian dalam kehidupan surgawi Kristus yang telah dibangkitkan.1 Tetapi kehidupan ini "tersembunyi bersama Kristus di dalam Allah" (Kol 3:3). "Di dalam Kristus Ia telah membangkitkan kita juga dan memberikan tempat bersama-sama dengan Dia di surga" (Ef 2:6). Sebagai orang yang telah dipuaskan dengan tubuh-Nya di dalam Ekaristi, kita sudah termasuk Tubuh Kristus. Kalau kita bangkit pada hari kiamat, kita pun akan menyatakan diri bersama dengan Dia dalam kemuliaan" (Kol 3:4). 1227, 556, 2796

1004. Sambil merindukan hari itu, jiwa dan badan umat beriman sudah mengambil bagian dalam "martabat Kristus".
Karena itu, kita harus memelihara tubuh kita dengan hormat, tetapi juga tubuh orang lain, terlebih mereka yang menderita:
"Tubuh adalah untuk Tuhan... dan Tuhan untuk tubuh. Allah yang membangkitkan Tuhan, akan membangkitkan kita juga oleh kuasa-Nya. Tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah anggota-anggota Kristus?... Kamu bukan milik kamu sendiri... Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu" (1 Kor 6:13-15.19-20). 364, 1397
1 Bdk. Flp 3:20.

II. * Meninggal dalam Yesus Kristus

1005. Supaya bangkit bersama Kristus, kita harus mati bersama Kristus; untuk itu perlu "beralih dari tubuh ini untuk menetap pada Tuhan" (2 Kor 5:8). Dalam "kepergian" ini (Flp 1:23), dalam kematian, jiwa dipisahkan dari tubuh. Ia akan disatukan kembali dengan tubuhnya pada hari kebangkitan orang-orang yang telah meninggal.1

Kematian

1006. "Di hadapan mautlah teka-teki kenyataan manusia mencapai puncaknya" (GS 18). Dalam arti tertentu kematian badani itu sifatnya alami; tetapi untuk iman, itu adalah "upah dosa" (Rm 6:23).2 Dan untuk mereka yang mati dalam rahmat Kristus, kematian adalah "keikut-sertaan" dalam kematian Kristus, supaya dapat juga mengambil bagian dalam kebangkitan-Nya.3

1007. Kematian adalah akhir kehidupan duniawi.
Kehidupan kita berlangsung selama waktu tertentu, dan di dalam peredarannya kita berubah dan menjadi tua. Kematian kita, seperti pada semua makhluk hidup di dunia ini, adalah berakhirnya kehidupan alami. Aspek kematian ini memberi kepada kehidupan kita sesuatu yang mendesak: keyakinan akan kefanaan dapat mengingatkan kita bahwa untuk menjalankan kehidupan kita, hanya tersedia bagi kita suatu jangka waktu terbatas.
"Ingatlah akan Penciptamu pada masa mudamu... sebelum debu kembali menjadi tanah seperti semula, dan napas kembali kepada Allah, yang mengaruniakannya" (Pkh 12:1.7).

1008. Kematian adalah akibat dosa.
Sebagai penafsir otentik atas pernyataan Kitab Suci4 dan tradisi, magisterium Gereja mengajarkan bahwa kematian telah masuk ke dalam dunia, karena manusia telah berdosa.5 Walaupun manusia mempunyai kodrat yang dapat mati, namun Pencipta menentukan supaya ia tidak mati. Dengan demikian kematian bertentangan dengan keputusan Allah Pencipta. Kematian masuk ke dunia sebagai akibat dosa.6 "Kematian badan, yang dapat dihindari seandainya manusia tidak berdosa" (GS 18), adalah "musuh terakhir" manusia yang harus dikalahkan.7

1009. Kematian telah diubah Kristus.
Juga Yesus, Putera Allah, telah mengalami kematian, yang termasuk bagian dari eksistensi manusia. Walaupun Ia merasa takut akan maut,8 namun Ia menerimanya dalam ketaatan bebas kepada kehendak Bapa-Nya. Ketaatan Yesus telah mengubah kutukan kematian menjadi berkat.9

Rabu, 06 Maret 2013

Katekismus Gereja Katolik Dalam Setahun - 143

KGK ke 143


ARTIKEL 11 : "AKU PERCAYA... [AKAN] KEBANGKITAN BADAN"

988. Syahadat Kristen - pengakuan iman kita akan Bapa, Putera, dan Roh Kudus, serta karya-Nya yang menciptakan, menebus, dan menguduskan - berpuncak pada pewartaan bahwa orang-orang yang mati akan bangkit pada akhir zaman dan bahwa ada kehidupan abadi.

989. Kita percaya dengan pasti dan berharap dengan penuh kepercayaan: seperti Kristus telah bangkit dengan sesungguhnya dari antara orang mati dan hidup selama-lamanya, demikianlah orang-orang benar, sesudah kematiannya akan hidup untuk selama-lamanya bersama Kristus yang telah bangkit kembali dan Ia akan membangkitkan mereka pada akhir zaman.1 Seperti kebangkitan-Nya, demikian pula kebangkitan kita adalah karya Tritunggal Maha kudus.

1 Bdk. Yoh 6:39-40.

"Dan jika Roh Dia yang telah membangkitkan Yesus dari antara orang mati, diam di dalam kamu, maka Ia, yang telah membangkitkan Yesus Kristus dari antara orang mati, akan menghidupkan juga tubuhmu yang fana itu oleh Roh-Nya, yang diam di dalam kamu" (Rm 8:11)1

990. Ungkapan "daging" berarti, manusia dalam kelemahannya dan keadaannya yang fana.2 "Kebangkitan daging" (sebagaimana bunyi rumusan secara harafiah dalam pengakuan iman apostolik) dengan demikian berarti, bahwa sesudah kematian tidak hanya jiwa kita yang hidup terus, tetapi bahwa "tubuh kita yang fana" ini juga akan hidup kembali (Rm 8:11).

991. Iman akan kebangkitan orang-orang mati sejak awal merupakan satu bagian hakiki dari iman Kristen.
"Kebangkitan orang-orang mati adalah harapan orang Kristen; dalam iman akan kebangkitan itu kami hidup" (Tertulianus, res. 1, 1):
"Bagaimana mungkin ada di antara kamu yang mengatakan, bahwa tidak ada kebangkitan orang mati. Kalau tidak ada kebangkitan orang mati maka Kristus juga tidak dibangkitkan. Tetapi andaikata Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah pemberitaan kami dan sia-sialah juga kepercayaan kamu. ... Tetapi yang benar ialah bahwa Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati, sebagai yang sulung dari orang-orang yang telah meninggal" (1 Kor 15:12-14.20).

Selasa, 05 Maret 2013

Katekismus Gereja Katolik Dalam Setahun - 142

KGK Hari ke 142


ARTIKEL 10: "AKU PERCAYA... [AKAN] PENGAMPUNAN DOSA"

976. Pengakuan iman apostolik menghubungkan iman akan pengampunan dosa dengan iman kepada Roh Kudus, tetapi juga dengan pengakuan akan Gereja dan persekutuan para kudus. Ketika Kristus mencurahkan Roh Kudus kepada para Rasul, Ia menyerahkan kepada mereka wewenang ilahi untuk mengampuni dosa: "Terimalah Roh Kudus. Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni, dan jikalau kamu menyatakan dosa orang tetap ada, dosanya tetap ada" (Yoh 20:22-23).
(Bagian kedua katekismus akan membicarakan secara rinci mengenai pengampunan dosa oleh Pembaptisan, Pengakuan dan Sakramen-Sakramen lain, terutama oleh Ekaristi. Karena itu, di sini kita hanya menunjukkan beberapa kenyataan pokok saja).

I. * Satu Pembaptisan demi Pengampunan Dosa

977. Tuhan kita telah menghubungkan pengampunan dosa dengan iman dan Pembaptisan: "Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk. Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan, tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum" (Mrk 16:15-16). Pembaptisan adalah Sakramen pertama dan terpenting demi pengampunan dosa. Ia menyatukan kita dengan Kristus, yang telah wafat untuk dosa kita dan yang telah dibangkitkan demi pembenaran kita,1 supaya "kita hidup sebagai manusia yang baru" (Rm 6:4). 1263

978. "Kalau kita mengakui iman untuk pertama kalinya dan dibersihkan dalam Pembaptisan suci, diberikanlah kepada kita pengampunan yang begitu berlimpah ruah, sehingga tidak ada satu kesalahan pun - baik yang melekat pada kita oleh turunan, maupun sesuatu yang kita lalaikan atau lakukan dengan kehendak sendiri - yang tidak dihapuskan dan tidak ada siksa yang masih perlu disilih. Namun orang tidak dibebaskan dari semua kelemahan kodrat oleh rahmat Pembaptisan; sebaliknya setiap orang harus berjuang melawan rangsangan hawa nafsu yang tanpa henti-hentinya mengajak kita untuk berbuat dosa" (Catech. R. 1, 11, 3).

979. Tetapi siapakah cukup berani dan waspada, sehingga dalam perjuangan dan kecondongan kepada yang jahat sama sekali tidak dilukai oleh dosa? "Karena perlu bahwa di dalam Gereja kuasa untuk pengampunan dosa masih ada dalam cara lain selain Sakramen Pembaptisan, maka dipercayakan kepadanya kunci-kunci Kerajaan surga, yang olehnya setiap orang yang menyesalkan dosa, dapat diampuni dosa-dosanya, sekalipun ia berdosa sampai pada hari terakhir kehidupannya" (Catech. R. 1, 11, 4). 1446

980. Oleh Sakramen Pengakuan, orang yang dibaptis dapat diperdamaikan dengan Allah dan dengan Gereja.
"Bapa-bapa suci benar dengan menamakan Sakramen Tobat semacam Pembaptisan dengan susah payah (Gregorius dari Nasiansa, or. 39, 17). ...
Tetapi Sakramen Pengakuan ini memang perlu bagi mereka yang jatuh sesudah Pembaptisan, seperti Pembaptisan sendiri juga perlu untuk yang belum dilahirkan kembali" (Konsili Trente: DS 1672).

II. * Kekuasaan Kunci

981. Sesudah kebangkitan-Nya Kristus mengutus para Rasul-Nya, untuk "menyampaikan berita tentang pertobatan kepada segala bangsa mulai dari Yerusalem" (Luk 24:47). Karena itu para Rasul dan para penggantinya melaksanakan "pelayanan pendamaian" (2 Kor 5:18): Pada satu pihak mereka mewartakan kepada manusia pengampunan oleh Allah, yang telah diperoleh Kristus bagi kita, dan menghimbau untuk bertobat dan beriman. Pada lain pihak mereka sungguh menyampaikan pengampunan dosa melalui Pembaptisan dan mendamaikan orang dengan Allah dan dengan Gereja berkat kuasa kunci yang diterimanya dari Kristus.
"Gereja telah menerima kunci Kerajaan surga, supaya di dalam dia pengampunan dosa dapat terjadi oleh darah Kristus dan oleh karya Roh Kudus. Di dalam Gereja jiwa yang mati karena dosa hidup lagi, supaya hidup bersama Kristus, yang rahmat-Nya menyelamatkan kita" (Agustinus, serm. 214, 11). 1444

982. Tidak ada satu kesalahan, bagaimanapun jahatnya, yang tidak dapat diampuni oleh Gereja kudus. "Tidak mungkin ada seorang manusia, yang begitu jahat dan terbuang, sehingga baginya tidak ada harapan pasti untuk pengampunan, apabila ia benar-benar menyesali kesalahannya" (Catech. R. 1, 11, 5). Kristus yang wafat untuk semua manusia mau, bahwa di dalam Gereja-Nya pintu pengampunan selalu terbuka bagi orang yang berbalik dari dosa2 1463, 605
1 Bdk. Rm 4:25.
2 Bdk. Mat 18:21-22.

983. Katekese harus berusaha membangkitkan dan mempertahankan dalam diri umat beriman, iman kepada anugerah yang tidak ternilai ini, yang telah diberikan oleh Kristus yang bangkit kepada Gereja-Nya: tugas dan kuasa, untuk benar-benar mengampuni dosa-dosa melalui pelayanan para Rasul dan para penggantinya:
"Tuhan menghendaki bahwa murid-murid-Nya memiliki kuasa besar; Ia menghendaki, agar pelayan-pelayan-Nya yang hina itu atas nama-Nya melaksanakan apa saja, yang telah Ia lakukan sewaktu Ia hidup di dunia (Ambrosius, poenit. 1, 34).
"Para imam telah menerima kuasa, yang Allah tidak berikan baik kepada para malaikat maupun kepada para malaikat agung... Tuhan mengukuhkan di atas sana segala sesuatu, yang para imam lakukan di atas dunia ini" (Yohanes Krisostomus, sac. 3, 5).
"Seandainya di dalam Gereja tidak ada pengampunan dosa, maka tidak ada harapan atas kehidupan abadi dan pembebasan abadi. Berterima kasihlah kita kepada Allah, yang memberikan anugerah yang demikian itu kepada Gereja-Nya" (Agustinus, serm. 213, 8). 1442, 1465

TEKS-TEKS SINGKAT

984. Syahadat menghubungkan "pengampunan dosa" dengan pengakuan iman akan Roh Kudus, karena Kristus yang bangkit menganugerahkan kepada para Rasul kuasa untuk mengampuni dosa, ketika Ia memberikan Roh Kudus kepada mereka.

985. Pembaptisan adalah Sakramen yang pertama dan terpenting demi pengampunan dosa: ia mempersatukan kita dengan Kristus yang telah dan bangkit dan memberi kepada kita roh Kudus.

986. Sesuai dengan kehendak Kristus Gereja memiliki kuasa untuk mengampuni dosa orang-orang yang telah dibaptis. Biasanya Ia melaksanakan kuasa ini dengan perantaraan para Uskup dan imam dalam Sakramen Pengakuan.

987. Dalam pengampunan dosa, para imam dan Sakramen-Sakramen seakan-akan hanyalah alat, yang olehnya Kristus Tuhan, pemrakarsa dan pemberi keselamatan yang sebenarnya mengerjakan di dalam kita pengampunan dosa dan rahmat pembenaran" (Catech. R. 1, 11, 6).